CARA MENYIKAPI LAPKEU

Ini sekedar opini pribadi aja sih.....
Beberapa waktu belakangan ini, kita bisa melihat banyak sekali lapkeu emiten FY22 dan atau 1Q23 yang telah dipublikasikan. Hasilnya tentu macam2: ada yg tumbuh kencang, tumbuh lamban, flat atau bahkan turun. Bagi investor awam mungkin agak sedikit bingung bagaimana menyikapi hasil2 (lapkeu) yg disampaikan emiten. Lantas bagaimana sebaiknya investor awam menyikapi hasil lapkeu yang disampaikan?
Paling tidak, menurut pendapat pribadi saya, mungkin ada beberapa hal yang dapat membantu investor awam melihat hasil lapkeu secara lebih obyektif:
1. Hasil (lapkeu) nya dibandingkan dgn target internal persh. Manajemen persh lebih tahu kondisi persh dan tantangan yg dihadapi shg mereka lebih tahu dalam menetapkan target yg realistis. Perlu diingat bahwa kondisi sebuah persh/industri berbeda2 sehingga target tiap persh tentu saja tidak harus mirip (tidak semua persh/industri dapat tumbuh kencang). Semua tetap harus dilihat CASE-BY-CASE.
Bagi emiten publik yg tidak/belum mempublikasikan target2nya secara terbuka tetap dapat ditanya via manajemen (CEO, CFO atau sekretaris persh).
2. Hasilnya dibandingkan dgn target analis (konsensus pasar). Analis saham biasanya jg memiliki pembanding, data2, wawasan yg lebih luas serta dapat menilai kemampuan dan tantangan sebuah persh dan atau industrinya. Sebagai contoh: konsensus analis bisa dilihat di Bloomberg terminal (bagi yang punya akses).
3. Bagi yang tidak memiliki akses langsung terhadap emiten, data, dan atau analis, seorang investor dapat membandingkannya dgn industri sejenis (competitor). Ini sudah sangat jelas. Jika persh A tumbuh 10% (mungkin kelihatannya cukup bagus; double digit growth) sedangkan kompetitor2nya tumbuh 20% maka sebenarnya persh A berada dalam posisi underperform. Konsekuensi underperform ini adalah mengecilnya pangsa pasar persh tsb.
4. Bagi emiten spesifik yang tidak memiliki kompetitor atau klasifikasi sektor yang jelas, hasilnya (revenue growth) dapat dibandingkan dgn rata2 pertumbuhan persh nasional (mis: GDP growth).
5. Last but not least: mungkin perlu juga membandingkan hasil dgn tingkat inflasi. Analogi: misalkan anda memiliki sebuah usaha yg labanya tumbuh 2%, sementara di saat yg sama kebutuhan hidup anda rata2 naik 5%, maka jelas bahwa secara umum daya beli (laba) anda merosot 3%.

Perlu diperhatikan bahwa sebuah perusahaan TIDAK harus selalu bertumbuh secara spektakuler. Kondisi industri atau perusahaan berbeda2. Semua tetap harus dilihat CASE-BY-CASE. Bagi persh yang sedang mengalami restrukturisasi (atau turnaround situation) misalnya, rugi dalam jumlah yg lebih kecil mungkin sudah dapat dikatakan hasil yang bagus dan bahkan dapat membuat harga sahamnya naik. Atau di sektor/industri2 tertentu (misalkan yg sudah mature), pertumbuhan yg sekedar inline dgn inflasi atau pertumbuhan nasional mungkin sudah maksimal dan mungkin dapat dikatakan lumayan.
Sekali lagi, semua perusahaan harus dilihat CASE-BY-CASE. Point2 di atas hanyalah gambaran UMUM yang mungkin dapat digunakan investor awam untuk menilai hasil dengan lebih obyektif.

DISCLAIMER: All investment strategies involve risk of loss. NOTHING contained in this publication should be construed as investment advice. The author is NOT responsible for the investment results of this publication. Readers are advised to do their own analysis.

RANDOM tag: $BBCA $ADRO $WIIM $GOTO $UNTR

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy