imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$GHON Perusahaan Menara Sunyi

Request member External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

GHON adalah saham menara yang sangat sepi investor. Ini sering bikin orang salah sangka, seolah GHON itu kecil dan tidak penting. Padahal kalau investor lihat angka kas, backlog, dan struktur utangnya, GHON justru terlihat seperti bisnis menara versi ringkas yang efisien, tetapi punya satu masalah yang bisa jadi penentu hidup-mati, yaitu likuiditas jangka pendek. Di sisi lain, $BALI terlihat seperti emiten menara yang sedang masuk fase panen karena laba positif dan free cash flow sudah muncul, sementara $CENT adalah raksasa kontrak dan kas operasional, tetapi laporan laba ruginya babak belur karena kurs, bunga, dan leverage yang besar. Jadi pertanyaan mana yang lebih baik itu harus dipilah per aspek, bukan satu angka tunggal. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau ukurannya skala bisnis, CENT menang telak. Revenue 9M 2025 CENT Rp1,88 triliun, jauh di atas BALI Rp922,02 miliar dan GHON Rp159,75 miliar. Backlog CENT juga paling besar Rp14,13 triliun, dibanding BALI Rp4,31 triliun dan GHON Rp1,14 triliun. Dari sisi panjang napas kontrak, CENT juga unggul tipis karena backlog setara 5,62 tahun revenue tahunan, GHON 5,35 tahun, lalu BALI 3,50 tahun. Jadi kalau investor mencari perusahaan yang paling mapan secara ukuran dan kontrak jangka panjang, CENT berada di urutan pertama.

Namun begitu masuk ke profitabilitas, pemenangnya berubah. CENT rugi bersih 9M 2025 Rp1,47 triliun dari revenue Rp1,88 triliun, margin bersihnya sekitar minus 78%. BALI laba bersih Rp138,72 miliar dari revenue Rp922,02 miliar, margin bersih sekitar 15,04%. GHON justru paling tebal marginnya, laba bersih Rp58,95 miliar dari revenue Rp159,75 miliar, margin bersih sekitar 36,90%. Jadi kalau ukuran utamanya laba bersih yang benar-benar positif, GHON paling unggul, lalu BALI, sedangkan CENT tertinggal.

Dari sisi kualitas kas, ketiganya sama-sama menarik, tetapi dengan alasan berbeda. BALI punya CFO Rp487,25 miliar, sekitar 3,51 kali laba Rp138,72 miliar. GHON CFO Rp128,68 miliar, sekitar 2,18 kali laba Rp58,95 miliar. Dua-duanya menunjukkan laba yang sangat cair. CENT malah paling ekstrem, karena walau rugi Rp1,47 triliun, CFO tetap positif Rp1,54 triliun. Ini sinyal bahwa operasionalnya masih menghasilkan kas, sedangkan rugi akuntansi lebih banyak dipukul beban keuangan dan faktor non-kas. Kalau investor menilai kemampuan mendanai investasi, semuanya lolos, karena CFO lebih besar daripada capex. BALI capex Rp300,72 miliar, GHON capex Rp68,18 miliar, CENT capex Rp454,05 miliar. Jadi dari sisi free cash flow, CENT paling besar sekitar Rp1,09 triliun, BALI Rp186,53 miliar, GHON sekitar Rp60,50 miliar. Artinya, untuk ukuran uang sisa absolut, CENT menang. Untuk kualitas laba menjadi kas, BALI terlihat paling konsisten, karena laba positif dan CFO sangat kuat. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Aspek utang dan daya tahan finansial memberi hasil yang lebih tajam lagi. GHON paling ringan leverage-nya, utang bank neto Rp473,08 miliar, dan backlog Rp1,14 triliun menutup sekitar 241% utang tersebut. Secara ilustrasi, pelunasan utang pakai laba butuh sekitar 6,0 tahun, pakai free cash flow sekitar 5,9 tahun. BALI utangnya Rp3,39 triliun, backlog Rp4,31 triliun menutup sekitar 127%, tetapi waktu pelunasan pakai free cash flow sekitar 13,6 tahun, jadi lebih lama. CENT membawa beban paling berat, utang bank Rp12,15 triliun ditambah pinjaman pemegang saham Rp8,45 triliun, total sekitar Rp20,60 triliun. Backlog Rp14,13 triliun memang menutup 116% utang bank, tetapi belum menyentuh pinjaman pemegang saham, dan CENT tetap rugi bersih besar. Jadi kalau investor menilai kesehatan struktur utang, GHON unggul, BALI cukup, CENT paling berisiko.

Lalu ada aspek yang sering jadi penentu pasar, yaitu konsentrasi pelanggan dan struktur free float. Dari sisi konsentrasi pelanggan, BALI paling mendingan karena 4 pelanggan besar total sekitar 63,5% revenue. GHON lebih terkonsentrasi karena 4 pelanggan terbesar sudah sekitar 90,27% revenue, walau itu operator besar semua. CENT paling terkonsentrasi karena 2 pelanggan utama saja sekitar 80,33% revenue. Dari sisi free float, BALI paling unggul karena publik 40,299%, GHON publik 13,27%, CENT publik 7,73%. Artinya, kalau investor peduli ruang saham beredar dan potensi likuiditas pasar, BALI paling unggul.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Bagian terakhir adalah risiko yang sifatnya bisa mengubah cerita. Risiko terbesar CENT adalah kurs dan bunga. Ada sekitar 40% liabilitas dalam USD, rugi kurs Rp296,50 miliar, biaya keuangan Rp1,27 triliun, dan kenaikan suku bunga 1% diperkirakan menambah rugi sebelum pajak Rp116,50 miliar. Risiko terbesar GHON adalah likuiditas, karena liabilitas jangka pendek Rp253,18 miliar jauh di atas aset lancar Rp40,83 miliar, jadi GHON sangat bergantung pada refinancing atau dukungan grup. BALI lebih tenang di kurs dan bunga, karena eksposur valas neto sekitar Rp845,00 juta dan tidak ada pinjaman berbunga mengambang, tetapi BALI punya risiko hukum berupa gugatan, plus posisi likuiditas tipis karena liabilitas jangka pendek Rp799,80 miliar sedikit di atas aset lancar Rp780,40 miliar.

Kalau bicara skala revenue dan backlog absolut unggul CENT. Profitabilitas unggul GHON lalu BALI. Free cash flow absolut unggul CENT, tetapi kualitas laba menjadi kas paling nyaman dibaca di BALI dan GHON karena laba positif dan CFO lebih besar dari laba. Struktur utang dan backlog coverage paling unggul GHON, disusul BALI, lalu CENT. Risiko keuangan kurs dan bunga paling berat di CENT, risiko likuiditas paling berat di GHON, dan BALI cenderung lebih seimbang tetapi punya risiko hukum yang perlu dipantau. Jadi kalau investor mencari bisnis menara yang paling rapi secara laporan dan risiko finansial, BALI biasanya terasa paling aman. Kalau investor mencari bisnis yang paling efisien dan utangnya paling terkendali dengan kontrak panjang, GHON menarik tetapi wajib mengunci isu likuiditas. Kalau investor mengejar skala dan kontrak paling besar, CENT unggul, tetapi itu datang bersama risiko kurs, bunga, dan rugi akuntansi yang bisa terus mengganggu. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau bicara potensi turnaround murni dari tiga ini, kandidat paling kuat itu CENT. Alasannya sederhana, CENT sekarang terlihat jelek di laba rugi karena rugi bersih 9M 2025 Rp1,47 triliun, tetapi mesin kas operasionalnya justru kuat, CFO Rp1,54 triliun, lalu free cash flow 9M kira-kira Rp1,09 triliun. Jadi problem CENT lebih banyak di struktur pembiayaan dan volatilitas kurs serta bunga, bukan di kemampuan menghasilkan kas dari sewa menara. Dengan backlog Rp14,13 triliun setara 5,62 tahun revenue, sebenarnya fondasi kontraknya tebal. Kalau manajemen bisa menurunkan beban keuangan Rp1,27 triliun, meredam rugi kurs Rp296,50 miliar, dan mengurangi sensitivitas kenaikan bunga 1% yang berdampak Rp116,50 miliar ke rugi sebelum pajak, maka laba bisa berbalik cukup cepat. Risiko besarnya, leverage tinggi dan sekitar 40% liabilitas dalam USD, jadi turnaround CENT sangat tergantung arah kurs dan biaya dana.

GHON punya potensi perbaikan, tetapi kurang cocok disebut turnaround besar karena GHON sudah untung. GHON laba bersih 9M 2025 Rp58,95 miliar dengan margin kira-kira 36,90%, CFO Rp128,68 miliar, dan free cash flow sekitar Rp60,50 miliar. Backlog Rp1,14 triliun setara 5,35 tahun revenue, ini kuat. Masalah GHON ada di top line yang turun tipis 0,79% dan risiko likuiditas, liabilitas jangka pendek Rp253,18 miliar jauh di atas aset lancar Rp40,83 miliar. Jadi GHON lebih ke cerita stabilisasi likuiditas dan efisiensi tenancy ratio, bukan cerita dari rugi besar ke laba besar.

BALI paling kecil peluang turnaround karena BALI sudah dalam fase yang relatif sehat. BALI revenue 9M 2025 Rp922,02 miliar, growth 22,16%, laba Rp138,72 miliar, CFO Rp487,25 miliar, free cash flow Rp186,53 miliar, backlog Rp4,31 triliun setara 3,50 tahun. Risiko BALI lebih ke gugatan hukum dan konsentrasi pelanggan, bukan krisis profitabilitas. Jadi BALI lebih cocok disebut compounder yang lagi panen, bukan turnaround. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Urutan potensi turnaround yang paling masuk akal
1. CENT paling tinggi, karena gap antara rugi akuntansi dan kas operasionalnya sangat besar, sehingga ruang balik arah juga besar.

2. GHON menengah, tetapi lebih tepat disebut perbaikan kualitas neraca dan likuiditas, bukan turnaround dramatis.

3. BALI paling rendah, karena sudah profitable dan growth kencang, jadi ruang turnaround kecil karena memang tidak sedang “jatuh”.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/9

testestestestestestestestes
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy