Di Persimpangan Jalan
Halo teman2, di selang waktu weekend kali ini izinkan saya berbagi pengalaman singkat saya dalam 3 bulan terakhir mencoba peruntungan dalam trading. Setelah terakhir meninggalkan dunia trading di 2016 dan fokus ke value investing, kini entah ada angin apa di 2025 tiba-tiba saya mencoba peruntungan kembali di dunia trading2an. Dan hasilnya... menyedihkan 馃ぃ.
Pengalaman penuh rasa stress, envy, greed dan insecure yang menghantui setiap harinya, karena jual beli saham bisa dilakukan dalam hitungan jam karena reaksi terhadap berita makro, mikro, bandar, d.l.l. Sungguh melelahkan, apalagi untuk orang yang sambil bekerja seperti saya.
Peaknya adalah saya kehilangan peluang untung 50% lebih di ADES yang sudah saya bahas selama ini dan bahkan peluang untung 100% di $BUMI karena terlalu mencoba timing the market. Disitu saya tahu bahwa ada yang tidak benar dengan jalan ini. Bisa dilihat sendiri attachmentnya waktu jual ane dan kapan kedua saham itu terbang 馃椏.
Asal Muasal Jalan Menuju Trading
Bagi orang awam mungkin menjadi mengherankan ya melihatnya, kok bisa saya yang sudah bahas ADES dari 2023 dan BUMI dari 2024 dulu tiba2 malah menjualnya di tengah jalan dan mencoba-coba malah switch ke saham2 yang kurang saya kenal dekat untuk trading, Karena skill analisa saham dan skill mengelola porto adalah skill yg berbeda. Jadi itu juga yg jadi jawaban pertanyaan kenapa saham2 yang saya bahas tidak selalu ada di porto? Karena yg saya share lebih ke penjelasan mengapa saham itu bagus / jelek, bukan timing buy sell-nya karena itu bersifat sangat personal dan pastinya unik untuk setiap orang.
Seperti yang saya bahas di artikel terkait Balance Changes di pasar modal kita https://stockbit.com/post/20525407, bahwa memang untuk 2025 ini (bahkan sejak 2024) pihak2 yang lagi OP umumnya adalah yang terkait dengan konglomerasi, membuat saya berpikir bahwa perlu ada adjustment terkait cara investasi saya yang kebetulan sampai Juli 2025 ADES, TSPC, ULTJ d.l.l tidak kemana2 sampai Agustus 2025 kemarin. Sampai pada akhirnya per akhir Agustus tersebut saya mulai mencoba-coba trading saham yang berisiko seperti $RAJA RATU PANI dan pas pula 1 September kena hit di masa pergantian SM ke Purbaya, dari situ saya merasa tanpa ilmu trading dan trailing stop yang benar akan sangat berbahaya untuk return porto saya kedepannya.
Semacam liat orang pro memakai Fanny di Mobile Legend atau Geomancer di Dota, ketika mereka memakai dengan sangat jago dengan win rate tinggi menimbulkan perasaan 'kalau dia bisa, kita juga pasti bisa' muncul. Sampai pada akhirnya kita ikut mencoba memakai hero tersebut (di ranked pula) dan hasilnya... dibantai, dicaci maki teman satu tim, dan tidak jarang direport karena feeding 馃ぃ. Disitulah realita berbicara bahwa terkadang 'kalau dia bisa, yaudah dia aja yang bisa, saya belum tentu'. Kurang lebih itu juga yang saya alami di dunia trading 3 bulan terakhir ini.
Perjalanan Masuk ke External Community Stockbit
Notes dulu saja di artikel kali ini saya tidak mau disclose nama excomnya ya, khawatir dikira black campaign mereka. Tidak ingin mencari masalah sama orang lagi di usia segini soalnya 馃ぃ
Awal mulanya karena melihat2 di IGnya bahwa orang ini berhasil mengelola 10jt menjadi 60jt lebih dalam waktu 1 tahun saja. Sejujurnya tidak hanya dia, di 2025 ini tidak sedikit teman2 di medsos yang share return porto bahkan sampai ribuan persen, ada yang 200%, ada yang 1.200%, dan tidak sedikit di range 50-80%. Pada saat itu kondisi return porto saya hanya sekitar 20% kurang, mengingat ADES dan BUMI tidak kemana2 sampai Juni 2025, dan itu bukan baru dari awal 2025, melainkan sudah dari 2024 dulu. Sehingga membuat saya berpikir sepertinya jalan yang saya ambil salah, dan saya perlu melakukan adaptasi agar return saya minimal bisa mengimbangi IHSG di masa2 bullish 'kopong' seperti saat ini. Jadilah saya join grup excom tersebut untuk mempelajari cara berinvestasi (trading) kembali.
Bagi beberapa orang yang penasaran bagaimana prosedur di dalam excom, kurang lebih alurnya seperti ini ya. Ada 'jurnal' yang dishare di Whatsapp Group Excom x Stockbit berisi 60 saham yang sudah dipilihkan oleh pengelola grup. Jurnal tersebut berisi nama saham, harga jual beli, beserta alasan teknikal tipis2 kenapa saham tersebut menarik. Dari situ kita bebas memilih saham mana yang mau kita tradingkan, tidak ada aturan terkait money management maksimal untuk 1 saham berapa, selain untuk beberapa saham high risk yang memang fluktuasinya lebih tinggi dengan fundamental yang cukup rapuh juga dibanding saham lain di dalam jurnal. Yang ramainya di Group Excom Livetrade, dimana pengelola grup akan standby disitu untuk memberikan insight terupdate terhadap beberapa saham yang ada di jurnal. So far sih kalau salah bertanya akan disemprot di grupnya wkwk, tapi memang saya akui kadang pertanyaan2nya terlalu remeh sih, yang jawabannya sebenarnya bisa ditemukan jika scroll chat grupnya ke atas sedikit. Overall yang jadi poin utama owner grup adalah dia selalu hadir untuk menemani, baik di kala market bullish dan terutama di waktu bearsih.
Hari pertama trading saya keringat dingin karena banyaknya saham baru yang perlu dipantau, apalagi yang dipantau adalah price actionnya yang notabene membuat saya harus bolak balik membuka OLT saya ketika bekerja untuk melihat mana yang 'breakout', mana yang tembus support d.l.l. Dalam waktu singkat hidup saya berubah drastis, dari yang hari2 buka OLT hanya sekali2 saja, sejak ikut grup itu saya tiap saat buka tutup OLT terus sampai tidak bisa fokus bekerja, sedikit banyak karena ingin mencoba mengikuti semua saham2 hype yang lagi dibahas di grup tersebut. Awalnya saya berjanji hanya menggunakan dana seadanya saja untuk trading ini, namun karena sempat merasakan untung cepat, sampailah pada akhirnya porto saya full beralih menjadi saham trading. Bahkan terkadang sampai diisi oleh saham2 unik yang saya bahkan tidak tahu apa bisnisnya seperti BRPT, DOOH, WIRG. Semakin diikuti semakin kacau psikologi saya, singkat cerita pada akhirnya return porto hancur lebur, dan kekalahan satu menimbulkan kekalahan2 berikutnya. Sampai pada titik puncaknya di pertengahan November saya merasa 'cukup'. Semakin dilanjutkan akan semakin berantakan sepertinya porto saya.
Saya Salah dan Saya Kalah, what's next?
Perasaan desperate semakin menghantui, dari return 20%an malah per saat ini tinggal 0% wkwk (alhamdulillah tidak sampai rugi sih). Alhamdulilah pada masa2 itu ada teman dekat yang selalu aktif memotivasi saya untuk tidak perlu compare return dengan orang lain melulu, dan pastinya ada istri yang senantiasa jadi tempat ocehan saya 馃槝. Setelah merenung beberapa hari, akhirnya saya memutuskan akan leave Community tersebut di Desember 25 ini, karena memang minimal 3 bulan baru bisa keluar dari suatu excom di Stockbit. Cukup sudah berkelana kesana kemari, saatnya kali ini untuk memastikan once and for all kedepannya saya akan tetap stick dengan cara berinvestasi yang saya pahami selama ini. Beli perusahaan dengan fundamental bagus, prospek bisnis yang cerah, dan valuasi yang wajar / murah (padahal di deskripsi akun ane udah gitu isinya dari kapan tahun wkwk). Pastinya juga disebar di beberapa saham seperti yang sudah saya jelaskan bahayanya all in di 1 saham https://stockbit.com/post/22710930.
Bukan berarti saya berkata trading di saham tersebut tidak bisa untung ya, tapi downside dan realized loss yang harus datang bergantian dengan profit yang didapat membuat saya tidak nyaman. Bukan berarti value investing tidak pernah realized loss juga ya, teman2 pasti ingat saya pernah cutloss cukup besar di $BTPS yang saya tulis dalam artikel ini https://stockbit.com/post/15092438. Anyway, selang beberapa waktu dana 10jt owner grup excom yang menjadi 60jt tadi terus bertumbuh hingga menjadi 100jt dalam waktu beberapa bulan saja. Dengan 3 saham di porto. 1 dihold dan 2 ditradingkan. Itupun saham yang dihold dan ditradingkan saham2 yang ada di jurnal. Menandakan dengan psikologi dan strategi yang benar saya masih melihat memang ada potensi untuk compounding dari trading juga.
Sehingga solusi paling wise menurut saya pribadi adalah kedepannya jika ada teman2 yang ingin mencoba trading bisa dengan membuat rekening khusus buat trading, dan pakailah modal kecil dulu saja. Karena kelemahan trading dibanding investing adalah ketika modal yang ditradingkan membesar, psikologinya akan sangat berbeda. Jika modal 10jt, kita floating loss 5% maka hanya 500rb yang dipertaruhkan, kita cut loss juga tidak terlalu terasa sakit. Namun akan berubah ketika modal mulai naik ke 100jt, maka 5jt sekali cut loss mungkin akan membuat beberapa orang berpikir ulang apakah tunggu rebound sedikit dulu baru kemudian cutloss, lumayan selisih beberapa ratus ribu kan. Jika itu sudah mulai melunturkan disiplin kita, maka bayangkan jika modalnya 1 M, maka 5% saja sudah 50jt yang dipertaruhkan, nominal yang bisa merubah hidup banyak orang karena itu setara bisa beli 2 motor, uang sekolah anak setahun, d.l.l. Dan saya yakin untuk bisa cutloss dengan nominal segitu butuh mental yang sangat kuat. Tapi namanya dalam dunia trading ya harus disiplin cutloss jika tidak sesuai plan, walaupun ntah kenapa ketika saya disiplin cut loss kemarin sering sekali habis saya cutloss sahamnya pada rebound, dan sekalinya saya tidak disiplin sahamnya lanjut turun terus ;).
Oke mungkin cukup sekian sharingnya ya, semoga bisa memberi gambaran untuk teman-teman yang masih belum firm mau memakai gaya investasi yang mana kedepannya. Terkadang memang kita butuh melirik yang lain dulu untuk tahu pilihan kita yang sebelumnya ternyata sudah yang terbaik, ilmu ini bisa diterapkan dalam menentukan cara investasi, pekerjaan, bahkan pasangan (tapi yang ini risikonya sangat tinggi, apalagi buat yang sudah punya pasangan 馃ぃ).
Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat!!!
1/10









