Index Harga Saham Gabungan
Indeks
Follow
8,212.27
▾ -53.08 (-0.64)
As of Fri 16:14
467,710.64K
Volume
NA
Avg Volume
Yang Kaya Bangkrut Karena Crypto dan Fomo.
Yang Miskin Bangkrut Karena Judol dan Pinjol.
Semua Karena Sama-sama Ingin Cepat Kaya. 😂
$IHSG $BELL $GOTO

#136
Min, 15 Feb 2026
Saya harap ini bisa trending ☕
Selamat Membaca ✍️
Media Sosial Penghancur Diam-diam Generasi, dan Bayangannya di Dunia Pasar Modal
Di pagi yang masih sepi, ketika cahaya pertama menyusup melalui jendela, seorang anak membuka ponsel sebelum matahari sepenuhnya terbit.
Bukan untuk membaca buku, bukan untuk belajar pelajaran sekolah, melainkan untuk menyelam ke dalam arus tak berujung: video pendek yang lucu, gosip yang menggelitik, tantangan yang mengundang tawa sesaat, atau kontroversi yang memicu amarah kilat.
Konten yang mendominasi bukanlah yang membangun pikiran atau karakter, melainkan yang mampu menahan perhatian hanya dalam hitungan detik.
Ini bukan sekadar perubahan selera.
Ini adalah perubahan bentuk pikiran generasi muda.
Konten yang paling viral bukan lagi yang mendidik atau menginspirasi, melainkan yang memicu emosi instan: tawa cepat, iri hati, kemarahan sesaat, atau rasa “gue harus ikut”.
Konten tentang literasi keuangan, sejarah bangsa, nilai keluarga, atau pemikiran mendalam?
Jarang muncul di layar utama. Kalau pun muncul, ia kalah pamor dengan video 15 detik yang dirancang untuk membuat pengguna terus scroll.
Studi-studi terkini mengonfirmasi apa yang kita rasakan secara intuitif:
• Penelitian Karolinska Institutet (Desember 2025) menemukan bahwa paparan media sosial berlebih pada anak usia 10–14 tahun berkorelasi dengan penurunan bertahap kemampuan konsentrasi dan perhatian berkelanjutan.
• JAMA Pediatrics (Oktober 2025) melaporkan bahwa anak dengan penggunaan media sosial tinggi menunjukkan skor tes membaca, kosa kata, dan memori lebih rendah 1–5 poin dibandingkan kelompok yang minim paparan.
• Buku The Anxious Generation (Jonathan Haidt) menggambarkan fenomena ini sebagai “great rewiring of childhood”: otak anak dibentuk ulang oleh stimulasi cepat, sehingga kemampuan untuk berpikir dalam, sabar, dan merefleksikan menjadi semakin langka.
Generasi ini tidak “bodoh”.
Mereka hanya sedang dibentuk oleh mesin yang tidak dirancang untuk membangun karakter, melainkan untuk menahan perhatian secepat dan selama mungkin.
Hasilnya adalah generasi yang mudah bosan, mudah terpengaruh, mudah emosional, dan sulit fokus pada hal-hal yang membutuhkan waktu serta usaha panjang.
Yang paling menyedihkan: ketika suatu bangsa ingin dihancurkan, cara paling efektif dan senyap adalah merusak generasinya terlebih dahulu.
Bukan dengan kekerasan fisik, melainkan dengan membuat mereka kehilangan kemampuan berpikir kritis, kesabaran, visi jangka panjang, dan ketahanan emosional.
Konten negatif, sensasional, dan dangkal yang mendominasi media sosial sedang melakukan itu tanpa suara ledakan, tanpa darah, tapi dengan dampak yang jauh lebih dalam dan lama.
Bayangannya di Pasar Modal
Generasi yang terlatih pada stimulasi instan dan validasi cepat ini kini memasuki pasar saham dalam jumlah besar.
Data BEI per Januari 2026 menunjukkan jumlah Single Investor Identification telah melampaui 21 juta, dengan mayoritas adalah ritel muda.
Mereka tidak datang dengan pola pikir investor jangka panjang.
Mereka datang dengan pola pikir yang sama seperti scroll feed: cepat untung, cepat viral, cepat diakui.
Akibatnya terlihat jelas:
• FOMO yang ekstrem: “Semua orang bilang ini naik ratusan persen, saya ketinggalan kalau tidak ikut!”
• Hype mengalahkan analisa: konten “pump” di grup Telegram, Facebook, atau live IG menjadi sinyal beli utama, bukan laporan keuangan.
• Kurangnya kesabaran: saham blue chip dengan fundamental kuat tapi stagnan selama 1–2 tahun ditinggalkan, sementara saham spekulatif yang naik cepat diburu tanpa mempertimbangkan risiko.
• Emosi mendominasi: panic sell saat merah besar, greed buy saat hijau gila, tanpa ruang untuk refleksi atau prinsip.
Hasilnya adalah kerugian besar di saham gorengan, manipulasi pasar (seperti kasus-kasus 2026 yang sedang diselidiki), portofolio hancur karena trading impulsif, dan akhirnya hilangnya kepercayaan pada pasar modal itu sendiri padahal saham adalah salah satu alat paling ampuh untuk membangun kekayaan jangka panjang bagi generasi muda.
Media sosial tidak hanya merusak perhatian dan kesehatan mental.
Ia juga merusak potensi finansial generasi ini: mengganti kesabaran dengan impulsivitas, analisa mendalam dengan sensasi viral, visi masa depan dengan keinginan instan.
Jalan Keluar yang Masih Terbuka
Kita tidak perlu menyalahkan teknologi atau algoritma sepenuhnya.
Kita bisa memilih untuk tidak menjadi korban.
Mulailah dengan langkah kecil:
• Batasi waktu layar: maksimal 30–60 menit sehari untuk media sosial hiburan.
• Kurasi feed: unfollow akun yang hanya sensasi atau drama, ikuti yang memberikan nilai nyata.
• Buat aturan pribadi: “Saya tidak akan membeli saham hanya karena sedang trending atau karena orang lain bilang ‘to the moon’.”
• Latih kesabaran: ingatkan diri bahwa investasi adalah maraton, bukan sprint. Yang menang bukan yang paling cepat untung, melainkan yang paling lama bertahan dengan prinsip benar.
Generasi kita sedang diuji.
Apakah kita akan membiarkan algoritma membentuk pikiran dan keputusan kita?
Atau kita memilih menjadi generasi yang sadar, sabar, dan mampu membangun masa depan dengan bijak baik di kehidupan sehari-hari maupun di pasar saham.
Pilihan ada di tangan kita.
— Hazn Store
Rantag : $IHSG $INDS $RLCO

$UNTR Berdasarkan broker flow pada saham UNTR, investor asing secara umum terlihat cenderung pasif dan berada dalam posisi wait and see. Aktivitas akumulasi yang konsisten terutama terlihat hanya pada broker AK, sementara broker lain tidak menunjukkan pergerakan yang agresif.
Jika ditinjau dari broker summary, AK telah melakukan pembelian dalam jumlah sangat besar, dengan total akumulasi mencapai sekitar Rp2,3 triliun. Pembelian tersebut banyak menyerap saham dari broker CC, KZ, dan ZP. Nilai penjualan dari pihak-pihak tersebut bahkan tidak mencapai Rp2 triliun, sehingga secara keseluruhan tekanan beli dari AK tergolong sangat kuat. Terdapat indikasi beberapa institusi asing lain turut mengikuti arah AK, namun skalanya tidak sebesar AK.
Data beberapa hari terakhir juga menunjukkan konsistensi akumulasi oleh AK. Dalam periode 7–13 Februari 2026, AK mencatatkan net buy sekitar Rp100 miliar. Secara rinci, pada 13 Februari AK membeli sekitar Rp75 miliar dengan menyerap saham dari institusi lain. Pada 12 Februari tetap tercatat net buy meskipun relatif kecil, sekitar Rp2 miliar. Pada 11 Februari pembelian kembali terjadi sekitar Rp19 miliar, dan pada 10 Februari sekitar Rp5 miliar.
Memang pada 9 Februari tercatat net sell sekitar Rp2 miliar, namun nilainya relatif kecil dibandingkan total posisi akumulasi AK yang telah mencapai sekitar Rp2,3 triliun di UNTR. Hal ini mengindikasikan bahwa transaksi jual tersebut kemungkinan berasal dari pihak lain yang menggunakan broker AK, sehingga tidak mengubah kecenderungan akumulasi utama yang masih berlangsung.
Secara keseluruhan, terdapat indikasi bahwa AK memiliki kepentingan atau pandangan positif terhadap UNTR sehingga terus melakukan akumulasi, bahkan di tengah sentimen eksternal seperti potensi penurunan status Indonesia oleh MSCI maupun perubahan outlook Moody’s menjadi negatif. Rata-rata harga akumulasi AK berada di kisaran Rp29.119, yang dapat dianggap sebagai area acuan akumulasi. Selama tidak terlihat aksi cut loss dan proses akumulasi masih berlanjut—yang dalam praktiknya dapat berlangsung dalam jangka panjang—arah utama pergerakan masih dipengaruhi oleh strategi tersebut. Selain itu, secara fundamental, kinerja UNTR juga dinilai tetap solid.
#DYOR #NFA #LAKUKANRESEACHMANDIRI $IHSG $UNVR
1/8








wkwkw dulu pas masih belum kenal market, orang-orang sangat membenci hari SENIN.
Tapi sekarang, orang-orang yang kenal market malah suka sekali yang namanya hari SENIN.
sampe-sampe orang lupa kadang dihari senin tu ada jeda libur market juga (contohnya senin besok) 🤣
RT : $IHSG $BUMI $BULL
#27 Pasar Bisa Salah, Tapi Tidak Perlu Dilawan
Saya pernah berada di fase di mana setiap kali merasa pasar salah, dorongan pertama saya adalah melawannya. Jika harga bergerak berlawanan dengan keyakinan saya, saya justru menambah posisi dengan emosi, seolah ingin membuktikan bahwa saya benar dan pasar keliru. Ada rasa bangga aneh ketika melawan arus, seakan itu tanda kecerdasan. Tapi kenyataannya, semakin keras saya melawan, semakin besar energi yang terkuras—dan hasilnya jarang seindah yang saya bayangkan.
Pengalaman mengajarkan bahwa pasar memang bisa salah, terutama dalam jangka pendek. Ia bisa bereaksi berlebihan, salah membaca sentimen, atau terjebak narasi sementara. Namun kesalahan pasar tidak otomatis menjadi undangan untuk berkonfrontasi. Dulu saya menyamakan keyakinan dengan keharusan bertindak. Padahal, keyakinan tidak selalu menuntut aksi. Ada perbedaan besar antara memahami bahwa pasar keliru dan merasa wajib “menghukum” pasar karena itu.
Perlahan saya belajar mengubah sikap. Ketika pasar terlihat salah, saya berhenti mengambilnya secara personal. Saya kembali ke pertanyaan yang lebih tenang: apakah alasan saya berinvestasi masih relevan, dan apakah risiko yang saya ambil masih masuk akal? Jika iya, saya memilih menunggu tanpa melawan. Jika tidak, saya menyesuaikan langkah tanpa drama. Ternyata, tidak melawan bukan berarti menyerah—sering kali itu justru bentuk disiplin yang lebih dewasa.
Hari ini, saya menerima bahwa pasar bisa salah, tapi tidak perlu dilawan. Ia akan bergerak sesuai waktunya sendiri, dengan atau tanpa persetujuan saya. Tugas saya bukan memenangkan perdebatan dengan pasar, melainkan menjaga agar keputusan saya tetap selaras dengan proses dan kemampuan saya bertahan. Sejak berhenti melawan, investasi terasa lebih ringan. Bukan karena pasar selalu benar, tapi karena saya tidak lagi memaksakan diri untuk selalu menang.
$IHSG $MARK $LSIP

Golden cross MACD di $IHSG hari ini: $INOV
Selengkapnya di https://cutt.ly/1tmmqKMD
Analisis Siklus Wyckoff dan Pergerakan Bandar
Siklus Wyckoff dan pergerakan bandar memang nyata. Namun, pembeda antara mereka yang benar-benar mengikuti pergerakan modal besar dengan mereka yang hanya menjadi umpan serta exit liquidity hanyalah satu hal: di fase mana mereka masuk.
1. Manipulasi Informasi dan Hierarki Berpikir
Saham yang tidak dipromosikan (pompom) oleh pembuat konten media sosial, ketua komunitas, atau kelas berbayar belum tentu sedang dalam fase akumulasi. Namun, saham yang sudah dipromosikan secara masif sudah pasti sedang dalam fase distribusi.
Bagaimana dengan brokermology? Esensinya sama, hanya berbeda pada tingkatan cara berpikir (order of thinking):
First Order Thinking: Dijerat menggunakan pompom media sosial.
Second Order Thinking: Dijerat menggunakan pola grafik (chart) dan tren volume.
Third Order Thinking: Dijerat dengan tampilan akumulasi broker (broksum) yang terlihat "cantik".
Fourth Order Thinking: Mereka yang mampu membaca kerangka waktu ganda (multiple timeframe). Apakah akumulasi broker besarnya hanya terjadi pada 1–2 bulan tertentu lalu sebelum-sebelumnya fluktuatif? Ataukah akumulasinya berlangsung konsisten dari kuartal ke kuartal, bahkan tahun ke tahun, dengan tren yang sangat landai dan halus?
Bandar memiliki jumlah dan ukuran yang beragam. Mereka tidak hanya menghindari deteksi investor ritel, tetapi juga berkompetisi dengan bandar lain. Oleh karena itu, muncul Fifth Order Thinking: akumulasi menggunakan broker ritel, lalu memberikan umpan menggunakan broker bermodal besar. Atau, pada saham yang baru melantai (IPO), mereka menampung barang melalui broker penjamin emisi (underwriter), lalu melakukan transfer barang melalui transaksi Free on Payment (FOP) ke broker ritel atau broker yang tidak mencolok (low profile), baru kemudian melakukan distribusi.
2. Psikologi Pasar dan Akumulasi
Saham yang mematahkan tren atau sedang dalam tren menurun belum tentu sedang diakumulasi. Namun, saham yang sedang dalam fase akumulasi sudah pasti—baik disengaja maupun tidak—diciptakan menjadi "neraka psikologis" bagi manusia normal.
Karakteristiknya meliputi: membosankan, tren menurun yang lambat (diiris tipis-tipis), serta fluktuasi yang membingungkan agar investor melepas aset di harga murah. Tidak akan ada aksi yang memberikan secercah harapan, seperti lonjakan volume (volume spike) atau penembusan harga (breakout).
Bagaimana cara mengetahui investor ritel sudah melepas barang? Melalui jumlah dan komposisi pemegang saham. Langkah BEI meningkatkan transparansi dari 9 menjadi 27 komposisi kepemilikan berimplikasi pada semakin banyaknya identitas tunggal investor (SID) yang perlu dipinjam oleh bandar untuk menyamarkan jejak mereka.
FAQ: "Tetapi, bukankah bandar masih menampung barang buangan ritel?"
Gunakan logika sederhana: memancing memerlukan modal. Baik itu modal uang untuk membeli umpan, atau modal waktu untuk mencari cacing. Modal tersebut dikorbankan demi mendapatkan hasil yang jauh lebih besar.
Modal untuk mendapatkan cacing tidak seberapa dibandingkan nilai ikan kakap yang diincar. Jika targetnya hanya ikan teri, mungkin mereka tidak membutuhkan umpan besar. Namun, jika targetnya adalah ikan kakap, pasti ada aset yang harus dikorbankan.
Jika bandar membiarkan modal sebesar Rp1 miliar tertahan di harga puncak, itu mungkin hanya 1% dari total modal Rp100 miliar. Jika Rp10 miliar yang tertahan, itu hanya 1% dari Rp1 triliun. Terlebih jika saham tersebut memiliki rasio P/E negatif dengan harga dua hingga tiga digit; hanya dengan "umpan kecil", banyak investor ritel yang akan terpancing.
Penutup
Kami tidak anti-bandar, tidak pula mengabaikan eksistensi mereka. Kami hanya ingin memanusiakan saudara-saudara kami yang masih rentan terhadap narasi instan. Jangan mudah tergiur dengan narasi: "Belajarlah dari mereka yang sukses dari nol," namun ujung-ujungnya hanya pamer kemewahan di media sosial.
$BBCA $BBRI $IHSG

Kenapa trading jangan dari modal hutang?
Trading menggunakan modal hasil berhutang (pinjaman bank, pinjol, atau gadai) adalah resep paling cepat menuju kehancuran finansial. Meski godaan "cepat kaya" itu nyata, ada alasan psikologis dan matematis kenapa para profesional sangat melarang hal ini
1. Beban Psikologis yang Melumpuhkan (Psychological Pressure)
Trading membutuhkan pikiran yang tenang dan objektif. Ketika kau menggunakan uang hutang:
Takut Kehilangan: kau tidak lagi trading berdasarkan strategi, tapi berdasarkan rasa takut. kau akan panik saat harga turun sedikit saja karena membayangkan cicilan yang harus dibayar.
Balas Dendam (Revenge Trading): Jika rugi, kau akan terdorong untuk segera "mengembalikan modal" demi membayar bunga hutang, yang biasanya justru berakhir dengan kerugian lebih besar.
2. Karakteristik Pasar yang Tidak Pasti
Pasar keuangan bersifat dinamis dan tidak ada yang menjamin keuntungan 100%.
Hutang Itu Pasti: Bunga dan pokok hutang harus dibayar tepat waktu, tidak peduli pasar sedang bullish atau bearish.
Trading Itu Tidak Pasti: Bisa saja strategi kau benar, tapi pasar butuh waktu lebih lama untuk bergerak naik. Jika jatuh tempo hutang datang duluan, kau terpaksa cut loss di saat yang salah.
3. Bahaya Bunga Berlipat Ganda
Jika kau rugi dalam trading (misal rugi 20%), kau tidak hanya kehilangan uang tersebut, tapi kau tetap menanggung beban bunga pinjaman.
Efek Bola Salju Negatif: Kekayaan kau berkurang dari dua sisi: kerugian di pasar dan biaya bunga dari pemberi pinjaman. Ini adalah cara tercepat untuk bangkrut secara total.
4. Melanggar Aturan Emas Investasi
Prinsip utama dalam investasi/trading adalah:
"Gunakan uang yang kau rela jika uang tersebut hilang."
Hutang sama sekali bukan uang dingin. Itu adalah uang milik orang lain yang dititipkan kepada kau dengan konsekuensi hukum dan sosial jika tidak kembali.
⚠️ NOTE: Trading dengan modal hutang mengubah aktivitas strategis menjadi perjudian yang nekat. Jauh lebih baik mulai dengan modal kecil dari tabungan sendiri sambil terus mengasah kemampuan, daripada mulai dengan modal besar tapi hasil pinjaman yang menghantui setiap langkah.
Tag: $IHSG $BUMI $FUTR
$IHSG Minggu depan ijo niyy...
https://cutt.ly/ptmbCaRu
$MINA $PADI
PERBEDAAN STOCK SPLIT DAN PERUBAHAN REGULASI SAHAM BISA DIBELI PERLEMBAR:
Karena masih banyak yang salah kaprah mengenai tujuan Saham bisa dibeli Perlembar bukan harus 1 Lot = 100 Lembar
Inklusi Pasar Modal Bukan Soal Saham Murah, tetapi Keadilan Akses bagi Investor Ritel kecil
Dalam upaya memperluas inklusi pasar modal, masih TERKENDALA bahwa harga saham yang tinggi menjadi penghalang utama bagi investor ritel kecil. Saham-saham dengan harga diatas Rp2.000, Rp5.000, bahkan di atas Rp10.000 per lembar kerap “TIDAK TERJANGKAU”, terutama bagi masyarakat yang ingin mulai berinvestasi secara bertahap.
Persepsi ini dapat dimengerti, namun perlu diluruskan. Masalah utama bukan terletak pada mahal atau murahnya harga saham secara nominal, melainkan pada AKSES dan keadilan bagi investor ritel kecil untuk berpartisipasi pada saham-saham berkualitas.
Jika inklusi pasar modal dimaknai sebagai kesempatan yang setara, maka investor dengan modal terbatas seharusnya juga memiliki peluang untuk mengakses saham-saham berfundamental kuat, berkapitalisasi besar, dan berperan penting dalam perekonomian nasional, bukan hanya saham berharga rendah yang risikonya sering kali lebih tinggi.
STOCK SPLIT:
Bukan Solusi Teknis yang Perlu Dipahami Secara Utuh atas Inklusi dan Keadilan
Dalam praktiknya, stock split kerap dipandang sebagai solusi untuk meningkatkan keterjangkauan saham. Melalui aksi ini, harga saham diturunkan secara nominal dengan MENAMBAH JUMLAH SAHAM BEREDAR.
Namun secara fundamental, nilai perusahaan tidak berubah. Kapitalisasi pasar tetap sama, kinerja tidak otomatis meningkat, dan valuasi tidak serta-merta menjadi lebih menarik.
Yang terjadi adalah penyesuaian teknis:
- Jumlah saham bertambah
- Harga per lembar memang menurun
- Earnings per Share (EPS) dan dividen per lembar menyesuaikan secara proporsional
Bagi investor yang telah memahami mekanisme pasar, stock split merupakan informasi NETRAL. Namun bagi investor pemula, kebijakan ini berpotensi menimbulkan BIAS PERSEPSI, seolah-olah saham menjadi lebih terjangkau secara nilai, padahal yang berubah hanya bentuknya, bukan substansinya.
Tantangan di Balik Stock Split bagi Investor:
Dari sudut pandang edukasi dan perlindungan investor, terdapat beberapa hal yang perlu dicermati:
Pertama, peningkatan jumlah saham beredar dapat memengaruhi dinamika PERMINTAAN dan PENAWARAN. Dalam kondisi tertentu, TEKANAN SUPLAY AKAN meningkat sehingga pergerakan harga memerlukan dukungan volume dan kinerja yang lebih besar.
Kedua, harga saham yang lebih rendah secara nominal cenderung lebih aktif diperdagangkan. Hal ini dapat memang meningkatkan likuiditas, tetapi juga berpotensi meningkatkan volatilitas, khususnya jika tidak diiringi pemahaman risiko yang memadai.
Ketiga, apabila stock split tidak dibarengi dengan peningkatan kinerja operasional, ekspansi bisnis, atau efisiensi, pasar dapat menilainya sebagai langkah teknis semata atau KOSMETIK bukan refleksi pertumbuhan nilai perusahaan.
Karena itu, stock split bukan SOLUSI dalam mendorong inklusi investor ritel, Malah bisa jadi Peluang Untuk menggoreng Saham.
Inklusi yang Sejati adalah Kesempatan Mengakses Saham Berkualitas:
Isu yang lebih mendasar dalam pengembangan pasar modal Indonesia adalah KEADILAN AKSES. Investor ritel kecil tidak semestinya diarahkan hanya pada saham-saham berharga rendah, sementara AKSES ke saham-saham unggulan TERBATAS oleh MEKANISME TEKNIS PEMBELIAN.
Jika tujuan literasi dan inklusi adalah membangun investor jangka panjang yang berkualitas, maka investor dengan modal kecil juga perlu diberi jalan untuk berpartisipasi di saham-saham berfundamental kuat, termasuk saham-saham unggulan yang selama ini menjadi tulang punggung indeks pasar.
Inklusi tidak berarti menurunkan standar kualitas investasi, melainkan memperluas pintu masuknya.
Pembelian Saham per Lembar sebagai Instrumen Keadilan Akses:
Kebijakan pembelian saham Perlembar yang difasilitasi oleh Bursa Efek Indonesia menjadi langkah penting dalam konteks ini.
Melalui kebijakan tersebut:
- Investor ritel dapat menyesuaikan investasi dengan kemampuan finansial
- Saham berkualitas tetap dapat diakses tanpa mengubah struktur emiten
- Tidak terjadi distorsi terhadap EPS, dividen, maupun valuasi
- Proses belajar investasi dapat dilakukan secara bertahap dan terukur
Dengan mekanisme ini, investor ritel kecil tidak lagi dipaksa memilih antara “SAHAM MURAH” atau “TIDAK BERINVESTASI SAMA SEKALI”. Mereka dapat mulai membangun kepemilikan pada saham-saham berkualitas secara konsisten, SESUAI KEMAMPUAN.
Arah Literasi Pasar Modal yang Lebih Berkeadilan
Ke depan, pesan literasi pasar modal perlu bergeser dari fokus pada harga nominal menuju pemahaman nilai, risiko, dan akses yang setara.
Pasar modal yang sehat bukan hanya ditopang oleh banyaknya investor, tetapi oleh kualitas keputusan investasi. Edukasi yang baik akan:
1. Mengurangi perilaku spekulatif
2. Mendorong kepemilikan jangka panjang
3. Memperluas partisipasi investor pada saham-saham berkualitas
4. Memperkuat stabilitas pasar secara keseluruhan
BAGAIMANA EMPAT POINT DIATAS BISA TERWUJUD JIKA INVESTOR RITEL KECIL TIDAK BISA MEMBELI EMITEN/SAHAM BLUE CHIPS, LQ30 dan LQ45 (KARENA KEMAMPUAN MODALNYA DIBATASI SECARA TEHNIS OLEH REGULATOR).
Stock split tetap merupakan aksi korporasi yang sah dan bermanfaat dalam konteks tertentu atau bisa jadi KOSMETIK JUGA. Namun, inklusi pasar modal tidak seharusnya bergantung pada pemecahan saham semata.
Bagi investor ritel kecil, yang dibutuhkan bukan ILUSI HARGA MURAH, melainkan KEADILAN AKSES terhadap saham-saham berkualitas. Dengan dukungan regulasi, edukasi yang objektif, dan pemahaman fundamental, pasar modal Indonesia dapat tumbuh lebih inklusif, berimbang, dan berkelanjutan sehingga sejalan dengan arah penguatan pasar modal yang didorong oleh Otoritas Jasa Keuangan.
$IHSG $BBCA $BMRI
.
Selamat siang Kakak 🥱
Kalau anda saja bebas menggunakan kode broker untuk jual beli saham,
hari ini beli pake warna ungu, besok jual pake warna merah,
Lalu apa bedanya dengan Smart Money itu?
era kekanakan harus ditempatkan pada posisi sewajarnya saja, dan mulai masuklah ke era kedewasaan dalam melihat realitas pasar.
Pasar ini tempat bermain pikiran, maka bermainlah, tapi jangan main2 ok 🤣
Teruntuk teman yg belum ngerti bahwa saham bisa digadaikan untuk suntikan modal, termasuk tanggungan resikonya 😆
$IHSG $DEWA $ADMR
emiten pangan masih dirahasiakan 🤭
Saya habis ngelatih AI buat kasih report outlook $IHSG dari data ekonomi dan sentimen narrative. Hasilnya lumayan, bisa lebih efisien waktu dan fokus ke teknikal untuk eksekusi.
Bakal dive deeper ke $ADRO dari report berikut.
#26 Harga Itu Suara, Nilai Itu Makna
Saya pernah mengira harga adalah kebenaran paling jujur di pasar. Angka yang bergerak naik turun terasa seperti suara paling keras, paling nyata, dan paling sulit diabaikan. Setiap perubahan harga langsung memengaruhi perasaan dan keputusan saya. Ketika harga naik, saya merasa benar. Ketika turun, saya merasa ragu. Seolah-olah harga sedang berbicara langsung kepada saya, memberi penilaian instan atas keputusan yang saya ambil. Belakangan saya sadar, yang berbicara keras itu memang harga—tapi belum tentu ia sedang menyampaikan makna.
Seiring waktu, saya mulai menyadari bahwa harga hanyalah suara: reaksi sesaat dari pasar yang penuh emosi, kepentingan, dan ketergesaan. Ia bisa lantang hari ini, lalu berubah nada besok pagi. Nilai berbeda sifatnya. Ia tidak berteriak, tidak menuntut perhatian, dan sering kali berjalan pelan. Nilai tersembunyi di laporan keuangan, di arah bisnis, di kemampuan perusahaan bertahan melewati siklus. Dulu, saya terlalu sibuk mendengarkan suara hingga lupa mencari makna di baliknya.
Perubahan cara pandang itu tidak datang sekaligus. Saya belajar membedakan kapan harus mendengar, dan kapan harus memahami. Harga tetap saya perhatikan, tapi tidak lagi saya biarkan mendikte segalanya. Ketika harga turun, saya tidak langsung menyimpulkan ada yang salah. Saya bertanya: apakah nilainya berubah, atau hanya suaranya yang sedang gaduh? Dengan pertanyaan itu, keputusan saya menjadi lebih tenang, tidak lagi reaktif terhadap setiap gerakan kecil.
Hari ini, saya melihat pasar dengan telinga dan mata yang berbeda. Harga tetap bersuara setiap hari, kadang keras, kadang menenangkan. Tapi saya tidak lagi mencari makna dari volumenya. Saya mencari makna dari hal-hal yang tidak selalu terlihat di layar. Saya belajar bahwa investor yang bertahan lama bukan yang paling peka terhadap suara, melainkan yang paling setia pada makna. Dan sejak itu, investasi terasa lebih jernih—tidak selalu mudah, tapi jauh lebih masuk akal.
$IHSG $MIKA $PRDA

Sejarah Sedang Mengulang Polanya: Waspada Konsentrasi Pasar! 🚨
Pernahkah Anda merasa pasar saham saat ini terlihat sangat kuat, namun terasa "berat di atas"? Sejarah mengajarkan kita bahwa ketika performa indeks hanya didorong oleh segelintir saham raksasa (mega-cap), kerapuhan sebenarnya sedang terbangun di bawah permukaan.
1. Jebakan Konsentrasi Saham 📉
Berdasarkan data historis (lihat grafik), tingkat konsentrasi pasar saat ini telah melampaui puncak Dot Com Bubble tahun 2000 dan bahkan mendekati level Great Depression tahun 1930-an.
Ketika bobot 10 saham teratas di S&P 500 menjadi terlalu dominan:
• Pasar menjadi kurang sehat karena tidak ada pemerataan pertumbuhan.
• Risiko sistemik meningkat jika satu raksasa jatuh, seluruh indeks ikut terseret.
• Ini bukan ciri dari bull market (pasar menguat) yang tahan lama.
2. Dominasi AS vs Seluruh Dunia 🌏
Saat ini, ekuitas AS mendominasi pasar global secara ekstrem. Sejarah menunjukkan bahwa setiap kali terjadi ketimpangan sebesar ini, investor cenderung menciptakan alasan canggih mengapa "kali ini berbeda" atau "aturan lama tidak berlaku lagi." Nyatanya? Ketimpangan ini selalu berakhir dengan koreksi atau unwinding.
3. Ke Mana Aliran Dana Selanjutnya? 💸
Pertanyaan terpenting bagi investor cerdas bukanlah "kapan puncaknya?", melainkan "ke mana modal akan mengalir setelah ini?"
Ketika posisi pasar sudah terlalu berat di satu sisi (saham teknologi/AS), maka pemicu kecil saja bisa menyebabkan rotasi besar-besaran ke sektor yang selama ini terabaikan (under-owned dan mispriced).
Sektor yang Perlu Diperhatikan:
Jika Anda mencari peluang di tengah perubahan rezim pasar, sektor-sektor ini layak masuk radar karena valuasinya yang masih murah:
• Emerging Markets (Pasar Negara Berkembang)
• Logam & Pertambangan (Metals & Mining)
• Energi & Minyak
• Komoditas
#DISCLAIMERON !!
#Investasi #Saham #Ekonomi #MarketUpdate #IHSG #Trading #SejarahPasar #S&P500 #Commodities
$IHSG $RAJA $AADI

Jesse Lauriston Livermore (1877–1940)
https://cutt.ly/Ntmbs2mj
Salah satu legenda paling terkenal dalam sejarah trading saham—sering disebut sebagai “the greatest stock trader who ever lived” oleh banyak orang, walau hidupnya juga tragis.
Dia bukan cuma terkenal karena uang yang dia hasilkan, tapi karena cara berpikirnya: disiplin, membaca pergerakan harga, dan memahami psikologi pasar.
Banyak prinsip trading modern (bahkan yang dipakai trader hari ini) akarnya bisa ditarik ke Livermore.
1) Siapa Jesse Livermore itu?
Livermore adalah trader asal Amerika, hidup di era: akhir abad 19 sampai awal abad 20
(era pasar saham masih liar, regulasi belum seketat sekarang)
Dia terkenal karena, trading berdasarkan pergerakan harga (price action), memahami momentum, berani ambil posisi besar kalau sudah yakin, sangat fokus pada trend, Livermore bukan tipe “investor jangka panjang” seperti Warren Buffett, lebih cocok disebut speculator (spekulan profesional)
2) Awal hidupnya
Dari anak miskin jadi trader, Livermore lahir di keluarga miskin di Massachusetts, ayahnya ingin dia jadi petani, tapi Livermore benci kehidupan itu, di umur sekitar 14 tahun, dia kabur ke Boston dan kerja sebagai pencatat harga saham (quote boy) tugasnya simpel, menulis harga saham yang bergerak, update papan harga, tapi di situ dia belajar hal yang luar biasa, seperti harga saham punya pola, dan manusia bereaksi dengan cara yang berulang.
3) Livermore kaya dari “bucket shop”
Zaman dulu ada yang namanya bucket shop, Bucket shop itu tempat orang “taruhan” pergerakan harga saham, tapi bukan benar-benar beli saham mirip seperti trading CFD/derivatif zaman sekarang (kasarnya) dii situ Livermore jadi monster. Dia menang terus karena dia baca pola pergerakan harga
dia tahu kapan harga mulai “lari” dia punya disiplin stop loss (walau tidak selalu), karena terlalu sering menang, dia sampai di-blacklist dari banyak bucket shop.
4) Gaya trading Jesse Livermore (inti pemikirannya), Ini yang bikin dia abadi, sbb;
A. Dia trading mengikuti trend
Prinsipnya, “Uang besar bukan didapat dari beli-jual cepat, tapi dari duduk diam di trend besar.” Kalau harga sudah naik dan menunjukkan kekuatan, dia ikut naik.
Kalau harga turun dan menunjukkan kelemahan, dia ikut turun (short selling).
B. Dia percaya “market selalu benar”
Livermore bukan orang yang debat dengan market. Dia percaya, kalau harga bilang turun, ya turun, kalau harga bilang naik, ya naik.
C. Dia masuk pelan, tambah posisi saat benar
Ini konsep modern banget.
Pyramiding, artinya: masuk kecil dulu, kalau market bergerak sesuai prediksi → tambah posisi, kalau market salah → cut loss cepat
D. Dia anti averaging down
Ini salah satu prinsip paling keras dari Livermore: “Jangan tambah posisi pada saham yang sedang rugi.” Karena menurut dia, kalau harga turun, berarti kamu salah, tambah posisi itu artinya memperbesar kesalahan.
E. Dia paham psikologi massa
Livermore percaya pasar digerakkan oleh: ketakutan, keserakahan, harapan, ego dan itu selalu berulang, Makanya, dia sering bilang kurang lebih begini: “Pasar tidak pernah berubah, yang berubah cuma pemainnya.”
5) Prestasi paling terkenal: “The Panic of 1907”
Di tahun 1907 terjadi krisis besar di Amerika.
Livermore melakukan short besar-besaran dan konon menghasilkan, sekitar 1 juta dolar (zaman itu), kalau disetarakan hari ini, itu setara puluhan juta dolar.
Dia jadi terkenal sebagai, trader yang “mencium kehancuran” lebih cepat dari orang lain.
