


Volume
Avg volume
PT. Bukit Asam Tbk (PTBA) bergerak dalam bidang pertambangan batubara, termasuk survei umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, pemurnian, pengangkutan dan perdagangan, pemeliharaan fasilitas pelabuhan batubara khusus untuk keperluan internal dan kebutuhan eksternal, pengoperasian pembangkit listrik tenaga uap untuk kebutuhan internal dan eksternal dan memberikan jasa konsultasi terkait industri pertambangan batubara serta produk turunannya, dan pengembangan perkebunan. Pada tahun 1993, Perusahaan ditunjuk oleh Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan Unit Usaha Briket Batubara.
Menguji tesis dividend growth dengan yield on cost
Berbeda dengan dividend yield yang besarnya mengikuti harga saham, besar yield on cost (YoC) bergantung pada harga pembelian awal.
Yield on cost = DPS / harga pembelian
Jika DPS terus meningkat, yield on cost juga akan terus meningkat.
Jika DPS tidak tumbuh, yield on cost akan jalan di tempat.
Dengan kata lain, yield on cost adalah metrik penting dalam dividend growth investing.
Paling enak itu jika kita langsung belajar dari real case ya. Yuk lah.
Srudy case #1 - $SMSM (dividend growth klasik)
Harga beli akhir 2020 adalah 1.385.
DPS 2021 --> 70 (YoC 5,1%)
DPS 2022 --> 85 (YoC 6,1%)
DPS 2023 --> 105 (YoC 7,6%)
DPS 2024 --> 135 (YoC 9,7%)
DPS 2025 --> 140 (YoC 10,1%)
Dalam 5 tahun, yield on cost SMSM naik dari 5,1% menjadi 10,1%.
Itu adalah contoh jika DPS terus meningkat.
Tapi itu hanya data historis. Ke mana kapal akan berlayar setelahnya itu menjadi PR kita untuk mencari tahu.
Lalu bagaimana jika DPS stagnan atau growth-nya lambat?
Study case #2 - $POWR
Harga beli akhir 2020 adalah 710.
DPS 2021 --> 57,56 (YoC 8,1%)
DPS 2022 --> 65 (YoC 9,1%)
DPS 2023 --> 71,16 (YoC 10,0%)
DPS 2024 --> 72,16 (YoC 10,2%)
DPS 2025 --> 69,79 (YoC 9,8%)
POWR memang terkenal cukup royal membagikan dividen. Walaupun begitu, dividennya tidak banyak meningkat dari tahun ke tahun.
Jika menginginkan income dari dividen, kita perlu mempertimbangkan apakah dividen yang kita terima bisa terus meningkat seiring inflasi.
Bagaimana menurutmu untuk case POWR ini?
Pada case selanjutnya, kita akan melihat bagaimana harga beli bisa sangat berpengaruh terhadap yield on cost.
Study case #3 - $PTBA
Case PTBA ini cukup menarik karena menggambarkan karakteristik saham komoditas secara umum.
Saya akan mengambarkannya dalam 2 skenario berdasarkan periode yang berbeda.
Kita akan bisa melihat bahwa meskipun sahamnya sama, tidak serta merta bisa kita bilang bagus atau jelek.
Skenario ke-1: periode 2021-2025.
Ini adalah periode yang full senyum bagi holder PTBA.
Harga beli akhir 2020 adalah 2.810.
DPS 2021 --> 74,69 (YoC 2,7%)
DPS 2022 --> 688,51 (YoC 24,5%)
DPS 2023 --> 1.094,05 (YoC 38,9%)
DPS 2024 --> 397,71 (YoC 14,2%
DPS 2025 --> 332,44 (YoC 11,8%)
Perhatikan bahwa pada tahun 2020, coal berada di level yang cukup rendah dan terus meningkat setelahnya. Pasti sudah tau ceritanya kan? 😀
Harga beli yang relatif rendah menyebabkan yield on cost melonjak dari hanya 2,7% pada tahun 2021 menjadi 11,8% pada tahun 2025.. pada tahun 2023 bahkan sempat mencapai 38,9%.
Tentu saja ada 2 faktor yang menentukan:
1. Harga beli yang rendah
2. Laba yang meningkat tajam setelahnya larena harga coal melonjak.
Jika yang terpenuhi hanya poin 1 sementara harga coal tidak ke mana-mana tentu yield on cost juga akan jalan di tempat.
Yang apes itu jika membeli di harga terlalu tinggi dan DPS stagnan atau terus turun setelahnya.
Ini terlihat pada case selanjutmya. Sahamnya masih sama, yaitu PTBA, namun pada periode yang berbeda.
Skenario ke-2: periode 2010-2015
Harga beli akhir 2010 adalah 4.590.
DPS 2011 --> 111,97 (YoC 2,4%)
DPS 2012 --> 140,1 (YoC 3,1%)
DPS 2013 --> 144,15 (YoC 3,1%)
DPS 2014 --> 92,39 (YoC 2,0%)
DPS 2015 --> 64,91 (YoC 1,4%)
Sahamnya sama, yaitu PTBA. Namun karena harga belinya berbeda dsn pergerakan harga coal setelahnya juga berbeda, hasil yang didapatkan juga sangat berbeda.
Terlihat bahwa dividen yang didapatkan relatif kecil dan malahan cenderung terus turun setelahnya.
Gak enak ya di posisi seperti itu 😅
Nah, dari tiga study case di atas, kita bisa tarik benang merahnya.
Pertama, yield on cost bukanlah metrik yang berdiri sendiri. Yield on cost adalah perpaduan dari dua faktor, yaitu
1. Harga beli
2. Keberlanjutan pertumbuhan dividen.
Kedua, yield on cost tidak peduli harga saham hari ini naik atau turun. Yang lebih penting adalah apakah perusahaan mampu membagikan dividen yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
Pada saham seperti SMSM, YoC naik secara konsisten dan lebih mudah diproyeksikan walaupun tidak terlalu kencang.
Pada saham seperti POWR, YoC tinggi tapi cenderung stagnan. Dividennya cukup besar sebagai pendapatan namun kurang nyaman jika kita menginginkan pendapatan yang terus tumbuh.
Pada saham komoditas seperti PTBA, YoC bisa melesat dengan cepat atau sebaliknya. YoC sangat bergantung pada fase siklus komoditasnya saat melakukan pembelian.
Dalam dividend growth investing, yield on cost yang diinginkan bukan yang langsung tinggi, melainkan YoC yang cenderung terus meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini umumnya bisa dipenuhi jika bisnisnya masih memiliki ruang untuk tumbuh.
Yield on cost adalah tools untuk menguji apakah tesis dividend growth kita pada suatu saham masih relevan.
Jika yield on cost mulai berhenti meningkat, kita harus mencari tahu apakah mesin pertumbuhan bisnisnya masih menyala atau sudah mulai kehabisan bensin.
Karena pada akhirnya, tujuan dari dividend growth investing adalah membangun mesin pencetak pendapatan yang semakin kuat di masa mendatang.
Setiap investor punya preferensi yang berbeda.
Ada yang nyaman dengan YoC tinggi meski stagnan seperti POWR, dan ada yang menyukai pertumbuhan konsisten seperti SMSM. Ada juga yang menyukai saham siklikal dengan potensi return besar jika timingnya tepat.
Masing-masing memiliki plus minus sendiri.
Kalau kamu lebih suka yang mana?
Disclaimer: Tulisan ini adalah media edukasi dan bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Segala kerugian sebagai akibat penggunaan informasi pada tulisan ini bukan menjadi tanggung jawab penulis.
🧠 [Refleksi Weekend]
Penyakit Akut Trader: Tahan Rugi, Takut Untung.
Kenapa Susah Sekali Let Profit Run?
Ada anomali aneh di psikologi trader pemula (mungkin Anda pernah merasakannya):
🔴 Saat Rugi -20%: 'Santai, nanti juga balik. Fundamental bagus kok.' (Mendadak jadi Investor jangka panjang).
🟢 Saat Untung +3%: 'Jual sekarang! Buruan! Nanti turun lagi!' (Jari gatal panik).
Akibatnya? Portofolio isinya saham nyangkut semua. Profit-profit kecil habis dimakan satu kali Loss besar.
Di metode STRADA, kita pakai obat penawar bernama Aturan 20-60-20 (Scaling Out). Jangan jual sekaligus, tapi cicil dagangan Anda:
1️⃣ Jual 20% Porsi di Cuan Tipis (+3-5%). Amankan biaya admin & uang kopi. Beban mental hilang karena posisi sudah 'hijau'.
2️⃣ Jual 60% Porsi di Target Utama (+10%). Amankan 'Uang Asli' masuk ke RDN. Ini gaji Anda.
3️⃣ Sisa 20% Porsi? Biarkan Lari (Let it Run). Pasang Trailing Stop. Biarkan sisa lot ini mencari Jackpot. Kalau harga terbang multibagger, Anda tidak kehilangan tiket.
Dengan cara ini, kita mengamankan profit tapi tidak sakit hati jika harga terbang tinggi setelah dijual.
Detail teknis cara pasang Trailing Stop otomatis di aplikasi sekuritas agar emosi tidak ikut campur, panduannya sudah saya tulis di Catatan, link di Bio. Silakan dipraktekkan.
$PTBA $CTRA $BMRI

$BBRI asing masuk di BBRI sejak 5 januari. di $PTBA sudah sejak 2 januari. PTBA deviden 1 x di 20 Jun 25 Rp 332.44 . Div Yield 14.33%
saya nulis Closing $BMRI tgl 12 Desember di harga 4820. tgl 15 jan 4990
payment date BMRI 14 jan Rp 100. payment date BBRI 15 Jan Rp 137.
jadi enaknya beli yang mana ?
yg pasti saya jarang nulis BBRI seh. itu aja
3 SKENARIO ENTRY SAHAM $PTBA (Swing Trader Plan)
Harga sekarang: 2450
1) SKENARIO ENTRY SEKARANG (Moderate Entry)
- Entry: 2400 – 2470
- Stoploss: < 2320
- TP1: 2650
- TP2: 2800 – 2900
Alasan: Harga masih bertahan di atas support swing dan struktur higher low masih terjaga, peluang rebound lanjutan masih ada Boss.
2) SKENARIO ENTRY PULLBACK (Conservative – Paling Aman)
- Entry: 2250 – 2320
- Stoploss: < 2150
- TP1: 2650
- TP2: 2800 – 2900
Alasan: Area ini demand kuat sekaligus support utama, lebih aman buat akumulasi dengan risk lebih kecil Boss.
3) SKENARIO ENTRY AGRESIF (Buy on Breakout)
- Entry: Buy kalau breakout > 2520 dengan volume besar
- Stoploss: < 2400
- TP1: 2800
- TP2: 3000 – 3200
Alasan: Breakout resistance kunci berpotensi memicu momentum lanjutan kalau volume ikut konfirmasi Boss.
AYO REQUEST SAHAM https://bit.ly/m/gabunggrup
Alasan Buy:
• Harga masih di area demand
• Struktur swing memungkinkan rebound / masih bullish
• Breakout 2520 bisa jadi trigger lanjutan
Risiko:
• Kalau 2250 jebol = potensi lanjut turun / koreksi lebih dalam
• Breakout tanpa volume rawan fake
• Stoploss wajib buat jaga modal Boss
Analisa ini panduan ya Boss, eksekusi tetap kembali ke gaya trading Boss.
Ayo REQUEST SAHAM di kolom komentar seperti
$BTPS $DUTI
,DM “mau” jika ingin dianalisa sahamnya
Support like agar terus update!!!
Follow untuk ikuti flowchart keputusan saham trend
Kalau postingan ini bermanfaat, boleh banget kasih tip lewat tombol bergambar 💲 di bawah ya. Terima kasih banyak 🙏
SAHAM : $PTBA
HARGA SAAT INI : 2.450
1️⃣ TREN & STRUKTUR HARGA (Swing View)
- Tren Utama : Sideways cenderung rebound
- Timeframe Acuan : Daily (Swing Trader)
- Catatan : Harga bergerak di fase konsolidasi setelah koreksi sektor batubara, struktur mulai membentuk base namun belum konfirmasi uptrend kuat
2️⃣ SUPPORT & RESISTANCE
- Support Minor : 2.380
- Support Kunci : 2.300
- Resistance 1 : 2.520
- Resistance 2 : 2.650
3️⃣ KONDISI VOLUME & BANDAR
- Volume relatif stabil, belum ada dorongan agresif
- Indikasi akumulasi ringan, distribusi belum dominan
- Selama harga di atas 2.300 → masih dijaga
4️⃣ RISK / REWARD (WAJIB)
- Entry Acuan : 2.450
- Stop Loss : < 2.250
- Target Swing : 2.520 – 2.650
- Risk : Reward : ±1 : 1,5 (CUKUP)
5️⃣ FUNDAMENTAL SINGKAT
- Emiten batubara dengan fundamental kuat dan dividen rutin
- Cocok untuk swing rebound hingga mid-term, bukan spekulatif cepat
📌 KESIMPULAN SWING TRADER
- Selama bertahan di atas support kunci 2.300, peluang rebound ke 2.520–2.650 masih terbuka
- Risiko meningkat jika breakdown 2.300 karena potensi konsolidasi lanjutan
Analisa ini panduan ya Boss, eksekusi tetap kembali ke gaya trading Boss.
Ayo REQUEST SAHAM di kolom komentar seperti
$LSIP $CSIS
,DM “mau” jika ingin dianalisa sahamnya
Support like agar terus update!!!
Follow untuk ikuti flowchart keputusan saham trend
Kalau postingan ini bermanfaat, boleh banget kasih tip lewat tombol bergambar 💲 di bawah ya. Terima kasih banyak 🙏
Saham yang Diborong Aseng Tapi Harganya Masih anjlok 16 Januari 2026
Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Banyak saham yang beberapa hari terakhir ini diborong aseng tapi harganya masih anjlok. Kalau investor menganggap net foreign buy itu tombol ajaib yang otomatis bikin harga naik, investor sedang menipu diri sendiri. Aseng itu jarang beli ketika semua orang sudah yakin, mereka lebih sering nyicil saat suasana pasar masih kusam dan yang jual masih lebih berisik daripada yang beli. Dalam fase seperti ini, aksi beli asing justru sering muncul bersamaan dengan harga yang tetap turun, karena akumulasi mereka pelan, sementara supply dari ritel yang kapok masih deras. Dan di sinilah bagian paling penting, posisi menentukan opini, karena data yang sama bisa terlihat menarik untuk investor value, terlihat wajar untuk investor dividend, tapi terlihat berbahaya untuk investor yang alergi risiko. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Secara statistik paling simpel, dari 9 saham yang kita bahas, 8 saham return 1 tahun masih negatif, hanya CPIN yang hampir datar. Rentang penurunannya lebar, dari -0,65% sampai -40,54%. UCID paling anjlok -40,54%, ARTO -25,00%, GDYR -17,65%, SILO -15,58%, $MAPI -13,87%, BJBR -9,68%, $SIDO -8,47%, $PTBA -8,24%, dan CPIN -0,65%. Sementara itu net foreign buy streak bergerak 4 sampai 12 hari, dengan GDYR paling panjang 12 hari, SIDO 9 hari, CPIN dan SILO 8 hari, UCID dan PTBA 6 hari, MAPI dan ARTO 5 hari, BJBR 4 hari. Ini menunjukkan satu pola trend yang konsisten. Streak asing lebih cocok dibaca sebagai tanda ada yang sedang mengumpulkan, bukan tanda harga sudah selesai turun. Harga itu bisa tetap lemah sampai supply berkurang dan pasar mulai percaya lagi.
Kalau kita geser fokus ke trend laba, baru kelihatan bahwa daftar ini bukan satu jenis cerita, melainkan campuran beberapa dunia yang berbeda. Ada kelompok laba besar di atas 1 Triliun, yaitu CPIN sekitar 3,37 Triliun, PTBA sekitar 1,39 Triliun, dan MAPI sekitar 1,37 Triliun. Di bawahnya ada kelompok laba menengah di sekitar 0,7 sampai 0,8 Triliun, yaitu SIDO sekitar 0,82 Triliun, BJBR sekitar 0,79 Triliun, SILO sekitar 0,76 Triliun. Lalu ada GDYR yang labanya kecil sekitar 55 Miliar, dan UCID yang justru rugi sekitar -96 Miliar. Kalau investor hanya melihat harga yang sama-sama turun, investor akan salah menyamaratakan. Karena penurunan CPIN misalnya, tidak sama akarnya dengan penurunan UCID, meski dua-duanya sama-sama pernah dibeli asing beberapa hari. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Lalu masuk ke valuasi, di sini trend-nya pecah jadi dua kutub besar. Kutub pertama adalah yang murah versi PBV di bawah 1, yaitu UCID 0,32, GDYR 0,43, BJBR 0,52. Ini wilayah favorit investor value, karena secara teori margin of safety lebih besar. Tapi murah itu bukan sinonim aman. UCID murah karena PER -14,29 artinya rugi, jadi ini murah karena pasar sedang menghukum profit yang rusak. GDYR murah dengan PER 5,89, tapi labanya kecil dan tidak bagi dividen, jadi ini lebih mirip tiket turnaround. BJBR murah dengan PER 8,38 dan dividend tinggi, tapi ada beban struktur utang dan arus kas yang bikin diskon tersebut terasa logis. Kutub kedua adalah yang mahal versi PBV di atas 3, yaitu SIDO 4,74, SILO 3,61, ARTO 3,02. Ini bukan value play, ini premi untuk kualitas atau pertumbuhan. Dalam trend pasar yang risk-off, saham premium seperti ini bisa turun lama, bukan karena bisnisnya runtuh, tapi karena ekspektasi yang dulu terlalu tinggi sedang dipangkas.
Dividen menambah lapisan penting karena dia memisahkan saham yang memberi cash ke investor dari yang murni mengandalkan capital gain. PTBA tampil paling agresif dengan dividend yield 13,57% dan streak 17 tahun. BJBR juga tinggi dengan yield 10,15% dan streak 15 tahun. SIDO yield 7,96% dan streak 12 tahun. CPIN lebih moderat, yield 2,36% tapi streak 16 tahun. MAPI kecil yield 0,85% streak 3 tahun. UCID masih punya yield 3,83% streak 6 tahun, sementara GDYR, SILO, ARTO nol. Trend yang sering bikin orang terkejut adalah ini. Dividend tinggi tidak menghentikan harga turun, karena harga tetap digerakkan oleh siklus sektor dan persepsi risiko. Dividend itu membantu investor bertahan dan memberi bantalan, tapi tidak menjamin harga cepat pulih.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bagian utang dan cashflow biasanya yang paling jujur, karena di sinilah kualitas laba diuji. CPIN punya net debt sekitar 2,88 Triliun, tetapi free cash flow sekitar 4,61 Triliun. Secara statistik, ini kombinasi yang enak karena utang terbayar oleh kemampuan cashflow, sehingga risiko finansial relatif terkendali. PTBA bahkan lebih nyaman, net debt sekitar 62 Miliar, nyaris nol, sementara free cash flow sekitar 2,60 Triliun. Ini menjelaskan kenapa dividend PTBA bisa besar dan terasa masuk akal. MAPI juga kuat, net debt sekitar -0,53 Triliun artinya kas bersih, dan free cash flow sekitar 3,55 Triliun. Data ini menyiratkan bahwa turunnya MAPI lebih banyak karena sentimen konsumsi daripada krisis napas kas. SIDO pun kas bersih, net debt sekitar -0,77 Triliun dengan free cash flow sekitar 1,22 Triliun. Itu sebabnya SIDO sering dipandang defensif, hanya saja PBV mahal membuatnya rentan terkoreksi ketika pasar lagi pelit memberi premi.
Di sisi yang lebih rawan, data cashflow memberi alarm yang tidak bisa ditutup dengan narasi. UCID memang kas bersih besar, net debt sekitar -1,64 Triliun, tetapi free cash flow sekitar -230 Miliar dan laba YTD rugi. Ini adalah pola value trap potensial, kelihatan murah, kelihatan banyak kas, tapi bisnis sedang menggerus kas. GDYR kas bersih juga, net debt sekitar -0,14 Triliun, namun free cash flow cuma sekitar 5 Miliar, kecil sekali. Ini menjelaskan kenapa meski asing net buy streak 12 hari, harga tetap bisa lemah. Karena turnaround butuh mesin cash yang lebih tebal atau katalis yang jelas, bukan sekadar valuasi murah. BJBR punya laba besar dan dividend tinggi, tetapi net debt sekitar 10,04 Triliun dan free cash flow sekitar -1,96 Triliun, sehingga secara profil risiko, ini bukan sekadar saham dividend, ini saham dividend dengan risiko pendanaan dan dinamika arus kas yang harus dipahami. Untuk ARTO, net debt sekitar -11 Miliar artinya hampir net cash, free cash flow sekitar 1,92 Triliun, jadi napas kasnya lumayan, tetapi PER 99,45 membuatnya sangat sensitif terhadap ekspektasi pertumbuhan. SILO punya net debt sekitar 0,83 Triliun dan free cash flow sekitar 0,56 Triliun, sementara valuasi PER 33,31 dan PBV 3,61. Ini growth play dengan leverage yang nyata dan tanpa dividend, jadi wajar jika harganya gampang berayun. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari gabungan semua trend ini, posisi menentukan opini jadi terasa sangat nyata. Investor yang posisinya cari mesin uang dan cashflow akan cenderung nyaman di CPIN, PTBA, juga MAPI, dan melihat penurunan mereka sebagai peluang bertahap karena cashflow besar mendukung cerita. Investor dividend akan tergoda oleh PTBA, BJBR, SIDO karena yield 7,96% sampai 13,57% terlihat seperti dibayar untuk menunggu, tetapi harus sadar bahwa yield tinggi bisa datang bersama risiko siklus atau risiko struktur. Investor growth akan melihat ARTO dan SILO sebagai taruhan masa depan, namun harus siap dengan volatilitas karena valuasi mahal dan dividend nol membuat harga sangat bergantung pada ekspektasi. Investor turnaround spekulatif akan melirik GDYR karena PBV 0,43 dan PER 5,89, tapi harus menerima kenyataan bahwa cashflow-nya sangat tipis. Sementara itu, investor yang konservatif biasanya akan menahan diri dari UCID sampai rugi dan free cash flow negatifnya selesai, karena murah saja tidak cukup jika mesin kas sedang bocor.
Jadi, kenapa beberapa hari terakhir asing bisa memborong tapi harga masih anjlok? Karena ini fase perebutan stok, bukan fase pesta. Selama penjual masih dominan, harga bisa tetap ditekan, dan asing bisa tetap beli tanpa pernah terlihat mengangkat harga. Yang membedakan peluang dari jebakan adalah kemampuan saham itu menghasilkan laba yang sehat, cashflow yang nyata, utang yang masuk akal, dan dividend yang sesuai kemampuan. Di data ini, ada yang laba besar dan cashflow tebal sehingga penurunan lebih mirip diskon sentimen, ada yang turnaround karena valuasi murah tapi napas kas tipis, dan ada yang murah namun berisiko karena cashflow negatif. Kalau investor memahami posisi sendiri, opini akan terasa logis. Kalau investor tidak tahu posisinya, data yang sama hanya akan bikin bingung dan mudah kebawa emosi.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
Tujuan Akhir Para Investor!!! Bagaimana Cara Pensiun di Saham?
Pasti banyak orang yang bertanya-tanya, bagaimana cara pensiun di saham? karena bisa pensiun di saham adalah keinginan utama dari para investor.
Hal yang pertama kali harus dipikirkan dalam pensiun di saham adalah apa tujuan akhir keuangan yang kita inginkan.
Disini pastinya banyak orang yang sibuk bekerja, tapi akan ada waktu dimana ke depan tidak bekerja lagi, sehingga tujuan akhir akan ada dua, yang pertama pensiun dengan berkualitas, disini kita berada dalam masa pensiun namun lifestyle tidak turun.
Kemudian yang kedua memperoleh passive income, disini kita tidak bekerja namun tetap dapat cashflow.
Jika kita seorang investor yang ingin pensiun di saham, pastikan ketika beli saham harus punya mindset membeli bisnisnya, misalnya beli saham SIDO, dengan mindset punya bagian pemilik perusahaan tersebut.
Setelah kita memiliki mindset yang benar, selanjutnya kita bisa menghitung biaya sehari-hari, kebutuhan harian berapa dan kelolaan portfolio berapa. Seperti contoh biaya hidup di Jakarta hampir Rp15 juta per bulan.
Jika dikalikan 12 bulan, maka kebutuhannya mencapai Rp180 juta dalam setahun. Jika ada kebutuhan tidak terduga misalnya renovasi rumah dan sebagainya, maka anggaplah kebutuhan totalnya jadi Rp250 juta per tahun.
Ini tinggal kita bandingkan kelolaan portfolio dan yield-nya, jika kelolaan kita Rp1 miliar maka untuk memperoleh return Rp250 juta per tahun dibutuhkan return 25% - 30%. Misalnya dengan Rp1 miliar terus dapat return 30% maka kelolaan akan menjadi Rp1,3 miliar. Disini bisa diambil Rp250 juta, dan sisanya putar di saham lagi.
Pertanyaannya, apakah dapat return 25% - 30% itu berat atau tidak?
Jika dirasa berat, maka kita perlu menaikkan kelolaan portfolio, misalnya dinaikkan menjadi Rp2 miliar, sehingga hanya perlu 10% - 15% saja untuk mendapatkan Rp300 juta. Return 10% - 15% per tahun masih cukup masuk akal.
Tapi jika menaikkan kelolaan portfolio lagi katakanlah menjadi Rp10 miliar, maka return persentase-nya pun juga bisa lebih rendah lagi yang bisa dicapai, dimana dapat 3% saja sudah mencapai Rp300 juta.
Bagaimana cara menabung hingga Rp2 miliar, jawabannya adalah disiplin menabung, jika gaji saat ini adalah UMR, maka cari cara supaya gajinya bisa lebih tinggi dari UMR, kemudian masukkan beli saham supaya asetnya bisa growth, tapi pastikan sudah paham apa itu saham, dan juga sudah harus dianalisis fundamental dari perusahaan tersebut ketika beli sahamnya.
Kamu udah nyiapin untuk pensiun di saham belum?
👉 Join ke channel Telegram buat dapetin insight lainnya! Klik link di bio.
Disclaimer: Konten ini dibuat dengan tujuan informasi dan edukasi, bukan merupakan rekomendasi untuk jual, beli, atau hold suatu saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.
$PTBA $BBRI $ITMG
1/3



Emiten batu bara macam $ITMG $BUMI $PTBA dkk ketar ketir gan saham saham Tegnologi akan menciptakan Batu Bara lewat Tegnologi AI gan, sunset gan batu bara gan. Bahkan saya aja bisa gan pakai ChatGPT gan, langsung ICI1 bahkan ICI0,5 dan ICI0 pun bisa gan. Bukan batu bara arang sate gan.
Ingat gan Ada 2 kemungkinan, Kemungkinan dan kemungkinan gan

Kebanyakan investor rugi bukan karena salah saham, tapi salah logika.
contoh ADRO
gak punya data, 90% salah
punya data salah baca, 50% salah
punya data benar baca timing pas sabar 100% menang
Data tidak memberi janji.
Tapi memberi batas risiko.
Maaf cuma bisa ss 10 saja,
lengkap adadibio
random tag $ADRO $PTBA $ANTM

$PTBA niat buat invest mau ambil deviden, cicil tiap bulan, tpi klo d kasih CAPITAL ya alhamdulillah ekwkw
@didinwijaya iya betul, lihat aja dari beberapa list saham diatas, kalau lagi ada duit lihat aja mana yang lagi turun ya beli, sekarang $ADRO $PTBA $HEXA & ITMG lagi sideways keatas, cari yang lain dulu
@Alfimaulana2202 tergantung invest plan masing2 mas, kalau nabung bulanan better saham yang punya history sehat dan dividen rutin cenderung sideways dan stabil seperti contoh: PANS $HEXA ASDM YUPI BYAN CLPI $PTBA $ADRO PGAS DMAS PRDA BJBR BNGA ITMG ROTI BBNI.. jangan seperti saya 3bln awal belajar saham terjebak saham gorengan yang menggiurkan malah loss hampir 70jt, sekarang sudah insyaf main aman di saham2 diatas itu aja..
Lagi iseng2 buka album, eh nongol jaman crash, $BRPT sama $RAJA udah berbagger2 $PTBA harganya disitu aja cuma naik 2 tik 😆😅
Indahnya IHSG 🤪
1/2

