imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Sayap Patah Sang Rajawali
Bagian 1 - Lahirnya Sang Rajawali https://stockbit.com/post/24941654
Bagian 2 – Skandal Negeri Jiran https://stockbit.com/post/24967224
Bagian 3 - Adu Mekanik Sang Rajawali https://stockbit.com/post/24998072

Bagian 4 – B50, Sebuah Kesempatan dengan Risiko
Indonesia berdiri sebagai raksasa yang memegang lebih dari separuh pasokan CPO dunia. Tahun 2023, produksi CPO Indonesia diperkirakan sekitar 46,9–47 juta ton, atau kurang lebih 57% produksi global, menjadikannya produsen dan eksportir utama minyak sawit dunia. Pasar internacional menyerap puluhan juta ton CPO dan produk turunannya setiap tahun, namun kini harus “berbagi” dengan kebutuhan domestik yang melonjak akibat kebijakan biodiesel. Di sinilah program campuran biodiesel tinggi seperti B35, B40, dan rencana B50 mengubah peta distribusi dan konsumsi CPO global.

Kebijakan biodiesel telah mengalihkan porsi besar CPO ke tangki-tangki bahan bakar. Pada 2024, sekitar 11,9 juta ton CPO diperkirakan terserap menjadi FAME (Fatty Acid Methyl Ester) sebagai bahan baku biofuel di Indonesia, dan angka ini terus meningkat seiring perluasan mandat campuran biodiesel. Studi yang banyak dikutip dari CIMB Securities dan asosiasi biofuel memperkirakan bahwa implementasi B50 penuh dapat menaikkan konsumsi domestik CPO sekitar 3 juta ton per tahun, atau sekitar 6–6,2% dari proyeksi produksi 48,2 juta ton CPO. Bagi industri sawit nasional, ini berarti bantalan permintaan tambahan yang mampu menyerap kelebihan pasokan, menstabilkan stok, danmendukung harga di tengah fluktuasi global. Namun bagi eksportir murni, ini juga berarti ruang ekspor yang lebih sempit dan tekanan untuk menyesuaikan strategi perdagangan.

Di lantai bursa, wacana B50 sering dibaca investor sebagai angin segar bagi emiten sawit, termasuk Eagle High Plantations (BWPT). Perusahaan ini mencatat peningkatan volume penjualan CPO sekitar 8% YoY menjadi 260.711 ton hingga kuartal III 2023, dengan kenaikan penjualan kernel (PK) sekitar 4% dan perbaikan profitabilitas hingga membukukan laba bersih Rp104 miliar, berbalik dari rugi tahun sebelumnya. Dengan luas lahan dikelola sekitar 87.000 hektare dan kapasitas pabrik 2,2 juta ton TBS per tahun, BWPT berada di posisi yang cukup strategis. Secara teoretis, setiap kenaikan serapan domestik melalui B50 ikut memperkuat offtake CPO dari produsen seperti BWPT, memperbaiki utilisasi pabrik, dan menambah visibilitas arus kas.

Namun, seperti setiap kebijakan besar, B50 datang membawa risiko tersendiri. Pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir kerap menggunakan instrumen intervensi pasar seperti domestic market obligation (DMO) dan domestic price obligation (DPO) untuk menjamin ketersediaan dan keterjangkauan minyak goreng di dalam negeri. Di bawah skema DMO, eksportir CPO diwajibkan memasok porsi tertentu (pernah 20–30%) dari volume ekspor mereka ke pasar domestik, sering kali dengan harga yang diatur atau dibatasi demi menjaga harga minyak goreng rakyat. Bagi perusahaan seperti BWPT, ini berarti sebagian volume harus dijual dengan margin lebih tipis ketimbang harga ekspor, sehingga potensi kenaikan harga global tidak sepenuhnya terkonversi menjadi keuntungan.

Selain itu, ketika pemerintah mengkombinasikan DMO dengan pungutan ekspor progresif yang bisa mencapai ratusan dolar per ton CPO pada saat harga dunia tinggi. Spread antara harga internasional dan harga diterima produsen domestik dapat tergerus signifikan. Di satu sisi, B50 memperkuat permintaan dan mengurangi stok; di sisi lain, struktur kebijakan fiskal dan DMO dapat menekan netback harga di tingkat perusahaan. BWPT, yang baru mulai pulih dan mencatat laba setelah periode panjang tekanan, berada pada posisi rapuh: diuntungkan oleh volume dan utilisasi yang membaik, tetapi tetap rentan terhadap kebijakan harga domestik yang bisa mengunci margin di level bawah.

Di lapangan, kebijakan B50 juga membawa tantangan operasional: kebutuhan pasokan CPO yang lebih besar untuk biodiesel menuntut kebun lebih produktif, replanting lebih agresif, dan manajemen stok yang lebih disiplin. Jika produksi nasional terganggu oleh El Niño, banjir, atau kendala pupuk, sementara mandat campuran terus naik, maka risiko pengetatan pasokan untuk pangan dan ekspor ikut meningka. Bagi BWPT, skenario seperti ini bisa berarti dilemma, menikmati harga tinggi di pasar global hanya sebentar sebelum DMO, batas harga domestik, atau kebijakan ekspor baru kembali menahan ruang bernapas.

$BWPT

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy