


Volume
Avg volume
PT. Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) adalah perusahaan yang bergerak di bidang layanan pemanduan dan penundaan kapal, dengan nama dagang IPC Marine Service. Jasa Armada Indonesia adalah anak perusahaan PT. Pelabuhan Indonesia II (Persero). Perusahaan mulai beroperasi tahun 1960.
$IPCM Disaat banyak media yang memberitakan banyak BUMN yang bermasalah, setidaknya emiten satu ini dan induknya masih sehat untuk dipegang kalau untuk cari dividend, ya meskipun harganya gak ngebut-ngebut banget, yang penting manajemen perusahaan tetap amanah menjalankan tugasnya, harapan gw kedepannya semoga tetap amanah para manajemen dalam menjalakan tugasnya masing-masing dan tidak mengecewakan para investornya *DYOR
@Hadyadli fundamental unggul belum tentu blue chip, blue chip belum tentu fundamental unggul
blue chip itu biasanya yang masuk $LQ45 atau IDX30. mereka big cap dan liquid, tapi secara fundamental tetap ada terbit tenggelamnya
sebaliknya, bisa jadi perusahaan fundamentalnya unggul, tapi market cap ga sampe 5T, volume perdagangan relatif sepi, contohnya duo $IPCC dan $IPCM
semua punya tempatnya masing-masing, yang gorengan itu yang nggak memenuhi keduanya. fundamental isinya angin doang, liquid juga enggak, dll.
$ADRO
Allhamdullilah.
Matur tengkiyu juga $IPCM
Buat Tambahan muatan, cukup buat 100 Lot sih, dgn harga CL kemarin. Kalo harganya ga langsung terbang tinggi pagi ini.
kalo turun, tambah banyak dapat Lot.
Asal tag:
$PGEO

Perang Bisnis Pelabuhan: $IPCC vs $IPCM vs $KARW vs PORT
IPCC adalah perusahaan yang secara bisnis sangat erat kaitannya dengan pelabuhan. Jadi kalau mau tahu seberapa bagus perusahaan ini, memang wajib dibandingkan dengan emiten lain yang sama-sama punya aroma pelabuhan. Banyak investor suka kebalik, lihat ceritanya dulu baru cari angkanya, padahal di bisnis pelabuhan justru angka yang paling cepat membocorkan kualitas operasional. Port itu bisnis padat aset, begitu mesin dan lahannya jalan, perbedaan efisiensi langsung kelihatan dari margin, laba, dan Arus Kas Operasi (Cash Flow from Operations, CFO). Dan di Q3 2025, perbandingan IPCC, IPCM, PORT, KARW itu seperti melihat empat cara berbeda mengubah aktivitas pelabuhan menjadi uang nyata. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Request member External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Kalau bicara skala laba 9M 2025, IPCC mencetak laba Rp190,3 miliar, IPCM Rp140,7 miliar, PORT Rp98,1 miliar, sementara KARW masih rugi AS$325.428 walaupun CFO-nya positif. Dari sisi tren, IPCC tumbuh kuat karena laba naik dari Rp148 miliar menjadi Rp190,3 miliar, naik sekitar 28,6%. IPCM juga naik dari Rp121,1 miliar ke Rp140,7 miliar, naik sekitar 16,2%. PORT paling dramatis karena bukan sekadar tumbuh, tapi berbalik dari rugi Rp105,1 miliar menjadi laba Rp98,1 miliar, ini swing kinerja lebih dari Rp200 miliar, sinyal ada perbaikan volume, tarif, efisiensi biaya, atau kombinasi semuanya. KARW itu kebalikannya, secara akuntansi masih berdarah-darah, sehingga investor harus baca ini sebagai cerita turnaround yang belum selesai, bukan mesin laba yang sudah stabil.
