


Volume
Avg volume
PT Jasa Marga (Persero) Tbk didirikan pada tahun 1978 dan merupakan perusahaan infrastruktur jalan tol terbesar di Indonesia. Sebagai perusahaan publik sejak IPO pada 2007, Jasa Marga berfokus pada pengelolaan, pembangunan, dan pemeliharaan jaringan jalan tol yang mendukung mobilitas serta pertumbuhan ekonomi Indonesia. Perseroan mengoperasikan berbagai ruas jalan tol di seluruh Indonesia, menggunakan teknologi canggih seperti Intelligent Transport System (ITS) dan Integrated Tollroad Maintenance System (ITMS) untuk meningkatkan layanan. Jasa Marga juga memiliki 17 entitas anak dan berencana untuk mengembangkan lebih lanjut infr... Read More
@skydrugz27 $JSMR Kinerja turun terus wak, hutang numpuk...
keystat terpantau DER 2X , agak ngeri2 sedap...
kalo di kasih ke 1500 boleh lah masuk tipis2
$JSMR Perusahaan yang Terlalu Dicintai Bank
$BBCA dan $BMRI serta berbagai bank di Indonesia sangat cinta dengan JSMR. Ini adalah fakta real yang terpampang di LK Full Year 2025 JSMR. Kalau dilihat dari komposisi kreditornya, cinta itu bukan cinta tipis-tipis, tapi cinta yang sudah level pembiayaan puluhan triliun. Total utang berbunga JSMR sekitar Rp 74,96 triliun, dan porsi terbesarnya menumpuk di sedikit nama besar. Mandiri paling dominan dengan Rp 24,81 triliun atau sekitar 33,0% dari total, lalu BCA Rp 19,61 triliun atau sekitar 26,1%, kemudian BNI Rp 11,01 triliun atau sekitar 14,6%. Tiga nama ini saja sudah menggenggam sekitar 73,7% dari total utang berbunga JSMR. Jadi gambarnya jelas, pusat gravitasi pendanaan JSMR memang bertumpu di bank-bank besar. Ini bukan pola utang yang menyebar rata ke banyak kreditur kecil, melainkan pola yang terkonsentrasi ke pemberi dana kelas berat yang memang berani membiayai infrastruktur jangka panjang. External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Kalau diurutkan dari yang paling dominan, Mandiri berdiri di puncak dengan jarak yang cukup nyaman. Selisihnya dengan BCA sekitar Rp 5,20 triliun. BCA sendiri juga tidak main-main karena porsinya seperempat lebih dari total utang berbunga. Setelah itu BNI masih sangat relevan, tapi sudah masuk lapisan kedua karena porsinya turun cukup jauh dibanding dua pemimpin teratas. Setelah tiga besar ini, skalanya langsung mengecil. SMI ada di Rp 4,16 triliun atau 5,5%, lalu BSI Rp 2,69 triliun atau 3,5%, obligasi publik Rp 2,54 triliun atau 3,4%, dan BRI Rp 1,80 triliun atau 2,4%. Sisanya, sekitar 11,5%, diisi oleh BPD dan bank lain seperti Bank Jatim, Bank Papua, Bank Jateng, Bank Mega, CIMB Niaga, Permata, dan lainnya. Jadi struktur ini menunjukkan dua hal sekaligus. Pertama, JSMR sangat dipercaya bank besar. Kedua, JSMR juga tetap menjaga jalur pendanaan yang cukup beragam supaya tidak menggantung total pada satu pintu saja.
Kalau dibandingkan dengan posisi 2024, arah pergerakannya juga menarik. Utang JSMR ke Mandiri naik dari Rp 19,94 triliun ke Rp 24,81 triliun, tumbuh 24,4%. BCA naik dari Rp 16,23 triliun ke Rp 19,61 triliun, tumbuh 20,8%. BNI cuma naik 4,2%, jadi pertumbuhannya jauh lebih kalem dibanding dua nama tadi. SMI justru turun 7,5%, dari Rp 4,50 triliun ke Rp 4,16 triliun. BSI melonjak paling agresif, dari Rp 1,90 triliun ke Rp 2,69 triliun, tumbuh 41,5%. Obligasi publik juga naik 38,7%, dari Rp 1,83 triliun ke Rp 2,54 triliun. BRI malah turun 10,4%, dari Rp 2,01 triliun ke Rp 1,80 triliun. Dari sini kelihatan ada dua lapisan cerita. Nama-nama terbesar seperti Mandiri dan BCA tetap menambah eksposur besar dalam nilai absolut, sedangkan BSI dan obligasi publik menonjol di sisi laju pertumbuhan. Jadi yang paling besar belum tentu yang paling agresif pertumbuhannya. Ini penting, karena menunjukkan bahwa ekspansi pembiayaan JSMR di 2025 bukan cuma ditopang satu kanal, melainkan ada penguatan di bank konvensional besar, bank syariah, dan pasar obligasi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Karakter masing-masing kreditur juga beda. Mandiri tampak seperti jangkar utama, karena bukan cuma nilainya paling besar, tapi juga posisinya sebagai pimpinan sindikasi membuat perannya lebih strategis dari sekadar angka nominal. BCA kelihatan seperti partner yang sangat serius, karena porsinya juga sangat besar dan di beberapa entitas anak justru covenant-nya paling ketat. BNI terlihat lebih stabil dan tidak terlalu agresif menambah porsi, jadi kesannya lebih menjaga ritme. SMI menarik karena nominalnya tidak sebesar tiga raksasa tadi, tetapi secara karakter justru paling unik. Ada fasilitas tertentu dengan bunga nihil 0% per tahun pada 31 Desember 2025, turun dari 6,20% di 2024. Itu bukan fitur yang biasa. BSI juga unik karena pertumbuhannya paling cepat dan bunga termurah di pinjaman bank komersial, yaitu 5,10% per tahun. Obligasi publik punya ciri lain lagi, yaitu bunga tetap dan jadi alat refinancing yang penting. BRI justru tampak lebih konservatif karena eksposurnya menurun.
Yang paling dekat jatuh temponya adalah fasilitas talangan Bank Permata di anak usaha JPB yang jatuh tempo 30 April 2026, lalu pinjaman Maybank di JMJ pada 17 Mei 2026. Ini tipe utang yang napasnya pendek, jadi fungsinya lebih taktis. Di ujung lain, ada kredit investasi sindikasi untuk JPB yang baru jatuh tempo 25 September 2040. Artinya spektrum tenor JSMR itu lebar sekali, dari yang hitungan bulan sampai yang hitungan belasan tahun. Ini ciri khas project finance infrastruktur. Jadi investor tidak boleh melihat total utang Rp 75 triliun itu seolah semua harus dibayar besok pagi. Yang lebih relevan adalah peta jatuh temponya. Dalam konteks itu, kewajiban pokok yang harus dibayar dalam satu tahun ke depan sebesar Rp 3,62 triliun justru terlihat cukup jinak dibanding kas Rp 6,75 triliun dan CFO Rp 5,66 triliun. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Obligasi berkelanjutan II tahun 2020 seri D mematok bunga tetap 9,00% per tahun. Untuk pinjaman bank, Permata menagih 8,65% per tahun pada dana talangan. Jadi utang mahal itu memang ada, terutama untuk fasilitas yang sifatnya lebih pendek atau lebih spesifik. Sebaliknya, ujung paling ringan datang dari SMI dengan 0% pada fasilitas tertentu, lalu BSI 5,10% untuk pinjaman bank komersial. Dari sini terlihat bahwa biaya dana JSMR tidak seragam. Ada lapisan mahal, menengah, dan murah. Ini bagus karena menandakan perusahaan tidak membiayai semuanya dengan instrumen bunga tinggi. Tapi ini juga berarti kualitas manajemen liabilitas sangat menentukan, karena salah susun komposisi bisa membuat biaya bunga melonjak lebih tajam di masa depan.
Soal syarat pembatasan, BCA menonjol paling keras. Secara umum, para kreditur masih memberi pagar DER maksimal 5 kali. Itu masih longgar untuk bisnis infrastruktur. Tapi di entitas anak Jasamarga Surabaya Mojokerto, BCA membatasi DER hanya 2,2 kali. Ini jauh lebih ketat. Artinya BCA berani kasih uang besar, tapi tetap disiplin soal kontrol risiko. Dalam bahasa yang lebih manusiawi, BCA cinta, tapi cintanya pakai syarat. Ini justru sehat. Kreditur yang terlalu longgar juga tidak bagus karena bisa mendorong debitur terlalu santai. Dengan covenant seperti ini, JSMR dipaksa menjaga disiplin struktur modal di entitas tertentu.
Kalau dikaitkan dengan kemampuan bayar, secara matematis utang Rp 75 triliun dibagi CFO Rp 5,66 triliun memang memberi gambaran sekitar 13 hingga 14 tahun kalau seluruh CFO dipakai buat melunasi pokok dan tidak ada ekspansi baru. Tapi ini hitungan yang terlalu statis untuk bisnis tol. Dalam realitasnya, JSMR tidak didesain menjadi perusahaan yang mengejar utang nol dalam waktu singkat. Modelnya adalah membangun aset berumur konsesi 40 sampai 50 tahun, menghasilkan arus kas bertahap, lalu refinancing dilakukan secara disiplin saat perlu. Jadi lebih tepat melihat apakah JSMR aman untuk horizon pendek dan menengah. Untuk horizon pendek, jawabannya cukup aman. Kas Rp 6,75 triliun sudah lebih besar dari kewajiban pokok satu tahun Rp 3,62 triliun, dengan coverage sekitar 1,86 kali. Kalau ditambah CFO Rp 5,66 triliun, bantalan likuiditas operasionalnya makin kuat. Jadi bank cinta ke JSMR bukan tanpa alasan. Mereka lihat ada aset tol, ada rekening pendapatan tol, ada konsesi panjang, dan ada arus kas yang nyata. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau dibedakan lebih dalam, kekuatan terbesar JSMR adalah akses ke kreditur papan atas dan struktur pembiayaan jangka panjang yang nyambung dengan sifat asetnya. Ini keunggulan yang tidak semua emiten punya. Banyak perusahaan bisa pinjam, tapi tidak semua bisa pinjam dari Mandiri, BCA, dan BNI dalam ukuran sebesar ini secara berulang. Kelemahannya, konsentrasi ke beberapa nama besar juga berarti posisi tawar kreditur utama tetap kuat. Lalu sebagian fasilitas dengan bunga tinggi dan covenant ketat menunjukkan bahwa tidak semua bagian struktur utang JSMR itu empuk. Ada bagian yang nyaman, ada yang mahal, ada yang dijaga ketat. Jadi profil utangnya itu campuran antara utang premium, utang strategis, dan utang taktis.
Jadi Bank Mandiri adalah tulang punggung utama utang JSMR, BCA adalah partner super-serius yang tegas, BNI adalah pendamping stabil, SMI adalah sumber dana yang paling bersahabat secara karakter, BSI adalah pemain yang pertumbuhannya paling agresif dan paling ringan bunganya di bank komersial, obligasi publik adalah jalur pelengkap yang penting untuk refinancing, sedangkan BRI dan bank-bank lain mengisi lapisan pendukung. Ini membuat struktur kreditur JSMR terlihat tidak sembarangan. Besar, panjang, dan kompleks, tapi masih masuk akal untuk bisnis jalan tol yang memang padat modal.
Jadi BBCA dan BMRI serta berbagai bank di Indonesia memang sangat cinta dengan JSMR karena angkanya nyata. Bedanya, cinta mereka itu bukan cinta buta. Mereka cinta karena bisnis tol JSMR punya arus kas, aset konsesi, dan prospek jangka panjang yang layak dibiayai. Tapi mereka juga tetap pasang bunga, tenor, agunan, dan covenant sesuai level risiko. Jadi ini hubungan yang saling butuh, bukan dongeng romantis. Bank butuh debitur besar yang bisa bayar bunga bertahun-tahun. JSMR butuh bank yang mau mendanai beton, aspal, dan konsesi puluhan tahun. Dan di laporan 2025, hubungan itu terlihat sangat terang. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🏦 Pemberi dana terbesar
🔹 BMRI Rp 24,81 triliun
🔹 BBCA Rp 19,61 triliun
🔹 BBNI Rp 11,01 triliun
🔹 Tiga nama ini kuasai sekitar 73,7% utang berbunga
📈 Yang paling agresif
🔹 BSI naik 41,5%
🔹 Obligasi publik naik 38,7%
🔹 BMRI naik 24,4%
🔹 BBCA naik 20,8%
🔹 BBNI naik 4,2%
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
💸 Yang paling ringan dan paling mahal
🔹 SMI ada fasilitas 0%
🔹 BSI bunga 5,10%
🔹 Obligasi Seri D bunga 9,00%
🔹 Permata 8,65%
⏳ Napas utang
🔹 Paling cepat Permata 30 April 2026
🔹 Maybank 17 Mei 2026
🔹 Paling panjang sampai 25 September 2040
🛡️ Daya bayar
🔹 Kas Rp 6,75 triliun
🔹 CFO Rp 5,66 triliun
🔹 Jatuh tempo 1 tahun Rp 3,62 triliun
🔹 Likuiditas jangka pendek masih aman
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










$JSMR Beban Pajak Adalah Masalah Terbesar di 2025
Pertanyaan salah satu user Stockbit bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Ada user Stockbit yang mempertanyakan kenapa beban pajak JSMR bisa meroket di 2025. Sebenarnya itu sangat sederhana. Ini bukan cerita bisnis tol JSMR tiba-tiba rusak, bukan cerita ada denda pajak, dan bukan juga cerita perusahaan mendadak boros di sisi operasional. Yang terjadi justru lebih teknis, yaitu arah pajak tangguhan berbalik total. Tahun 2024 JSMR seperti dapat bantalan laba dari manfaat pajak tangguhan yang sangat besar. Tahun 2025 bantalan itu hilang, bahkan berubah jadi beban. Jadi dari luar memang kelihatan aneh. Pendapatan tol naik, laba sebelum pajak juga naik, tapi laba bersih malah tertekan karena pajak melonjak. Padahal akar masalahnya bukan bisnis inti, melainkan normalisasi akuntansi pajak.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau lihat angkanya, operasional JSMR di 2025 sebenarnya masih sehat. Pendapatan tol naik dari Rp 17,22 triliun menjadi Rp 18,15 triliun. Laba sebelum pajak juga naik dari Rp 5,76 triliun menjadi Rp 6,35 triliun. Jadi kalau hanya melihat mesin bisnis intinya, tidak ada tanda-tanda ambruk. Ruas tol existing masih menghasilkan lebih banyak uang. Justru yang bikin orang kaget adalah total beban pajaknya, yang naik sangat tajam dari Rp 157,65 miliar menjadi Rp 1,54 triliun. Selisihnya hampir Rp 1,38 triliun. Itu memang besar sekali. Wajar kalau banyak investor langsung curiga ada sesuatu yang tidak beres. Tapi kalau dibedah, lonjakan itu lebih tepat dibaca sebagai efek pembalikan manfaat pajak tangguhan, bukan sebagai sinyal kebocoran operasional.
Kuncinya ada di komposisi pajak kini dan pajak tangguhan. Pajak kini JSMR naik dari Rp 962,01 miliar menjadi Rp 1,13 triliun. Ini justru normal. Kenapa. Karena laba sebelum pajak juga naik. Jadi kalau laba naik lalu pajak kini ikut naik, itu logika sehat. Tidak ada yang aneh di sini. Yang bikin gambar besar berubah total adalah pajak tangguhan. Pada 2024, JSMR menikmati manfaat pajak tangguhan Rp 804,36 miliar. Itu seperti diskon besar yang menahan total beban pajak agar tetap rendah. Akibatnya, walau pajak kini sudah Rp 962 miliar, total beban pajak yang muncul di laba rugi hanya sekitar Rp 157 miliar. Jadi laba bersih 2024 tampak sangat tertolong. Di 2025 ceritanya berbalik. Manfaat itu hilang dan malah berubah menjadi beban pajak tangguhan Rp 410,83 miliar. Jadi bukan cuma diskonnya hilang, sekarang malah jadi tambahan tagihan. Inilah penyebab utama beban pajak total melonjak ke Rp 1,54 triliun.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
2024 itu tahun di mana laba JSMR dapat subsidi akuntansi dari pajak tangguhan. Sedangkan 2025 itu tahun ketika subsidi itu tidak ada lagi, bahkan berubah arah jadi tekanan. Jadi investor yang membandingkan laba bersih 2024 dan 2025 tanpa membedah pos pajaknya bisa salah paham. Mereka bisa mengira kinerja JSMR menurun dari sisi bisnis inti, padahal tidak begitu. Yang lebih akurat, laba bersih 2024 memang terbantu oleh faktor pajak yang sifatnya tidak normal, sedangkan 2025 lebih mendekati kondisi pajak yang normal. Dalam arti ini, 2025 justru lebih jujur untuk membaca earning power operasional JSMR dibanding 2024. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kenapa di 2024 bisa ada manfaat pajak tangguhan sebesar itu. Dari data yang ada, ada dua penyebab utama. Pertama, penerapan PMK 72 yang memungkinkan penyesuaian fiskal terkait amortisasi aset infrastruktur jangka panjang seperti Hak Pengusahaan Jalan Tol. Dalam bisnis jalan tol, asetnya besar, umur manfaatnya panjang, dan beda perlakuan antara akuntansi komersial dan fiskal bisa sangat signifikan. Aturan baru ini membuat beberapa entitas anak mencatat manfaat pajak tangguhan besar. Kedua, ada efek kombinasi bisnis yang ikut memberi penyesuaian pajak tangguhan sekitar Rp 357,62 miliar. Jadi 2024 memang bukan baseline normal. Tahun itu ada bonus akuntansi yang cukup gemuk. Karena itu, ketika 2025 tidak lagi mendapat bonus serupa, angka pajaknya terlihat melonjak drastis.
Dari sini muncul dua cara membaca. Sisi positifnya, lonjakan pajak 2025 justru bisa ditafsirkan sebagai tanda bahwa operasional inti JSMR masih menghasilkan laba yang layak dikenai pajak besar. Pendapatan tol naik, laba sebelum pajak naik, dan pajak kini juga naik secara wajar. Jadi kalau ada yang takut lonjakan pajak ini artinya JSMR sedang bermasalah, itu terlalu berlebihan. Justru secara bisnis inti, JSMR masih bergerak ke arah yang benar. Dalam konteks ini, 2025 bisa dilihat sebagai tahun normalisasi, yaitu ketika laporan laba rugi tidak lagi dibantu bantalan pajak tangguhan besar seperti 2024. Dari sudut pandang kualitas analisis, normalisasi ini malah bagus karena membuat investor bisa melihat kinerja yang lebih apa adanya.
Tetapi sisi negatifnya juga ada. Normalisasi pajak ini membuat investor harus lebih hati-hati saat menilai pertumbuhan laba. Kalau investor sebelumnya terpukau oleh laba bersih 2024 tanpa menyadari ada dorongan besar dari manfaat pajak tangguhan, maka ada risiko overestimate terhadap kualitas pertumbuhan laba. Dalam bahasa yang lebih tajam, laba 2024 memang agak dimanjakan faktor non-rutin. Jadi saat masuk 2025, pasar yang kurang teliti bisa merasa laba bersih JSMR melemah, padahal sebenarnya yang terjadi adalah lapisan kosmetik pajaknya dilepas. Ini penting karena valuasi yang terlalu bertumpu pada laba bersih headline tanpa membedah komponen pajak bisa menyesatkan.
Apakah kondisi ini bagus atau buruk? Jawabannya tergantung dari sudut mana investor melihat. Bagus kalau investor ingin laporan yang lebih bersih dari efek one-off, karena 2025 memberi gambaran yang lebih realistis tentang profitabilitas setelah pajak. Buruk kalau investor berharap laba bersih bisa terus terlihat gemuk seperti 2024, karena ekspektasi itu memang tidak realistis kalau ditopang manfaat pajak tangguhan yang tidak berulang. Jadi dari sisi kualitas analisis, 2025 justru lebih sehat. Dari sisi tampilan angka headline, 2025 memang lebih tidak cantik. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Syarat agar lonjakan pajak ini bisa dianggap tidak mengkhawatirkan sebenarnya sederhana. Pertama, pendapatan inti harus tetap tumbuh. Kedua, laba sebelum pajak harus tetap naik atau setidaknya stabil. Ketiga, kenaikan pajak harus berasal dari mekanisme yang normal, bukan denda atau sengketa. Keempat, tidak boleh ada bukti bahwa arus kas operasional atau profitabilitas inti sedang runtuh. Dari data yang diberikan, syarat-syarat ini relatif terpenuhi. Pendapatan tol naik ke Rp 18,15 triliun. Laba sebelum pajak naik ke Rp 6,35 triliun. Kenaikan pajak kini masih logis. Dan penjelasan utama lonjakan total pajak berasal dari pembalikan arah pajak tangguhan, bukan penalti. Jadi secara bukti, skenario yang paling masuk akal memang normalisasi pajak, bukan kerusakan bisnis.
Kalau dibandingkan antar-tahun, justru 2024 adalah tahun yang lebih tidak biasa, sedangkan 2025 lebih mendekati level wajar. Jadi investor yang serius sebaiknya tidak menelan mentah-mentah angka laba bersih 2024 sebagai basis pertumbuhan ke depan. Yang lebih relevan adalah melihat laba sebelum pajak, pendapatan tol, kualitas cashflow, dan memisahkan efek pajak tangguhan dari earning power inti. Dalam kerangka itu, JSMR 2025 sebenarnya masih cukup kuat. Hanya saja, angkanya jadi terlihat lebih berat karena tidak lagi dibantu hadiah akuntansi seperti tahun sebelumnya.
Meroketnya beban pajak JSMR di 2025 bukan sinyal kehancuran, melainkan efek hilangnya manfaat pajak tangguhan jumbo 2024 dan berubahnya pos itu menjadi beban Rp 410,83 miliar di 2025. Pajak kini yang naik ke Rp 1,13 triliun juga masih masuk akal karena laba sebelum pajak naik ke Rp 6,35 triliun. Jadi kalau investor bertanya apakah ini bagus atau buruk, jawabannya dua-duanya bisa benar tergantung sudut pandang. Buruk untuk headline laba bersih, tapi bagus untuk membaca realitas kinerja yang lebih bersih dan lebih normal. Yang penting, bukti sejauh ini menunjukkan masalahnya ada di mekanisme akuntansi pajak, bukan di kerusakan mesin bisnis tol JSMR.
🧾 Inti masalah
🔹 Bukan karena bisnis inti rusak
🔹 Bukan karena denda pajak
🔹 Penyebab utama pembalikan pajak tangguhan
🔹 Jadi ini lebih ke efek akuntansi
📈 Kinerja inti malah naik
🔹 Pendapatan tol naik jadi Rp 18,15 triliun
🔹 Laba sebelum pajak naik jadi Rp 6,35 triliun
🔹 Artinya operasional masih sehat
💣 Akar lonjakan pajak
🔹 Total beban pajak naik dari Rp 157,65 miliar jadi Rp 1,54 triliun
🔹 Pajak kini naik wajar ke Rp 1,13 triliun
🔹 Yang bikin meledak pajak tangguhan berbalik arah
🔄 Perubahan besar
🔹 2024 ada manfaat pajak tangguhan Rp 804,36 miliar
🔹 2025 malah jadi beban Rp 410,83 miliar
🔹 Jadi laba 2024 tertolong
🔹 Laba 2025 malah tertekan
✅ Sisi bagus
🔹 2025 lebih mencerminkan laba normal
🔹 Kinerja inti tetap tumbuh
⚠️ Sisi kurang bagus
🔹 Laba bersih terlihat turun
🔹 2024 jadi kurang apple-to-apple buat pembanding
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/8








$JSMR Utang 2025 Bagus atau Buruk?
JSMR ambil utang di 2025 seperti sedang makan cendol. Langsung sedot tanpa kunyah. Tapi justru di situlah poin pentingnya. Dalam bisnis jalan tol, utang besar tidak otomatis jelek, sama seperti utang besar juga tidak otomatis hebat. Semuanya bergantung pada satu hal yang sangat mendasar, uang pinjaman itu dipakai untuk apa, aset yang dibiayai sudah menghasilkan atau belum, lalu apakah arus kas masa depan cukup kuat untuk membayar bunga dan pokoknya. Jadi, lonjakan utang JSMR di 2025 harus dibaca sebagai cerita ekspansi besar-besaran, bukan cerita operasional yang sedang jebol. Hanya saja, ekspansi ini masih berada di fase menanam beton, bukan fase memanen tarif tol. External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Utang JSMR memang besar. Total liabilitas naik dari Rp 89,88 triliun menjadi Rp 97,63 triliun. Kenaikannya sekitar Rp 7,75 triliun. Pendorong utamanya utang bank jangka panjang yang naik dari Rp 57,17 triliun menjadi Rp 68,80 triliun, berarti bertambah sekitar Rp 11,63 triliun. Utang obligasi juga naik dari Rp 1,53 triliun menjadi Rp 2,53 triliun, bertambah Rp 1 triliun. Jadi kalau investor melihat neraca JSMR 2025 lalu merasa utangnya mendadak bengkak, itu memang fakta. Tetapi yang perlu dibedakan adalah apakah utang ini dipakai untuk menutup kebocoran bisnis lama, atau dipakai untuk membangun aset baru. Dari data yang ada, jawabannya lebih condong ke yang kedua. Ini utang ekspansi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Akar masalahnya ada dua. Pertama, capex untuk penambahan Hak Pengusahaan Jalan Tol atau HPJT mencapai Rp 12,94 triliun. Ini bukan angka kecil. Ini menunjukkan JSMR benar-benar sedang agresif membangun kapasitas baru. Kedua, ada konsolidasi PT Jasamarga Jogja Solo atau JMJ sejak 1 September 2025. Begitu JMJ dikendalikan, seluruh utang sindikasi bank milik entitas itu ikut masuk ke laporan konsolidasian JSMR. Ini penting, karena sebagian kenaikan utang bukan murni karena JSMR induk tiba-tiba menarik pinjaman baru sendiri, tetapi juga karena ada utang anak usaha yang kini resmi nongol di neraca grup. Jadi secara akuntansi, lonjakan utang terlihat besar. Secara ekonomi, itu campuran antara ekspansi organik dan efek konsolidasi.
