


Volume
Avg volume
Perseroan didirikan dengan nama PT Seruling Indah Permai pada tahun 1996 dan kemudian berubah nama menjadi PT Link Net pada tahun 2000. Perseroan pada awalnya memiliki kegiatan usaha di bidang perdagangan barang dan jasa. Tetapi pada tahun 2000, kegiatan usaha Perseroan berubah menjadi di bidang teknologi informasi dan jasa penyelenggaraan internet serta jasa pada umumnya.
📰 LINK Dapat Pinjaman US$150 Juta dari Asian Development Bank
Kontan melaporkan bahwa Asian Development Bank memberikan pinjaman senilai US$150 juta kepada Link Net ($LINK), di mana pinjaman ini ditujukan untuk meningkatkan infrastruktur digital di Indonesia dan memperbaiki kualitas broadband.
[Sumber: Kontan]
_____
Stockbit Sekuritas
$LINK ADB Kucurkan Pinjaman US$150 Juta ke Link Net (LINK) untuk Perluas Infrastruktur Fiber Optik di Indonesia https://cutt.ly/ztTTRA50
Jakarta, CNBC Indonesia - Asian Development Bank (ADB) mengumumkan pinjaman senilai US$150 juta kepada PT Link Net Tbk (LINK) untuk meningkatkan infrastruktur digital di Indonesia dan memperbaiki kualitas broadband.
Pembiayaan ini juga akan digunakan untuk memperkuat stabilitas Linknet dan memfasil...

www.cnbcindonesia.com

Likuiditas kering bgini maksa jualan saham hasil BB. Minimal angkat dulu, ramaikan dulu baru jualan, atau jual nego ke insti ttu (kalo ada yg mau).
Dari 108.614.500 lembar yg mau dijual baru kejual 2.372.900 lembar saja, alias baru kejual 2% saja.
Kapan kelarnya ?
$LINK
PT Link Net Tbk. - LINK
Laporan Keuangan
- Neraca Keuangan
- Laporan Laba Rugi
- Laporan Arus Kas
- Laporan Perubahan Ekuitas
Follow kami untuk laporan fundamental emiten!
$LINK
1/4




Sepanjang tahun 2025, PT Link Net Tbk. (LINK) mencetak peningkatan rugi bersih menjadi Rp1,44 triliun. Rugi bersih ini meningkat dari 2024. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam laporan keuangan yang dipublikasi di Jakarta, kemarin.
Disebutkan rugi bersih sebesar Rp1,44 triliun pada 2025, n...

www.neraca.co.id

$LINK LK Full Year 2025: Masih Rugi
Rugi tahun berjalan makin gede
Padahal revenue naik tapi beban jaringan malah naik lebih gede.
Capex tetap gede
Ambil utang 7,1 Triliun untuk bayar utang 6,7 Triliun
utang barunya dari MUFG dan Deutsche dengan bunga lebih rendah tapi jatuh temponya.
LINK telah mendapatkan persetujuan pengesampingan dari para krediturnya terhadap pelanggaran pembatasan rasio keuangan potensial atau aktual atas laporan keuangan konsolidasian tahun berakhir pada tanggal 31 Desember 2025.
Itu artinya biarpun rugi gede dan DCSR ndak sampai 3, MUFG dan Deutsce Bank tetap memaafkan. Baik banget dua bank ini. Udah kasih utang bunga rendah, kasi lagi keringangan biar LINK ndak kena technical default.
Kalau nanti utang MUFG induk $BDMN dan Deutsche Bank mau jatuh tempo, LINK sudah ada rencana cadangan karena pada tanggal 18 Desember 2025, Perusahaan menandatangani perjanjian pinjaman berjangka dengan International Finance Corporation dan Asian Development Bank. Perusahaan mendapatkan fasilitas pinjaman masing-masing sebesar 3,3 Triliun dan 2,4 Triliun dengan jangka waktu 9 tahun. Pada tanggal 31 Desember 2025, Perusahaan belum melakukan penarikan pinjaman itu. Mungkin buat siap-siap bayar MUFG.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$EXCL

