338

-4

(-1.17%)

Today

75.94 M

Volume

50.45 M

Avg volume

Company Background

PT Pakuwon Jati Tbk merupakan perusahaan properti pertama yang mencatatkan sahamnya di bursa. Perusahaan yang mempunyai usaha pengembangan dan pembangunan superblok, retail, kantor, kondominium, dan hotel yang terintegrasi ini mempunyai pusat kegiatan di Jakarta. Selain itu perusahaan juga mengelola pusat perbelanjaan besar di Jakarta seperti Gandaria City Superblock, Tunjungan City Superblock, dan Superblok Kota Kasablanka.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

🎯 BULLISH PREDICTION
$KPIG

Haka 148++? DYOR
Buy 1 146
Buy 2 142
CL < 138
TP1 159
TP2 164

Arah Trend: ⏩ Sideways
Validasi Teknis: 🚀 Breakout

random tag $BSDE $PWON
CMIIW, Disclaimer On, DYOR!

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON AK udah abis belum barangnya

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Happy new year holder $PWON, masih tetap avg down, menanti pwon terbang di awal tahun

$PWON wawwww 2026/2027 dia bakal manggung kah? atau bakal anjlok nih pegang projek BUMN? sedangkan asing pd buang barang

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$FMII vs $PWON vs $GPRA: Lokasi Adalah Segalanya

Request member External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Tiga emiten ini sama-sama properti, tapi peta lokasinya langsung menjelaskan kenapa karakter uangnya beda. PWON itu pemain superblock dan mal, jadi wajar dia menumpuk aset matang di kota besar yang trafiknya stabil dan ujungnya menghasilkan recurring sekitar 80 persen dari revenue Rp5,12 triliun. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

GPRA lebih seperti developer multi-proyek yang menyebar dari Jakarta sampai Bogor, Cilegon, Bekasi, Tangerang, sehingga stoknya tebal persediaan Rp1,37 triliun tapi kasnya bisa ketekan ketika proyek lagi menyerap uang CFO minus Rp64,48 miliar walau laba Rp78,75 miliar. FMII paling terkonsentrasi di Jawa Timur, stok lahannya besar land under development 866.855 m², tapi penjualannya masih kecil Rp32,03 miliar sehingga siklus uangnya super panjang DI 14.356 hari dan CCC 14.312 hari, sementara kas akhir cuma Rp1,61 miliar. Jadi lokasi itu bukan sekadar alamat, tapi peta cara perusahaan mencari uang, sewa harian versus panen jual putus.

PWON menumpuk aset di node trafik paling mahal. Ini terlihat dari daftar aset ikonik yang memang hidup dari kunjungan harian, dan itu nyambung ke kualitas kas CFO Rp2,06 triliun yang hampir setara laba Rp2,12 triliun, lalu FCF sekitar Rp1,72 triliun karena capex cuma Rp336,9 miliar. Di sisi neraca, PWON juga punya investment properties Rp12,23 triliun dan estimasi fair value investment properties plus property and equipment Rp36,44 triliun, ditambah land bank 3.890.826 m² dengan nilai buku Rp3,22 triliun atau rata-rata biaya sekitar Rp828.157 per m², jadi mesin uangnya didukung tanah murah historis dan aset sewa raksasa.

Daftar lokasi utama properti PWON
🏙️ PWON Surabaya

🛍️ Tunjungan Plaza I sampai VI.

🛒 Pakuwon Mall dan Pakuwon City Mall.

🏬 Royal Plaza.

🌍 Land bank Surabaya Barat dan Surabaya Timur.


🏙️ PWON Jakarta

🛍️ Gandaria City Mall.

🛍️ Kota Kasablanka Mall.

🏬 Blok M Plaza.

🌍 Land bank Jakarta.


🏗️ PWON kota lain

🛍️ Pakuwon Mall Jogja.

🛍️ Pakuwon Mall Solo Baru.

🏗️ Pakuwon Semarang masih konstruksi.


GPRA beda cerita. Lokasinya menyebar, proyeknya banyak, persediaannya tebal, tetapi revenue 9 bulan 2025 Rp351,06 miliar malah turun 9,36% dan cashflow-nya belum ikut stabil. GPRA punya recurring yang lumayan untuk ukuran developer, sekitar Rp125,28 miliar atau 35,69% dari revenue, datang dari apartemen servis Rp80,53 miliar dan pusat perbelanjaan Rp41,22 miliar, tapi tetap saja CFO minus Rp64,48 miliar membuat investor harus fokus ke konversi stok jadi kas. Ditambah utang bank Rp267,02 miliar ke Bank Mandiri Rp247,32 miliar dan Bank Negara Indonesia BNI Rp19,7 miliar, dengan aset dijaminkan, maka titik rawannya ada di likuiditas saat penjualan tidak kencang. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Daftar lokasi utama GPRA
🏢 GPRA Jakarta

🏙️ Kebagusan City.

🏬 GP Plaza.

🏙️ The Bellezza.


🌳 GPRA Bogor

🏘️ Bukit Cimanggu Villa.

🏞️ Bhuvana Resort.

🚗 Ciawi.

🌾 Lahan cadangan Cilebut 57,87 hektar.

📌 Izin lokasi Bogor kurang lebih 175 hektar.


🏗️ GPRA Cilegon dan Anyer

🏙️ Metro Cilegon.

🏖️ Anyer Pallazo.

📌 Izin lokasi Cilegon kurang lebih 115 hektar.


🏘️ GPRA Bekasi dan Tangerang

🏡 Spring Garden dan Delapan Residence.

🛍️ Serpong Town Square dan Green Leaf Residence.

FMII paling jelas sebagai cerita Jawa Timur. Basis persediaannya di Surabaya dan Sidoarjo, dengan land under development 866.855 m² dan persediaan Rp408 miliar. Revenue 9 bulan 2025 Rp32,03 miliar memang tumbuh 66,36% dan laba Rp15,40 miliar terlihat melonjak, tetapi kualitas kas belum ikut, CFO cuma Rp386,91 juta dan FCF minus Rp7,12 miliar karena capex Rp7,51 miliar. Dengan utang bank sekitar Rp52,83 miliar dan ada tanah yang dijaminkan untuk fasilitas kredit, maka FMII itu tipe yang sangat bergantung pada keberhasilan panen penjualan berikutnya, bukan tipe yang bisa hidup nyaman dari recurring. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Daftar lokasi utama FMII
🌆 FMII Surabaya

🧭 Sememi.

🧭 Romokalisari.

🧭 Babat Jerawat.

🧭 Kandangan.

🧭 Tambak Osowilangun.


🌾 FMII Sidoarjo

🧭 Tambak Sawah.

🧭 Betro.

Jadi PWON itu menang karena lokasi asetnya memang dirancang untuk menghasilkan kas harian, sehingga angka operasional seperti DSO 6,8 hari, DI 894 hari, CCC 864 hari terasa jauh lebih manusiawi untuk properti, dan kas Rp7,01 triliun memberi bantalan besar. GPRA itu menengah, lokasi banyak dan ada recurring, tapi kas operasional masih bocor dan utang bank plus agunan membuat manajemen likuiditas jadi kunci. FMII itu paling murni landbank Jawa Timur, jadi lokasinya fokus dan bisa jadi menarik saat panen besar terjadi, tetapi selama penjualan masih kecil, CCC yang super panjang dan kas yang tipis membuat risikonya paling tinggi di antara tiga.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/8

testestestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON Coba belajar analisis teknikal sendiri

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$GPRA vs $PWON vs $FMII Saham Properti yang Tidak Populer

Request member External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

GPRA adalah saham properti. Untuk tahu bagus tidaknya GPRA maka kita harus bandingkan dengan perusahaan properti lain seperti PWON dan FMII. Karena di sektor ini, kata bagus sering cuma ilusi kalau investor cuma lihat laba atau cuma lihat aset. Ada emiten yang kelihatan kaya karena persediaan triliunan, tapi ternyata dompetnya bocor karena Arus Kas Operasi (CFO) negatif. Ada emiten yang revenue kecil tapi stok tanahnya segunung, bikin Cash Conversion Cycle (CCC) seperti lari jarak jauh yang tidak jelas kapan balik jadi kas. Ada juga emiten yang kelihatan santai, tapi sebenarnya mesin uangnya jalan tiap hari karena 80% pendapatannya recurring dari sewa mal, kantor, dan hotel. Jadi pembandingnya harus adil, bukan cuma bandingkan angka penjualan, tapi bandingkan kualitas uangnya, berapa cepat laba berubah jadi kas, seberapa berat stok dibanding penjualan, dan seberapa besar ketergantungan ke bank. Kalau investor paham tiga nama ini, investor akan lihat GPRA bukan sebagai cerita tunggal, tapi sebagai posisi di spektrum antara developer yang masih ngotot jual unit dan landlord yang hidup dari cashflow harian. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Mulai dari skala, karena skala itu menentukan napas saat siklus properti lagi tidak ramah. Di 9 bulan 2025, PWON mencetak revenue Rp5,12 triliun, sementara GPRA Rp351,06 miliar dan FMII Rp32,03 miliar. Artinya PWON itu sekitar 14,58 kali GPRA, dan sekitar 159,85 kali FMII. Skala sebesar ini bukan cuma soal gengsi, tapi soal daya tahan. PWON punya banyak aset matang yang sudah menghasilkan cashflow, sehingga bisa menyerap guncangan. GPRA ada di tengah, sudah punya portofolio proyek lintas kota, tapi masih belum punya mesin recurring yang dominan. FMII jelas paling kecil dan paling sensitif, karena satu-dua transaksi penjualan saja bisa mengubah angka growth-nya, tapi juga bisa bikin angka ambruk kalau tidak ada penjualan besar.

Masuk ke inti stabil atau tidak, recurring vs non-recurring. PWON itu model landlord superblock dengan sekitar 80% pendapatan recurring. Segmen office, shopping center, service apartment menghasilkan Rp3,19 triliun atau 62,3% dari total revenue, hospitality Rp910 miliar atau 17,8%. Real estate sales hanya Rp1,02 triliun atau sekitar 20%. Ini artinya PWON tetap dibayar tenant dan tamu hotel bahkan ketika pasar jual beli unit lagi lambat. GPRA lebih campuran, non-recurring masih dominan dari penjualan rumah dan ruko Rp198,42 miliar serta apartemen dan kantor Rp20,93 miliar, tapi GPRA punya recurring yang nyata dari apartemen servis Rp80,53 miliar, pusat perbelanjaan Rp41,22 miliar, dan sewa Rp3,53 miliar. Total recurring GPRA sekitar Rp125,28 miliar atau sekitar 35,69% dari revenue Rp351,06 miliar. FMII paling murni pola jual putusnya, 100% revenue Rp32,03 miliar berasal dari penjualan tanah dan bangunan, sementara recurring praktis nol, sewa cuma kebaca kecil di pendapatan lain-lain Rp103,50 juta. Maknanya, GPRA masih bisa bertahan dari recurring, tapi belum jadi mesin utama seperti PWON, sedangkan FMII benar-benar bergantung pada panen transaksi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Lalu investor harus lihat hubungan persediaan dan penjualan, karena di properti persediaan itu pedang bermata dua. GPRA punya persediaan Rp1,37 triliun, FMII Rp408 miliar, PWON Rp4,33 triliun. Yang penting itu rasio persediaan terhadap penjualan, karena ini mengukur seberapa berat stok yang harus dipanen. GPRA persediaan sekitar 3,90 kali revenue 9 bulan. FMII persediaan sekitar 12,74 kali revenue 9 bulan. PWON persediaan sekitar 0,85 kali revenue 9 bulan. Ini beda kelas. FMII itu stoknya besar sekali relatif terhadap kemampuan menjualnya saat ini, jadi wajar Days Inventory (DI) dan CCC-nya ekstrem panjang. GPRA juga berat, tapi tidak separah FMII. PWON justru terlihat paling ringan untuk sisi developer, dan ingat, PWON tidak bergantung pada penjualan unit untuk menghasilkan uang karena recurring-nya dominan.

Rasio efisiensi DSO, DI, DPO, dan CCC memperjelas gambarnya. Days Sales Outstanding (DSO) GPRA sekitar 14 hari, FMII sekitar 0,1 hari, PWON sekitar 6,8 hari. Ketiganya tidak punya masalah penagihan, tetapi DSO super kecil FMII bukan berarti bisnisnya super sehat, itu lebih berarti penjualan cenderung tunai dan piutangnya nyaris tidak ada. Days Inventory (DI) GPRA sekitar 2.511 hari, FMII sekitar 14.356 hari, PWON sekitar 894 hari. Ini yang jadi penentu. DI FMII sangat panjang, artinya uang terkunci di tanah dan bangunan sangat lama sebelum kembali jadi penjualan. DI GPRA juga panjang, khas developer yang stoknya besar. DI PWON masih tinggi karena properti, tapi paling waras di antara tiga. Days Payables Outstanding (DPO) GPRA sekitar 50 hari, FMII 44 hari, PWON 36,5 hari. Ini memberi sinyal GPRA paling banyak menahan pembayaran ke pemasok, bisa membantu kas jangka pendek, tapi juga bisa menandakan perusahaan butuh ruang napas. Kalau dihitung Cash Conversion Cycle (CCC), PWON sekitar 864 hari, GPRA sekitar 2.475 hari, FMII sekitar 14.312 hari. Makna CCC ini simpel, semakin panjang, semakin lama uang investor ngendap di proyek sebelum balik jadi kas.

GPRA mencetak laba bersih Rp78,75 miliar, tapi CFO minus Rp64,48 miliar. Ini sinyal bahwa laba belum jadi kas, bahkan kas keluar bersih dari operasional. FMII laba Rp15,40 miliar, CFO Rp386,91 juta, CFO-nya hanya sekitar 2,51% dari laba, jadi laba lebih banyak di kertas daripada di dompet. PWON laba Rp2,12 triliun, CFO Rp2,06 triliun, CFO sekitar 97,17% dari laba, ini kualitas laba yang tinggi karena hampir seluruh laba benar-benar masuk sebagai kas operasional. Di titik ini, investor harus tegas, GPRA dan FMII masih punya problem konversi laba ke kas, sementara PWON sudah seperti mesin cashflow yang matang. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau investor lanjut ke Free Cash Flow (FCF), ceritanya makin jelas siapa yang bisa membiayai dirinya sendiri. GPRA FCF sekitar minus Rp72,4 miliar karena CFO negatif dan masih ada belanja aset. FMII FCF minus Rp7,12 miliar karena CFO kecil dan Capex Rp7,51 miliar. PWON FCF sekitar Rp1,72 triliun karena CFO Rp2,06 triliun jauh lebih besar dari Capex Rp336,9 miliar. Ini bukan beda tipis, ini beda kasta. FCF positif besar membuat perusahaan lebih mandiri, lebih tahan suku bunga, dan lebih tidak tergantung bank atau pasar modal untuk sekadar bertahan.

Soal utang dan jaminan, GPRA dan FMII sama-sama menunjukkan model properti yang mengunci sertifikat untuk bertahan. GPRA punya utang bank jangka panjang Rp267,02 miliar, dan aset seperti unit apartemen, pusat perbelanjaan, serta sertifikat tanah Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) dijaminkan. FMII punya total utang bank sekitar Rp52,83 miliar dan menjaminkan tanah untuk fasilitas kredit. Artinya landbank mereka memang dibiayai utang dan ada risiko refinancing serta tekanan likuiditas saat penjualan melambat. PWON berbeda. Utang utamanya berupa Senior Notes 2028 US$333,45 juta, dan laporan menyebut tidak ada tanah atau bangunan yang dijaminkan sebagai agunan per 30 September 2025, notes-nya unsecured dengan corporate guarantee anak usaha. Ini sinyal kualitas kredit yang lebih kuat. PWON memang punya risiko kurs karena utang dollar, tapi kasnya Rp7,01 triliun dan FCF besar membuatnya punya bantalan yang jauh lebih nyaman. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau investor tarik garis besar, posisi GPRA itu jelas berada di tengah spektrum. GPRA punya aset dan proyek yang menyebar, persediaan besar Rp1,37 triliun, dan recurring sekitar 35,69% yang bisa jadi bantalan. Tapi GPRA masih kalah di titik paling penting, kas. CFO minus Rp64,48 miliar membuat investor harus menuntut bukti, bukan janji. FMII itu lebih ekstrem, kecil, penjualan Rp32,03 miliar, stok relatif sangat berat, CCC super panjang, kas akhir Rp1,61 miliar, sehingga hidupnya sangat bergantung pada momen panen penjualan berikutnya. PWON adalah pembanding paling kejam untuk GPRA, karena PWON menunjukkan seperti apa properti yang sudah naik kelas menjadi landlord cashflow, revenue Rp5,12 triliun, 80% recurring, CFO Rp2,06 triliun hampir setara laba Rp2,12 triliun, FCF Rp1,72 triliun, kas Rp7,01 triliun, dan tidak menjaminkan tanah-bangunan.

Kalau investor tanya GPRA bagus atau tidak, jawaban paling realistisnya bukan hitam-putih. GPRA bisa menarik kalau investor percaya manajemen bisa mengubah stok jadi kas, meningkatkan kontribusi recurring, dan memperbaiki CFO menjadi positif tanpa menambah tekanan utang. Tapi kalau investor mencari properti yang paling stabil dan paling bisa bikin tidur nyaman, data 9 bulan 2025 jelas memihak PWON. Kalau investor mencari opsi spekulatif landbank yang hasilnya bisa meledak kalau panen besar terjadi, FMII adalah tipe itu, tapi risikonya juga paling telak. GPRA ada di tengah, punya bantalan recurring, tapi masih harus membuktikan satu hal, kasnya harus berhenti bocor dulu.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/9

testestestestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON bye pwon gua cl, gaada harapan, ritel terlalu banyak, asing out, 2026 main proyek pemerintah, apart banyak ga laku

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON asing distribusi ratusan m per desember ini karna pwon pegang proyek ikn, hancur sudah..

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON Orang sabar akan menang

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON nanti akhirnya jg balek ke 312 an💥

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON ayook AK buang terus barangmu, biar bisa tambah muatan ini

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON AK CL njirr

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON boncos terus.....

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON
$BKSL
$CBDK sama saudaranya
wl buat tahun depan

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON Lanjutkan ndar hajar

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON oh $PWON ...
why.. oh.. why..
Cash flow cakep, profit cakep, tapi saham nya melorot terus, dan owner nya diem aja

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON hey kmu aku tunggu 2026 ....bye

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON

Banyak yang suka pamer lot segede gaban si,bikin bandar tak suka melihatnya..Diam2 aja napa...🤣😅 Makanya harga dibikin turun terus..😅🤣😁

#jangansukapamersahambandartaksukaritelcuan

$CTRA

$SMRA

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON kita liat ntar sore YU buang berapa ratus ribu barang

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$DMAS Akhir tahun 2020 pernah beli diharga 244.. Bertahan hingga sekarang AVG di 153,56 .

Ada 1 hal yang sepertinya kurang diperhatikan oleh sebagian Investor (ritel) tentang Pendapatan DMAS ini, yaitu "Recurring Income" . Sebgaian besar fokusnya di penambahan Landbank dan penjualan lahan industri. Ya tidak salah sih, karena memang saat ini mayoritas pendapatannya dari situ. Padahal, manajemen sendiri dalam RUPS dan Public Expose selalu memaparkan usaha manajemen dalam meningkatkan "Recurring Income" selain penjualan lahan baik Industri, komersial, maupun Residensial.

Bisa dilihat pada gambar saat harga saham diatas 200 rupiah (Akhir tahun 2020) EBIT dari Recurring Income "hanya" sekitar 78,8 Milyar. Dan di Q3 2025 EBIT 160,2 Milyar sedikit turun dibandingkan Q3 2024 162,9 Milyar.

Bisa jadi kedepannya DMAS akan meniru Pakuwon $PWON yang pendapatannya mayoritas dari Recurring Income ini. Berapa tahun lagi? Ntahlah mungkin 5 - 8 tahun lagi wkwkwk 😀

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON tunggu YU barangnya habis dulu, baru enak naiknya

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON ini saham fundamentalnya bagus tinggal nunggu momen aja ini

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Pecundang yang Konsisten.

$CTRA$PWON$SMRA

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON IKN bakal di push 2026, artinya? Siap2 PWON to the MOON 🚀 🚀 🚀

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON temboknya tebal

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON emg klo mau terbang suka sisiran dulu wkwk. tahun depan prediksi naik 400

2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy