$TOWR Perusahaan Menara Djarum
Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Kalau bicara bisnis menara di Indonesia maka tidak lengkap rasanya kalau tidak sebut TOWR. Karena TOWR itu bukan cuma emiten menara besar, tapi semacam barometer industri. Banyak investor suka menyederhanakan bisnis menara sebagai sewa yang stabil, padahal bedanya ada di skala portofolio, kepadatan sewa per menara, panjang kontrak, dan seberapa kuat kas operasional menutup utang. Di titik ini TOWR terlihat seperti mesin kas yang sudah matang, tetapi tetap membawa risiko struktur utang yang membuat suku bunga dan kurs selalu jadi variabel utama. Jadi TOWR bisa terlihat bagus sekali ketika suku bunga bersahabat dan refinancing lancar, namun bisa jadi sumber cemas kalau kondisi pendanaan memburuk. Yang menarik, di 9M 2025 data TOWR menunjukkan kombinasi yang jarang, kas naik, capex turun, utang turun. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi profil, TOWR berdiri 2 Juni 2008 dan sudah IPO 8 Maret 2010. Jarak cuma 2 tahun ini menggambarkan model bisnis yang sejak awal memang dibangun untuk cepat skala dan cepat akses pendanaan publik. Pemegang saham pengendali PT Sapta Adhikari Investama memegang 45,29%, PT Dwimuria Investama Andalan 19,95%, dan publik 32,82%. Porsi publik 32,82% ini terasa lebih lapang dibanding CENT yang publiknya 7,73% dan juga lebih lapang dibanding GHON yang publiknya 13,27%, tetapi masih lebih kecil dibanding BALI yang publiknya 40,299%. Jadi dari sisi ruang saham beredar, $BALI paling longgar, lalu TOWR, lalu GHON, lalu $CENT.
Soal ukuran jaringan, TOWR berada di level yang sulit disaingi kalau pakai data LK. Per 30 September 2025, TOWR punya 36.049 lokasi menara yang siap instalasi, dengan 33.739 lokasi sudah beroperasi. Dengan total penyewaan 58.213, tenancy ratio sekitar 1,725 kali. Ini angka yang penting karena bisnis menara bukan lomba jumlah tiang saja, tetapi seberapa banyak penyewa di satu titik. Di data BALI dan CENT, tenancy ratio tidak disajikan secara numerik, jadi secara transparansi metrik inti, TOWR unggul. GHON juga tidak menyajikan angka tenancy ratio numerik, walau manajemen menyebut fokus peningkatan rasio itu. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Skala pendapatan membuat gap TOWR makin terlihat. Revenue 9M 2025 TOWR Rp9,69 triliun, tumbuh 2,52% dari Rp9,45 triliun. Bandingkan BALI Rp922,02 miliar dengan growth 22,16%, CENT Rp1,88 triliun dengan growth 3,0%, dan GHON Rp159,75 miliar dengan growth minus 0,79%. Jadi kalau ukurannya besar, TOWR jelas paling besar. Kalau ukurannya laju pertumbuhan, BALI paling agresif, sementara TOWR dan CENT tumbuh tipis, dan GHON turun tipis. Di sisi pelanggan, TOWR juga terkonsentrasi, XLSmart 41%, Indosat 35%, Telkomsel 12%. Tiga besar ini sekitar 88% revenue. CENT bahkan lebih terkonsentrasi karena dua pelanggan saja, Indosat 44,85% dan XLSmart 35,48%, total sekitar 80,33%. GHON juga padat di operator, Indosat 31,66%, XLSmart 29,13%, XL Axiata 14,86%, Telkomsel 14,62%, lalu Smart 3,84%. BALI relatif lebih menyebar dibanding tiga lainnya karena empat pelanggan besar sekitar 63,5% revenue, termasuk komponen pemerintah seperti Diskominfo DKI Jakarta 20,7% dan BAKTI 15,5%. Jadi dari sisi risiko konsentrasi pelanggan, BALI terlihat paling mendingan, lalu CENT, lalu TOWR, lalu GHON yang empat besar saja sudah sekitar 90,27%.
Bagian yang membuat TOWR kelihatan benar-benar matang adalah kas. Laba periode berjalan 9M 2025 Rp2,55 triliun, lalu CFO Rp8,58 triliun. Artinya CFO sekitar 3,36 kali laba, ini kualitas laba yang sangat cair. Capex Rp2,30 triliun, sehingga free cash flow 9M 2025 Rp6,28 triliun. Ini besar sekali secara nominal, bahkan jika dibandingkan dengan free cash flow CENT sekitar Rp1,09 triliun, BALI Rp186,53 miliar, dan GHON sekitar Rp60,50 miliar. TOWR bukan cuma besar, tapi juga sangat efisien pada periode ini karena laba sudah mampu menutup capex, dan CFO menutup capex sekitar 3,7 kali. Di sini investor bisa bilang, secara bisnis inti menara, TOWR adalah contoh mesin kas yang sudah jadi.
Namun, pertanyaan sejelek apa TOWR itu harus dijawab dari sisi utang dan sensitivitas. Total liabilitas aktivitas pendanaan TOWR sekitar Rp45,27 triliun. Ini jauh di atas BALI yang pinjamannya Rp3,39 triliun, GHON utang bank neto Rp473,08 miliar, dan CENT yang punya utang bank Rp12,15 triliun ditambah pinjaman pemegang saham Rp8,45 triliun. Utang besar bukan otomatis buruk kalau kas kuat, tetapi ia membuat suku bunga dan kurs jadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Dalam data TOWR, kenaikan 1% suku bunga Rupiah berdampak negatif Rp215 miliar pada laba sebelum pajak. TOWR juga punya eksposur liabilitas dalam USD dan JPY, walau disebut dimitigasi dengan lindung nilai lewat Cross Currency Swap dan Interest Rate Swap. Selain itu, ada profil jatuh tempo yang berat dalam 1 sampai 2 tahun ke depan sebesar Rp23,17 triliun, walau manajemen mengandalkan kemampuan refinancing yang kuat. Jadi sejelek-jeleknya TOWR ada di sini, ketergantungan pada pasar pendanaan. Ketika pasar pendanaan kondusif, leverage terlihat seperti akselerator. Ketika pasar pendanaan tidak kondusif, leverage berubah menjadi sumber tekanan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Backlog adalah alasan kenapa investor biasanya lebih tenang pada TOWR dibanding banyak emiten lain. Backlog TOWR Rp100,12 triliun. Jika revenue 9M 2025 disetahunkan menjadi sekitar Rp12,92 triliun, backlog setara sekitar 7,75 tahun pendapatan. Ini lebih panjang dibanding CENT sekitar 5,62 tahun, GHON 5,35 tahun, dan BALI 3,50 tahun. Backlog coverage TOWR juga tebal, Rp100,12 triliun menutup sekitar 221% dari utang pendanaan Rp45,27 triliun. Dari sisi kemampuan bayar utang, ilustrasi kasnya juga kuat, pelunasan via free cash flow tahunan butuh sekitar 5,4 tahun, sedangkan via laba tahunan disetahunkan sekitar 13,3 tahun. Dibanding BALI yang butuh sekitar 13,6 tahun via free cash flow, TOWR jauh lebih cepat. Dibanding CENT, walau CENT punya free cash flow besar, CENT tetap terbebani risiko kurs dan bunga yang sudah terbukti membuat rugi bersih Rp1,47 triliun. Jadi dalam paket besar dan stabil, TOWR terlihat lebih rapi.
Secara ukuran jaringan dan transparansi tenancy ratio, maka jelas yang unggul adalah TOWR. Ukuran revenue dan free cash flow nominal unggul TOWR. Panjang backlog unggul TOWR. Pertumbuhan revenue unggul BALI. Profitabilitas margin bersih paling tebal unggul GHON, lalu BALI, sementara CENT rugi. Risiko struktur utang dan sensitivitas kurs bunga paling berat ada di CENT dan juga tetap signifikan di TOWR karena utang pendanaan Rp45,27 triliun, sedangkan BALI dan GHON lebih ringan, walau GHON punya masalah likuiditas jangka pendek karena liabilitas jangka pendek Rp253,18 miliar jauh di atas aset lancar Rp40,83 miliar. Jadi seberapa bagus TOWR itu, ia adalah yang paling dominan sebagai mesin kas dan kontrak panjang. Seberapa jelek TOWR itu, ia tetap hidup dalam dunia refinancing, suku bunga, dan kurs, sehingga investor wajib memantau biaya dana dan profil jatuh tempo, bukan cuma terpukau oleh angka backlog dan CFO.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/9








