12,750

-625

(-4.67%)

Today

87,300

Volume

50,366

Avg volume

Company Background

PT Bayan Resources Tbk (Perseroan) atau Bayan Group merupakan produsen batubara semi-soft coking, subbituminous dan bituminous berkadar belerang rendah yang ramah lingkungan. Perseroan memadukan operasional pertambangan, pengolahan serta logistik melalui anakanak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang usaha, mulai dari pertambangan, pengelolaan jasa pelabuhan, pengangkutan, kontraktor dan jasa sewa alat-alat.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$AADI vs $BYAN vs $GEMS: Gaya Kelola Tambangnya Beda

AADI, GEMS, dan BYAN punya cara berbeda dalam mengelola tambang mereka. Di atas kertas mereka sama-sama jual batu bara, sama-sama kena normalisasi harga coal di 2025, dan sama-sama tetap untung besar. Tapi begitu masuk ke detail aset tambang, capex, laba, arus kas, dan cara aset itu diperas menghasilkan uang, kelihatan sekali bahwa tiga perusahaan ini bermain dengan gaya yang berbeda. AADI terlihat seperti operator yang membangun dan menjaga ekosistem tambang sangat besar lalu mendorong asetnya bekerja sangat keras. BYAN terlihat seperti operator yang paling rapi menjaga efisiensi kas dan paling tenang menjaga kualitas hasil akhirnya. GEMS terlihat seperti pemain yang paling ringan belanja modal, tetapi justru paling sensitif ketika harga jual turun dan biaya operasional naik. Jadi kalau investor cuma lihat laba bersih, ceritanya masih terlalu dangkal. Yang lebih menarik justru ada pada bagaimana masing-masing emiten memperlakukan aset tambangnya. External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Kalau mulai dari nilai buku properti pertambangan pada 2025, BYAN ada di posisi paling tinggi sekitar AS$405,75 juta, lalu AADI sekitar AS$381,48 juta, dan GEMS sekitar AS$289,79 juta. Di titik ini orang bisa salah baca dan mengira BYAN pasti paling agresif atau paling berat aset. Padahal tidak sesederhana itu. Nilai buku aset tambang bukan cuma soal besar kecil tambangnya, tetapi juga soal sejarah akuisisi, umur tambang, metode amortisasi, dan apakah ada impairment atau penurunan nilai. AADI misalnya punya harga perolehan awal sekitar AS$2,24 miliar, tetapi sudah terkikis amortisasi sekitar AS$1,78 miliar dan juga pernah terkena cadangan penurunan nilai sekitar AS$81,19 juta. Jadi sisa nilai buku AS$381,48 juta itu justru menunjukkan tambangnya sudah sangat matang dan sudah diproduksikan besar-besaran selama bertahun-tahun. BYAN berbeda. Nilai aset tambangnya tinggi bukan cuma karena cadangan dan operasi, tapi juga karena warisan kombinasi bisnis dan penilaian nilai wajar dari akuisisi Kangaroo Resources di masa lalu. Jadi posisi BYAN di atas AADI untuk nilai buku tambang lebih banyak mencerminkan sejarah akuisisi dan pencatatan, bukan berarti tambangnya lebih muda atau lebih besar secara sederhana. Sementara GEMS ada di bawah dua nama itu bukan karena tidak punya aset bagus, tetapi karena mereka tersebar di lebih banyak wilayah, lebih selektif dalam struktur aset, dan pada 2025 masih terkena penurunan nilai pada unit tertentu. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Tambang AADI terkonsentrasi masif di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah dengan area sekitar 36.490 hektare. Ini memberi kesan operasi yang terkonsolidasi dan sangat terintegrasi. BYAN juga kuat di Kalimantan Timur melalui beberapa entitas utama seperti Bara Tabang, Fajar Sakti Prima, dan Gunungbayan Pratamacoal. Jadi BYAN juga kuat dari sisi konsentrasi wilayah. GEMS justru lebih menyebar. Mereka punya basis besar di Kalimantan Selatan, lalu ada Kalimantan Tengah, Jambi, dan Sumatera Selatan. Penyebaran seperti ini bisa dibaca dua sisi. Dari satu sisi ada diversifikasi geografis. Dari sisi lain, kompleksitas operasional dan sensitivitas per unit tambang bisa lebih tinggi, apalagi kalau ada unit yang biaya produksinya tidak seefisien tambang inti.

