Volume
Avg volume
PT Temas Tbk. merupakan perusahaan pengiriman yang berbasis di Indonesia. Usaha Perusahaan diklasifikasikan ke dalam layanan pengiriman dan layanan bongkar muat. Perusahaan ini bergerak dalam kegiatan pengiriman yang menawarkan jasa pengiriman peti kemas penuh baik di pasar domestik dan internasional, memberikan dukungan dalam kegiatan pemuatan dan bongkar kargo, serta mengangkut penumpang, kargo, dan hewan. Kantor pusatnya terletak di Jakarta Utara dengan cabang di Medan, Surabaya, Makassar, Bitung, Pontianak, Banjarmasin, Pekanbaru, Ambon, Jayapura, dan Sorong. Kapal Perusahaan hanya beroperasi di laut domestik. Anak perusahaa... Read More
JAKARTA - Laba bersih emiten penyedia layanan kargo, PT Temas Tbk (TMAS) turun 25,86% menjadi Rp499,23 miliar pada 2025, dibandingkan periode serupa tahun lalu yang mencapai Rp673,36 miliar.
Penurunan laba ini terjadi meskipun pendapatan jasa relatif stabil di level Rp4,34 triliun, sedikit lebih ti...

www.idnfinancials.com

Para pecinta dividen yield, berikut TOP15 Emiten, yield berdasarkan harga penutupan sesi 1 tanggal 9 Maret 2026 dan 114 Emiten yang masuk
Term perhitungan;
* EPS berdasarkan data FY2025
* DPR menggunakan DPR tahun 2024
* Yield dihitung berdasarkan dividen final (artinya saham yang sudah membagikan interim cenderung akan rendah yieldnya)
* Tadinya mau buat sampe top20 tapi ternyata kalah sama kupon SR024, jadi cukup top15 saja
1. CFIN, EPS 53, Div 49,4, yield 15,25% (Hati-hati zonk!!)
2. LPPF, EPS 321, Div 250*, Yield 13,59%
*(Div berdasarkan rekomendasi manajemen)
3. DMAS, EPS 17, Div 17,4, Yield 13,28% (Uangnya dari mana??!)
4. LPIN, EPS 78, Div 43,47, Yield 9,97%
5. PBID, EPS 53, Div 45,43, Yield 9,39%
6. ADMF, EPS 1250, Div 772,09, Yield 9,19%
7. BNGA, EPS 274, Div 156,89, Yield 9,04%
8. $BBNI, EPS 537, Div 349,26, Yield 8,32%
9. ARNA, EPS 55, Div 40,43, Yield 8,09%
10. BMRI, EPS 603, Div 370,46, Yield 7,70% (kena diskon interim)
11. NISP, EPS 220, Div 110,16, Yield 7,68%
12. ROTI, EPS 42, Div 56,65, Yield 7,60% (DPR emiten ini emang selalu diatas 100%)
13. $TMAS, EPS 9, Div 8,9, Yield 7% (ati-ati DPR2024 mungkin tidak terulang)
14. POWR, EPS 74, Div 49,18, Yield 6,83% (kena diskon pun masih oke)
15. $LSIP, EPS 277, Div 83,10, Yield 6,22%
======================
Bonus 6 Emiten berdasarkan data EPS TTM 2025 (DYOR, menggunakan data estimasi, Q4 nya masih belum keluar dan menggunakan data Q4 2024)
1. ACRO, EPS 2.55, Div 21,95, Yield 31,36% (DPR2024 udah ngaco dan impossible to repeat, abaikan saja)
2. RALS, EPS 47.11, Div 63,87, Yield 13.53%
3. TPMA, EPS 99.22, Div 69,68, Yield 11,91%
4. MPMX, EPS 125, Div 112.98, Yield 11,35%
5. AMAG, EPS 50.93, Div 44,57, Yield 10,82%
6. BJTM, EPS 94.04, Div 60,27, Yield 10,76%
Disclaimer;
Investasi saham adalah bisnis beresiko tinggi, selalu pastikan memilki ilmu yang cukup sebelum memulai. Bukan ajakan membeli atau menjual saham tertentu.
Emitentrust.com- PT Temas Tbk (TMAS) mencatat penurunan laba bersih sepanjang 2025. Emiten pelayaran dan logistik tersebut membukukan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp499,23 miliar, turun sekitar 25,9% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp673,36 ...

emitentrust.com

$TMAS
Halo rekan-rekan investor! Mari kita bedah bersama laporan keuangan tahunan PT Temas Tbk (TMAS) untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025. Sebagai mentor Anda, saya melihat ada beberapa dinamika dan manuver bisnis yang sangat penting untuk kita garis bawahi dari laporan ini. Siapkan catatan Anda!
**1. Pendapatan "Jalan di Tempat", Laba Tertekan (Analisis Profitabilitas)**
Secara garis besar (top-line), pendapatan TMAS bisa dibilang stagnan. Pendapatan usaha tercatat sebesar Rp4,348 triliun pada 2025, hanya naik tipis dari Rp4,344 triliun di tahun 2024. Namun, beban pokok penjualan justru membengkak dari Rp3,44 triliun menjadi Rp3,55 triliun.
Hal ini otomatis menggerus laba kotor perusahaan dari Rp900 miliar turun menjadi Rp797 miliar. Ujung-ujungnya, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun cukup dalam dari Rp673 miliar di 2024 menjadi Rp499 miliar di 2025. Penurunan laba ini juga membuat laba per saham (EPS) dasar milik Anda merosot.
*Pesan Mentor: Perusahaan sedang menghadapi tekanan margin akibat biaya operasional yang meningkat, sementara omzet tertahan.*
**2. Fase Ekspansi Agresif Bermodal Utang (Analisis Neraca/Posisi Keuangan)**
Nah, di balik penurunan laba, ada manuver besar di sisi neraca perusahaan. Total aset TMAS meroket dari Rp4,4 triliun menjadi Rp5,29 triliun. Dari mana asal kenaikan ini? Ternyata TMAS sedang agresif menambah aset, yang terlihat dari pos Aset Tetap yang nilainya melompat dari Rp2,55 triliun menjadi Rp3,59 triliun. Jika kita bongkar lebih dalam, penambahan aset ini sangat didominasi oleh investasi pada armada kapal dan alat angkutan.
Namun, ekspansi besar ini dibiayai oleh utang. Total liabilitas melonjak tajam dari Rp1,54 triliun menjadi Rp2,13 triliun. Kenaikan ini paling banyak disumbang oleh liabilitas jangka panjang atas utang bank yang meroket tajam dari Rp755 miliar menjadi Rp1,19 triliun.
*Pesan Mentor: Kenaikan utang untuk membeli aset produktif (seperti kapal angkut) adalah langkah wajar dalam bisnis logistik pelayaran, asalkan aset tersebut segera mencetak uang ke depannya.*
**3. Arus Kas Bergeser ke Belanja Modal (Analisis Arus Kas)**
Mari kita intip dompet perusahaannya. Arus kas bersih dari aktivitas operasi TMAS sebenarnya masih sangat sehat dan mencetak kas positif di angka Rp829 miliar, meski memang turun dari capaian tahun sebelumnya Rp992 miliar.
Uang dari operasi ini dipakai "jor-joran" untuk belanja modal (Capital Expenditure). Arus kas investasi minus hingga Rp1,23 triliun, sebagian besar karena pembayaran perolehan aset tetap yang menghabiskan dana hingga Rp1,09 triliun. Untuk menambal pengeluaran ini, TMAS menarik pinjaman bank baru sebesar Rp857 miliar.
Konsekuensi bagi Anda pemegang saham: demi menahan uang kas untuk ekspansi, TMAS memangkas pembagian dividen kas dari Rp507 miliar pada 2024 menjadi hanya Rp256 miliar di 2025.
**Kesimpulan dan Arahan Mentor:**
Rekan-rekan investor, TMAS saat ini sedang berada dalam **fase ekspansi armada yang agresif**. Mereka mengorbankan sebagian pembagian dividen dan mengambil utang jangka panjang baru untuk memperbesar kapasitas bisnis. Laba tahun 2025 ini tertekan karena biaya pokok yang naik namun belum diimbangi oleh lonjakan omzet.
*Arahan (Actionable Insight):* **HOLD dan Pantau Ketat**. Laporan ini menunjukkan TMAS sedang menanam benih untuk masa depan. Tugas Anda sekarang adalah memantau laporan kuartal 1 dan 2 di tahun 2026. Jika kapal-kapal dan armada baru yang dibeli dengan utang ini mulai beroperasi, kita harus melihat adanya lonjakan pendapatan secara signifikan. Namun, jika di tahun depan pendapatan tetap stagnan dan margin tak membaik di tengah beban bunga utang yang membengkak, Anda harus siap-siap merevisi ulang tesis investasi Anda di saham ini.
Tetap rasional, terus gunakan data, dan jangan mudah terbawa emosi pasar! Happy investing!
https://cutt.ly/etTgSDoM
$TMAS Berikut adalah analisis fundamental terhadap Laporan Keuangan Konsolidasian TMAS untuk Tahun Fiskal (FY) 2025
1. Revenue Structure Analysis: Stagnasi di Tengah Normalisasi Tarif.
Total Revenue & Growth: Pendapatan jasa FY 2025 tercatat sebesar Rp4,35 triliun, menunjukkan pertumbuhan stagnan sebesar 0,09% YoY dibandingkan Rp4,34 triliun pada FY 2024.
Segmentasi Bisnis: Jasa Pelayaran (Shipping): Berkontribusi sebesar 96% (Rp4,19 triliun) dari total pendapatan.
Jasa Bongkar Muat (Stevedoring): Memberikan kontribusi sisa pendapatan melalui entitas anak.
Driver Utama: Pertumbuhan pendapatan yang mendatar ini mengindikasikan bahwa volume pengiriman mungkin telah mencapai kapasitas optimal atau adanya normalisasi tarif sewa kapal/kontainer pasca-pandemi yang membatasi top-line growth.
Kualitas Revenue: Bersifat Cyclical-Structural. Meskipun logistik domestik merupakan kebutuhan struktural di Indonesia sebagai negara kepulauan, pertumbuhan revenue TMAS sangat sensitif terhadap siklus perdagangan domestik dan efisiensi rute pelayaran.
2. Profitability & Net Income Quality: Kompresi Margin yang Signifikan
Analisis laba menunjukkan adanya tekanan pada profitabilitas operasional:
Net Income: Laba Tahun Berjalan turun tajam menjadi Rp553,11 miliar, merosot 23,3% YoY dari Rp721,50 miliar pada FY 2024.
Margin Analysis:
Gross Profit Margin (GPM): Turun dari 20,7% (FY24) menjadi 18,3% (FY25) karena Beban Jasa meningkat menjadi Rp3,55 triliun.
Net Profit Margin (NPM): Mengalami kompresi dari 16,6% menjadi 12,7%.
Earnings Quality:
One-off Gains: Terdapat kontribusi signifikan dari "Laba atas pelepasan aset tetap" sebesar Rp70,78 miliar, meski angka ini jauh lebih rendah dibandingkan FY 2024 (Rp227,07 miliar). Penurunan laba pelepasan aset ini menjadi penyebab utama penurunan laba bersih secara keseluruhan.
Cost Inflation: Beban jasa naik sekitar 3% YoY di tengah pendapatan yang flat, mengindikasikan ketidakmampuan perusahaan untuk sepenuhnya meneruskan kenaikan biaya operasional (cost-pass-through) kepada pelanggan.
3. Balance Sheet Strength: Agresivitas Ekspansi Aset
Total Assets: Meningkat signifikan menjadi Rp5,57 triliun (dari Rp4,42 triliun di FY24), didorong oleh lonjakan Aset Tetap - neto menjadi Rp3,41 triliun.
Liquidity & Debt:
Net Cash Position: Kas dan setara kas turun menjadi Rp479,77 miliar.
Debt Structure: Terjadi peningkatan signifikan pada Utang Bank Jangka Panjang yang mencapai Rp1,52 triliun (dari Rp972,55 miliar) untuk mendanai penambahan armada.
View: Neraca TMAS bergeser menjadi lebih leverage/agresif. Kenaikan hutang digunakan untuk belanja modal (Capex) besar-besaran guna memperkuat dominasi pasar.
4. Cash Flow & Capital Allocation: Fase Reinvestasi Berat
Operating Cash Flow (OCF): Masih kuat dengan penerimaan kas dari pelanggan sebesar Rp4,30 triliun.
Capex & FCF: Perusahaan berada dalam siklus investasi tinggi. Pembayaran untuk perolehan aset tetap sangat masif (terlihat dari lonjakan saldo aset tetap neto), yang menekan Free Cash Flow (FCF) ke zona negatif atau sangat tipis.
Capital Allocation: Manajemen memprioritaskan Ekspansi Bisnis (akuisisi kapal) daripada akumulasi kas. Ini adalah strategi high-risk, high-reward yang bergantung pada pemulihan tarif logistik di masa depan untuk menutupi biaya bunga utang bank yang naik menjadi Rp87,27 miliar.
5. Investment View – Perspective:
Fundamental Status: Stabil namun Tertekan. Bisnis inti tetap menghasilkan kas, tetapi kualitas laba tergerus oleh kenaikan beban bunga dan penurunan keuntungan dari penjualan kapal tua.
Sustainability: Laba saat ini sangat bergantung pada efisiensi operasional armada baru. Tanpa kenaikan tarif pelayaran yang signifikan, margin akan terus tertekan oleh beban penyusutan dan bunga.
Catalyst:
Pemulihan daya beli domestik yang mendorong volume kontainer.
Penurunan suku bunga yang akan mengurangi beban keuangan dari utang bank yang membengkak.
6. Kesimpulan skenario:
Skenario
-Bull Case: Utilisasi armada baru mencapai >90%, tarif logistik naik 10%+, FCF kembali positif kuat.
-Base Case: Pertumbuhan pendapatan single-digit, margin tetap stabil di level 12-14%, ekspansi berlanjut dengan moderat.
-Bear Case: Oversupply kapal domestik menekan tarif, beban bunga menggerus laba bersih di bawah Rp500 miliar.
Status: NEUTRAL
Argumentasi: TMAS adalah pengelola aset yang efisien, namun saat ini sedang menghadapi tantangan top-line yang stagnan dan biaya operasional yang meningkat. Investor cenderung menunggu (wait and see) hingga Capex besar di 2025 mulai membuahkan hasil pada pertumbuhan pendapatan di 2026.
TMAS sedang melakukan transformasi dengan memperbarui armada secara agresif menggunakan hutang. Meskipun ini memperkuat posisi pasar jangka panjang, dalam jangka pendek, profil risiko keuangan meningkat (higher leverage) dan profitabilitas mengalami kompresi. Investor harus menunggu bukti bahwa aset baru ini mampu menghasilkan Return on Invested Capital (ROIC) yang lebih tinggi dari biaya hutangnya.
Disclaimer : Analisis ini berdasarkan data LK FY 2025 yang tersedia, Bukan Rekomendasi Ajakan Jual/beli
EmitenNews.com - Kinerja PT Temas Tbk (TMAS) mengalami tekanan sepanjang tahun buku 2025. Perseroan membukukan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp499,23 miliar, turun 25,86 persen secara year on year (yoy) dibandingkan Rp673,36 miliar pada 2024.
Berdasark...

www.emitennews.com

Stock market (pasar saham) itu tempat jual beli saham perusahaan. Banyak orang mikir saham cuma soal grafik naik atau turun, padahal sebenarnya jauh lebih luas dari itu. Di dalamnya ada analisa, strategi, psikologi, manajemen risiko, dan pemahaman kondisi ekonomi.
Orang yang sukses di market biasanya bukan yang paling cepat beli atau jual, tapi yang paling paham apa yang dia lakukan.
Di market ada 3 hal utama yang selalu jalan bareng:
1. Peluang → harga saham bisa naik karena kinerja perusahaan bagus, sentimen positif, atau banyak investor masuk.
2. Risiko → harga juga bisa turun karena berita buruk, krisis ekonomi, atau panic selling.
3. Mental → emosi sangat berpengaruh. Takut, serakah, atau panik bisa bikin keputusan jadi salah.
Kalau kamu cuma fokus ke keuntungan tanpa ngerti risiko, biasanya malah gampang rugi. Sebaliknya, kalau kamu paham cara kerja market, kamu bisa lebih tenang walau harga lagi turun.
Contoh sederhana:
- Contoh peluang:
Kamu beli saham perusahaan A di harga 1.000 karena laporan keuangannya bagus. Beberapa minggu kemudian naik ke 1.300 → kamu dapat profit.
- Contoh risiko:
Kamu beli saham B karena ikut-ikutan orang. Ternyata perusahaan itu punya masalah utang dan harga turun dari 800 ke 500 → kamu rugi.
- Contoh mental:
Saham kamu turun sedikit, padahal fundamental masih bagus. Kalau kamu panik dan jual cepat, kamu bisa kehilangan potensi naik di masa depan.
📌 Intinya:
Stock market itu bukan judi, tapi permainan strategi dan pengetahuan. Semakin kamu belajar memahami cara kerjanya, semakin besar peluang kamu bisa ambil keputusan yang tepat
Analisis ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi jual atau beli saham. Keputusan sepenuhnya berada pada masing-masing investor.
▶️ Follow & Kunjungi profil saya untuk insight dan postingan bermanfaat lainnya.
Random tag : $TMAS $WINS $HATM

pernyataan dari Dubes Iran untuk Indonesia kemarin. selat hormuz tetap dibuka tapi harus mengikuti protokol yang sudah ditentukan oleh pihak Iran. kesimpulan: jalur pelayaran distribusi minyak bisa dilewati. betulkah?
$SMDR $TMAS

❌ Maersk suspend cargo booking yang melintas negara teluk.
Update terakhir, lalu lintas kapal tanker minyak yang melalui Selat Hormuz sudah turun 90%.
https://cutt.ly/stRgq5Dp
$BULL $BOAT $TMAS
