


Volume
Avg volume
PT Intiland development Tbk adalah perusahaan pengembang properti yang berfokus pada pengembangan, pengelolaan, dan investasi berbagai bisnis di sektor properti. Proyeknya meliputi pengembangan kawasan hunian segmen menengah atas, kawasan terpadu dan pengembangan bangunan vertikal, serta wakasan industri. Proyeknya terfokus di Jakarta dan Surabaya. Portofolio Perseroan meliputi pengembangan kawasan mixed-use dan high rise, kawasan hunian untuk segmen pasar menengah atas, kawasan industri, dan properti investasi di seputaran wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), serta di Surabaya dan sekitarnya. Lebih la... Read More
"Kekuatan Momentum: Masuk Saat Mesin Sudah Panas"
Banyak trader membuang waktu terlalu lama menunggu saham yang tidak bergerak sama sekali. Membeli saham di area akumulasi memang murah, tapi terkadang butuh waktu berbulan-bulan sampai harga tersebut ditarik naik. Bagi trader yang mengutamakan perputaran modal (turnover), cara terbaik adalah masuk saat momentum sudah dimulai. Momentum dimulai tepat saat Smart Money melakukan markup harga dengan volume yang meledak secara intraday. Di sinilah mesin harga sudah mulai panas dan siap melaju.
Trigger Smart Money memberikan notifikasi tepat saat momentum ini lahir. Begitu sebuah saham yang tadinya sepi mencetak volume 5x lipat dari rata-rata intraday-nya, itu adalah tanda bahwa fase menunggu sudah selesai. Dengan verifikasi Clean Money yang positif, Anda mendapatkan konfirmasi bahwa kenaikan tersebut didorong oleh permintaan nyata, bukan sekadar spekulasi sesaat. Ini adalah strategi "masuk dan segera profit" yang sangat efektif bagi mereka yang memiliki waktu terbatas namun ingin hasil yang optimal.
Keunggulan dari strategi momentum berbasis dana adalah efisiensi waktu. Anda tidak perlu "menanam modal" terlalu lama di saham yang tidur. Anda hanya bergerak ke mana pun uang besar sedang bekerja aktif. Dengan bantuan radar pemburu dana besar, portofolio Anda akan selalu berisi saham-saham yang sedang bergerak aktif dan produktif. Jadikan lonjakan volume dan dana masuk bersih sebagai tanda untuk segera menekan tombol beli dan mengikuti tren kenaikan yang baru saja dimulai.
$DILD $DEWI $GOLF
1/2


$DILD kelihatannya memang bakalan turun, tapi masih potensi ke 161 and 170an lagi,
ini saham memang anomali, tapi bisnis batubara tahun ini kan ada dipangkas produksinya jadi kemungkinan akan mengerek harga secara tidak langsung
kalau baru nyangkut 1-2 hari ditinggal aja dulu
kemungkinan minggu ini sepi karena besok hari terakhir bursa,
tunggu minggu depan mungkin baru bisa ada gambaran dia sebenarnya akan kemana
Tetap semangat
$DILD $APLN $ASRI orang bisa analisa ndk jualan kelas ingat analisis fundamental, teknikal jg arus kas kl mau inves saham
Saham Properti Kesayangan Bank: $ASRI vs $APLN vs $DILD
Request member External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
ASRI, APLN, dan DILD itu bukan cuma emiten properti, mereka mesin kupon yang rutin mengalirkan bunga untuk bank. Di atas kertas, ketiganya terlihat berat karena liabilitas triliunan, tapi justru di situlah bank paling nyaman bermain mencari cuan dari mereka. ASRI memegang utang bank Rp6,01 triliun dengan bunga 7,5% sampai 8,1%, secara matematis itu setara potensi biaya bunga tahunan sekitar Rp455 miliar. APLN lebih nendang dari sisi yield, fasilitas besarnya duduk di rentang 8,0% sampai 11,10%, dan hanya dari pokok yang disebutkan Rp4,56 triliun saja bunganya bisa kira-kira Rp433 miliar per tahun. DILD juga tidak kalah, total pinjaman berbunga Rp3,82 triliun, ada sindikasi 7,5% tapi juga ada instrumen mahal seperti sukuk 10,60% dan pinjaman 9% sampai 12% yang bikin biaya dana realistisnya tetap ratusan miliar per tahun. Bank makin senang karena jaminannya bukan aset spekulatif, melainkan mal, gedung kantor, hotel, dan lahan proyek yang secara nilai pasar bisa menutup pokok utang. Bank makin dominan karena covenant mengunci ruang gerak emiten, mulai dari larangan jual aset tanpa izin, batas rasio, sampai kewajiban menaruh dana di rekening khusus pembayaran utang. Jadi kalau investor melihat bank terus memberi napas, itu bukan karena bank iba, melainkan karena kombinasi agunan bagus plus arus bunga yang terlalu menguntungkan untuk dilepas. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau dibaca dari kacamata bank, ketiga emiten ini punya satu pola yang sama, asset-rich tapi cash-strapped. Mereka punya banyak aset bernilai tinggi, namun arus kas operasional properti itu sifatnya siklis dan tidak selalu sinkron dengan jadwal cicilan. Di situ bank masuk sebagai pengatur ritme, bank tidak perlu ikut jualan rumah atau mengelola mal, bank cukup pegang kunci brankasnya lewat hak tanggungan, pledge saham strata title, dan rekening pengendali kas seperti debt service account (DSA) dan debt service reserve account (DSRA). Ini sebabnya mereka disebut nasabah kesayangan bank, bukan karena bank suka cerita bisnisnya, tetapi karena bank memegang aset kelas premium sebagai jaminan dan menarik yield yang tinggi dengan kontrol yang ketat.
ASRI itu contoh paling bersih untuk melihat skala hubungan satu bank yang dominan. Utang bank jangka panjang Rp6,01 triliun, dan Rp5,06 triliun dipegang BCA dengan bunga 7,5% sejak September 2025 dan tenor 8 sampai 10 tahun. Tambah Mandiri Rp859,01 miliar bunga 8,00% tenor 10 tahun, plus Permata Rp85 miliar bunga 8,10% tenor 96 bulan. Secara statistik, struktur ini membuat biaya dana ASRI terlihat lebih tertata, karena mayoritas berada di satu kreditur besar dan tenor panjang. Yang menarik, estimasi bunga tahunan dari struktur tersebut sekitar Rp455 miliar, nyaris seperti gambaran beban keuangan yang memang terasa besar di laba rugi, jadi investor bisa paham kenapa laba bisa terlihat tipis walau asetnya besar. Keunikan ASRI di mata bank bukan cuma jumlah utangnya, tetapi kualitas agunannya, BCA memegang jaminan tanah Flavor Bliss, Mall di Alam Sutera, lahan komersial Pinang, plus kontrol rekening DSA dan DSRA. Artinya bank tidak sekadar memberi pinjaman, bank ikut mengendalikan prioritas arus kas. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
DILD punya karakter yang berbeda, ini bukan kisah satu kreditur dominan, tetapi campuran instrumen dan banyak pintu utang. Total pinjaman berbunga Rp3,82 triliun, ada sindikasi BNI dan BCA Rp1,91 triliun bunga 7,5% sampai 2027 dengan jatuh tempo 10 Desember 2031, ini bagian yang paling stabil dan paling bankable. Tapi di sisi lain ada sukuk ijarah Rp124,7 miliar imbalan 10,60% yang jatuh tempo 2 Desember 2025, ini memberi tekanan jadwal karena waktunya dekat dan biayanya mahal. Ditambah lagi utang bank jangka pendek yang bunganya 9% sampai 12% seperti Mayapada Rp434 miliar, Panin Rp229,7 miliar, CCB Rp40,6 miliar, plus kreditur lain seperti JTrust, MNC Bank, Woori Saudara. Secara statistik, DILD itu kombinasi stabil dan mahal dalam satu neraca, sehingga bank mensyaratkan pagar yang jelas, current ratio minimal 1, DER maksimal 2,7, interest coverage ratio minimal 1,5, plus pembatasan merger dan perubahan struktur modal. Keunikannya, aset jaminan DILD itu sangat korporat dan yielding, Intiland Tower Jakarta dan Surabaya, 1Park Avenue, South Quarter, dan lahan proyek besar. Dari sisi bank, ini agunan yang bisa dinilai, bisa diaudit arus kas sewanya, dan bisa dinegosiasikan untuk refinancing bila pasar membaik.
APLN itu versi paling agresif dari sisi sebaran kreditur dan harga uang. Total liabilitas Rp12,22 triliun, dan dari daftar utang besar yang disebutkan, Danamon Rp2,10 triliun bunga 9,75% floating jatuh tempo 20 Januari 2027, CIMB Niaga Rp602,4 miliar bunga 8,35% fixed, BNI Rp512,1 miliar bunga 9,70%, Maybank Rp501,7 miliar bunga 11,10% yang mahal, BCA Rp490,8 miliar bunga 8,00% fixed 5 tahun, dan MTN Rp350 miliar bunga 9,50% jatuh tempo 22 Agustus 2026. Kalau investor hanya melihat angka bunga, APLN itu seperti membawa tas utang dengan kupon yang tebal-tebal, dan itu persis yang membuat bank senang, yield tinggi tapi agunan sangat konkret. Jaminannya juga bukan main, APL Tower, lahan Ubud, Emporium Pluit dan Festival Citylink via SHMSRS, Plaza Balikpapan, Hotel Indigo Bali, Podomoro City Deli Medan, Kuningan City, sampai aset reklamasi yang tercatat Rp4,01 triliun walau izin pelaksanaan penuh ketidakpastian. Keunikan APLN dibanding ASRI dan DILD adalah bank memegang portofolio mal dan hotel yang sangat dikenal publik, sehingga secara pemasaran aset, bank punya bargaining power yang kuat saat meminta monetisasi. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sekarang bagian yang paling penting untuk investor, statistik coverage yang membuat bank jatuh hati. ASRI mencatat nilai pasar properti investasi Rp6,50 triliun sementara utang bank Rp6,01 triliun, coverage kira-kira 1,08 kali. DILD mencatat nilai pasar properti investasi Rp4,44 triliun sementara pinjaman berbunga Rp3,82 triliun, coverage kira-kira 1,16 kali. APLN mencatat nilai pasar properti investasi Rp12,45 triliun sementara total liabilitas Rp12,22 triliun, coverage kira-kira 1,02 kali, dan ini baru dari properti investasi saja, belum memasukkan tanah belum dikembangkan dan aset lain yang memang ada tapi likuiditasnya berbeda. Buat bank, angka coverage seperti ini itu nyaman, karena kalau keadaan memaksa restrukturisasi, masih ada barang nyata yang bisa dinegosiasikan, dipindahtangankan, atau dijual bertahap.
Namun, di situlah paradoksnya untuk investor. Bank bisa sayang karena agunan tebal, tapi emiten bisa tersandera karena aset tebal itu juga yang membuat bank bisa menekan. Covenant itu bukan formalitas, itu pagar yang bikin manajemen tidak bisa sembarang ambil utang baru, tidak bisa bebas menjual aset strategis, dan dalam banyak kasus ruang dividen juga dibatasi kalau rasio melanggar. Secara praktis, bank sedang berkata begini, silakan hidup, tapi jangan berani-berani mengurangi nilai agunan tanpa izin, dan jangan ubah struktur permodalan tanpa koordinasi. Ini sebabnya banyak emiten properti terlihat seperti berjalan, tapi langkahnya berat, karena sebagian besar keputusan strategis harus kompatibel dengan kepentingan kreditur. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Trend yang terlihat dari tiga emiten ini sebenarnya konsisten, fokus utama bukan ekspansi besar, melainkan manajemen umur utang dan biaya bunga. ASRI sudah melunasi pinjaman sindikasi pada 11 Juli 2025, lalu mengunci utang pada tenor panjang dengan BCA dan Mandiri, ini pola refinancing untuk menstabilkan jatuh tempo. DILD menahan struktur campuran, namun keberadaan sukuk jatuh tempo Desember 2025 membuat tekanan timeline lebih dekat, sehingga peluangnya adalah refinancing ke tenor lebih panjang atau monetisasi aset yielding agar gap jatuh tempo tidak mengganggu likuiditas. APLN berada di sisi yang paling menantang karena kombinasi bunga tinggi dan banyak fasilitas, sehingga monetisasi aset bukan lagi sekadar opsi, tetapi alat negosiasi untuk menurunkan pokok, menurunkan bunga, lalu memperbaiki rasio yang diminta bank seperti debt to EBITDA dan DSCR minimal 1.
Bagian yang sering luput, menjual aset itu tidak otomatis berarti menang, karena aset terbaik biasanya sudah dijaminkan. Kalau aset dijaminkan, prosesnya bukan sekadar cari pembeli, tetapi juga minta restu bank, membuka sebagian hak tanggungan, lalu menyusun skema pelunasan parsial yang disetujui semua pihak. Karena itu, meskipun nilai pasar properti investasi ASRI, DILD, dan APLN secara teori bisa melunasi utang, eksekusinya tetap bertahap dan penuh negosiasi. Di sisi lain, justru karena prosesnya lama, bank semakin nyaman, selama bunga masih dibayar, bank memegang yield sekaligus memegang kendali.
ASRI itu nasabah premium yang paling terkonsentrasi di satu bank besar dengan kontrol kas yang rapat, DILD itu nasabah yang struktur utangnya campuran dan sensitif jadwal karena ada instrumen jatuh tempo dekat, APLN itu nasabah dengan yield tertinggi dan agunan paling publik, sehingga bank dapat bunga besar sekaligus punya banyak tuas jaminan. Dan kalau investor ingin membaca risiko utamanya, risikonya bukan cuma besar utang, melainkan mismatch antara siklus kas properti yang tidak selalu cepat dengan mesin bunga yang jalan tiap hari. Selama mismatch ini belum dibereskan, bank akan tetap sayang, tapi investor harus sadar, yang paling memegang remote control sebenarnya adalah kreditur, bukan pemegang saham publik. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🏢 ASRI utang dan kontrol bank
🏦 Kreditor utama Rp6,01 T
💳 BCA Rp5,06 T bunga 7,5% tenor 8 sampai 10 tahun
🏛️ Mandiri Rp859,0 M bunga 8,0% tenor 10 tahun
🧾 Permata Rp85,0 M bunga 8,10% tenor 96 bulan
🔒 Jaminan
🗺️ Flavor Bliss Mall at Alam Sutera Pinang
🏙️ The Tower Jakarta Selatan
💼 Rekening DSA DSRA
📜 Covenant
⛔ Larang jual aset di luar operasional normal
⚠️ Batas rasio dan pinjaman baru tanpa izin
💎 Aset kunci
🌱 Land bank Rp10,98 T
🏬 Properti investasi buku Rp1,48 T nilai pasar Rp6,50 T
🧮 Pelunasan
✅ Nilai pasar properti investasi kira-kira cukup lunasi utang bank
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🏙️ DILD utang dan disiplin rasio
🏦 Pinjaman berbunga Rp3,82 T
🤝 Sindikasi BNI BCA Rp1,91 T bunga 7,5% hingga 2027 jatuh tempo 2031
📿 Sukuk ijarah Rp124,7 M jatuh tempo 2 Des 2025
🏦 Bank pendek Mayapada Panin CCB bunga 9% sampai 12%
🔒 Jaminan
🏢 Intiland Tower 1Park South Quarter lahan proyek
📜 Covenant
📈 Current ratio min 1,0x
🧱 DER maks 2,7x
🛡️ ICR min 1,5x
💎 Aset kunci
🌱 Land bank Rp3,94 T
🏬 Properti investasi buku Rp1,57 T nilai pasar Rp4,44 T
🧮 Pelunasan
✅ Nilai pasar properti investasi lebih besar dari pinjaman berbunga
🏗️ APLN utang tersebar dan aset mahkota
🏦 Liabilitas Rp12,22 T
🏦 Danamon Rp2,10 T bunga 9,75% floating jatuh tempo 2027
🏦 CIMB Rp602,4 M bunga 8,35% fixed
🏛️ BNI Rp512,1 M jatuh tempo 2027 sampai 2028
🏦 Maybank Rp501,7 M bunga 11,10%
💳 BCA Rp490,8 M tenor 120 bulan
🧾 MTN Rp350 M jatuh tempo 22 Agt 2026
🔒 Jaminan
🏬 APL Tower Central Park Kuningan City Emporium Pluit Hotel Indigo Deli Medan
📜 Covenant
⛔ Dividen dilarang kalau rasio gagal
📉 Gearing Debt EBITDA DSCR dibatasi
💎 Aset kunci
🌱 Land bank Rp4,48 T
🏬 Properti investasi buku Rp6,10 T nilai pasar Rp12,45 T
🌊 Reklamasi Rp4,01 T berisiko izin
🧮 Pelunasan
✅ Nilai pasar properti investasi kira-kira setara total liabilitas
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/4




$ASRI vs $APLN vs $DILD: Apakah Harus Jual Aset Properti Strategis Demi Bisa Bayar Utang?
