


Volume
Avg volume
Perseroan didirikan dengan nama PT Seruling Indah Permai pada tahun 1996 dan kemudian berubah nama menjadi PT Link Net pada tahun 2000. Perseroan pada awalnya memiliki kegiatan usaha di bidang perdagangan barang dan jasa. Tetapi pada tahun 2000, kegiatan usaha Perseroan berubah menjadi di bidang teknologi informasi dan jasa penyelenggaraan internet serta jasa pada umumnya.
$LINK LK Full Year 2025: Masih Rugi
Rugi tahun berjalan makin gede
Padahal revenue naik tapi beban jaringan malah naik lebih gede.
Capex tetap gede
Ambil utang 7,1 Triliun untuk bayar utang 6,7 Triliun
utang barunya dari MUFG dan Deutsche dengan bunga lebih rendah tapi jatuh temponya.
LINK telah mendapatkan persetujuan pengesampingan dari para krediturnya terhadap pelanggaran pembatasan rasio keuangan potensial atau aktual atas laporan keuangan konsolidasian tahun berakhir pada tanggal 31 Desember 2025.
Itu artinya biarpun rugi gede dan DCSR ndak sampai 3, MUFG dan Deutsce Bank tetap memaafkan. Baik banget dua bank ini. Udah kasih utang bunga rendah, kasi lagi keringangan biar LINK ndak kena technical default.
Kalau nanti utang MUFG induk $BDMN dan Deutsche Bank mau jatuh tempo, LINK sudah ada rencana cadangan karena pada tanggal 18 Desember 2025, Perusahaan menandatangani perjanjian pinjaman berjangka dengan International Finance Corporation dan Asian Development Bank. Perusahaan mendapatkan fasilitas pinjaman masing-masing sebesar 3,3 Triliun dan 2,4 Triliun dengan jangka waktu 9 tahun. Pada tanggal 31 Desember 2025, Perusahaan belum melakukan penarikan pinjaman itu. Mungkin buat siap-siap bayar MUFG.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$EXCL

$LINK
PT Link Net Tbk mencatat rugi bersih Rp1,45 triliun pada 2025 meski pendapatan naik ke Rp3,08 triliun. Total aset turun menjadi Rp13,24 triliun, ekuitas melemah ke Rp3,55 triliun, dan liabilitas naik ke Rp9,69 triliun akibat peningkatan utang bank. Kinerja masih rugi namun arus kas operasi tetap positif.
Cara menyikapi lapkeu: https://stockbit.com/post/11202302
$MPPA $LINK
KABARBURSA.COM - Kinerja keuangan PT Link Net Tbk (LINK) sepanjang Tahun Buku 2025 menunjukkan tekanan pada sisi profitabilitas dan struktur permodalan, meski pendapatan mencatat pertumbuhan dua digit.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025 yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI...

www.kabarbursa.com

$LINK
Tentu, mari kita bedah laporan keuangan **PT Link Net Tbk (LINK)** untuk tahun buku 2025 ini. Sebagai mentor Anda, saya melihat ada transformasi fundamental yang sedang terjadi, namun ada juga **bendera kuning (peringatan)** terkait likuiditas yang wajib Anda perhatikan sebagai investor.
Berikut adalah analisa mendalam saya berdasarkan data yang Anda berikan:
### 1. Perubahan Model Bisnis: Menjadi "FiberCo" (Fokus B2B)
Hal pertama yang harus Anda sadari adalah pergeseran drastis sumber pendapatan perusahaan.
* **Dominasi Pihak Berelasi:** Pendapatan usaha naik menjadi **Rp3,08 triliun** di 2025 dibanding Rp2,52 triliun di 2024. Namun, perhatikan detailnya. Pendapatan dari **pihak berelasi (terutama PT XL Axiata Tbk)** melonjak drastis menjadi **Rp2,17 triliun**, sementara pendapatan dari pihak ketiga (pelanggan ritel biasa) anjlok dari Rp1,85 triliun menjadi hanya **Rp896 miliar**,.
* **Artinya:** LINK sedang bertransformasi agresif menjadi penyedia infrastruktur (FiberCo) yang melayani induk usahanya (XL Axiata), bukan lagi fokus utama pada pasar ritel (B2C). Sebagai investor, Anda sedang membeli saham infrastruktur pendukung grup, bukan lagi murni penyedia internet rumahan independen.