6) Puncak kejayaan: Crash 1929 (The Great Depression)
Momen paling ikonik, pada tahun 1929, pasar saham Amerika jatuh brutal (awal Depresi Besar). Livermore lagi-lagi melakukan short besar, konon dia menghasilkan:
sekitar 100 juta dolar, di zaman itu, angka ini gila, dia termasuk salah satu orang terkaya di Amerika pada masanya.
7) Tapi kenapa hidupnya tragis?
Nah ini bagian yang bikin Livermore bukan sekadar “kisah sukses”. Walaupun dia beberapa kali jadi sangat kaya, dia juga beberapa kali bangkrut, kehilangan segalanya, memulai lagi dari nol, kenapa bisa begitu.
Livermore juga manusia, kadang melanggar sistemnya sendiri, kadang terlalu percaya diri, kadang trading berdasarkan emosi, kadang ikut rumor / manipulasi pihak besar. Dia punya kelemahan yang sama seperti trader lain, ketika dia disiplin → dia jadi legenda, ketika dia melenceng → dia hancur.
8) Kehidupan pribadinya juga kacau
Dia mengalami, masalah rumah tangga, tekanan mental, konflik sosial, rasa kesepian. Ada cerita bahwa Livermore, sulit percaya orang, mudah merasa dikhianati, hidupnya penuh ketegangan, cukup tragis ya, tapi begitu realitanya.
9) Kenapa Jesse Livermore bunuh diri?
Livermore bunuh diri tahun 1940, penyebab pastinya kompleks, tapi secara umum, tekanan finansial (dia kembali jatuh), depresi dan kelelahan mental, konflik hidup pribadi, rasa hampa.
Ini yang penting, Livermore punya kemampuan luar biasa membaca pasar, tapi dia tidak berhasil “mengelola dirinya sendiri” sampai akhir dia bunuh diri.
10) Buku yang membuat Livermore makin legendaris
Ada buku yang sangat terkenal: Reminiscences of a Stock Operator (1923),penulisnya Edwin Lefèvre, ini bukan autobiografi murni, tapi tokoh utamanya, “Larry Livingston” jelas terinspirasi dari Jesse Livermore, buku ini dianggap “kitab suci” trader, karena berisi: cara berpikir Livermore
psikologi pasar, kesalahan-kesalahan trader
cara disiplin menghadapi market.
11) Warisan Jesse Livermore untuk trader modern
Kalau dirangkum, warisannya itu: Ikuti trend, jangan melawan market, cut loss cepat, biarkan profit bertumbuh, tambah posisi hanya ketika benar, jangan trading karena ego, kesabaran lebih mahal dari strategi, yang paling susah bukan membaca chart, tapi mengendalikan diri.
12) Livermore itu legenda yang “mengajarkan realita”
Livermore adalah contoh paling nyata bahwa:
bisa jadi jenius di market, tapi tetap bisa kalah oleh: emosi, kesepian, tekanan hidup, ketidakstabilan mental. Makanya, kisahnya terasa sangat manusiawi.
$IDXQ30 $LQ45 $IHSG

$LSIP Harga wajar LSIP jika Dihitung menggunakan Mean PBV 0.8 (Target Konservatif) ada diharga 1567
Dan MoS ada diangka 25%, bagi saya ini termasuk aman karena toleransi MoS saya ada pada 15%
lalu jika kita hitung Menggunakan Metode Graham Number (Target Optimis) ada diharga 3272
Dan MoS ada Diangka 64%, ini sudah lebih dari cukup
kesimpulanya, Apakah masuk sekarang aman? menurut saya Ya, sangat aman
DYOR
Disclaimer On : Bukan ajakan Jual Beli, hanya informasi masalah keputusan investasi ada ditangan anda semua kisanak
$IHSG $SIMP
$BBRM
Mengenai Galangan Kapal Pemerintah Maksud;
Galangan kapal adalah tempat untuk:
1. 🚢 Membangun kapal baru (dari rangka sampai jadi)
2. 🔧 Memperbaiki kapal (repair)
3. 🔄 Perawatan rutin (docking, pengecatan, mesin, lambung)
4. 🛠 Modifikasi kapal (upgrade alat, tambah sistem)
Ibaratnya:
Kalau kapal itu mobil,
galangan adalah pabrik + bengkel besar khusus mobil laut.
Ada Berapa Jenis Galangan?
1️⃣ Shipbuilding Yard
Fokus bikin kapal baru.
2️⃣ Repair & Maintenance Yard
Fokus docking dan perbaikan.
3️⃣ Floating Dock
Dok terapung buat angkat kapal ke atas air.
Kenapa Penting di Bursa?
Kalau pemerintah kasih:
• Bea masuk 0%
• Insentif beli kapal
• Kemudahan pembiayaan
➡️ Biaya bikin kapal turun
➡️ Order galangan naik
➡️ Perusahaan pelayaran juga diuntungkan
Makanya sektor ini sering “panas” kalau ada kebijakan maritim.
🧱 Emiten Pelayaran yang Memiliki Hubungan Galangan
1. PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk (BBRM)
• Pelayaran offshore + punya fasilitas galangan / servis kapal
• Paling sering disebut punya exposure ke shipyard
2. PT Soechi Lines Tbk (SOCI)
• Perusahaan tanker
• Grupnya punya keterkaitan shipyard / support facilities
• Bukan galangan besar publik, tapi eksposur jelas ada
$BBRM
$IHSG
1/4



