Indonesia Sharia Stock Index
Indeks
Follow
330.33
▴ 0.23 (0.07)
As of Thu 16:14
297,333.85K
Volume
99,810.62K
Avg Volume
$IHSG $JII $ISSI
https://cutt.ly/xtkJVS9X
$ISSI - Tentang Capital Allocation
Apa yg bisa dilakukan manajemen perusahaan ketika sudah susah payah berusaha dan akhirnya mendapatkan uang kas dr laba hasil usahanya?
Dari yg sy pelajari, ternyata uang tersebut bisa digunakan untuk beberapa hal. Tidak banyak. Tapi dampaknya bisa berbeda-beda. Saya coba uraikan satu per satu.
Hal pertama dan yg paling utama yaitu pembayaran utang. Jika perusahaan memiliki kewajiban berbunga, terutama utang dgn bunga tinggi atau jatuh tempo yg dekat, maka menggunakan kas hasil laba untuk melunasi utang sering kali merupakan alokasi modal paling rasional.
Setiap rupiah utang yg dibayar pd dasarnya memberikan return pasti berupa penghematan beban bunga, sekaligus memperkuat neraca dan menurunkan risiko finansial di masa depan.
Dalam konteks ini, melunasi utang adalah bentuk reinvestasi tanpa risiko. Return-nya memang tidak terlihat spektakuler di laporan laba rugi dlm jangka pendek, tapi dampaknya nyata pd stabilitas bisnis.
Neraca yg lebih bersih memberi ruang manuver lebih luas ketika siklus memburuk, sekaligus membuat perusahaan lebih fleksibel ketika peluang besar muncul. Karena itu, sebelum bicara opsi lain, perusahaan yg bijak biasanya memastikan bahwa struktur permodalannya sudah sehat dan tidak dibebani utang yg tidak perlu.
Nah, lalu bagaimana jika utang sudah terbayarkan?
Pilihan berikutnya, perusahaan bisa melakukan reinvestasi ke dalam bisnisnya sendiri. Bentuknya bisa berupa:
- Ekspansi kapasitas pabrik seperti SUNI, INKP
- Pembelian mesin baru seperti SPMA
- Pembukaan jalur distribusi tambahan seperti SKLT
- Pembangunan gudang seperti $ULTJ
- Perluasan jaringan penjualan seperti AUTO, atau
- Masuk ke segmen yg masih sangat dekat dgn kompetensi inti perusahaan seperti ADMR dan CITA
- Akuisisi seperti yg dilakukan $BUMI jg masuk kategori ini, karena pd dasarnya adalah bentuk reinvestasi modal ke bisnis lain.
Namun perlu diperhatikan bahwa reinvestasi hanya masuk akal jika menghasilkan Return on Invested Capital (ROIC) yg tinggi dan berkelanjutan. Artinya, setiap rupiah tambahan modal harus menghasilkan laba tambahan yg proporsional atau lebih besar dibanding modal yg ditanam.
Jika reinvestasi justru menurunkan ROIC atau hanya mengejar pertumbuhan secara nominal saja, maka itu bukan penciptaan value added atau meningkatkan nilai perusahaan, melainkan menurunkan value yg sudah ada. Dalam kondisi seperti ini, tidak berekspansi malah sering kali jauh lebih bijak ketimbang memaksakan pertumbuhan.
Lalu bagaimana jika ada peluang reinvestasi yg menarik, namun tidak membutuhkan dana yg besar, sehingga masih ada sisa? Atau bahkan mungkin jika tidak ada peluang reinvestasi yg layak, apa yg bisa dilakukan?
Nah, jalan terbaiknya adalah mengembalikan kas tersebut ke pemilik modal melalui dividen.
Pada manajemen yg memiliki track record yg baik, pembagian dividen ini bisa diartikan sebagai pengakuan jujur bahwa manajemen tidak menemukan cara yg lebih baik untuk mengembangkan modal tersebut. Dividen memberi kebebasan kepada investor untuk mengalokasikan ulang modalnya ke tempat lain yg punya potensi ROE lebih tinggi, atau bahkan investasi lagi ke perusahaan yg sama jika valuasinya masih menarik.
Di sinilah muncul karakter owner-oriented dr manajemen yg berpihak pd shareholder. Manajemen tidak memaksakan diri menjadi lebih pintar dr market, tapi membiarkan pemilik modal mengambil keputusan lanjutannya sendiri. Saya rasa EAST bisa masuk sebagai contoh di sini, di mana uang dikuras dan digunakan untuk ekspansi di level pemilik modal.
Pilihan berikutnya adalah buyback saham. Buyback adalah bentuk reinvestasi paling langsung, yaitu perusahaan membeli kembali kepemilikannya sendiri. Tapi perlu dicatat bahwa jalan ini hanya akan menciptakan value jika satu syarat utamanya terpenuhi, yaitu harga saham berada di bawah nilai intrinsiknya.
Dalam kondisi ini, buyback akan meningkatkan kepemilikan relatif setiap pemegang saham yg tersisa, mendorong EPS naik secara sehat, dan memperbesar potensi dividen per saham di masa depan.
Sebaliknya, buyback di harga mahal hanyalah pemindahan kas dr neraca ke market tanpa penciptaan value. Ini sering terlihat bagus di headline pemberitaan, tapi buruk secara ekonomi. Untuk contoh dlm hal ini menurut sy ada LPPF dan JTPE.
Terakhir, ada pilihan menahan kas. Saya pribadi tidak memandang penumpukan kas sebagai sesuatu yg salah, tapi penumpukan kas hanya masuk akal jika punya tujuan strategis. Contohnya seperti menjaga ketahanan neraca dlm periode yg buruk, menunggu peluang besar, atau jg untuk menjaga fleksibilitas.
Namun, kas yg terlalu besar, tanpa arah yg jelas dan menganggur terlalu lama justru menandakan kegagalan capital allocation, karena modal pemegang saham tidak bekerja. Nah, untuk kasus ASGR silakanteman-teman nilai sendiri. Apakah termasuk manajemen yg baik atau tidak dlm hal alokasi modalnya.
Dari semua pilihan ini, capital allocation yg baik menurut sy pribadi itu bukan ditentukan oleh pilihan mana yg diambil, tapi oleh kecocokan pilihan itu dgn kondisi bisnis dan valuasi saat itu. Reinvestasi bisa sangat baik, dividen bisa sangat bijak, buyback bisa sangat cerdas. Tapi, ya semuanya tergantung konteks.
Disclaimer: Catatan ini adalah refleksi pengetahuan dan pemahaman penulis tentang capital allocation serca contohnya yg diperoleh dr berbagai sumber umum. Bukan info A1. Dan catatan ini jg bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Segala kerugian sebagai akibat penggunaan informasi pada tulisan ini bukan menjadi tanggung jawab penulis. Do your own research.
Lumayan buat nyerok dapet 2 lot $IPCC
Terima kasih atas pertemuan yang tak terduga-duga $RLCO, sampai berjumpa lagi saat udah masuk jadi konstituen $ISSI kelak. Entah kapan, but you did a great job! 🥹

Mitos vs fakta, edisi syariah
Di kuartal-kuartal akhir tahun lalu, DSN MUI melakukan pengocokan ulang daftar efek syariah (DES) $ISSI, $JII70, dan $JII. Ternyata, sejumlah saham mega cap terdepak dari DES
Selain obviously banyak yang resah dan bingung, "apakah harus CL?" ternyata banyak juga yang mengampanyekan coping mechanism holder-nya secara masif, sistematis, dan terstruktur
Narasinya tak jauh-jauh dari:
"Langkah [insert sekelompok saham konglo here] untuk melepas label syariah mereka adalah langkah yang tepat. Karena semua yang pakai label-label syariah itu ngaco, padahal di dalamnya cari untung/laba."
Mari kita mainkan mitos vs fakta edisi syariah
Mitos:
1. Label syariah diajukan oleh perusahaan untuk melabeli bahwa bisnis mereka sesuai dengan prinsip-prinsip syariah
2. Perusahaan berlabel syariah tidak boleh cari untung/profit oriented
Fakta:
1. Label syariah POJK berbeda dengan label halal makanan dan minuman. DSN MUI melakukan evaluasi berkala terhadap semua perusahaan investable yang terdaftar di OJK, lalu melaporkan hasilnya kepada OJK. Artinya, label syariah TIDAK diajukan oleh perusahaan. Perusahaan tidak bisa meminta atau mengundurkan diri dari DES, mereka hanya bisa mendaftarkan diri sebagai efek di bawah POJK, atau mundur sama sekali sebagai efek (delisting)
2. Cari untung atau profit oriented BUKAN kriteria pembeda antara efek yang syariah atau tidak. Daftar efek syariah tidak sama dengan daftar lembaga amal. Daftar efek syariah ditentukan berdasarkan jenis kegiatan usahanya, kesesuaian transaksinya dengan prinsip syariah, dan struktur keuangannya
Setelah masuk DES, semua hal tetap bisa terjadi pada semua perusahaan dan efek yang masuk DES. Artinya: mereka tetap bisa digoreng menjadi gorengan, mereka tetap bisa rugi, mereka tetap bisa tersandung pelanggaran regulatori lain di luar kriteria efek syariah, dan pastinya, mereka tetap bisa didepak dari DES kapan saja jika hasil evaluasi berubah
Jadi, tidak perlu membanding-bandingkan syariah vs non-syariah. Bagi yang satu server sama DSN MUI, DES memiliki banyak aset dan instrumen investasi yang layak, tapi kita sebagai investor tetap harus kritis terhadap kesehatan perusahaannya. Risiko manipulasi tetap selalu ada, kita tetap harus selalu waspada dan belajar dari pengalaman, lalu penyelesaian akhirnya serahkan pada OJK sebagai regulator

Di sela-sela waktu liburan ini saya bingung mau ngapaian. Jadi saya pakai waktunya buat menuangkan isi pikiran saya aja, siapa tau suatu hari bisa jadi buku 😁
$IHSG $ISSI

Sudah masuk tahun baru 2026, saatnya buat rekap realized FY2025 $IHSG $ISSI, update dari rekap 1-Sep-25 https://stockbit.com/post/20543030.
Tulisan rekap 1-Sep-25 itu pakai span 1Y. Rekap saat ini pakai YTD. Jadi span keduanya sama-sama 1 tahun.
1-Sep-25 (1Y) >> 30-Dec-25 (YTD)
Total realized gain +605jt >> +904jt
Avg monthly income +50.4jt >> +75.3jt
Alhamdulillah 🤲 Rincian top gainer lanjut di kolom komen per 3 emiten.

"Sekarang mending ada konglo, kalau nggak ada konglo, $IHSG sudah hancur."
Masbro, kalau orang Amerika (ketar-ketir) bilang masih mending ada TSLA dan PLTR, kalau nggak ada TSLA dan PLTR, $SP500 sudah hancur, itu wajar. Karena large majority berkontribusi otomatis 401k dan IRA alias BPJS TK Amerika (ketar-ketir) itu ke S&P 500
Sekarang kalau di Indonesia, coba:
1. Apakah ada ETF yang cukup luas mencakup IHSG?
2. ETF yang cakupannya terluas di Indonesia saat ini adalah $ISSI, tapi sama sekali tidak likuid dan spread-nya nggak waras. Yang invest cuma yang idealis dan nggak tahu atau nggak peduli pentingnya likuiditas dan spread yang waras, salah satunya saya waktu awal-awal masuk bursa saham 🤣
3. Yang pecinta MSCI, coba cung siapa yang invest dengan bobot besar di EIDO (ETF MSCI Indonesia)? Kalau ada, saya respect karena berarti Anda komit sama prinsip Anda sendiri
Naik-turunnya indeks itu HANYA ngaruh buat investor yang emang invest di ETF atau RD saham/indeks yang underlying-nya adalah indeks tersebut, dan sebenarnya IHSG bukan salah satunya
IHSG adalah cerminan saham-saham di dalamnya, tapi IHSG naik nggak menjamin semua saham di dalamnya naik, dan IHSG turun belum tentu semua saham di dalamnya turun. Ketika IHSG sudah dimanipulasi, maka fungsi dia sebagai indikator itu sendiri udah nggak berfungsi juga, jadi tinggal sebagai hiasan aksesoris saja
Indikator yang bermakna, saat ini, hanyalah indeks-indeks utama yang ada RD saham/indeks yang menggunakannya sebagai underlying tracking, dan yang memiliki ETF yang cukup likuid dengan spread yang cukup waras untuk memastikan bahwa tracking error-nya kecil
"Sekarang mending ada konglo, kalau nggak ada konglo, IHSG sudah hancur," ini sama seperti proyek-proyek mercusuar negara-negara pra-berkembang di blok timur di awal era perang dingin. Saling utang sama Soviet buat bangun gelanggang olahraga, monumen, dll., sampai lupa bahwa negara butuh ekosistem ekonomi yang kondusif supaya rakyatnya bisa makan. Akhirnya setelah hegemoni blok timur berakhir, yang tersisa hanyalah krisis dan kehancuran yang harus dicebokin generasi-generasi berikutnya
Sampai hari ini masih ada hotel megah mercusuar, yang padahal occupancy-nya kosong, listrik pun nggak nyala

IHSG $JII $ISSI
🆕 Kinerja IPO 2025
Selama 2025, pasar modal Indonesia diramaikan oleh 26 emiten baru yang melantai di bursa (vs. 2024: 41 emiten), dibuka oleh 💲RATU dan ditutup oleh 💲SUPA. Januari dan Juli menjadi bulan paling aktif untuk emiten IPO, di mana masing–masing mencatatkan 8 emiten baru. Secara keseluruhan, total dana yang berhasil dihimpun dari IPO sepanjang 2025 mencapai ~Rp18,1 T. Emiten dengan perolehan dana terbesar adalah 💲EMAS sebesar ~Rp4,7 T, diikuti oleh💲SUPA sebesar ~Rp2,8 T, 💲CDIA sebesar ~Rp2,4 T, 💲CBDK sebesar ~Rp2,3 T, serta 💲YUPI sebesar ~Rp2 T. Dari total 26 emiten yang melakukan IPO pada 2025, sebanyak 17 emiten di antaranya membukukan kenaikan harga saham dan 9 emiten membukukan penurunan harga saham dari tanggal listing–nya hingga akhir tahun.
Dari sisi ukuran perusahaan, ukuran aset emiten yang IPO selama 2025 tergolong beragam. Sebanyak 14 emiten tercatat memiliki aset di bawah Rp1 T, sementara 6 emiten memiliki aset di kisaran Rp1–5 T dan 6 emiten lainnya mencatatkan aset di atas Rp5 T. Dari total 26 emiten yang listing, 20 emiten di antaranya berhasil mencatatkan auto reject atas (ARA) pada hari perdana perdagangan. 💲RLCO menjadi emiten dengan rekor ARA terpanjang, yakni 12x sejak listing, diikuti oleh 💲CDIA dengan ARA sebanyak 11x dan RATU sebanyak 10x. Di sisi lain, terdapat 2 emiten yang mencatatkan kenaikan harga namun tidak mencapai ARA saat hari perdana listing, 1 emiten bergerak flat, dan 3 emiten mengalami penurunan harga saham.
Per 30 Desember 2025, emiten dengan kenaikan harga saham terbesar adalah 💲COIN dengan pertumbuhan sebesar +3.780%, diikuti 💲RLCO sebesar +950,6%, 💲CDIA sebesar +778,9%, 💲RATU sebesar +765,5%, dan 💲FORE sebesar +187,2%. Sementara itu, emiten dengan penurunan harga saham terdalam sejak listing adalah 💲BBRC sebesar -48,1%, 💲KAQI sebesar -40,7%, 💲DKHH sebesar -38,6%, 💲YUPI sebesar -32,6%, dan 💲PJHB sebesar -24,9%.
https://snips.stockbit.com/snips-terbaru/-2025-corporate-recap-conglomerates-saved-the-year-again?source=research

$IHSG $JII $ISSI
🤝 Aksi Korporasi Sepanjang 2025
4Q25
💨 Oktober
💲TINS: Pemerintah menyerahkan aset barang rampasan negara dengan kisaran nilai Rp6–7 T — termasuk 6 smelter timah dan mineral mentah — kepada TINS.
💲TLKM: Menandatangani perjanjian dengan anak usahanya, PT Telkom Infrastruktur Indonesia, untuk spin–off sebagian bisnis dan aset wholesale fiber connectivity senilai Rp35,8 T.
💲TPIA: Menandatangani perjanjian untuk mengakuisisi jaringan stasiun pengisian bahan bakar ritel merek Esso milik ExxonMobil di Singapura.
MSCI mengumumkan tengah meminta masukan kepada para pelaku pasar terkait rencana penggunaan Monthly Holding Composition Report yang dipublikasikan oleh KSEI sebagai tambahan referensi dalam menghitung free float saham emiten Indonesia.
💨 November
MSCI mengumumkan evaluasi untuk indeks saham untuk periode November 2025, di mana 💲BRMS dan 💲BREN masuk ke dalam MSCI Indonesia Global Standard.
💲GOTO: Patrick Walujo mundur dari jabatannya sebagai direktur utama perseroan dan digantikan oleh Hans Patuwo. Pergantian ini terjadi di tengah isu penggabungan antara Grab dan 💲GOTO.
💲SMRA: Melalui PT Bali Indah Development dan PT Summarecon Bali Indah menjual saham PT Bukit Permai Properti kepada 💲BUVA dan PT Nusantara Bali Realti senilai total Rp536,3 M.
💨 Desember
💲RATU: Ditetapkan sebagai pemenang proses penjualan dan berencana mengakuisisi SMS Development Limited, perusahaan yang memiliki 20% hak partisipasi tidak langsung pada operator pengembangan dan produksi gas alam di wilayah kerja Selat Madura.
💲SUPA: IPO dengan menawarkan hingga ~4,4 miliar saham baru pada harga Rp635/lembar.
💲MORA: Berencana merger dengan anak usaha 💲DSSA, PT Eka Mas Republik, di mana nantinya 💲MORA akan menjadi surviving entity.
💲ISAT: Menandatangani kesepakatan dengan grup Arsari dan grup Northstar untuk membentuk joint venture (JV) fiber optik. 💲ISAT akan mengalihkan jaringan fiber optiknya senilai Rp14,6 T ke JV tersebut, di mana JV tersebut akan diakuisisi perusahaan publik.
💲KRAS: Mendapatkan shareholder loan hingga ~Rp4,94 T dari Danantara.
💲SINI: 💲CUAN melalui anak usahanya, PT Kreasi Jasa Persada, membeli 19,74% saham 💲SINI dengan harga Rp4.888/saham dan berencana menambah kepemilikan di SINI menjadi minimum 51%.
https://snips.stockbit.com/snips-terbaru/-2025-corporate-recap-conglomerates-saved-the-year-again?source=research

$IHSG $JII $ISSI
🤝 Aksi Korporasi Sepanjang 2025
3Q25
💨 Juli
MSCI mengumumkan bahwa 💲BREN, 💲CUAN, dan 💲PTRO tidak akan lagi dikenakan perlakuan khusus dan akan dievaluasi sesuai dengan metodologi yang berlaku untuk review indeks bulan Agustus 2025 dan seterusnya.
💲TOWR: Berencana menggelar rights issue hingga ~8,1 miliar saham baru dengan harga Rp680/lembar untuk refinancing.
💲MINA: Berencana menggelar rights issue hingga ~3,3 miliar saham baru dengan harga Rp50/lembar untuk modal kerja. Rencana ini rampung pada Juli 2025.
💲FAST: Menjual 15% saham PT Jagonya Ayam Indonesia senilai ~Rp54 M kepada PT Shankara Fortuna Nusantara, perusahaan afiliasi Andi Syamsudin Arsyad (Haji Isam).
💲SSIA: PT Dwimuria Investama Andalan menjadi pemegang 5,27% saham perseroan dengan nilai transaksi yang tidak diungkap.
💲ITMG: Membeli 9,62% saham 💲NICE dengan nilai transaksi ~Rp256 M.
💲ASII: Melalui PT Saka Industrial Arjaya berencana mengakuisisi 83,67% saham 💲MMLP. Transaksi ini rampung pada Oktober 2025 dengan nilai Rp3,3 T.
💨 Agustus
💲PTRO: Bersama 💲RAJA mengakuisisi PT Hafar Daya Konstruksi dan PT Hafar Daya Samudera senilai total Rp784 M.
💲PACK: Berencana menggelar rights issue dalam bentuk penerbitan obligasi wajib konversi untuk mengakuisisi saham minoritas di 2 tambang nikel senilai total ~Rp2,7 T.
MSCI mengumumkan evaluasi indeks saham untuk periode Agustus 2025, di mana 💲DSSA dan 💲CUAN masuk ke MSCI Indonesia Global Standard.
💨 September
💲PANI: Berencana menggelar rights issue untuk meningkatkan kepemilikan di 💲CBDK dan menyuntik modal ke 3 anak usaha. Dalam perkembangannya, rights issue ini menerbitkan hingga 1,21 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp12.975/lembar pada Desember 2025.
💲EMAS: IPO dengan menawarkan hingga ~1,6 miliar saham baru pada harga Rp2.880/lembar.
💲SGRO: Keluarga Sampoerna dikabarkan akan mendivestasikan💲SGRO. Pada November 2025, keluarga Sampoerna menjual 65,72% saham SGRO senilai Rp9,45 T kepada anak usaha POSCO International Corporation.
💲GMFI: Berencana rights issue hingga ~124 miliar saham baru dengan efek dilusi hingga 76,79%. Dalam perkembangannya, rights issue ini menerbitkan ~90 miliar saham baru dengan harga Rp69/lembar pada Desember 2025–Januari 2026. 💲GIAA selaku pengendali mengalihkan seluruh haknya kepada PT Angkasa Pura Indonesia.
💲UNTR: Melalui PT Danusa Tambang Nusantara berencana mengakuisisi tambang emas Doup dari 💲PSAB dengan enterprise value US$540 juta atau ~Rp8,9 T.
💲HEAL: 💲ASII melalui PT Astra Healthcare Indonesia membeli ~1,47 miliar saham 💲HEAL senilai ~Rp2,7 T, sehingga kepemilikan 💲ASII di HEAL naik dari ~10,42% menjadi ~20%.
