Index Harga Saham Gabungan
Indeks
Follow
9,134.70
▴ 0.83 (0.01)
As of Tue 16:14
660,714.99K
Volume
174,437.95K
Avg Volume
$RMKE akhirnya program jalan lagi🔥🔥
besok open suspend
kalopun mau imbang dgn sarang burung yg air liur elon musk itu
masih 1300% lg bru sama dgn $RLCO yg naik anomali ke 5000%
bandingkan dgn ini yg harus nunggu 5 tahun,dan jelas fundamental dan udah kasih dividen?
YTTA aja
dripada di geprek di harga tinggi
tp smua kembali ke ritel2 unyu🤣
$IHSG
#DYOR

$IHSG besok akan tetap strong krn EIDO malam ini masih nenguat di tengah anjloknya bursa wallstreet.

#111
Sel, 20 Jan 2026
Edisi Spesial✍️
Selamat Membaca ☕
Volume Gede Monster Tapi Harga Saham Nggak Naik, Artinya Apa? 🤔
Bayangkan ini: Anda buka chart saham favorit. Volume hari ini monster miliaran lembar transaksi, jauh di atas rata-rata. Biasanya, volume segede itu berarti ada “sesuatu” yang sedang terjadi. Tapi anehnya, harga sahamnya stagnan. Malah sideways, atau naik-turun tipis saja.
Stream langsung heboh:
• “Ini akumulasi bandar nih, besok pump!”
• “Hati-hati, distribusi! Bandar lagi lepas barang.”
• “Volume doang gede, harga nggak gerak pasti jebakan.”
Anda bingung. Haruskah excited karena “ada big player masuk”? Atau justru waspada karena ini sinyal buruk?
Jawaban singkatnya: Volume tinggi tanpa pergerakan harga yang signifikan bukan sinyal pasti naik atau turun. Itu hanya menunjukkan ada aktivitas besar tapi arahnya tergantung konteks yang lebih luas.
Benjamin Graham pernah bilang bahwa pasar saham dalam jangka pendek seperti mesin voting (popularitas), tapi jangka panjang seperti mesin penimbang (nilai bisnis sebenarnya). Volume monster adalah “suara keras” di mesin voting itu tapi belum tentu mencerminkan bobot bisnis.
1. Apa Sebenarnya yang Terjadi Saat Volume Tinggi Tapi Harga Sideways?
Dalam analisis pasar, fenomena ini disebut high volume consolidation atau churning. Ada beberapa kemungkinan penjelasan logis:
• Akumulasi Diam-Diam (Smart Money Buying)
Pemain besar (institusi, bandar) sedang mengakumulasi saham secara bertahap tanpa ingin dorong harga naik terlalu cepat. Mereka beli di level rendah, serap penawaran dari seller kecil, tapi jaga harga agar tetap “murah” buat mereka sendiri.
Hasil: Volume gede, harga nggak naik (atau malah sedikit turun). Ini sering jadi prelude rally besar kalau fundamental mendukung.
• Distribusi Diam-Diam (Smart Money Selling)
Kebalikan: Pemain besar sedang melepas saham ke retail yang antusias beli. Mereka jual secara perlahan agar harga tidak anjlok drastis (supaya pembeli retail tetap masuk).
Hasil: Volume tinggi, harga dijaga stabil atau naik tipis. Ini bisa jadi tanda topping sebelum koreksi.
• Churning atau Trading Internal
Banyak transaksi bolak-balik antar trader (misal algo trading, day trader, atau arbitrage). Tidak ada net buying/selling besar, jadi harga nggak gerak jauh. Ini sering terjadi di saham likuid tinggi seperti big banks.
• Absorpsi Penawaran Besar
Ada seller besar (misal asing atau institusi keluar), tapi ada buyer kuat yang serap semua tanpa biarkan harga jatuh. Harga stabil karena supply-demand seimbang di level itu.
