342

0.00

(0.00%)

Today

922,700

Volume

2.83 M

Avg volume

Company Background

PT. Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) adalah perusahaan yang bergerak di bidang layanan pemanduan dan penundaan kapal, dengan nama dagang IPC Marine Service. Jasa Armada Indonesia adalah anak perusahaan PT. Pelabuhan Indonesia II (Persero). Perusahaan mulai beroperasi tahun 1960.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$IPCM

go go go

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$IPCM

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

digendong $ADMR $ADRO $IPCM. Merah di PTPS tapi gak ada duit buat serok

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

@stevewinarto mending lagi jadi kuli bangunan di $TOTL , satpam BMRI, Teknisi $MSTI tukang parkir kapal $IPCM atau tukang gali di ADRO HEXA 🤣🤣

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

oke bisa pantau saham itu yaa BISI pilih 1/2 emiten aja dan research dulu cari aja Mengenai kerja sama maritim Indonesia & Inggris

oke yang mau informasi selanjutnya
jangan lupa Follow ✅

Disclaimer on

$PJHB $IPCM $HUMI

$IPCM - Belajar Parkir Kapal #3 : Bagaimana Kalau Kehilangan Mandat?

Bagian:
#1 - https://stockbit.com/post/26730141
#2 - https://stockbit.com/post/26785224

Di dua bagian sebelumnya, sy sampai pd simpulan sementara bahwa IPCM bukan bisnis yg runtuh saat krisis, dan pertumbuhannya tidak datang dr lonjakan tarif semata, melainkan dr perluasan wilayah dan efisiensi operasional.

Namun di sana justru muncul satu pertanyaan yg menurut sy penting bagi investor jangka panjang, yaitu soal fondasi bisnisnya:

Bagaimana kalau suatu hari IPCM kehilangan mandat?

Pertanyaan ini mungkin terdengar berlebihan bagi sebagian investor ritel. Tapi sy merasa justru karena bisnis IPCM terlihat stabil dan tenang, risiko seperti ini sering kali tidak dibahas dengan serius.

Untuk menjawabnya, sepertinya kita perlu mempelajari dasar hukumnya. Nah, ternyata secara hukum, jasa pemanduan dan penundaan kapal di Indonesia memang bersifat mandatory, bukan jasa komersial bebas. Dasarnya berlapis, bukan satu aturan saja, tetapi fondasi utamanya ada di:

1. UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran

UU ini menetapkan bahwa keselamatan dan keamanan pelayaran adalah tanggung jawab negara, dan pelayanan pemanduan serta penundaan merupakan bagian dr sistem keselamatan pelayaran di pelabuhan.

2. Peraturan Menteri Perhubungan No. 57 Tahun 2015 tentang Pemanduan dan Penundaan Kapal

Ini aturan teknis yg sangat penting. Di sini dijelaskan penetapan wilayah wajib pandu serta kriteria kapal yg wajib menggunakan jasa pandu dan tunda, yaitu kapal berukuran tonase kotor paling rendah GT 500 (lima ratus Gross Tonnage).

Kemudian dijelaskan jg bahwa jasa ini hanya dapat diselenggarakan oleh BUP (Badan Usaha Pelabuhan)
atau badan usaha yg ditugaskan/bekerja sama dengan penyelenggara pelabuhan. Artinya, ini bukan pasar bebas. Tidak semua operator bisa masuk begitu saja.

Lalu, posisi IPCM sendiri kalau secara spesifik adalah:
- Anak usaha Pelindo
- Berstatus Badan Usaha Pelabuhan (BUP)
- Mendapat wilayah operasi di pelabuhan yg dikelola Pelindo (khususnya Regional 2)
- Sekaligus dapat mengelola jasa pandu-tunda di TUKS dan Tersus melalui kerja sama dan penugasan sesuai regulasi.

Ini menjelaskan kenapa di wilayah Pelindo, IPCM praktis menjadi default operator dan di luar Pelindo, IPCM tetap bisa masuk selama memenuhi syarat teknis dan keselamatan. Jadi, mandat IPCM bukan hak istimewa yg tanpa dasar, tapi hasil dr status BUP + penugasan + kepatuhan regulasi keselamatan.

Lalu, apakah mandat ini bisa hilang?

Kalau melihat kerangka regulasi td, jasa pandu dan tunda bukan sekadar pilihan bisnis. Ia adalah bagian dr sistem keselamatan pelayaran. Dalam beberapa sesi tanya jawab, manajemen IPCM jg menegaskan bahwa kapal dengan ukuran dan karakteristik tertentu diwajibkan menggunakan jasa pandu dan tunda sesuai ketentuan nasional dan internasional.

Artinya, kebutuhan atas jasa ini memang melekat pd fungsi keselamatan. Selama pelabuhan beroperasi dan regulasi keselamatan tetap berlaku, jasa ini akan selalu dibutuhkan.

Namun, perlu dipikirkan jg bahwa kebutuhan terhadap jasa tidak otomatis berarti mandat selalu jatuh ke IPCM, kan?

Secara teori, Pelindo bisa saja menunjuk operator lain, membuka kompetisi di wilayah tertentu, atau mengubah skema kerja sama. Risiko seperti ini bukan tidak mungkin, namun sejauh ini sy belum melihat arahnya akan ke sana.

Saat ini pemerintah malah mendorong penyederhanaan struktur BUMN agar lebih efisien dan fokus. Melalui Danantara, pemerintah ingin memangkas jumlah BUMN secara signifikan melalui konsolidasi, penggabungan, atau penutupan unit usaha yang dinilai tidak produktif.

Arah kebijakan ini jg diperkuat dengan revisi Undang-Undang BUMN yg memberi ruang restrukturisasi lebih cepat terhadap perusahaan milik negara.

Rangkaian kebijakan tersebut menunjukkan bahwa negara tidak segan melakukan perampingan bila suatu entitas dianggap tidak efektif atau tidak sejalan dengan tujuan strategis nasional.

Dalam skenario seperti ini, restrukturisasi bukan hanya berarti penutupan, tapi jg bisa berupa pengalihan fungsi, peleburan unit sejenis, atau pelimpahan tugas operasional ke entitas yg dinilai lebih fokus dan kompeten di bisnis intinya.

Dalam konteks IPCM, arah kebijakan ini justru lebih terlihat sebagai peluang ketimbang ancaman. Dari paparan manajemen yg tersedia secara umum, IPCM sudah beberapa kali menerima pelimpahan tugas operasional di luar wilayah awalnya, termasuk pelayanan pandu dan tunda di terminal lain di bawah Pelindo Group maupun di luar Pelindo.

Ini menunjukkan bahwa dalam proses konsolidasi, negara dan induk usaha cenderung mempercayakan fungsi keselamatan pelayaran kepada operator yg sudah terbukti memenuhi standar teknis, keselamatan, dan operasional.

Perlu diingat jg bahwa jasa parkir kapal ini merupakan bisnis dengan entry barrier yg tidak ringan. Bukan hanya karena kebutuhan modal untuk kapal yg mahal, tapi jg karena persyaratan SDM dan kelayakan operasionalnya sangat ketat.

Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan No. 57 Tahun 2015 tentang Pemanduan dan Penundaan Kapal, pelaksanaan pemanduan wajib dilakukan oleh pandu bersertifikat yg harus melalui pendidikan, pelatihan, familiarisasi wilayah, serta memperoleh penugasan resmi dari otoritas pengawas.

Pandu jg diwajibkan memiliki sertifikat profesi, endorsement yg masih berlaku, kartu identitas pandu, buku saku pemanduan, serta menjalani pemeriksaan kesehatan berkala. Proses ini tidak bisa instan dan memerlukan waktu bertahun-tahun hingga seorang pandu dinyatakan layak bertugas.

Di luar SDM, armada kapal pendukungnya sendiri jg harus memenuhi standar teknis, keselamatan, dan laik laut sesuai ketentuan regulator. Kombinasi modal besar, waktu panjang, dan regulasi ketat inilah yg membuat tidak banyak pemain baru bisa masuk dan langsung beroperasi di bisnis ini.

Menariknya, IPCM sendiri tidak pernah mengklaim kebal terhadap risiko. Manajemen justru menekankan pentingnya menjaga kualitas layanan, efisiensi armada, dan kepatuhan terhadap standar keselamatan. Bagi sy, ini menunjukkan bahwa kepercayaan bukan sesuatu yg dianggap permanen, tapi ya harus terus dijaga lewat kinerja.

Di sisi lain, ekspansi ke luar Pelindo bisa dibaca sebagai upaya mengurangi ketergantungan tersebut. Dengan masuk ke TUKS dan Tersus, IPCM membangun sumber pendapatan yg tidak sepenuhnya bergantung pd satu entitas. Sekarang sudah 40% kontribusi non Pelindo dan dapat terus meningkat.

Sejak 2022, sy sendiri memperhatikan perubahan ini tidak terasa seperti ekspansi besar-besaran. Tidak populer jg. Entah mungkin karena penambahan wilayah kerjanya berjalan secara bertahap. Dan sekali lg, IPCM tidak mengubah bisnisnya, tetap sebagai "kang parkir" hanya wilayah kekuasaannya yg meluas. Selama kapal masuk dan keluar terminal, jasa ini tetap dibutuhkan.

Jadi, risiko kehilangan mandat tetap ada. Namun sejauh ini, tidak ada indikasi bahwa mandat tersebut rapuh atau akan dicabut tanpa perubahan besar di level kebijakan atau struktur industri.

Bahkan dalam skenario restrukturisasi BUMN sekalipun, IPCM lebih berpeluang menerima tambahan peran daripada kehilangan fungsi intinya, selama ia tetap menjalankan mandat keselamatan dengan baik.

Dengan begitu, kalau di bagian pertama sy sudah membahas bahwa IPCM terbukti tetap menghasilkan laba saat pandemi. Lalu, di bagian kedua terjelaskan jg bahwa pertumbuhan datang dr ekspansi wilayah dan efisiensi armada. Serta, di bagian ketiga ini, risiko utamanya bersifat struktural dan belum terlihat akan berdampak negatif.

Kemudian, dari sini mungkin ada yg bertanya-tanya, oleh karena bisnisnya yg demikian, apakah IPCM layak dimasukkan sebagai legacy stock?

Saya pribadi cenderung menjawab iya.

Penjelasannya begini, legacy sendiri bukan berarti perusahaannya besar atau terkenal, tapi bisnis perusahaan tersebut dibangun, bertumbuh, dan tetap relevan dlm waktu lama, menghasilkan arus kas stabil, serta tidak bergantung pd tren sesaat.

IPCM memenuhi banyak ciri itu.

Namun, bisnis yg baik saja belum tentu akan memberikan return investasi yg baik pula kalau dibeli pd harga yg mahal. Oleh karena itu, kalau sy ingin memasukkan IPCM dlm portofolio, sy perlu menilai dulu berapa harga wajarnya, dan berapa potensi keuntungan yg bisa diperoleh.

Khusus untuk kasus IPCM yg menurut keyakinan sy bisa dikategorikan sebagai legacy stock, maka pendekatan Dividen Discounted Model (DDM) cukup relevan untuk menilai harga wajarnya. Detail metode ini bisa teman-teman @stockbit baca jg pd postingan ini: $SMSM - https://stockbit.com/post/18763084.

Jika kita lihat data, dividen IPCM di tahun 2024 sebesar Rp23,72 per saham dengan CAGR dividen dr tahun 2017 sampai 2024 adalah 19,67% per tahun. Cukup tinggi, jd agar konservatif sy pakai seperempatnya saja, yaitu 4,9%. Kemudian, jika sy meminta return 10%, maka nilai wajar IPCM berdasarkan pendekatan DDM berada di kisaran Rp488 per saham.

Dengan harga penutupan Rp342 per 21 Januari 2026, saham ini diperdagangkan di bawah nilai wajar konservatif tersebut. Masih ada margin of safety (MOS) sekitar 30%. Apakah ini menarik bagi sy?

Entahlah 😭

Tetapi, bagi sy pribadi, IPCM ini layak dikategorikan sebagai legacy stock yg menawarkan bisnis stabil, moat kuat, fokus pd circle of competence-nya, serta memberi MOS yg cukup.

Terakhir, sebagai penutup, sy sampaikan seri ini bukan bermaksud untuk mengajak pembaca untuk membeli atau menjual saham IPCM atau saham apapun, melainkan untuk berbagi pemahaman yg lebih jernih, bahwa IPCM adalah bisnis yg mungkin tidak banyak dibicarakan, tapi terus bekerja menjalankan perannya.

Selama kapal masih harus masuk dan keluar pelabuhan dgn aman, jasa seperti ini akan tetap dibutuhkan. Dan mungkin, di situlah letak nilai IPCM sebagai legacy stock. Tidak populer, tapi terus relevan.

Disclaimer: Catatan ini adalah refleksi penulis terkait kerabat $SMGR di Danantara berdasarkan data publik, laporan keuangan, dan observasi lapangan. Bukan ajakan membeli atau menjual saham tertentu. Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab masing-masing. Do your own research.

Read more...

1/7

testestestestestestes

hari ini DCA bagian AVG UP karena semuanya ijo. Pasukan ngecer se-lot, se-lot $PTPS $ADMR $IPCM

$IPCM - Belajar Parkir Kapal #2 : Bisakah Bisnisnya Terus Bertumbuh?

Kalau di bagian pertama sy sampai pd kesimpulan bahwa IPCM bukan bisnis yg runtuh saat krisis, maka di bagian ini pertanyaannya bergeser. Bukan lagi soal bertahan, tapi soal ruang bertumbuh.

Bagian #1 : https://stockbit.com/post/26730141

Karena jujur saja, kalau hanya mengandalkan area Pelindo yg itu-itu saja, sulit membayangkan pertumbuhan yg berarti. Data segmen Pelindo sendiri sudah menunjukkan tanda pasar yg mature.

Seperti perbandingan Q2 2024 dan Q2 2025, pertumbuhan layanan pilotage dan towage di wilayah Pelindo tercatat sangat tipis, bahkan mendekati flat secara tahunan. Volume stabil, utilisasi terjaga, tapi ruang akselerasi memang terbatas.

Namun justru dr rangkaian public expose dan sesi tanya jawab lintas tahun yg sy pelajari, sy mulai menemukan bahwa IPCM sejak awal menyadari keterbatasan ini. Dan respons mereka bukan mengubah bisnis, melainkan memperluas "wilayah kekuasaannya".

Kalau ditarik ke belakang, sejak pubex 2020 manajemen sudah berulang kali menyebut dua kata yg sama. TUKS dan TERSUS. Terminal Untuk Kepentingan Sendiri dan Terminal Khusus. Saat itu belum terasa dampaknya, lebih seperti rencana di atas kertas.

Terminal-terminal tersebut dibangun dan dioperasikan oleh badan usaha atau entitas tertentu untuk menunjang kegiatan usahanya sendiri, bukan untuk melayani kepentingan umum.

Lazimnya dimiliki oleh perusahaan industri besar seperti pertambangan, perkebunan, atau manufaktur yang memerlukan jalur distribusi langsung untuk ekspor-impor barangnya.

Kemudian, kalau kita lompat ke data terbaru di pubex 2025, ceritanya mulai berbeda. Komposisi pendapatan IPCM kini sudah sekitar 40% dr luar Pelindo Group sementara sisanya 60% masih dr Pelindo Group, dan angka ini disebutkan secara eksplisit oleh manajemen sebagai tren yg akan terus ditingkatkan.

Ini penting, karena artinya sumber pertumbuhan IPCM bukan berasal dr pelabuhan umum yg sudah mapan, melainkan dr terminal-terminal khusus yg jumlahnya jauh lebih banyak dan tersebar di seluruh Indonesia.

Dalam pubex 2025 jg dijelaskan bahwa peningkatan signifikan pendapatan non Pelindo terutama datang dr wilayah Halmahera Utara, seiring bertambahnya terminal-terminal baru yg melayani industri tambang, khususnya nikel.

Sehingga bisa disimpulkan bahwa pertumbuhannya ini bukan bersumber dr satu proyek besar, melainkan akumulasi dr banyak terminal baru yg masing-masing membutuhkan jasa pandu dan tunda.

Kalau dicermati, pola pertumbuhannya sangat khas. Tidak ada satu kontrak raksasa yg mengubah skala bisnis secara instan. Yang ada adalah penambahan wilayah operasi sedikit demi sedikit, lalu dikunci dengan mandat keselamatan pelayaran yg sifatnya wajib.

Manajemen jg menegaskan bahwa jasa pandu dan tunda untuk kapal-kapal dengan ukuran dan bobot tertentu bersifat mandatory sesuai ketentuan International Maritime Organization (IMO). Artinya, selama terminal itu beroperasi dan kapal masuk, jasa ini bukan opsional, tapi keharusan.

Sudah terasa mirip "kang parkir" minimarket? 🍌

Kemudian, sumber pertumbuhan berikutnya yg sy temukan datang dr sisi armada. Dari paparan capex lintas tahun, terlihat pola yg konsisten namun tidak agresif.

Tahun 2021, IPCM menganggarkan capex sekitar Rp95 miliar utk penambahan 1 kapal tunda dan 3 motor pandu. Tahun 2022, estimasi capex naik ke kisaran Rp140 miliar. Lalu di 2024 dan 2025, capex kembali berada di rentang Rp150-158 miliar utk pengadaan kapal tunda baru, repowering mesin, serta modifikasi sistem water jet.

Jika dibandingkan dengan data pubex 2018, jumlah armada IPCM memang bertambah, tapi yg lebih menarik bukan hanya kuantitasnya. Dalam beberapa pemaparan terakhir, manajemen mulai menekankan transformasi armada yg lebih hemat BBM dan lebih efisien secara operasional.

Bagi sy, ini bukan sekadar narasi ESG semata, melainkan berkaitan langsung dgn struktur biaya jangka panjang, terutama ketika ada tekanan harga BBM. Salah satu contoh konkret yg sy temukan dr paparan manajemen dalam sesi wawancara adalah pemasangan solar panel di beberapa armada.

Ini mungkin terdengar sepele, tapi masuk akal secara operasional. Dalam praktiknya, kapal tunda dan pandu tidak selalu bergerak. Ada fase idle ketika armada menunggu tugas berikutnya, dan pd fase ini mesin tidak bisa begitu saja dimatikan karena kebutuhan sistem kapal.

Artinya, BBM tetap terbakar meskipun kapal tidak berpindah. Dengan pemasangan solar panel, ketika kapal idle pun tetap bisa mengisi daya, sehingga konsumsi BBM dapat ditekan secara perlahan namun konsisten. Bagi sy, ini bukan inovasi yg spektakuler, tapi contoh efisiensi yg justru relevan utk bisnis seperti IPCM.

Kalau kita hitung sederhana dr data pubex 2025, terlihat bahwa efisiensi operasional IPCM bukan sekadar wacana. Tahun 2020, saat pendapatan Rp696,56 miliar dan laba bersih Rp80,23 miliar, net margin berada di kisaran 11,5%.

Lima tahun kemudian, di 2024, pendapatan naik ke Rp1.345,03 miliar dengan laba bersih Rp166,84 miliar, sehingga net margin bertahan di kisaran 12,4%. Margin ini tidak melonjak agresif, tp justru stabil dan sedikit membaik di tengah skala bisnis yg hampir dua kali lipat.

Bagi sy, di sinilah efek efisiensi mulai terasa. Di bisnis jasa berbasis armada, di mana BBM, perawatan, dan docking adalah biaya utama, menjaga margin tetap utuh saat pendapatan tumbuh belasan persen per tahun sudah merupakan pencapaian tersendiri.

Artinya, tambahan revenue yg masuk tidak habis dimakan biaya, melainkan masih menyisakan ruang laba yg konsisten, dan inilah yg membuat upaya-upaya efisiensi seperti modernisasi armada, repowering mesin, hingga pemasangan solar panel tadi terasa relevan secara finansial, bukan sekadar "asal ada ESG".

Di sini sy mulai melihat bahwa pertumbuhan IPCM bukan datang dr ekspansi agresif, tapi dr efisiensi operasional berkat ekspansi wilayah + kepastian demand. Selama Indonesia terus membangun smelter, terminal tambang, dan infrastruktur logistik, maka peta operasi IPCM jg ikut melebar.

Dalam pubex 2023 dan 2024, manajemen jg menyebut adanya ribuan Tersus dan TUKS di Indonesia yg secara teori bisa menjadi pasar. Tentu tidak semuanya akan dikelola IPCM, tapi bahkan penetrasi kecil saja sudah cukup memberi tambahan volume yg stabil.

Jadi, bisakah bisnis ini terus bertumbuh?

Dari data yg sy kumpulkan sejauh ini, jawabannya bukan ya atau tidak secara hitam putih. IPCM ini ternyata bukan bisnis yg tumbuh cepat, tapi ia tumbuh dengan cara memperluas lingkaran kewajibannya.

Bukan mengandalkan lonjakan tarif, bukan mengejar volume spekulatif, tapi dengan masuk ke wilayah baru di mana jasanya diwajibkan oleh regulasi dan keselamatan.

Kompetensimya tetap sama, sebagai "kang parkir", tapi wilayah "kekuasaannya" bertambah. Seperti tiap ada $AMRT baru, atau mungkin ketika ada rumah makan atau objek wisata lokal baru yg banyak pengunjungnya, maka di sana "wajib" ada kang akang jg. Tentu itu demi keamanan dan ketertiban bersama. 🙊

Lalu kemudian, muncul pertanyaan yg lebih sensitif dan mungkin jarang dibahas investor ritel, yaitu jika sebagian besar kepastian permintaan datang dr mandat dan struktur regulasi, lalu apa yg terjadi jika fondasi itu berubah?

Bagaimana kalau suatu hari IPCM kehilangan mandat?

Nah, pertanyaan itulah yg akan sy coba bongkar di bagian terakhir.

Disclaimer: Catatan ini adalah refleksi penulis terkait kerabat $IPCC berdasarkan data publik, laporan keuangan, dan observasi lapangan. Bukan ajakan membeli atau menjual saham tertentu. Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab masing-masing. Do your own research.

Read more...

1/5

testestestestes

kenapa komposisi ini penting?

karena banyak yang menyangka kalau ada net inflow asing yang terbayang adalah vanguard, blackrock, fidelity hedge fund manager, quant, dsb.

padahal secara jumlah (bukan secara besar modal), net inflow asing itu large majority dari individual indonesia yang menggunakan offshore shell company, yang secara kepentingan sama sekali berbeda sama investment banks, dan sejawatnya

masalahnya stockbit itu cuma nunjukin status local vs foreign dan broker yang digunakannya. ini menjadi justifikasi oleh influencers, "saham ini bukan gorengan untuk memanipulasi kalian kok, tuh buktinya asing aja masuk."

masalah kedua, ritel lumayan kurang akses pengetahuan tentang ini, beda sama orang yang punya rti business berbayar, atau punya teman yang punya akses ke bloomberg terminal, dll. awal-awal saya jadi ritel unyu juga saya pernah nebeng dikasih stockpick sama teman saya yang punya akses bloomberg terminal untuk DYOR, dan Alhamdulillah jadi beberapa best investment saya so far seperti $TOTO

kalau yang gratis yang bisa diakses ritel kere hore, saya pakai simply wall st, tapi itu pun jarang saya pake karena untuk tracking porto saya udah punya google sheet sendiri, dan untuk analisis saya nggak menentukan keputusan investasi saya berdasarkan net inflow asing. saya cuma hobi aja mencari hiburan dari fenomena cara-cara influencers menggiring sentimen ritel dari mulai yang paling eksplisit sampai yang paling implisit

$IPCC $IPCM

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

nunggu terima Deviden $IPCM

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$IPCM $SIMP $TOTO Mau tanya donk skema insentif pajak untuk dividend tuh bagaimana ya maksudnya? setau gw setiap terima dividend lalu direinvestasikan kembali selama 3 tahun, setelah masuk tahun ke-4 dan seterusnya untuk pake dividendnya apakah tetap kena pajak 10% atau gk? dan ada gak saran video cara melaporkan di coretax ketika terima dividend yang direinvestikasikan kembali mungkin akun IG atau akun sosmed dengan penjelasan yang mudah dipahami. Thxxx

Read more...

$IPCM Belajar beli saham hari ini, beli IPCM atau PT. Jasa Armada Indonesia Tbk adalah perusahaan yang bergerak di bidang layanan pemanduan dan penundaan kapal, dengan nama dagang IPC Marine Service.

Belilah segala sesuatu sesuai preferensi kamu, dan D.Y.O.R (Do Your Own Research)

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$IPCM BUMN rasa Swasta 😸

$IPCM - Belajar Parkir Kapal #1 : Apakah Bisnisnya Stagnan?

Di saat stockbitor lain sibuk membahas kapal-kapal oil related yg sudah terasa hot stock, saya malah lebih tertarik memperhatikan kapal “tukang parkir” yg tidak atau belum kemana-mana, selalu dekat pelabuhan.

Jadi, pd seri kali ini sy tidak akan membahas tanker raksasa bermuatan minyak lintas benua seperti $BULL, bukan kapal kontainer seperti $SMDR atau kapal komoditas dgn story siklus tarif yg naik turun. Melainkan, kapal kecil yg tugasnya sederhana, hanya mengantar dan membantu kapal lain parkir dgn selamat.

Apapun isi kapalnya, batubara, nikel, LNG, semen, bahkan kosong sekalipun, tetap harus dibantu masuk dan keluar pelabuhan. Dari situ ketertarikan sy ke IPCM bermula.

Awal 2022 ketika sy mulai mempelajarinya, kesan pertama yg muncul justru bukan kagum, tapi ragu. Bisnis jasa pandu dan tunda terdengar membosankan. Tidak ada cerita ekspansi dramatis, tidak ada lonjakan volume karena harga komoditas, dan hampir tidak pernah masuk headline. 😅

Kalau dilihat sekilas, wilayah operasinya pun tampak “itu-itu saja”, mayoritas berada di area Pelindo. Dari sini muncul pertanyaan paling mendasar.

Apakah ini bisnis yg stagnan?

Untuk menjawabnya, sy mencoba mundur ke periode paling tidak ramah bagi industri pelabuhan, yakni tahun 2020 saat pandemi. Saat itu mobilitas global terhenti, arus barang melambat, dan banyak bisnis logistik terpukul keras.

Namun berdasarkan data kinerja yg dipaparkan IPCM dalam public expose 2025 (lihat lampiran gambar), pendapatan perusahaan di tahun 2020 masih berada di kisaran Rp697 miliar dgn laba bersih sekitar Rp80 miliar. Ini jelas bukan angka puncak, tapi yg menarik, bisnis ini tetap mencetak laba ketika banyak sektor lain terseok.

Dari sini saya mulai menangkap satu karakter penting. Jasa pandu dan tunda bukan bisnis yg hilang saat krisis, melainkan bisnis yg melambat tapi tetap berjalan. Selama pelabuhan tidak tutup total, kapal tetap datang dan pergi, dan jasa ini tetap dipakai.

Masuk ke 2021 dan 2022, saat aktivitas ekonomi mulai pulih, pola yg terlihat bukan lonjakan tiba-tiba, melainkan kenaikan bertahap. Pendapatan naik ke sekitar Rp820 miliar di 2021 lalu mendekati Rp980 miliar di 2022. Laba bersih ikut meningkat menjadi Rp137 miliar dan sekitar Rp151 miliar di periode yg sama.

Secara sederhana, dalam dua tahun pasca pandemi, pendapatan IPCM tumbuh sekitar 40% sementara laba bersihnya hampir dua kali lipat. Data ini seluruhnya bersumber dari paparan manajemen dalam rangkaian public expose dan laporan kinerja perseroan.

Yang menarik, pertumbuhan ini terjadi tanpa perubahan model bisnis. Tidak ada akuisisi besar, tidak ada diversifikasi ke bisnis baru, dan tidak ada cerita tarif melonjak drastis. Kurvanya tenang, menanjak, dan konsisten.

Di titik ini, kata stagnan mulai terasa kurang tepat. Yang lebih mendekati justru bisnis dgn karakter repeat order. Kapal datang, kapal pergi, jasa dipakai. Tidak peduli apakah ekonomi sedang bagus atau sedang menahan napas.

Hal ini juga berkali-kali ditegaskan manajemen dalam sesi tanya jawab pubex, bahwa selama pelabuhan beroperasi, jasa pandu dan tunda akan tetap dibutuhkan. Itu bukan asumsi, tapi realita operasional.

Menariknya lagi, jika melihat data segmen pendapatan, khususnya layanan pilotage dan towage di wilayah Pelindo, pertumbuhannya memang relatif tipis dari tahun ke tahun. Contohnya pada perbandingan Q2 2024 dan Q2 2025, layanan pilotage Pelindo hanya tumbuh di kisaran nol koma sekian persen, sebagaimana dipaparkan dalam pubex 2025.

Sekilas, data ini bisa memperkuat anggapan stagnan. Tapi jika dilihat dgn sudut pandang berbeda, justru di sinilah terlihat fondasi bisnisnya. Area Pelindo adalah pasar yg sudah matang. Tidak tumbuh cepat, tapi jg tidak mudah turun. Volume stabil, utilisasi terjaga, dan jasa tetap dipakai.

Di fase ini saya mulai melihat IPCM bukan sebagai perusahaan yg “tidak tumbuh”, melainkan perusahaan yg sejak awal dibangun utk tidak mudah jatuh. Karakter bisnisnya bukan eksplosif, tapi defensif.

Bahkan di tahun pandemi, arus kas dan laba tetap terjaga. Ini bukan keunggulan yg sering digembar-gemborkan market, tapi sering diam-diam diakumulasi oleh investor yg mencari bisnis dgn daya tahan jangka panjang.

Jadi, apakah bisnis IPCM stagnan? Jika stagnan diartikan sebagai tidak punya cerita spektakuler, mungkin iya. Tapi jika stagnan diartikan sebagai tidak bergerak dan tidak berkembang, data justru berkata sebaliknya.

IPCM bergerak pelan, konsisten, dan nyaris tanpa drama. Dan justru dari sini, rasa penasaran saya makin besar. Kalau bisnisnya tidak runtuh saat krisis dan tetap tumbuh saat normal, maka pertanyaan berikutnya menjadi relevan.

Bisakah bisnis seperti ini terus bertumbuh?

Pertanyaan itu akan saya coba jawab di bagian berikutnya.

Disclaimer: Catatan ini adalah refleksi penulis berdasarkan data publik, laporan keuangan, dan observasi lapangan. Bukan ajakan membeli atau menjual saham tertentu. Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab masing-masing. Do your own research.

Read more...

1/2

testes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$IPCM slow aja bossskuuhh, mampunya cuma selot selot 🤣

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$IPCM ternyata dapat dividen 70.000, kira kira perlu dilaporkan dan bayar ppn 10% ga ya?

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$IPCM Disaat banyak media yang memberitakan banyak BUMN yang bermasalah, setidaknya emiten satu ini dan induknya masih sehat untuk dipegang kalau untuk cari dividend, ya meskipun harganya gak ngebut-ngebut banget, yang penting manajemen perusahaan tetap amanah menjalankan tugasnya, harapan gw kedepannya semoga tetap amanah para manajemen dalam menjalakan tugasnya masing-masing dan tidak mengecewakan para investornya *DYOR

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

@Hadyadli fundamental unggul belum tentu blue chip, blue chip belum tentu fundamental unggul

blue chip itu biasanya yang masuk $LQ45 atau IDX30. mereka big cap dan liquid, tapi secara fundamental tetap ada terbit tenggelamnya

sebaliknya, bisa jadi perusahaan fundamentalnya unggul, tapi market cap ga sampe 5T, volume perdagangan relatif sepi, contohnya duo $IPCC dan $IPCM

semua punya tempatnya masing-masing, yang gorengan itu yang nggak memenuhi keduanya. fundamental isinya angin doang, liquid juga enggak, dll.

Read more...

ada yang pake broker ZP (maybank) dan dividen $IPCM $ADRO hari ini belum masuk RDN?

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$IPCM prospek kedepan gimna ya? masih ku pelajari secara menyeluruh

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Dividen $IPCM ama $IPCC bisa buat ngopi 😋☕️
makasih...

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

meskipun cutlos 9rb perak tetep dikasih interim 5x lipat
makasih $IPCM

RT : $TAMU $GMFI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

ko aku blom masuk ya deviden $IPCM

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$IPCM lelet bgt ampas

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADRO
Deviden kok belum masuk yah Stockbit

$IPCM sih uda masuk

Apa ada teman2 yg jg begini?

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$IPCM arigatou dividennyo

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Deviden $IPCM dan $BSSR sdh masuk, jaya selalu 🎉🎉🎉 tinggal menunggu $ADRO dan BBRI

$ADRO
Allhamdullilah.
Matur tengkiyu juga $IPCM
Buat Tambahan muatan, cukup buat 100 Lot sih, dgn harga CL kemarin. Kalo harganya ga langsung terbang tinggi pagi ini.
kalo turun, tambah banyak dapat Lot.

Asal tag:
$PGEO

2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy