


Volume
Avg volume
PT Bali Towerindo Sentra Tbk merupakan salah satu perusahaan penyedia jasa penyewaan menara telekomunikasi terkemuka di Propinsi Bali. Perseroan menyewakan menara telekomunikasi untuk instalasi dan pemasangan antena dan peralatan lain dengan transmisi sinyal telekomunikasi nirkabel dan fibre optic terintegrasi berdasarkan perjanjian jangka panjang dengan operator-operator telekomunikasi di Indonesia. Pada tahun 2017 Perseroan memperoleh izin penyelenggaraan layanan Internet Protocol Television (IPTV)
Ekspansi Perusahaan Menara Telekomunikasi, Mana yang Paling Sehat Ekspansinya
Request salah satu user Stockbit bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Tidak semua perusahaan menara di IHSG tumbuh dengan cara yang benar-benar menggambarkan kesehatan bisnisnya. Banyak investor melihat revenue growth lalu langsung menyimpulkan bisnisnya membaik, padahal yang lebih baik itu adalah melihat growth dari kombinasi laba, arus kas, capex, dan utang dalam satu tarikan napas. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Di bisnis menara, angka laba bisa kelihatan bagus karena faktor akuntansi, sementara kasnya justru biasa saja, atau kebalikannya kasnya besar karena pelepasan modal kerja, tapi bukan mesin uang yang stabil. Ada juga emiten yang revenue-nya naik, tapi rugi makin dalam karena beban bunga dan struktur utang yang belum ketutup oleh skala. Jadi kalau investor mau menilai siapa yang benar-benar bertumbuh, kuncinya bukan satu metrik, tapi apakah pertumbuhan itu menghasilkan kas bebas yang konsisten sambil menurunkan risiko utang.
Kalau dilihat dari skala 9M 2025, tiga raksasa revenue sektor menara masih jelas urutannya, PT Sarana Menara Nusantara Tbk ($TOWR) sekitar Rp9,69 triliun, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk ($MTEL) sekitar Rp6,88 triliun, lalu PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) sekitar Rp5,16 triliun. Setelah itu jurangnya lebar, PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (CENT) Rp1,88 triliun, PT Solusi Tunas Pratama Tbk SUPR (STP) Rp1,36 triliun, PT Bali Towerindo Sentra Tbk ($BALI) Rp0,92 triliun, PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) Rp0,63 triliun, dan PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk (GHON) Rp0,16 triliun. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Skala ini penting karena bisnis menara itu permainan kepadatan aset dan kontrak jangka panjang, makin besar portofolio biasanya makin stabil, tapi konsekuensinya makin berat juga struktur utang dan kebutuhan efisiensi operasionalnya. Di titik ini, investor sudah bisa melihat kenapa growth antar emiten tidak bisa dibandingkan mentah-mentah, karena basisnya beda jauh, BALI tumbuh 2 digit terlihat heboh, tapi nominal tambahannya tetap tidak sebesar gerak kecil di TOWR atau TBIG.
Masuk ke laba bersih 9M 2025, TOWR mencetak sekitar Rp2,55 triliun, MTEL Rp1,54 triliun, TBIG Rp1,15 triliun, STP Rp0,94 triliun, IBST Rp0,27 triliun, BALI Rp0,14 triliun, GHON Rp0,06 triliun, sementara CENT rugi sekitar Rp1,47 triliun. Dari sini terlihat pola yang sering bikin investor salah tafsir, STP punya net margin sekitar 68,66% dan IBST sekitar 42,31%, terlihat seperti mesin uang super, padahal di sektor infrastruktur angka margin setinggi ini sering dipengaruhi komponen non-operasional, pembalikan pencadangan, atau efek basis yang kecil.
TOWR, MTEL, dan TBIG justru memberi gambaran margin yang lebih masuk akal untuk bisnis menara yang matang, sekitar 26,36% untuk TOWR, 22,41% untuk MTEL, dan 22,25% untuk TBIG, ini biasanya lebih bisa dipakai sebagai acuan kualitas earning yang repeatable. CENT adalah contoh paling gamblang kenapa revenue growth tidak otomatis sehat, revenue naik 3,01% tapi rugi melebar, artinya struktur biaya dan beban keuangan belum ketutup oleh skala. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sekarang bagian yang paling jujur di bisnis menara, arus kas operasi atau CFO. TOWR menghasilkan CFO sekitar Rp8,58 triliun, MTEL Rp5,68 triliun, TBIG Rp4,24 triliun, CENT Rp1,54 triliun, STP Rp1,33 triliun, IBST Rp0,88 triliun, BALI Rp0,49 triliun, GHON Rp0,13 triliun. Rasio CFO terhadap revenue ini menarik karena menara itu bisnis sewa yang kasnya biasanya deras, TOWR sekitar 88,59%, MTEL 82,53%, TBIG 82,05%, CENT 81,92%, bahkan STP 97,67%. IBST terlihat ekstrem di 140,20%, ini hampir pasti ada cerita modal kerja, misalnya penagihan piutang lama, renegosiasi pembayaran, atau penerimaan kas yang tidak sebanding dengan revenue periode berjalan, jadi bagus untuk pemulihan, tapi investor jangan menganggap ini pola permanen. BALI di sisi lain CFO terhadap revenue sekitar 52,84% yang relatif lebih rendah, ini bisa konsisten dengan mix bisnis yang lebih banyak komponen layanan di luar sewa menara murni, jadi kasnya tidak setebal pemain menara yang benar-benar mature.
Tren besar industrinya kelihatan dari capex. TOWR capex sekitar Rp2,30 triliun, MTEL Rp1,30 triliun, TBIG Rp1,26 triliun, CENT Rp0,45 triliun, STP Rp0,55 triliun, BALI Rp0,30 triliun, IBST Rp0,09 triliun, GHON Rp0,07 triliun. Secara tren, hampir semua pemain besar menurunkan capex secara tajam, TOWR turun 33,18%, MTEL turun 23,76%, TBIG turun 21,45%, CENT turun 10,85%, BALI turun 40,18%, ini memberi sinyal sektor sedang masuk fase panen kas, bukan fase bangun menara besar-besaran. Pengecualian paling mencolok adalah STP, capex melonjak 758,61%, ini biasanya berarti manajemen menekan rem beberapa tahun lalu dan sekarang mulai injak gas lagi, atau ada program ekspansi dan upgrade yang tertunda. GHON juga naik capex 23,31%, ini menunjukkan emiten kecil masih di fase membangun atau memperkuat portofolio, sehingga tren kas bebasnya bisa berbeda. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari gabungan CFO dan capex, keluar metrik yang paling disukai investor jangka panjang, free cash flow atau FCF. TOWR menghasilkan FCF sekitar Rp6,28 triliun, MTEL Rp4,38 triliun, TBIG Rp2,98 triliun, CENT Rp1,09 triliun, STP Rp0,79 triliun, IBST Rp0,80 triliun, BALI Rp0,19 triliun, GHON Rp0,06 triliun. Secara efisiensi, FCF terhadap revenue TOWR sekitar 64,80% dan MTEL 63,67% itu sangat tebal, menggambarkan bisnis yang sudah mapan, kontraknya panjang, dan kebutuhan capex relatif terkendali. TBIG juga kuat di sekitar 57,71%, CENT sekitar 57,83% dan STP 57,66%, tetapi untuk CENT investor wajib melihat konteks rugi besarnya, karena kas bisa saja kuat sementara laba jeblok akibat beban keuangan dan item non-kas, akhirnya yang menentukan tetap kemampuan menurunkan utang. IBST lagi-lagi terlihat ekstrem di 126,56%, bagus untuk fase pemulihan, tapi investor harus uji ulang di periode berikutnya apakah tetap setinggi itu atau kembali normal.
Bagian yang sering jadi pembunuh diam-diam di sektor menara adalah utang berbunga, apalagi kalau revenue tumbuh tipis tapi bunga jalan terus. Skala utang 30 September 2025 menunjukkan TOWR paling besar sekitar Rp45,27 triliun, lalu TBIG Rp30,69 triliun, CENT Rp20,87 triliun, MTEL Rp20,77 triliun, kemudian BALI Rp3,40 triliun, STP Rp1,44 triliun, IBST Rp1,30 triliun, GHON Rp0,48 triliun. Kalau investor bandingkan utang terhadap revenue, CENT paling berat karena debt to revenue sekitar 11,08x, TBIG sekitar 5,95x, TOWR 4,67x, sementara MTEL 3,02x, BALI 3,69x, GHON 3,02x, IBST 2,05x, dan STP paling ringan sekitar 1,05x. Ini menjelaskan kenapa CENT sangat rentan, revenue naik 3,01% tetapi rugi makin dalam, karena beban utangnya secara skala jauh lebih menekan dibanding kemampuan revenue-nya. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Trend utang juga membuka siapa yang growth-nya rapi dan siapa yang growth-nya berisiko. TOWR menurunkan utang 13,50% sambil menaikkan CFO 9,14% dan laba 3,05%, ini contoh pertumbuhan yang terkendali, tidak cuma tumbuh tapi juga merapikan neraca. TBIG menurunkan utang 4,00% sambil menaikkan CFO 6,78%, tetapi laba turun 4,96%, jadi ceritanya lebih ke tekanan profitabilitas jangka pendek walau kas masih kuat. STP menurunkan utang 22,26% dan laba naik 26,01% walau revenue turun 0,25%, ini sangat menarik karena deleveraging-nya nyata, tetapi lonjakan capex 758,61% berarti investor harus cek apakah fase reinvestasi ini akan menekan FCF beberapa kuartal ke depan. IBST menurunkan utang 33,69% dan membalik dari rugi besar menjadi laba Rp0,27 triliun, ini sinyal pemulihan neraca yang serius, biasanya terjadi setelah restrukturisasi atau perubahan pengendali, tetapi lagi-lagi kualitasnya perlu diuji apakah laba dan kasnya repeatable setelah efek pembersihan selesai.
Kalau investor mau melihat siapa yang paling mendekati definisi growth yang tepat, maka lihat keselarasan tiga hal, revenue tidak harus 2 digit, tapi laba tidak boleh memburuk, CFO harus ikut bicara, dan utang idealnya turun atau minimal tidak makin membebani. BALI adalah contoh growth yang tampak paling selaras di permukaan, revenue naik 22,16%, laba naik 32,17%, CFO naik 41,71%, ini jarang, artinya bukan cuma angka akuntansi, kasnya juga ikut melesat. Namun BALI masih punya pekerjaan rumah di utang, karena utang naik 11,62% dan kalau dihitung kasar dari kemampuan kas bebas 9M 2025, payback utangnya bisa sekitar 13,7 tahun, jadi growth-nya kencang, tapi struktur pembiayaannya belum seringan emiten yang lebih mapan. TOWR growth-nya tidak heboh, revenue naik 2,52%, tapi mesin kasnya makin kuat dan utang turun, ini tipe growth yang disukai investor defensif karena peluang kejutan buruknya lebih kecil.
MTEL adalah profil berbeda, bukan mengejar growth agresif, tapi menjaga stabilitas dan efisiensi. Revenue turun tipis 0,16% dan CFO turun tipis 0,61%, laba masih naik 0,61%, sementara capex turun 23,76% sehingga FCF tetap tebal sekitar Rp4,38 triliun. Utangnya naik 2,35% memang perlu dicatat, tetapi kalau investor ukur kemampuan bayar utang dengan kas bebas, estimasi payback sekitar 3,6 tahun, ini masih nyaman untuk bisnis infrastruktur yang kontraknya panjang. Jadi MTEL bukan yang paling cepat, tapi salah satu yang paling bisa diprediksi, dan di sektor menara, prediktabilitas itu sering lebih mahal daripada cerita pertumbuhan.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
TBIG berada di tengah-tengah antara cerita stabil dan cerita tekanan. Revenue naik 0,70% dan CFO naik 6,78% menunjukkan operasionalnya masih menghasilkan kas dengan baik, apalagi capex turun 21,45% sehingga FCF tetap besar sekitar Rp2,98 triliun. Tantangannya ada di laba yang turun 4,96%, jadi investor perlu curiga pada beban bunga, depresiasi, atau item biaya lain yang menekan, karena kasnya kuat tapi bottom line melemah. Dengan utang sekitar Rp30,69 triliun, estimasi payback kasar berbasis FCF sekitar 7,7 tahun, artinya TBIG masih butuh disiplin menjaga biaya pendanaan dan terus mengoptimalkan tenancy untuk mencegah cerita laba makin tipis.
CENT adalah studi kasus yang paling relevan untuk kalimat tidak semua perusahaan menara growth dengan tepat. Revenue naik 3,01% terlihat seperti kabar baik, CFO juga naik 0,98% dan FCF tetap positif sekitar Rp1,09 triliun, tapi rugi bersih melebar dan utang naik 3,44% dari awal tahun. Debt to revenue sekitar 11,08x itu sangat berat, jadi meskipun ada kas masuk, porsi besar bisa habis untuk biaya pendanaan dan perbaikan struktur keuangan. Di titik seperti ini, growth yang dibutuhkan bukan sekadar top line, tapi restrukturisasi biaya utang, perpanjangan tenor, atau penurunan bunga, karena kalau tidak, kenaikan revenue akan terus kalah cepat dari beban keuangan.
STP dan IBST menarik karena sama-sama menunjukkan tanda perbaikan yang terlihat nyata, tapi dengan karakter yang berbeda. STP laba naik 26,01% dan utang turun 22,26% itu kombinasi yang sehat, hanya saja investor harus mengawasi capex yang melonjak 758,61%, karena itu bisa jadi awal ekspansi yang bagus, atau justru awal fase kas bebas menipis kalau proyeknya tidak segera menghasilkan sewa. IBST menunjukkan pemulihan dramatis, revenue turun 1,45% tapi laba berbalik positif, CFO naik 46,68% dan utang turun 33,69%, ini biasanya menggambarkan emiten yang baru dibereskan neracanya, jadi kualitasnya akan terlihat lebih jelas setelah beberapa kuartal ketika efek pembersihan sudah lewat. GHON paling kecil, revenue turun 0,79% tapi laba naik 2,08% dan CFO naik 17,92% sambil tetap investasi capex naik 23,31%, ini cenderung cerita emiten kecil yang bertahan dan memperbaiki efisiensi, bukan mengejar skala cepat.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Tren industri menara di 2025 itu bukan lagi siapa paling banyak bangun menara, tapi siapa paling pintar memanen kas sambil menurunkan risiko utang. Pemenang skala dan kekuatan kas absolut masih TOWR, diikuti MTEL dan TBIG, karena FCF mereka masing-masing sekitar Rp6,28 triliun, Rp4,38 triliun, dan Rp2,98 triliun dalam 9 bulan. Pemenang momentum growth paling kencang adalah BALI, tetapi investor yang disiplin akan langsung menaruh catatan di kenaikan utangnya dan payback kas bebas yang masih panjang. Pemenang perbaikan neraca paling tegas adalah IBST dan STP karena utangnya turun besar, tetapi investor tetap perlu memastikan bahwa lonjakan kas atau laba mereka bukan sekadar efek sekali jalan, melainkan benar-benar berasal dari kontrak sewa dan utilisasi aset yang makin padat. Pada akhirnya, growth yang tepat di sektor menara itu sederhana, kas bebas naik, capex terkendali, dan utang turun, sisanya cuma dekorasi angka.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/8








ada gebrakan lagi nih buat para bobotoh/ Viking. ini baru rencana pak Glen yaa. 🙏
siap borong barudak misalnya jadi ipo di tahun ini?
izin tag
$ADRO $BOLA $BALI

STOCKWATCH.ID (BALI) – PT Lovina Beach Brewery Tbk (STRK) tengah menyiapkan strategi ekspansi global. Langkah ini guna mendorong pertumbuhan kinerja pada tahun 2026. Perusahaan menargetkan pendapatan dan laba bersih meningkat lebih tinggi daripada capaian 2025.
Kontribusi utama pendapatan diharapk...

stockwatch.id
KABARBURSA.COM - PT Lovina Beach Brewery Tbk dengan kode saham STRK menyiapkan strategi ekspansi global sebagai tumpuan utama untuk mendorong pertumbuhan kinerja pada 2026. Perusahaan menargetkan peningkatan pendapatan dan laba bersih dibandingkan tahun 2025, dengan kontribusi terbesar diharapkan be...

www.kabarbursa.com

KABARBURSA.COM – Emiten sektor makanan dan minuman PT Lovina Beach Brewery Tbk (STRK) mulai mengakselerasi strategi ekspansi bisnis ke pasar global melalui pengembangan produk minuman siap saji COCO BALI.
Langkah itu diklaim menjadi bagian dari upaya perseroan memperluas portofolio sekaligus menan...

www.kabarbursa.com

SAHAM : $NSSS
HARGA SAAT INI : 1.020
1️⃣ TREN & STRUKTUR HARGA (Swing View)
- Tren Utama : Sideways cenderung bullish
- Timeframe Acuan : Daily (Swing Trader)
- Catatan : Harga bergerak stabil di atas area demand setelah kenaikan, struktur swing masih aman selama support kunci bertahan
2️⃣ SUPPORT & RESISTANCE
- Support Minor : 980 – 1.000
- Support Kunci : 950
- Resistance 1 : 1.080
- Resistance 2 : 1.150 – 1.200
3️⃣ KONDISI VOLUME & BANDAR
- Volume relatif stabil saat koreksi → tekanan jual terbatas
- Kenaikan bertahap, belum terlihat distribusi besar
- Selama harga di atas 950 → masih dijaga
4️⃣ RISK / REWARD (WAJIB UNTUK SWING)
- Entry Acuan : 1.020
- Stop Loss : 950 (±6,9%)
- Target Swing : 1.180 (±15,7%)
- Risk : Reward : 1 : 2,3 → LAYAK
5️⃣ FUNDAMENTAL SINGKAT
- Emiten perkebunan kelapa sawit
- Sensitif terhadap harga CPO & kebijakan ekspor
- Cocok untuk swing sektor agribisnis hingga mid-term dengan disiplin stop loss
📌 KESIMPULAN SWING TRADER
NSSS layak dipantau untuk swing trading selama bertahan di atas support kunci 950.
Peluang kenaikan ke area 1.080–1.180 masih terbuka dengan risiko terukur.
Analisa ini panduan ya Boss, eksekusi tetap kembali ke gaya trading Boss.
Ketik nama sahamnya Boss, contohnya $AEGS $BALI. DM “mau” jika ingin dianalisa sahamnya
3 SKENARIO ENTRY SAHAM $KAEF (Swing Trader Plan)
Harga sekarang: 515
1) SKENARIO ENTRY SEKARANG (Moderate Entry)
- Entry: 500 – 530
- Stoploss: < 480
- TP1: 550
- TP2: 580 – 620
Alasan: Harga lagi bertahan di area demand kuat, Boss. Selama 480 aman, peluang rebound masih terbuka.
2) SKENARIO ENTRY PULLBACK (Conservative – Paling Aman)
- Entry: 480 – 495
- Stoploss: < 460
- TP1: 515
- TP2: 550 – 580
Alasan: Area demand psikologis kuat, Boss. Entry paling aman buat swing trader.
3) SKENARIO ENTRY AGRESIF (Buy on Breakout)
- Entry: Buy kalau breakout > 550 dengan volume besar
- Stoploss: < 515
- TP1: 580
- TP2: 620 – 660
Alasan: Breakout 550 bisa aktifkan momentum bullish baru, Boss.
Alasan Buy:
• Harga masih di area demand
• Struktur swing memungkinkan reversal
• Breakout 550 bisa jadi trigger lanjutan
Risiko:
• Kalau 480 / 460 jebol = potensi lanjut turun
• Breakout tanpa volume rawan fake
• Stoploss wajib buat jaga modal Boss
Analisa ini panduan ya Boss, eksekusi tetap kembali ke gaya trading Boss.
Ketik nama sahamnya Boss, contohnya $AEGS $BALI. Biar saya buatkan skenarionya.
FIXED CLOSING
------------------------------------------
[LIST SEMUA SAHAM : 956 EMITEN - MAKS 30 GAP UP & DOWN]
Selasa, 30 December 2025 15:59
Saham potensial gap-up/down di CLOSING market, diurut berdasarkan nilai persentase:
(cukup pantau baris paling atas dan paling bawah untuk cek gap terbesar):
-------------------------------------
GAP UP:
🔼 $BALI gap up ke 1780 (+175 / +10.9%) dari 1605
🔼 $SOSS gap up ke 1080 (+105 / +10.77%) dari 975
🔼 SMMA gap up ke 14500 (+1300 / +9.85%) dari 13200
🔼 SILO gap up ke 2740 (+230 / +9.16%) dari 2510
🔼 FOOD gap up ke 350 (+28 / +8.7%) dari 322
🔼 AWAN gap up ke 216 (+16 / +8%) dari 200
🔼 PCAR gap up ke 41 (+3 / +7.89%) dari 38
🔼 FILM gap up ke 14500 (+800 / +5.84%) dari 13700
🔼 EPAC gap up ke 39 (+2 / +5.41%) dari 37
🔼 WINS gap up ke 535 (+25 / +4.9%) dari 510
🔼 TRST gap up ke 515 (+23 / +4.67%) dari 492
🔼 MSTI gap up ke 1550 (+60 / +4.03%) dari 1490
🔼 BINO gap up ke 138 (+5 / +3.76%) dari 133
🔼 MMIX gap up ke 224 (+8 / +3.7%) dari 216
🔼 INCF gap up ke 65 (+2 / +3.17%) dari 63
🔼 BATA gap up ke 70 (+2 / +2.94%) dari 68
🔼 PRAY gap up ke 890 (+25 / +2.89%) dari 865
🔼 GOOD gap up ke 370 (+10 / +2.78%) dari 360
🔼 GTBO gap up ke 238 (+6 / +2.59%) dari 232
🔼 HYGN gap up ke 165 (+4 / +2.48%) dari 161
🔼 MBSS gap up ke 3130 (+70 / +2.29%) dari 3060
🔼 ENRG gap up ke 1600 (+35 / +2.24%) dari 1565
🔼 DYAN gap up ke 95 (+2 / +2.15%) dari 93
🔼 MIDI gap up ke 390 (+8 / +2.09%) dari 382
🔼 BBHI gap up ke 1490 (+30 / +2.05%) dari 1460
🔼 CASH gap up ke 103 (+2 / +1.98%) dari 101
🔼 IKBI gap up ke 520 (+10 / +1.96%) dari 510
🔼 GWSA gap up ke 158 (+3 / +1.94%) dari 155
🔼 NIRO gap up ke 328 (+6 / +1.86%) dari 322
🔼 INDR gap up ke 2800 (+50 / +1.82%) dari 2750
-------------------------------------
GAP DOWN:
🔽 LPPS gap down ke 107 (-2 / -1.83%) dari 109
🔽 ISSP gap down ke 422 (-8 / -1.86%) dari 430
🔽 IFSH gap down ke 790 (-15 / -1.86%) dari 805
🔽 POLI gap down ke 780 (-15 / -1.89%) dari 795
🔽 GRIA gap down ke 100 (-2 / -1.96%) dari 102
🔽 MIKA gap down ke 2380 (-50 / -2.06%) dari 2430
🔽 SOFA gap down ke 372 (-8 / -2.11%) dari 380
🔽 VICI gap down ke 680 (-15 / -2.16%) dari 695
🔽 BPTR gap down ke 89 (-2 / -2.2%) dari 91
🔽 SSMS gap down ke 1535 (-35 / -2.23%) dari 1570
🔽 ASLC gap down ke 87 (-2 / -2.25%) dari 89
🔽 BMAS gap down ke 650 (-15 / -2.26%) dari 665
🔽 LAPD gap down ke 160 (-4 / -2.44%) dari 164
🔽 PGLI gap down ke 226 (-6 / -2.59%) dari 232
🔽 APIC gap down ke 1460 (-40 / -2.67%) dari 1500
🔽 MREI gap down ke 1200 (-35 / -2.83%) dari 1235
🔽 BNII gap down ke 206 (-6 / -2.83%) dari 212
🔽 ASPI gap down ke 680 (-20 / -2.86%) dari 700
🔽 VICO gap down ke 202 (-6 / -2.88%) dari 208
🔽 PSKT gap down ke 310 (-10 / -3.12%) dari 320
🔽 KOTA gap down ke 58 (-2 / -3.33%) dari 60
🔽 LAND gap down ke 58 (-2 / -3.33%) dari 60
🔽 POLA gap down ke 55 (-2 / -3.51%) dari 57
🔽 YOII gap down ke 102 (-4 / -3.77%) dari 106
🔽 VIVA gap down ke 48 (-2 / -4%) dari 50
🔽 SIPD gap down ke 1125 (-60 / -5.06%) dari 1185
🔽 DIGI gap down ke 33 (-2 / -5.71%) dari 35
🔽 RICY gap down ke 89 (-6 / -6.32%) dari 95
🔽 SINI gap down ke 14500 (-1125 / -7.2%) dari 15625
🔽 $BAPI gap down ke 27 (-3 / -10%) dari 30
Cek ulang semuanya dan IEP bisa berubah smp menit terakhir. Salam Cuan.
🤖 STOCKBOT INTELLIGENCE LOG
📡 SUBJECT: $ADRO
📅 TIMESTAMP: 24 Desember 2025, 00:27:17 UTC+7
📊 LAST PRICE: Rp1,890 | 🚦 SYSTEM TREND: Sideways-Bearish (Range-bound with Distribution Pressure)
⚡ STOCKBOT CALCULATED ENTRIES (PRIORITAS)
✅ ENTRY IDEAL (Conservative Mode)
Range Beli: Rp1,850 – Rp1,870
Analisa Sistem: Support kuat di area Rp1,850-1,870 yang merupakan zona MA 10/10 support dan lower range konsolidasi menjelang cum dividen interim 29 Desember 2025. Entry konservatif menunggu konfirmasi volume >30M lot dan candle bullish reversal (hammer/bullish engulfing) di timeframe 1D. Broker Action menunjukkan tekanan distribusi: Top 1 Neutral 0.0%, Top 3 Normal Dist -14.1% (-60,733 lot), Top 5 Normal Dist -13.9% (-60,152 lot), Average Small Dist -12.5% (-53,821 lot). Net Volume +431,991 lot dengan Net Value Rp81.9B menunjukkan ada buying interest namun overwhelmed oleh institutional selling.
🔰 ENTRY AGRESIF (Momentum Mode)
Range Beli: Rp1,890 – Rp1,920
Analisa Sistem: Entry agresif di current price Rp1,890-1,920 hanya valid untuk post-cum dividen bounce play setelah 29 Desember 2025 dengan volume konfirmasi >50M lot. High risk entry karena struktur sideways dengan tekanan distribusi kuat, Stoch RSI di 93.3 (extremely overbought - reversal risk tinggi), dan Bandar Volume negatif -60.73K. Entry harus menunggu Broker Action berubah menjadi Accumulation dan Foreign Buy berubah positif dari current -Rp35.68B.
🎯 PROJECTED TARGETS & RISK MANAGEMENT
🔥 TAKE PROFIT (UPSIDE POTENTIAL)
TP1: Rp2,000 (Resistance Minor - level psikologis bulat dan area profit-taking)
TP2: Rp2,360 (Resistance Major - High 24 Des dan area konsolidasi atas)
🚫 STOP LOSS (DOWNSIDE PROTECTION)
SL: Rp1,610 (Support Structure krusial dan low 24 Des, mencegah breakdown after ex-dividen)
📊 RISK-REWARD CALCULATION
(Berdasarkan Entry Ideal Rp1,860)
🟢 TP1 Gain: +7.53% ((Rp2,000-Rp1,860)/Rp1,860*100)
🟢 TP2 Gain: +26.88% ((Rp2,360-Rp1,860)/Rp1,860*100)
🔴 SL Risk: -13.44% ((Rp1,610-Rp1,860)/Rp1,860*100)
(Berdasarkan Entry Agresif Rp1,905)
🟢 TP1 Gain: +4.99% ((Rp2,000-Rp1,905)/Rp1,905*100)
🟢 TP2 Gain: +23.88% ((Rp2,360-Rp1,905)/Rp1,905*100)
🔴 SL Risk: -15.49% ((Rp1,610-Rp1,905)/Rp1,905*100)
📰 MARKET SENTIMENT & INTELLIGENCE DATA
📢 Katalis Utama (Korporasi):
ADRO membagikan dividen interim USD 250 juta (sekitar Rp4T) dari laba buku 2025 yang berakhir 30 September 2025, dengan jadwal cum dividen 29 Desember 2025 (hari Senin depan) di pasar reguler dan negosiasi. Total dividen 2025 mencapai USD 500 juta (sudah bagi USD 250 juta sebelumnya). ADRO juga melaksanakan buyback Rp4T periode 3 Juni 2025-Mei 2026 setelah mendapat persetujuan RUPS. Transformasi strategis: Pasca spin-off PT Adaro Andalan Indonesia (AADI) akhir 2024, ADRO fokus pada energi terbarukan (green energy) dengan pipeline EBT 1.3 GW (hidro, solar), mineral & aluminium untuk mendukung target net zero emission 2060. Kerjasama dengan TotalEnergies & PLN NR untuk PLTB Tanah Laut (target COD 2025). Fundamental pressure: Laba 9M-2025 turun ke USD 301.58 juta (vs USD 1.18 miliar 9M-2024), revenue turun ke USD 1.34 miliar (vs USD 1.54 miliar) akibat spin-off AADI dan fokus EBT yang belum profitable.
🌍 Katalis Sektoral/Makro (Dynamic):
Harga Batubara Acuan (HBA) Mixed:
HBA kalori tinggi 6.322 kcal/kg: US$100.81/ton periode II Desember 2025 (naik dari US$98.26/ton periode I, turun dari US$102.03/ton akhir November)
HBA kalori 5.300 kcal/kg: US$69.93/ton periode II Desember (naik dari US$67.99/ton periode I)
HBA kalori 4.100 kcal/kg: US$45.44/ton periode II Desember (naik dari US$44.37/ton periode I)
Tekanan pasar batubara 2025: Oversupply dari peningkatan produksi negara-negara pengimpor utama, penurunan permintaan musiman
AADI (ex-ADRO coal business) Kinerja 9M-2025: Revenue turun 11% YoY ke USD 3.609 miliar (Rp59.55T), laba bersih turun 44% YoY ke USD 655 juta (Rp10.81T), volume penjualan 52.69 juta ton dengan nisbah kupas 4.2x. Pasar domestik Indonesia tetap tujuan penjualan terbesar, diikuti Malaysia, India, China untuk PLTU.
Makro Ekonomi:
BI Rate 4.75% (ditahan RDG 16-17 Des 2025), konsensus Bloomberg proyeksi turun -25 bps Desember 2025 dan -50 bps 2026. Rupiah Rp16,765/USD (24 Des) melemah dari Rp16,710 (18 Des). Foreign capital inflow positif: Rp3.98T masuk pekan IV Desember (Rp1.59T saham, Rp740M SRBI), akumulasi Rp0.24T pekan III. CDS turun ke 67.99 bps (dari 69.80 bps), risiko investasi menurun.
⚠️ Risk Factor:
Ex-dividen risk: Harga biasanya turun setara dividen payout setelah cum date 29 Desember
Broker Distribution dominan: Top 3/5/Average Normal/Small Dist (-12.5% hingga -14.1%)
Foreign net sell -Rp35.68B menunjukkan asing keluar menjelang ex-div
Bandar Volume negatif -60.73K, tekanan jual institusional kuat
Stoch RSI 93.3 extremely overbought, high reversal risk
Laba 9M-2025 turun 74% YoY akibat spin-off AADI dan fokus EBT yang belum profitable
HBA turun dari US$102.03/ton (akhir November) ke US$100.81/ton (periode II Desember), tekanan harga batubara global
Transformasi EBT butuh investasi besar, short-term profitability tertekan
Rupiah melemah Rp16,765/USD meningkatkan cost operasional
Saham turun -0.79% hari ini (24 Des), -6.06% dari High Rp1,910
🌡 Community Heatmap:
StockBot mendeteksi aktivitas forum: Moderat-Ramai (Dividen Play) - Volume 83.36M lot cukup tinggi menunjukkan retail & institutional activity solid menjelang cum dividen 29 Desember. Community fokus pada dividen USD 250 juta dan potential ex-dividen drop. Sentimen mixed: positif dari dividen yield namun waspada terhadap koreksi post-cum dan fundamental pressure dari spin-off AADI.
⚙️ ALGORITHMIC TRADING STRATEGY
✨ MODE SCALPING (Fast Execution)
Timeframe: 5M - 15M
Trigger: PRE-CUM DIVIDEN SCALP (26-27 Des): Entry Rp1,890-1,905 dengan target Rp1,920-1,950 (1-3%) sebelum cum date 29 Des, cut loss ketat di Rp1,870. POST-EX DIVIDEN BOUNCE PLAY (30 Des onwards): Entry setelah ex-div drop di Rp1,700-1,800 dengan volume spike >50M lot dan Stoch RSI masuk oversold <30
Sizing: Maksimal 3-5% portfolio per trade mengingat ex-div volatility tinggi
Order Type: Limit order, avoid market order untuk ex-div trap
✨ MODE SWING (Trend Following)
Timeframe: 1D - 1W
Trigger: WAIT hingga POST-EX DIVIDEN (setelah 29 Desember 2025). Buy on Weakness di area Rp1,700-1,850 (setelah ex-div adjustment) dengan konfirmasi volume >50M lot harian, candle hammer/bullish engulfing, dan Broker Action berubah menjadi Accumulation (Top 1/3/5/Average positif). Fokus pada EBT transformation play jangka panjang
Trailing Stop: Gunakan 14-period ATR (sekitar Rp80-100), naikkan SL ke breakeven saat profit >8%, trailing stop +Rp50 setiap kenaikan Rp150
Exit Plan: Invalid jika breakdown Rp1,610 dengan volume tinggi >100M lot atau HBA turun di bawah US$90/ton 3 periode berturut-turut. Exit juga jika transformasi EBT gagal (PLTB Tanah Laut delay atau dividen 2026 cut)
🏁 FINAL STOCKBOT VERDICT
📈 MOMENTUM CHECK: NEGATIVE (Short-term) / CAUTIOUSLY POSITIVE (Post-Ex Dividen Long-term)
Reasoning: Short-term bearish karena Broker Distribution dominan (Top 3/5/Avg -12.5% hingga -14.1%), Foreign net sell -Rp35.68B, Bandar Volume -60.73K, Stoch RSI 93.3 extremely overbought, dan ex-dividen risk 29 Desember akan trigger sell-off. Fundamental pressure dari laba 9M-2025 turun 74% YoY dan HBA turun dari US$102.03 ke US$100.81/ton. Namun long-term cautiously positive dari transformasi EBT (pipeline 1.3 GW), dividen yield menarik (USD 500M total 2025), buyback Rp4T, dan Foreign inflow makro Rp3.98T pekan IV.
🚀 PRIMARY SIGNAL: WAIT ⏳ (Hingga Post-Ex Dividen 29 Desember)
✅ RECOMMENDED FOR: Dividend Play Trader (ambil dividen lalu exit sebelum 29 Des) atau Patient Value Investor (accumulate post-ex dividen drop di Rp1,700-1,850 untuk EBT transformation play)
⭐ SYSTEM CONFIDENCE SCORE: 52%
Logic:
Positif (+): +Dividen USD 250M interim (yield ~5-6% annualized), +Total dividen 2025 USD 500M, +Buyback Rp4T supportive, +Transformasi EBT pipeline 1.3 GW (green energy transition), +Kerjasama TotalEnergies & PLN NR (PLTB Tanah Laut), +Foreign inflow Rp3.98T pekan IV, +CDS turun 67.99 bps, +HBA periode II Desember naik ke US$100.81 (vs US$98.26), +Net Volume +431K lot (buying interest ada), +Kapitalisasi Rp580T (bluechip tier 1)
Negatif (-): -Ex-dividen drop risk 29 Desember (high probability sell-off), -Broker Distribution ALL kategori (-12.5% hingga -14.1%), -Foreign net sell -Rp35.68B, -Bandar Volume -60.73K, -Stoch RSI 93.3 overbought extreme, -Laba 9M-2025 turun 74% YoY (USD 301M vs USD 1.18B), -Revenue turun 13% (USD 1.34B vs USD 1.54B), -HBA turun dari US$102.03 (Nov) ke US$100.81 (Des), -Tekanan batubara global (oversupply), -EBT transformation belum profitable (short-term margin pressure), -Rupiah lemah Rp16,765/USD, -R/R ratio unfavorable untuk current entry (1:0.6-2.0 dengan downside risk 13-15%)
📚 EXECUTIVE SUMMARY
Berdasarkan analisis StockBot, saham ADRO menunjukkan tekanan bearish jangka pendek yang signifikan menjelang cum dividen interim USD 250 juta pada 29 Desember 2025 dengan Broker Distribution dominan (Top 3/5/Avg -12.5% hingga -14.1%), Foreign net sell -Rp35.68B, Bandar Volume -60.73K, Stoch RSI 93.3 extremely overbought, dan fundamental pressure dari laba 9M-2025 turun 74% YoY akibat spin-off AADI serta HBA turun dari US$102.03 ke US$100.81/ton, menciptakan high probability ex-dividen sell-off scenario. Algoritma memprediksi better entry opportunity post-ex dividen di zona Rp1,700-1,850 untuk long-term EBT transformation play mengingat pipeline energi terbarukan 1.3 GW (hidro/solar), kerjasama strategis dengan TotalEnergies & PLN NR, total dividen 2025 USD 500M, buyback Rp4T, dan Foreign inflow makro Rp3.98T pekan IV yang mendukung valuasi jangka panjang meskipun short-term profitability tertekan dari transisi bisnis. Kesimpulannya, StockBot menyarankan WAIT hingga post-ex dividen 29 Desember untuk avoid sell-off trap - Dividend Play Trader sebaiknya sudah exit sebelum cum date, sedangkan Value Investor dapat accumulate on dip di Rp1,700-1,850 pasca ex-dividen dengan SL Rp1,610 untuk 3-5 tahun EBT transformation thesis dengan target Rp2,000-2,360 (upside 8-27% dari post-ex entry), cocok untuk portfolio diversification dan ESG play namun avoid current entry mengingat R/R ratio sangat unfavorable dan imminent ex-dividen drop risk.
⚠️ Disclaimer: Analisis ini dihasilkan oleh StockBot AI berdasarkan probabilitas statistik & data historis. Bukan nasihat keuangan mutlak. Do Your Own Research (DYOR).
$BALI $MMLP