


Volume
Avg volume
PT Pakuwon Jati Tbk merupakan perusahaan properti pertama yang mencatatkan sahamnya di bursa. Perusahaan yang mempunyai usaha pengembangan dan pembangunan superblok, retail, kantor, kondominium, dan hotel yang terintegrasi ini mempunyai pusat kegiatan di Jakarta. Selain itu perusahaan juga mengelola pusat perbelanjaan besar di Jakarta seperti Gandaria City Superblock, Tunjungan City Superblock, dan Superblok Kota Kasablanka.
$PWON Aseng Masih Semangat Jualan Selama 8 Minggu Beruntun
29 Des 25. Net sell asing Rp14,56 miliar.
22 Des 25. Net sell asing Rp8,09 miliar.
15 Des 25. Net sell asing Rp29,68 miliar.
8 Des 25. Net sell asing Rp57,43 miliar.
1 Des 25. Net sell asing Rp27,33 miliar.
24 Nov 25. Net sell asing Rp24,53 miliar.
17 Nov 25. Net sell asing Rp29,85 miliar.
10 Nov 25. Net sell asing Rp3,24 miliar.
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Total net sell asing 8 minggu terakhir yang tampil. Rp194,71 miliar.
Streak net sell 8 minggu beruntun. Ini bukan noise, ini pola distribusi asing.
Mayoritas minggunya besar. 6 dari 8 minggu net sell di atas Rp10 miliar, artinya tekanan jual asing konsisten dan signifikan.
Puncak tekanan ada di minggu 8 Des 25, net sell Rp57,43 miliar. Ini biasanya fase buang barang paling agresif, lalu pasar cenderung lanjut melemah atau minimal tertahan.
Net sell besar terjadi saat harga pembukaan masih relatif lebih tinggi lalu turun bertahap. Dari 388 di 1 Des 25, ke 360 di 8 Des 25, ke 346 di 15 Des 25, ke 344 di 22 dan 29 Des 25. Ini mirip proses exit bertahap, bukan panic sehari.
Minggu 10 Nov 25 cuma Rp3,24 miliar. Setelah itu malah gas net sell, jadi kemungkinan asing mulai serius mengurangi exposure sejak pertengahan Nov sampai Des. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Implikasi ke investor ritel. Selama net sell asing masih dominan, kenaikan biasanya lebih sering mentok, karena ada supply yang nongol tiap ada bid tebal. Untuk mulai sehat, minimal net sell mengecil stabil beberapa minggu atau balik net buy konsisten.
1. 29 Des 25. Harga 344 ke 340, -4 (-1.16%). Value 63.77B, volume 1.87M lot. Net sell asing 14.56B (22.83% dari value).
2. 22 Des 25. Harga 344 ke 342, -2 (-0.58%). Value 40.57B, volume 1.18M lot. Net sell asing 8.09B (19.94% dari value).
3. 15 Des 25. Harga 346 ke 344, -2 (-0.58%). Value 118.89B, volume 3.42M lot. Net sell asing 29.68B (24.96% dari value).
4. 8 Des 25. Harga 360 ke 344, -16 (-4.44%). Value 131.39B, volume 3.73M lot. Net sell asing 57.43B (43.71% dari value).
5. 1 Des 25. Harga 388 ke 360, -28 (-7.22%). Value 90.37B, volume 2.43M lot. Net sell asing 27.33B (30.24% dari value).
6. 24 Nov 25. Harga 352 ke 382, +30 (+8.52%). Value 92.12B, volume 2.53M lot. Net sell asing 24.53B (26.63% dari value).
7. 17 Nov 25. Harga 362 ke 352, -10 (-2.76%). Value 61.20B, volume 1.71M lot. Net sell asing 29.85B (48.77% dari value).
8. 10 Nov 25. Harga 372 ke 360, -12 (-3.23%). Value 49.58B, volume 1.36M lot. Net sell asing 3.24B (6.53% dari value).
Total 8 minggu. Total value 647.89B. Total net sell asing 194.71B (30.05% dari total value).
Asing konsisten net sell 8 minggu berturut-turut, jadi ini distribusi yang rapi, bukan kejadian satu-dua minggu. Minggu paling menekan harga adalah 1 Des 25 sampai 8 Des 25, karena harga jatuh dalam dan net sell juga jumbo 27.33B lalu 57.43B, artinya tekanan jual asing ketemu buyer yang tidak cukup agresif menahan. Uniknya 24 Nov 25 harga malah naik +8.52% meski net sell 24.53B, ini sinyal buyer domestik menyerap dan mengangkat harga, jadi arah harga tidak selalu tunduk pada asing, tapi ketika porsi net sell terhadap value tembus 40% sampai 50% seperti 17 Nov 25 dan 8 Des 25, biasanya price action jadi lebih berat dan rawan lanjut lemah.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










$PWON Analisis Harga Wajar PWON -> Januari 2026 versi youtube "BY creator" https://cutt.ly/XtgEAQJT
Sebelumnya sudah saya bahas jika AVIA mengalami Bullish Divergent dan sahamnya trus melanjutkan kenaikannya.
Sampai saat ini setelah postingan saya buat pada tanggal 24 Desember 2025 $AVIA telah mengalami kenaikan harga sampai +8,79%
Saat ini posisinya sudah Konfirmasi Breakout, saya masukan Watchlist. Perlu hati2 karena Stochastic sudah Oversold 🙏
Entry Konservatif: 496-506
SL: 488
TP nya tentuin aja Masing-masing ya 😄👌
RT: $PWON $BSDE
1/2


$SAGE Bisnis Properti yang Mencoba Telekomunikasi
Lanjutan dari postingan sebelumnya tentang properti di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Di harga 35 rupiah, saham SAGE sudah terbang 150% dalam setahun, dan pasar jelas sedang mengasihani fundamental yang lemah demi cerita yang seru. Kontrasnya tajam karena PWON dan PANI malah nyungsep di 2025, padahal dua ini justru punya bisnis yang jauh lebih besar dan aset yang jauh lebih nyata. Kalau investor menilai dari laporan, logikanya terbalik, SAGE omzetnya mini dan sedang rugi, sementara $PWON mesin kas, $PANI mesin ekspansi. Tapi bursa sering tidak peduli urutan logika, yang diperdagangkan bukan cuma angka, melainkan perhatian. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Free float kecil, harga kecil, dan basis investor yang mudah panas sering membuat saham seperti SAGE lebih gampang dipacu, dibanding raksasa seperti PWON atau PANI yang butuh arus dana raksasa untuk bergerak. Di sisi lain, saham besar bisa dihukum karena sentimen sektor, isu suku bunga, atau sekadar rotasi uang ke cerita lain, meski laporannya tetap bagus. Jadi kunci analisisnya bukan menertawakan yang turun atau memuja yang naik, melainkan menguji apakah harga saat ini masuk akal dibanding mesin laba, mesin kas, dan kualitas asetnya. Kalau tes itu dipakai, SAGE, PWON, dan PANI terlihat seperti tiga alam semesta yang berbeda. Bandarnya juga jelas beda.
Mulai dari spesies bisnisnya dulu. SAGE pada praktiknya adalah developer perumahan skala kecil di Bogor melalui proyek Winner Sapta Villa, ditambah langkah diversifikasi kecil lewat akuisisi penyedia internet PT Syntera Networks Nexalink. PWON adalah model superblock yang hidup dari recurring income, mall dan perkantoran menjadi tulang punggung, lalu disokong hotel dan real estat, sehingga uang sewa masuk rutin dan bisa diprediksi. PANI adalah developer kota mandiri yang sedang ekspansi agresif, pendapatan utamanya masih dari penjualan tanah dan bangunan, sementara pendapatan sewa sangat kecil, sehingga PANI lebih mirip mesin monetisasi land bank daripada operator sewa. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Skala langsung bikin beda kelasnya kelihatan tanpa debat. Revenue 9M-2025 SAGE Rp3,0 miliar, PANI Rp3,09 triliun, PWON Rp5,12 triliun. Ini berarti omzet PWON kira-kira 1.700 kali SAGE, dan PANI kira-kira 1.000 kali SAGE. Jumlah karyawan juga menggambar ukuran operasi, SAGE 57 orang, PANI 315 orang, PWON 3.274 orang. Biasanya semakin besar skala, semakin mudah biaya tetap ketutup dan semakin kuat daya tahan saat siklus properti jelek, sedangkan skala mini membuat satu pos biaya kantor saja bisa membalik laba jadi rugi.
SAGE berdiri 1992 tetapi baru IPO 8 Maret 2023, jadi sekitar 33 tahun umur usaha dan baru sekitar 2,5 tahun menjadi emiten per September 2025. PANI berdiri 2000 dan IPO 6 Desember 2018, jadi sekitar 25 tahun umur usaha dan sekitar 7 tahun menjadi emiten. PWON berdiri 1982 dan IPO 1989, jadi sekitar 43 tahun umur usaha dan 36 tahun menjadi emiten. Maknanya, PWON sudah melewati banyak siklus properti dan krisis, PANI sudah melewati beberapa siklus dan sedang agresif membangun fase baru, sedangkan SAGE masih sangat muda sebagai emiten sehingga pergerakan sahamnya lebih mudah dibentuk oleh arus dana ketimbang oleh reputasi siklus panjang.
SAGE dikendalikan PT Benteng Terang Sejahtera 70,00% dengan UBO Edward Halim, porsi publik 20,04% dari 8,03 miliar saham. PANI dikendalikan PT Multi Artha Pratama 89,93% per September 2025 lalu turun menjadi 87,78% setelah penjualan Oktober 2025, sehingga free float naik dari 10,07% menjadi 12,22% pada periode setelahnya, dengan total saham 16,90 miliar. PWON dikendalikan PT Pakuwon Arthaniaga 68,68% dengan UBO Alexander Tedja, free float 31,30% dengan total saham 48,15 miliar. Maknanya sederhana, semakin kecil porsi publik dan semakin kecil basis saham, semakin sensitif harga terhadap aksi beli jual yang tidak perlu besar, ini salah satu alasan saham mikro bisa terlihat spektakuler. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Revenue 9M-2025 SAGE turun 78,9% menjadi Rp3,0 miliar, sementara beban umum dan admin masih Rp4,9 miliar, akhirnya rugi bersih Rp3,15 miliar. Gross Profit Margin (GPM) SAGE 48,8% sebenarnya tebal, ini artinya dari setiap Rp100 penjualan, sisa kotor Rp48,8 sebelum biaya kantor. Tetapi Operating Profit Margin (OPM) SAGE minus 112% dan Net Profit Margin (NPM) SAGE minus 104%, ini artinya biaya tetap melampaui omzet, sehingga tiap Rp100 penjualan justru berubah menjadi rugi lebih dari Rp100. Return on Assets (ROA) SAGE minus 1,31% dan Return on Equity (ROE) SAGE minus 1,48% artinya aset dan modal pemegang saham sedang tergerus, bukan sedang diputar produktif.
Bandingkan dengan PWON yang secara laporan 9M-2025 jauh lebih rapi. Revenue Rp5,12 triliun dan laba bersih induk Rp1,73 triliun, dengan GPM 55,4%, OPM 42,3%, NPM 41,5%. Maknanya, PWON masih menyisakan sekitar Rp41,5 dari tiap Rp100 revenue sebagai laba bersih, ini kualitas pabrik sewa yang matang. ROA PWON sekitar 7,85% dan ROE 10,8% menunjukkan aset dan ekuitas benar-benar bekerja. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
PANI berada di kutub lain, bukan sewa, tapi margin penjualan asetnya luar biasa. Revenue 9M-2025 Rp3,09 triliun naik 48,01%, laba bersih induk Rp791 miliar naik 62,62%, dan margin PANI sangat tinggi, GPM 65,6%, OPM 55,8%, NPM 52,5%. Ini berarti PANI menjual dengan spread yang besar terhadap biaya perolehan lahan dan konstruksi. ROA PANI sekitar 4,38% dan ROE sekitar 4,69% terlihat lebih rendah daripada margin karena basis aset dan ekuitasnya membengkak besar akibat akuisisi lahan dan perubahan struktur aset, jadi denominasinya raksasa.
Cash Flow from Operations (CFO) adalah jawaban apakah laba benar-benar menjadi uang. SAGE punya kas masuk dari pelanggan Rp12,7 miliar lebih besar dari revenue Rp3,0 miliar, sehingga CFO masih positif Rp1,26 miliar dan Free Cash Flow (FCF) positif Rp0,96 miliar, ini biasanya terjadi karena penagihan piutang lama atau penerimaan kas dari transaksi masa lalu, bukan karena penjualan saat ini meledak. PWON lebih bersih, kas dari pelanggan Rp5,05 triliun sejalan dengan revenue Rp5,12 triliun, CFO Rp2,06 triliun dan FCF Rp1,72 triliun, ini laba tunai berkualitas tinggi. PANI unik, kas dari pelanggan Rp3,44 triliun lebih besar dari revenue Rp3,09 triliun, tetapi CFO cuma Rp214 miliar dan FCF minus Rp950 miliar karena uang masuk langsung dipakai membangun persediaan dan fasilitas baru, ini wajar untuk fase membangun kota baru, tetapi membuat kualitas kas terlihat lebih berat walau laba besar. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Days Sales Outstanding (DSO), Days Inventory (DI), dan Days Payables Outstanding (DPO) menunjukkan kecepatan uang. DSO makin kecil makin cepat tagih, DI makin besar makin lama stok nyangkut, DPO makin besar makin lama bayar vendor. SAGE DSO sekitar 1.422 hari dan DI sekitar 13.860 hari, ini lampu merah karena piutang dan stok bergeraknya lambat sekali, sementara DPO sekitar 15 hari membuat vendor dibayar cepat, sehingga kas mudah terkunci. PWON DSO 6,8 hari sangat cepat, DI 894 hari wajar untuk properti, dan DPO 36,5 hari teratur, sehingga siklus uangnya sehat. PANI DSO kurang dari 1 hari berarti penjualan sangat tunai atau uang muka kuat, DI 9.335 hari wajar untuk developer kota mandiri karena menyimpan persediaan lahan puluhan tahun, dan DPO 157 hari menunjukkan daya tawar tinggi ke vendor.
Komposisi aset menentukan kualitasnya, bukan cuma besarnya. SAGE didominasi tanah untuk dikembangkan Rp223,9 miliar yang setara 70,0% aset, sehingga total asetnya bisa diestimasi sekitar Rp320 miliar, dan kasnya cuma Rp1,27 miliar. Ini aset nyata, tetapi tidak likuid, dan kalau penjualan seret, aset bagus pun tidak terasa manfaatnya. PANI adalah raksasa persediaan, persediaan Rp36,83 triliun setara 74,4% aset, kas Rp4,59 triliun, total aset Rp49,46 triliun, ini menggambarkan perusahaan yang sedang mengangkut tanah dalam jumlah ekstrem untuk dimonetisasi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
PWON punya portofolio ikonik seperti Tunjungan Plaza, Pakuwon Mall, Gandaria City, Kota Kasablanka, dan land bank 3,89 juta m2, plus estimasi nilai pasar properti investasi dan aset tetap Rp36,44 triliun dibanding nilai buku Rp15,15 triliun, sehingga ada hidden value besar yang belum tercermin penuh di neraca.
Utang dan bunga menentukan siapa yang bisa tidur nyenyak. SAGE punya utang bank Rp21,43 miliar dengan bunga 10,4% per tahun, dan dengan FCF disetahunkan sekitar Rp1,28 miliar butuh sekitar 16,7 tahun untuk melunasi kalau kinerja tidak membaik, ini jelas risk tinggi. SAGE juga punya beban bunga pinjaman bank Rp1,52 miliar yang dikapitalisasi ke persediaan, jadi tekanan ekonominya ada walau tidak langsung terlihat di laba rugi. PANI utang bank Rp622,68 miliar, tetapi kas Rp4,59 triliun jauh lebih besar sehingga net cash, ini aman secara likuiditas, meski bisnisnya tetap sensitif suku bunga karena KPR pelanggan. PWON punya obligasi USD setara Rp5,54 triliun, tetapi kas Rp7,01 triliun dan FCF kuat, sehingga leverage lebih terasa terukur, risiko utamanya lebih ke kurs. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Pihak berelasi adalah detail yang sering diabaikan, padahal bisa jadi sumber risiko tata kelola. SAGE mengakuisisi PT Pilar Karya Loka dari pengendali, jadi investor perlu menilai kewajaran transaksi semacam ini. PANI punya transaksi signifikan dengan PT Agung Sedayu Permai untuk jasa konstruksi, dan ada penempatan kas di Bank Nationalnobu Rp310,7 miliar, plus piutang lain-lain berelasi Rp1,87 triliun untuk pembelian lahan oleh entitas sepengendali, ini bukan otomatis buruk, tetapi wajib dipantau karena skalanya besar dan terkait grup. PWON disebut tidak punya penjualan ke pihak berelasi, transaksi berelasi lebih ke gaji manajemen kunci, sehingga relatif bersih dari sisi pendapatan.
Sekarang soal kewajaran harga, ini bagian yang paling sering menipu karena angka terlihat simpel. Price to Book Value (PBV) adalah harga dibanding nilai buku, PBV mendekati 1 kali artinya pasar menilai perusahaan kira-kira setara ekuitasnya. SAGE di harga 35 rupiah punya BVPS sekitar Rp35,4 sehingga PBV sekitar 0,99 kali, terlihat wajar di atas kertas, tetapi kualitas asetnya dominan tanah mentah dan persediaan yang perputarannya lambat, sehingga murah versi PBV bisa jadi murah semu kalau monetisasi macet. PWON di harga Rp342 punya PBV 0,75 kali dan Price to Earnings (PER) sekitar 7,16 kali, ini murah untuk perusahaan dengan margin tebal dan CFO besar, apalagi ada hidden value aset yang besar, sehingga secara fundamental PWON paling masuk akal disebut diskon. PANI di harga Rp12.625 punya PBV 9,49 kali dan PER sekitar 134,7 kali, ini mahal ekstrem untuk ukuran fundamental tradisional, dan pasar jelas sedang membayar bukan laba hari ini, melainkan keyakinan bahwa land bank PIK 2 yang sangat luas akan menghasilkan nilai jauh lebih besar di masa depan, ini bisa benar kalau eksekusi dan permintaan terus kuat, tapi risikonya juga besar kalau pertumbuhan melambat atau sentimen properti berbalik. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
SAGE naiknya lebih cocok dibaca sebagai cerita pergerakan saham bandar ketimbang cerita kualitas bisnis, karena omzet runtuh, siklus piutang dan stok terlalu panjang, dan daya bayar utang masih lemah. PWON justru terlihat paling rasional untuk investor yang cari fundamental dan valuasi masuk akal, karena laba tunai kuat dan PBV diskon. PANI adalah premium bet, fundamental operasionalnya kuat dan asetnya raksasa, tetapi harga sudah mematok masa depan yang sangat optimistis, jadi kesalahannya bukan di perusahaan, melainkan di ekspektasi harga yang sudah tinggi sejak awal.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










$ROCK Pemilik Noble House Kuningan
Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Saham ROCK sudah terbang 439% dalam setahun terakhir. Sangat kontras dengan nyungsepnya PWON. Ini tipe kontras yang sering bikin investor kepeleset, karena harga bergerak seolah-olah bercerita soal kualitas bisnis, padahal kadang cuma bercerita soal selera pasar. ROCK itu bisnis sewa kantor yang rapi tapi mini, sementara $PWON itu pabrik sewa raksasa yang kasnya tebal. Kalau pasar sedang doyan cerita kecil yang bisa digoreng, saham mini lebih gampang dibuat terlihat spektakuler. Kalau pasar sedang alergi properti besar, saham raksasa bisa dihukum walau laporan bagus. Jadi perbandingan yang adil itu bukan siapa yang paling naik, tapi siapa yang paling kuat mengubah revenue jadi kas dan kas itu cukup untuk menahan utang. Di 9M-2025, ROCK ini menunjukkan beda kelas antara mesin kas sejati, mesin kas yang dicekik bunga, developer yang napasnya berat, dan emiten mini yang valuasinya sudah lari duluan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Mulai dari jenis bisnis supaya investor tidak ketukar. ROCK itu murni sewa kantor, 100% revenue berasal dari sewa, dan aset yang benar-benar menghasilkan uang saat ini hanya Noble House Office Tower di Kuningan, Jakarta Selatan. PWON itu superblock, mall, kantor, hotel, dan real estat, tapi tulang punggungnya recurring income, segmen mall dan perkantoran saja sudah Rp3,19 triliun atau 62,28% dari revenue. NIRO itu operator mall jaringan kota, sekitar 92,83% revenue datang dari segmen pusat perbelanjaan, jadi modelnya recurring juga, cuma kelas asetnya lebih menyebar ke kota-kota. LPKR itu developer kota mandiri, punya mall dan tumbuh, tapi kontribusi langsung baris pusat belanja cuma 2,17% dari revenue, jadi mall lebih seperti penguat ekosistem, bukan mesin utama. MPRO tidak punya mall sebagai penyangga, skala revenue mini, sehingga tidak ada pabrik sewa besar yang bisa menambal saat penjualan unit seret.
Skala membuat dampaknya terasa nyata. Revenue 9M-2025 ROCK Rp99,7 miliar, NIRO Rp1,11 triliun, PWON Rp5,12 triliun, LPKR Rp6,51 triliun, MPRO Rp2,52 miliar. Maknanya ROCK itu sekitar 50 kali lebih kecil dari PWON dan sekitar 65 kali lebih kecil dari LPKR, tapi sekitar 40 kali lebih besar dari MPRO. Skala besar biasanya bikin biaya tetap lebih gampang ketutup dan bisnis lebih tahan guncangan, sedangkan skala kecil bikin satu aset atau satu pos biaya saja bisa mengubah nasib satu laporan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sejarah memberi konteks kematangan. PWON berdiri 20 September 1982 dan IPO 9 Oktober 1989, jadi sudah 43 tahun berdiri dan 36 tahun melantai per September 2025. LPKR berdiri 15 Oktober 1990 dan IPO 28 Juni 1996, jadi 35 tahun berdiri dan 29 tahun melantai. NIRO berdiri 18 Desember 2003 dan IPO 13 September 2012, jadi 22 tahun berdiri dan 13 tahun melantai. MPRO berdiri 5 Maret 2004 dan IPO 28 September 2018, jadi 21 tahun berdiri dan 7 tahun melantai. ROCK berdiri 16 Mei 2013 dan IPO 31 Agustus 2020, jadi 12 tahun berdiri dan 5 tahun melantai. Maknanya PWON dan LPKR sudah melewati lebih banyak siklus, sementara ROCK dan MPRO lebih muda sebagai emiten sehingga pergerakan sahamnya sering lebih sensitif terhadap arus dana.
PSP dan free float menjelaskan karakter gerak harga. PWON dikendalikan PT Pakuwon Arthaniaga 68,68% dengan UBO Alexander Tedja, free float 31,30%, basis saham 48,15 miliar, ini likuid dan relatif sulit dibuat liar secara instan. LPKR PSP PT Inti Anugerah Pratama 25,63% dengan UBO keluarga Riady, free float 42,62%, saham 70,87 miliar, likuiditasnya sangat besar sehingga butuh arus dana besar untuk mengubah tren panjang. NIRO PSP PT Orion Global Development 75,25%, free float 24,75%, saham 22,20 miliar, lebih mudah digerakkan daripada raksasa, tapi tidak sesempit emiten mikro. MPRO PSP Jonathan Tahir 34,22% dan Tahir 14,80%, free float 19,03%, saham 9,94 miliar, struktur ini memang lebih gampang volatil. ROCK pemegang saham utama Luciana 27,00%, Po Sun Kok 26,99%, Pollux Hotels Group 26,00%, free float 20,00%, saham 1,44 miliar, ini sangat kecil basisnya, jadi wajar kalau geraknya bisa lebih agresif ketika ada arus dana. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Aset terkenal dan konsentrasi pendapatan adalah pembeda yang sering diremehkan. PWON punya portofolio ikonik seperti Tunjungan Plaza, Pakuwon Mall, Royal Plaza, Gandaria City, Kota Kasablanka, dan Blok M Plaza, plus land bank 3,89 juta m2, jadi mesin kasnya tidak bergantung pada satu aset saja. LPKR punya jaringan mall seperti Lippo Mall Puri, Lippo Plaza Puri, Lippo Plaza Jambi, Lippo Plaza Buton, Bellanova Country Mall, Cyberpark, dan dikelola Lippo Malls Indonesia, tapi model utamanya tetap developer sehingga aset persediaan sangat dominan. NIRO punya jaringan mall luas seperti Pejaten Village, Kalibata City Square, Cimanggis Square, CSB Cirebon, Citimall di banyak kota Sumatra, Gorontalo, Palu, dan proyek Tuban progres 67,42%, jadi kekuatannya adalah sebaran kota. MPRO terkenal lewat proyek seperti The Kahyangan Solo, Signature Simprug, land bank Maja 318 hektare, dan lahan Makassar 7 hektare, tapi belum ada mesin recurring besar. ROCK sangat terkonsentrasi, Noble House adalah mesin uang tunggal, sementara proyek International Exchange House progres 13,37% dan Azerai progres 4,17% masih belum jadi kontributor utama, sehingga risiko terbesar ROCK adalah ketergantungan pada satu aset yang beroperasi.
Rasio margin itu cara cepat membaca siapa yang pegang kendali biaya. GPM itu laba kotor dibagi revenue, artinya dari setiap Rp100 penjualan, berapa sisa setelah beban langsung. ROCK GPM 51,3% berarti sisa Rp51,3, ini kuat untuk bisnis sewa. PWON GPM 55,4% bahkan lebih tebal, wajar karena aset premium. NIRO GPM 49,3% juga tebal, tanda bisnis sewa mall sebenarnya enak. LPKR GPM 33,7% lebih tipis karena karakter developer yang beban pokoknya besar. MPRO GPM 21,0% tipis, dan karena revenue mini, margin tipis itu langsung terasa. OPM itu laba operasi dibagi revenue, artinya tenaga bisnis inti sebelum bunga. PWON OPM 42,3% itu pabrik uang, ROCK OPM 27,3% juga sehat, NIRO OPM 22,6% masih kuat. LPKR OPM 7,1% tipis. MPRO OPM minus 1.601% artinya bisnis inti belum bisa membiayai dirinya sendiri. NPM itu laba bersih dibagi revenue, artinya yang benar-benar tersisa setelah bunga dan pajak. PWON NPM 41,5% luar biasa, ROCK NPM 17,5% bagus, LPKR NPM 5,6% kecil, NIRO NPM minus 10,1% karena bunga, MPRO NPM minus 2.182% karena skala dan rugi yang tidak sebanding dengan omzet. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
ROA dan ROE menguji produktivitas, bukan sekadar margin. ROA itu laba dibanding total aset, ROE itu laba dibanding ekuitas. PWON ROA sekitar 7,85% dan ROE 10,8% berarti aset dan modal benar-benar bekerja. LPKR ROA 1,21% dan ROE 1,63% berarti aset besar tetapi output laba kecil, biasanya karena aset terkunci di persediaan dan monetisasi lambat. NIRO ROA sekitar minus 2,9% dan ROE minus 6,3% berarti secara bersih masih merugi, walau margin operasional bagus. ROCK ROA 2,43% dan ROE 2,84% berarti masih rendah, bukan karena margin jelek, tapi karena skala laba masih kecil dibanding aset yang besar dan ada proyek yang belum bergerak. MPRO ROA minus 4,36% dan ROE minus 6,15% berarti modal tergerus rugi.
Arus kas adalah tes yang paling sulit dibohongi. PWON revenue Rp5,12 triliun, kas dari pelanggan Rp5,05 triliun, CFO Rp2,06 triliun, FCF Rp1,72 triliun, ini definisi laba tunai. LPKR revenue Rp6,51 triliun, kas dari pelanggan Rp3,64 triliun, CFO minus Rp1,21 triliun, FCF minus Rp1,34 triliun, artinya pengakuan revenue belum menjadi uang masuk yang cukup dan operasional masih menyedot kas. NIRO revenue Rp1,11 triliun, kas dari pelanggan Rp1,16 triliun itu bagus, tapi CFO hanya Rp162 juta karena kas operasi habis untuk bunga, lalu FCF minus Rp335,2 miliar karena capex. ROCK revenue Rp99,7 miliar sejalan dengan kas pelanggan Rp92,3 miliar, CFO Rp34,7 miliar dan FCF Rp34,0 miliar, ini sangat sehat untuk ukuran mini karena kas operasi lebih besar dari laba. MPRO rugi Rp54,9 miliar, CFO minus Rp24,1 miliar, FCF minus Rp24,2 miliar, sementara revenue Rp2,52 miliar, ini kondisi megap-megap.
Utang dan bunga menjelaskan kenapa laba bisa berbeda jauh walau margin operasional mirip. NIRO beban keuangan Rp535,0 miliar, lebih dari 2 kali laba usaha sekitar Rp250 miliar, jadi mesin operasionalnya sebenarnya hidup tapi dihancurkan bunga, ditambah utang jangka panjang Rp6,78 triliun dan sensitif bunga, kenaikan 1% diperkirakan menggerus laba Rp54,3 miliar. LPKR beban keuangan Rp452,1 miliar dan laba operasi kira-kira setara, jadi napasnya pendek, ditambah utang berbunga sekitar Rp4,93 triliun dan CFO negatif. PWON beban keuangan Rp269,5 miliar relatif kecil dibanding tenaga operasionalnya, meski punya obligasi USD Rp5,54 triliun, PWON masih punya kas Rp7,01 triliun dan FCF besar, jadi leverage terasa terkendali. ROCK utang bank Rp6,31 miliar saja, secara laba tahunan sekitar 3 bulan bisa lunas, dan secara FCF lebih cepat, ini aman. MPRO utang bank sekitar Rp249,8 miliar, tapi karena mesin kasnya lemah, nominal itu terasa berat. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Rasio DSO, DI, DPO itu membantu melihat kecepatan uang. DSO makin kecil makin cepat tagih, DI makin besar makin lama aset nyangkut, DPO makin besar makin lama bayar vendor. PWON DSO 6,8 hari sangat cepat, tanda tenant disiplin, DI 894 hari wajar untuk properti, DPO 36,5 hari teratur. NIRO DSO 37 hari cukup sehat, DI 30 hari cepat karena persediaan bukan land bank besar, DPO 29 hari disiplin. ROCK DSO 44,7 hari masih sehat, DI 2.500 hari sangat tinggi karena proyek konstruksi yang berhenti, DPO 10,6 hari sangat cepat bayar vendor, ini membuat cash conversion cycle panjang. LPKR DI 1.732 hari wajar untuk developer besar, tapi ketika CFO negatif, artinya perputaran kas sedang bermasalah. MPRO DI puluhan ribu hari adalah sinyal persediaan nyangkut parah.
Pihak berelasi bisa jadi rem darurat atau jebakan, tergantung skala dan transparansi. PWON tidak ada penjualan ke pihak berelasi, transaksi terutama gaji manajemen kunci, ini bersih. LPKR punya penempatan kas besar di Bank Nationalnobu Rp2,37 triliun termasuk dana dibatasi, ini signifikan dan perlu dipantau karena menyangkut likuiditas. MPRO punya pinjaman dari Bank Mayapada dan utang lain ke Mayapada Pratama Kasih Rp34,9 miliar, ini menunjukkan ketergantungan grup. NIRO punya pelanggan utama Matahari menyumbang 10,75% revenue, ini bukan pihak berelasi, tapi konsentrasi pelanggan tetap risiko bisnis. ROCK punya piutang pihak berelasi Rp0,83 miliar ke Builder Shop Indonesia dan Aesler Grup Internasional, hanya 0,09% dari aset, jadi kecil.
Valuasi adalah tempat investor paling sering tertipu karena angka terlihat simpel. PBV itu harga dibanding nilai buku, makin tinggi berarti pasar membayar premi atas ekuitas, makin rendah berarti diskon dan biasanya pasar menuntut bukti kas. PWON PBV 0,75 kali dan PER 7,16 kali, ini murah untuk mesin kas seperti itu, apalagi ada hidden value aset, estimasi nilai pasar properti investasi dan aset tetap Rp36,44 triliun vs nilai buku Rp15,15 triliun. LPKR PBV 0,20 kali di harga Rp85 berarti diskon ekstrem, tapi pasar sedang menghukum CFO negatif. NIRO PBV 4,14 kali di harga Rp336 berarti mahal untuk emiten yang masih rugi dan bunga besar, kecuali ada perbaikan besar di struktur utang. MPRO PBV 95,3 kali itu sudah wilayah harga berjalan sendiri. ROCK PBV 2,63 kali dan PER sekitar 92,7 kali di harga Rp1.500 berarti pasar membayar mahal seolah-olah proyek yang masih berhenti akan segera menjadi mesin laba besar, padahal saat ini pendapatan tetapnya bertumpu pada satu aset utama dan masih ada akumulasi defisit Rp108,2 miliar.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/9









$NIRO Mall Play
Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Saham NIRO sudah naik sekitar 150% dalam setahun terakhir padahal laporan 9M-2025 masih rugi. Di sisi lain $PWON dan $LPKR justru nyungsep, seolah-olah pasar sedang menghukum yang punya mesin kas dan memuja yang sedang berdarah. Kenaikan NIRO juga belum segila MPRO, tapi polanya mirip, rugi jalan terus, harga saham tetap bisa melayang. Kalau ini dibaca sebagai kompetisi fundamental, hasilnya ngawur, karena kualitas kas kalah oleh cerita. Kalau dibaca sebagai kompetisi pergerakan saham, baru nyambung, likuiditas dan ekspektasi bisa mengangkat harga lebih cepat dari kinerja. Indonesia punya kebiasaan aneh, kadang saham makin rugi justru makin ramai, karena orang mengejar momentum bukan kualitas. Jadi uji paling adil bukan siapa yang paling heboh, tapi siapa yang bisa mengubah revenue jadi kas, lalu kas itu cukup untuk menahan utang. Di angka 9M-2025, NIRO, LPKR, PWON, dan MPRO memperlihatkan beda kelas antara pabrik sewa yang sehat, developer yang berat napas, dan emiten kecil yang harganya sudah lari duluan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Mulai dari identitas bisnisnya dulu biar investor tidak ketukar. NIRO itu mall heavy, sekitar 93% revenue datang dari segmen pusat perbelanjaan, jadi ini memang operator mall yang mengandalkan sewa, service charge, utilitas, parkir. PWON juga pabrik sewa, bahkan tulang punggungnya jelas, segmen mall, kantor, apartemen servis menyumbang sekitar 62% revenue, jadi mesin utamanya recurring. LPKR beda spesies, mall memang ada dan tumbuh, tapi kontribusi langsung baris pusat belanja cuma sekitar 2% dari revenue, sehingga LPKR lebih terasa sebagai developer kota mandiri yang hidup dari jual-beli unit dan putaran persediaan. MPRO lebih ekstrem lagi, tidak punya mall sebagai penyangga, revenue-nya kecil sekali dan masih bertumpu pada penjualan apartemen dan pengelolaan gedung skala mini.
Sekarang skala, karena skala itu menentukan daya tahan. Revenue 9M-2025 NIRO sekitar Rp1,11 triliun, PWON Rp5,12 triliun, LPKR Rp6,51 triliun, MPRO Rp2,52 miliar. Maknanya NIRO itu kira-kira 5 sampai 6 kali lebih kecil dari PWON dan LPKR dalam omzet, tapi masih ratusan kali lebih besar dari MPRO. Skala besar biasanya membuat biaya tetap lebih mudah ditutup, akses pendanaan lebih gampang, dan volatilitas operasional lebih bisa diserap, sedangkan skala mini seperti MPRO membuat satu komponen biaya saja bisa langsung menghabisi laba. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sejarahnya juga memberi konteks kematangan. NIRO berdiri 18 Desember 2003 dan IPO 13 September 2012, jadi per September 2025 umurnya sekitar 22 tahun dan sudah 13 tahun jadi emiten. LPKR berdiri 15 Oktober 1990 dan IPO 28 Juni 1996, jadi sekitar 35 tahun dan 29 tahun melantai. PWON lebih senior, berdiri 20 September 1982 dan IPO 9 Oktober 1989, jadi sekitar 43 tahun dan 36 tahun melantai. MPRO berdiri 5 Maret 2004 dan IPO 28 September 2018, jadi sekitar 21 tahun dan 7 tahun melantai. Maknanya PWON dan LPKR itu pemain lama dengan aset besar dan sistem operasi yang sudah teruji, sementara NIRO generasi setelahnya dengan ekspansi ke banyak kota, dan MPRO relatif baru sebagai emiten.
Masuk ke isi mall NIRO supaya jelas kenapa revenue-nya terasa nyata. Portofolio NIRO mencakup Pejaten Village dan Kalibata City Square di Jakarta, Cimanggis Square di Depok, CSB di Cirebon, lalu Citimall di berbagai kota Sumatra seperti Prabumulih, Baturaja, Lahat, ditambah Binjai Super Mall, lalu di Sulawesi ada Citimall Gorontalo dan Palu Grand Mall, serta proyek Tuban yang progresnya sekitar 67%. Operasinya tersebar sampai 42 lokasi, jadi NIRO bukan mall premium Jakarta saja, tapi jaringan mall kota-kota yang menempel pada konsumsi daerah. Komposisi pendapatan mall 9M-2025 kira-kira sewa Rp581 miliar, service charge Rp208 miliar, utilitas Rp167 miliar, parkir Rp60 miliar, lainnya Rp12 miliar, total mall Rp1,03 triliun dari total Rp1,11 triliun. Maknanya mesin NIRO benar-benar sewa harian, bukan sekadar jual tanah.
Pertumbuhan NIRO juga terlihat, pendapatan segmen mall naik sekitar 20,45% dari Rp855 miliar ke Rp1,03 triliun. Ini penting, karena di bisnis sewa, pertumbuhan seperti ini biasanya datang dari kombinasi okupansi, kenaikan sewa, perbaikan traffic, atau bertambahnya aset yang beroperasi. Jadi dari sisi top line, NIRO sedang jalan. Tapi problemnya ada di bawah, yaitu bunga. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Di laporan 9M-2025, NIRO revenue Rp1,11 triliun tumbuh, margin kotor atau GPM 49,3% juga tebal. GPM itu ukuran sederhana, dari setiap Rp1 revenue, berapa sisa setelah beban langsung, jadi 49,3% berarti sisa sekitar Rp0,49 sebelum biaya kantor dan bunga. NIRO bahkan masih punya OPM 22,6%, OPM itu laba operasi dibagi revenue, artinya mesin inti sebelum bunga masih menghasilkan sekitar Rp0,23 dari setiap Rp1 revenue. Masalahnya, NPM NIRO -10,1%, NPM itu laba bersih dibagi revenue, jadi setelah bunga dan pajak, tiap Rp1 revenue malah berubah jadi rugi sekitar Rp0,10. Penyebabnya kebaca jelas, beban keuangan NIRO sekitar Rp535 miliar, ini lebih dari 2 kali laba usaha sekitar Rp250 miliar, jadi bunga melindas laba operasional.
Bandingkan dengan PWON, ini contoh pabrik sewa yang tidak keteteran bunga. PWON punya GPM 55,4%, OPM 42,3%, NPM 41,5%. Artinya dari Rp1 revenue, laba bersihnya masih sekitar Rp0,42, sangat tebal. Beban keuangan PWON sekitar Rp269 miliar, sementara laba operasinya kalau dikira-kira dari OPM berada di kisaran Rp2,17 triliun, jadi bunga cuma sekitar 12% dari tenaga operasional, ini sehat. Di LPKR, marginnya lebih tipis, GPM 33,7%, OPM 7,1%, NPM 5,6%. Beban keuangan LPKR sekitar Rp452 miliar, sementara laba operasinya kira-kira Rp463 miliar, jadi bunga hampir setara dengan tenaga operasionalnya, napasnya pendek. Di MPRO, margin operasinya sudah negatif, jadi cerita utamanya bukan bunga doang, tapi bisnis inti yang belum bisa membiayai dirinya sendiri.
ROA dan ROE itu alat untuk menilai produktivitas aset dan modal. ROA NIRO sekitar -2,9% dan ROE sekitar -6,3%, artinya aset besar belum menghasilkan laba bersih, dan modal pemegang saham sedang tergerus rugi. Bandingkan PWON, ROA sekitar 7,85% dan ROE sekitar 10,8%, ini tanda aset dan ekuitas bekerja menghasilkan laba. LPKR ROA sekitar 1,21% dan ROE sekitar 1,63%, artinya output laba kecil sekali dibanding aset dan ekuitas yang besar. MPRO ROA -4,36% dan ROE -6,15%, artinya belum produktif dan masih bocor. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bagian yang paling sering menjebak investor adalah kas. CFO itu arus kas operasi, ini jawaban paling jujur apakah laba benar jadi uang. NIRO punya revenue Rp1,11 triliun dan kas dari pelanggan Rp1,16 triliun, ini bagus karena uangnya masuk. Tapi CFO NIRO cuma sekitar Rp162 juta, praktis nol, karena kas hasil operasi habis untuk bayar bunga sekitar Rp465 miliar. Jadi revenue memang tunai, tapi tidak tinggal jadi kas bersih. FCF NIRO negatif sekitar Rp335 miliar, FCF itu CFO dikurangi belanja modal, artinya setelah investasi pun NIRO masih defisit kas. Bandingkan PWON, kas dari operasi Rp2,06 triliun dan FCF Rp1,72 triliun, ini mesin kas nyata. Bandingkan LPKR, CFO minus Rp1,21 triliun dan FCF minus Rp1,34 triliun, artinya laba di laporan tidak ditopang kas, operasionalnya menyedot uang. Bandingkan MPRO, CFO minus Rp24 miliar dan FCF minus Rp24 miliar, sementara revenue cuma Rp2,52 miliar, jadi secara kas itu benar-benar megap-megap.
Rasio operasional seperti DSO, DI, DPO itu membantu baca siklus uang. DSO NIRO sekitar 37 hari, ini rata-rata waktu tagih piutang, makin kecil makin cepat uang masuk. DI NIRO sekitar 30 hari, ini rata-rata persediaan berputar, rendah karena persediaannya bukan land bank besar seperti developer. DPO NIRO sekitar 29 hari, ini rata-rata waktu bayar vendor, makin besar makin lama bayarnya. Bandingkan MPRO, DI-nya sampai puluhan ribu hari, itu sinyal aset nyangkut di persediaan dan tidak laku-laku, makanya revenue mini. Bandingkan PWON, DI ratusan hari itu wajar karena ada karakter properti, tapi tertutup oleh kas yang kuat dan recurring yang stabil.
Utang dan sensitivitas bunga adalah bom waktu NIRO. Utang jangka panjang NIRO sekitar Rp6,78 triliun, jauh lebih besar dari revenue tahun berjalan, jadi struktur modalnya agresif. Risiko paling tajamnya suku bunga mengambang, kenaikan bunga 1% diperkirakan menggerus laba sekitar Rp54 miliar, dan saat laba bersih sudah negatif, tambahan beban ini makin menyulitkan. LPKR juga punya utang berbunga sekitar Rp4,93 triliun dan masih berurusan dengan CFO negatif, jadi risikonya eksekusi dan likuiditas. PWON punya utang obligasi sekitar Rp5,54 triliun, tapi kasnya sekitar Rp7,01 triliun dan FCF kuat, jadi utang itu lebih terasa sebagai leverage terukur, bukan jerat. MPRO utang bank sekitar Rp250 miliar, tapi problemnya bukan sekadar nominal utang, melainkan mesin revenue dan kas yang terlalu kecil. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Valuasi membuat kontrasnya makin tajam. PBV itu harga dibanding nilai buku, makin tinggi berarti pasar memberi premi besar atas ekuitas, makin rendah berarti pasar memberi diskon. NIRO PBV sekitar 4,14 kali pada harga 336, artinya pasar menghargai 4 kali nilai bukunya padahal masih rugi dan bunga tinggi, ini definisi mahal secara fundamental kecuali ada perbaikan besar di struktur utang atau lonjakan laba. PWON PBV sekitar 0,75 kali pada harga 342, artinya diskon terhadap nilai buku padahal laba dan kas sangat kuat, jadi ini terlihat murah secara fundamental. LPKR PBV sekitar 0,20 kali pada harga 85, diskonnya ekstrem, tapi pasar sedang menghukum CFO negatif dan risiko eksekusi. MPRO PBV sekitar 95 kali, ini sudah masuk wilayah harga yang berjalan sendiri, bukan refleksi laporan keuangan.
Terakhir, karakter pergerakan saham juga dipengaruhi jumlah saham beredar dan free float. NIRO punya sekitar 22,20 miliar saham dan free float 24,75%, PWON 48,15 miliar dan free float 31,30%, LPKR 70,87 miliar dan free float 42,62%, MPRO 9,94 miliar dan free float 19,03%. Maknanya MPRO paling mudah liar karena basis saham dan porsi publiknya paling sempit, NIRO juga relatif lebih mudah digerakkan dibanding raksasa seperti LPKR dan PWON, sementara LPKR dan PWON butuh arus dana jauh lebih besar untuk mengubah tren harga secara konsisten.
Jadi PWON adalah standar emas pabrik sewa karena margin tebal dan kas masuk nyata. NIRO adalah operator mall yang revenue-nya tumbuh dan komposisinya recurring, tapi bunga dan utangnya membuat laba bersih jeblok dan kas bersih nyaris tidak tersisa. LPKR adalah raksasa ekosistem yang skala besar, tetapi kualitas kas 9M-2025 sedang jelek karena CFO negatif, jadi diskon PBV ada alasannya. MPRO adalah anomali, skala mini dan fundamental lemah, tapi harga bisa terbang karena bandar saham lebih dominan daripada mesin bisnis.
🏗️ Skala omzet. Daya tahan beda kelas
💠 LPKR Rp6,51 triliun. Raksasa ekosistem
💠 PWON Rp5,12 triliun. Raksasa sewa
💠 NIRO Rp1,11 triliun. Menengah, fokus mall
💠 MPRO Rp2,52 miliar. Mini, ruang napas tipis
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🏢 Mesin recurring income. Siapa benar-benar mall heavy
🟢 NIRO 93% dari mall. Sewa, service charge, utilitas, parkir
🧾 Sewa Rp581 miliar. Service charge Rp208 miliar. Utilitas Rp167 miliar. Parkir Rp60 miliar
📈 Revenue mall naik 20,45%
👑 PWON 62% dari mall, kantor, apartemen servis. Pabrik sewa
🟡 LPKR mall langsung cuma 2,17%. Lebih developer kota mandiri
🔴 MPRO tidak punya mall. Tidak ada penyangga recurring
💥 Laba vs bunga. Kenapa rugi bisa tetap naik
⚠️ NIRO laba usaha Rp250 miliar kalah oleh bunga Rp535 miliar. NPM -10,1%
✅ PWON margin tebal. GPM 55,4%. OPM 42,3%. NPM 41,5%
🟠 LPKR margin tipis. GPM 33,7%. OPM 7,1%. NPM 5,6%
❌ MPRO rugi dalam. OPM -1.601%. NPM -2.182%
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
💧 Kas. Ini pembeda utama
🟢 PWON CFO Rp2,06 triliun. FCF Rp1,72 triliun
🟡 NIRO kas pelanggan Rp1,16 triliun tapi CFO Rp0,16 miliar karena bunga Rp465 miliar. FCF -Rp335 miliar
🔴 LPKR CFO -Rp1,21 triliun. FCF -Rp1,34 triliun
🔥 MPRO CFO -Rp24 miliar. FCF -Rp24 miliar
🏦 Utang dan valuasi. Premium vs diskon
⚡ NIRO utang Rp6,78 triliun. PBV 4,14 kali. Mahal walau rugi
🧲 PWON PBV 0,75 kali. Diskon dengan kas kuat
🧊 LPKR PBV 0,20 kali. Diskon karena kas jelek
🚨 MPRO PBV 95,3 kali. Harga jalan sendiri
🧬 Sejarah. Kematangan operasi
📅 NIRO berdiri 2003. IPO 2012
📅 LPKR berdiri 1990. IPO 1996
📅 PWON berdiri 1982. IPO 1989
📅 MPRO berdiri 2004. IPO 2018
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










$LPKR vs $MPRO: Properti Mertua vs Menantu
Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
LPKR adalah saham milik Lippo, identik sebagai pelopor mall di Indonesia. Pemilik LPKR itu punya menantu yakni Tahir, yang memiliki saham MPRO. Tapi pasar sering salah kaprah, dikira karena sama-sama konglomerasi maka kualitas bisnisnya otomatis sama. Padahal PWON adalah definisi pabrik sewa, sedangkan LPKR lebih mirip kota mandiri yang hidup dari jual-beli unit dan putaran persediaan. MPRO malah ekstrem, harga sahamnya bisa terbang jauh sebelum bisnisnya menunjukkan tenaga. Jadi kalau investor cuma terpukau label Lippo atau Tahir, investor sedang menukar analisis dengan fan-fiction. Uji paling adil itu dua, seberapa besar mesin recurring income, dan seberapa cepat laba berubah jadi kas. Di angka 9M-2025, tiga emiten ini kasih pelajaran, mall boleh jadi ikon, tapi kas yang menentukan siapa yang benar-benar menang. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau mulai dari skala dulu supaya kebayang, LPKR dan PWON itu sama-sama raksasa revenue, MPRO itu mini. Revenue 9M-2025 LPKR Rp6,51 triliun, PWON Rp5,12 triliun, MPRO Rp2,52 miliar. Maknanya sederhana, PWON dan LPKR punya kapasitas menutup biaya tetap dan menyerap guncangan siklus jauh lebih kuat, sedangkan MPRO tidak punya ruang bernapas karena pendapatannya bahkan tidak cukup untuk menutup beban kantor dan beban bunga. Skala organisasi menguatkan cerita itu juga, LPKR punya 1.775 karyawan, PWON 3.274 karyawan, MPRO 14 karyawan. Bukan soal gaya-gayaan, tapi soal kemampuan eksekusi proyek, manajemen aset sewa, dan ketahanan operasional.
Sekarang masuk ke mall, karena di sini mitos LPKR sering mengalahkan faktanya. LPKR memang punya aset mall yang tersebar, contoh yang disebut spesifik Lippo Mall Puri dan Lippo Plaza Puri di Jakarta, Lippo Plaza Buton, Lippo Plaza Jambi, Bellanova Country Mall di Bogor atau Sentul, dan Cyberpark di Tangerang, dan pengelolaannya lewat PT Lippo Malls Indonesia. Bahkan ada eksposur ke LMIR Trust di Singapura, jadi struktur mall-nya lebih berlapis. Tapi saat investor lihat kontribusi ke uang, pendapatan baris pusat belanja LPKR cuma Rp141,50 miliar dari total Rp6,51 triliun, sekitar 2,17%. Ini maknanya penting, mall di LPKR lebih terasa sebagai bagian ekosistem, bukan mesin utama pendapatan. Memang mall LPKR tumbuh 23,28% YoY dari Rp114,78 miliar ke Rp141,50 miliar, dan ada pendapatan jasa pengelolaan pusat belanja Rp196,50 miliar, tapi porsi inti tetap kecil dibanding bisnis pengembangan real estat.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bandingkan dengan PWON, di PWON mall itu bukan sekadar ikon, tapi tulang punggung. Pendapatan segmen mall, kantor, apartemen servis PWON Rp3,19 triliun dari total Rp5,12 triliun, sekitar 62,28%. Maknanya, lebih dari separuh omzet PWON datang dari recurring income yang biasanya lebih stabil, lebih mudah diprediksi, dan lebih cepat jadi kas karena tenant bayar rutin. Sementara MPRO tidak punya mall, jadi tidak ada pabrik sewa yang bisa menambal saat penjualan unit seret. MPRO hidup dari penjualan apartemen dan pengelolaan gedung skala kecil, yang angkanya bahkan masih di level miliar kecil.
Sekarang rasio margin, karena margin itu cara cepat melihat siapa yang pegang kendali biaya. Gross Profit Margin (GPM) itu laba kotor dibagi revenue, maknanya dari setiap Rp1 penjualan, berapa yang tersisa setelah beban pokok. PWON GPM 55,4% berarti tiap Rp1 revenue menyisakan sekitar Rp0,55 sebelum biaya kantor, ini tipikal bisnis sewa premium. LPKR GPM 33,7% berarti sisanya sekitar Rp0,34, lebih tipis karena karakter developer yang beban konstruksinya besar. MPRO GPM 21,0% terlihat paling tipis, dan karena revenue-nya kecil sekali, margin tipis itu langsung terasa sebagai sesak napas.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Operating Profit Margin (OPM) itu laba operasi dibagi revenue, maknanya seberapa kuat mesin inti setelah beban penjualan, umum, administrasi. PWON OPM 42,3% artinya mesin intinya sangat kuat, bahkan sebelum bicara bunga dan pajak. LPKR OPM 7,1% artinya mesin intinya hidup tapi tipis, gampang kepotong kalau penjualan melambat atau bunga naik. MPRO OPM -1.601% artinya beban operasionalnya melindas pendapatan, jadi bisnis intinya belum membiayai dirinya sendiri.
Net Profit Margin (NPM) itu laba bersih dibagi revenue, maknanya berapa yang benar-benar jadi laba setelah semua biaya termasuk bunga dan pajak. PWON NPM 41,5% itu level pabrik uang. LPKR NPM 5,6% itu kecil untuk skala sebesar itu, dan artinya ruang salah langkah tidak besar. MPRO NPM -2.182% artinya tiap Rp1 revenue justru menghasilkan rugi besar, jadi kenaikan harga saham tidak bisa dijelaskan dari kualitas laba.
Masuk ke ROA dan ROE, ini mengukur produktivitas, bukan sekadar besar-besaran. Return on Assets (ROA) itu laba dibanding total aset, maknanya seberapa produktif aset menghasilkan laba. PWON ROA sekitar 7,85% artinya asetnya bekerja. LPKR ROA sekitar 1,21% artinya aset besar, tapi output laba kecil, ini sering terjadi saat aset terkunci di persediaan dan monetisasinya lambat. MPRO ROA -4,36% artinya asetnya belum jadi mesin laba, malah jadi beban. Return on Equity (ROE) itu laba dibanding ekuitas, maknanya seberapa efektif modal pemegang saham menghasilkan laba. PWON ROE sekitar 10,8% itu sehat. LPKR ROE sekitar 1,63% itu lemah. MPRO ROE -6,15% artinya ekuitas tergerus oleh rugi.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bagian yang paling tidak bisa dibohongi adalah arus kas. Cash Flow from Operations (CFO) itu kas bersih dari operasi, maknanya laba itu benar jadi uang atau cuma angka. PWON CFO Rp2,06 triliun dan Free Cash Flow (FCF) Rp1,72 triliun, maknanya setelah investasi pun masih ada kas besar tersisa, ini yang bikin PWON terasa seperti mesin. LPKR laba ada, tapi CFO minus Rp1,21 triliun dan FCF minus Rp1,34 triliun, maknanya operasional masih membakar kas, jadi investor yang cuma lihat laba bisa kejebak. MPRO lebih jelas lagi, rugi Rp54,90 miliar, CFO minus Rp24,05 miliar, FCF minus Rp24,2 miliar, maknanya bukan cuma rugi di laporan, tapi juga rugi di kas.
Rasio revenue dibanding kas dari pelanggan itu tes kualitas pendapatan. Maknanya sederhana, seberapa dekat penjualan yang diakui dengan uang yang benar-benar masuk. PWON Rp5,05 triliun dibanding Rp5,12 triliun sekitar 0,99, jadi hampir tunai. LPKR Rp3,64 triliun dibanding Rp6,51 triliun sekitar 0,56, jadi banyak yang belum jadi uang masuk, biasanya karena skema cicilan, progres pembangunan, atau timing serah-terima. MPRO Rp3,49 miliar dibanding Rp2,52 miliar sekitar 1,39, ini terlihat bagus, tapi sering berarti penagihan piutang lama, bukan pertumbuhan organik yang sehat.
Valuasi menutup cerita ini dengan kontras yang tajam. Price to Book Value (PBV) itu harga dibanding nilai buku ekuitas, maknanya pasar memberi diskon atau premi terhadap aset bersih. LPKR di harga Rp85 punya PBV sekitar 0,20 kali, artinya pasar menilai hanya 20% dari ekuitas, murah sekali, tapi diskon itu adalah kompensasi untuk CFO negatif dan risiko eksekusi. PWON di harga Rp342 PBV sekitar 0,75 kali, artinya diskon ada, tapi bisnisnya sudah jadi mesin kas. MPRO PBV 95,3 kali, artinya pasar memberi premi gila-gilaan atas ekuitas perusahaan yang sedang rugi, jadi kenaikan harga 465% lebih cocok dibaca sebagai cerita pergerakan likuiditas, bukan cerita fundamental.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Terakhir, jumlah saham beredar dan free float menentukan karakter gerak harga, bukan menentukan bagus-jeleknya bisnis, tapi menentukan seberapa mudah saham dibuat liar. LPKR punya 70,87 miliar lembar dan free float 42,62%, $PWON 48,15 miliar lembar dan free float 31,30%, MPRO 9,9425 miliar lembar dan free float 19,03%. Maknanya, LPKR dan PWON butuh arus dana jauh lebih besar untuk digerakkan lama karena basis sahamnya besar, sedangkan MPRO lebih mudah volatil karena basis saham dan porsi publiknya lebih sempit. Jadi kalau investor melihat MPRO terbang, jangan otomatis menyimpulkan fundamental ikut terbang, sering kali yang terbang itu mekanik perdagangannya.
🏙️ Skala dan Pendapatan
• LPKR Rp6,51T, PWON Rp5,12T, MPRO Rp2,52M.
• PWON dan LPKR raksasa pendapatan, MPRO mini.
• LPKR 1.775 karyawan, PWON 3.274, MPRO 14.
• Skala besar = daya tahan & efisiensi lebih kuat.
🏢 Mall dan Bisnis Inti
• LPKR punya Lippo Mall Puri, Jambi, Buton, Bellanova, Cyberpark.
• Pendapatan mall Rp141,50M (2,17% total Rp6,51T).
• PWON mall & kantor Rp3,19T (62,28% total).
• MPRO tanpa mall, pendapatan hanya apartemen & gedung kecil.
💰 Margin & Efisiensi
• PWON GPM 55,4%, OPM 42,3%, NPM 41,5%.
• LPKR GPM 33,7%, OPM 7,1%, NPM 5,6%.
• MPRO GPM 21%, OPM -1.601%, NPM -2.182%.
• Margin = ukuran kontrol biaya & daya tahan bisnis.
📊 ROA dan ROE
• PWON ROA 7,85%, ROE 10,8% → aset produktif.
• LPKR ROA 1,21%, ROE 1,63% → aset besar tapi lambat.
• MPRO ROA -4,36%, ROE -6,15% → aset membebani laba.
💵 Arus Kas dan Kualitas Pendapatan
• PWON CFO Rp2,06T, FCF Rp1,72T → kas kuat.
• LPKR CFO -Rp1,21T, FCF -Rp1,34T → bakar kas.
• MPRO CFO -Rp24M → rugi di laba & kas.
• Revenue vs Kas: PWON 0,99, LPKR 0,56, MPRO 1,39 (penagihan lama).
📈 Valuasi dan Struktur Saham
• LPKR PBV 0,20x → undervalued tapi risiko tinggi.
• PWON PBV 0,75x → diskon wajar, mesin kas solid.
• MPRO PBV 95,3x → harga jauh dari realitas.
• LPKR 70,8Mrd saham (free float 42,6%), PWON 48,1Mrd (31,3%), MPRO 9,9Mrd (19%).
• Basis kecil & free float sempit = volatil tinggi.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










$PWON Kira-kira kenapa asing rajin buang barang? Kemarin serok di 360 untung udah jual semua di 382. Saatnya serok selot2 lagi hehe
$CTRA $SMRA
$PWON Masih jelek, AK spekulasi buy doang ternyata, ga konsiten, bukan nya lanjut nampungin barang YU, malah ikutan buang bareng YU sampe ke harga 338 di penutupan akhir tahun kmrn..
hati2 aja saham properti belum waktunya manggung..
duit bandar terbatas, skrng lagi pada fokus di BUMI, DEWA, dll yg lagi hype..
$PWON mau masuk aja mikir2x lagi, ternyata dasar palung belum terlihat.
Masih ada under 300 support kuat nya
kalau bisa balik ke 50 lebih kuat lagi supportnya
$MPRO Perusahaan Keluarga Tahir Ini Sebagus Apa?
Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
MPRO dalam setahun terakhir ini sudah naik 465%. Entah sebagus apa fundamental saham keluarga Tahir ini sehingga bisa terbang. Kalau investor cuma lihat chart, ceritanya seperti menemukan properti yang tiba-tiba berubah jadi emas. Tapi laporan keuangan 9M 2025 justru menunjukkan mesin bisnis yang kecil sekali dan sedang merugi. Di pasar, kenaikan harga sering dipakai sebagai bukti kualitas, padahal sering juga cuma bukti likuiditas tipis dan arus dana yang kebetulan deras. MPRO punya free float 19,03% sehingga stok saham publik terbatas dan pergerakan bisa lebih liar. Bandingkan dengan $PWON yang free float 31,30% dan saham beredar 48,15 miliar lembar, jauh lebih berat untuk digerakkan. Jadi pertanyaannya bukan apakah harga MPRO bisa naik lagi, tapi apakah fundamentalnya cukup kuat untuk membenarkan valuasi yang sudah melayang. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi pengendali, MPRO jelas cerita keluarga Tahir lewat Jonathan Tahir 34,22% dan Tahir 14,80%, sementara PWON dikendalikan PT Pakuwon Arthaniaga 68,68% dengan UBO Alexander Tedja. Secara umur bursa, MPRO baru IPO 28 September 2018, sedangkan PWON IPO 9 Oktober 1989, jadi PWON sudah kenyang siklus dan punya mesin recurring yang matang.
Sekarang bandingkan skala biar kebayang kelasnya. Revenue MPRO 9M 2025 cuma Rp2,52 miliar, sementara PWON Rp5,12 triliun, sekitar 2.032 kali lebih besar di PWON. MPRO punya 14 karyawan, PWON 3.274 karyawan. Dari kas, MPRO Rp14,05 miliar, PWON Rp7,01 triliun, sekitar 499 kali lebih tebal di PWON. Yang paling kocak, market cap MPRO disebut Rp113,6 triliun, sementara PWON di harga Rp342 dengan 48,15 miliar saham itu sekitar Rp16,5 triliun, jadi MPRO dihargai jauh lebih besar padahal mesin bisnisnya jauh lebih kecil.
Masuk ke margin karena ini inti kualitas bisnis. Gross Profit Margin (GPM) itu laba kotor dibagi revenue, artinya dari tiap Rp1 penjualan, sisa berapa setelah beban pokok. MPRO GPM 21,0%, PWON GPM 55,4%, jadi PWON menyisakan laba kotor jauh lebih tebal. Operating Profit Margin (OPM) itu laba operasi dibagi revenue, artinya efisiensi bisnis inti setelah beban operasional. MPRO OPM -1.601%, ini artinya beban usaha menelan berkali-kali lipat dari penjualan, selaras dengan fakta SGA Rp14,97 miliar sementara revenue cuma Rp2,52 miliar. PWON OPM 42,3%, artinya dari Rp1 revenue masih tersisa sekitar Rp0,42 sebagai laba operasi, ini ciri mesin sewa mall dan hotel yang kuat. Net Profit Margin (NPM) itu laba bersih dibagi revenue, artinya yang benar-benar jadi laba setelah semua biaya. MPRO NPM -2.182% karena rugi Rp54,90 miliar di atas revenue mini, sedangkan PWON NPM 41,5% dan tetap mencetak laba bersih induk Rp1,73 triliun.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Return on Assets (ROA) itu laba dibanding total aset, maknanya seberapa produktif aset menghasilkan laba. MPRO ROA disetahunkan -4,36% berarti asetnya tidak menghasilkan, malah menggerus nilai. PWON ROA sekitar 7,85% berarti asetnya bekerja. Return on Equity (ROE) itu laba dibanding ekuitas, maknanya seberapa efektif modal pemegang saham diputar jadi laba. MPRO ROE disetahunkan -6,15% berarti ekuitas terkikis oleh rugi, sedangkan PWON ROE sekitar 10,8% itu level wajar untuk properti dengan recurring income.
Rasio perputaran modal kerja juga beda dunia. Days Sales Outstanding (DSO) itu rata-rata hari penagihan piutang, makin kecil makin cepat jadi kas. MPRO DSO sekitar 145 hari, PWON sekitar 6,8 hari, jadi MPRO jauh lebih lambat menagih. Days Inventory (DI) itu rata-rata hari persediaan berputar, maknanya berapa lama uang nyangkut di stok. MPRO DI sekitar 69.834 hari, angka ini biasanya sinyal persediaan tidak bergerak atau COGS terlalu kecil dibanding stok, sedangkan PWON DI sekitar 894 hari yang memang panjang tapi masih masuk akal untuk developer besar. Days Payables Outstanding (DPO) itu rata-rata hari bayar vendor, makin besar makin lama menahan kas. MPRO DPO sekitar 928 hari, ini bisa berarti pembayaran ditarik panjang, sedangkan PWON sekitar 36,5 hari. Cash Conversion Cycle (CCC) itu DSO plus DI dikurangi DPO, maknanya kira-kira berapa lama uang keluar balik jadi kas, dan di MPRO ini jadi sangat ekstrem.
Bagian yang paling menentukan, arus kas. Cash Flow from Operations (CFO) itu kas bersih dari operasi, maknanya laba benar-benar jadi uang atau cuma angka. MPRO CFO minus Rp24,05 miliar sementara rugi Rp54,90 miliar, jadi bisnisnya membakar kas. PWON CFO Rp2,06 triliun, jadi bisnisnya menghasilkan kas besar. Free Cash Flow (FCF) itu CFO dikurangi capex, maknanya kas sisa setelah investasi. MPRO FCF minus Rp24,2 miliar, PWON FCF Rp1,72 triliun, jadi PWON bukan cuma untung, tapi juga punya amunisi kas setelah tetap ekspansi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Struktur utangnya makin menegaskan risikonya. MPRO punya utang bank Rp249,80 miliar sementara kas cuma Rp14,05 miliar, plus utang lain ke PT Mayapada Pratama Kasih Rp34,9 miliar, jadi cerita utamanya adalah likuiditas dan ketergantungan pada dukungan pihak berelasi. PWON memang punya utang obligasi Rp5,54 triliun dalam USD yang membawa risiko kurs, tapi PWON pegang kas Rp7,01 triliun, jadi bantalan risikonya nyata.
Sengketa dan kualitas aset juga beda. MPRO masih punya isu legal aset tanah, tanah Maja 318 ha masih girik dan tanah Makassar proses balik nama SHM, ini risiko hukum yang bisa menghambat monetisasi. Di data yang investor berikan untuk PWON, transaksi pihak berelasi minim dan tidak ada penjualan ke pihak berelasi, jadi story governance PWON terlihat lebih bersih di sisi itu.
Terakhir, valuasi yang bikin dahi berkerut. Price to Book Value (PBV) itu harga dibanding nilai buku ekuitas, maknanya pasar memberi premi atau diskon terhadap aset bersih. MPRO PBV 95,3x, artinya investor membayar 95 kali nilai buku untuk perusahaan yang sedang rugi dan membakar kas. PWON PBV sekitar 0,75x, artinya investor justru beli di bawah nilai buku untuk perusahaan yang mencetak laba dan FCF besar. Price to Earnings (P/E atau PER) itu harga dibanding laba, maknanya berapa kali investor membayar laba tahunan. MPRO tidak relevan karena rugi, sementara PWON P/E sekitar 7,16x, ini murah untuk kualitas laba yang ditopang CFO. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau investor cari fundamental, MPRO lebih mirip cerita valuasi dan likuiditas yang lepas dari mesin laba, sedangkan PWON adalah mesin uang yang skalanya besar, marginnya tebal, kasnya deras, dan valuasinya diskon. Kenaikan 465% di MPRO lebih masuk akal dibaca sebagai cerita pergerakan harga pada float terbatas, bukan sebagai bukti bahwa bisnisnya tiba-tiba jadi selevel PWON. Bandar MPRO lebih royal.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/8








$IHSG bagaimana menurut kalian?
modus penipuan baru kah?
Ujung-ujungnya yg jadi sales malah bilang "ribet"
padahal pertanyaan gw sangat mudah dan simpel
WASPADA PARA INVESTOR & APESTOR
Ijin RT dulu biar semua tahu $CDIA $PWON
1/6






$KSIX vs $HOMI vs $PWON: Beda Dunia
Kalau investor mau membandingkan HOMI, KSIX, dan PWON dengan kacamata governance, yang paling cepat kelihatan adalah siapa pengendalinya dan seberapa besar porsi publiknya. PWON dikendalikan PT Pakuwon Arthaniaga 68,68% dengan porsi masyarakat 31,30% dan UBO Alexander Tedja, jadi kontrolnya kuat tapi barang publiknya juga tebal, biasanya bikin likuiditas lebih sehat dan harga lebih susah dibikin liar. HOMI dikendalikan PT Graha Mulia Indotama 52% dengan porsi publik 24%, jadi masih jelas ini emiten yang ditentukan satu kubu, tapi ruang publiknya tidak setipis KSIX. KSIX dikendalikan PT Badra Arta keluarga Kalbe 58,84% dengan publik 15,00%, ini yang paling tipis, dan float tipis itu sering bikin grafik tampak dramatis karena supply sedikit, bukan karena fundamental tiba-tiba berubah jadi hebat. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi umur dan sejarah, urutannya terasa menarik karena tidak linear. KSIX berdiri 27 Oktober 1980, mulai komersial 1985, tapi baru IPO 8 Januari 2025, artinya perusahaan tua yang baru masuk bursa, jadi investor sedang menilai transisi dari bisnis lama ke disiplin emiten publik. PWON berdiri 20 September 1982, mulai komersial Mei 1986, lalu IPO 9 Oktober 1989, jarak sekitar 7 tahun, ini ciri perusahaan yang sejak awal bertumbuh dengan mode korporasi terbuka dan ritme governance yang matang. HOMI berdiri 9 Januari 2006 dan IPO 10 September 2020, jarak sekitar 14 tahun, jadi emiten lebih muda yang masih berada di fase pembuktian siklus proyek dan ketahanan kas.
Valuasi memperjelas cara pasar memperlakukan ketiganya. PWON pada harga Rp342 punya P E sekitar 5,82x dan PBV sekitar 0,63x, artinya pasar membayar laba murah dan memberi diskon ke nilai buku, biasanya terjadi saat bisnisnya dianggap matang dan kuat tapi sentimennya sedang tidak panas. HOMI pada harga Rp640 punya PER sekitar 640x dan PBV sekitar 7,58x, artinya pasar membayar harapan dengan premi ekstrem, jadi sedikit saja eksekusi meleset, tekanan turun bisa lebih cepat dari yang investor kira. KSIX pada harga Rp440 dibanding IPO Rp452 turun sekitar 2,65%, dan karena laba 9M 2025 turun tajam, rasio P E cenderung tampak mahal kalau dipaksa dihitung dari laba yang sedang kecil, sehingga narasi KSIX biasanya bergeser ke aset dan land bank, bukan ke mesin laba yang stabil. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bagian transaksi pihak berelasi itu biasanya jadi pembeda kualitas tata-kelola, karena di situ terlihat apakah grup menjaga jarak sehat atau terlalu banyak tarik-menarik internal. Di PWON, tidak ada penjualan ke pihak berelasi yang disebut, dan yang menonjol adalah kompensasi manajemen kunci Rp56,5 miliar, wajar untuk organisasi besar, tapi tetap harus dipantau karena biaya manajemen adalah biaya yang selalu ada. Di HOMI, pihak berelasi terasa lebih personal, ada jaminan pribadi dari Tan Ping sebagai komisaris dan Velliana Tanaya sebagai direktur untuk utang perusahaan, lalu imbalan manajemen kunci Rp812,5 juta yang sekitar 37,4% dari total beban gaji, ini khas emiten kecil karena struktur biaya orang kunci terlihat sangat dominan. Di KSIX, pihak berelasi muncul dalam bentuk sewa kantor dari entitas asosiasi PT Nusalanggeng Prabujaya dan struktur jaminan yang melibatkan deposito pihak berelasi PT Panca Muara Jaya untuk fasilitas bank, ini bukan otomatis buruk, tapi investor wajib melihat apakah transaksinya wajar, transparan, dan tidak jadi pintu belakang memindahkan risiko.
Sekarang soal sengketa, ini yang sering jadi pemicu diskon valuasi karena tidak bisa dimodelkan timing-nya. KSIX punya sengketa lahan signifikan 115.084 m2 di Bogor melawan ahli waris H. Asmara, sempat menang di tingkat Peninjauan Kembali, tapi muncul gugatan baru April 2025 dan masih proses, jadi risiko hukum belum selesai. HOMI tidak disebut punya sengketa material, tapi ada risiko kepatuhan pajak berupa cicilan utang pajak hasil pemeriksaan SP2DK 2021 sekitar Rp3,2 miliar, ini bukan sengketa lahan, tapi tetap sinyal ada beban yang menggerus kas. PWON tidak disebut punya sengketa material dalam ringkasan yang investor pakai, risiko utamanya lebih ke kurs karena utang obligasi USD, jadi risikonya bukan perkara pengadilan, melainkan fluktuasi Rupiah terhadap beban utang.
PWON adalah emiten matang dengan pengendali kuat, float publik besar, valuasi yang justru terlihat murah, transaksi pihak berelasi relatif bersih di sisi penjualan, dan risiko sengketa tidak menonjol. HOMI adalah emiten muda dengan kontrol jelas, valuasi sangat premium, relasi internal lebih terasa lewat jaminan pribadi dan porsi kompensasi manajemen kunci yang besar, plus ada beban pajak yang perlu dipantau. KSIX adalah perusahaan tua yang baru IPO dengan float paling tipis, valuasinya mudah jadi bahan debat karena laba sedang turun, transaksi pihak berelasi nyata di sewa dan dukungan pendanaan, dan faktor pembeda paling sensitif adalah sengketa lahan yang belum benar-benar selesai.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$PWON mallnya tentu rame terus karena ada tenant besar yang bawa crowd ribuan orang tiap hari minggu.
$KSIX vs $PWON: Cerita Keluarga Kalbe dan Tedja
KSIX adalah saham properti yang baru IPO tapi cuma naik sebentar lalu anjlok, sempat ke Rp170 di Maret 2025 lalu rebound ke Rp440. Dari harga IPO Rp452 ke Rp170 itu jatuh -62,39%, jadi investor yang telat masuk benar-benar kena roller coaster. Rebound dari Rp170 ke Rp440 itu naik 158,82%, tapi posisi sekarang masih -2,65% di bawah harga IPO, jadi cerita pulihnya belum tuntas. Volatilitas begini makin gampang terjadi karena free float KSIX cuma 15,00%, barang yang beredar di pasar itu tipis. Di saham properti kecil, float tipis sering bikin grafik terlihat seperti digerakkan tangan besar, padahal bisa murni efek likuiditas. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Masalahnya, grafik bisa bikin investor lupa bahwa laporan keuangan yang datar justru penentu napas perusahaan. Saat pembandingnya PWON, ini bukan adu siapa lebih keren, ini beda mesin karena PWON punya mesin sewa mall dan hotel yang muter harian, sedangkan KSIX lebih bergantung ke siklus jual-bangun. Jadi investor perlu pisahkan dua hal, harga yang bisa naik turun karena sentimen, dan kualitas kas yang menentukan siapa yang tetap hidup ketika pasar lagi tidak ramah.
Kalau mulai dari model bisnis, KSIX mayoritas hidup dari real estat yang menyumbang 96,8% revenue 9M 2025, sementara wahana air hanya pelengkap. PWON kebalikannya, punya kombinasi jual properti dan recurring income dari mall, perkantoran, dan hotel, jadi setiap hari ada uang sewa yang masuk tanpa harus menunggu unit laku dulu. Ini penting karena di properti, yang paling sering membunuh emiten kecil bukan rugi besar, tapi kas seret karena stok menumpuk.
Sekarang skala, biar kebayang beda liganya. Di 9M 2025, revenue KSIX Rp84,17 miliar, sedangkan PWON Rp5,12 triliun, jadi PWON sekitar 60,83 kali lebih besar. Laba bersih induk KSIX Rp7,46 miliar, sedangkan PWON Rp1,73 triliun, jadi PWON sekitar 231,90 kali lebih besar. Kas KSIX Rp193,79 miliar, PWON Rp7,01 triliun, jadi PWON sekitar 36,17 kali lebih tebal. Arus kas operasi PWON Rp2,06 triliun versus KSIX Rp23,02 miliar, jadi PWON sekitar 89,49 kali lebih kuat. Bahkan free cash flow PWON Rp1,72 triliun versus KSIX sekitar Rp3,8 miliar, jaraknya sekitar 452,63 kali. Ini alasan kenapa membandingkan properti kecil dengan PWON itu terasa kejam, karena angka kasnya tidak seimbang. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Lanjut ke pertumbuhan, karena di sini kelihatan apakah penurunan cuma siklus atau mulai jadi pola. Revenue KSIX turun dari Rp173,56 miliar ke Rp84,17 miliar, turun -51,50%. Laba bersih induk turun dari Rp48,49 miliar ke Rp7,46 miliar, turun -84,62%. Ini bukan penurunan tipis, ini penurunan yang memaksa investor bertanya, penjualan drop atau memang tidak ada produk yang sedang panen.
Masuk ke margin, karena margin itu bahasa paling jujur soal kontrol biaya. Gross Profit Margin (GPM) itu laba kotor dibagi revenue, artinya dari setiap Rp1 penjualan, berapa sisa setelah beban pokok. KSIX GPM 60,5% terlihat tinggi, tapi jangan cepat senang karena Operating Profit Margin (OPM) KSIX cuma 6,2%, artinya setelah beban usaha, sisa laba operasional dari Rp1 revenue tinggal Rp0,062. Ini terjadi karena beban usaha KSIX Rp45,66 miliar, sekitar 54,25% dari revenue Rp84,17 miliar, jadi margin kotor yang tebal habis dimakan biaya operasional. PWON GPM 55,45% memang sedikit lebih rendah dari KSIX, tapi OPM PWON 42,34% tebal sekali, karena biaya operasionalnya relatif terkendali dan recurring income punya karakter margin tinggi. Net Profit Margin (NPM) itu laba bersih dibagi revenue, artinya dari Rp1 revenue, berapa yang benar-benar jadi laba setelah semua biaya selesai. KSIX NPM 10,0% artinya Rp0,10 per Rp1 revenue, sementara PWON NPM 41,52% artinya Rp0,4152 per Rp1 revenue. Catatan penting, NPM KSIX lebih tinggi dari OPM, ini biasanya berarti ada komponen pendapatan lain-lain yang menolong laba bersih, jadi investor wajib curiga soal keberlanjutan, jangan sampai laba terlihat bagus karena item non-inti. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sekarang Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE), ini ukuran produktivitas aset dan modal. ROA itu laba dibanding total aset, artinya aset yang numpuk itu produktif atau cuma jadi pajangan. ROA KSIX annualized sekitar 0,83% itu rendah, sedangkan PWON sekitar 7,85%, jadi PWON sekitar 9 kali lebih produktif. ROE itu laba dibanding ekuitas, artinya modal pemegang saham bekerja efektif atau tidak. ROE KSIX annualized sekitar 0,90% juga rendah, sedangkan PWON sekitar 10,79%, jadi PWON sekitar 12 kali lebih efektif mengubah ekuitas jadi laba. Di titik ini pesannya tegas, KSIX punya aset, tapi aset itu belum menjadi mesin laba, sementara PWON sudah jadi mesin.
Bagian yang sering menipu investor adalah arus kas. Cash Flow from Operations (CFO) itu kas bersih dari bisnis inti, artinya laba beneran berubah jadi uang atau cuma angka akuntansi. KSIX CFO Rp23,02 miliar, jauh lebih besar dari laba periode berjalan sekitar Rp8,4 miliar, kira-kira 2,74 kali, ini sinyal kualitas laba yang bagus karena ditopang kas nyata. PWON CFO Rp2,06 triliun juga kuat dan sejalan dengan laba, jadi dua-duanya tidak sedang jualan ilusi. Free Cash Flow (FCF) itu CFO dikurangi belanja modal, artinya setelah perusahaan tetap investasi, masih ada sisa kas atau tidak. FCF KSIX sekitar Rp3,8 miliar masih positif tapi kecil, jadi napas kasnya tidak selebar kelihatannya. PWON FCF Rp1,72 triliun itu kelas lain, karena setelah investasi pun masih ada sisa kas besar.
Tes cepat berikutnya adalah penerimaan kas dari pelanggan dibanding revenue. Ini menguji apakah penjualan benar-benar sudah dibayar. KSIX revenue Rp84,17 miliar tapi kas masuk dari pelanggan Rp94,25 miliar, rasionya sekitar 1,12, artinya kas masuk bahkan lebih besar dari revenue yang diakui, ini biasanya terjadi saat perusahaan menagih lebih cepat atau ada penerimaan uang muka. PWON revenue Rp5,12 triliun dengan kas masuk Rp5,05 triliun, rasionya sekitar 0,99, artinya revenue PWON hampir sepenuhnya jadi uang masuk. Dua-duanya sehat di sisi ini, tapi bedanya PWON skalanya raksasa.
Sekarang siklus modal kerja, di properti ini sering jadi sumber sakit kepala. Days Sales Outstanding (DSO) itu rata-rata hari penagihan piutang, makin kecil makin cepat jadi kas. KSIX DSO sekitar 0 hari, artinya penjualan cenderung tunai atau cepat cair. Days Inventory (DI) itu rata-rata lamanya persediaan berputar, artinya berapa lama uang terkunci di stok rumah dan lahan. KSIX DI sekitar 3.533 hari, itu sekitar 9,68 tahun, sinyal stok besar dan perputaran lambat. PWON DI sekitar 898,8 hari, sekitar 2,46 tahun, masih panjang tapi jauh lebih waras. Days Payables Outstanding (DPO) itu rata-rata hari bayar vendor, makin besar makin longgar menahan kas. KSIX DPO sekitar 0,75 hari, artinya bayar vendor super cepat, ini bagus buat hubungan kontraktor tapi bikin kas cepat keluar. PWON DPO sekitar 34,3 hari, jauh lebih longgar. Cash Conversion Cycle (CCC) itu DSO tambah DI dikurangi DPO, artinya estimasi lamanya uang yang keluar bisa balik lagi jadi kas. Dengan DI setinggi itu dan DPO sependek itu, CCC KSIX secara praktik bakal terasa sangat panjang, dan ini yang membuat risiko likuiditas KSIX muncul walaupun kas sekarang terlihat besar. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Soal neraca dan utang, KSIX punya satu nilai plus besar, utang bank per September 2025 tercatat Rp0 karena sudah dilunasi, jadi leverage rendah dan ruang napas dari sisi bunga lebih lega. Tapi investor jangan tertipu, karena sebagian besar aset KSIX terkunci di persediaan Rp435,40 miliar dan tanah pengembangan Rp354,89 miliar, ini aset bagus kalau laku, tapi bisa jadi beban kalau pasar sepi. PWON punya utang obligasi Rp5,54 triliun dalam USD, risikonya risiko kurs, artinya pelemahan Rupiah bisa menambah beban dan menekan laba. Bedanya, PWON punya kas Rp7,01 triliun sebagai bantalan, jadi risiko kursnya punya peredam.
KSIX juga membawa risiko yang tidak bisa diselesaikan dengan optimisme, yaitu risiko hukum. Ada sengketa lahan 115.084 m2 di Bogor yang walau sempat dimenangkan di tingkat Peninjauan Kembali, muncul gugatan baru pada April 2025 dan masih proses. Di emiten properti kecil, sengketa lahan itu seperti rem tangan yang bisa ditarik kapan saja, investor tidak bisa memodelkan waktunya, dan pasar biasanya memberi diskon saat ketidakpastian hukum membesar.
Terakhir valuasi dan struktur pasar. KSIX di harga Rp440 belum jauh dari IPO Rp452, tapi laba 9M 2025 yang anjlok membuat rasio P/E berpotensi terlihat mahal kalau investor memaksa menilai pakai laba saat ini. Free float 15,00% juga membuat harga lebih mudah bergerak naik turun, jadi pergerakan harga tidak otomatis cerminan perbaikan fundamental. PWON, dengan P/E sekitar 5,82 kali dan PBV sekitar 0,63 kali pada harga Rp342, secara valuasi terlihat seperti diskon untuk mesin laba yang sudah jadi, walaupun harga sahamnya bisa saja sedang tidak disukai pasar. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
KSIX itu cerita aset dan tanah, dengan kas yang lumayan, utang bank nol, CFO yang bagus, tapi ditempel dua masalah besar, penurunan penjualan yang tajam dan stok yang muternya lama sekali, plus risiko hukum yang bisa mengganggu nilai tanah. PWON itu cerita mesin uang yang sudah terbukti, skala raksasa, margin tebal, kas besar, dan recurring income yang membuat perusahaan tetap menghasilkan saat properti sales sedang lesu. Kalau investor cari kepastian kualitas bisnis, PWON jauh lebih masuk akal. Kalau investor cari opsi berisiko tinggi berbasis aset dan volatilitas pasca IPO, KSIX bisa menarik, tapi itu harus dibaca sebagai spekulasi yang butuh disiplin, bukan investasi santai.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$HOMI vs $PWON: Duel Properti
HOMI adalah saham properti. Untuk melihat apakah HOMI bagus secara fundamental, pembandingnya harus properti yang jauh lebih mapan supaya kelihatan mana yang sekadar hidup dan mana yang benar-benar mencetak uang. Di titik itu, PWON adalah cermin yang kejam karena PWON bukan cuma jual properti, PWON juga punya mesin sewa mall dan hotel yang berputar tiap hari. Kalau investor menilai pakai skala, HOMI dan PWON itu bukan beda tipis, tapi beda liga. Kalau investor menilai pakai pergerakan harga setahun terakhir, gambarnya kontras karena HOMI 1 tahun naik sekitar 77,03% sedangkan PWON turun sekitar -15,08%. Tapi mengunci kesimpulan bandar baik atau tidak hanya dari harga itu sering jatuhnya ilusi, karena ukuran emiten, jumlah saham beredar, dan likuiditas bisa bikin pergerakan harga terlihat seperti ada tangan besar padahal efek skala. PWON punya saham beredar sekitar 48,16 miliar lembar, sementara HOMI sekitar 1,57 miliar lembar, jadi wajar kalau PWON jauh lebih sulit digerakkan dibanding HOMI yang kecil. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Mulai dari skala bisnis supaya investor langsung kebayang. Di 9M 2025, revenue HOMI Rp26,15 miliar, sedangkan PWON Rp5,12 triliun. Itu kira-kira 196 kali lebih besar di PWON, jadi kalau PWON bersin, HOMI seperti tersapu angin. Laba bersih HOMI Rp1,18 miliar, sedangkan PWON laba bersih induk Rp1,73 triliun, kira-kira 1.466 kali lebih besar di PWON. Skala organisasi juga beda, HOMI punya 28 karyawan, PWON 3.274 karyawan, kira-kira 117 kali. Di properti, skala itu bukan cuma gengsi, skala itu menentukan daya tahan saat penjualan melambat dan biaya konstruksi naik. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sekarang masuk ke margin, karena margin adalah cerita siapa yang pegang kontrol biaya. Gross Profit Margin (GPM) itu laba kotor dibagi revenue, maknanya dari setiap Rp1 penjualan, berapa yang tersisa setelah beban pokok. HOMI GPM 31,9% turun dari 50,7%, jadi sisa laba kotor per Rp1 penjualan makin kecil, nyambung dengan Cost of Goods Sold (COGS) HOMI yang naik 65,3% sementara revenue cuma naik 19,6%. PWON GPM 55,45%, maknanya dari Rp1 revenue, sekitar Rp0,55 masih tersisa sebagai laba kotor, ini sering terjadi saat recurring income seperti sewa mall mendominasi. Operating Profit Margin (OPM) itu laba operasi dibagi revenue, maknanya seberapa efisien mesin inti setelah beban operasional seperti gaji dan administrasi. HOMI OPM 11,8% itu tipis, PWON OPM 42,34% itu tebal, artinya PWON punya bantalan besar bahkan sebelum bicara bunga dan pajak. Net Profit Margin (NPM) itu laba bersih dibagi revenue, maknanya berapa yang benar-benar jadi laba setelah semua biaya selesai. HOMI NPM 4,5% berarti laba bersih cuma Rp0,045 dari setiap Rp1 revenue, sedangkan PWON NPM 41,52% berarti sekitar Rp0,415 dari setiap Rp1 revenue, ini beda kelas model bisnis.
Rasio berikutnya Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE), ini ukuran produktivitas aset dan modal. ROA itu laba dibanding total aset, maknanya seberapa produktif aset menghasilkan laba. ROA HOMI annualized sekitar 0,81% berarti aset di neraca belum diputar menjadi laba yang layak. ROA PWON sekitar 7,85% berarti asetnya bekerja jauh lebih produktif, selisihnya kira-kira 9 sampai 10 kali. ROE itu laba dibanding ekuitas, maknanya seberapa efektif modal pemegang saham menghasilkan laba. ROE HOMI annualized sekitar 1,18% itu rendah sekali, sedangkan PWON sekitar 10,79% itu level yang lebih masuk akal untuk properti yang punya recurring income. Jadi pesan ROA dan ROE jelas, PWON bukan sekadar besar, tapi efisien, sementara HOMI masih berjuang membuat aset dan ekuitasnya benar-benar menghasilkan.
Lalu bagian paling penting untuk properti kecil adalah arus kas. Arus Kas Operasi (Cash Flow from Operations, CFO) itu kas bersih dari bisnis inti, maknanya perusahaan jalan pakai uang sendiri atau nyedot kas terus-menerus. HOMI CFO minus Rp1,19 miliar sementara labanya Rp1,18 miliar, jadi laba belum berubah jadi kas, ini sinyal kualitas laba yang lemah. Free Cash Flow (FCF) itu CFO dikurangi belanja modal, maknanya kas yang tersisa setelah tetap investasi. HOMI FCF minus Rp1,46 miliar, artinya setelah operasional dan investasi, kas tetap defisit. Di sisi lain, PWON CFO Rp2,06 triliun dan FCF Rp1,72 triliun, artinya bisnisnya bukan cuma laba di laporan, tapi menghasilkan kas besar setelah investasi. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Investor juga perlu lihat rasio penerimaan kas dari pelanggan dibanding revenue, karena ini menguji apakah revenue benar-benar sudah dibayar. HOMI revenue Rp26,15 miliar tapi kas masuk dari pelanggan Rp15,17 miliar, rasionya sekitar 0,58, jadi banyak penjualan yang belum menjadi uang nyata. PWON revenue Rp5,12 triliun dan penerimaan kas Rp5,05 triliun, rasionya sekitar 0,99, jadi revenue PWON sangat dekat dengan uang yang benar-benar masuk. Ini salah satu alasan PWON lebih tenang saat siklus, karena kasnya mengalir.
Sekarang rasio efisiensi modal kerja, ini menjelaskan kenapa ada perusahaan terlihat untung tapi kasnya seret. Days Sales Outstanding (DSO) itu rata-rata hari penagihan piutang, maknanya makin kecil makin cepat jadi kas. HOMI DSO sekitar 22,9 hari, PWON sekitar 7,1 hari, jadi PWON menagih jauh lebih cepat. Days Inventory (DI) itu rata-rata hari persediaan berputar, maknanya berapa lama uang tertahan di persediaan proyek, di properti ini memang panjang. HOMI DI sekitar 1.432 hari, PWON sekitar 898,8 hari, sama-sama panjang, tapi HOMI lebih lama sehingga uang lebih lama terkunci. Days Payables Outstanding (DPO) itu rata-rata hari bayar vendor, maknanya makin besar makin longgar menahan kas sebelum bayar kewajiban. HOMI DPO sekitar 13,3 hari berarti bayar cepat, bagus untuk hubungan vendor tapi bikin kas cepat terkuras. PWON DPO sekitar 34,3 hari berarti lebih longgar. Cash Conversion Cycle (CCC) itu DSO ditambah DI dikurangi DPO, maknanya estimasi lamanya uang yang keluar bisa balik lagi jadi kas. CCC PWON sekitar 871,6 hari memang panjang, tapi PWON menutupinya dengan kas besar dan recurring income, sedangkan HOMI tertekan karena DI sangat panjang dan DPO pendek.
Masuk ke struktur kas dan utang, karena ini menentukan risiko utama masing-masing. Kas HOMI per 30 September 2025 sekitar Rp2,53 miliar dan turun dari Rp6,78 miliar, sementara pinjaman bank sekitar Rp16,42 miliar, jadi risiko likuiditasnya nyata. Likuiditas itu maknanya kemampuan bayar kewajiban tanpa tersendat operasional. PWON punya kas Rp7,01 triliun, itu kira-kira 2.770 kali kas HOMI, jadi bantalan PWON sangat tebal. PWON punya utang obligasi Rp5,54 triliun dalam USD, risikonya risiko kurs, maknanya pelemahan Rupiah bisa menambah beban dan menekan laba, dengan sensitivitas sekitar tiap pelemahan 1% berdampak Rp38,7 miliar ke laba. Jadi HOMI rentan di napas kas dan eksekusi proyek, PWON rentan di kurs, tapi PWON punya brankas kas untuk meredam.
Terakhir valuasi, karena ini sering bikin investor terjebak antara mahal dan murah tanpa paham konteks. Price to Earnings Ratio (PER) atau P/E itu harga dibanding laba, maknanya berapa kali investor membayar laba tahunan. HOMI di harga 640 dihitung PER sekitar 640x, itu ekstrem mahal untuk perusahaan yang labanya turun dan CFO negatif. PWON di harga Rp342 punya P/E sekitar 5,82x, itu murah untuk perusahaan yang masih tumbuh laba dan kasnya kuat. Price to Book Value (PBV) itu harga dibanding nilai buku ekuitas, maknanya apakah pasar memberi premi atau diskon terhadap ekuitas. HOMI PBV sekitar 7,58x, sedangkan PWON PBV 0,63x, jadi pasar memberi premi sangat tinggi ke HOMI dan memberi diskon ke PWON. Dengan kata lain, secara valuasi investor membayar sangat mahal untuk harapan di HOMI, sementara investor membayar murah untuk mesin laba yang sudah jadi di PWON. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau balik ke cerita pergerakan harga setahun terakhir, HOMI naik besar sementara PWON turun, tapi itu tidak otomatis berarti satu emiten lebih royal daripada yang lain. Market capitalization (market cap) PWON sekitar Rp16,28 triliun sementara HOMI sekitar Rp1,03 triliun, dan jumlah saham beredar PWON jauh lebih besar, jadi wajar saham PWON lebih lambat bergerak. Saham besar dengan float besar butuh arus dana jauh lebih besar untuk dibuat tren naik panjang, sedangkan saham kecil bisa terlihat meroket hanya karena perubahan demand yang tidak sebesar itu secara nominal. Kesimpulannya tegas, kalau investor bicara fundamental, PWON unggul telak di skala, margin, kualitas kas, dan valuasi. Kalau investor bicara momentum harga, HOMI memang lebih liar, tapi itu wilayah volatilitas dan likuiditas, bukan bukti kualitas fundamental.
🏁 Skala
📏 Revenue Rp5,12T vs Rp26,15B 196x.
💎 Laba Rp1,73T vs Rp1,18B 1466x.
🧩 Saham 48,16B vs 1,57B.
🍞 Margin per Rp1
🟡 GPM 31,9% vs 55,45%.
🧾 Sisa setelah COGS.
🔧 OPM 11,8% vs 42,34%.
🛠️ Sisa setelah opex.
🟢 NPM 4,5% vs 41,52%.
💰 Sisa bersih.
⚙️ Return
🏗️ ROA 0,81% vs 7,85%.
🧠 ROE 1,18% vs 10,79%.
💧 Kas
🚨 CFO minus Rp1,19B vs Rp2,06T.
🪙 FCF minus Rp1,46B vs Rp1,72T.
🧾 Kas masuk 0,58 vs 0,99.
🏦 Risiko dan valuasi
🧯 Kas Rp2,53B vs Rp7,01T.
🌍 Utang PWON USD Rp5,54T, HOMI bank Rp16,42B.
🏷️ PER 640x vs 5,82x.
🧮 Harga vs laba.
📚 PBV 7,58x vs 0,63x.
🎢 1 tahun HOMI +77,03%, PWON -15,08%.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/6






$PWON di kokas susah parkir, di bekasi susah parkir, gak tau klo yg lain....tenant full, masa iya kagak bagus profitnya.
Titip jejak ya. Yang punya harga harga 300’n santai aja sampai laporan keuangan tahunan nongol nanti kita koreksi lagi targetnya $PWON
🎯 BULLISH PREDICTION
$KPIG
Haka 148++? DYOR
Buy 1 146
Buy 2 142
CL < 138
TP1 159
TP2 164
Arah Trend: ⏩ Sideways
Validasi Teknis: 🚀 Breakout
random tag $BSDE $PWON
CMIIW, Disclaimer On, DYOR!