### 2. Profitabilitas: Masih Berdarah-darah
Jangan terkecoh dengan kenaikan pendapatan. *Bottom line* perusahaan masih merah.
* **Rugi Bersih:** Perusahaan mencatatkan rugi tahun berjalan sebesar **(Rp1,44 triliun)**.
* **Penyebab Utama:** Beban penyusutan dan amortisasi sangat besar, mencapai **Rp1,75 triliun**. Ini wajar bagi perusahaan infrastruktur yang padat modal (Heavy Capex), namun ini menggerus laba secara signifikan. Selain itu, beban operasional jaringan juga meningkat tajam menjadi Rp1,53 triliun.
* **Mentor Note:** Selama rugi operasional ini berlanjut, dividen mungkin akan sulit diharapkan dalam waktu dekat.
### 3. Masalah Likuiditas: "Lampu Kuning" Menyala Terang
Ini adalah bagian paling kritikal yang harus Anda waspadai. Neraca keuangan LINK menunjukkan ketimpangan likuiditas yang ekstrem.
* **Utang Jangka Pendek Meledak:** Liabilitas jangka pendek melonjak menjadi **Rp9,59 triliun**, padahal aset lancar (harta yang bisa cepat dicairkan) hanya **Rp1,26 triliun**,.
* **Penyebab:** Terjadi reklasifikasi masif. Utang bank jangka panjang yang sebelumnya Rp4,78 triliun di 2024, kini menjadi **NOL** di 2025. Sebaliknya, utang bank jangka pendek membengkak dari Rp1,02 triliun menjadi **Rp6,99 triliun**.
* **Analisa Mentor:** *Current Ratio* (Rasio Lancar) perusahaan sangat rendah. Secara teknis, perusahaan memiliki kewajiban besar yang jatuh tempo dalam setahun tetapi tidak memiliki kas yang cukup (Kas hanya Rp360 miliar) untuk melunasinya tanpa *refinancing* (mencari utang baru) atau suntikan modal. Ini risiko tinggi jika kondisi pasar kredit mengetat.
### 4. Arus Kas (Cashflow)
Meskipun rugi secara akuntansi, mari kita cek "napas" perusahaan alias uang tunainya.
* **Operasional Positif:** Arus kas dari aktivitas operasi masih positif sebesar **Rp1,35 triliun**. Ini pertanda baik, artinya bisnis intinya masih menghasilkan uang tunai.
* **Investasi Masif:** Uang tersebut habis digunakan untuk belanja modal (Capex) pembelian aset tetap sebesar **(Rp1,40 triliun)**. Ini konsisten dengan strategi ekspansi infrastruktur fiber optik.
### Kesimpulan & Arahan untuk Investor:
1. **High Risk, Long Term Play:** Saham ini sedang dalam fase transisi berat. Rugi bersih masih besar dan beban utang jangka pendek sangat menekan.
2. **Pantau Refinancing:** Kunci kelangsungan bisnis LINK ada pada bagaimana mereka menyelesaikan utang bank jangka pendek Rp6,99 triliun tersebut. Kemungkinan besar akan ada aksi korporasi lanjutan atau dukungan dari grup Axiata.
3. **Bukan untuk Trader Pemula:** Jika Anda mencari keuntungan cepat atau fundamental yang "cantik" saat ini, LINK bukan tempatnya. Tapi jika Anda percaya pada sinergi XL Axiata + Link Net dalam jangka panjang sebagai penguasa infrastruktur fiber, risiko ini mungkin sepadan, namun *entry* harus sangat hati-hati.
**Saran Mentor:** *Wait and see*. Tunggu kejelasan mengenai penyelesaian utang jangka pendeknya sebelum masuk dalam porsi besar.
https://cutt.ly/RtmCby8j
RANDOM TAG $KBLV $MORA
oke lanjut part 9 : beberapa perusahaan sudah mulai publikasi FY-2025 nya. Sekarang kita cek status dan siklus 5 tahunannya. 2 emiten dulu (LINK, CASH)
$CASH 2021-2025
2021. fase early growth - cash burn
2022. fase survival mode
2023. fase stagnant loss
2024. fase transformasi, masih rugi
2025. fase masih belum break even
kondisi CASH itu : Rugi konsisten, Belum proven profitable, Industri payment highly competitive, Tanpa moat jelas, Tanpa network effect dominan. kesimpulan CASH bukan value investing case.
kita coba going deep. cash itu Fintech / Payment Processing. Fintech payment biasanya ada 3 fase: Burn phase (1โ3 tahun awal), Scale up & volume expansion, lalu Operating leverage โ profit.
Masalahnya: CASH sudah >5 tahun listed dan masih di fase burn.
Di industri payment: Kalau volume naik signifikan โ gross margin biasanya mulai menutup fixed cost. Tapi di CASH, G&A relatif tidak turun secara signifikan sebagai % revenue
Ini bukan sekadar growth phase. Ini belum menemukan product-market fit yang scalable.
jadi :
- Wajar untuk startup early stage
- Tidak wajar untuk perusahaan publik 5 tahun setelah IPO
$LINK 2021-2025
2021. fase mature. cash generator
2022. fase mature plateau. stabil
2023. fase early deterioration. margin turun
2024. fase distress. rugi besar
2025. fase financial stress. debt spike
Karakter bisnis: capital intensive, revenue stagnan / turun, debt naik tajam, tidak punya pricing power kuat, tidak lagi growth story.
average TEPS normal (2021โ2023) = 474 per share
Jika bisnis kembali normal. 8x eps bisa saja fair di 3792 per share.
tapi realitanya di 2025 : short-term loan 6,99T (naik ekstrem), Equity turun ke 3,55T, Retained earnings anjlok, ECL 45% receivable, Revenue belum recover, Ini bukan siklus biasa. Ini structural deterioration. mungkin bisa dikategorikan Turnaround speculative.
oke kita going deep. LINK itu Infrastruktur Broadband.
Karakter industri broadband: Capex besar, Revenue recurring, Churn rendah, Margin relatif stabil, Tidak volatil ekstrem.
Kalau broadband sehat: Net margin stabil, EBITDA kuat,Arus kas relatif stabil.
untuk LINK 2024-2025 :
- Tidak sepenuhnya wajar untuk industri mature broadband
- Lebih terlihat sebagai structural problem (leverage + kompetisi)
dan LINK berarti : Pernah sehat, Industri mendukung recurring revenue, Penurunan 2024-2025 lebih karena kondisi spesifik perusahaan.
Happy Lunar Fire Horse untuk semua rekan-rekan yang merayakan๐งง๐ฅ๐
Xin Nian Kuai Le. Gong Xi Fa Cai ๐๐งจ๐
Dalam kepercayaan Tionghoa, Fire Horse kerap diasosiasikan dengan energi yang berani, cepat, dan penuh dorongan terobosan, Tahun yang sangat cocok untuk ekspansi.
Kata suhu @ryugoro elemen Api (Yang) muncul setiap 10 tahun sekali, pak PP tentu tidak akan melewatkannya ๐๐ปโโ๏ธ
$SINI $LINK $PTMR
$LINK Berdasarkan data laporan keuangan LINK per Q4 2025 yang Tersedia di keystats saat ini . berikut adalah analisis mendalam Link.
Kondisi fundamental LINK saat ini sedang berada dalam fase transformasi struktural berat setelah beralih dari model bisnis retail B2C (First Media) menjadi fokus ke FibreCo (penyedia infrastruktur) dan B2B.
โ1. Bedah Angka Laporan Keuangan
(Detailed Breakdown).
โA. Profitability & Income Statement
โRevenue (TTM): 3.082 B
Pendapatan tahunan naik 22,25% YoY dibandingkan 2024 2.521 B . Namun, perhatikan penurunan di Q4 687 B dibanding Q3 818 B . Ini mengindikasikan adanya volatilitas pendapatan pasca pengalihan pelanggan retail ke XL Axiata.
โGross Profit (TTM): 3.271 B
Angka ini unik karena lebih besar dari Revenue. Secara akuntansi, ini mencerminkan adanya efisiensi biaya langsung atau reklasifikasi beban jaringan yang dialihkan ke entitas lain dalam grup Axiata.
โNet Income (TTM): (1.449 B)
Kerugian membengkak dari 1.185 B (2024) menjadi 1.449 B (2025). Kerugian ini kronis karena beban bunga dan depresiasi aset jaringan yang sangat tinggi.
โEBITDA (TTM): 848 B
Meski rugi bersih, EBITDA masih positif. Ini menunjukkan secara operasional sebelum bunga, pajak, dan penyusutan, LINK masih menghasilkan uang tunai. Namun, marginnya tergerus beban operasional yang masif.
โB. Balance Sheet & Solvency
โTotal Debt: 6.901 B vs Cash: 361 B
Kondisi likuiditas sangat ketat. Net Debt sebesar 6.666 B.
โCurrent Ratio: 0,13
Sangat berbahaya secara teknis. Aset lancar hanya mampu menutupi 13% kewajiban jangka pendek. Ini menandakan ketergantungan tinggi pada refinancing atau suntikan modal induk.
โDebt to Equity Ratio (DER): 1,74
Struktur modal didominasi hutang. Untuk perusahaan infrastruktur (FibreCo), angka ini umum, namun menjadi riskan karena LINK tidak mampu menghasilkan laba untuk menutupi bunga (Interest Coverage Ratio negatif).
โC. Cash Flow Statement
โCash From Operations: 1.355 B
Operasional masih menghasilkan kas masuk (positif).
โCapital Expenditure (CapEx): (1.494 B)
Pengeluaran modal untuk ekspansi jaringan (Home Passed) sangat agresif, melebihi kas operasional.
โFree Cash Flow (FCF): (467 B)
LINK mengalami "pendarahan" kas. Ekspansi dibiayai oleh hutang, bukan dari hasil usaha sendiri.
โ2. Kalkulasi Harga Wajar (Valuasi)
โData Input:
โHarga Terakhir: 2.790
โEPS (TTM): -506,06 (Negatif)
โBVPS: 1.239,73
โGrowth (g): Diasumsikan 10% (Sektor Telco/Infra)
โMetode 1: Warren Buffett (Owner Earnings/DCF Simplified)
โBuffett mencari perusahaan dengan FCF positif. Karena FCF LINK Negatif (-467 B), secara teoritis metode ini akan menghasilkan angka 0 atau Intrinsic Value Tidak Terhitung.
โHasil: - (Tidak Sesuai kriteria Buffett).
โMetode 2: Benjamin Graham (Intrinsict Value)
โFormula: V = EPS} x (8,5 + 2g)
Karena EPS LINK negatif (-506,06), maka:
V = -506,06 x (8,5 + 2(10)) = -
โHasil: Negatif (Under Graham's Margin of Safety, saham ini tidak memiliki nilai intrinsik positif).
โMetode 3: Peter Lynch (PEG Ratio)
โPEG = PER/Growth
PER LINK saat ini adalah -5,51. Peter Lynch hanya membeli perusahaan dengan PER positif dan PEG < 1. Saham "Stalwarts" atau "Fast Growers" harus punya laba.
โHasil: Overvalued / High Risk (Karena tidak ada earning untuk menjustifikasi harga).
โMetode 4: Valuasi Relatif (PER & PBV)
โMean PBV Sektor: 1,2x - 1,5x.
โPBV LINK: 2,25x.
โHarga Wajar PBV (1,2x):
1,2 x 1.239,73 = 1.487
โHarga Wajar PER: Tidak dapat dihitung karena rugi.
โHasil: Harga saat ini Rp.2.790 jauh di atas nilai bukunya yang wajar (Premium 2x lipat).
โKesimpulan:
โSecara fundamental, LINK sedang dalam kondisi Distressed. Valuasi pasar saat ini (Rp.2.790) kemungkinan besar didorong oleh spekulasi Corporate Action (Merger dengan XL Axiata atau akuisisi infrastruktur oleh FibreCo global), bukan karena kinerja fundamental. Angka Current Ratio 0,13 adalah red flag utama bagi kreditur.
Disclaimer : Analisis ini merupakan opini/ pendapat pribadi berdasarkan data keystats yang tersedia saat ini, Bukan Rekomendasi Ajakan Jual/Beli.
1/3



$LINK tiap Quartal selalu rugi rugi dan rugi, dari tahun ke tahun selalu rugi tapi ga bangkrut2, hebat juga ni Linknet ๐๐
@CUANDESTROYER 10k ๐
soalnya di indo gak peduli after sales jelek yang penting murah wkwkw,, paket 116k 500mbps (speed real 300mbps). Wifi mati seminggu pun masih ada paket data hp. si $DATA tinggal telen aja omelan konsumen kayak gua, abis tu lanjut gak ada perbaikan.
lah wong fm nya $LINK aja sampe sekarang masih jualan internet coaxial (belom ftth) masih laku dengan harga mahal, soalnya banyak yg belom ngerti.
$EXCL LK Full Year 2025: Kondisi Pasca Merger
Setelah kemarin $ISAT rilis LK, hari ini EXCL juga rilis LK Full Year 2025. Saya terus terang penasaran dengan kondisi LK EXCL pasca merger dengan FREN, apakah lebih baik atau lebih buruk. Biasanya sih kalau baru merger atau akuisisi, bersih-bersih dulu di 2 tahun pertama, setelah itu baru ngegas. Dan LK 2025 ini kelihatan seperti tahun cuci piring yang mahal. Naiknya aset memang bikin terlihat gagah, tapi banyak yang sifatnya aset kertas dan itu baru terasa nilainya kalau sinergi benar-benar kejadian. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Kalau investor lihat dari sisi audit, laporannya digarap KAP Rintis, Jumadi, Rianto dan Rekan dari PwC dengan opini wajar tanpa modifikasian, tapi ada empat hal audit utama yang justru mengingatkan bahwa titik paling rawan ada di area judgement. Pengakuan pendapatan teknologi informasi yang kompleks, penilaian goodwill dan spektrum, investasi pada PT $LINK Net Tbk, serta akuntansi merger dengan Smartfren jadi fokus. Artinya, ini bukan sekadar laporan yang selesai, ini laporan yang penuh area abu-abu yang kalau meleset, dampaknya bisa besar ke laba tahun-tahun berikutnya. Investor yang cuma lihat headline revenue naik akan gampang kelewat bagian ini. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Poin paling mencolok di LK EXCL adalah goodwill yang melonjak 93% menjadi Rp13,3 triliun, setara 11,5% dari total aset. Goodwill itu bukan mesin, bukan menara, bukan kas, tapi tagihan ekspektasi sinergi, jadi nilainya rapuh kalau integrasi gagal. Di saat yang sama, aset takberwujud spektrum naik menjadi Rp11,9 triliun, ini aset strategis, tapi juga aset yang hidupnya ditentukan regulasi dan masa manfaat. Jadi neraca terlihat membesar, namun kualitas asetnya makin bergantung pada asumsi, bukan pada barang yang bisa dijual cepat saat darurat.
Lalu ada pukulan yang lebih nyata, rugi penurunan nilai investasi di PT Link Net Tbk sebesar Rp1,09 triliun. Ini sinyal bahwa keputusan investasi strategis sudah mulai memberi beban, bukan bantu. Di sisi lain, ada cerita aset yang mungkin diam-diam bernilai, tanah dengan hak guna bangunan sampai 2054 masih dicatat biaya historis, jadi bisa saja nilai pasarnya jauh lebih tinggi, tapi itu tetap hipotesis sampai ada monetisasi atau revaluasi resmi. Jadi investor melihat dua ekstrem, satu impairment yang langsung memakan laba, satu potensi nilai tersembunyi yang belum bisa dikunci jadi kas real karena nilai tanah itu hanya bisa diketahui ketika sudah dijual. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
EXCL memang mencatat rugi bersih Rp4,4 triliun, tapi arus kas operasinya justru positif Rp17,5 triliun. Ini bisa terlihat bagus karena operasional masih cash cow, namun juga bisa menipu kalau investor mengira rugi itu tidak penting. Penyebab mismatch ini terutama penyusutan Rp17,6 triliun yang besar sekali, jadi rugi akuntansi banyak ditarik oleh beban non-kas, bukan semata-mata bisnis berhenti menghasilkan uang tunai.
Sekarang sisi utang, karena di telco, kas operasi yang kuat sering jadi alasan berani menambah leverage atau utang. Pinjaman jangka panjang EXCL melonjak dari Rp8,8 triliun menjadi Rp21,5 triliun pasca merger, sementara ada jatuh tempo Rp2,2 triliun dalam kurang dari 1 tahun dan Rp4,4 triliun di rentang 1 sampai 2 tahun. Yang bikin sensitif adalah 77% utang bank pakai bunga mengambang berbasis IndONIA atau JIBOR, jadi naik-turunnya suku bunga langsung menggerus ruang napas. Di titik ini, investor harus melihat EXCL bukan cuma sebagai operator, tapi sebagai mesin kas yang dibebani timer jadwal utang. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau utang bank terasa besar, liabilitas sewa menara dan infrastruktur jauh lebih monster, totalnya Rp39,1 triliun. Ini bentuk beban jangka panjang yang membuat bisnis terlihat asset-light di aset tetap, tapi heavy di kewajiban kontraktual. Dalam kondisi normal, sewa membantu fleksibilitas, tapi dalam kondisi kompetisi harga atau tekanan margin, sewa jadi beban yang sulit dipangkas cepat. Jadi skala kewajiban EXCL bukan cuma soal pinjaman, tapi gabungan pinjaman plus sewa yang totalnya sudah seperti gunung.
Dari sisi pertumbuhan, pendapatan naik 23,4% menjadi Rp42,4 triliun, tapi investor harus jeli membaca sumber growth-nya. Kenaikan itu terutama karena konsolidasi Smartfren sejak 16 April 2025, jadi ini growth yang lebih banyak berasal dari perubahan bentuk grup, bukan murni akselerasi organik. Bahkan kalau dilihat proforma seolah gabung sejak Januari 2025, grup justru rugi Rp8,7 triliun, ini menguatkan kesan bahwa merger adalah langkah defensif untuk bertahan, bukan pesta margin. Di saat bersamaan, beban karyawan melonjak 146% menjadi Rp4,2 triliun dan beban infrastruktur menjadi Rp12,3 triliun, jadi biaya integrasi dan biaya jaringan benar-benar terasa.
Ada sisi yang diam-diam menolong likuiditas, yaitu model prabayar. Pendapatan tangguhan Rp3,2 triliun adalah modal kerja gratis dari pelanggan yang bayar di muka, ini salah satu alasan telco bisa tetap punya napas panjang saat laba akuntansi goyah. Namun napas ini bukan tanpa syarat, churn rate harus terkendali, kualitas jaringan harus naik, dan promosi tidak boleh membakar margin lebih cepat dari arus kas masuk. Kalau prabayar melemah, pendapatan tangguhan mengecil, dan tekanan kas akan terasa lebih cepat karena beban sewa dan bunga tidak ikut mengecil. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Di atas semua itu, ada faktor tata kelola yang halus tapi bisa menentukan arah. Axiata Investments memegang 34,69% dan Grup Sinarmas memegang porsi kolektif sekitar 34,7%, lalu laporan keuangan menyebut tidak ada pengendali tunggal, ini bisa jadi penyeimbang, tapi juga bisa jadi risiko deadlock. Saat integrasi butuh keputusan cepat, deadlock itu mahal, karena biaya berjalan tiap bulan, sementara sinergi telat. Jadi potensi baiknya ada, skala spektrum gabungan dan efisiensi infrastruktur bisa muncul dalam 12 sampai 24 bulan, tapi syaratnya ketat, integrasi harus rapi, biaya harus diturunkan, refinancing harus mulus, dan belanja modal Rp14,8 triliun harus diarahkan ke area yang paling cepat balik modal.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/4




**PEMBUKAAN**
**POTENSI GAP DOWN (IEP) ๐ป**
$LINK**: 2,850 -> 2,700 (-5.26%)
$ECII**: 220 -> 210 (-4.55%)
$FITT**: 725 -> 695 (-4.14%)
KOKA**: 262 -> 254 (-3.05%)
PJHB**: 288 -> 280 (-2.78%)
DMMX**: 306 -> 298 (-2.61%)
PTSN**: 398 -> 390 (-2.01%)
MUTU**: 109 -> 107 (-1.83%)
TYRE**: 119 -> 117 (-1.68%)
SMKL**: 179 -> 176 (-1.68%)
BLUE**: 6,900 -> 6,800 (-1.45%)
ADES**: 15,400 -> 15,200 (-1.30%)
IEP dapat berubah sewaktu-waktu.
**DYOR**
$SOCI $LINK Prediksi bullish sdh Hit target ya... โ
๏ธ Done...
Yg sdh Follow... Ikut Cuannnnn ๐๐๐๐๐
Disclaimer on...
Please Follow for Support Us.....๐๐
Bio
Follow Big Money
ARAHUNTER
#Mari saya bantu Tradingnya....

[LIST SEMUA SAHAM : 956 EMITEN - MAKS 30 GAP UP & DOWN]
Rabu, 11 February 2026 08:56
Saham potensial gap-up/down di OPENING market, diurut berdasarkan nilai persentase:
(cukup pantau baris paling atas dan paling bawah untuk cek gap terbesar):
-------------------------------------
GAP UP:
๐ผ $FPNI gap up ke 805 (+155 / +23.85%) dari 650
๐ผ $IFSH gap up ke 1885 (+305 / +19.3%) dari 1580
๐ผ $LINK gap up ke 3130 (+300 / +10.6%) dari 2830
๐ผ MGNA gap up ke 200 (+13 / +6.95%) dari 187
๐ผ FITT gap up ke 790 (+50 / +6.76%) dari 740
๐ผ BABY gap up ke 320 (+20 / +6.67%) dari 300
๐ผ AKPI gap up ke 570 (+35 / +6.54%) dari 535
๐ผ PNSE gap up ke 745 (+45 / +6.43%) dari 700
๐ผ GSMF gap up ke 115 (+6 / +5.5%) dari 109
๐ผ HOPE gap up ke 308 (+16 / +5.48%) dari 292
๐ผ SOTS gap up ke 2420 (+120 / +5.22%) dari 2300
๐ผ PGUN gap up ke 12200 (+575 / +4.95%) dari 11625
๐ผ VICO gap up ke 193 (+9 / +4.89%) dari 184
๐ผ TOOL gap up ke 65 (+3 / +4.84%) dari 62
๐ผ FIRE gap up ke 174 (+8 / +4.82%) dari 166
๐ผ PUDP gap up ke 428 (+18 / +4.39%) dari 410
๐ผ PPRI gap up ke 290 (+12 / +4.32%) dari 278
๐ผ TEBE gap up ke 1460 (+60 / +4.29%) dari 1400
๐ผ NICK gap up ke 1235 (+50 / +4.22%) dari 1185
๐ผ ASJT gap up ke 200 (+8 / +4.17%) dari 192
๐ผ AKSI gap up ke 420 (+16 / +3.96%) dari 404
๐ผ DATA gap up ke 3740 (+140 / +3.89%) dari 3600
๐ผ SKBM gap up ke 535 (+20 / +3.88%) dari 515
๐ผ KOKA gap up ke 272 (+10 / +3.82%) dari 262
๐ผ IKAN gap up ke 111 (+4 / +3.74%) dari 107
๐ผ PALM gap up ke 390 (+14 / +3.72%) dari 376
๐ผ RMKO gap up ke 700 (+25 / +3.7%) dari 675
๐ผ LPLI gap up ke 344 (+12 / +3.61%) dari 332
๐ผ UANG gap up ke 3750 (+130 / +3.59%) dari 3620
๐ผ BALI gap up ke 1450 (+50 / +3.57%) dari 1400
-------------------------------------
GAP DOWN:
๐ฝ AMRT gap down ke 1940 (-10 / -0.51%) dari 1950
๐ฝ MRAT gap down ke 446 (-4 / -0.89%) dari 450
๐ฝ DGWG gap down ke 414 (-4 / -0.96%) dari 418
๐ฝ FUTR gap down ke 380 (-4 / -1.04%) dari 384
๐ฝ DEFI gap down ke 185 (-2 / -1.07%) dari 187
๐ฝ LTLS gap down ke 800 (-10 / -1.23%) dari 810
๐ฝ ALKA gap down ke 650 (-10 / -1.52%) dari 660
๐ฝ PORT gap down ke 970 (-15 / -1.52%) dari 985
๐ฝ AMOR gap down ke 368 (-6 / -1.6%) dari 374
๐ฝ TRIS gap down ke 183 (-3 / -1.61%) dari 186
๐ฝ JATI gap down ke 114 (-2 / -1.72%) dari 116
๐ฝ PURI gap down ke 218 (-4 / -1.8%) dari 222
๐ฝ BRNA gap down ke 700 (-15 / -2.1%) dari 715
๐ฝ INDF gap down ke 6675 (-225 / -3.26%) dari 6900
Cek ulang semuanya dan IEP bisa berubah smp menit terakhir. Salam Cuan.