$LINK
PT Link Net Tbk mencatat rugi bersih Rp1,45 triliun pada 2025 meski pendapatan naik ke Rp3,08 triliun. Total aset turun menjadi Rp13,24 triliun, ekuitas melemah ke Rp3,55 triliun, dan liabilitas naik ke Rp9,69 triliun akibat peningkatan utang bank. Kinerja masih rugi namun arus kas operasi tetap positif.
Cara menyikapi lapkeu: https://stockbit.com/post/11202302
$MPPA $LINK
KABARBURSA.COM - Kinerja keuangan PT Link Net Tbk (LINK) sepanjang Tahun Buku 2025 menunjukkan tekanan pada sisi profitabilitas dan struktur permodalan, meski pendapatan mencatat pertumbuhan dua digit.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025 yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI...

www.kabarbursa.com

$LINK
Tentu, mari kita bedah laporan keuangan **PT Link Net Tbk (LINK)** untuk tahun buku 2025 ini. Sebagai mentor Anda, saya melihat ada transformasi fundamental yang sedang terjadi, namun ada juga **bendera kuning (peringatan)** terkait likuiditas yang wajib Anda perhatikan sebagai investor.
Berikut adalah analisa mendalam saya berdasarkan data yang Anda berikan:
### 1. Perubahan Model Bisnis: Menjadi "FiberCo" (Fokus B2B)
Hal pertama yang harus Anda sadari adalah pergeseran drastis sumber pendapatan perusahaan.
* **Dominasi Pihak Berelasi:** Pendapatan usaha naik menjadi **Rp3,08 triliun** di 2025 dibanding Rp2,52 triliun di 2024. Namun, perhatikan detailnya. Pendapatan dari **pihak berelasi (terutama PT XL Axiata Tbk)** melonjak drastis menjadi **Rp2,17 triliun**, sementara pendapatan dari pihak ketiga (pelanggan ritel biasa) anjlok dari Rp1,85 triliun menjadi hanya **Rp896 miliar**,.
* **Artinya:** LINK sedang bertransformasi agresif menjadi penyedia infrastruktur (FiberCo) yang melayani induk usahanya (XL Axiata), bukan lagi fokus utama pada pasar ritel (B2C). Sebagai investor, Anda sedang membeli saham infrastruktur pendukung grup, bukan lagi murni penyedia internet rumahan independen.
### 2. Profitabilitas: Masih Berdarah-darah
Jangan terkecoh dengan kenaikan pendapatan. *Bottom line* perusahaan masih merah.
* **Rugi Bersih:** Perusahaan mencatatkan rugi tahun berjalan sebesar **(Rp1,44 triliun)**.
* **Penyebab Utama:** Beban penyusutan dan amortisasi sangat besar, mencapai **Rp1,75 triliun**. Ini wajar bagi perusahaan infrastruktur yang padat modal (Heavy Capex), namun ini menggerus laba secara signifikan. Selain itu, beban operasional jaringan juga meningkat tajam menjadi Rp1,53 triliun.
* **Mentor Note:** Selama rugi operasional ini berlanjut, dividen mungkin akan sulit diharapkan dalam waktu dekat.
### 3. Masalah Likuiditas: "Lampu Kuning" Menyala Terang
Ini adalah bagian paling kritikal yang harus Anda waspadai. Neraca keuangan LINK menunjukkan ketimpangan likuiditas yang ekstrem.
* **Utang Jangka Pendek Meledak:** Liabilitas jangka pendek melonjak menjadi **Rp9,59 triliun**, padahal aset lancar (harta yang bisa cepat dicairkan) hanya **Rp1,26 triliun**,.
* **Penyebab:** Terjadi reklasifikasi masif. Utang bank jangka panjang yang sebelumnya Rp4,78 triliun di 2024, kini menjadi **NOL** di 2025. Sebaliknya, utang bank jangka pendek membengkak dari Rp1,02 triliun menjadi **Rp6,99 triliun**.
* **Analisa Mentor:** *Current Ratio* (Rasio Lancar) perusahaan sangat rendah. Secara teknis, perusahaan memiliki kewajiban besar yang jatuh tempo dalam setahun tetapi tidak memiliki kas yang cukup (Kas hanya Rp360 miliar) untuk melunasinya tanpa *refinancing* (mencari utang baru) atau suntikan modal. Ini risiko tinggi jika kondisi pasar kredit mengetat.
### 4. Arus Kas (Cashflow)
Meskipun rugi secara akuntansi, mari kita cek "napas" perusahaan alias uang tunainya.
* **Operasional Positif:** Arus kas dari aktivitas operasi masih positif sebesar **Rp1,35 triliun**. Ini pertanda baik, artinya bisnis intinya masih menghasilkan uang tunai.
* **Investasi Masif:** Uang tersebut habis digunakan untuk belanja modal (Capex) pembelian aset tetap sebesar **(Rp1,40 triliun)**. Ini konsisten dengan strategi ekspansi infrastruktur fiber optik.
### Kesimpulan & Arahan untuk Investor:
1. **High Risk, Long Term Play:** Saham ini sedang dalam fase transisi berat. Rugi bersih masih besar dan beban utang jangka pendek sangat menekan.
2. **Pantau Refinancing:** Kunci kelangsungan bisnis LINK ada pada bagaimana mereka menyelesaikan utang bank jangka pendek Rp6,99 triliun tersebut. Kemungkinan besar akan ada aksi korporasi lanjutan atau dukungan dari grup Axiata.
3. **Bukan untuk Trader Pemula:** Jika Anda mencari keuntungan cepat atau fundamental yang "cantik" saat ini, LINK bukan tempatnya. Tapi jika Anda percaya pada sinergi XL Axiata + Link Net dalam jangka panjang sebagai penguasa infrastruktur fiber, risiko ini mungkin sepadan, namun *entry* harus sangat hati-hati.
**Saran Mentor:** *Wait and see*. Tunggu kejelasan mengenai penyelesaian utang jangka pendeknya sebelum masuk dalam porsi besar.
https://cutt.ly/RtmCby8j
RANDOM TAG $KBLV $MORA
oke lanjut part 9 : beberapa perusahaan sudah mulai publikasi FY-2025 nya. Sekarang kita cek status dan siklus 5 tahunannya. 3 emiten dulu (LINK, CASH, KDSI)
$CASH 2021-2025
2021. fase early growth - cash burn
2022. fase survival mode
2023. fase stagnant loss
2024. fase transformasi, masih rugi
2025. fase masih belum break even
kondisi CASH itu : Rugi konsisten, Belum proven profitable, Industri payment highly competitive, Tanpa moat jelas, Tanpa network effect dominan. kesimpulan CASH bukan value investing case.
kita coba going deep. cash itu Fintech / Payment Processing. Fintech payment biasanya ada 3 fase: Burn phase (1–3 tahun awal), Scale up & volume expansion, lalu Operating leverage → profit.
Masalahnya: CASH sudah >5 tahun listed dan masih di fase burn.
Di industri payment: Kalau volume naik signifikan → gross margin biasanya mulai menutup fixed cost. Tapi di CASH, G&A relatif tidak turun secara signifikan sebagai % revenue
Ini bukan sekadar growth phase. Ini belum menemukan product-market fit yang scalable.
jadi :
- Wajar untuk startup early stage
- Tidak wajar untuk perusahaan publik 5 tahun setelah IPO
$LINK 2021-2025
2021. fase mature. cash generator
2022. fase mature plateau. stabil
2023. fase early deterioration. margin turun
2024. fase distress. rugi besar
2025. fase financial stress. debt spike
Karakter bisnis: capital intensive, revenue stagnan / turun, debt naik tajam, tidak punya pricing power kuat, tidak lagi growth story.
average TEPS normal (2021–2023) = 474 per share
Jika bisnis kembali normal. 8x eps bisa saja fair di 3792 per share.
tapi realitanya di 2025 : short-term loan 6,99T (naik ekstrem), Equity turun ke 3,55T, Retained earnings anjlok, ECL 45% receivable, Revenue belum recover, Ini bukan siklus biasa. Ini structural deterioration. mungkin bisa dikategorikan Turnaround speculative.
oke kita going deep. LINK itu Infrastruktur Broadband.
Karakter industri broadband: Capex besar, Revenue recurring, Churn rendah, Margin relatif stabil, Tidak volatil ekstrem.
Kalau broadband sehat: Net margin stabil, EBITDA kuat,Arus kas relatif stabil.
untuk LINK 2024-2025 :
- Tidak sepenuhnya wajar untuk industri mature broadband
- Lebih terlihat sebagai structural problem (leverage + kompetisi)
dan LINK berarti : Pernah sehat, Industri mendukung recurring revenue, Penurunan 2024-2025 lebih karena kondisi spesifik perusahaan.
lanjut $KDSI adalah perusahaan manufaktur berbasis Surabaya yang bergerak pada:
- Enamel cookware (peralatan dapur enamel)
- Gas cylinder (tabung LPG)
- Segmen ekspor & domestik
Karakter bisnis:
- Heavy asset
- Margin tipis – sensitif ke harga baja & energi
- Working capital besar (inventory tinggi)
fase emiten
2021 Recovery pasca pandemi, Margin pulih, Ekspor kuat, Demand rebound
2022 Stabilisasi, Margin mulai turun, Baja naik, Inventory naik
2023 Pressure, ROE turun, Overcapacity, Cash mulai ketat
2024 Late Downcycle, Laba sangat tipis, Demand lemah, Utilisasi turun
2025 Restructuring, Rugi tipis, Konsolidasi internal, Fokus efisiensi
Fair PE 7x → 👉 Nilai wajar ± Rp 329/lembar
Karakter KDSI:
- Capex dominan mesin produksi & maintenance
- Tidak agresif ekspansi
- Lebih banyak replacement & efisiensi
KDSI saat ini:
- Bukan growth story
- Bukan compounder
- Cyclical asset heavy manufacturer
- Sedang fase konsolidasi
$LINK Berdasarkan data laporan keuangan LINK per Q4 2025 yang Tersedia di keystats saat ini . berikut adalah analisis mendalam Link.
Kondisi fundamental LINK saat ini sedang berada dalam fase transformasi struktural berat setelah beralih dari model bisnis retail B2C (First Media) menjadi fokus ke FibreCo (penyedia infrastruktur) dan B2B.
1. Bedah Angka Laporan Keuangan
(Detailed Breakdown).
A. Profitability & Income Statement
Revenue (TTM): 3.082 B
Pendapatan tahunan naik 22,25% YoY dibandingkan 2024 2.521 B . Namun, perhatikan penurunan di Q4 687 B dibanding Q3 818 B . Ini mengindikasikan adanya volatilitas pendapatan pasca pengalihan pelanggan retail ke XL Axiata.
Gross Profit (TTM): 3.271 B
Angka ini unik karena lebih besar dari Revenue. Secara akuntansi, ini mencerminkan adanya efisiensi biaya langsung atau reklasifikasi beban jaringan yang dialihkan ke entitas lain dalam grup Axiata.
Net Income (TTM): (1.449 B)
Kerugian membengkak dari 1.185 B (2024) menjadi 1.449 B (2025). Kerugian ini kronis karena beban bunga dan depresiasi aset jaringan yang sangat tinggi.
EBITDA (TTM): 848 B
Meski rugi bersih, EBITDA masih positif. Ini menunjukkan secara operasional sebelum bunga, pajak, dan penyusutan, LINK masih menghasilkan uang tunai. Namun, marginnya tergerus beban operasional yang masif.
B. Balance Sheet & Solvency
Total Debt: 6.901 B vs Cash: 361 B
Kondisi likuiditas sangat ketat. Net Debt sebesar 6.666 B.
Current Ratio: 0,13
Sangat berbahaya secara teknis. Aset lancar hanya mampu menutupi 13% kewajiban jangka pendek. Ini menandakan ketergantungan tinggi pada refinancing atau suntikan modal induk.
Debt to Equity Ratio (DER): 1,74
Struktur modal didominasi hutang. Untuk perusahaan infrastruktur (FibreCo), angka ini umum, namun menjadi riskan karena LINK tidak mampu menghasilkan laba untuk menutupi bunga (Interest Coverage Ratio negatif).
C. Cash Flow Statement
Cash From Operations: 1.355 B
Operasional masih menghasilkan kas masuk (positif).
Capital Expenditure (CapEx): (1.494 B)
Pengeluaran modal untuk ekspansi jaringan (Home Passed) sangat agresif, melebihi kas operasional.
Free Cash Flow (FCF): (467 B)
LINK mengalami "pendarahan" kas. Ekspansi dibiayai oleh hutang, bukan dari hasil usaha sendiri.
2. Kalkulasi Harga Wajar (Valuasi)
Data Input:
Harga Terakhir: 2.790
EPS (TTM): -506,06 (Negatif)
BVPS: 1.239,73
Growth (g): Diasumsikan 10% (Sektor Telco/Infra)
Metode 1: Warren Buffett (Owner Earnings/DCF Simplified)
Buffett mencari perusahaan dengan FCF positif. Karena FCF LINK Negatif (-467 B), secara teoritis metode ini akan menghasilkan angka 0 atau Intrinsic Value Tidak Terhitung.
Hasil: - (Tidak Sesuai kriteria Buffett).
Metode 2: Benjamin Graham (Intrinsict Value)
Formula: V = EPS} x (8,5 + 2g)
Karena EPS LINK negatif (-506,06), maka:
V = -506,06 x (8,5 + 2(10)) = -
Hasil: Negatif (Under Graham's Margin of Safety, saham ini tidak memiliki nilai intrinsik positif).
Metode 3: Peter Lynch (PEG Ratio)
PEG = PER/Growth
PER LINK saat ini adalah -5,51. Peter Lynch hanya membeli perusahaan dengan PER positif dan PEG < 1. Saham "Stalwarts" atau "Fast Growers" harus punya laba.
Hasil: Overvalued / High Risk (Karena tidak ada earning untuk menjustifikasi harga).
Metode 4: Valuasi Relatif (PER & PBV)
Mean PBV Sektor: 1,2x - 1,5x.
PBV LINK: 2,25x.
Harga Wajar PBV (1,2x):
1,2 x 1.239,73 = 1.487
Harga Wajar PER: Tidak dapat dihitung karena rugi.
Hasil: Harga saat ini Rp.2.790 jauh di atas nilai bukunya yang wajar (Premium 2x lipat).
Kesimpulan:
Secara fundamental, LINK sedang dalam kondisi Distressed. Valuasi pasar saat ini (Rp.2.790) kemungkinan besar didorong oleh spekulasi Corporate Action (Merger dengan XL Axiata atau akuisisi infrastruktur oleh FibreCo global), bukan karena kinerja fundamental. Angka Current Ratio 0,13 adalah red flag utama bagi kreditur.
Disclaimer : Analisis ini merupakan opini/ pendapat pribadi berdasarkan data keystats yang tersedia saat ini, Bukan Rekomendasi Ajakan Jual/Beli.
1/3


