Sayap Patah Sang Rajawali
Bagian 1 - Lahirnya Sang Rajawali https://stockbit.com/post/24941654
Bagian 2 – Skandal Negeri Jiran https://stockbit.com/post/24967224
Bagian 3 - Adu Mekanik Sang Rajawali https://stockbit.com/post/24998072
Bagian 4 – B50, Sebuah Kesempatan dengan Risiko https://stockbit.com/post/25088846
Bagian 5 – Merajut Kembali Sayap yang Terluka
Defisit saldo laba yang menumpuk hingga lebih dari Rp 4 triliun, hasil akumulasi rugi bertahun-tahun yang membuat BWPT sulit membagikan dividen dan selalu tampak “cacat” di mata pasar meski kinerja operasional mulai pulih. Dari sinilah rencana kuasi reorganisasi lahir. Secara teknis, BWPT berniat melakukan langkah akuntansi besar, menghapus saldo laba negatif (retained loss) sekitar Rp 4triliun dengan “menukarnya” dengan agio saham (tambahan modal disetor) yang mengendap di pos ekuitas. Dalam keterbukaan informasi dan penjelasan ke media, manajemen menyebut bahwa setelah kuasi reorganisasi, saldo laba negatif akan menjadi nol. Membuka lembaran baru untuk kisah rajawali berikutnya.
Bagi BWPT, ini adalah upaya psikologis dan strategis sekaligus. Dalam kasus BWPT, analis mencatat bahwa defisit sekitar Rp 4,07 triliun itu pernah mencapai lebih dari 120% dari modal disetor, sehingga secara regulasi layak menjadi objek kuasi reorganisasi. Media bisnis menyambut rencana ini dengan nada hati-hati. Bisnis Indonesia, EmitenNews, dan Liputan6 mencatat bahwa BWPT “mematangkan kuasi reorganisasi dengan OJK”, dengan tujuan eksplisit: memperbaiki struktur permodalan, membuat ekuitas lebih sehat dan tidak lagi dibebani defisit, serta membuka kembali peluang pembagian dividen di masa depan. Riset Binaartha Sekuritas menulis bahwa langkah ini akan “unlock value” BWPT: begitu saldo laba negatif nol, setiap rupiah laba baru tidak lagi “tenggelam” di jurang defisit, tetapi langsung menambah ekuitas positif dan secara teoritis bisa dialokasikan sebagai dividen ketika arus kas mengizinkan.
Langkah ini tidak berdiri sendiri. Di saat yang hampir bersamaan, BWPT menyiapkan belanja modal (capex) untuk pemupukan dan rehabilitasi kebun, pemeliharaan dan pembangunan pabrik, serta efisiensi biaya operasional agar momentum perbaikan lava tidak berhenti di tengah jalan. Perusahaan juga menerbitkan obligasi dan mengamankan fasilitas pinjaman untuk menata profil utang dan memastikan ketersediaan dana kerja, dengan risiko kupon lebih tinggi sebagai konsekuensi citra risiko yang belum sepenuhnya pulih.
Tidak ada jaminan bahwa setelah ini rajawali akan langsung terbang tinggi. Pasar masih menunggu bukti konsistensi laba, penyelesaian sengketa dengan FELDA, dan disiplin pengelolaan utang. Namun satu hal berubah secara mendasar, ketika laporan keuangan nanti menampilkan saldo laba yang tak lagi merah pekat, BWPT tidak lagi terkurung identitas sebagai emiten “cacat permanen”. Ia mendapat kesempatan kedua untuk membangun reputasi baru menjadikannya benar-benar siap terbang dengan kedua sayap yang dirajut ulang.
$BWPT