💲INET: Berencana menggelar rights issue hingga ~12,8 miliar saham baru dengan harga Rp250/saham dan efek dilusi 57,1% untuk pengembangan jaringan FTTH dan pelunasan biaya indefeasible right of use jaringan kabel bawah laut.
Glencore tercatat masuk sebagai pemegang 7,19% saham 💲NCKL.
https://snips.stockbit.com/snips-terbaru/-2025-corporate-recap-conglomerates-saved-the-year-again?source=research

$IHSG $JII $ISSI
🤝 Aksi Korporasi Sepanjang 2025
2Q25
💭 April
💲WIFI: Berencana menggelar rights issue hingga ~2,95 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp2.000/lembar dan efek dilusi hingga 55,56% untuk membangun jaringan fiber–to–the–home (FTTH) bagi 4 juta homepass di Pulau Jawa.
MSCI mengumumkan bahwa 💲BREN, 💲CUAN, dan 💲PTRO tetap tidak akan dimasukkan ke dalam daftar inklusi pada review indeks bulan Mei 2025. MSCI juga mengkaji penambahan peraturan di mana saham–saham di BEI yang dalam 12 bulan terakhir pernah masuk dalam pengumuman unusual market activity dan/atau papan pemantauan akibat pergerakan harga yang tidak biasa untuk tidak dipertimbangkan masuk ke dalam MSCI Global Investable Market Indexes.
💲LPCK: Menggelar rights issue hingga ~3 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp500/lembar dan efek dilusi hingga 52,61% untuk membiayai konstruksi proyek properti. Perseroan telah melaksanakan rights issue pada April 2025.
💲PIPA: PT Morris Capital Indonesia berencana mengakuisisi 57,37% saham PIPA dari pengendali dan pemegang saham mayoritas. Transaksi ini rampung pada Juni 2025 dan perseroan berencana ekspansi bisnis pada sektor minyak dan gas.
💲BDMN: Merencanakan merger antara anak usahanya, 💲ADMF, dengan 💲MFIN. Merger ini efektif pada Oktober 2025 dan ADMF menjadi surviving entity.
💭 Mei
💲GGRM: menyuntikkan modal senilai Rp1,5 T kepada anak usahanya, PT Surya Sapta Agung Tol, untuk mendukung kelanjutan proses pembangunan proyek jalan tol Kediri–Tulungagung
💲CUAN: Berencana melakukan stock split dengan rasio 1:10. Perdagangan saham dengan nilai nominal baru di pasar reguler dan negosiasi pada 10 Juli 2025.
💲ENRG: Menandatangani perjanjian pembelian 25% hak partisipasi di Blok Kangean dari Japan Petroleum Exploration Co. Ltd. (Japex) dan menandatangani perjanjian penjualan 50% hak partisipasi di Blok Gebang kepada Japex. Transaksi ini rampung pada November 2025.
💭 Juni
💲BUMI: Pemegang saham menyetujui rencana kuasi reorganisasi.
💲TPIA: Menandatangani nota kesepahaman senilai US$800 juta dengan BPI Danantara dan Indonesia Investment Authority, di mana kedua sovereign wealth fund tersebut menjajaki kemungkinan untuk masuk sebagai investor baru dalam proyek pabrik klor–alkali dan etilen diklorida.
💲BUMI: Berencana menerbitkan obligasi hingga Rp350 M untuk mendanai akuisisi Wolfram Limited, perusahaan tambang tembaga dan emas di Australia, senilai ~Rp699 M.
💲GIAA: Mendapatkan shareholder loan ~Rp6,65 T dari Danantara. Dalam perkembangannya, shareholder loan tersebut menjadi bagian dari private placement GIAA sebesar Rp23,7 T pada November 2025.
💲HEAL: PT Dwimuria Investama Andalan — perusahaan milik Hartono bersaudara — mengakuisisi ~559,2 juta saham treasuri perseroan dengan harga Rp1.875/lembar.
💲MEDC: Menandatangani kesepakatan untuk mengakuisisi Fortuna International (Barbados), Inc selaku pemegang hak kepemilikan tidak langsung sebesar 24% di PSC Corridor senilai US$425 juta. Transaksi ini rampung pada Desember 2025
💲AADI: Menjual ~3,68% kepemilikan saham di 💲CITA kepada anak usaha 💲ADMR, PT Alamtri Indo Aluminium, senilai ~Rp572,8 M.
💲NCKL: Membeli 20% saham PT Obi Nickel Cobalt dari pengendali perseroan, PT Harita Jayaraya, senilai Rp4,2 T.
https://snips.stockbit.com/snips-terbaru/-2025-corporate-recap-conglomerates-saved-the-year-again?source=research

$IHSG $JII $ISSI
🤝 Aksi Korporasi Sepanjang 2025
1Q25
💭 Januari
💲ACES: Mengumumkan AZKO sebagai identitas baru merek perseroan seiring tidak diperpanjangnya lisensi dengan Ace Hardware International Holdings Ltd.
💲DEWA: Merencanakan private placement sebanyak ~17,2 miliar saham baru dengan harga Rp65/lembar untuk mengkonversi utang sebesar ~Rp1,1 T kepada PT Madhani Talatah Nusantara dan PT Andhesti Tungkas Pratama. Dalam perkembangannya, harga pelaksanaan private placement ini dinaikkan menjadi Rp75/lembar.
💲WIFI: Entitas grup Arsari membeli 45% saham di perusahaan pengendali WIFI, PT Investasi Sukses Bersama, sehingga memiliki 22,55% saham WIFI secara tidak langsung.
💲DATA: 💲TOWR melalui entitas usahanya, Iforte, berencana mengakuisisi ~40% saham DATA dari Verah Wahyudi Singgih Wong dan Jimmi Anka, di mana Iforte akan menjadi pengendali baru. Transaksi ini rampung pada April 2025 dengan nilai Rp535,7 M.
💲BBTN: Mengumumkan rencana akuisisi 100% saham PT Bank Victoria Syariah sebagai bagian dari spin–off unit usaha syariah perseroan, BTN Syariah.Transaksi ini rampung pada Juni 2025 dan BTN Syariah resmi spin–off pada Desember 2025 menjadi Bank Syariah Nasional.
💲NOBU: Hanwha Life Insurance Co. Ltd. mengumumkan rencana untuk mengakuisisi 40% saham NOBU. Transaksi ini rampung pada Juni 2025.
💭 Februari
MSCI mengumumkan bahwa 💲BREN, 💲CUAN, dan 💲PTRO tidak akan masuk ke dalam MSCI Indonesia Investable Market Index pada review indeks Februari 2025 terkait potensi kendala investability.
💲BUVA: Merencanakan rights issue hingga 3,6 miliar saham baru dengan efek dilusi hingga 17,48% untuk pembiayaan proyek dan pertumbuhan anorganik. Dalam perkembangannya, BUVA menerbitkan ~4,03 miliar saham baru dengan harga Rp150/lembar pada November 2025.
💲SMDR: Melalui anak usahanya, PT Samudera Pelabuhan Indonesia, telah menyelesaikan pengambilalihan saham baru di PT Patimban Global Gateway Terminal. Kepemilikan SMDR di PT Patimban Global Gateway Terminal melalui anak usahanya mencapai 21%.
💭 Maret
💲ABMM: Melalui anak usahanya, PT Reswara Minergi Hartama, menandatangani perjanjian untuk mengakuisisi perusahaan tambang batu bara PT Borneo Berkat Makmur dan PT Piranti Jaya Utama dari United Tractors (💲UNTR) dengan total nilai US$57 juta. Transaksi ini rampung pada April 2025.
💲SRAJ: Bain Capital Credit Member LLC membeli 1,3 miliar saham (10,5%) saham SRAJ, termasuk penyertaan 238 juta saham baru melalui private placement dari pengendali perseroan.
💲IMJS: Merencanakan rights issue hingga 3 miliar saham baru dengan efek dilusi hingga 25,74% untuk memperkuat struktur permodalan dan mengembangkan usaha perseroan. Dalam perkembangannya, perseroan menerbitkan ~2,2 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp230/lembar atau ~Rp505 M pada Desember 2025.
💲ANJT: Anak usaha First Resources Ltd., PT Ciliandra Perkasa, mengumumkan rencana akuisisi ~91,17% saham ANJT. Rencana ini terealisasi pada September 2025.
💲TEBE: Pemegang saham TEBE, PT Dua Samudera Perkasa, membeli ~505 juta (39,31%) saham TEBE dari PT Prima Mineral Utama senilai ~Rp252 M. Setelah transaksi ini, PT Dua Samudera Perkasa menjadi pengendali baru perseroan.
https://snips.stockbit.com/snips-terbaru/-2025-corporate-recap-conglomerates-saved-the-year-again?source=research

Akhirnya 1 tahun lagi berlalu dan saatnya rekap, tutup buku dan introspeksi
Alhamdulillah tahun ini porto ditutup hijau tebal...
Bisa beat kinerja $ISSI (+6%) dan IHSG (nyaris double) YTD (awal 03/03/2023) walau jumlah emiten dikurangin... sempet malas melakukan update jadi terpaksa bikin ulang di awal 2023
Mudah2an bisa kelola porto dengan maks emiten 5 atau 6 saja kedepannya
1/2


$ISSP
⚡ SCALPING PLAN
🟢 Entry
Buy on pullback: 400 – 406 (Menunggu harga menguji area support psikologis di level 400 yang merupakan batas bawah konsolidasi sebelumnya).
Buy breakout (agresif): > 420 (Valid jika harga mampu membalikkan tren penurunan hari ini dan kembali di atas level resisten minor).
🎯 Take Profit
TP 1: 430 – 436 → jual 30–40% (Area resisten dari puncak-puncak kecil terakhir).
TP 2: 444 – 450 → jual 30–40%.
TP 3: 480 – 490 → jual sisa (Menguji kembali puncak tertinggi bulan Desember jika momentum industri baja membaik).
🔴 Stop Loss
SL pullback: 394.
SL breakout: 412.
Daily close < 398 → CUT LOSS tanpa ragu (Jika harga mematahkan struktur pertahanan dan berisiko jatuh kembali ke level 380).
⚠️ Catatan Cepat
Indikator MACD: Menunjukkan pelemahan momentum yang signifikan dengan terjadinya Dead Cross (garis biru memotong merah ke bawah) dan histogram negatif yang mulai membesar (-2,15).
Karakter Saham: ISSP sedang berada dalam fase koreksi tajam setelah gagal mempertahankan level 480; tekanan jual hari ini cukup agresif (-4,19%).
Strategi: Fokus pada pengujian support di level 400; hindari masuk terlalu awal sebelum terlihat adanya "ekor bawah" atau akumulasi beli di area tersebut.
Jangan Lupa Follow!
Random Tag :
$IHSG $ISSI
$IHSG $JII $ISSI
Syapa diantara kalian yang sedang duduk tenang menunggu report Q4 dari masing-masing emiten dengan persiapan kalkulator untuk perhitungan nilai intrinsik lebih lanjut di 2026 nanti..

kayanya tiap hari nanya ini 🤣
harusnya kalau udah analisis secara fundamental, susah tahu ketinggian apa enggaknya
tapi bener kok secara fundamental memang bisa dibilang best of the best, at least di universe sharia compliant $ISSI
$IHSG $JII $ISSI
2020 dengan 2025 Beda tipis Gegara banyaknya pemateri yang bagikan Ilmunya menggunakan Bandarmology para Retail pemula hanya bisa ngikut tanpa menimbang perhitungan nilai harga yang sebenarnya...
Jadinya Fenomena ini TP buat yang sudah beli di awal harga terutama Emiten yang mudah berfluktuatif.
Sekalinya Entry di Emiten Gede yang sedikit Premium secara harga.
jadi bias dehh untuk melangkah ke tahap selanjutnya

Makin panjang thesisnya, makin rumit $ISSI ceritanya.
Tapi makin simpel ceritanya, belum tentu pendek analisisnya.

Salah satu alasan kenapa saham-saham yang mendongkrak $IHSG didominasi saham-saham dengan free float belasan persen ke bawah, sedangkan yang 30% ke atas seolah-olah handicapped adalah karena ketiadaan ETF yang cukup luas dan cukup likuid sekaligus
Ada indeks yang cukup luas seperti $ISSI, tapi ETF-nya nggak ada satupun yang likuid. Ada ETF yang cukup likuid untuk standar saya tapi indeksnya sangat sempit seperti IDXV30 dan Pefindo
Ini berkebalikan dengan $SP500 di mana free float yang paling ideal adalah 95%, karena konstituen-konstituennya berlomba-lomba untuk berebut inflow ETF. Free float terkecil di S&P 500 adalah Wells Fargo sekitaran 78%. Bayangkan, berarti free float turun ke 75% aja udah auto didepak
Implikasi lainnya? Di AS, ada ribuan manajer investasi dengan ribuan algoritma untuk pricing-in secara real-time, sehingga bursa menjadi efisien. Ini kontras dengan saham IDX 30 yang ada yang bisa butuh sampai 4 tahun untuk priced-in, dan yang pricing-in hampir tidak pernah investor lokal, hampir selalu investor asing
Apalagi saham yang market cap besar tapi tidak dibarengi dengan besar likuiditas yang proporsional, saham kosong isi angin doang tapi dipompa dengan 'printing money out of thin air', walaupun di AS juga ada yang seperti Palantir