


Volume
Avg volume
Perseroan didirikan dengan nama PT Seruling Indah Permai pada tahun 1996 dan kemudian berubah nama menjadi PT Link Net pada tahun 2000. Perseroan pada awalnya memiliki kegiatan usaha di bidang perdagangan barang dan jasa. Tetapi pada tahun 2000, kegiatan usaha Perseroan berubah menjadi di bidang teknologi informasi dan jasa penyelenggaraan internet serta jasa pada umumnya.
Winter is coming 🥶🥶🥶
2025 awal efek ancaman tarif trump
2026 awal efek ancaman MSCI
Hold $SINI $PTMR $LINK

$INET
⚡ TRADING PLAN: INET
🟢 Entry
Wait for Base: 410 – 430 (Hanya masuk jika muncul sinyal pantulan atau pola lilin pembalikan arah di area support ini dengan volume yang mereda).
Confirmation Entry: > 480 (Masuk kembali jika harga mampu menembus resisten minor terdekat untuk mengonfirmasi berakhirnya fase kepanikan jual).
🎯 Take Profit (TP)
TP 1: 520 – 550 → jual 50% (Target resisten psikologis menengah untuk mengamankan modal).
TP 2: 600 – 630 → jual sisa (Target optimis jika momentum pembalikan arah menguat dan menguji area konsolidasi atas sebelumnya).
🔴 Stop Loss (SL)
SL Agresif: 395.
Daily Close < 380 → EXIT TOTAL (Wajib keluar segera karena struktur tren naik jangka menengah dinyatakan rusak sepenuhnya dan risiko penurunan lanjutan sangat dalam).
⚠️ Catatan Cepat
Falling Knife: Jangan mencoba "menangkap pisau jatuh" selama histogram merah masih menebal; biarkan harga membentuk pijakan yang stabil terlebih dahulu.
Volume Analysis: Perhatikan volume perdagangan; penurunan harga yang disertai volume tinggi menandakan distribusi masih kuat, sedangkan volume kecil di area support menandakan tekanan jual mulai habis.
MACD Watch: Pantau perubahan warna histogram menjadi merah muda sebagai indikasi awal bahwa tekanan jual mulai mereda.
Jangan Lupa Follow!
Random Tag :
$LINK $FREN
$LINK analisa teknikal
Disclaimer dulu bukan ajakan beli, karena gua pribadi ga beli karena ga liquid.
1. Sejak tanggal 11 Januari gua udah menyadari kalo saham ini divergence ditimeframe 4H, dimana harga turun tapi sebenarnya pressure jual menurun dan pressure beli mulai bertambah
2. Sampai sekarang masih divergence karena emang belum terun dibawah swing low sebelumnya (tapi belom confirmed)
3. Asing hari ini full buy 479 lot diharga 3174, atau sekitar 140 miliar.
4. Harga udah menyentuh daerah demand
5. Terjadi "penolakan" ketika harga jatuh ke bawah support, langsung ditarik keatas lagi.
6. Tapi, harganya masih dibawah ema 50 dan saat ini dibawah ema 100}
7. Timeframe dialy sendiri belum nunjukin divergence...
Apa bisa dibeli sekarang ? bisa aja tapi belum worth untuk all in.
1. tunggu harga diatas ema 50 dengan volume
2. Beli sekarang tapi nyicil, dan hati hati kalo harga dibawah 3200.
1/2


Adem banget malem ini bro,meskipun ga ujan kayak kemaren tapi enak nih cuacanya.
Nah, mumpung lagi tenang gini, gue mau bagi cerita dikit nih soal satu saham yang lagi jadi obrolan seru di kantor jumat kemaren.
Lo pada tau kan kalau sekarang internet udah kayak sembako. Nah, ada satu emiten namanya WIFI (Solusi Sinergi Digital) yang menurut gue lagi ada di titik balik yang seru banget buat gue share ceritanya malam ini
Seperti biasa gue coba bagi cerita dalam beberapa bagian ya bro..
Bagian Pertama, gue liat gimana cerdiknya WIFI ini mbangun jaringan.
Gue ceritain asetnya dulu ya. WIFI ini punya harta karun berupa kabel fiber optic sepanjang lebih dari 10.000 km. Uniknya, kabel mereka itu ditanam di sepanjang jalur kereta api (hasil kongkalikong sama KAI) dan jalan tol. Ini jenius bgt, bro. Asetnya aman, gampang skalable, dan bisa awet sampai 20–30 tahun dengan biaya perawatan yang minim.
