


Volume
Avg volume
PT. Bukit Asam Tbk (PTBA) bergerak dalam bidang pertambangan batubara, termasuk survei umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, pemurnian, pengangkutan dan perdagangan, pemeliharaan fasilitas pelabuhan batubara khusus untuk keperluan internal dan kebutuhan eksternal, pengoperasian pembangkit listrik tenaga uap untuk kebutuhan internal dan eksternal dan memberikan jasa konsultasi terkait industri pertambangan batubara serta produk turunannya, dan pengembangan perkebunan. Pada tahun 1993, Perusahaan ditunjuk oleh Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan Unit Usaha Briket Batubara.
$SMGR Danantara sudah Dan akan inject terus dananya ke saham2 fundamental bagus, growth stock Dan yg pasti masih under value.
#DYOR
$PTBA $TINS
$GIAA tetap menjadi holding maskapai, Pelita air merger ke Garuda..... Ah
Sudah dibilang dari tahun lalu, GIAA ga mungkin dipailit kan karena dia "MASKOT" Penerbangan Indonesia.....
Yang harus diperhatikan pemerintah itu.... merombak orang² di BUMN Garuda, Kandangkan koruptor..... Masa maskapai dengan tiket "termahal' di Indonesia bisa rugi, apalagi ada flight internasionalnya....
$BUMI masih panjang waktunya buat TP
$PTBA Masih murah....
!! DISCLAIMER !!
Perlu diingat bahwa opini yang disampaikan di sini adalah pendapat pribadi dan tidak merupakan saran investasi. Investasi saham memiliki risiko yang cukup tinggi, termasuk risiko kehilangan modal. Pastikan Anda untuk melakukan riset yang menyeluruh dan memahami risiko sebelum melakukan investasi.
Setiap keputusan jual beli serta untung rugi setelah membaca opini ini adalah tanggung jawab anda pribadi... Jika merasa tidak cocok silahkan block aja, tidak ada ajakan follow
@AchmadHuseinB seperi ini kah? bisa di buka kpn aja udh kayak buku berjalan hehe
random tag $BBNI $PTBA $ARCI

Mengapa dividen tetap yang terbaik? $PTBA $BMRI $BBRI
Mari simak video lama ini yg tetap relevan
https://cutt.ly/AtnFUGYn
$PTBA ini saham untuk invest jangka panjang yah bang? soalnya agak keong. tp dari semua berita, apakah perusahaan ini lagi bagus dan sehat saat saat ini?
🪚 Pemerintah Pangkas Kuota Produksi Batu Bara dan Nikel Tahun 2026
Direktur Jenderal Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pada Selasa (10/2) bahwa pihaknya akan memangkas total produksi batu bara domestik 2026 ke level di atas 600 juta ton. Angka ini lebih tinggi dibandingkan perkiraan pemangkasan sebelumnya di level 600 juta ton sementara realisasi produksi 2025 mencapai 790 juta ton. Tri menjelaskan bahwa pemangkasan tersebut mempertimbangkan proyeksi permintaan industri dalam negeri dan kebutuhan PT PLN. Tri menambahkan bahwa pemegang izin PKP2B generasi I dan BUMN pemegang izin IUP tidak mengalami pemangkasan kuota produksi 2026. Meski demikian, perusahaan terkait diwajibkan untuk menaikkan porsi domestic market obligation (DMO) menjadi sebesar 30% pada awal tahun ini, dibandingkan kewajiban DMO saat ini di level 25%.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI), Gita Mahyarani, mengatakan bahwa salah satu anggotanya melaporkan pemangkasan kuota produksi hingga 80% dari total RKAB awal yang diajukan. Secara umum, Gita menyebut bahwa pemangkasan kuota produksi batu bara 2026 bervariasi pada kisaran 40–70%. Menurut Gita, sebagian besar hasil evaluasi RKAB tahap 2 telah diterbitkan, namun masih dimungkinkan untuk dilakukan evaluasi kembali sebelum RKAB resmi terbit dan persyaratan dipenuhi.
Dalam pemberitaan terpisah, Kementerian ESDM resmi memangkas kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 menjadi 260–270 juta ton, lebih rendah 29-31% dibandingkan kuota produksi dalam RKAB 2025 sebesar 379 juta ton. Langkah tersebut diambil untuk mendongkrak harga nikel di pasar global yang sempat stagnan pada 2025. Sebelumnya, Direktur Jenderal Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pada Rabu (14/1) bahwa kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 kemungkinan akan berkisar 250–260 juta ton, yang akan disesuaikan dengan kapasitas smelter.
Bloomberg sendiri melaporkan bahwa PT Weda Bay Nickel hanya memperoleh kuota produksi sebesar 12 juta ton bijih nikel pada 2026, menurun drastis dari kuota 42 juta ton pada 2025. PT Weda Bay Nickel dimiliki oleh Tsingshan Holding Group Co., Eramet SA, dan Aneka Tambang (ANTM). Bloomberg menambahkan bahwa Eramet telah mengkonfirmasi pengurangan kuota tersebut dan menyatakan rencana untuk mengajukan revisi.
🔑 Key Takeaway
Secara umum, kuota produksi yang diumumkan tidak berbeda jauh dengan wacana yang sebelumnya beredar. Namun, angka yang ditetapkan sedikit lebih tinggi dibandingkan wacana sebelumnya, yang kami perkirakan merefleksikan permintaan revisi naik dari para produsen.
Sebagai informasi, perusahaan batu bara yang memegang PKP2B generasi I dan telah diperpanjang menjadi IUPK meliputi Adaro Andalan Indonesia ($AADI), Bumi Resources ($BUMI), dan Indika Energy (INDY). Sementara itu, perusahaan BUMN dengan IUP meliputi Bukit Asam ($PTBA). AADI dan BUMI masing-masing menguat +3,9% dan +9,7% pada perdagangan Rabu (11/2) sementara INDY dan PTBA masing-masing turun -0,8% dan -1,2%.
Di sisi lain, mayoritas emiten nikel menguat pada perdagangan Kamis (11/2) ini dengan INCO, NCKL dan MBMA masing-masing naik +7,9%, +6%, dan +6,6%
Stockbit Snips 11 Februari 2026:
https://cutt.ly/EtnRyNO0

Saya agak kaget saat membaca berita sambil menyeruput kopi yang sudah mendingin. Bukan soal politik yang memang biasanya selalu gaduh di negeri ini, tapi soal bagaimana pemerintah tiba tiba saja memutuskan untuk menarik rem tangan sekeras ini di sektor tambang kita. Bayangkan saja, kita ini sedang bicara soal batu bara yang tadinya diproduksi gila gilaan sampai hampir 800 juta ton tahun lalu, tapi sekarang dari kementerian bilang kalau tahun ini angkanya mau ditekan sampai di atas 600 juta ton saja. Entah apa yang sebenarnya ada di pikiran mereka, tapi rasanya seperti sedang asyik asyiknya makan di sebuah pesta hajatan besar lalu tiba tiba piring kita diambil paksa oleh tuan rumah sebelum kita benar benar kenyang. Ada satu pertanyaan besar yang terus mengganjal di kepala saya, yaitu apakah kita ini sedang benar benar melakukan strategi jangka panjang yang cerdas atau sebenarnya cuma sedang panik karena melihat harga pasar yang tidak kunjung sesuai harapan.
Kalau melihat urusan nikel, ceritanya malah terasa makin aneh dan sedikit dramatis bagi saya. Pemerintah secara resmi memangkas kuota produksi nikel nasional dalam RKAB tahun ini menjadi hanya sekitar 260 juta ton saja. Padahal kalau diingat ingat lagi, tahun lalu kita masih sangat percaya diri dengan angka 379 juta ton. Penurunannya tidak main main, sekitar 30% hilang begitu saja dari rencana awal. Katanya sih langkah ini diambil buat mendongkrak harga nikel dunia yang sempat jalan di tempat sepanjang tahun kemarin. Kita seolah sedang mencoba memainkan kartu kelangkaan untuk memaksa pasar global membayar lebih mahal pada kita. Tapi ya itu tadi, saya jadi merenung sendiri, apakah harga akan benar benar naik signifikan kalau kita membatasi diri seperti ini, atau jangan jangan negara lain malah akan tersenyum lebar melihat kita mengerem produksi sementara mereka diam diam mengambil celah pasar yang kita tinggalkan.
Lalu ada cerita soal Weda Bay Nickel yang menurut laporan Bloomberg kuotanya anjlok drastis sekali, dari 42 juta ton menjadi cuma 12 juta ton saja. Gila sih itu menurut saya. Saya membayangkan bagaimana perasaan para manajemen di sana atau mungkin investor yang sudah terlanjur menaruh uang di $ANTM misalnya, pasti sedang pusing tujuh keliling melihat perubahan kebijakan yang secepat kilat begini. Pemerintah bilang ini disesuaikan dengan kapasitas smelter, tapi kalau pemotongannya sampai sedalam itu, rasanya ada sesuatu yang lebih dari sekadar urusan teknis kapasitas. Belum lagi soal batu bara yang porsi DMO nya dinaikkan jadi 30% di awal tahun ini. Itu 30% lho, bukan angka yang kecil buat perusahaan yang harus setor ke PLN dengan harga yang sudah dipatok sedemikian rupa. Memang sih, perusahaan besar atau BUMN pemegang izin lama tidak kena pangkas kuota produksi, tapi ya tetap saja margin mereka akan tergerus karena porsi jualan ke pasar domestik jadi lebih besar dibandingkan jualan keluar yang harganya lebih menarik.
Kadang saya merasa kalau jadi investor ritel di Konoha itu memang butuh jantung yang sangat kuat. Kita nggak pernah benar benar tahu besok pagi menteri bakal bicara apa lagi di media yang bisa mengubah arah angin dalam sekejap. Ini soal ketidakpastian kebijakan yang menurut saya jauh lebih menakutkan daripada sekadar penurunan harga komoditas itu sendiri di pasar global. Kita sekarang sedang dipaksa ikut program diet ketat tanpa ada persiapan yang benar benar matang. Saya jadi bertanya tanya sendiri, apakah strategi menahan produksi ini bakal jadi kemenangan besar buat kedaulatan sumber daya kita atau justru malah jadi bumerang yang melukai laporan keuangan perusahaan tambang kita sendiri dalam jangka pendek. Entahlah, rasanya tidak pernah ada kata tenang kalau kita bicara soal urusan perut bumi di negeri ini, karena di balik angka angka laba yang sering kita puja, ada tangan tangan penguasa yang bisa mengubah segalanya hanya dengan satu tanda tangan di atas kertas evaluasi kuota yang misterius itu.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
$PTBA $NCKL
$PTBA $BMRI $RALS
main aman dulu di dividen nunggu ada yg IPO
lama bet ni, ayo segerea IPO kan griya ama intamnya king PP
Orang mau nya invest 2-3 bulan cuan
Kalau bisa seminggu 100 persen
Ngapain peduli cadangan batubaranya
$ITMG $BSSR $PTBA
@rahmanleni270316
iy, Krn yg paling pasti & kompetitif, ya batbar.
Seperti kata Elon Musk, China mendominasi AI Krn listriknya 3x US, dan mayoritas masih pake batbar.🤔
Dan BP (British Petroleum) yg SDH beralih ke bisnis EBT lebih dari 5 tahun, sekarang putar haluan balik lagi ke bisnis lama nya, dan buang divisi ebt nya.😅🤭
Krn don't make money.🤦😅🤣
Ebt hanya enak di dengar, gak enak di jalankan.🤭🤦🤣
$ADRO $BSSR $PTBA