2. Contoh Nyata di Pasar Indonesia
Fenomena ini sering banget kita lihat:
• Saham BBCA atau BMRI kadang volume harian 50–100 juta lembar (monster untuk bank), tapi harga hanya gerak 0.5–1%. Ini biasanya akumulasi institusi lokal untuk dividen jumbo.
• Mid small caps pas “gorengan” phase: Volume meledak, harga sideways berhari-hari bisa akumulasi (naik nanti) atau distribusi (turun setelahnya).
• Pasca earning bagus: Volume tinggi karena semua pihak adjust posisi, tapi harga butuh waktu untuk “digest” berita.
Peter Lynch pernah bilang:
“Stocks don’t move on volume. They move on earnings and expectations.”
Volume bisa bikin excitement, tapi yang benar-benar gerakin harga jangka panjang tetap fundamental dan perubahan ekspektasi.
3. Apa yang Harus Anda Lakukan Saat Lihat Volume Monster Tapi Harga Stagnan?
Jangan langsung all in atau cut loss hanya karena volume. Lakukan checklist ini:
1. Cek Konteks Lebih Luas
- Foreign flow: Asing net buy atau sell di balik volume itu?
- Institusi vs retail: Siapa yang dominan transaksi (data broker summary bisa kasih clue).
- Berita/katalis: Ada earning, rights issue, atau rumor?
2. Bandingkan dengan Fundamental
Apakah valuasi masih murah? Laba tumbuh? Moat bisnis utuh? Kalau ya, volume tinggi + harga stabil bisa jadi peluang akumulasi.
3. Lihat Chart Lebih Panjang
Apakah ini di base setelah downtrend (potensi breakout up) atau di top setelah uptrend panjang (potensi reversal)?
4. Jangan Terjebak Emosi
Volume monster sering bikin FOMO. Tapi ingat: banyak saham volume gede hari ini, besok harganya biasa saja kalau tidak ada katalis fundamental.
Warren Buffett jarang komentar soal volume. Dia fokus beli bisnis bagus saat orang lain ragu termasuk saat pasar “ramai tapi nggak yakin arah”.
Penutup
Volume gede monster tapi harga nggak naik bukan berarti “pasti pump” atau “pasti dump”. Itu hanya tanda ada aktivitas besar di balik layar bisa akumulasi yang bagus, bisa distribusi yang bahaya, atau sekadar noise.
Yang terpenting: jangan jadikan volume sebagai sinyal utama. Gunakan sebagai konfirmasi, bukan driver keputusan. Selalu kembalikan ke fundamental bisnis, margin of safety, dan tesis investasi Anda.
Kalau Anda value investor sejati, momen seperti ini justru kesempatan: beli saat orang lain bingung antara “ini akumulasi atau distribusi”.
Selamat berinvestasi dengan sabar, bukan dengan spekulasi volume.
Dyor ya, Semoga bermanfaat 👍
—
Terinspirasi dari prinsip abadi Warren Buffett, Peter Lynch, Benjamin Graham, dan pengamatan puluhan tahun di pasar saham Indonesia yang penuh drama volume.
Rantag : $IHSG $GOTO $ACES

DOLAR AS DEKAT Rp17.000 & RESPONS OJK
Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dan mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS. Dalam praktik perbankan, sejumlah bank bahkan sudah mematok kurs jual dolar AS di kisaran tersebut, khususnya untuk transaksi di counter dan bank notes.
Pelemahan rupiah dipicu oleh penguatan dolar AS secara global serta sentimen pasar yang masih cenderung risk-off, yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Menanggapi kondisi ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta perbankan untuk memperkuat pengelolaan risiko, khususnya risiko nilai tukar, serta melakukan stress test guna memastikan ketahanan perbankan di tengah volatilitas pasar.
Volatilitas nilai tukar berpotensi berdampak pada biaya impor, kewajiban valas korporasi, dan tekanan harga di dalam negeri, sehingga kewaspadaan dan manajemen risiko menjadi semakin penting.
Key Takeaways :
-Rp17.000 per USD menjadi level psikologis yang kembali diuji pasar.
