900

0.00

(0.00%)

Today

238,100

Volume

338,104

Avg volume

Company Background

PT BISI International Tbk, didirikan pada 22 Juni 1983 dengan nama PT Bright Indonesia Seed Industry, merupakan perusahaan agribisnis terkemuka di Indonesia yang bergerak di bidang pengembangan, produksi, dan perdagangan benih unggul seperti benih jagung hibrida, benih hortikultura (sayuran dan buah-buahan), benih padi hibrida, serta pestisida dan pupuk. BISI terus memperluas portofolio bisnis melalui berbagai kegiatan, mulai dari pertanian, pascapanen, hingga perdagangan dan pengembangan e-commerce. Dalam operasionalnya, BISI didukung oleh entitas anak yang mendukung integrasi vertikal sektor benih dan agrokimia secara menyelur... Read More

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$MAIN entah apakah nih emiten serame WMUU dan AYAM, kalo aku jelas lebih memilih MAIN liat broksum dari 25 Oktober sampai sekarang siapa yg akum by teknikal jg menarik banget

Aku melihat dia menarik karena bbrp alasan :
1. Keuangan & Valuasi
- Labanya meledak 672% (tembus Rp 488 Miliar) di 2024. Ini kenaikan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya ntah apa penyebabnya
- Selain itu nih emiten jg bagi dividen: Gak pelit. Bagi dividen Rp 65/lembar (Total Rp 145 Miliar). Yield-nya sekitar 7,6% meskipun jarang banget yah semoga tahun depat bagi dividen jg
- Valuasinya dibandingkan yg lain ini Masih murah banget (PBV < 1x)
2. Sudah mulai Ekspansi Global dan Ini yang bikin MAIN unggul dibandingkan emiten lainnya. Produk olahannya udah validasi kualitas global:
β€’ Produk Ekspor: Fokusnya di Makanan Olahan (Processed Food) dan Karkas Ayam Beku
β€’ Produk mereka sudah rutin masuk Jepang, Singapura dan Oman bahkan mereka mau ekspansi ke Timur Tengah, targetnya Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain, apalagi rupiah melemah bakal cuan sih
3. Lini Bisnisnya ini sih bakal berpengaruh banget buat MBG (Hulu ke Hilir) mulai dari
β€’ Pakan (Feedmill) dan mereka jg bangun pabrik baru di Lampung (Kapasitas 300.000 ton/tahun) yang bakal ready operasi Q3 2026. Kalo pemerintah mau bikin peternakan ini bakal kecipratan banget sih selain $BISI
β€’ Bibit (Breeding) yg namanya peternakan kan perlu bibit, nah mereka ini jualan DOC (Anak Ayam) & Itik, mereka pemain bibit Parent Stock yang kuat. Kalo WMUU masih impor, gk tau deng ini impor jg atau sudah bisa mengembangkan sendiri
β€’ Ayam Pedaging (Broiler)
β€’ Olahan (Downstream) : Punya brand beku (SunnyGold/Cikey) dan restoran Sunny'Chick
4. Mereka jg membangun Teknologi & ESG (Modernisasi) MAIN investasi gede di Green Technology:
- Solar Panel: Capex khusus ESG disiapkan sekitar Rp 80 Miliar sampai 2026. Instalasi panel surya ini diklaim bisa menyelamatkan 6.000 pohon/tahun dan memangkas biaya energi pabrik secara signifikan. Efisiensi biaya energi = Laba Bersih makin tebal.

emiten MBG : CPIN, JPFA, MAIN, AYAM, WMUU, dan DEWI.

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

BISI (Bisi International): Ini adalah pemain utama Benih Jagung. Jika pemerintah mau swasembada pakan melalui 12 pabrik tersebut, mereka butuh benih dari BISI agar petani lokal bisa panen jagung untuk disetor ke pabrik Danantara.

Pemerintah mau buat pertenakan ayam apakah apakah $BISI bisa jadi pemasok benih jagung ?
kalau iya mungkin dalam 2-3 tahun labanya bakalan naik drastis

DYOR

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Ekosistem Grup Charoen Popkhand

Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Saham $BISI $CPRO dan $CPIN itu berada dalam 1 ekosistem yang sama. Banyak investor melihatnya sebagai paket lengkap dari hulu ke hilir, lalu buru-buru menyimpulkan risikonya kecil karena ada nama besar di belakangnya. Padahal ekosistem grup itu bisa jadi sabuk pengaman, bisa juga jadi rantai yang mengikat, tergantung siapa yang pegang harga transfer, utang, dan royalti. Kalau investor hanya melihat skala CPIN yang besar lalu menganggap yang lain otomatis aman, itu sering menipu, karena bisnis agribisnis hidup-mati oleh siklus komoditas, kurs, dan penyakit. Jadi yang perlu dibaca bukan hanya siapa pemiliknya, tetapi bagaimana arus uang dan risikonya bergerak di dalam grup. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Dari sisi kemiripan, tiga-tiganya dipengaruhi grup Keluarga Jiaravanon dan sama-sama bermain integrasi vertikal. Ini bagus karena pasokan dan channel distribusi bisa lebih terkunci, data pasar lebih cepat, dan bargaining ke pemasok atau pembeli biasanya lebih kuat. Namun ada sisi buruknya, integrasi dan kedekatan grup sering memunculkan ketergantungan pada transaksi pihak berelasi, sehingga sebagian margin bisa pindah antar entitas melalui transfer pricing, jasa, atau royalti. Syarat agar sisi bagusnya menang itu sederhana, tata kelola harus jelas, transaksi pihak berelasi harus wajar, dan tidak boleh ada entitas yang menjadi tempat buang risiko sementara entitas lain menikmati marjin. Bukti bahwa ekosistem ini benar-benar berjalan bukan sekadar narasi, terlihat dari adanya transaksi operasional lintas entitas, misalnya BISI menjual benih dan pestisida ke entitas berelasi, CPIN membeli bahan baku atau obat dari pihak berelasi, dan CPRO punya utang ke CPIN Rp201,4 miliar, artinya memang ada arus dagang dan pendanaan internal yang nyata.

Perbedaan paling besar ada di fokus industri dan skala, sehingga sensitivitas risikonya tidak identik. CPIN itu raksasa perunggasan dengan total aset Rp43,7 triliun per Q3 2025, jadi dia hidup dari pakan, DOC, ayam, sampai olahan.

BISI lebih kecil, aset Rp3,67 triliun, fokusnya benih dan perlindungan tanaman, jadi pendorongnya lebih dekat ke siklus tanam, harga jagung, dan daya beli petani.

CPRO berada di akuakultur, pakan udang atau ikan dan makanan laut, dengan sejarah luka biologis yang pernah mahal, akumulasi defisit besar akibat infeksi virus di tambak 2009 dan 2013. Ini bagus-buruknya begini, CPIN skala besar membuatnya lebih tahan guncangan lokal, tapi juga membuat exposure kurs dan komoditasnya jumbo. BISI bisa lebih ringan secara neraca dan lebih fokus, tetapi ukuran kecil membuatnya lebih sensitif jika channel distribusi atau permintaan petani melemah. CPRO punya upside ketika siklus udang membaik, tetapi biologis risk-nya bersifat biner, sekali kena, kerusakannya tidak bertahap. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Bagian yang paling sering menentukan apakah ekosistem ini menambah nilai atau justru menggerus nilai adalah struktur beban dan kewajiban antar entitas, terutama royalti, utang pihak berelasi, dan sewa fasilitas. CPIN membayar royalti ke Nugen Bioscience International Rp511 miliar hingga September 2025. Dari sisi baik, royalti bisa berarti akses teknologi genetik, efisiensi, dan kualitas produk, sehingga margin jangka panjang bisa lebih stabil. Dari sisi buruk, royalti itu seperti biaya tetap, tetap menggerus laba saat siklus sedang jelek, sehingga risk profile CPIN menjadi lebih berat. Syarat agar royalti ini layak adalah dampaknya harus terlihat pada produktivitas, efisiensi, atau positioning produk yang tidak bisa ditiru pesaing dengan mudah. Data yang ada di LK baru menunjukkan besarannya, bukan bukti langsung bahwa ROIC atau margin membaik karena royalti, jadi kesimpulan objektifnya, ini lebih aman diperlakukan sebagai beban struktural sampai ada bukti performa operasional yang konsisten. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Terakhir, hambatan terbesar untuk mencapai potensi maksimal mereka itu datang dari 4 sumber yang saling mengunci. Risiko biologis bisa melumpuhkan produksi secara instan, terutama di CPRO dan juga relevan di CPIN. Volatilitas bahan baku dan komoditas menekan margin karena harga jagung dan bungkil kedelai global sering bergerak di luar kontrol manajemen, sementara pass-through ke pelanggan tidak selalu mulus.

Eksposur kurs muncul karena impor bahan baku dan sebagian liabilitas dalam USD, sehingga pelemahan rupiah menambah biaya dan bisa memukul laba. Lalu constraint dari perbankan berupa covenants membuat ruang gerak investasi dan restrukturisasi terbatas, bahkan CPRO sudah mengantisipasi kemungkinan perlu meminta waiver atau perpanjangan jika rasio tidak terpenuhi. Syarat agar sisi bagusnya menang adalah kombinasi disiplin hedging natural atau kontraktual, manajemen modal kerja yang ketat, pengendalian penyakit lewat biosecurity, dan struktur pendanaan yang tidak membuat perusahaan tersandera covenants ketika siklus turun. Dari bukti yang ada, ekosistem dan transaksi internalnya jelas nyata, tetapi beberapa syarat kunci seperti pembuktian manfaat royalti, ketahanan terhadap risiko biologis, dan fleksibilitas covenants terutama di CPRO, masih harus dibuktikan lewat konsistensi angka operasional dan perbaikan neraca, bukan sekadar narasi grup.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Pengen masuk banyak agak susah juga om, cantik $BISI nih sebenarnya walau CFO nya bikin geleng geleng kepala πŸ—Ώ semoga ada bandar yang berani markdown πŸ˜‹

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BISI Barang di Market Kering

Transaksi harian dalam sebulan terakhir tidak pernah sampai 1 Milyar.
Harga saham di tahan di range harga 800-900
Belum ada yang berani markdown dan markup
Status quo.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/10

testestestestestestestestestes

$BISI izin tag saham yang aku suka tapi kinerja lagi kurang bagus πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

walaupun indonesia sudah berhasil swasembada beras.
$NASI $HOKI $BISI kalian tetap harus melawan
operasi pasar nya BULOG

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

kalah sama tanahnya Narji donk $BISI, yg udah punya 1000 hektar sawah nih...mending Narji bikin perusahaan n ikut IPO aja...wkwkwkkwk πŸ˜…πŸ€£πŸ˜‚πŸ˜„πŸ˜œ

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BISI Harus Lebih Agresif Jual Barang

BISI ini perlu lebih agresif menjual barang. Zero debt memang terdengar seperti benteng, tapi benteng yang kasnya bocor tetap bikin investor tidak nyaman. Ketika laba masih positif tapi arus kas operasi justru negatif, itu sinyal ada satu bagian mesin yang lagi macet, biasanya modal kerja. Di BISI, mesin penagihan sudah membaik, tapi gudangnya keburu gemuk, sehingga kas keburu terkunci di persediaan. Kalau situasi ini dibiarkan terlalu lama, perusahaan seperti sedang menabung dalam bentuk barang, bukan menabung dalam bentuk kas, dan itu membuat ruang manuver bisnis jadi menyempit. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Dari sisi skala aset tetap, BISI itu unik karena porsi tanahnya besar dan nilainya di buku terlihat kecil sekali. Grup punya lahan legal HGB dan Hak Pakai total 2.514.488 m2, dengan nilai buku tanah Rp391,59 B. Kalau dibagi kasar, nilai buku tanahnya sekitar Rp155.734 per m2, ini level yang sangat rendah untuk aset yang luasnya 2,5 juta m2. Secara struktur nilai buku neto aset tetap, tanah menyumbang 47,8% dari total NBV aset tetap Rp818,56 B, sementara mesin dan peralatan 16,9% dengan pertumbuhan paling agresif +39,97%. Bangunan 16,2% dan relatif stabil +0,34%, lalu aset dalam penyelesaian 6,1% turun -13,02% yang biasanya berarti proyek mulai selesai dan direklasifikasi ke aset siap pakai. Maknanya, di atas kertas BISI punya sleeping asset yang besar, tapi manajemen juga tetap menambah kapasitas lewat mesin, jadi arah operasionalnya bukan sekadar duduk di tanah, melainkan memperkuat produksi. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Namun buat investor, pembahasan tanah itu sering jadi distraksi kalau tidak disandingkan dengan pola kas. CFO 9M 2025 negatif Rp150,60 B, padahal 9M 2024 masih positif Rp31,35 B. Rasio CFO terhadap laba pemilik entitas -1,66 kali, anjlok dari 0,25 kali, artinya laba sekarang belum berubah jadi kas, malah kas keluar lebih besar daripada laba. Penyebab dominannya terlihat jelas, persediaan naik Rp451 B dari Rp1,47 T ke Rp1,92 T, sehingga persediaan menjadi 52,4% dari total aset dan menjadi pusat gravitasi risiko operasional. Statistiknya tegas, persediaan terhadap revenue 179,1% naik dari 145,3%, dan persediaan terhadap COGS 3,06 kali naik dari 2,75 kali. Dengan kata lain, untuk 9 bulan pertama, stok yang ditahan setara kira-kira tiga kali biaya pokok 9 bulan, ini gemuk sekali dan hanya masuk akal kalau penjualan berikutnya benar-benar menyerap stok tersebut dengan cepat.

Yang menarik, di saat persediaan membengkak, sisi piutang justru membaik drastis. Piutang terhadap revenue turun menjadi 25,7% dari 48,1%, dan penerimaan kas pelanggan Rp1,28 T melampaui pendapatan Rp1,07 T. Ini pola yang jarang, penjualan naik 6% tapi piutang turun 43,5% dan kas masuk dari pelanggan lebih besar daripada revenue, artinya perusahaan sukses mempercepat penagihan atau mengoleksi piutang lama. Statistik Revenue terhadap kas pelanggan 0,84 kali membaik dari 0,75 kali. Jadi masalah utama CFO negatif bukan karena macet tagih, melainkan karena uangnya diparkir di persediaan, dan parkir di persediaan itu ada biaya tersembunyi, yaitu risiko kualitas benih, risiko biologis, risiko obsolescence varietas, dan risiko diskon besar-besaran kalau pasar tidak menyerap tepat waktu. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Di sisi profitabilitas, tren margin sedang tertekan, dan ini menjelaskan kenapa perusahaan butuh lebih agresif menjual, tapi dengan strategi yang presisi, bukan sekadar banting harga. Revenue 9M 2025 naik 6% menjadi Rp1,07 T, namun COGS naik 17,4%, sehingga Revenue terhadap COGS turun ke 1,71 dari 1,89. GPM masih tinggi 41,5% dan tetap termasuk sangat bagus, tetapi turun dari 47,1%, jadi ada tekanan biaya yang nyata. Di luar COGS, ada lonjakan beban operasi lain dari Rp3,2 B menjadi Rp39,9 B, dan di dalamnya termasuk rugi penjualan produk sampingan dan persediaan. Ini nyambung dengan cerita persediaan gemuk, ketika stok terlalu besar, perusahaan sering dipaksa membersihkan barang yang kurang optimal lewat diskon atau channel tertentu, dan itu meninggalkan jejak rugi. Sementara itu beban penjualan turun lewat pemangkasan promosi penjualan dari Rp105 B menjadi Rp30 B, turun Rp75 B, ini membuat Revenue terhadap SGA 4,44 kali dan terlihat membaik, tapi ada trade-off, promosi turun bisa membuat perputaran persediaan melambat kalau tidak diganti dengan strategi distribusi yang lebih tajam.

Pola besar BISI jadi kelihatan kalau investor bandingkan tren dengan skala. Skala neraca kuat karena ekuitas Rp3,39 T dan zero debt, bahkan tidak ada aset yang dijaminkan, serta ada plafon kredit Rp550 B di CIMB Niaga $BNGA yang tersedia tapi tidak dipakai. Ini memberi opsi likuiditas kapan saja jika manajemen butuh bantalan, dan membuat risiko suku bunga jauh lebih kecil dibanding emiten agribisnis yang hidup dari pinjaman. Tetapi tren modal kerja sedang menelan kas, sehingga secara praktik BISI tetap mengalami cash burn operasional. Buat perusahaan, maknanya jelas, prioritasnya bukan mencari utang, melainkan mempercepat perputaran persediaan tanpa merusak positioning produk. Buat investor, fokus utamanya bukan sekadar melihat GPM yang tinggi, tapi memantau apakah persediaan mulai turun relatif terhadap revenue, apakah CFO kembali mendekati positif, dan apakah rugi terkait persediaan mengecil. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau BISI mau lebih agresif menjual barang, arah yang paling logis adalah mengubah stok gemuk menjadi kas dengan tetap menjaga margin dan reputasi kualitas. Pemangkasan promosi dari Rp105 B ke Rp30 B menunjukkan ada ruang untuk strategi jual yang lebih selektif, misalnya promosi yang lebih terarah ke wilayah dan musim tanam yang paling cepat menyerap, bundling benih dengan produk pendamping yang menaikkan ticket size, atau memperkuat channel yang paling cepat konversi kasnya. Karena penagihan sudah membaik, perusahaan punya fondasi cash collection yang kuat, jadi tinggal memastikan barang keluar dengan ritme yang sesuai, bukan menumpuk. Jika persediaan Rp1,92 T bisa diputar lebih cepat, CFO yang saat ini -Rp150,60 B akan membaik secara mekanis, dan BISI akan kembali terlihat seperti benteng yang benar-benar menghasilkan kas, bukan hanya benteng yang terlihat kokoh di neraca.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/7

testestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Lahan Tidur $BISI

Saham BISI itu unik karena punya tanah dengan luas 2,5 juta meter persegi tapi sayangnya dia bukan saham properti. Seandainya tanah berhektar-hektar seluas itu jadi properti dan tiap meter di jual 1 juta rupiah saja, itu bisa cuan banyak. Justru di sinilah letak godaannya, mata investor gampang terpancing oleh cerita aset tidur, padahal pasar biasanya menilai BISI dari mesin labanya, bukan dari mimpi konversi lahannya. Kalau investor terlalu fokus ke tanah, investor bisa melewatkan hal yang lebih menentukan, yaitu seberapa cepat BISI mengubah penjualan benih menjadi kas. Di agribisnis, laba itu sering terlihat rapi, tapi kasnya bisa jungkir-balik karena persediaan dan piutang menyedot napas harian. Jadi provokasinya begini, tanah seluas itu memang terlihat seperti jackpot, tapi yang menentukan harga diri bisnisnya tetap arus kas, disiplin modal kerja, dan kemampuan menjaga margin saat biaya produksi naik. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Tanah BISI seluas 2,51 juta meter persegi itu kurang-lebih setara dengan 251 hektar, skala yang memang besar untuk operasi benih, kebun produksi, dan uji varietas. Kalau investor pakai skenario kasar 1 juta per m2, nilai kotor lahannya berada di kisaran Rp2,50 T sampai Rp2,51 T. Angka ini tidak main-main karena ekuitas BISI per 30 September 2025 sekitar Rp3,39 T, artinya skenario nilai tanah tadi setara kira-kira 73,7% dari ekuitas. Secara statistik, ini menjelaskan kenapa banyak investor merasa BISI punya semacam safety net tersembunyi. Tapi ada jebakannya yang sering tidak disadari, tanah operasional seperti ini bukan tanah developer yang tinggal dipetak lalu dijual, ada batasan tata-ruang, perizinan, fungsi produksi, dan trade-off bisnis karena tanah itu bisa jadi jantung R&D plus supply benih. Jadi tanahnya lebih tepat dibaca sebagai opsi nilai, bukan sumber cuan yang bisa ditarik kapan saja tanpa mengganggu mesin utamanya. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Mesin utama BISI tetap ada di benih dan pestisida, dengan model kerja sama petani di mana perusahaan menyediakan benih induk dan bimbingan teknis, lalu petani memasok benih komersial. Secara skala, revenue 9M 2025 Rp1,07 T, naik 6% dan ini mengonfirmasi demand masih ada. Namun laba bersih justru turun tajam, profit 9M 2025 Rp90,65 B, kontraksi 27,4% dari Rp124,85 B. Polanya klasik, top line naik tapi bottom line turun, biasanya karena biaya naik lebih cepat daripada kemampuan menaikkan harga jual. Data yang paling menonjol, COGS naik 17,4% dan ini langsung menjelaskan kenapa margin turun. GPM masih tinggi 41,5% dan ini tetap bagus untuk ukuran industri, tapi penurunannya dari 47,1% memberi sinyal jelas bahwa daya tawar harga atau struktur biaya sedang menekan.

Yang membuat penurunan laba BISI terasa lebih tajam bukan cuma COGS, tapi lonjakan beban operasi lain. Angkanya melompat dari Rp3,2 B menjadi Rp39,9 B, naik Rp36,7 B atau sekitar 1.146,9%. Di dalamnya ada rugi penjualan produk sampingan dan persediaan, dan ini sering menjadi petunjuk yang menarik. Ketika perusahaan mulai mencatat rugi di penjualan persediaan, investor perlu bertanya, apakah ada clearance karena stok menumpuk, apakah ada penurunan kualitas, atau apakah ada mismatch antara produksi dan penyerapan pasar. Di saat yang sama, beban penjualan turun, terutama biaya promosi yang turun dari Rp105 B menjadi Rp30 B, turun Rp75 B atau sekitar 71,4%. Ini seperti dua sinyal yang bertolak belakang tapi sebenarnya nyambung, BISI mengencangkan biaya promosi, tapi di sisi lain muncul rugi terkait persediaan, sehingga narasi paling logisnya adalah perusahaan sedang menata ulang strategi dari push marketing ke efisiensi dan kontrol biaya, sambil menghadapi realitas biaya produksi yang naik. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

CFO BISI di LK Q3 2025 itu sayangnya negatif Rp150,60 B, padahal periode sebelumnya masih positif Rp31,35 B. Ini perubahan arah yang besar dan tipikal agribisnis yang padat modal kerja. Aset terbesar BISI adalah persediaan Rp1,92 T, sekitar 52,4% dari total aset, dan secara skala persediaan ini sangat dominan dibanding revenue Rp1,07 T. Secara statistik, persediaan setara sekitar 179,4% dari revenue dan sekitar 21,2 kali dari laba 9M 2025. Artinya uang tunai banyak terkunci di gudang benih, proses produksi, dan barang jadi, sehingga wajar CFO menjadi negatif. Ini bisa terjadi karena pola musiman, persiapan musim tanam, atau pengetatan supply chain, tapi risikonya jelas, stok sebesar itu rentan terhadap penurunan kualitas, perubahan preferensi varietas, cuaca, hama, dan potensi write-down jika penjualan melambat.

Di sinilah BISI jadi benar-benar unik dibanding emiten agribisnis lain, struktur modalnya. BISI tidak punya utang bank, debt-to-equity ratio 0,00, dan tidak ada aset yang dijaminkan. Dalam lingkungan suku bunga yang cenderung tidak ramah bagi perusahaan berutang, ini anomali yang positif. Secara pola risiko, BISI hampir steril dari tekanan bunga dan risiko refinancing. Namun investor jangan salah menangkap pesan, zero debt tidak otomatis berarti kas aman, karena CFO negatif menunjukkan tekanan datang dari modal kerja, bukan dari beban bunga. Jadi profil risikonya bukan risiko bank, melainkan risiko perputaran persediaan dan disiplin cash conversion. Inilah alasan kenapa BISI bisa terlihat sangat aman di neraca, tapi tetap bisa membuat kas seret di laporan arus kas. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Capex juga menambah konteks tentang arah manajemen. Belanja modal BISI mencapai Rp65,51 B untuk mesin, peralatan, dan pembangunan bangunan. Secara skala, capex ini setara sekitar 72,3% dari laba 9M 2025, cukup agresif untuk perusahaan yang labanya sedang turun. Jika investor gabungkan CFO negatif Rp150,60 B dengan capex Rp65,51 B, maka free cash flow kasar berada di sekitar negatif Rp216,11 B. Ini tidak otomatis buruk jika perusahaan memang sedang membangun kapasitas, memperkuat R&D, atau meng-upgrade fasilitas produksi, tapi untuk investor, angka ini memberi pesan bahwa dalam jangka pendek, kas keluar lebih kencang daripada kas masuk, walau tanpa utang bank sekalipun.

Di atas semua itu, ada satu kartu yang sering disebut sebagai hidden gem, tagihan pajak atau restitusi Rp200,57 B yang masih proses banding atau keberatan. Secara statistik, nilai ini setara sekitar 2,21 kali laba 9M 2025 dan setara sekitar 1,33 kali defisit CFO 9M 2025. Kalau skenario positif terjadi dan restitusi cair, itu bisa menjadi bantalan kas yang sangat signifikan, bisa menutup tekanan modal kerja sementara, atau memberi ruang untuk capex tanpa mengorbankan likuiditas. Sebaliknya, kalau prosesnya panjang, investor tidak boleh menghitungnya sebagai kas yang sudah pasti, melainkan sebagai opsi yang probabilitasnya harus didiskon. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Diversifikasi vendor dan pelanggan BISI juga memberi rasa stabil yang jarang ada di emiten kecil. Tidak ada vendor atau customer tunggal yang kontribusinya di atas 10%, jadi risiko ketergantungan relasi dagang relatif rendah. Ini penting karena bisnis benih sangat rentan pada satu-dua distributor besar, dan BISI terlihat berhasil menjaga sebaran kanal. Transaksi pihak berelasi dengan grup Charoen Pokphand $CPIN $CPRO untuk penjualan benih dan sewa juga bisa dibaca dua sisi. Sisi bagusnya, ekosistem grup biasanya memberi demand yang lebih stabil. Sisi yang harus diawasi, kewajaran terms dan pricing agar margin tidak tergerus secara diam-diam.

Sekarang balik ke cerita tanah tadi, supaya posisinya pas. Tanah 2,51 juta m2 memang terasa seperti harta karun, dan secara angka, skenario Rp1 juta per m2 menghasilkan nilai yang mendekati Rp2,5 T, sangat material terhadap ekuitas Rp3,39 T. Tapi investor yang paling rasional biasanya memperlakukan tanah ini sebagai penambah margin of safety, bukan sebagai tesis utama. Tesis utamanya tetap sederhana, BISI adalah pemimpin benih dengan margin kotor tinggi 41,5% dan struktur tanpa utang bank, tetapi sedang mengalami penurunan efisiensi karena COGS naik 17,4%, beban operasi lain melonjak, dan modal kerja mengunci kas sehingga CFO berubah negatif Rp150,60 B. Jadi pola yang perlu investor pantau bukan sekadar laba kuartalan, melainkan indikator yang lebih dalam, stabilitas GPM yang turun dari 47,1% ke 41,5%, pergerakan persediaan Rp1,92 T yang secara statistik terlalu besar dibanding revenue Rp1,07 T, serta apakah rugi terkait persediaan kembali normal atau justru membesar. Kalau tiga titik ini membaik, tanah menjadi bonus psikologis. Kalau tiga titik ini memburuk, tanah tidak banyak membantu karena masalahnya ada di perputaran bisnis, bukan di label aset di neraca. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

BISI 9M 2025 per 30 Sep 2025
🧬 Skala dan struktur
🏰 Utang bank 0, DER 0.00, tanpa agunan
🧺 Ekuitas 3.39 T, stok 1.92 T (52.4% aset)

πŸ“ˆ Tren laba vs biaya
πŸ’Ή Revenue 1.07 T +6%
πŸ“‰ Laba 90.65 B -27.4%
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

🧾 COGS +17.4%, beban lain 39.9 B dari 3.2 B
πŸ’§ CFO -150.60 B dari +31.35 B, kas ketahan di stok

🎯 Keunikan dan katalis
🟩 GPM 41.5% turun dari 47.1%, CFO margin -14.0% terlemah di 4 emiten
🧾 Klaim pajak 200.57 B, 🌍 tanah 2.51 juta m2
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/6

testestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Saham Bibit dan Pestisida: Sektor Saham yang Sangat Jarang Dibahas di Stockbit

Saham pupuk, bibit, dan pestisida di Indonesia itu jarang banget dibahas di Stockbit. Padahal sektor ini justru memegang tombol paling nyata dari ekonomi riil, karena ujungnya ketemu pangan, siklus tanam, dan produktivitas lahan. Yang bikin banyak orang enggan bukan karena bisnisnya sepi, tapi karena laporan keuangannya sering terlihat membingungkan, laba bisa naik tapi kas bisa habis. Di sektor seperti ini, angka paling sering menipu itu bukan revenue, melainkan rasa aman palsu saat investor cuma melihat profit tanpa mengecek arus kas operasional. Jadi kalau mau ngobrol serius tentang $DGWG, $BISI, $SAMF, dan NPGF, pusat gravitasi analisisnya ada di modal kerja, struktur utang, dan seberapa tahan bisnisnya saat biaya bahan baku dan suku bunga bergerak. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

DGWG dan SAMF adalah perusahaan pupuk dan pestisida yang berada di kelas multi-triliun, revenue mereka di LK Q3 2025 masing-masing Rp2,6 T dan Rp2,92 T. BISI satu tingkat di bawahnya, Rp1,0 T. NPGF masih kelas ratusan miliar, Rp131,8 B. Skala ini penting karena tren pertumbuhan harus dibaca bareng basisnya. NPGF revenue naik 31% terlihat kencang, tapi basis kecil membuat sedikit perubahan volume dan harga jual bisa langsung membuat grafiknya meletup. Sebaliknya, SAMF revenue turun 20% itu penurunan yang terasa nyata karena basisnya besar, dan biasanya menandakan demand industri melemah, pergeseran pangsa pasar, atau kedua-duanya.

Kalau investor melihat arah laba bersih, polanya terbagi jelas. DGWG profit Rp105,6 B dan masih tumbuh 12,1% dengan revenue naik 9,7%, ini pola ekspansi yang sehat di atas kertas karena top line dan bottom line sama-sama naik. BISI profit Rp90,7 B tapi turun 27,4% walau revenue masih naik 6%, ini pola tekanan biaya, dan data COGS naik 17,3% menguatkan ceritanya. SAMF profit Rp196,8 B turun 37,7% sejalan dengan revenue turun 20%, jadi ini bukan sekadar margin tergerus sedikit, melainkan fase kontraksi bisnis. NPGF profit Rp4,0 B naik 19,8% seiring revenue naik 31%, jadi pertumbuhan ada, tetapi skala laba masih sangat kecil dibanding tiga emiten lain. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Masuk ke kualitas margin, ada keunikan yang menarik. Gross profit margin (GPM) BISI 41,5% itu paling tinggi dan beda kelas dibanding DGWG 28,3%, NPGF 26,8%, dan SAMF 22,4%. Namun BISI membuktikan satu hal, margin kotor tinggi tidak otomatis melindungi laba kalau struktur biaya naik lebih cepat dari kemampuan menaikkan harga jual, karena profit tetap turun 27,4%. Operating profit margin (OPM) justru paling tinggi ada di SAMF 10,7%, lalu BISI 9,2%, NPGF 8,0%, DGWG 7,4%. Ini unik karena SAMF sedang kontraksi revenue, tapi efisiensi operating masih terjaga. Net profit margin (NPM) tertinggi juga BISI 8,4%, disusul SAMF 6,7%, DGWG 4,0%, NPGF 3,1%. Jadi dari sisi margin, BISI dan SAMF terlihat lebih tebal, tapi cerita kesehatannya baru lengkap kalau investor cek arus kas.

Di sinilah sektor ini biasanya memperlihatkan wajah aslinya, cash flow from operations (CFO). Tiga dari empat emiten CFO negatif, DGWG negatif Rp170,3 B, BISI negatif Rp150,6 B, NPGF negatif Rp5,3 B. Hanya SAMF yang CFO positif Rp165,4 B. Penyebab utama CFO negatif juga bukan hal kecil, DGWG mengalami lonjakan persediaan Rp466 B, BISI juga heavy inventory build-up, NPGF terlihat tertekan modal kerja dan skala utang jangka pendek. Polanya jadi konsisten, uang banyak terkunci di gudang dan piutang, sehingga laba di laporan laba rugi tidak berubah menjadi kas. Ini bukan salah atau benar secara otomatis, karena dalam agribisnis kadang persediaan memang dinaikkan untuk musim tanam, tapi dari sisi risiko, CFO negatif panjang adalah alarm yang selalu relevan. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Persediaan DGWG Rp1,42 T setara sekitar 54,6% dari revenue Rp2,6 T. Persediaan BISI Rp1,92 T setara sekitar 192,0% dari revenue Rp1,0 T, ini ekstrem dan menjelaskan kenapa CFO bisa negatif besar walau BISI tidak punya utang bank. Persediaan SAMF Rp1,13 T setara sekitar 38,7% dari revenue Rp2,92 T, lebih ringan dibanding DGWG dan jauh lebih ringan dibanding BISI, lalu SAMF tetap bisa menjaga CFO positif. NPGF punya pola berbeda, piutang usaha Rp133,3 B sedikit lebih besar dari revenue Rp131,8 B, sekitar 101,1%, jadi tekanan kasnya lebih condong ke penagihan, terms pembayaran, dan konsentrasi pelanggan.

Struktur utang membuat risiko tiap emiten terasa beda karakternya. BISI itu outlier paling aman dari sisi perbankan karena bank debt nol dan debt-to-equity ratio 0,00, plus tidak ada aset yang dijaminkan. Namun konsekuensinya, investor harus ekstra disiplin membaca persediaan, karena meski tanpa utang bank, CFO tetap negatif dan persediaan sangat besar relatif terhadap revenue. DGWG berada di spektrum agresif, pinjaman bank dan overdraft Rp1,08 T, lalu penerimaan penarikan pinjaman baru Rp1,86 T di 9M 2025, sementara CFO negatif. Secara sederhana, ini pola pertumbuhan yang dibiayai fasilitas, dan risiko terbesarnya muncul jika bank mengetatkan limit, bunga naik, atau perputaran persediaan melambat. SAMF terlihat lebih stabil secara pembiayaan, pinjaman bank Rp796,6 B, CFO positif Rp165,4 B, dan bunga Rp62 B masih tertutup oleh CFO, jadi mesin kasnya masih bekerja untuk melayani utang. NPGF paling rawan secara proporsi, utang bank jangka pendek Rp85,46 B sementara profit hanya Rp4,0 B, lalu CFO negatif, sehingga perusahaan bergantung pada penerimaan pinjaman baru Rp60,5 B untuk menutup kebutuhan dan jatuh tempo. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Rasio profitabilitas terhadap modal juga memberi sinyal kualitas laba dan efisiensi pemakaian ekuitas. Return on equity (ROE) tertinggi SAMF 12,7%, lalu DGWG 10,3%, BISI 2,7%, NPGF 1,7%. Return on assets (ROA) juga paling tinggi SAMF 6,1%, sementara DGWG 3,0%, BISI 2,5%, NPGF 1,2%. Ini menarik karena BISI punya margin kotor paling tebal, tapi ROE rendah, biasanya terjadi ketika ekuitas besar dan laba sedang turun, atau aset produktifnya menumpuk di persediaan yang belum berputar menjadi kas. SAMF terlihat paling efektif mengubah aset dan ekuitas menjadi laba, walau revenue sedang turun, yang berarti manajemen biaya dan struktur operasi masih relatif terkendali.

Kalau investor mau melihat skala operasional lewat produktivitas tenaga kerja, perbedaannya juga unik. DGWG punya 823 karyawan dengan revenue Rp2,6 T, kira-kira Rp3,16 B per karyawan, dan profit sekitar Rp128 M per karyawan. BISI 1.159 karyawan dengan revenue Rp1,0 T, kira-kira Rp0,86 B per karyawan, dan profit sekitar Rp78 M per karyawan, ini menunjukkan model bisnisnya lebih padat aktivitas dan distribusi, atau biaya tenaga kerja dan jaringan lebih besar. SAMF 561 karyawan dengan revenue Rp2,92 T, kira-kira Rp5,21 B per karyawan, dan profit sekitar Rp351 M per karyawan, ini paling tinggi secara profit per karyawan, sinyal efisiensi skala pabrik dan komposisi produk. NPGF hanya 26 karyawan dengan revenue Rp131,8 B, kira-kira Rp5,07 B per karyawan, profit sekitar Rp155 M per karyawan, jadi secara angka terlihat produktif, tapi ini juga efek dari struktur yang kecil dan sangat terpusat, sehingga perubahan kecil di penjualan dan piutang bisa langsung mengguncang arus kas. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Konsentrasi vendor dan customer membuat risiko rantai pasok dan penjualan tidak merata. DGWG punya top vendor 16,2% dan top customer 11,3%, konsentrasi ada tapi masih moderat. BISI paling rapi karena tidak ada single vendor atau customer di atas 10%, sehingga risiko ketergantungan lebih rendah. SAMF punya konsentrasi vendor tinggi, PT Jafa Petrochem 31,9% dan Fertistream 24,4%, total 56,3%, ini membuat risiko supply dan harga bahan baku jadi faktor utama yang bisa menggeser margin. NPGF punya konsentrasi customer besar, dua customer utama 23,1% dan 21,8%, total 44,9%, untuk perusahaan kecil ini bisa menjadi mesin pertumbuhan, tapi juga membuat posisi tawar dan risiko piutang jadi sensitif.

Transaksi pihak berelasi dan sengketa pajak menambah lapisan risiko yang sering diabaikan investor. DGWG punya sengketa pajak Rp76,2 B dan RPT berupa sewa dari pemilik serta pembelian dari pihak terkait, ini perlu dilihat kewajaran harganya karena bisa mempengaruhi margin dan stabilitas biaya. BISI punya klaim pajak Rp200,5 B dan RPT penjualan ke grup Charoen Pokphand, ini bisa memberi captive demand, tapi investor tetap perlu peka pada risiko terms internal grup. SAMF punya sengketa pajak relatif kecil Rp1,95 B, namun ada utang usaha pihak berelasi Rp189,6 B, yang bisa berfungsi sebagai fleksibilitas modal kerja, tapi juga bisa menjadi sumber tekanan jika terms berubah. NPGF paling sensitif karena 42,7% pembelian berasal dari pihak berelasi, untuk skala kecil ini adalah ketergantungan yang besar dan berpotensi mengunci struktur biaya serta keberlanjutan pasokan.

DGWG mengalami selling expense yang naik 5,5% dan karyawan naik 6,5%, cocok dengan fase ekspansi plus pembangunan pabrik Cikande dan penambahan mesin, capex Rp81,3 B. BISI selling expense turun 21,5% walau karyawan naik 6,4%, terlihat ada upaya efisiensi distribusi atau promosi, tetapi tetap kalah oleh kenaikan COGS, sehingga laba turun. SAMF selling expense turun 21% dan karyawan naik tipis 2,9%, ini pola bertahan dan mengencangkan ikat pinggang saat revenue turun. NPGF selling expense naik 114% dengan jumlah karyawan tetap, ini biasanya strategi mendorong penjualan, namun risikonya muncul jika kenaikan biaya tidak diikuti perputaran kas yang membaik, apalagi CFO masih negatif. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

BISI itu neraca paling aman tapi modal kerja paling berat, DGWG itu ekspansi yang hidup dari fasilitas dan butuh disiplin persediaan, SAMF itu yang paling seimbang karena CFO positif dan mampu melayani bunga di tengah kontraksi, NPGF itu growth tinggi dari basis kecil tapi paling rentan karena leverage terhadap laba besar, CFO negatif, konsentrasi pihak berelasi tinggi, dan ketergantungan customer besar. Sentimen optimis biasanya menempel ke DGWG karena pabrik baru, ke BISI karena tanpa utang dan GPM 41,5%, ke SAMF karena CFO positif serta dividen Rp194 B, dan ke NPGF karena pertumbuhan cepat. Sentimen pesimis biasanya menempel ke DGWG karena CFO negatif dan pola rolling pinjaman, ke BISI karena profit drop 27,4% plus COGS naik 17,3%, ke SAMF karena revenue turun 20% yang bisa menandakan pelemahan demand, dan ke NPGF karena ketergantungan pembelian pihak berelasi 42,7% serta utang yang besar relatif terhadap profit. Dalam sektor seperti ini, investor yang unggul biasanya bukan yang paling cepat menangkap cerita growth, tapi yang paling disiplin memantau perputaran persediaan dan piutang, karena di sanalah kas sering menguap tanpa terasa, lalu risiko baru terlihat saat perusahaan mulai makin bergantung pada bank untuk menjaga operasional tetap jalan.

Saham Pupuk dan Pestisida Pertanian

1. πŸ§ͺ DGWG
πŸ‘‘ David Yaory 72.34%
πŸ“¦ Persediaan 1.42 T, agunan
πŸ’° Laba 105.6 B, CFO -170.3 B
🏦 Utang 1.08 T, capex 81.3 B, pajak 76.2 B

2. 🌽 BISI
πŸ›‘οΈ Utang bank 0
πŸ“¦ Persediaan 1.92 T, tanpa agunan
πŸ“‰ Laba 90.7 B, CFO -150.6 B

3. 🧯 SAMF
βœ… CFO 165.4 B, bayar bunga dan jatuh-tempo
🧾 Piutang 1.30 T, agunan
πŸ“‰ Laba 196.8 B, utang 796.6 B

4. 🧫 NPGF
πŸ’Ή Laba 4.0 B, CFO -5.3 B
πŸ”— RPT pembelian 42.7%
🏦 Utang 85.5 B, skala kecil

πŸ”Ž Pola lintas emiten
πŸ“¦ Modal kerja membengkak, kas ketarik, kecuali SAMF
🏰 Neraca paling aman BISI, risiko tertinggi NPGF

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/7

testestestestestestes

πŸ“Š 20 TRANSAKSI INSIDER TERBARU
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
πŸ“ˆ Ringkasan 30 Hari Terakhir:
* Total Saham: 17 emiten
* Pembelian: 7 | Penjualan: 13
* Sentiment: πŸ”΄ NET SELL

πŸ“‹ Detail Transaksi:

1. 🟒 $TOWR - 14/01/2026
πŸ‘€ EKO SANTOSO HADIPRODJO
πŸ“ BUY | Direksi
πŸ“Š Volume: 35.61M lembar

2. πŸ”΄ $BISI - 14/01/2026
πŸ‘€ UBS AG, LONDON
πŸ“ SELL |
πŸ“Š Volume: 25.00M lembar

3. πŸ”΄ $FOLK - 14/01/2026
πŸ‘€ SUMBER GARAM PRATAMA
πŸ“ SELL |
πŸ“Š Volume: 66.74M lembar

4. πŸ”΄ HOPE - 14/01/2026
πŸ‘€ CELEBES MINING RESOURCES
πŸ“ SELL |
πŸ“Š Volume: 105.39M lembar

5. 🟒 BYAN - 14/01/2026
πŸ‘€ null
πŸ“ BUY | Pengendali, Direksi
πŸ“Š Volume: 2.50K lembar

6. πŸ”΄ KMDS - 14/01/2026
πŸ‘€ MIKI OJISAN INDOMITRA
πŸ“ SELL |
πŸ“Š Volume: 11.47M lembar

7. 🟒 MICE - 13/01/2026
πŸ‘€ BUANA GRAHA UTAMA
πŸ“ BUY | Pengendali
πŸ“Š Volume: 400.00K lembar

8. 🟒 BREN - 13/01/2026
πŸ‘€ PRAJOGO PANGESTU
πŸ“ BUY | Pengendali
πŸ“Š Volume: 1.33M lembar

9. 🟒 PTSP - 13/01/2026
πŸ‘€ BANK OF SINGAPORE LIMITED
πŸ“ BUY |
πŸ“Š Volume: 20.00K lembar

10. πŸ”΄ MAXI - 13/01/2026
πŸ‘€ GARRET SURYOWIJOYO KAR...
πŸ“ SELL | Direksi
πŸ“Š Volume: 7.02M lembar

11. 🟒 ULTJ - 13/01/2026
πŸ‘€ SUHENDRA PRAWIRA WIDJAJA
πŸ“ BUY | Komisaris
πŸ“Š Volume: 1.52M lembar

12. πŸ”΄ GULA - 13/01/2026
πŸ‘€ ANDREAS UTOMO
πŸ“ SELL | Pengendali, Direksi
πŸ“Š Volume: 20.00M lembar

13. πŸ”΄ TRIN - 13/01/2026
πŸ‘€ RADA SARASWATI SURYA
πŸ“ SELL | Komisaris
πŸ“Š Volume: 45.51M lembar

14. πŸ”΄ AKPI - 13/01/2026
πŸ‘€ HENRY LIEM
πŸ“ SELL | Komisaris
πŸ“Š Volume: 166.70K lembar

15. 🟒 BYAN - 13/01/2026
πŸ‘€ null
πŸ“ BUY | Pengendali, Direksi
πŸ“Š Volume: 4.50K lembar

16. πŸ”΄ BUMI - 13/01/2026
πŸ‘€ Chengdong Corporation
πŸ“ SELL |
πŸ“Š Volume: 881.41M lembar

17. πŸ”΄ BUMI - 13/01/2026
πŸ‘€ HSBC-FUND SVS A/C CHEN...
πŸ“ SELL |
πŸ“Š Volume: 3.09B lembar

18. πŸ”΄ DADA - 12/01/2026
πŸ‘€ KARYA PERMATA INOVASI ...
πŸ“ SELL | Pengendali
πŸ“Š Volume: 600.00M lembar

19. πŸ”΄ ARKO - 12/01/2026
πŸ‘€ ARKORA BAKTI INDONESIA
πŸ“ SELL | Pengendali
πŸ“Š Volume: 87.85M lembar

20. πŸ”΄ MAXI - 12/01/2026
πŸ‘€ CAROLINA RENATA DJAJA
πŸ“ SELL | Direksi
πŸ“Š Volume: 4.00M lembar

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
πŸ“Š Aktivitas per Saham:
* 🟒 BYAN: 2 beli, 0 jual
* πŸ”΄ MAXI: 0 beli, 2 jual
* πŸ”΄ BUMI: 0 beli, 2 jual
* 🟒 TOWR: 1 beli, 0 jual
* πŸ”΄ BISI: 0 beli, 1 jual
* πŸ”΄ FOLK: 0 beli, 1 jual
* πŸ”΄ HOPE: 0 beli, 1 jual
* πŸ”΄ KMDS: 0 beli, 1 jual
* 🟒 MICE: 1 beli, 0 jual
* 🟒 BREN: 1 beli, 0 jual

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
πŸ’‘ Tips:
* Perhatikan pola akumulasi/distribusi

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BISI 13 Jan 26
Investor: UBS AG SINGAPORE BRANCH
Action: SELL
Shares Traded: -25,000,000 (-0.8334%)
Current: 158,977,000 (5.2992%)
Previous: 183,977,000 (6.1326%)
Broker: -
Investor Type: Foreign
Source: KSEI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BISI $JPFA

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$MAIN udah terbang , $BISI kapan , mm udah bawa bekel daru tahun lalu padahal

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BISI

Pola musim tanam jagung yang normalnya terjadi pada Q4 setiap tahun bisa menjadi salah satu faktor kunci kinerja BISI di akhir tahun.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$CPRO beda Empire dgn salim Pak.
Backernya CP Group melalui bos Benjamin Jiaravanon dmn Keluarga Jiaravanon / Cheravanont ini Konglo dr Negeri Tetangga Thailand, Group ini juga merupakan Pengendali dr $CPIN Dan $BISI.

$EPMT $UCID $BISI
assalamualaikum wr. wb
Halo Para Investor Di Stockbit,
Saya adalah mahasiswa S1 dari IAI SYAICHONA MOHAMMAD CHOLIL BANGKALAN, nama saya Abd Mu'ti (NIM 11629220001) yang sedang menyusun skripsi dengan judul β€œPengaruh Analisis Fundamental terhadap Minat Investasi Saham Syariah di Stockbit."

Saya memohon kesediaan Anda untuk meluangkan waktu Β±4 menit untuk mengisi kuesioner ini. Seluruh jawaban akan dijaga kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk keperluan akademik.
Partisipasi Anda sangat berarti dalam membantu kelancaran penelitian ini. Terima kasih atas perhatian dan bantuannya. πŸ™

https://cutt.ly/Ltheuh1f

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

βœ… Produksi jagung Indonesia juga masih terjaga pertumbuhannya.

https://cutt.ly/Athq6mkI

$BISI $CPIN $MAIN

$BISI cicil dl aja..

$IHSG $BISI dan $DGWG adakah yang masuk ke bisnis Agritech?

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BIKE

⚑ SCALPING PLAN: BIKE

🟒 Entry
Buy Breakout: > 785 (Valid jika harga mampu menembus batas atas konsolidasi terakhir dengan volume yang signifikan).

Buy on Support: 740 – 755 (Mengambil posisi saat harga melakukan koreksi sehat ke area demand bawah).

🎯 Take Profit
TP 1: 800 – 825 β†’ jual 60% (Area resisten psikologis dan zona distribusi minor sebelumnya).

TP 2: 860 – 880 β†’ jual sisa (Target jangka menengah untuk menguji kembali area EMA yang lebih tinggi).

πŸ”΄ Stop Loss
SL agresif: 725.

Daily close < 715 β†’ CUT LOSS mutlak (Menghindari risiko penurunan lanjutan menuju area 650).

⚠️ Catatan Cepat
Momentum Alert: Pantau pertumbuhan histogram MACD; jika histogram mengecil kembali ke arah nol, segera amankan profit atau modal Anda.

Karakter Saham: BIKE memiliki likuiditas yang cukup namun pergerakannya sering kali lambat; jangan memaksakan posisi jika volume transaksi harian sepi.

Volume Check: Kenaikan di atas 780 harus disertai volume beli yang lebih besar dari rata-rata 5 hari terakhir untuk mengonfirmasi kekuatan breakout.

Jangan Lupa Follow!

Random Tag :

$BISI $BIKA

Read more...

$DGWG harga udah di atas MA20 siap lepas landas.

Saya yang bekerja di pertanian harus mengakui DGWG ini agresif di lapangan. Salah satu pesaing $BISI dari sekian banyak pesaing lainnya.

Apakah BISI tinggal diam? tidak juga, mereka mulai masuk ke area mekanisasi dengan meluncurkan combine harvester.

DGWG valuasi lebih premium daripada BISI dengan growth lebih baik, sementara BISI valuasi lebih murah turn around dividend stabil.

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BISI chartnya sudah tembus MA20, siap lepas landas πŸ˜…

$BFIN
$GDYR
$BISI
HOKI

mana yg lebih berkemungkinan utk up 2026πŸ™

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Analisa saham pemula

cash flow operasional nya terganggu dimana pengeluaran untuk pemasok lebih cepat dibandingkan uang yang datang dari penerimaan pelanggan, hal ini menekan cas flow yang di miliki $BISI
Dampak nya cash yang diperoleh dari
( Digunakan untuk ) aktivitas intinya minus ( 42.428 )

Lalu dengan arah Investasi bisnis perusahaan, manajemen mengalihkan dari yang biasanya melakukan perolehan langsung sekarang ke Hak Guna, Mungkin tujuannya untuk menjaga kas supaya tetap hidup

Dari pada harus nombok atau cari Permodalan lagi, Namun sejauh ini nilai ekuitas nya masih tergolong aman dibandingkan kewajiban nya

Masalah utamanya adalah kenaikan dan kecepatan cash flow nya dimana penjualan menurun, namun biaya beban naik

Perusahaan sudah melakukan upaya mendorong penjualan produk sampingan namun hasilnya gagal, atau belum berhasil sehingga membukukan kerugian ( Beban )
tercatat pada kerugian

Tanda tanda seperti ini memberikan sinyal bahwa industri nya memasuki fase Red ocean,Dimana persaingan mulai bermunculan, menekan keuntungan dan memperlambat pertumbuhan

Apakah andalan Bisi 18,21 tongkol masih bisa diharapkan dalam persaingan bisnis benih jagung ?

Atau mungkin perlu jualan benih sawit πŸ˜‚

kesimpulan nya
BISI dari mesin utama nya jualan jagung masih bagus, growth namun perlu inovasi benih benih lainnya sebelum nya benih sayuran perform bagus,namun periode ini turun , Inovasi akan jadi kunci karena persaingan industri benih semakin keras

Random tag
$SGRO$BKSW

Read more...

1/4

testestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BISI invest sampai "miskin" menuju ke "kaya" akan datang

$BISI menarik, harga ud all time low... watchlist.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BISI lah πŸ‘Œ

2013-2026 Stockbit Β·AboutΒ·ContactHelpΒ·House RulesΒ·TermsΒ·Privacy