Keunikan IPCC paling gampang terlihat dari bentuk bisnisnya. IPCC itu car terminal, fokusnya bongkar muat kendaraan, penumpukan, dan jasa dermaga khusus kendaraan, jadi demand driver-nya lebih dekat ke arus distribusi otomotif dan logistik kendaraan, bukan peti kemas atau jasa kapal tunda. Model seperti ini biasanya punya karakter margin yang tebal ketika utilisasi tinggi karena biaya tetap sudah keburu ditanggung lewat aset dan fasilitas, sementara tambahan volume sering lebih cepat menetes jadi laba. Ini nyambung dengan Net Profit Margin (NPM) IPCC yang sekitar 28,8%, jauh di atas IPCM sekitar 12,9% dan PORT sekitar 10,8%, sedangkan KARW NPM-nya negatif. Kalau investor mau memahami maknanya, NPM itu ukuran seberapa banyak laba bersih yang tersisa dari setiap Rp1 pendapatan setelah semua biaya, termasuk bunga dan pajak, jadi NPM tinggi di bisnis pelabuhan biasanya berarti pricing power bagus, utilisasi aset bagus, dan biaya terkendali. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bandingkan dengan IPCM yang bisnisnya pemanduan dan penundaan kapal, tug services, dan jasa maritim lain, ini lebih service heavy tapi tetap padat aset karena kapal itu mahal. Aset terbesar IPCM adalah aset tetap kapal neto sekitar Rp593,6 miliar, sementara IPCC aset besarnya lebih dominan ke aset hak-guna sekitar Rp475,8 miliar yang mencerminkan lahan atau fasilitas pelabuhan yang dipakai lewat skema sewa atau konsesi. PORT sebagai operator terminal peti kemas lewat entitas anak, aset tetap plus aset hak-guna mencapai sekitar Rp1,52 triliun, paling besar di kelompok ini, wajar karena terminal peti kemas butuh lapangan, crane, dan peralatan berat yang besar. KARW aset tetapnya sekitar AS$7,1 juta, skala asetnya kecil, tapi problemnya bukan cuma skala, melainkan struktur permodalan dan beban yang membuat ekuitasnya defisit besar, sehingga risiko going concern jauh lebih sensitif.
Kalau kita ingin melihat kualitas laba, kunci di bisnis pelabuhan itu bukan cuma laba, tapi laba harus sejalan dengan CFO. IPCC CFO Rp298 miliar, lebih besar dari labanya Rp190,3 miliar, rasio CFO terhadap laba sekitar 1,57 kali. IPCM CFO Rp203 miliar juga lebih besar dari laba Rp140,7 miliar, rasionya sekitar 1,44 kali. PORT CFO Rp216,5 miliar jauh lebih besar dari laba Rp98,1 miliar, rasionya sekitar 2,21 kali. Secara makna, kalau CFO lebih besar dari laba, ini sering terjadi karena ada biaya non-kas besar seperti depresiasi aset tetap dan amortisasi aset hak-guna yang menekan laba tetapi tidak menguras kas, sehingga kas operasional terlihat lebih gemuk daripada laba. Ini biasanya kabar baik untuk bisnis padat aset, karena artinya laba tidak sekadar angka akuntansi, ada kas yang benar-benar masuk. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Skala operasional juga bisa kebaca dari produktivitas karyawan, dan di sini IPCC itu outlier. IPCC hanya punya 79 karyawan tetap tapi menghasilkan laba Rp190,3 miliar, artinya laba per karyawan sekitar Rp2,41 miliar dalam 9 bulan, dan CFO per karyawan sekitar Rp3,77 miliar. IPCM dengan 116 karyawan mencetak laba Rp140,7 miliar, laba per karyawan sekitar Rp1,21 miliar dan CFO per karyawan sekitar Rp1,75 miliar. PORT jauh lebih besar secara organisasi, 681 karyawan, laba Rp98,1 miliar, laba per karyawan sekitar Rp144 juta dan CFO per karyawan sekitar Rp318 juta. KARW secara CFO punya AS$1,37 juta, kira-kira CFO per karyawan sekitar AS$16.310, tetapi rugi per karyawan sekitar AS$3.874, jadi ini belum level bisnis yang mapan. Cara membaca metrik per karyawan itu sederhana, semakin tinggi angka laba atau CFO per orang, semakin tajam produktivitas organisasi, meski investor tetap perlu ingat, jumlah karyawan tetap tidak selalu menangkap tenaga outsourcing dan vendor, jadi ini hanya indikator, bukan vonis final.
Sekarang bagian rasionalitas, apakah angka-angka ini masuk akal dengan jenis bisnisnya. IPCC yang menjadi bagian ekosistem Pelindo lewat kepemilikan PT Pelindo Multi Terminal 71,28% dan IPCM lewat PT Pelindo Jasa Maritim 76,89% biasanya punya karakter pendapatan yang lebih stabil karena berada dalam jaringan pelabuhan dan layanan yang sifatnya esensial. Stabil bukan berarti tanpa risiko, tapi risikonya cenderung berbentuk kebijakan tarif, konsesi, dan ketergantungan pada grup, bukan semata perang harga. PORT itu beda cerita karena pengendali China Merchants 51,00% membuat pendekatannya lebih korporat dan ekspansif, tapi konsekuensinya sering muncul di struktur utang bank dan beban bunga, sehingga margin dan volatilitas laba bisa lebih sensitif. KARW paling ekstrem karena struktur modalnya yang tertekan, sehingga walaupun aktivitas bongkar muat ada dan CFO bisa positif karena depresiasi besar, investor harus menilai apakah arus kas itu cukup untuk membalikkan defisit modal, bukan cuma cukup untuk bertahan hidup. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
IPCC itu unik karena bermain di rel khusus kendaraan yang margin dan produktivitasnya terlihat paling tajam di Q3 2025, IPCM itu mesin jasa kapal yang lebih stabil tapi margin lebih moderat, PORT itu pemain aset besar yang baru menunjukkan sinyal pemulihan lewat turnaround laba, sedangkan KARW itu masih fase bertahan sambil mencoba membuktikan turnaround. Jadi saat investor membandingkan aroma pelabuhan, jangan cuma lihat siapa yang paling besar asetnya, tapi lihat siapa yang paling rapi mengubah aktivitas pelabuhan menjadi laba dan kas, karena di bisnis seperti ini, kas operasional yang konsisten biasanya lebih jujur daripada cerita.
🧩 Bisnis
🚗 IPCC car terminal
🚢 IPCM pilotage tug kapal
📦 PORT terminal petikemas holding
⚓ KARW stevedoring
👑 Kontrol
🏛️ IPCC Pelindo Multi Terminal 71,28%
🏛️ IPCM Pelindo Jasa Maritim 76,89%
🇨🇳 PORT CMIP 51%
🧑💼 KARW SKI 77,03%
📈 Laba dan CFO Q3 2025
✅ IPCC laba Rp190,3B CFO Rp298B
✅ IPCM laba Rp140,7B CFO Rp203B
✅ PORT laba Rp98,1B CFO Rp216,5B
🚨 KARW rugi USD325K CFO USD1,37Jt
⚠️ Utang
🟢 IPCC IPCM dominan sewa
🟠 PORT ada utang bank
🔥 KARW defisiensi modal USD32,5Jt utang lain USD43,3Jt
📊 Rasio ringkas
🏆 IPCC NPM 28,8% ROE 14,2%
🟦 IPCM NPM 12,9% ROE 10,6%
🟨 PORT NPM 10,8% ROE 9,2%
❌ KARW margin ROE negatif
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/7







Masih belum cukup nambah di $IPCC, tadi war di 1300 ga kebagian, kebagiannya beberapa lot di 1305. cukup selot-selot aja, dry powder masih banyak, average masih double digit jauh
Sampai kapan capeknya akumulasi?
1. Sampai dry powder habis
2. Sampai average rapet di single digit
Mana yang tercapai lebih dulu
FAQ:
1. Targetnya berapa?
a. Untuk Grahamist, sampai tidak ada margin of safety. Jadi bukan harga statis, karena kalau free cash flow naik, margin of safety juga akan naik, KECUALI kalau harganya naik lebih kencang daripada kenaikan free cash flow-nya
b. Untuk Lynchist, sampai story-nya berubah atau terpatahkan
c. Untuk Fisherist, sampai integritas manajemennya rusak permanen
d. Untuk Berkshirist, sampai moat-nya rusak permanen
2. Insentif EV kan dihapuskan?
Pelindo Multi Terminal TIDAK berbisnis terminal kendaraan hanya karena ajimumpung ada katalis insentif EV. Kalau orang bikin bisnis cuma karena ada satu katalis saja, jadinya kaya orang yang pas musim es kepal milo bikin es kepal milo, pas musim dalgona bikin dalgona, pas lebaran bikin nastar, pas tahun baru bikin terompet, pas agustus jahit bendera, dsb.
Pelindo Multi Terminal berbisnis karena sebagai negara maritim, ada demand yang tidak akan pernah habis, dan demand itu akan selalu datang TANPA mereka perlu bermanuver
Tapi kalau tetap mau bahas EV secara khusus, memang ada roadmap-nya:
Low hanging fruit: impor CBU. Impor CBU bukan hanya kendaraan pribadi, tapi juga kendaraan komersial, bahkan alat berat
Jangka menengah: selain CBU, CKD juga tetap butuh handling dan inspeksi khusus. Ini latar belakang dan alasan kenapa Pelindo memekarkan antara Pelindo Terminal Peti Kemas dan Pelindo Multi Terminal
Jangka panjang: baik CBU maupun CKD, terminal kendaraan TIDAK hanya handling inbound, tetapi juga bisa handling outbound. Kalau foreign direct investor mau bikin plant manufaktur di Indonesia, kalau Indonesia mau industrialisasi menjadi negara berbasis produksi, bukan hanya konsumsi, kalau mau neraca dagang surplus, maka mereka akan persiapan infrastrukturnya dulu. Jadi kalau dari sudut pandang asing, kalau mau invest ya partnership-nya akan lewat konsorsium yang dipimpin Pelindo dulu, dari sudut pandang Indonesia, IPCC akan jadi terminal EKSPOR baik CBU maupun CKD
