


Volume
Avg volume
PT. Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) adalah perusahaan yang bergerak di bidang layanan pemanduan dan penundaan kapal, dengan nama dagang IPC Marine Service. Jasa Armada Indonesia adalah anak perusahaan PT. Pelabuhan Indonesia II (Persero). Perusahaan mulai beroperasi tahun 1960.
@stevewinarto mending lagi jadi kuli bangunan di $TOTL , satpam BMRI, Teknisi $MSTI tukang parkir kapal $IPCM atau tukang gali di ADRO HEXA š¤£š¤£
oke bisa pantau saham itu yaa BISI pilih 1/2 emiten aja dan research dulu cari aja Mengenai kerja sama maritim Indonesia & Inggris
oke yang mau informasi selanjutnya
jangan lupa Follow ā
Disclaimer on
$PJHB $IPCM $HUMI

$IPCM - Belajar Parkir Kapal #3 : Bagaimana Kalau Kehilangan Mandat?
Bagian:
#1 - https://stockbit.com/post/26730141
#2 - https://stockbit.com/post/26785224
Di dua bagian sebelumnya, sy sampai pd simpulan sementara bahwa IPCM bukan bisnis yg runtuh saat krisis, dan pertumbuhannya tidak datang dr lonjakan tarif semata, melainkan dr perluasan wilayah dan efisiensi operasional.
Namun di sana justru muncul satu pertanyaan yg menurut sy penting bagi investor jangka panjang, yaitu soal fondasi bisnisnya:
Bagaimana kalau suatu hari IPCM kehilangan mandat?
Pertanyaan ini mungkin terdengar berlebihan bagi sebagian investor ritel. Tapi sy merasa justru karena bisnis IPCM terlihat stabil dan tenang, risiko seperti ini sering kali tidak dibahas dengan serius.
Untuk menjawabnya, sepertinya kita perlu mempelajari dasar hukumnya. Nah, ternyata secara hukum, jasa pemanduan dan penundaan kapal di Indonesia memang bersifat mandatory, bukan jasa komersial bebas. Dasarnya berlapis, bukan satu aturan saja, tetapi fondasi utamanya ada di:
1. UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran
UU ini menetapkan bahwa keselamatan dan keamanan pelayaran adalah tanggung jawab negara, dan pelayanan pemanduan serta penundaan merupakan bagian dr sistem keselamatan pelayaran di pelabuhan.
2. Peraturan Menteri Perhubungan No. 57 Tahun 2015 tentang Pemanduan dan Penundaan Kapal
Ini aturan teknis yg sangat penting. Di sini dijelaskan penetapan wilayah wajib pandu serta kriteria kapal yg wajib menggunakan jasa pandu dan tunda, yaitu kapal berukuran tonase kotor paling rendah GT 500 (lima ratus Gross Tonnage).
Kemudian dijelaskan jg bahwa jasa ini hanya dapat diselenggarakan oleh BUP (Badan Usaha Pelabuhan)
atau badan usaha yg ditugaskan/bekerja sama dengan penyelenggara pelabuhan. Artinya, ini bukan pasar bebas. Tidak semua operator bisa masuk begitu saja.
Lalu, posisi IPCM sendiri kalau secara spesifik adalah:
- Anak usaha Pelindo
- Berstatus Badan Usaha Pelabuhan (BUP)
- Mendapat wilayah operasi di pelabuhan yg dikelola Pelindo (khususnya Regional 2)
- Sekaligus dapat mengelola jasa pandu-tunda di TUKS dan Tersus melalui kerja sama dan penugasan sesuai regulasi.
Ini menjelaskan kenapa di wilayah Pelindo, IPCM praktis menjadi default operator dan di luar Pelindo, IPCM tetap bisa masuk selama memenuhi syarat teknis dan keselamatan. Jadi, mandat IPCM bukan hak istimewa yg tanpa dasar, tapi hasil dr status BUP + penugasan + kepatuhan regulasi keselamatan.
Lalu, apakah mandat ini bisa hilang?
Kalau melihat kerangka regulasi td, jasa pandu dan tunda bukan sekadar pilihan bisnis. Ia adalah bagian dr sistem keselamatan pelayaran. Dalam beberapa sesi tanya jawab, manajemen IPCM jg menegaskan bahwa kapal dengan ukuran dan karakteristik tertentu diwajibkan menggunakan jasa pandu dan tunda sesuai ketentuan nasional dan internasional.
Artinya, kebutuhan atas jasa ini memang melekat pd fungsi keselamatan. Selama pelabuhan beroperasi dan regulasi keselamatan tetap berlaku, jasa ini akan selalu dibutuhkan.
Namun, perlu dipikirkan jg bahwa kebutuhan terhadap jasa tidak otomatis berarti mandat selalu jatuh ke IPCM, kan?
Secara teori, Pelindo bisa saja menunjuk operator lain, membuka kompetisi di wilayah tertentu, atau mengubah skema kerja sama. Risiko seperti ini bukan tidak mungkin, namun sejauh ini sy belum melihat arahnya akan ke sana.
Saat ini pemerintah malah mendorong penyederhanaan struktur BUMN agar lebih efisien dan fokus. Melalui Danantara, pemerintah ingin memangkas jumlah BUMN secara signifikan melalui konsolidasi, penggabungan, atau penutupan unit usaha yang dinilai tidak produktif.
Arah kebijakan ini jg diperkuat dengan revisi Undang-Undang BUMN yg memberi ruang restrukturisasi lebih cepat terhadap perusahaan milik negara.
Rangkaian kebijakan tersebut menunjukkan bahwa negara tidak segan melakukan perampingan bila suatu entitas dianggap tidak efektif atau tidak sejalan dengan tujuan strategis nasional.
Dalam skenario seperti ini, restrukturisasi bukan hanya berarti penutupan, tapi jg bisa berupa pengalihan fungsi, peleburan unit sejenis, atau pelimpahan tugas operasional ke entitas yg dinilai lebih fokus dan kompeten di bisnis intinya.
Dalam konteks IPCM, arah kebijakan ini justru lebih terlihat sebagai peluang ketimbang ancaman. Dari paparan manajemen yg tersedia secara umum, IPCM sudah beberapa kali menerima pelimpahan tugas operasional di luar wilayah awalnya, termasuk pelayanan pandu dan tunda di terminal lain di bawah Pelindo Group maupun di luar Pelindo.
Ini menunjukkan bahwa dalam proses konsolidasi, negara dan induk usaha cenderung mempercayakan fungsi keselamatan pelayaran kepada operator yg sudah terbukti memenuhi standar teknis, keselamatan, dan operasional.
Perlu diingat jg bahwa jasa parkir kapal ini merupakan bisnis dengan entry barrier yg tidak ringan. Bukan hanya karena kebutuhan modal untuk kapal yg mahal, tapi jg karena persyaratan SDM dan kelayakan operasionalnya sangat ketat.
Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan No. 57 Tahun 2015 tentang Pemanduan dan Penundaan Kapal, pelaksanaan pemanduan wajib dilakukan oleh pandu bersertifikat yg harus melalui pendidikan, pelatihan, familiarisasi wilayah, serta memperoleh penugasan resmi dari otoritas pengawas.
Pandu jg diwajibkan memiliki sertifikat profesi, endorsement yg masih berlaku, kartu identitas pandu, buku saku pemanduan, serta menjalani pemeriksaan kesehatan berkala. Proses ini tidak bisa instan dan memerlukan waktu bertahun-tahun hingga seorang pandu dinyatakan layak bertugas.
Di luar SDM, armada kapal pendukungnya sendiri jg harus memenuhi standar teknis, keselamatan, dan laik laut sesuai ketentuan regulator. Kombinasi modal besar, waktu panjang, dan regulasi ketat inilah yg membuat tidak banyak pemain baru bisa masuk dan langsung beroperasi di bisnis ini.
Menariknya, IPCM sendiri tidak pernah mengklaim kebal terhadap risiko. Manajemen justru menekankan pentingnya menjaga kualitas layanan, efisiensi armada, dan kepatuhan terhadap standar keselamatan. Bagi sy, ini menunjukkan bahwa kepercayaan bukan sesuatu yg dianggap permanen, tapi ya harus terus dijaga lewat kinerja.
Di sisi lain, ekspansi ke luar Pelindo bisa dibaca sebagai upaya mengurangi ketergantungan tersebut. Dengan masuk ke TUKS dan Tersus, IPCM membangun sumber pendapatan yg tidak sepenuhnya bergantung pd satu entitas. Sekarang sudah 40% kontribusi non Pelindo dan dapat terus meningkat.
Sejak 2022, sy sendiri memperhatikan perubahan ini tidak terasa seperti ekspansi besar-besaran. Tidak populer jg. Entah mungkin karena penambahan wilayah kerjanya berjalan secara bertahap. Dan sekali lg, IPCM tidak mengubah bisnisnya, tetap sebagai "kang parkir" hanya wilayah kekuasaannya yg meluas. Selama kapal masuk dan keluar terminal, jasa ini tetap dibutuhkan.
Jadi, risiko kehilangan mandat tetap ada. Namun sejauh ini, tidak ada indikasi bahwa mandat tersebut rapuh atau akan dicabut tanpa perubahan besar di level kebijakan atau struktur industri.
Bahkan dalam skenario restrukturisasi BUMN sekalipun, IPCM lebih berpeluang menerima tambahan peran daripada kehilangan fungsi intinya, selama ia tetap menjalankan mandat keselamatan dengan baik.
Dengan begitu, kalau di bagian pertama sy sudah membahas bahwa IPCM terbukti tetap menghasilkan laba saat pandemi. Lalu, di bagian kedua terjelaskan jg bahwa pertumbuhan datang dr ekspansi wilayah dan efisiensi armada. Serta, di bagian ketiga ini, risiko utamanya bersifat struktural dan belum terlihat akan berdampak negatif.
Kemudian, dari sini mungkin ada yg bertanya-tanya, oleh karena bisnisnya yg demikian, apakah IPCM layak dimasukkan sebagai legacy stock?
Saya pribadi cenderung menjawab iya.
Penjelasannya begini, legacy sendiri bukan berarti perusahaannya besar atau terkenal, tapi bisnis perusahaan tersebut dibangun, bertumbuh, dan tetap relevan dlm waktu lama, menghasilkan arus kas stabil, serta tidak bergantung pd tren sesaat.
IPCM memenuhi banyak ciri itu.
Namun, bisnis yg baik saja belum tentu akan memberikan return investasi yg baik pula kalau dibeli pd harga yg mahal. Oleh karena itu, kalau sy ingin memasukkan IPCM dlm portofolio, sy perlu menilai dulu berapa harga wajarnya, dan berapa potensi keuntungan yg bisa diperoleh.
Khusus untuk kasus IPCM yg menurut keyakinan sy bisa dikategorikan sebagai legacy stock, maka pendekatan Dividen Discounted Model (DDM) cukup relevan untuk menilai harga wajarnya. Detail metode ini bisa teman-teman @stockbit baca jg pd postingan ini: $SMSM - https://stockbit.com/post/18763084.
Jika kita lihat data, dividen IPCM di tahun 2024 sebesar Rp23,72 per saham dengan CAGR dividen dr tahun 2017 sampai 2024 adalah 19,67% per tahun. Cukup tinggi, jd agar konservatif sy pakai seperempatnya saja, yaitu 4,9%. Kemudian, jika sy meminta return 10%, maka nilai wajar IPCM berdasarkan pendekatan DDM berada di kisaran Rp488 per saham.
Dengan harga penutupan Rp342 per 21 Januari 2026, saham ini diperdagangkan di bawah nilai wajar konservatif tersebut. Masih ada margin of safety (MOS) sekitar 30%. Apakah ini menarik bagi sy?
Entahlah š
Tetapi, bagi sy pribadi, IPCM ini layak dikategorikan sebagai legacy stock yg menawarkan bisnis stabil, moat kuat, fokus pd circle of competence-nya, serta memberi MOS yg cukup.
Terakhir, sebagai penutup, sy sampaikan seri ini bukan bermaksud untuk mengajak pembaca untuk membeli atau menjual saham IPCM atau saham apapun, melainkan untuk berbagi pemahaman yg lebih jernih, bahwa IPCM adalah bisnis yg mungkin tidak banyak dibicarakan, tapi terus bekerja menjalankan perannya.
Selama kapal masih harus masuk dan keluar pelabuhan dgn aman, jasa seperti ini akan tetap dibutuhkan. Dan mungkin, di situlah letak nilai IPCM sebagai legacy stock. Tidak populer, tapi terus relevan.
Disclaimer: Catatan ini adalah refleksi penulis terkait kerabat $SMGR di Danantara berdasarkan data publik, laporan keuangan, dan observasi lapangan. Bukan ajakan membeli atau menjual saham tertentu. Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab masing-masing. Do your own research.
1/7







$IPCM - Belajar Parkir Kapal #2 : Bisakah Bisnisnya Terus Bertumbuh?
Kalau di bagian pertama sy sampai pd kesimpulan bahwa IPCM bukan bisnis yg runtuh saat krisis, maka di bagian ini pertanyaannya bergeser. Bukan lagi soal bertahan, tapi soal ruang bertumbuh.
Bagian #1 : https://stockbit.com/post/26730141
Karena jujur saja, kalau hanya mengandalkan area Pelindo yg itu-itu saja, sulit membayangkan pertumbuhan yg berarti. Data segmen Pelindo sendiri sudah menunjukkan tanda pasar yg mature.
Seperti perbandingan Q2 2024 dan Q2 2025, pertumbuhan layanan pilotage dan towage di wilayah Pelindo tercatat sangat tipis, bahkan mendekati flat secara tahunan. Volume stabil, utilisasi terjaga, tapi ruang akselerasi memang terbatas.
Namun justru dr rangkaian public expose dan sesi tanya jawab lintas tahun yg sy pelajari, sy mulai menemukan bahwa IPCM sejak awal menyadari keterbatasan ini. Dan respons mereka bukan mengubah bisnis, melainkan memperluas "wilayah kekuasaannya".
Kalau ditarik ke belakang, sejak pubex 2020 manajemen sudah berulang kali menyebut dua kata yg sama. TUKS dan TERSUS. Terminal Untuk Kepentingan Sendiri dan Terminal Khusus. Saat itu belum terasa dampaknya, lebih seperti rencana di atas kertas.
Terminal-terminal tersebut dibangun dan dioperasikan oleh badan usaha atau entitas tertentu untuk menunjang kegiatan usahanya sendiri, bukan untuk melayani kepentingan umum.
Lazimnya dimiliki oleh perusahaan industri besar seperti pertambangan, perkebunan, atau manufaktur yang memerlukan jalur distribusi langsung untuk ekspor-impor barangnya.
Kemudian, kalau kita lompat ke data terbaru di pubex 2025, ceritanya mulai berbeda. Komposisi pendapatan IPCM kini sudah sekitar 40% dr luar Pelindo Group sementara sisanya 60% masih dr Pelindo Group, dan angka ini disebutkan secara eksplisit oleh manajemen sebagai tren yg akan terus ditingkatkan.
Ini penting, karena artinya sumber pertumbuhan IPCM bukan berasal dr pelabuhan umum yg sudah mapan, melainkan dr terminal-terminal khusus yg jumlahnya jauh lebih banyak dan tersebar di seluruh Indonesia.
Dalam pubex 2025 jg dijelaskan bahwa peningkatan signifikan pendapatan non Pelindo terutama datang dr wilayah Halmahera Utara, seiring bertambahnya terminal-terminal baru yg melayani industri tambang, khususnya nikel.
Sehingga bisa disimpulkan bahwa pertumbuhannya ini bukan bersumber dr satu proyek besar, melainkan akumulasi dr banyak terminal baru yg masing-masing membutuhkan jasa pandu dan tunda.
Kalau dicermati, pola pertumbuhannya sangat khas. Tidak ada satu kontrak raksasa yg mengubah skala bisnis secara instan. Yang ada adalah penambahan wilayah operasi sedikit demi sedikit, lalu dikunci dengan mandat keselamatan pelayaran yg sifatnya wajib.
Manajemen jg menegaskan bahwa jasa pandu dan tunda untuk kapal-kapal dengan ukuran dan bobot tertentu bersifat mandatory sesuai ketentuan International Maritime Organization (IMO). Artinya, selama terminal itu beroperasi dan kapal masuk, jasa ini bukan opsional, tapi keharusan.
Sudah terasa mirip "kang parkir" minimarket? š
Kemudian, sumber pertumbuhan berikutnya yg sy temukan datang dr sisi armada. Dari paparan capex lintas tahun, terlihat pola yg konsisten namun tidak agresif.
Tahun 2021, IPCM menganggarkan capex sekitar Rp95 miliar utk penambahan 1 kapal tunda dan 3 motor pandu. Tahun 2022, estimasi capex naik ke kisaran Rp140 miliar. Lalu di 2024 dan 2025, capex kembali berada di rentang Rp150-158 miliar utk pengadaan kapal tunda baru, repowering mesin, serta modifikasi sistem water jet.
Jika dibandingkan dengan data pubex 2018, jumlah armada IPCM memang bertambah, tapi yg lebih menarik bukan hanya kuantitasnya. Dalam beberapa pemaparan terakhir, manajemen mulai menekankan transformasi armada yg lebih hemat BBM dan lebih efisien secara operasional.
Bagi sy, ini bukan sekadar narasi ESG semata, melainkan berkaitan langsung dgn struktur biaya jangka panjang, terutama ketika ada tekanan harga BBM. Salah satu contoh konkret yg sy temukan dr paparan manajemen dalam sesi wawancara adalah pemasangan solar panel di beberapa armada.
Ini mungkin terdengar sepele, tapi masuk akal secara operasional. Dalam praktiknya, kapal tunda dan pandu tidak selalu bergerak. Ada fase idle ketika armada menunggu tugas berikutnya, dan pd fase ini mesin tidak bisa begitu saja dimatikan karena kebutuhan sistem kapal.
Artinya, BBM tetap terbakar meskipun kapal tidak berpindah. Dengan pemasangan solar panel, ketika kapal idle pun tetap bisa mengisi daya, sehingga konsumsi BBM dapat ditekan secara perlahan namun konsisten. Bagi sy, ini bukan inovasi yg spektakuler, tapi contoh efisiensi yg justru relevan utk bisnis seperti IPCM.
Kalau kita hitung sederhana dr data pubex 2025, terlihat bahwa efisiensi operasional IPCM bukan sekadar wacana. Tahun 2020, saat pendapatan Rp696,56 miliar dan laba bersih Rp80,23 miliar, net margin berada di kisaran 11,5%.
Lima tahun kemudian, di 2024, pendapatan naik ke Rp1.345,03 miliar dengan laba bersih Rp166,84 miliar, sehingga net margin bertahan di kisaran 12,4%. Margin ini tidak melonjak agresif, tp justru stabil dan sedikit membaik di tengah skala bisnis yg hampir dua kali lipat.
Bagi sy, di sinilah efek efisiensi mulai terasa. Di bisnis jasa berbasis armada, di mana BBM, perawatan, dan docking adalah biaya utama, menjaga margin tetap utuh saat pendapatan tumbuh belasan persen per tahun sudah merupakan pencapaian tersendiri.
Artinya, tambahan revenue yg masuk tidak habis dimakan biaya, melainkan masih menyisakan ruang laba yg konsisten, dan inilah yg membuat upaya-upaya efisiensi seperti modernisasi armada, repowering mesin, hingga pemasangan solar panel tadi terasa relevan secara finansial, bukan sekadar "asal ada ESG".
Di sini sy mulai melihat bahwa pertumbuhan IPCM bukan datang dr ekspansi agresif, tapi dr efisiensi operasional berkat ekspansi wilayah + kepastian demand. Selama Indonesia terus membangun smelter, terminal tambang, dan infrastruktur logistik, maka peta operasi IPCM jg ikut melebar.
Dalam pubex 2023 dan 2024, manajemen jg menyebut adanya ribuan Tersus dan TUKS di Indonesia yg secara teori bisa menjadi pasar. Tentu tidak semuanya akan dikelola IPCM, tapi bahkan penetrasi kecil saja sudah cukup memberi tambahan volume yg stabil.
Jadi, bisakah bisnis ini terus bertumbuh?
Dari data yg sy kumpulkan sejauh ini, jawabannya bukan ya atau tidak secara hitam putih. IPCM ini ternyata bukan bisnis yg tumbuh cepat, tapi ia tumbuh dengan cara memperluas lingkaran kewajibannya.
Bukan mengandalkan lonjakan tarif, bukan mengejar volume spekulatif, tapi dengan masuk ke wilayah baru di mana jasanya diwajibkan oleh regulasi dan keselamatan.
Kompetensimya tetap sama, sebagai "kang parkir", tapi wilayah "kekuasaannya" bertambah. Seperti tiap ada $AMRT baru, atau mungkin ketika ada rumah makan atau objek wisata lokal baru yg banyak pengunjungnya, maka di sana "wajib" ada kang akang jg. Tentu itu demi keamanan dan ketertiban bersama. š
Lalu kemudian, muncul pertanyaan yg lebih sensitif dan mungkin jarang dibahas investor ritel, yaitu jika sebagian besar kepastian permintaan datang dr mandat dan struktur regulasi, lalu apa yg terjadi jika fondasi itu berubah?
Bagaimana kalau suatu hari IPCM kehilangan mandat?
Nah, pertanyaan itulah yg akan sy coba bongkar di bagian terakhir.
Disclaimer: Catatan ini adalah refleksi penulis terkait kerabat $IPCC berdasarkan data publik, laporan keuangan, dan observasi lapangan. Bukan ajakan membeli atau menjual saham tertentu. Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab masing-masing. Do your own research.
1/5





kenapa komposisi ini penting?
karena banyak yang menyangka kalau ada net inflow asing yang terbayang adalah vanguard, blackrock, fidelity hedge fund manager, quant, dsb.
padahal secara jumlah (bukan secara besar modal), net inflow asing itu large majority dari individual indonesia yang menggunakan offshore shell company, yang secara kepentingan sama sekali berbeda sama investment banks, dan sejawatnya
masalahnya stockbit itu cuma nunjukin status local vs foreign dan broker yang digunakannya. ini menjadi justifikasi oleh influencers, "saham ini bukan gorengan untuk memanipulasi kalian kok, tuh buktinya asing aja masuk."
masalah kedua, ritel lumayan kurang akses pengetahuan tentang ini, beda sama orang yang punya rti business berbayar, atau punya teman yang punya akses ke bloomberg terminal, dll. awal-awal saya jadi ritel unyu juga saya pernah nebeng dikasih stockpick sama teman saya yang punya akses bloomberg terminal untuk DYOR, dan Alhamdulillah jadi beberapa best investment saya so far seperti $TOTO
kalau yang gratis yang bisa diakses ritel kere hore, saya pakai simply wall st, tapi itu pun jarang saya pake karena untuk tracking porto saya udah punya google sheet sendiri, dan untuk analisis saya nggak menentukan keputusan investasi saya berdasarkan net inflow asing. saya cuma hobi aja mencari hiburan dari fenomena cara-cara influencers menggiring sentimen ritel dari mulai yang paling eksplisit sampai yang paling implisit
$IPCC $IPCM

$IPCM $SIMP $TOTO Mau tanya donk skema insentif pajak untuk dividend tuh bagaimana ya maksudnya? setau gw setiap terima dividend lalu direinvestasikan kembali selama 3 tahun, setelah masuk tahun ke-4 dan seterusnya untuk pake dividendnya apakah tetap kena pajak 10% atau gk? dan ada gak saran video cara melaporkan di coretax ketika terima dividend yang direinvestikasikan kembali mungkin akun IG atau akun sosmed dengan penjelasan yang mudah dipahami. Thxxx
$IPCM Belajar beli saham hari ini, beli IPCM atau PT. Jasa Armada Indonesia Tbk adalah perusahaan yang bergerak di bidang layanan pemanduan dan penundaan kapal, dengan nama dagang IPC Marine Service.
Belilah segala sesuatu sesuai preferensi kamu, dan D.Y.O.R (Do Your Own Research)

$IPCM - Belajar Parkir Kapal #1 : Apakah Bisnisnya Stagnan?
Di saat stockbitor lain sibuk membahas kapal-kapal oil related yg sudah terasa hot stock, saya malah lebih tertarik memperhatikan kapal ātukang parkirā yg tidak atau belum kemana-mana, selalu dekat pelabuhan.
Jadi, pd seri kali ini sy tidak akan membahas tanker raksasa bermuatan minyak lintas benua seperti $BULL, bukan kapal kontainer seperti $SMDR atau kapal komoditas dgn story siklus tarif yg naik turun. Melainkan, kapal kecil yg tugasnya sederhana, hanya mengantar dan membantu kapal lain parkir dgn selamat.
Apapun isi kapalnya, batubara, nikel, LNG, semen, bahkan kosong sekalipun, tetap harus dibantu masuk dan keluar pelabuhan. Dari situ ketertarikan sy ke IPCM bermula.
Awal 2022 ketika sy mulai mempelajarinya, kesan pertama yg muncul justru bukan kagum, tapi ragu. Bisnis jasa pandu dan tunda terdengar membosankan. Tidak ada cerita ekspansi dramatis, tidak ada lonjakan volume karena harga komoditas, dan hampir tidak pernah masuk headline. š
Kalau dilihat sekilas, wilayah operasinya pun tampak āitu-itu sajaā, mayoritas berada di area Pelindo. Dari sini muncul pertanyaan paling mendasar.
Apakah ini bisnis yg stagnan?
Untuk menjawabnya, sy mencoba mundur ke periode paling tidak ramah bagi industri pelabuhan, yakni tahun 2020 saat pandemi. Saat itu mobilitas global terhenti, arus barang melambat, dan banyak bisnis logistik terpukul keras.
Namun berdasarkan data kinerja yg dipaparkan IPCM dalam public expose 2025 (lihat lampiran gambar), pendapatan perusahaan di tahun 2020 masih berada di kisaran Rp697 miliar dgn laba bersih sekitar Rp80 miliar. Ini jelas bukan angka puncak, tapi yg menarik, bisnis ini tetap mencetak laba ketika banyak sektor lain terseok.
Dari sini saya mulai menangkap satu karakter penting. Jasa pandu dan tunda bukan bisnis yg hilang saat krisis, melainkan bisnis yg melambat tapi tetap berjalan. Selama pelabuhan tidak tutup total, kapal tetap datang dan pergi, dan jasa ini tetap dipakai.
Masuk ke 2021 dan 2022, saat aktivitas ekonomi mulai pulih, pola yg terlihat bukan lonjakan tiba-tiba, melainkan kenaikan bertahap. Pendapatan naik ke sekitar Rp820 miliar di 2021 lalu mendekati Rp980 miliar di 2022. Laba bersih ikut meningkat menjadi Rp137 miliar dan sekitar Rp151 miliar di periode yg sama.
Secara sederhana, dalam dua tahun pasca pandemi, pendapatan IPCM tumbuh sekitar 40% sementara laba bersihnya hampir dua kali lipat. Data ini seluruhnya bersumber dari paparan manajemen dalam rangkaian public expose dan laporan kinerja perseroan.
Yang menarik, pertumbuhan ini terjadi tanpa perubahan model bisnis. Tidak ada akuisisi besar, tidak ada diversifikasi ke bisnis baru, dan tidak ada cerita tarif melonjak drastis. Kurvanya tenang, menanjak, dan konsisten.
Di titik ini, kata stagnan mulai terasa kurang tepat. Yang lebih mendekati justru bisnis dgn karakter repeat order. Kapal datang, kapal pergi, jasa dipakai. Tidak peduli apakah ekonomi sedang bagus atau sedang menahan napas.
Hal ini juga berkali-kali ditegaskan manajemen dalam sesi tanya jawab pubex, bahwa selama pelabuhan beroperasi, jasa pandu dan tunda akan tetap dibutuhkan. Itu bukan asumsi, tapi realita operasional.
Menariknya lagi, jika melihat data segmen pendapatan, khususnya layanan pilotage dan towage di wilayah Pelindo, pertumbuhannya memang relatif tipis dari tahun ke tahun. Contohnya pada perbandingan Q2 2024 dan Q2 2025, layanan pilotage Pelindo hanya tumbuh di kisaran nol koma sekian persen, sebagaimana dipaparkan dalam pubex 2025.
Sekilas, data ini bisa memperkuat anggapan stagnan. Tapi jika dilihat dgn sudut pandang berbeda, justru di sinilah terlihat fondasi bisnisnya. Area Pelindo adalah pasar yg sudah matang. Tidak tumbuh cepat, tapi jg tidak mudah turun. Volume stabil, utilisasi terjaga, dan jasa tetap dipakai.
Di fase ini saya mulai melihat IPCM bukan sebagai perusahaan yg ātidak tumbuhā, melainkan perusahaan yg sejak awal dibangun utk tidak mudah jatuh. Karakter bisnisnya bukan eksplosif, tapi defensif.
Bahkan di tahun pandemi, arus kas dan laba tetap terjaga. Ini bukan keunggulan yg sering digembar-gemborkan market, tapi sering diam-diam diakumulasi oleh investor yg mencari bisnis dgn daya tahan jangka panjang.
Jadi, apakah bisnis IPCM stagnan? Jika stagnan diartikan sebagai tidak punya cerita spektakuler, mungkin iya. Tapi jika stagnan diartikan sebagai tidak bergerak dan tidak berkembang, data justru berkata sebaliknya.
IPCM bergerak pelan, konsisten, dan nyaris tanpa drama. Dan justru dari sini, rasa penasaran saya makin besar. Kalau bisnisnya tidak runtuh saat krisis dan tetap tumbuh saat normal, maka pertanyaan berikutnya menjadi relevan.
Bisakah bisnis seperti ini terus bertumbuh?
Pertanyaan itu akan saya coba jawab di bagian berikutnya.
Disclaimer: Catatan ini adalah refleksi penulis berdasarkan data publik, laporan keuangan, dan observasi lapangan. Bukan ajakan membeli atau menjual saham tertentu. Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab masing-masing. Do your own research.
1/2


$IPCM Disaat banyak media yang memberitakan banyak BUMN yang bermasalah, setidaknya emiten satu ini dan induknya masih sehat untuk dipegang kalau untuk cari dividend, ya meskipun harganya gak ngebut-ngebut banget, yang penting manajemen perusahaan tetap amanah menjalankan tugasnya, harapan gw kedepannya semoga tetap amanah para manajemen dalam menjalakan tugasnya masing-masing dan tidak mengecewakan para investornya *DYOR
@Hadyadli fundamental unggul belum tentu blue chip, blue chip belum tentu fundamental unggul
blue chip itu biasanya yang masuk $LQ45 atau IDX30. mereka big cap dan liquid, tapi secara fundamental tetap ada terbit tenggelamnya
sebaliknya, bisa jadi perusahaan fundamentalnya unggul, tapi market cap ga sampe 5T, volume perdagangan relatif sepi, contohnya duo $IPCC dan $IPCM
semua punya tempatnya masing-masing, yang gorengan itu yang nggak memenuhi keduanya. fundamental isinya angin doang, liquid juga enggak, dll.
$ADRO
Allhamdullilah.
Matur tengkiyu juga $IPCM
Buat Tambahan muatan, cukup buat 100 Lot sih, dgn harga CL kemarin. Kalo harganya ga langsung terbang tinggi pagi ini.
kalo turun, tambah banyak dapat Lot.
Asal tag:
$PGEO

Perang Bisnis Pelabuhan: $IPCC vs $IPCM vs $KARW vs PORT
IPCC adalah perusahaan yang secara bisnis sangat erat kaitannya dengan pelabuhan. Jadi kalau mau tahu seberapa bagus perusahaan ini, memang wajib dibandingkan dengan emiten lain yang sama-sama punya aroma pelabuhan. Banyak investor suka kebalik, lihat ceritanya dulu baru cari angkanya, padahal di bisnis pelabuhan justru angka yang paling cepat membocorkan kualitas operasional. Port itu bisnis padat aset, begitu mesin dan lahannya jalan, perbedaan efisiensi langsung kelihatan dari margin, laba, dan Arus Kas Operasi (Cash Flow from Operations, CFO). Dan di Q3 2025, perbandingan IPCC, IPCM, PORT, KARW itu seperti melihat empat cara berbeda mengubah aktivitas pelabuhan menjadi uang nyata. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Request member External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Kalau bicara skala laba 9M 2025, IPCC mencetak laba Rp190,3 miliar, IPCM Rp140,7 miliar, PORT Rp98,1 miliar, sementara KARW masih rugi AS$325.428 walaupun CFO-nya positif. Dari sisi tren, IPCC tumbuh kuat karena laba naik dari Rp148 miliar menjadi Rp190,3 miliar, naik sekitar 28,6%. IPCM juga naik dari Rp121,1 miliar ke Rp140,7 miliar, naik sekitar 16,2%. PORT paling dramatis karena bukan sekadar tumbuh, tapi berbalik dari rugi Rp105,1 miliar menjadi laba Rp98,1 miliar, ini swing kinerja lebih dari Rp200 miliar, sinyal ada perbaikan volume, tarif, efisiensi biaya, atau kombinasi semuanya. KARW itu kebalikannya, secara akuntansi masih berdarah-darah, sehingga investor harus baca ini sebagai cerita turnaround yang belum selesai, bukan mesin laba yang sudah stabil.
Keunikan IPCC paling gampang terlihat dari bentuk bisnisnya. IPCC itu car terminal, fokusnya bongkar muat kendaraan, penumpukan, dan jasa dermaga khusus kendaraan, jadi demand driver-nya lebih dekat ke arus distribusi otomotif dan logistik kendaraan, bukan peti kemas atau jasa kapal tunda. Model seperti ini biasanya punya karakter margin yang tebal ketika utilisasi tinggi karena biaya tetap sudah keburu ditanggung lewat aset dan fasilitas, sementara tambahan volume sering lebih cepat menetes jadi laba. Ini nyambung dengan Net Profit Margin (NPM) IPCC yang sekitar 28,8%, jauh di atas IPCM sekitar 12,9% dan PORT sekitar 10,8%, sedangkan KARW NPM-nya negatif. Kalau investor mau memahami maknanya, NPM itu ukuran seberapa banyak laba bersih yang tersisa dari setiap Rp1 pendapatan setelah semua biaya, termasuk bunga dan pajak, jadi NPM tinggi di bisnis pelabuhan biasanya berarti pricing power bagus, utilisasi aset bagus, dan biaya terkendali. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bandingkan dengan IPCM yang bisnisnya pemanduan dan penundaan kapal, tug services, dan jasa maritim lain, ini lebih service heavy tapi tetap padat aset karena kapal itu mahal. Aset terbesar IPCM adalah aset tetap kapal neto sekitar Rp593,6 miliar, sementara IPCC aset besarnya lebih dominan ke aset hak-guna sekitar Rp475,8 miliar yang mencerminkan lahan atau fasilitas pelabuhan yang dipakai lewat skema sewa atau konsesi. PORT sebagai operator terminal peti kemas lewat entitas anak, aset tetap plus aset hak-guna mencapai sekitar Rp1,52 triliun, paling besar di kelompok ini, wajar karena terminal peti kemas butuh lapangan, crane, dan peralatan berat yang besar. KARW aset tetapnya sekitar AS$7,1 juta, skala asetnya kecil, tapi problemnya bukan cuma skala, melainkan struktur permodalan dan beban yang membuat ekuitasnya defisit besar, sehingga risiko going concern jauh lebih sensitif.
Kalau kita ingin melihat kualitas laba, kunci di bisnis pelabuhan itu bukan cuma laba, tapi laba harus sejalan dengan CFO. IPCC CFO Rp298 miliar, lebih besar dari labanya Rp190,3 miliar, rasio CFO terhadap laba sekitar 1,57 kali. IPCM CFO Rp203 miliar juga lebih besar dari laba Rp140,7 miliar, rasionya sekitar 1,44 kali. PORT CFO Rp216,5 miliar jauh lebih besar dari laba Rp98,1 miliar, rasionya sekitar 2,21 kali. Secara makna, kalau CFO lebih besar dari laba, ini sering terjadi karena ada biaya non-kas besar seperti depresiasi aset tetap dan amortisasi aset hak-guna yang menekan laba tetapi tidak menguras kas, sehingga kas operasional terlihat lebih gemuk daripada laba. Ini biasanya kabar baik untuk bisnis padat aset, karena artinya laba tidak sekadar angka akuntansi, ada kas yang benar-benar masuk. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Skala operasional juga bisa kebaca dari produktivitas karyawan, dan di sini IPCC itu outlier. IPCC hanya punya 79 karyawan tetap tapi menghasilkan laba Rp190,3 miliar, artinya laba per karyawan sekitar Rp2,41 miliar dalam 9 bulan, dan CFO per karyawan sekitar Rp3,77 miliar. IPCM dengan 116 karyawan mencetak laba Rp140,7 miliar, laba per karyawan sekitar Rp1,21 miliar dan CFO per karyawan sekitar Rp1,75 miliar. PORT jauh lebih besar secara organisasi, 681 karyawan, laba Rp98,1 miliar, laba per karyawan sekitar Rp144 juta dan CFO per karyawan sekitar Rp318 juta. KARW secara CFO punya AS$1,37 juta, kira-kira CFO per karyawan sekitar AS$16.310, tetapi rugi per karyawan sekitar AS$3.874, jadi ini belum level bisnis yang mapan. Cara membaca metrik per karyawan itu sederhana, semakin tinggi angka laba atau CFO per orang, semakin tajam produktivitas organisasi, meski investor tetap perlu ingat, jumlah karyawan tetap tidak selalu menangkap tenaga outsourcing dan vendor, jadi ini hanya indikator, bukan vonis final.
Sekarang bagian rasionalitas, apakah angka-angka ini masuk akal dengan jenis bisnisnya. IPCC yang menjadi bagian ekosistem Pelindo lewat kepemilikan PT Pelindo Multi Terminal 71,28% dan IPCM lewat PT Pelindo Jasa Maritim 76,89% biasanya punya karakter pendapatan yang lebih stabil karena berada dalam jaringan pelabuhan dan layanan yang sifatnya esensial. Stabil bukan berarti tanpa risiko, tapi risikonya cenderung berbentuk kebijakan tarif, konsesi, dan ketergantungan pada grup, bukan semata perang harga. PORT itu beda cerita karena pengendali China Merchants 51,00% membuat pendekatannya lebih korporat dan ekspansif, tapi konsekuensinya sering muncul di struktur utang bank dan beban bunga, sehingga margin dan volatilitas laba bisa lebih sensitif. KARW paling ekstrem karena struktur modalnya yang tertekan, sehingga walaupun aktivitas bongkar muat ada dan CFO bisa positif karena depresiasi besar, investor harus menilai apakah arus kas itu cukup untuk membalikkan defisit modal, bukan cuma cukup untuk bertahan hidup. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
IPCC itu unik karena bermain di rel khusus kendaraan yang margin dan produktivitasnya terlihat paling tajam di Q3 2025, IPCM itu mesin jasa kapal yang lebih stabil tapi margin lebih moderat, PORT itu pemain aset besar yang baru menunjukkan sinyal pemulihan lewat turnaround laba, sedangkan KARW itu masih fase bertahan sambil mencoba membuktikan turnaround. Jadi saat investor membandingkan aroma pelabuhan, jangan cuma lihat siapa yang paling besar asetnya, tapi lihat siapa yang paling rapi mengubah aktivitas pelabuhan menjadi laba dan kas, karena di bisnis seperti ini, kas operasional yang konsisten biasanya lebih jujur daripada cerita.
š§© Bisnis
š IPCC car terminal
š¢ IPCM pilotage tug kapal
š¦ PORT terminal petikemas holding
ā KARW stevedoring
š Kontrol
šļø IPCC Pelindo Multi Terminal 71,28%
šļø IPCM Pelindo Jasa Maritim 76,89%
šØš³ PORT CMIP 51%
š§āš¼ KARW SKI 77,03%
š Laba dan CFO Q3 2025
ā
IPCC laba Rp190,3B CFO Rp298B
ā
IPCM laba Rp140,7B CFO Rp203B
ā
PORT laba Rp98,1B CFO Rp216,5B
šØ KARW rugi USD325K CFO USD1,37Jt
ā ļø Utang
š¢ IPCC IPCM dominan sewa
š PORT ada utang bank
š„ KARW defisiensi modal USD32,5Jt utang lain USD43,3Jt
š Rasio ringkas
š IPCC NPM 28,8% ROE 14,2%
š¦ IPCM NPM 12,9% ROE 10,6%
šØ PORT NPM 10,8% ROE 9,2%
ā KARW margin ROE negatif
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/7