Kalau ditanya utangnya dipakai buat apa, jawabannya cukup jelas dan justru relatif sehat dari sisi tujuan penggunaan. Uang itu dipakai untuk kredit investasi proyek tol baru yang masih tahap konstruksi, seperti Japek Selatan, Probolinggo Banyuwangi, Jogja Bawen, dan Jogja Solo. Selain itu, obligasi Rp 1 triliun juga dipakai untuk refinancing obligasi lama yang jatuh tempo dan setoran modal ke entitas anak agar pembangunan proyek mereka terus jalan. Jadi ini bukan utang konsumtif model gali lubang tutup lubang untuk biaya operasional harian. Ini utang yang ditaruh ke aset infrastruktur jangka panjang. Dari sisi teori corporate finance, itu bisa dibilang masuk akal. Infrastruktur memang lazim dibiayai utang jangka panjang karena umur asetnya panjang dan monetisasinya bertahap.
Masalahnya, utang seperti ini bagus hanya kalau beberapa syarat terpenuhi. Syarat pertama, proyek yang dibiayai harus benar-benar selesai dan beroperasi. Syarat kedua, lalu lintas kendaraan dan tarif tol nantinya harus cukup tinggi untuk menghasilkan arus kas. Syarat ketiga, biaya konstruksi jangan sampai membengkak terlalu parah. Syarat keempat, struktur tenor utangnya harus cukup panjang sehingga tidak mencekik likuiditas sebelum proyek matang. Syarat kelima, laba dan arus kas dari ruas yang sudah beroperasi harus tetap kuat untuk menopang grup selama proyek baru masih bakar uang. Dari data yang ada, baru sebagian syarat yang terlihat aman. Bukti yang paling jelas, laba bruto dari ruas tol yang sudah beroperasi justru naik menjadi Rp 11,78 triliun. Artinya mesin inti JSMR belum rusak. Bisnis operasional existing toll roads masih bisa menghasilkan. Itu poin positif yang sangat penting. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Tetapi kalau pertanyaannya apakah utang baru itu sudah menambah laba 2025, jawabannya belum. Bahkan laba tahun berjalan turun dari Rp 5,60 triliun menjadi Rp 4,80 triliun, turun sekitar 14,25%. Jadi secara hasil jangka pendek, investor belum bisa bilang utang itu langsung membuahkan panen. Ini sangat normal untuk bisnis infrastruktur. Ruas tol yang masih berupa tanah, tiang, dan beton belum bisa menghasilkan pendapatan tol. Uangnya sudah keluar, utangnya sudah naik, asetnya bertambah, tetapi kendaraan belum lewat dan kas belum masuk. Jadi 2025 untuk JSMR adalah tahun akumulasi aset, bukan tahun panen laba dari aset baru.
Yang menarik, biaya keuangan justru turun dari Rp 4,02 triliun menjadi Rp 3,60 triliun, padahal utang naik besar. Ini bukan berarti utangnya mendadak murah sekali. Penjelasan yang lebih masuk akal adalah bunga pinjaman untuk proyek yang sedang dibangun dikapitalisasi ke aset, bukan dibebankan langsung ke laba rugi. Buktinya kuat, kapitalisasi biaya pinjaman melonjak dari Rp 401 miliar menjadi Rp 1,14 triliun. Jadi secara sederhana, sebagian beban bunga itu belum lewat jalur laba rugi, melainkan diparkir dulu ke nilai aset jalan tol. Ini membuat laba 2025 terlihat tidak terlalu terpukul oleh bunga. Dari sisi positif, ini memberi ruang napas jangka pendek. Dari sisi negatif, ini juga berarti ada beban ekonomi yang belum benar-benar selesai, hanya ditunda pengakuannya ke masa depan lewat depresiasi, amortisasi, atau beban ketika aset mulai beroperasi. Jadi investor jangan terkecoh. Bebannya tidak hilang. Hanya belum lewat pintu yang sama.
Kalau ditelaah lebih tajam, penurunan laba bersih 2025 justru bukan karena bisnis inti tol ambles. Penyebab utamanya ada di pajak dan absennya keuntungan one-off. Beban pajak penghasilan naik sangat tajam dari Rp 157 miliar menjadi Rp 1,54 triliun. Ini lompatan yang besar sekali. Lalu pada 2024 ada keuntungan kombinasi bisnis sekitar Rp 362 miliar yang tidak terulang di 2025. Jadi laba bersih turun karena dua faktor ini, bukan karena ruas tol existing tiba-tiba sepi atau operasional rusak total. Ini poin yang cukup melegakan. Artinya kualitas penurunan laba JSMR tidak seburuk kalau yang ambruk adalah core operating profitability.
Dari sisi baiknya, strategi ini bisa sangat menguntungkan kalau proyek-proyek baru tadi selesai tepat waktu dan traffic sesuai harapan. Dalam skenario itu, JSMR sedang membangun mesin pertumbuhan laba baru. Utang besar hari ini bisa berubah menjadi pendapatan tol, EBITDA, dan CFO yang lebih besar di masa depan. Apalagi karakter bisnis tol itu menarik. Begitu ruas beroperasi dan utilisasi naik, pendapatan cenderung recurring dan visibilitasnya lumayan jelas. Jadi dalam skenario optimistis, 2025 bisa dibaca sebagai fase menanam fondasi pertumbuhan beberapa tahun ke depan. JSMR memang kelihatan rakus utang, tapi rakusnya untuk memperluas aset produktif. Itu masih bisa dimaafkan, bahkan bisa diapresiasi, kalau hasil akhirnya nyata. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi buruknya, risikonya juga tidak kecil. Semakin besar utang, semakin sempit toleransi terhadap keterlambatan proyek, pembengkakan biaya, dan realisasi trafik yang meleset. Kalau proyek molor, bunga terus jalan, kebutuhan modal tambahan bisa muncul, dan masa tunggu sebelum monetisasi jadi makin panjang. Kalau trafik ternyata tidak sesuai proyeksi, aset yang dibangun mahal itu bisa menghasilkan return yang lebih rendah dari ekspektasi. Dalam bisnis leverage tinggi, masalah kecil bisa cepat membesar. Jadi investor tidak boleh cuma melihat narasi pertumbuhan. Investor juga harus menilai disiplin eksekusi. JSMR ini ibarat sedang memegang banyak bola api sekaligus. Kalau semua berhasil dilempar ke tujuan, hasilnya hebat. Kalau satu-dua jatuh, dampaknya bisa terasa ke laba, cashflow, dan valuasi.
Secara komparatif, utang JSMR ini lebih bisa ditoleransi dibanding utang perusahaan yang dipakai untuk menutup rugi operasional atau menopang bisnis yang marjinnya jeblok. Kenapa? Karena JSMR masih punya basis aset infrastruktur yang jelas, pendapatan operasional existing yang tetap besar, dan penggunaan utang yang nyambung dengan ekspansi aset jangka panjang. Jadi kualitas utangnya masih lebih waras. Tetapi dibanding perusahaan yang ekspansinya dibiayai lebih banyak oleh CFO internal atau kas sendiri, tentu profil risikonya lebih tinggi. Jadi posisi JSMR ada di tengah. Bukan utang ngawur, tapi juga bukan utang tanpa konsekuensi.
Lonjakan utang JSMR di 2025 itu logis kalau dibaca sebagai fase ekspansi besar dan efek konsolidasi anak usaha, bukan tanda bisnis inti mendadak berantakan. Dari sisi maksud penggunaan, ini cenderung bagus karena uangnya masuk ke proyek infrastruktur jangka panjang dan refinancing yang masih relevan. Tetapi dari sisi hasil jangka pendek, ini belum membuahkan kenaikan laba. Syarat agar utang besar ini jadi kabar baik adalah proyek harus selesai, traffic harus sesuai, monetisasi harus jalan, dan ruas existing harus terus menopang arus kas grup. Dari data 2025, bukti bahwa bisnis inti existing masih kuat sudah ada. Bukti bahwa aset baru sudah menghasilkan laba besar belum ada. Jadi untuk saat ini, utang JSMR lebih tepat dibaca sebagai taruhan besar yang masih dalam fase pembangunan. Potensinya ada, tapi buktinya belum lengkap. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🔹 JSMR ambil utang sangat agresif
🔹 Total liabilitas naik ke Rp 97,63 triliun
🔹 Utang bank jangka panjang naik ke Rp 68,80 triliun
🔹 Obligasi naik ke Rp 2,53 triliun
🏗️ Dipakai buat apa
🔹 Bukan buat tutup rugi operasional
🔹 Dipakai bangun ruas tol baru
🔹 Dipakai setoran modal ke anak usaha
🔹 Sebagian naik karena konsolidasi JMJ
📉 Hasil 2025
🔹 Laba turun 14,25% ke Rp 4,80 triliun
🔹 Jadi utang baru belum nambah laba
🔹 Karena banyak proyek masih konstruksi
🔹 Belum hasilkan pendapatan tol
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
✅ Sisi bagus
🔹 Bisnis inti masih kuat
🔹 Laba bruto tol operasi naik ke Rp 11,78 triliun
🔹 Ini utang ekspansi jangka panjang
⚠️ Sisi buruk
🔹 Risiko eksekusi naik
🔹 Kalau proyek molor beban makin berat
🔹 Kalau trafik meleset return bisa jelek
🔹 Potensinya bagus
🔹 Tapi bukti panennya belum ada
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










$GIAA ga ada yang mau akum kah udah deket lebaran?
apa lebih menarik tolnya $BNBR?
apa pilih yang aman aman aja kayak $JSMR?
$JSMR LK Full Year 2025:
Request member bukan di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
JSMR sudah rilis Laporan Keuangan Full Year 2025 dan hasilnya memang bikin dahi berkerut, karena laba bersih turun cukup dalam. Tapi kalau investor berhenti hanya di kalimat laba anjlok, itu justru pembacaan yang terlalu dangkal. Soalnya yang melemah bukan mesin bisnis utamanya, melainkan hasil akhir setelah kena pukulan beban pajak yang melonjak dan hilangnya keuntungan satu kali yang tahun lalu sempat bikin angka laba terlihat lebih tebal. Jadi, ini bukan cerita bisnis tol yang mendadak loyo. Ini lebih tepat dibaca sebagai bisnis yang operasionalnya masih kuat, tetapi bottom line-nya ditekan faktor non-operasional. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau dilihat dari sumber pendapatannya, PT Jasa Marga Persero Tbk (JSMR) masih sangat bertumpu pada pendapatan tol. Pos ini menyumbang Rp 18,15 triliun, naik dari Rp 17,22 triliun pada 2024. Ini tetap jadi cash cow utama. Pendapatan konstruksi tercatat Rp 10,07 triliun, tetapi investor jangan terlalu terpesona oleh angka besar ini karena hampir seluruhnya diimbangi beban konstruksi Rp 10,02 triliun. Artinya, secara ekonomi margin riilnya sangat tipis. Pos ini lebih mencerminkan pencatatan akuntansi proyek dibanding sumber laba yang benar-benar gemuk. Lalu ada pendapatan usaha lainnya Rp 1,65 triliun dari rest area, iklan, dan lini pendukung lain. Jadi struktur labanya jelas, yang benar-benar menopang bisnis inti tetap tarif tol dan arus lalu lintas kendaraan.
Di sinilah hal pentingnya. Secara operasional, JSMR sebenarnya tidak jelek-jelek amat lah. Laba usaha justru naik menjadi Rp 9,64 triliun. Laba bruto juga naik dari Rp 11,31 triliun menjadi Rp 11,78 triliun. Jadi penurunan laba bersih 14,25% dari Rp 5,60 triliun menjadi Rp 4,80 triliun bukan karena bisnis inti memburuk. Penyebab utamanya adalah lonjakan beban pajak penghasilan dari Rp 157 miliar menjadi Rp 1,54 triliun. Di 2024, JSMR juga menikmati keuntungan non-berulang seperti keuntungan kombinasi bisnis bertahap Rp 186 miliar dan diskon pembelian Rp 176 miliar. Ketika efek-efek itu hilang di 2025, laba bersih otomatis terlihat turun. Jadi, yang turun itu hasil akhir setelah faktor pajak dan item non-rutin, bukan kekuatan inti bisnis tolnya. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau lihat ke arus kas, gambarannya kurang lebih sejalan. Arus kas operasi atau cash flow from operations (CFO) turun tipis 4,10% dari Rp 5,90 triliun menjadi Rp 5,66 triliun. Penurunan ini juga bukan karena pengguna tol mendadak sepi atau tidak bayar. Penerimaan kas dari pelanggan tol justru naik dari Rp 17,24 triliun menjadi Rp 18,07 triliun. Bahkan kas neto dari operasi sebelum bunga dan pajak naik ke Rp 11,55 triliun. Yang bikin CFO akhir melemah adalah pembayaran pajak tunai yang melonjak dari Rp 1,25 triliun menjadi Rp 2,53 triliun. Jadi, kas operasional inti sebenarnya masih sehat, tetapi sebagian besar hasil kerja operasional itu tersedot ke pajak.
Masalah besar JSMR justru muncul ketika CFO dibandingkan dengan kebutuhan belanja modal atau capital expenditure (capex). Di sini kelihatan bahwa free cash flow (FCF) JSMR sangat negatif. CFO Rp 5,66 triliun jelas tidak cukup untuk menutup penambahan Hak Pengusahaan Jalan Tol (HPJT) sebesar Rp 12,94 triliun. Artinya, uang operasional yang dihasilkan perusahaan habis, bahkan kurang, untuk membiayai ekspansi. Ini sangat khas bisnis infrastruktur. Jalan tol itu bisnis yang kelihatan enak karena monopoli, tetapi rakus modal. Jadi walaupun operasionalnya kuat, kebutuhan dananya jauh lebih besar daripada uang kas yang dihasilkan dalam satu tahun. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Karena itu, bisnis JSMR tetap reasonable, tetapi bukan berarti ini bisnis yang mudah. Reasonable karena ruas tol yang sudah beroperasi pada dasarnya punya karakter monopoli absolut di jalurnya. Buktinya, penerimaan kas riil dari pelanggan masih besar sekali, Rp 18,07 triliun. Tapi utangnya memang tidak mungkin langsung lunas hanya dari kas atau CFO tahunan. Kas JSMR per akhir 2025 hanya Rp 6,75 triliun, sementara total utang bank jangka pendek dan panjang sudah lebih dari Rp 72 triliun, ditambah obligasi Rp 2,53 triliun. Jadi, model bisnis JSMR memang hidup dengan refinancing, restrukturisasi tenor panjang, dan asumsi bahwa proyek-proyek tol baru pada akhirnya akan ikut menghasilkan arus kas. Selama akses ke pembiayaan tetap terbuka dan traffic tol tetap kuat, model ini masih jalan. Tapi jelas ini bukan tipe perusahaan dengan neraca santai.
Kalau melihat neraca, pertumbuhan aset, liabilitas, dan ekuitas memang menggambarkan pola ekspansi tersebut. Aset naik 7,58% dari Rp 148,71 triliun menjadi Rp 159,99 triliun. Pendorong utamanya adalah kenaikan HPJT dari Rp 132,00 triliun menjadi Rp 140,97 triliun. Ini berarti pertumbuhan aset didorong oleh penambahan proyek tol, bukan oleh kas menumpuk. Selain itu, konsolidasi PT Jasamarga Jogja Solo (JMJ) pada September 2025 juga ikut memperbesar total aset grup. Di sisi lain, liabilitas naik 8,62% dari Rp 89,88 triliun menjadi Rp 97,63 triliun. Ini logis karena ekspansi jalan tol memang dibiayai utang. Utang bank jangka panjang melonjak dari Rp 57,17 triliun menjadi Rp 68,80 triliun. Rasio utang terhadap ekuitas juga naik dari 1,4 kali menjadi 1,5 kali. Jadi aset JSMR memang bertumbuh, tetapi dibayar dengan leverage yang juga makin tebal. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Ekuitas naik 6,00% dari Rp 58,83 triliun menjadi Rp 62,36 triliun. Ini menarik karena terjadi di saat laba bersih justru turun. Banyak orang awam suka bingung melihat situasi begini, padahal secara akuntansi ini sangat wajar. Laba bersih adalah hasil satu tahun, sedangkan ekuitas adalah akumulasi kekayaan bersih yang tertahan di perusahaan. Selama perusahaan masih mencetak laba positif, ekuitas tetap bisa bertambah meskipun pertumbuhan laba dibanding tahun sebelumnya melambat atau turun. Dalam kasus JSMR, perusahaan masih mencetak laba Rp 4,80 triliun. Jadi sangat normal kalau ekuitas tetap naik.
Diskrepansi antara ekuitas yang naik 6,00% dan laba bersih yang turun 14,25% bukan red flag. Justru ini sehat. Yang red flag itu kalau ekuitas naik karena revaluasi aset yang agresif, rights issue terus-menerus, atau tambal-sulam modal untuk menutupi rugi operasional. Pada JSMR, ekuitas naik karena perusahaan masih untung besar secara riil. Memang pertumbuhan ekuitasnya tidak sebesar laba bersih yang dicetak, tetapi itu juga wajar karena ada distribusi keluar. JSMR membagikan dividen total Rp 1,94 triliun pada 2025. Selain itu ada rugi penghasilan komprehensif lain sekitar Rp 203 miliar, lalu ada tambahan setoran modal non-pengendali Rp 872 miliar. Setelah semua arus masuk dan keluar itu dihitung, kenaikan bersih ekuitas menjadi sekitar Rp 3,52 triliun. Jadi bukan berarti ada kejanggalan. Itu hanya menunjukkan bahwa sebagian laba memang dibagikan ke pemegang saham, bukan semuanya ditahan.
Soal piutang, bagian ini justru cukup bersih. Pengguna jalan tol bukan tipe pelanggan yang bisa menunggak karena sistem pembayarannya pakai uang elektronik di muka. Jadi tidak ada cerita pelanggan tol bandel yang bikin laba atau cash flow terganggu. Total pencadangan kerugian hanya Rp 134,3 miliar. Dibanding total aset Rp 159 triliun dan pendapatan Rp 29,8 triliun, angka ini sangat kecil, bahkan di bawah 0,1%. Artinya, risiko piutang macet pada bisnis inti praktis nyaris tidak material. Mayoritas piutang yang belum tertagih justru berasal dari pemerintah, terutama Kementerian PUPR sebesar Rp 494 miliar, serta piutang ke entitas afiliasi atau ventura bersama seperti PT Trans Jabar Tol dan pihak terkait lain. Jadi masalahnya lebih ke birokrasi dan timing pembayaran, bukan karena lawannya kolaps. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bagian yang lebih menarik justru utang vendor. Dari datanya, memang terlihat JSMR cukup agresif menahan pembayaran ke kontraktor dan konsultan. Ada utang kontraktor jangka pendek Rp 402,9 miliar, utang kontraktor jangka panjang Rp 1,37 triliun, dan beban akrual ke kontraktor serta konsultan sampai Rp 6,25 triliun. Ini menunjukkan bahwa JSMR memakai modal kerja vendor sebagai bantalan likuiditas. Secara praktik, ini bukan berarti ilegal atau ngawur. Dalam bisnis infrastruktur, ini sering terjadi lewat term of payment (ToP) yang panjang atau skema contractor pre-financing (CPF), di mana kontraktor diminta bekerja dulu dan pembayaran penuh dilakukan ketika dana talangan tanah cair atau pinjaman sindikasi turun. Buat laba, strategi ini tidak terlalu menyakiti karena biaya banyak yang dikapitalisasi menjadi aset. Tapi buat likuiditas, ini jelas sangat membantu. Kalau JSMR harus membayar semua vendor cepat secara tunai, ruang napas kasnya bisa langsung sempit.
Dari sisi kompetisi, investor juga harus membaca dengan benar. Di bisnis jalan tol, hampir tidak ada kompetisi langsung di ruas yang sudah dikuasai, karena sifatnya memang konsesi monopoli. Kompetisi yang sesungguhnya justru terjadi saat tender proyek tol baru. Kalau JSMR kalah tender, maka potensi growth masa depan bisa pindah ke pemain lain. Karena itu, strategi utama JSMR bukan perang harga di jalan tol yang sudah jadi, melainkan membangun konsorsium untuk memenangkan tender dan membagi risiko pembiayaan. JSMR menggandeng BUMN konstruksi seperti PT Adhi Karya Tbk $ADHI, PT Pembangunan Perumahan Tbk $PTPP, PT Waskita Karya Tbk, dan mitra lain dalam berbagai proyek seperti PT Jasamarga Jogja Bawen dan PT Jasamarga Akses Patimban. Strategi ini masuk akal karena beban modal proyek jalan tol terlalu besar kalau dipikul sendirian. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Jadi JSMR di 2025 sebenarnya bukanlah perusahaan yang bisnisnya hancur. Laba bersih JSMR turun karena faktor pajak dan hilangnya keuntungan non-berulang, sementara bisnis operasional utamanya masih tetap mencetak uang. Pendapatan tol naik, laba usaha naik, penerimaan kas pelanggan naik, dan ekuitas masih bertambah. Tapi di saat yang sama, JSMR tetap menghadapi masalah klasik infrastruktur, yaitu FCF negatif, utang besar, ketergantungan tinggi pada refinancing, dan likuiditas yang ikut dibantu oleh penundaan pembayaran ke vendor. Jadi hasil 2025 ini tidak pantas dibaca terlalu pesimistis, tetapi juga tidak boleh dibaca terlalu optimis. Bisnis intinya masih kuat, namun struktur keuangannya tetap berat. Itu sebabnya, kalimat paling jujur untuk JSMR bukan sekadar laba anjlok, melainkan laba anjlok di tengah operasional yang masih sehat, tetapi dengan model bisnis yang tetap sangat haus modal dan sangat bergantung pada disiplin pendanaan.
🔻 Laba bersih turun 14,25% jadi Rp 4,80 triliun
🔺 Laba usaha malah naik jadi Rp 9,64 triliun
🧾 Biang utamanya beban pajak naik dari Rp 157 miliar jadi Rp 1,54 triliun
💰 Mesin Uang
🛣️ Pendapatan tol naik jadi Rp 18,15 triliun
🏗️ Pendapatan konstruksi Rp 10,07 triliun, tapi margin tipis karena beban konstruksi Rp 10,02 triliun
🏪 Pendapatan lain Rp 1,65 triliun
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
💸 Arus Kas
💵 CFO turun tipis jadi Rp 5,66 triliun
🧮 Penerimaan kas tol tetap kuat, Rp 18,07 triliun
🚧 FCF negatif karena capex HPJT Rp 12,94 triliun
🏦 Neraca
📦 Aset naik 7,58% jadi Rp 159,99 triliun
🧱 Liabilitas naik 8,62% jadi Rp 97,63 triliun
🌱 Ekuitas tetap naik 6,00% jadi Rp 62,36 triliun
🔁 Utang besar, sangat bergantung refinancing
🧾 Piutang macet kecil, tidak material
🛠️ Likuiditas terbantu penundaan bayar vendor
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/7







$JSMR gila tiba tiba turun
emang parah nih efek Iran sama Israel
orang orang para koruptor berfoya foya sekarang nih.
ta* ta*
moga aja nanti pas tanggal 17 keatas rame lagi
$JSMR arus kas investasinya lumayan tinggi, ini untuk investasi di tol mana ya, mohon di jawab para suhu
$JSMR positif aja gengs.
moga hari raya pada mudik
h - 14 dan moga jalur balik juga rame.
agak susah nih mantau pas balik sama mudik
PT Jasa Marga Tbk (JSMR) membukukan laba bersih sebesar Rp 3,65 triliun sepanjang 2025. Torehan tersebut anjlok 19,42% dibandingkan dengan laba bersih perseroan pada tahun sebelumnya sebesar Rp 4,53 triliun.
Berdasarkan laporan kinerja keuangan JSMR tahun buku 2025, perseroan mencatatkan penurunan p...

katadata.co.id
barangkali ada yang mau baca report $JSMR yang pembahasannya cukup komprehensif, ada free akses report $JSMR (perlu sign up dulu, free) trs di menu 'Watchlist'
https://cutt.ly/XtRSBKBE
imo di harga sekarang udah cukup murah relatif dibanding potensi earningnya @dadang93 @dapidmediawan @theruleox
barangkali ada yang mau baca report $JSMR yang pembahasannya cukup komprehensif, ada free akses report $JSMR (perlu sign up dulu, free) trs di menu 'Watchlist'
https://cutt.ly/ntRSCote
imo di harga sekarang udah cukup murah relatif dibanding potensi earningnya
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia melalui PT Danantara Asset Management (DAM) memperluas investasi dengan turut menggenggam sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia. Saat ini Danantara tercatat menempatkan dana ke sembilan saham pelat merah.
Berdasarkan data pem...

katadata.co.id
@noviantoadhi600 tahan aja... bukak lagi 3 tahun kemudian... ini bukan saham gorengan, harga 3340 itu harga diskon.. abaikan harga bg, fokus ke bisnisnya... $JSMR cash flow nya sehat...
$JSMR
$JSMR: Jasa Marga mencatatkan laba bersih Rp931 M pada 4Q25 (-24% YoY, +9% QoQ), sehingga laba bersih selama 2025 mencapai ~Rp3,7 T (-19,3% YoY) dan sedikit di bawah ekspektasi (96% estimasi 2025F konsensus). Pendapatan segmen ‘toll road’ naik menjadi ~Rp5,3 T pada 4Q25 (+8% YoY, +5% QoQ), sehingga pendapatan segmen ‘toll road’ selama 2025 naik +5,7% YoY menjadi Rp19,8 T. Adapun EBITDA selama 2025 naik +5,6% YoY menjadi Rp13,3 T, diikuti oleh margin EBITDA yang stabil di level 67,1%. Penurunan laba bersih JSMR selama 2025 sendiri utamanya disebabkan oleh lonjakan beban pajak dari Rp158 M pada 2024 menjadi ~Rp1,5 T pada 2025. Di luar faktor tersebut, laba sebelum pajak masih meningkat +10,2% YoY, didorong oleh penurunan beban keuangan sebesar -12% YoY. Untuk 2026, JSMR mempertahankan guidance seperti pada 2025, dengan target pendapatan segmen ‘toll road’ dan EBITDA masing–masing tumbuh sekitar +4–6%, sementara target margin EBITDA di kisaran 65–67%.
https://snips.stockbit.com/snips-terbaru/elsa-2025-core-profit-12-yoy-didorong-segmen-downstream?source=research

gengs gue minta saran dong
gue baru masuk ke $JSMR di 3340 ini pas turun apakah di biarin aja atau gimana ?
dan apakah pas tutup itu ada otomatis cut lost nya atau masih bisa kepakai sampai waktu kita mau di ambil ?
ijin tanya ya
$JSMR gengs ijin nanya.
apakah nanti di tanggal ini bakalan nanti $JSMR bakal naik ya ?
ijin aja nanya ya

barangkali ada yang mau baca report $JSMR yang pembahasannya cukup komprehensif, ada free akses report $JSMR (perlu sign up dulu, free) trs di menu 'Watchlist'
https://cutt.ly/rtRzOMMh
@nadyarahmawatiputri @sukindarsantoso @Fransly @meikemieke $BUMI