3. Pemain di konsorsium ekosistem industri EV Subang-Patimban kan ada banyak, kenapa memilih IPCC?
a. Posisi dan kinerja keuangan paling solid, manajemen paling pro shareholder berdasarkan prinsip-prinsip Scuttlebutt ala Fisher-Munger-Berkshire. Kamu mau lebih percaya sama "story" bikinan influencer stockbit, atau lebih critical thinking sama tanya-jawab manajemen di public expose dan RUPS, ya itu hak kamu. Moat paling lebar, dan satu-satunya yang bisa merusak adalah jika kebijakan negara tidak sejalan dengan Danantara. Posisinya stalwart, tidak perlu manuver untuk merayu pelanggan, kalau manajemennya brain-dead pun, demand tetap datang, sedangkan manajemen IPCC know what they're doing
b. Pemain-pemain lain di konsorsium-konsorsium ekosistem ini, dari mulai yang dikatain sama influencer, "story-nya sudah berakhir, bandarnya sudah distribusi semua, cuma dibikin false breakout trap biar ritel beli terus," sampai yang hanya bagian dari diversifikasi kecil-kecilan di industri EV, semuanya sudah priced-in. Yang stalwart dan punya moat paling lebar malah paling small cap. Yang lain hari-hari dipompom media, bawa-bawa afiliasi konglomerat, yang ini masih pada akumulasi diam-diam di harga bawah. Bukan berarti pemain lain bisnisnya kopong, tentu saja tidak. Hanya saja kalau mau tahu apa yang dimaksud Ben Graham dan Howard Marks, "Mr. Market salah harga," nah inilah contohnya
4. Teknikal, volume, bandarnya gimana?
Nggak menarik, kalau mau yang menarik silakan ke dada dewa bumi dan dada burung walet, ikuti aja influencer yang mendongeng rumor cocoklogi dengan volume spike, BUKAN dari integritas, interaksi, dan keterbukaan publik manajemennya
5. Apakah akan multibagger dalam seminggu?
Nggak. Ini perusahaan YSSA (yang sabar-sabar aja). Yang nggak sabar, yang maunya swing, nggak akan tahan di sini
Tag juga partner-partner strategisnya: $ASII $IPCM
1/5





Jujur liat $IPCM ini emang bukan buat kaum mendang-mending yang mau bagger seminggu. Pergerakan harganya lemot parah. TAPI, coba bedah jeroannya:
- Zero Debt Club: Utang berbunga nol. Debt to Equity 0.00x. Di era ekonomi nggak jelas, perusahaan tanpa utang itu King.
- Cash Rich: Market Cap 1,8T, tapi pegang Cash Rp 489 Miliar. Duitnya tebel banget.
- Monopoli: Anak usaha Pelindo, pangsa pasar jelas. Laba bersih masih tumbuh +18% YoY.
Minusnya? Free float cuma 12%, jadi kurang likuid.
Kesimpulan: Ini saham buat parkir dana rasa deposito plus-plus (Yield 7-8%) + Capital Gain, bukan buat copet.
Status: Accumulate pelan-pelan di area 336-344.
"Ilusi Antrean Tebal: Taktik Menjepit Ritel"
Pernahkah Anda melihat sebuah saham dengan antrean Bid (beli) yang sangat tebal namun harganya tidak kunjung naik, atau malah perlahan-lahan turun? Banyak ritel merasa aman karena menyangka ada "tembok" yang menjaga harga. Padahal, seringkali itu adalah taktik Smart Money untuk memancing ritel agar berani pasang posisi di atas, sementara mereka sendiri sedang membuang barang secara perlahan. Ketebalan antrean itu hanyalah umpan, bukan niat beli yang sesungguhnya.
Untuk membongkar ilusi ini, Anda harus melihat data Trade Done. Trigger Smart Money tidak peduli dengan seberapa tebal antrean yang dipasang, sistem hanya menghitung transaksi yang benar-benar terjadi. Jika antrean beli tebal tapi data Clean Money menunjukkan dana keluar yang masif, itu artinya tembok tersebut hanyalah "tembok kertas" yang siap ditarik kapan saja. Arus Bad Money sering terjebak dalam posisi ini karena mereka membeli berdasarkan apa yang terlihat di order book, bukan berdasarkan aliran dana nyata.
Jadilah trader yang tidak mudah tertipu oleh tampilan visual. Fokuslah pada volume transaksi yang tervalidasi. Lonjakan volume 5x lipat yang dibarengi dengan akumulasi dana bersih adalah satu-satunya bukti kekuatan yang sah. Dengan memiliki filter deteksi dana besar, Anda bisa menghindari jebakan antrean palsu dan memastikan bahwa setiap posisi yang Anda ambil didukung oleh uang nyata yang masuk ke dalam sistem bursa, bukan sekadar angka digital yang bisa dihapus dalam sekejap.
$HRUM $IPCM $MORA
1/2


saya pengen lihat ini bisa koreksi seberapa jauh
$WEHA
$IPCM
$HAIS
kalau sudah murah, dikasih murah lagi MANTAP betul
$IPCM Waduh antri di Rp 330 malah gak kejemput sekalian tadi pas bikin wick low wkwkwk
Luck Rank F beneran T A T
ANALISA SAHAM $BRPT
Harga Sekarang: Rp 3.090
Zona Area Beli Aman:
Rp 2.950 – 3.020
• Area support kuat, cocok untuk entry aman jika harga pullback ke zona ini, Boss
Zona Stoploss:
< Rp 2.850
• Jika turun di bawah level ini, struktur swing melemah dan rawan koreksi lebih dalam, Boss
Jika naik & breakout:
> Rp 3.150 → ENTRY LANJUTAN (tambah posisi)
• Breakout 3.150 berpotensi memicu momentum bullish lanjutan, Boss
Target Profit:
• TP1 = Rp 3.250
• TP2 = Rp 3.400 – 3.600
Keterangan Tambahan:
• Selama harga bertahan di atas 2.950, peluang swing bullish tetap terjaga, Boss
• Saham petrokimia & energi, pergerakan sensitif sentimen sektor dan volume
• Breakout valid jika disertai volume meningkat
Analisa saya boleh bantu, tapi keputusan tetap milik Boss.
Ketik nama sahamnya Boss, contohnya $URBN $IPCM. DM “mau” jika ingin dianalisa sahamnya
Menu BPJS(epuluh tahun)
$IPCM.
Entry: HAKA
Cl: kalau ingat
TP: kalau sempat
#DYOR
$ADRO
Entry: HAKA
Cl: kalau butuh
TP: 10000
$PTPS
Entry: HAKA
Cl: Apa itu?
TP: emang perlu?
saya garansi tidak cepat kaya, tapi juga minim resiko jadi gila karena kalah judi...
Bukan rekomendasi jual pagi, beli sore atau beli pagi, jual sore.
VALUASI Series ke satu
Price to earnings
Pengantar Valuasi, memahami definisi dan tujuan valuasi
baca tulisan sebelumnya
https://stockbit.com/post/25959733
Untuk kali ini Akan membahas valuasi method yang cukup sederhana, dan mungkin sering di bahas kebanyakan orang
Yaitu PER price to earnings Ratio
Rumusnya = Harga per lembar saham ÷ EPS
semakin kecil hasilnya maka semakin terdiskon
Sangat sederhana sekali
Tujuan dari melihat rasio ini untuk mengukur, perbandingan antara Harga yang harus dibayar dengan pendapatan yang dihasilkan
contoh IPCM
EPS nya 35 Perlembar saham Disetahunkan
dan harga sahamnya di 350 saat ini
350 ÷ 35 = 10 x
artinya
Investor membeli diharga 10x Dari pendapatan yang di hasilkan, namun sifat pendapatan tidaklah tetap.
ia bersifat bertumbuh terutama pada case IPCM ini
jika misal harga nya 350 terus menerus atau bahkan turun, namun pendapatan naik maka harga akan lebih terdiskon
misalnya saja EPS naik ke 50
terus harga turun ke 300 misalnya
maka 300÷50 = 6x jauh lebih murah lagi.
contoh skenario ekstrem anggap saja harga turun ke 200 dengan EPS Disetahunkan saat ini 35
200÷35 = 5,7 x
jadi cukup sulit jadi kenyataan jika harga turun ke 100-200
random tag
$IPCM $INET
Sumber gambar
• Key statistik App Stockbit
Refrensi bacaan atau materi lainnya
Buku : Value Investing, The inteligen investor
Chanel ytb
tentang PER
https://cutt.ly/PthCKWAq
Apa itu EPS
https://cutt.ly/5thCKWTf
Jangan lupa juga baca Value trap di tulisan saya sebelumnya
https://stockbit.com/post/25258106
1/2


$ASLC 🚀
baru kemarin Calling 6 Januari
https://stockbit.com/post/25890243
RT: $ASSA $IPCM