Kapasitasnya juga nggak main-main, berkat teknologi DWDM, mereka bisa nampung trafik data sampai 64 Tbps. Jadi, kalau trafik data kita makin gila ke depannya, mereka nggak perlu ribet gali tanah lagi buat nambah kabel, tinggal upgrade teknologinya aja.
Bagian kedua gue nyorotin soal frekuensinya
Nah, tahun 2026 ini bakal jadi tahun pecah telor buat mereka. Kenapa? Karena mereka baru aja menang tender spektrum frekuensi 1.4 GHz buat layanan 5G Fixed Wireless Access (FWA). Bahasa gampangnya: mereka bisa jualan internet super kenceng lewat udara tanpa harus tarik kabel ke setiap rumah.
Ini jauh lebih murah dan cepet dibanding cara konvensional. Mereka juga udah gandengan sama raksasa kayak Nokia dan Huawei buat urusan teknisnya. Strategi ini bikin mereka bisa masuk ke daerah pinggiran kota yang selama ini internetnya ampas.
Bagian ketiga soal program Internet Rakyat
Yang bikin gue makin semangat itu program Internet Rakyat (IRA) mereka. Bayangin, mereka mau jualan internet 100 Mbps cuma seharga 100 ribu per bulan. Siapa yang nggak mau coba?
Potensi pasarnya masif banget. Ada sekitar 54 juta rumah tangga di Indonesia yang belum punya internet kabel. Kalau mereka bisa ambil 10% aja, itu udah 5 juta pelanggan baru. Hebatnya lagi, pas pendaftaran dibuka kemarin, udah ada lebih dari 900 ribu orang yang antre mau pasang. Visibilitas cuannya udah keliatan banget di depan mata.
Bagian keempat ini gue liat soal proyeksi repenue ama profitnya
Kalau kita ngomongin duitnya, tahun 2026 nanti diprediksi bakal eksplosif. Revenue mereka ditaksir bisa tumbuh 135% jadi Rp3,8 Triliun. Trus Net profitnya gimana? Bisa naik 182% jadi Rp1,4 Triliun. Kere nggak tuh?
Duit mereka juga lagi banyak-banyaknya abis rights issue, ada sekitar Rp6,6 Triliun di kantong buat ekspansi sampai 2027. Utang mereka juga jauh lebih rendah dibanding perusahaan infrastruktur lain, jadi neracanya sehat walafiat.
Bagian terakhir gue coba ceritain concern temen gue terkait dengan emiten subtitusi.
Banyak yang nanya, kenapa nggak beli saham menara aja? bedanya gini, bro. Kalau menara, penyewanya terbatas (paling cuma 2 atau 3 provider). Tapi kalau serat optik kayak WIFI, satu kabel bisa dipakai buat internet rumah, data center, sampai provider HP sekaligus. Jadi nggak ada batasannya buat cari duit.
Nah intinya, $WIFI ini lagi ada di posisi yang pas buat dapet cuan dari transformasi digital kita. Target harganya ada di Rp5.050, jauh banget dibanding harga sekarang yang masih di Rp3.100-an.
Tapi ya tetep, ada risikonya. Bisa aja pemasangan alatnya telat atau orang-orang ternyata lebih lambat pindah ke 5Gmobile. Tapi buat gue, dengan aset dan strategi harganya yang ngerusak pasar tadi, WIFI ini layak banget masuk watchlist.
Udah malem nih, mau istirahat dulu lah, biar shubuhan besok ga telat.
Kita sambung diskusi di komentar aja ya bro..
$DSSA $LINK
$CENT $LINK $WIFI
Semenjak WIFI RI hanya CENT yang belum naik 1-2 lipat. Barangnya kering dan makin ditinggal ritel.
$LINK vs $KETR vs $DATA: Sama-sama Main Kabel Tapi Beda Dunia
Request member External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Ada yang yakin LINK akan diakusisi WIFI dan ISAT, padahal dua-duanya beda dunia kepentingan dan yang paling sering dilupakan itu satu hal sederhana, siapa yang pegang kunci pintu rumahnya. LINK itu kelihatan seperti perusahaan telekomunikasi biasa, tapi struktur kepemilikan dan arus bisnisnya bikin perusahaan ini lebih mirip kendaraan operasional sebuah grup besar, bukan warung yang bebas dijual-beli seenaknya di pasar. Rumor akuisisi biasanya lahir karena orang melihat rugi besar lalu menyimpulkan pasti akan ada penyelamat, padahal rugi besar bisa muncul justru karena perusahaan sedang dipaksa berubah bentuk, bukan karena kehabisan napas. Di kasus LINK, angka-angkanya tidak cuma bilang rugi, tapi teriak bahwa biaya tetapnya masih bertubuh raksasa sementara mesin pendapatannya sedang pindah jalur. Jadi kalau investor mau ngomong akuisisi, fokusnya bukan ke siapa yang paling sering disebut di grup, tapi siapa yang secara realistis bisa ambil alih blok pengendali dan sanggup menelan kontrak-kontrak yang sudah terlanjur ditempelkan ke tubuh LINK. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau dibandingkan skala, LINK itu gajah di ruangan ini. Pendapatan 9M 2025 LINK Rp2,39 triliun, sementara KETR Rp607,1 miliar dan DATA Rp314,4 miliar. Artinya LINK kira-kira 3,94 kali lebih besar dari KETR dan 7,60 kali lebih besar dari DATA dari sisi pendapatan. Tapi ironi terbesarnya ada di bawahnya, gajah ini justru rugi Rp1,02 triliun, sedangkan DATA untung Rp64,7 miliar dan KETR untung Rp134,6 miliar. Kalau dibikin rasio yang enak dicerna, margin bersih DATA sekitar 20,58%, KETR sekitar 22,18%, sedangkan LINK minus sekitar 43,10%. Ini bukan sekadar siapa yang besar dan siapa yang kecil, ini soal siapa yang besar tapi salah bentuk biaya untuk pendapatan barunya.
Akar kerugian LINK sebenarnya sangat mekanis dan bisa dihitung pakai logika kasir. Dari pendapatan Rp2,39 triliun, beban penyusutan Rp1,25 triliun, itu 52,30% dari pendapatan. Beban jaringan dan beban langsung lain Rp1,21 triliun, itu 50,63% dari pendapatan. Dua pos ini saja sudah Rp2,46 triliun, setara 102,93% dari pendapatan. Jadi bahkan sebelum bicara gaji, pemasaran, administrasi, LINK secara struktur sudah tekor sekitar Rp70 miliar hanya karena beban jaringan dan penyusutan lebih besar dari pendapatan. Lalu ditambah beban keuangan Rp404,5 miliar, itu 16,93% dari pendapatan, gap strukturalnya jadi sekitar Rp474,5 miliar atau 19,85% dari pendapatan. Di titik ini, rugi Rp1,02 triliun jadi terasa masuk akal, karena masih ada pos-pos lain yang ikut menekan, sementara pendapatan barunya belum cukup tebal buat menutup badan biaya lama. Dan ini juga menjelaskan kenapa orang yang cuma lihat pendapatan naik bisa salah paham, karena pendapatan naik tidak otomatis menyembuhkan perusahaan kalau komposisi biaya tetapnya tidak ikut mengecil.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau investor mau lihat pembeda paling tajam antara LINK versus DATA dan KETR, lihat kualitas konversi pendapatan jadi kas. DATA punya DSO sekitar 33 hari, KETR sekitar 23 hari, sedangkan LINK sekitar 294 hari. Di DATA, penerimaan kas dari pelanggan Rp296,9 miliar, itu sekitar 94,00% dari pendapatan. Di KETR, kas dari pelanggan Rp554,5 miliar, itu sekitar 91,34% dari pendapatan. LINK yang bikin dahi berkerut, penerimaan kas yang disebut cuma Rp725 juta dibanding pendapatan Rp2,39 triliun, ini menandakan mismatch timing yang ekstrem, dan nyambung dengan cerita bahwa piutang usaha LINK ke XLSMART mencapai Rp2,28 triliun, sementara utang lain-lain ke XLSMART Rp2,54 triliun. Pola seperti ini biasanya bukan sekadar pelanggan telat bayar, tapi lebih menyerupai skema settling antar-entitas yang jadwalnya bisa dibuat cantik di laporan laba-rugi tapi tampak seret di kas. Di sisi investor, ini penting karena perusahaan bisa terlihat hidup di revenue, tapi kalau kasnya tidak mengikuti, ruang manuvernya jadi sempit saat bunga naik atau bank minta disiplin.