Request member External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Utang APLN, ASRI, dan DILD itu sangat besar sehingga wajar saja kalau di masa depan mereka jual aset strategis mereka demi bisa bayar utang. Dan kalau investor masih berharap ketiganya bisa pulih cuma dari operasional normal tanpa manuver besar, itu biasanya terlalu optimistis. Pasar properti boleh membaik, tapi kalau beban bunga sudah jadi mesin penyedot laba, perbaikannya sering habis di biaya keuangan, bukan masuk ke kantong pemegang saham. Di situ letak konflik yang paling penting, perusahaan bisa punya aset mahal, tapi keuntungan bersihnya tetap tipis karena uangnya kerja buat bank. Jadi narasi utamanya bukan sekadar siapa punya aset paling bagus, tapi siapa yang paling cepat bisa menurunkan leverage sebelum napasnya makin pendek. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Secara skala liabilitas, APLN dan ASRI itu satu kelas, sama-sama di belasan triliun. APLN mencatat total liabilitas Rp12,22 T, ASRI Rp11,35 T, sementara DILD Rp6,75 T. Ini langsung membentuk dua lapis cerita. Lapisan pertama, APLN dan ASRI menanggung beban struktur modal yang berat, jadi ruang geraknya lebih sempit dan setiap kenaikan biaya dana lebih terasa di laba. Lapisan kedua, DILD memang lebih kecil dari sisi liabilitas total, tapi utang berbunga tetap besar, borrowings bank dan sukuk Rp3,82 T, jadi DILD juga tetap hidup dalam rezim bayar bunga, cuma skalanya lebih moderat dibanding dua yang lain.
Kalau investor ingin melihat urgensi paling telak, lihat kombinasi utang jatuh tempo dan beban bunga. APLN punya utang bank jangka panjang Rp5,16 T, dan yang jatuh tempo dalam 1 tahun Rp843,1 M. Itu sekitar 16,3% dari saldo utang bank jangka panjangnya yang minta dibereskan cepat, entah lewat refinancing, jual aset, atau suntik dana. ASRI punya utang bank jangka panjang Rp6,01 T, porsi jatuh tempo 1 tahun Rp445,9 M, sekitar 7,4% dari utang bank jangka panjangnya, tekanan jangka pendeknya relatif lebih kecil daripada APLN, tapi masalah ASRI bukan cuma jatuh tempo, masalahnya biaya bunga yang menggerus. Beban bunga dan keuangan ASRI Rp455,6 M dalam 9 bulan, sementara laba bersih induknya cuma Rp7,97 M. Artinya beban bunga sekitar 57,2 kali laba bersih, ini bukan sekadar tinggi, ini tanda bahwa laba yang terlihat di laporan keuangan itu nyaris tidak punya ruang untuk tumbuh sebelum beban bunga dipangkas. APLN juga tidak lebih nyaman, beban bunga Rp311,3 M di 9 bulan, sementara perusahaan rugi Rp57,9 M, jadi secara aritmetika sederhana, operasionalnya belum cukup untuk menutup biaya modal, dan itu menjelaskan kenapa opsi penjualan aset selalu muncul dalam diskusi. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Tren yang membedakan APLN dari ASRI adalah kualitas arus kas operasional saat ini. APLN mencatat CFO negatif Rp60,7 M, yang artinya arus kas dari operasi saja belum sanggup menutup kebutuhan rutin, termasuk pembayaran ke pemasok, biaya operasional, pajak, dan elemen biaya keuangan yang menempel di belakangnya. Kalau CFO sudah negatif, jalan keluar menjadi makin terbatas, karena perusahaan bisa saja punya aset bernilai tinggi, tapi kas hariannya tidak cukup stabil untuk menahan tekanan. Di titik seperti ini, penjualan aset bukan cuma strategi merapikan neraca, tapi sering jadi alat bertahan hidup supaya perusahaan bisa menjaga kepercayaan kreditur dan menjaga kelangsungan proyek. ASRI secara operasional tidak disebut mengalami CFO negatif di data ini, tetapi tetap terjepit di laba karena bunga yang sangat besar, jadi logikanya beda, ASRI lebih cocok disebut butuh deleveraging untuk memperbaiki profitabilitas, bukan semata-mata untuk menutup defisit kas operasi.
Keunikan lain yang penting adalah, secara nilai aset, ketiganya punya amunisi, tapi amunisi itu tidak selalu mudah dicairkan. APLN punya properti investasi bernilai buku Rp6,10 T, nilai wajar sekitar Rp12,45 T, ada uplift sekitar 2,04 kali. DILD punya properti investasi nilai buku Rp1,57 T, nilai wajar Rp4,44 T, uplift sekitar 2,83 kali. ASRI paling mencolok di bagian ini, properti investasi nilai buku Rp1,48 T, nilai wajar Rp6,50 T, uplift sekitar 4,39 kali. Di atas kertas, angka-angka ini seperti jawaban mudah, tinggal jual sebagian aset yielding, utang turun, bunga turun, laba naik. Masalahnya realitasnya jauh lebih ribet, karena aset yielding yang paling menarik biasanya juga aset yang paling sering dijadikan jaminan bank. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Di sinilah tren monetisasi aset di sektor properti Indonesia sering bikin investor keliru membaca kecepatannya. Mayoritas aset produktif ketiga perusahaan sudah menjadi jaminan fasilitas kredit, jadi penjualan aset inti tidak bisa dilakukan semaunya. APLN punya daftar aset yang dijaminkan yang isinya aset premium, misalnya area mall dan hotel, juga lahan proyek tertentu. DILD juga menjaminkan aset yang sifatnya yielding dan strategis seperti perkantoran, gudang, dan lahan di beberapa proyek. ASRI menjaminkan aset ikonik seperti mall, gedung perkantoran, dan sebagian land bank. Karena aset dijaminkan, bank biasanya mensyaratkan persetujuan tertulis sebelum aset dilepas, dan bank akan bicara dari kacamata perlindungan collateral, bukan dari kacamata kenyamanan pemegang saham. Jadi tren penjualan aset di sektor ini lebih sering berbentuk restrukturisasi yang dinegosiasikan, bukan aksi jual cepat.
Selain isu jaminan dan kovenan, ada faktor pasar yang sering diremehkan. Transaksi properti komersial skala triliun itu butuh proses negosiasi, due diligence, appraisal, dan legalitas yang panjang, biasanya 6-12 bulan. Jadi ketika investor bilang penjualan aset adalah solusi cepat, cepatnya itu relatif, cepat dibanding membangun proyek baru, iya, tapi bukan cepat seperti jual saham di pasar. Untuk APLN ada hambatan tambahan di aset reklamasi Pulau G, I, F senilai Rp4,01 T, di mana ketidakpastian izin dan proses hukum membuat aset ini sulit dijadikan sumber kas cepat, walau potensinya besar kalau statusnya membaik. Ini yang membuat APLN sering terlihat seperti punya harta karun, tapi pintunya masih dikunci regulasi dan proses. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Aset mana yang paling realistis untuk dimonetisasi tanpa mengorbankan mesin pendapatan inti, jawabannya biasanya ada di dua area. Pertama, penjualan inventori unit jadi yang sertifikatnya sudah pecah, misalnya apartemen, rumah, ruko, karena ini lebih mudah dipasarkan ritel dan tidak selalu menjadi jaminan utama kredit korporasi. Kedua, pelepasan kepemilikan minoritas atau aset non-inti yang tidak memukul recurring income terlalu dalam, misalnya hotel tertentu, lahan non-core, atau sebagian saham di entitas asosiasi jika ada. Di data yang ada, contoh historisnya sudah ada, APLN pernah menjual Hotel Pullman Vimala Hills pada 2024 untuk bayar sebagian utang. ASRI juga punya opsi menjual lahan mentah secara bulk, misalnya di Pasar Kemis atau Pinang, karena menjual land bank bisa menghasilkan kas besar tanpa harus menjual mall yang jadi mesin sewa dan traffic. DILD, dengan inventori dan tanah belum dikembangkan Rp8,66 T, secara struktur punya ruang monetisasi lewat penjualan lahan atau unit proyek, tetapi tetap harus menyesuaikan mana yang sedang dijaminkan dan mana yang fleksibel.
Sekarang bandingkan dampak strategisnya, karena tidak semua penjualan aset itu sehat. Kalau yang dijual adalah aset yielding seperti mall, perkantoran premium, atau aset pariwisata ikonik, perusahaan memang dapat kas dan utang turun, tapi perusahaan juga kehilangan pendapatan sewa yang stabil, sehingga masa depan jadi makin tergantung pada penjualan properti yang siklusnya lebih berombak. APLN kalau melepas mall premium, risiko terbesarnya adalah kehilangan recurring income, lalu perusahaan jadi makin bergantung pada penjualan residensial dan proyek baru. ASRI kalau melepas aset seperti mall atau komponen ikonik yang menjadi magnet kawasan, kawasan bisa kehilangan daya tarik, sehingga efeknya bukan cuma ke pendapatan sewa, tapi ke persepsi nilai kawasan. DILD kalau melepas perkantoran elit, dampaknya pendapatan berulang melemah, tetapi DILD masih punya narasi lain seperti kawasan industri dan residensial, sehingga struktur substitusinya bisa lebih fleksibel, tergantung portofolio proyek yang sedang berjalan. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
APLN, ASRI, dan DILD bergerak dalam satu pola besar yang sama, yaitu era asset recycling dan deleveraging, bukan era ekspansi agresif tanpa beban. Bedanya, APLN terlihat paling tertekan secara kas karena CFO negatif, sehingga urgensi monetisasi lebih bersifat menutup lubang operasional dan menjaga kepercayaan kreditur. ASRI terlihat paling tertekan secara laba karena beban bunga Rp455,6 M melawan laba Rp7,97 M, sehingga urgensinya lebih bersifat memotong pokok utang supaya profitabilitas punya ruang bernapas. DILD berada di tengah, liabilitasnya lebih kecil dari dua raksasa itu, tapi borrowings Rp3,82 T tetap memaksa disiplin, dan pilihan monetisasinya akan sangat ditentukan oleh mana aset yang tidak terkunci sebagai jaminan dan mana yang bisa dijual tanpa merusak mesin recurring income. Jadi wajar kalau investor melihat masa depan mereka akan diwarnai penjualan aset, bukan karena asetnya jelek, tapi karena struktur utangnya sudah memaksa perusahaan memilih, mempertahankan semua aset dan terus bekerja untuk membayar bunga, atau melepas sebagian aset strategis supaya neraca lebih ringan dan laba punya peluang pulih.
🔻 Utang besar bikin laba kerja buat bank
⚠️ Pulih dari operasional normal tanpa manuver besar cenderung terlalu optimistis
🎯 Target paling penting kecepatan turunkan leverage
📊 Skala liabilitas
🏗️ APLN total liabilitas Rp12,22 T
🏢 ASRI total liabilitas Rp11,35 T
🏘️ DILD total liabilitas Rp6,75 T
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
⏳ Tekanan jatuh tempo dan bunga
🔥 APLN utang bank jp Rp5,16 T
▪ Jatuh tempo 1 tahun Rp843,1 M sekitar 16,3%
▪ Beban bunga 9M Rp311,3 M sementara rugi Rp57,9 M
🧨 ASRI utang bank jp Rp6,01 T
▪ Jatuh tempo 1 tahun Rp445,9 M sekitar 7,4%
▪ Beban bunga 9M Rp455,6 M vs laba induk Rp7,97 M sekitar 57,2 kali
🧱 DILD borrowings bank dan sukuk Rp3,82 T
💧 Kualitas kas operasional
❌ APLN CFO 9M minus Rp60,7 M
✅ ASRI terjepit di laba bukan di kas pada narasi ini
🟡 DILD moderat tapi tetap rezim bayar bunga
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🧩 Amunisi aset dan gap nilai wajar
🏬 APLN properti investasi buku Rp6,10 T nilai wajar Rp12,45 T uplift 2,04x
🏛️ ASRI properti investasi buku Rp1,48 T nilai wajar Rp6,50 T uplift 4,39x
🏢 DILD properti investasi buku Rp1,57 T nilai wajar Rp4,44 T uplift 2,83x
🔒 Kenyataan monetisasi
🧷 Banyak aset yielding jadi jaminan bank
📝 Penjualan perlu persetujuan kreditur dan negosiasi restrukturisasi
⏱️ Deal komersial triliunan umumnya 6 sampai 12 bulan
🌊 APLN reklamasi Pulau G I F Rp4,01 T sulit jadi kas cepat
🛠️ Jalur monetisasi paling realistis
🏠 Jual unit siap serah terima sertifikat pecah
🧾 Lepas aset non-inti atau porsi minoritas asosiasi
🧱 ASRI opsi bulk sale land bank Pasar Kemis Pinang
🏨 APLN contoh historis jual Pullman Vimala Hills 2024
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
⚖️ Risiko salah jual aset
💸 Jual mall kantor elit turunkan utang tapi potong recurring income
🧠 Intinya asset recycling dan deleveraging jadi era wajib bukan pilihan
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/5