-Pelemahan rupiah dipengaruhi faktor global, bukan semata domestik.
-Kurs jual bank sudah mencerminkan tekanan di pasar valas.
-OJK fokus pada stabilitas, bukan intervensi harga: risiko, stress test, dan likuiditas.
Dampak utama terasa pada impor, utang valas, dan biaya usaha.
-Manajemen risiko dan lindung nilai (hedging) menjadi kunci di tengah volatilitas.
Sumber:
CNBC Indonesia
Blomberg Technoz
$IHSG $BBCA $BBRI

96% Portofolio saya berada di Sekuritas Stockbit.
karena Design UI/UX nya bersahabat dan timeline menu nya mudah dipahami
semoga @Stockbit bisa menjaga kepercayaan Nasabah dengan sangat baik.
karena nilai paling penting dari sebuah Sekuritas adalah dapat menjaga kepercayaan Nasabah dan dapat menerima masukan serta himbauan dari Nasabah demi menjaga Lingkungan pada Ekosistem Stockbit agar tetap Nyaman di gunakan , mudah di pahami dan Ekosistem itu yang harus di jaga seperti Filterisasi Oknum Nasabah yang semena mena dalam berucap , karena dapat menimbulkan kesenjangan hingga konflik antar Nasabah
sekian masukan dari saya , Terima kasih 🙏🏻
$IHSG

$WOWS Sesuai gambar dari Securitas AI , target ke 402 rupiah.
Tahun 2026 kita wajib uptrend, lakukan perubahan, kejar PBV 213 dan kejar kembali harga IPO mu 450 🚀 🚀 🚀
#infoorangdalam
# $IHSG 10,000

$IHSG udah naik meroket terus mungkin saatnya koreksi dulu lah sampe jumat
kalo bisa koreksi 1% aja per hari biar sehat ,,, ihsg nanjak terus tapi rupiah malah rungkat 🍻☠️
$BREN $RAJA
$BUMI $DEWA $IHSG
"BUMI Menuju 250 – Pesta Sudah Berakhir?"
1. Sinyal Jenuh Beli (Overbought)
Secara teknikal pada timeframe weekly, indikator RSI sudah menunjukkan kondisi Overbought atau jenuh beli.
Kondisi ini menandakan bahwa kenaikan harga sebelumnya sudah terlalu kencang dan tenaga pembeli mulai habis, sehingga rawan terjadi pembalikan arah.
2. Pola Reversal "Bearish Engulfing"
Penutupan candle pada minggu ini membentuk pola Bearish Engulfing, di mana badan candle merah menutup seluruh badan candle hijau sebelumnya.
Pola ini merupakan sinyal kuat bagi para trader teknikal bahwa tren naik (uptrend) jangka pendek telah patah dan tekanan jual sedang mendominasi pasar.
3. Target Koreksi ke Support Kuat 250
Berdasarkan teori analisis teknikal, jika terjadi koreksi masif setelah fase jenuh beli, harga cenderung akan mencari titik keseimbangan baru di area support terdekat.
Target penurunan yang paling masuk akal secara grafik berada di area support 246, atau jika dibulatkan secara psikologis menjadi level 250.
Penurunan ke level ini sering dianggap sebagai fase "cuci gudang" untuk mengusir para spekulan ritel sebelum harga memulai tren bullish yang baru.
1/2


Atta Guntur (Bukan varian mobil BYD) ternyata main saham $IHSG gan saya yakin dia kaya raya pasti stockpick hebat selalu cuan total gan, saya akan ikuti total gan.
Mari gan ikut total influencer gan karena tidak padat gan encer gan.
$BUMI $PTRO
@Susanss begitulah😜makanya saya bilang "gimana caranya bandar mau karungin saya?" di BlueChip, butuh modal BESAR. tapi saya gak takut itu.
di gorengan jg ada, tapi tetap kagak ada yg ngarungin... kira2 kenapa? (mungkinkah krn dia yg bawa itu karung? lg halu ya gaes).
hingga saat ini masih nantangin bandar sakti muncul buat rungkad kan org yg demen take picture ini, tapi momen itu gak kunjung dateng. males jg neh.
Belvin VVIP, Bong Reiner, Timothy Ronald, Andry Hakim, Hengky Adinata, Kalimasada, Michael Yeoh dll... dimana kalian? miss you guys🤞
Indra Kenz si murah banget dah di tiarap kan, Doni salmanan jg. tp mereka fokus crypto, bukan saham.
Kita perlu 1 arena banyak bandar berkumpul kayak ROYAL RUMBLE... Wrestler Mania... baru seru, liquidity besar ... permainan baru asyik.
$BMRI $BBNI $IHSG
yang pasti bank dulu yang naik besok
ada dari Bank mini
dan big bank
kalo yg bluechip agak susah😂
$IHSG
@cresscendo tahan jari, bayangin kebodohan yg FOMO ngejar harga pucuk. mereka adalah target utama, uang berpindah dari kantong FOMOers ke yg sabar. $IHSG $BBCA $RLCO
#110
Sel, 20 Jan 2026
Edisi Spesial ✍️
Jangan lupa sebelum membaca comment "☕"
Mengapa Harga Saham Bisa Naik Saat Investor Asing Sedang Jual? 🤷
Bayangkan skenario ini: IHSG pagi ini dibuka hijau, bahkan naik 1–2%. Beberapa saham big caps favorit Anda melonjak. Anda buka data foreign flow ternyata net sell asing ratusan miliar. Stream langsung ramai: “Kok bisa naik? Asing kabur nih, besok pasti anjlok!”
Anda mulai ragu. Apakah ini jebakan bull trap? Haruskah ikut jual sebelum terlambat?
Tenang. Fenomena “harga naik tapi asing jual” ini sangat umum di pasar saham, terutama di Indonesia. Ini bukan anomali ini justru mengingatkan kita pada prinsip dasar pasar: harga ditentukan oleh keseimbangan antara penawaran dan permintaan dari SEMUA pelaku pasar, bukan hanya satu kelompok.
Warren Buffett pernah bilang:
“The stock market is designed to transfer money from the impatient to the patient.”
Dan salah satu bentuk “impatience” adalah terlalu obsesi dengan satu indikator like foreign flow tanpa melihat gambaran besar.
1. Siapa Sebenarnya yang Menggerakkan Harga?
Pasar saham itu seperti lelang besar. Harga naik kalau pembeli lebih agresif daripada penjual. Pembeli dan penjual datang dari empat kelompok utama di Bursa Efek Indonesia:
• Investor Asing (foreign institutions): Biasanya fund besar dari Singapura, US, Eropa. Mereka punya dana jumbo, jadi gerakan mereka sering bikin headline. Tapi porsi kepemilikan mereka di IHSG hanya sekitar 40–50% (tergantung periode).
• Institusi Domestik (reksadana, asuransi, dana pensiun lokal): Ini “pemain diam” yang dananya juga triliunan. Mereka sering beli saat asing jual karena mandat investasi jangka panjang.
• Investor Retail Lokal (Anda, saya, trader di sekuritas online): Jumlahnya puluhan juta sekarang. Kalau sentimen bagus (misal suku bunga turun, laba emiten bagus), retail bisa “serbu” beli dan dorong harga naik signifikan.
• Bandar / Big Players Lokal: Beberapa institusi atau individu besar yang akumulasi diam-diam.
Intinya: Kalau asing jual 500 miliar, tapi domestik (institusi + retail) beli 800 miliar, harga tetap bisa naik. Supply-demand sederhana.
2. Mengapa Asing Sering Jual Saat Harga Naik?
Ada beberapa alasan logis kenapa asing net sell tapi market tetap bullish:
• Rebalancing Portfolio: Fund asing punya aturan ketat. Kalau saham Indo sudah terlalu besar bobotnya di portofolio global mereka, mereka jual sebagian untuk seimbangkan meski mereka tetap suka prospeknya.
• Ambil Untung (Profit Taking): Setelah rally panjang, asing yang masuk duluan ambil profit. Ini normal, bukan sinyal bearish permanen.
• Faktor Global: Mereka tarik dana ke negara asal karena yield US Treasury naik, atau krisis di tempat lain. Ini bukan karena Indonesia jelek, tapi karena opportunity cost di tempat lain lebih menarik sementara.
• Window Dressing vs Reality: Kadang di akhir bulan/tahun, fund asing “rapikan” laporan dengan jual saham yang lagi naik.
Peter Lynch pernah bilang:
“If you spend more than 13 minutes analyzing economic and market forecasts, you’ve wasted 10 minutes.”
Artinya: jangan terlalu overthink gerakan asing dalam jangka pendek.
3. Contoh Nyata dari Pasar Kita
Sepanjang 2024–2025, kita sering lihat IHSG rally meski foreign outflow:
• Awal 2025: IHSG naik ke 7.500–8.000, tapi asing net sell karena khawatir Fed rate. Siapa yang beli? Reksadana lokal dan retail yang optimis dengan program pemerintah baru.
• Sektor banking: BBCA/BMRI sering naik saat asing jual, karena dana pensiun dan asuransi lokal akumulasi untuk dividen jumbo.
Dan sebaliknya: saat asing net buy besar-besaran (misal 2021 pas pandemic recovery), harga juga bisa turun kalau domestik panik jual.
4. Apa yang Harus Anda Lakukan?
Jangan langsung panik saat lihat “asing net sell”. Lakukan checklist ini:
1. Lihat Net Buy/Sell Total: Bukan hanya asing, tapi bandingkan dengan institusi dan retail. Data lengkap ada di situs IDX.
2. Cek Fundamental Emiten: Apakah laba masih tumbuh? Valuasi masih reasonable? Kalau ya, gerakan asing jangka pendek tidak terlalu penting.
3. Pahami Konteks Makro: Asing jual karena faktor eksternal (misal Trump policy 2025–2026) atau internal? Kalau eksternal, sering sementara.
4. Fokus Jangka Panjang: Buffett jarang lihat foreign flow. Dia beli bisnis bagus dan tunggu. Kalau Anda value investor, gunakan momen asing jual untuk akumulasi if margin of safety masih ada.
Penutup
Harga saham naik saat asing jual bukan berarti market “salah” atau bull trap. Itu berarti ada pembeli lain yang lebih percaya diri pada prospek Indonesia saat ini.
Jangan jadikan foreign flow sebagai “dewa penentu”. Itu hanya satu bagian dari cerita besar. Yang benar-benar menentukan nilai saham dalam jangka panjang tetap kualitas bisnis perusahaan dan harga yang Anda bayar.
Selamat berinvestasi dengan tenang, bukan dengan panik lihat headline “Asing Net Sell”.
Dyor ya 👍
—
Terinspirasi dari prinsip Warren Buffett, Peter Lynch, Benjamin Graham, dan pengamatan puluhan tahun di pasar emerging seperti Indonesia.
Rantag : $IHSG $CDIA $NICL

Sekedar share aja ya dari pengalaman pribadi gw di market, satu hal yang paling kerasa itu:
reaksi terbesar market sering datang dari hal yang kelihatannya sederhana
Dulu gw juga sempat “keranjingan” indikator 🤣
Chart makin rame, tapi keputusan malah makin berat
Sampai lier sendiri, jd sbnrny klo disimpulkan market paling sering bereaksi bukan karena indikator, tapi karena area
ky yg pernah gw share sblmnya Support-Resistance itu bukan sekadar garis ya mnrt gw, Itu jejak keputusan besar
Area di mana dulu ada transaksi serius, emosi, dan kepentingan
Menariknya, setelah paham SR, barulah Fibonacci jadi masuk akal, dan di situ gw dapet satu kesimpulan yang cukup ngena:
gw bikin ringkasannya mnrt POV gw:
1. SR tanpa Fibonacci>> tetap kuat
2. Fibonacci tanpa SR >>rawan halu
3. SR + Fibonacci + respon harga >> baru strategis
Fibonacci itu sndiri bukan ramalan y
Dia cuma alat bantu buat melihat confluence
Kalau berdiri sendiri, sering bikin pede palsu
Kalau ketemu area yang memang “hidup”, probabilitasnya beda cerita
Jadi cara baca chart jgn cari “indikator apa yang paling canggih?” walaupun ada ya, cm mnrt gw lebih ke di area mana market bereaksi, dan bagaimana responnya sekarang
Indikator cuma bahasa. Area adalah konteks. Respon harga adalah niat sebenarnya
Jujur aja, masih ada beberapa indikator lain yang sampai sekarang gw pakai dan memang gw rasakan cukup powerful
Tapi kalau ditumpahin semua di satu post…
malah keburu pusing duluan 😄
Nanti pelan-pelan, step by step, biar kebaca logikanya, bukan sekadar ditiru
buat yg butuh referensi:
1. Al Brooks - Support & Resistance / Price Action
2.Larry Pesavento - Fibonacci & Confluence
$IHSG🫡

Knpa milih $CDIA ? Jawaban yg paling mudah, karena yg lain sudah terbang 😬
Padahal yg terbang itu blum tentu burung, mungkin jg roket 😅
Pelajaran buat yg paham 😬
$IHSG
$BNBR
Jika Ada Yg Masih Nanya, Masuk sekarang Telat gk ya , atau kapan waktu yg tepat Untuk entri ?
jawab aja Tunggu $IHSG ara Baru entri buy

$IHSG Capai ATH berturut-turut,dibalik itu ada jasa "Ritel semut yg cerdas hobi nyangkut & panic selling" saat $IHSG koreksi "semut ritel" berkata : "serook nih besok ARA" besoknya harga turun "semut ritel pasukan 1 lot" cut loss berjamaah.
Karena saya juga bagian dari "semut ritel" 😆😆
intinya,"Jangan mudah termakan opini tidak jelas & bursa bukan mesin pengganda uang (jackpot kasino).
sama-sama belajar dan yakin sama analisa masing-masing.
porto merah hasil analisa sendiri lebih baik daripada hijau terbawa opini yg tidak selamanya benar.
Bukan soal siapa cepat jadi jutawan tapi siapa bisa bertahan lama tanpa harus Top Up berkali-kali
#Ritel1lot
Malam bro. hari ini bener-bener kayak roller coaster ya
Diskusi pagi soal pesta Kampung emang kejadian. Tanpa Wall Street, pasar $IHSG kita bergerak liar sendirian. Target ATH yang kita patok di 9.178 nyaris kesentuh (High 9.175), tapi sayangnya ditutup flat karena tekanan di saham Big Caps (LQ45).
Tapi, strategi geser ke emas & gas pagi tadi bener-bener yak hehhe. Gas Alam meledak gila-gilaan sore ini
BRMS/Gas, portofolio kita selamat, bahkan cuan luber
Gimana Pasar Hari Ini?
Gas Alam +21,8%, Perak +7,2%. Ini anomali ekstrem, bro. Jarang banget terjadi dalam sehari. Besok pagi, $RAJA/$PGAS dan PSAB/BRMS bakal jadi arena paling rame.
Trus ASII Buyback Rp 2 T emang jadi lantai, tapi gak cukup kuat nahan guyuran satu sektor. Asing lagi rebalancing keluar dari bluechip, pindah ke komoditas. Kita harus adaptasi cepet besok.
Analisis logam mulia pagi tadi cukup valid. BRMS jadi top mover gantiin bank. Ini sinyal kalau Risk On di Second Liner lagi gila-gilanya.
Okelah bro kita istirahat dulu sembari siap-siap buat besok.
$KAQI alhamdulillah kena lagi 🤣 masyaAllah , manfaatkan momentum market bullish!!
Disc: bukan ajakan jual beli, DYOR!!!
$BULL
$IHSG
1/2