Sekarang masuk ke bagian yang sering bikin rumor akuisisi jadi liar. LINK setelah melepas bisnis residensial ke XL Axiata senilai Rp1,87 triliun pada 27 September 2024, praktis berubah bentuk dari pemain ritel menjadi penyedia infrastruktur jaringan, dan tetap menanggung beban depresiasi besar dari aset jaringan yang sudah dibangun. Dalam dokumen ekspos, disebut juga adanya perjanjian layanan utama FTTH antara LINK dan XL Axiata berdurasi 10 tahun dengan opsi perpanjangan 5 tahun, yang intinya LINK menyediakan akses jaringan FTTH dan XL mengelola layanan ke pelanggan. Ini bukan detail kecil, ini semacam paku besar yang mengikat model bisnis baru LINK ke satu pihak yang sangat dominan. Jadi ketika data menunjukkan kontribusi pendapatan dari XLSMART sekitar 72,65%, investor sebenarnya sedang melihat perusahaan yang pendapatannya jadi sangat terpusat pasca-transaksi, dan itu membuat akuisisi oleh pihak lain menjadi jauh lebih rumit daripada sekadar beli saham di pasar.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Lalu soal WIFI dan ISAT. Untuk WIFI, rumor itu bukan karangan kosong yang muncul dari halu massal, karena ada pemberitaan bahwa Surge, yaitu entitas yang sering diasosiasikan dengan ticker WIFI, pernah menyampaikan ikut proses bidding untuk akuisisi saham LINK yang dilepas Axiata, dan ini dibahas sebagai proses yang sifatnya masih negosiasi dan belum tentu terjadi. Artinya, kalau investor dengar WIFI disebut-sebut, itu ada jejak beritanya, walaupun tetap harus diperlakukan sebagai wacana proses, bukan fakta deal. Untuk ISAT, yang bikin skeptis bukan cuma karena investor bilang tidak ada hubungan langsung, tapi karena logika bisnisnya juga tidak otomatis klop. LINK pasca-transaksi justru sangat terikat kontrak dan aliran pendapatan ke pihak yang berkaitan dengan grup Axiata dan XL, sehingga kalau ada pihak lain seperti ISAT masuk, mereka bukan cuma membeli aset, mereka membeli paket kontrak panjang yang membuat pendapatan LINK sangat bergantung pada pihak lain, dan itu situasi yang jarang disukai pembeli strategis kecuali ada skenario restrukturisasi kontrak besar-besaran. Tambahkan lagi, kepemilikan LINK historisnya memang dikendalikan Axiata dan pernah diumumkan Axiata membeli saham pengendali Link Net bersama XL Axiata. Dengan struktur pengendali seperti ini, akuisisi yang realistis itu biasanya lewat transaksi blok pengendali, bukan pelan-pelan ngumpulin di pasar, apalagi free float LINK memang kecil.
Sekarang bandingkan dengan DATA supaya skalanya terasa. DATA itu kecil tapi rapih, pendapatan Rp314,4 miliar, naik 26,3%, laba Rp64,7 miliar. Dengan struktur seperti ini, DATA terlihat seperti perusahaan yang tumbuh cepat tapi masih bisa menjaga margin, gross margin-nya tinggi dan kas dari pelanggan juga sejalan. Risikonya bukan di rugi operasional, tapi di cara ekspansi dibiayai, karena utang bank jangka pendek Rp386,1 miliar itu sekitar 1,23 kali pendapatan 9 bulan, jadi DATA sedang gas pol dengan pembiayaan yang menuntut disiplin cashflow. Kalau investor suka model growth, DATA itu contoh yang terlihat profit dulu sambil bangun jaringan, tetapi utang jangka pendeknya membuat investor harus peka terhadap suku bunga dan rollover.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
KETR beda lagi. Pendapatan Rp607,1 miliar, naik 71,5%, laba Rp134,6 miliar, dan yang menarik produktivitasnya tinggi karena karyawannya 99 orang. Secara kasar, pendapatan per karyawan KETR sekitar Rp6,13 miliar, sedangkan LINK sekitar Rp4,84 miliar dan DATA sekitar Rp381 juta. Angka ini bukan buat pamer, tapi buat menunjukkan karakter bisnis. KETR itu bisnis proyek dan infrastruktur, jadi output per orang bisa tinggi. KETR juga terlihat lebih waras di konversi kas dan DSO yang cepat, sementara kebutuhan capex muncul di aset dalam konstruksi untuk proyek. Beban keuangannya Rp48,8 miliar, sekitar 8,04% dari pendapatan, masih terasa, apalagi ada obligasi Rp167,9 miliar yang jatuh tempo Januari 2026, jadi investor harus lihat strategi pelunasan atau refinancing, tapi setidaknya KETR sedang untung dan mesin kasnya terlihat jalan.
Balik ke LINK, inti masalahnya bukan karena LINK tidak punya aset atau tidak punya pasar, tapi karena LINK sedang berada di fase yang paling tidak disukai pasar, yaitu revenue model berubah cepat, sementara biaya depresiasi, biaya jaringan, dan bunga utang tidak ikut berubah cepat. Beban penyusutan LINK Rp1,25 triliun itu saja sudah sekitar 3,98 kali pendapatan DATA dan sekitar 2,06 kali pendapatan KETR, jadi LINK sedang memikul beban aset masa lalu yang ukurannya seperti dua perusahaan lain digabung berkali-kali lipat. Dan utang bank jangka pendek LINK Rp6,89 triliun itu sekitar 17,85 kali utang jangka pendek DATA dan sekitar 41,04 kali obligasi KETR, jadi kalau ada kata akuisisi muncul, investor harus sadar, pembelinya bukan cuma beli bisnis, tapi juga beli beban bunga, risiko likuiditas, dan potensi tekanan impairment aset besar yang pernah disorot sampai Rp11,6 triliun. Dalam kondisi seperti ini, akuisisi hanya masuk akal kalau pembeli punya alasan strategis yang sangat kuat, punya kemampuan restrukturisasi utang, dan punya rencana menormalkan pendapatan supaya sebanding dengan badan biaya yang sekarang masih terlalu besar.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/8








$LINK Perusahaan Milik Sinarmas dan XL
Request member External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
LINK adalah perusahaan yang aneh. Di satu sisi namanya besar dan skala pendapatannya paling besar di antara tiga emiten ini, tapi di sisi lain laporan Q3 2025 justru menampilkan rugi bersih yang seperti menelan seluruh narasi pertumbuhan. Kalau investor cuma melihat angka revenue yang naik, investor bisa terkecoh, karena masalah LINK bukan soal laku atau tidak laku, tapi soal kualitas uangnya dan beban finansial yang menempel di belakangnya. $DATA dan $KETR terlihat seperti dua perusahaan yang sedang mengencangkan baut operasional supaya mesin makin efisien, sedangkan LINK terlihat seperti perusahaan yang sedang mengangkut beban masa lalu sambil mengganti arah bisnis. Dan inilah bagian yang menarik, tiga-tiganya bergerak di ekosistem konektivitas, tapi profil risikonya beda kelas seperti tiga kendaraan yang lewat jalan yang sama dengan muatan yang berbeda. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
DATA adalah anak baru di bursa karena baru IPO 7 Mei 2024 setelah berdiri 15 Maret 2004, jeda 20 tahun sampai IPO. LINK IPO 2 Juni 2014, berdiri 14 Maret 1996, jeda 18 tahun. KETR IPO 22 November 2022, berdiri 25 November 1994, jeda 28 tahun. Ini penting, karena jeda panjang ke IPO sering mencerminkan dua hal, bisnisnya butuh waktu untuk matang atau struktur asetnya butuh waktu untuk siap dibuka ke publik. Dari sisi tenaga kerja, DATA paling agresif, total 826 orang terdiri dari 114 pegawai tetap dan 712 kontrak, dan jumlah pegawai tetap naik tajam dibanding Desember 2024 yang hanya 65. LINK justru menurun, 494 pegawai tetap dari sebelumnya 515. KETR kecil dan stabil, 99 orang dan tidak berubah sejak Desember 2024. Secara naluri bisnis, DATA dan KETR terlihat sedang membangun dan mengeksekusi, sedangkan LINK terlihat sedang merapikan dan menahan laju biaya.
Free float DATA 14,46%, KETR 10,30%, dan LINK cuma 6,48%, artinya LINK sangat ketat kepemilikannya. Pemegang saham pengendali atau pemegang saham pengendali (PSP) LINK adalah Axiata Investments Indonesia Sdn. Bhd. 73,52% dan induk akhirnya adalah Axiata Group Berhad Malaysia, jadi ini bukan sekadar emiten lokal, ini bagian dari orkestrasi grup regional. DATA dikendalikan dua kubu besar yang hampir seimbang, PT Iforte Solusi Infotek 40,00% dan Verah Wahyudi Singgih Wong 40,08%, sementara KETR dikendalikan PT Fajar Sejahtera Mandiri Nusantara 56,53% dengan ultimate beneficial owner atau ultimate beneficial owner (UBO) disebut mengarah ke PT Bahtera Bintang Nusantara. Buat investor, free float kecil itu dua sisi, bisa stabil karena tidak banyak saham liar, tapi juga bisa bikin pergerakan harga jadi lebih sensitif karena pasokan di pasar tipis. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Revenue DATA di Q3 2025 adalah 314,4 miliar Rupiah naik 26,3%. Revenue LINK 2,39 triliun Rupiah naik 45% untuk continuing. Revenue KETR 607,1 miliar Rupiah naik 71,5%, ini paling ngebut. Tapi uang masuk besar tidak otomatis berarti sehat, jadi investor wajib lihat struktur biaya dan ujungnya laba bersih. DATA mencetak laba bersih 64,7 miliar Rupiah. KETR lebih besar lagi 134,6 miliar Rupiah. LINK justru rugi bersih 1,03 triliun Rupiah. Angka rugi ini bukan sekadar jelek, ini mengubah seluruh cara membaca perusahaan, karena berarti pertumbuhan revenue sedang dibayar dengan kerugian yang jauh lebih besar.
Kalau dibedah lewat margin, DATA kelihatan paling enak dinikmati. Dengan cost of goods sold atau cost of goods sold (COGS) 82,4 miliar dari revenue 314,4 miliar, gross profit margin kira-kira 73,8%. KETR punya COGS 328 miliar dari revenue 607,1 miliar, gross profit margin kira-kira 46,0%. LINK mencatat beban jaringan 1,21 triliun dari revenue 2,39 triliun, gross profit margin kira-kira 49,4%. Jadi di level kotor saja, LINK sebenarnya tidak hancur-hancuran, masih ada ruang gross profit sekitar 1,18 triliun. Masalah LINK muncul ketika beban operasional selling, general and administrative atau selling, general and administrative (SGA) 550,9 miliar dan terutama finance cost 404,5 miliar ikut menekan. DATA punya SGA 124 miliar dan finance cost 8,4 miliar, sedangkan KETR SGA 71,6 miliar dan finance cost 48,8 miliar. Dengan skala sebesar LINK, finance cost 404,5 miliar itu seperti pajak tidak terlihat yang memakan ruang napas tiap kuartal. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau investor ubah ke rasio yang lebih terasa, finance cost DATA sekitar 2,7% dari revenue, KETR sekitar 8,0%, dan LINK sekitar 16,9%. Ini menjelaskan kenapa LINK tampak seperti perusahaan yang lagi membawa ransel batu. Bahkan kalau revenue naik, batu itu tetap menekan langkah. Ujungnya terlihat pada net profit margin. DATA laba 64,7 miliar dari revenue 314,4 miliar, net profit margin kira-kira 20,6%. KETR laba 134,6 miliar dari revenue 607,1 miliar, net profit margin kira-kira 22,2%. LINK rugi 1,03 triliun dari revenue 2,39 triliun, net profit margin kira-kira minus 43,1%. Dua yang pertama menunjukkan model bisnis yang bisa mengubah penjualan jadi uang bersih. Yang terakhir menunjukkan model bisnis yang sedang dibajak oleh beban keuangan dan biaya.
Dari sisi efisiensi penagihan, perbedaannya makin kelihatan lewat days sales outstanding atau days sales outstanding (DSO). DATA sekitar 33 hari, KETR sekitar 23 hari, dua-duanya rapi. LINK sekitar 294 hari, ini level yang bikin investor otomatis curiga ada penjualan yang belum benar-benar jadi kas, atau struktur kontraknya membuat penagihan panjang sekali, atau piutangnya menumpuk karena transisi bisnis. Ini nyambung dengan data penerimaan kas dari pelanggan. KETR mencatat kas dari pelanggan 554,5 miliar yang setara kira-kira 91,3% dari revenue 607,1 miliar, ini bagus. DATA mencatat kas dari pelanggan 296,9 miliar yang setara kira-kira 94,4% dari revenue 314,4 miliar, ini juga bagus. Untuk LINK, angka yang investor tempel tertulis penerimaan kas 725 M sedangkan revenue continuing 2,39 triliun, jadi ada mismatch satuan yang membuat kesannya ekstrem. Tapi bahkan tanpa berdebat satuan, pesannya sama, penerimaan kas jauh lebih lemah dibanding revenue, dan itu konsisten dengan DSO 294 hari yang menggambarkan penagihan yang sangat lambat.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau bicara arah strategi dan sumber revenue, DATA itu mayoritas telekomunikasi, 95,5% revenue, jadi fokusnya jelas, jual konektivitas dan layanan terkait. Ada fakta menarik, pemerintah lewat Diskominfo menyumbang 19% revenue, artinya ada porsi pendapatan yang bergantung pada belanja pemerintah, bagus untuk skala tapi investor wajib ingat ritme anggaran bisa musiman.
KETR lebih spesialis lagi, penjualan kabel laut menyumbang 67,7% revenue, ini karakter proyek, bisa meledak ketika ada proyek besar, lalu bisa melandai kalau jeda proyek.
LINK disebut menggeser fokus ke enterprise atau corporate setelah menjual bisnis residential business-to-consumer atau business-to-consumer (B2C), dan XLSMART menjadi pelanggan besar setelah transfer aset B2C. Nah, perubahan fokus ini secara bisnis masuk akal, tapi secara keuangan transisi sering mahal, karena butuh instalasi, integrasi, restrukturisasi kontrak, dan biaya pendanaan yang tetap harus dibayar saat mesin pendapatan belum stabil.
Capex juga menunjukkan siapa yang sedang ekspansi jaringan dan siapa yang sedang menanggung pembangunan. KETR memasukkan 133,3 miliar ke aset dalam pembangunan untuk proyek Jayabaya dan Damai, ini menegaskan pipeline kerja. DATA agresif, investasi infrastruktur jaringan 108,4 miliar plus hak kabel laut 97,4 miliar, jadi totalnya sudah 205,8 miliar untuk memperlebar kapasitas dan jangkauan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
LINK bahkan lebih besar, 1,07 triliun untuk properti, peralatan, dan instalasi, angka ini sejalan dengan narasi perusahaan besar yang sedang retooling aset. Bedanya, DATA dan KETR masih bisa mencetak laba di tengah capex, sedangkan LINK sedang rugi, jadi investor harus menilai apakah capex LINK ini akan menjadi mesin profit atau sekadar menambah beban depresiasi dan kebutuhan utang.
Bagian yang paling menentukan risiko ke depan adalah struktur utangnya. DATA punya utang bank jangka pendek 386,1 miliar, ini lebih besar daripada revenue 314,4 miliar, jadi jelas modelnya growth dikejar pakai leverage, bisa jadi cerdas kalau perputaran kas cepat, tapi rawan kalau bunga naik atau kontrak terlambat dibayar. KETR terlihat lebih seimbang, punya obligasi 167,9 miliar jatuh tempo Januari 2026, jadi risikonya lebih ke event refinancing, bukan tumpukan utang raksasa. LINK yang paling berat, pinjaman bank jangka pendek 6,89 triliun. Dengan finance cost 404,5 miliar dan rugi bersih 1,03 triliun, beban utang ini terasa seperti pusat masalah yang belum selesai. Ditambah lagi, tiga perusahaan sama-sama membawa interest rate risk karena pinjaman berbunga mengambang, tapi LINK paling sensitif karena angka utangnya paling besar dan labanya negatif.
Kalau investor cari hidden asset versi sederhana, ketiganya punya tanah, KETR punya 21.789 m² dan DATA punya 4.578 m², ini bisa jadi bantalan, tapi jangan terlalu dibesar-besarkan karena bisnis telekomunikasi jarang diselamatkan oleh tanah. Yang menyelamatkan emiten seperti ini adalah dua hal, kontrak yang berkualitas dan kemampuan mengubah revenue menjadi kas.
Dari tiga nama ini, DATA terlihat seperti ISP yang sedang naik kelas, revenue naik 26,3%, margin kotor sekitar 73,8%, net profit margin sekitar 20,6%, dan koleksi kas ke pelanggan sekitar 94,4%, tapi investor harus waspada pada utang jangka pendek 386,1 miliar yang membuatnya sensitif pada bunga. KETR terlihat seperti pemain proyek infrastruktur serat optik yang sedang mendapat angin, revenue naik 71,5%, net profit margin sekitar 22,2%, penagihan cepat DSO 23 hari, kas dari pelanggan sekitar 91,3%, tapi investor harus memantau jatuh tempo obligasi Januari 2026 dan volatilitas proyek karena 67,7% revenue dari kabel laut. LINK, dengan skala revenue 2,39 triliun, justru seperti gajah yang sedang diet sambil membawa koper utang, gross profit margin masih sekitar 49,4% tapi terseret SGA 550,9 miliar, finance cost 404,5 miliar, DSO 294 hari, dan rugi bersih 1,03 triliun.
Jadi DATA dan KETR saat ini adalah cerita eksekusi yang menghasilkan uang, sedangkan LINK adalah cerita restrukturisasi yang masih meminta investor sabar sambil menanggung beban yang mahal.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/6






$LINK ling ling lagi tidur karena akan dipinang wiwi terima kasih cici ling ling, bahagia langgeng selalu.
$LINK 30 Dec 25
Investor: AXIATA INVESTMENTS
Action: SELL
Shares Traded: -36,562,377 (-1.2770%)
Current: 1,986,525,127 (69.3814%)
Previous: 2,023,087,504 (70.6584%)
Broker: ZP
Investor Type: Foreign
Source: KSEI
🔥BERITA🔥
🔰Harga tembaga cetak rekor all time high, tembus US$ 13.000 per ton.
🔰Harga emas Antam hari ini (6/1) melonjak Rp 34.000 jadi Rp 2.549.000 per gram.
🔰Target berubah, bank Jakarta akan IPO saham tahun 2027, siap IPO jumbo.
🔰$TPIA umumkan pengunduran diri Suwit Wiwattanawanich dari posisi direktur dan Santi Wasanasiri dari posisi komisaris.
🔰Pengendali $LINK Axiata Investments jual 36,56 juta saham.
🔰Incar dana Rp 3,25 triliun, $PACK siap tawarkan OWK lewat rights issue.

$LINK
⚡ SCALPING PLAN
🟢 Entry
Buy on pullback: 4.000 – 4.150 (Menunggu harga menguji area support psikologis di level 4.000 setelah lonjakan hari ini untuk meminimalisir risiko koreksi mendadak).
Buy breakout: > 4.350 (Valid jika harga mampu menembus titik tertinggi hari ini dengan volume yang tetap kuat untuk melanjutkan fase pembalikan tren).
🎯 Take Profit
TP 1: 4.600 – 4.800 → jual 30–40% (Area resisten dari puncak ekor panjang yang terbentuk pada akhir November).
TP 2: 5.200 – 5.400 → jual 30–40% (Target resisten historis yang merupakan titik tertinggi pada bulan September).
TP 3: 5.800+ → jual sisa (Mengikuti tren kenaikan jangka menengah jika harga berhasil bertahan di atas level 5.000).
🔴 Stop Loss
SL pullback: 3.850.
SL breakout: 4.200.
Daily close < 3.900 → CUT LOSS tanpa ragu (Level ini adalah batas dukungan krusial; jika ditembus, lonjakan hari ini berpotensi menjadi dead cat bounce dan harga berisiko kembali ke tren turunnya).
⚠️ Catatan Cepat & Analisis MACD
Indikator MACD: Menunjukkan awal dari potensi pembalikan arah (reversal) yang kuat. Meskipun garis MACD (123,24) masih berada di bawah garis sinyal (185,40), arah garis MACD mulai melengkung ke atas dengan tajam dari area jenuh jual.
Histogram MACD: Histogram negatif mulai memendek secara signifikan (-62,16), mengindikasikan bahwa tekanan jual mulai mereda dan momentum beli mulai masuk secara masif.
Karakter Saham: LINK baru saja memantul dari area terendahnya di sekitar 3.400 dan berhasil menembus beberapa resisten minor dengan kenaikan +15,90% dalam satu hari. Lonjakan volume yang menyertai kenaikan ini menunjukkan adanya akumulasi yang signifikan.
Strategi: Saham ini cocok untuk scalping karena volatilitasnya yang sedang tinggi. Namun, waspadai aksi ambil untung (profit taking) mengingat harga telah naik cukup tinggi dalam waktu singkat dari level terendahnya.
Jangan Lupa Follow!
Random Tag :
$IHSG $APOL