AADI berada jauh di depan dengan rasio capex terhadap aset tambang sekitar 85,1% pada 2025, turun tipis dari 87,1% pada 2024. BYAN ada di sekitar 42,1%, naik tipis dari 41,5%. GEMS hanya sekitar 6,6%, naik sedikit dari 5,9%. Jadi kalau diurutkan dari yang paling agresif menaruh uang baru ke sekitar aset tambangnya, AADI berada paling atas, BYAN ada di tengah, dan GEMS sangat rendah. Ini bukan sekadar beda angka, tapi beda filosofi bisnis. AADI jelas masih sangat aktif memperkuat ekosistem tambangnya, termasuk peralatan, hauling, kapal, dan infrastruktur pendukung. BYAN tetap belanja, tetapi jauh lebih terukur. GEMS justru terlihat paling hemat belanja modal. Itu biasanya berarti GEMS lebih mengandalkan kontraktor pihak ketiga dan model operasi yang lebih ringan aset. Dalam jangka pendek ini bagus untuk menekan kebutuhan modal. Tetapi efek sampingnya muncul saat harga batu bara turun, karena ruang penyesuaian biaya bisa lebih sempit dan margin lebih cepat tergerus.

Kalau aset tambang dibandingkan dengan revenue, AADI lagi-lagi memimpin sekitar 12,8 kali pada 2025, sedikit di atas 12,7 kali pada 2024. GEMS berada di sekitar 8,33 kali, turun dari 8,75 kali. BYAN sekitar 8,42 kali dan praktis stabil dari 2024. Angka seperti ini terlihat tidak normal kalau dibaca tanpa konteks, karena revenue bisa 8 sampai hampir 13 kali nilai buku aset tambangnya. Tapi justru di sinilah sifat tambang matang terlihat jelas. Nilai buku tambang di neraca sudah menyusut jauh karena amortisasi metode unit produksi, sementara aset fisik itu masih terus menghasilkan volume jual besar. Jadi AADI terlihat paling keras memaksa aset tambangnya berputar menjadi omzet. Artinya setiap dolar aset tambang bersih di neraca menghasilkan penjualan paling besar. BYAN dan GEMS masih sangat kuat, tetapi tidak seefisien AADI dalam rasio ini. Jadi kalau investor ingin melihat siapa yang paling mampu memeras aset tambang lamanya menjadi penjualan, AADI terlihat paling dominan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Namun penjualan besar belum tentu sama dengan hasil kas bebas yang paling bagus. Kalau digeser ke laba terhadap aset tambang, urutannya berubah. AADI masih tinggi di 2,22 kali pada 2025, tapi turun dari 3,17 kali. BYAN sekitar 1,93 kali, turun dari 2,30 kali. GEMS tinggal 0,89 kali, turun tajam dari 1,56 kali. Ini sudah memberi pesan bahwa 2025 memukul semua pemain, tetapi memukul GEMS paling terasa. Kalau dilanjutkan ke CFO terhadap aset tambang, AADI ada di 2,25 kali, BYAN 2,40 kali, GEMS 0,85 kali. Di sini BYAN malah mengalahkan AADI. Artinya walaupun AADI lebih besar dalam penjualan terhadap aset tambang, BYAN lebih baik dalam mengubah aset tambangnya menjadi arus kas operasi. Lalu saat masuk ke FCF terhadap aset tambang, BYAN paling unggul lagi di 1,98 kali, AADI di 1,40 kali, dan GEMS tinggal 0,78 kali. Jadi kalau garis besarnya ditarik, AADI unggul dalam kemampuan mendorong omzet dari aset tambang, sedangkan BYAN unggul dalam kemampuan mengubah aset tambang menjadi kas bebas yang benar-benar tersisa. Ini dua keunggulan yang berbeda.

Angka-angka ini juga memperlihatkan perubahan dari 2024 ke 2025 yang sangat jelas. AADI turun dari laba terhadap aset tambang 3,17 kali menjadi 2,22 kali, CFO terhadap aset tambang turun dari 2,85 kali menjadi 2,25 kali, dan FCF terhadap aset tambang turun dari 1,98 kali menjadi 1,40 kali. Jadi penurunan AADI terasa nyata, tetapi tetap bertahan di level tinggi. BYAN turun lebih kalem. Laba terhadap aset tambang turun dari 2,30 kali menjadi 1,93 kali, CFO terhadap aset tambang dari 2,57 kali ke 2,40 kali, dan FCF terhadap aset tambang dari 2,15 kali ke 1,98 kali. Jadi BYAN paling stabil. GEMS paling tertekan. Laba terhadap aset tambang turun dari 1,56 kali menjadi 0,89 kali. CFO terhadap aset tambang jatuh dari 1,85 kali menjadi 0,85 kali. FCF terhadap aset tambang dari 1,79 kali menjadi 0,78 kali. Ini hampir seperti cerita dua dunia. Saat AADI dan BYAN masih turun tetapi tetap tebal, GEMS turun sampai rasio kas bebas terhadap aset tambangnya tinggal di bawah 1 kali. Ini memberi pesan bahwa GEMS adalah yang paling rentan ketika siklus harga tidak mendukung. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Lalu kenapa GEMS paling tertekan. Jawabannya ada di kombinasi model operasi dan kualitas unit tambangnya. Mereka paling ringan capex, itu memang benar. Tetapi capex rendah bukan berarti otomatis paling efisien di hasil akhir. Justru karena modelnya lebih ringan aset dan lebih mengandalkan kontraktor, saat harga jual batu bara turun dan biaya operasional naik, bantalan margin mereka lebih cepat menipis. Tambahan lagi, GEMS harus mencatat rugi penurunan nilai atau impairment sekitar AS$3,59 juta pada unit BSA dan WRL. Jadi penurunan mereka bukan hanya karena harga jual turun, tapi juga karena ada unit tertentu yang nilai ekonominya tidak lagi menopang nilai buku sebelumnya. AADI dan BYAN tidak mengalami tambahan impairment seperti itu di 2025. Ini penting karena menunjukkan bahwa tekanan GEMS tidak semata-mata dari pasar luar, tapi juga dari kualitas internal sebagian asetnya.

Sebaliknya, BYAN terlihat paling rapi. Nilai buku aset tambangnya paling tinggi, capex terhadap aset tambang berada di tengah, revenue terhadap aset tambang stabil, lalu CFO dan FCF terhadap aset tambangnya paling unggul. Ini kombinasi yang jarang. Artinya BYAN tidak terlalu agresif menggelontorkan capex seperti AADI, tetapi juga tidak terlalu tipis belanja seperti GEMS. Hasil akhirnya justru paling seimbang. Mereka tidak memaksa aset tambang bekerja paling keras untuk omzet, tetapi paling piawai menjaga agar aset itu berubah jadi kas bebas. Ini memberi kesan bahwa BYAN paling disiplin dalam menjaga struktur biaya, paling efektif dalam mempertahankan efisiensi operasi, dan paling kuat dalam menahan guncangan harga komoditas. Tidak heran kalau dalam pembacaan kualitas kas, BYAN terlihat paling nyaman.

AADI sendiri tetap menarik karena karakternya khas. Ini perusahaan dengan aset tambang matang yang sudah lama diproduksi, amortisasi besar, dan skala operasi yang paling tinggi di antara tiga nama ini. Itu sebabnya revenue terhadap aset tambangnya paling besar. Tetapi agresivitas capex yang tetap tinggi juga menunjukkan bahwa AADI tidak puas hanya memanen tambang lama. Mereka masih terus memperkuat infrastruktur, armada, dan ekosistem penunjang. Jadi AADI tampil seperti operator besar yang mau menjaga dominasinya dengan tetap berinvestasi. Konsekuensinya, kas bebas yang tersisa memang tidak seefisien BYAN. Namun dari sisi skala operasi dan daya dorong pendapatan, AADI tetap paling menonjol. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

AADI adalah operator besar yang agresif, matang, dan paling keras memaksa aset tambang menghasilkan omzet. BYAN adalah operator yang paling seimbang, paling stabil, dan paling efisien mengubah aset tambang menjadi kas bebas. GEMS adalah operator yang paling ringan belanja modal, paling tersebar geografisnya, tetapi juga paling cepat terasa goyah ketika harga batu bara turun dan biaya operasional menanjak. Jadi kalau investor mencari mesin omzet, AADI paling menonjol. Kalau investor mencari mesin kas, BYAN terlihat paling unggul. Kalau investor ingin memahami siapa yang paling peka terhadap siklus buruk, GEMS memberikan jawabannya.

⛏️ Nilai aset tambang 2025
🔹 BYAN US$405,7 juta
🔹 AADI US$381,4 juta
🔹 GEMS US$289,7 juta
 ▫️ BYAN tertinggi
 ▫️ GEMS terendah

🛠️ Belanja modal vs aset tambang
🔹 AADI 85,1%
🔹 BYAN 42,1%
🔹 GEMS 6,6%
 ▫️ AADI paling agresif
 ▫️ GEMS paling asset-light
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

🚚 Penjualan vs aset tambang
🔹 AADI 12,8x
🔹 BYAN 8,42x
🔹 GEMS 8,33x
 ▫️ AADI paling keras memeras aset jadi omzet

💵 Kas vs aset tambang
🔹 FCF atau arus kas bebas terhadap aset tambang
 ▫️ BYAN 1,98x
 ▫️ AADI 1,40x
 ▫️ GEMS 0,78x
 ▫️ BYAN paling efisien jadi kas

⚠️ Karakter unik
🔹 AADI matang dan terintegrasi
🔹 BYAN paling stabil dan rapi
🔹 GEMS paling ringan modal tapi paling sensitif saat harga coal turun

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/7

testestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$AADI vs $GEMS vs $BYAN LK Full Year 2025: Kompak Laba Anjlok

AADI, GEMS, dan BYAN sama-sama sudah rilis LK Full Year 2025. Kalau dilihat sekilas, kesimpulan paling gampang memang sama. Tiga-tiganya laba turun. Tapi kalau berhenti di situ, investor justru kehilangan inti ceritanya. Yang sedang terjadi bukan kerusakan bisnis, melainkan normalisasi siklus. Harga coal turun, margin ikut turun, laba ikut tertekan. Namun kekuatan operasional, kualitas pelanggan, disiplin ke vendor, dan kemampuan mencetak kas masih sangat kuat. Jadi 2025 ini lebih tepat dibaca sebagai tahun penyesuaian dari puncak harga komoditas, bukan tahun ambruknya fondasi. Yang membedakan ketiganya adalah seberapa tebal bantalan margin, seberapa besar skala pendapatan, seberapa nyaman posisi kas dan utangnya, serta seberapa efisien mereka menerjemahkan revenue menjadi laba dan kas. External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Kalau urut dari ukuran pendapatan, AADI masih paling besar. Pendapatannya sekitar AS$4,91 miliar. Di bawahnya ada BYAN sekitar AS$3,42 miliar. Lalu GEMS sekitar AS$2,41 miliar. Jadi dari sisi skala operasi, AADI adalah pemain paling besar di antara tiga nama ini. Tetapi besar pendapatan tidak otomatis berarti paling efisien. Di sinilah perbandingan mulai menarik. AADI memang memimpin ukuran revenue, namun BYAN lebih unggul dalam ketebalan margin. GEMS berada di posisi paling kecil secara ukuran dan juga paling tertekan secara profitabilitas. Jadi kalau investor hanya mengejar perusahaan paling besar, investor akan condong ke AADI. Tapi kalau investor lebih suka mesin laba yang lebih rapat dan lebih efisien, BYAN justru terlihat lebih menonjol. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Dari sisi penurunan pendapatan, BYAN yang paling tahan banting. Revenue-nya hanya turun tipis dari AS$3,44 miliar ke AS$3,42 miliar. AADI turun lebih terasa dari AS$5,31 miliar ke AS$4,91 miliar. GEMS paling terpukul karena turun dari AS$2,70 miliar ke AS$2,41 miliar. Jadi kalau bicara daya tahan top line, urutannya cukup jelas. BYAN paling stabil, AADI masih relatif tahan, dan GEMS yang paling tertekan. Ini memberi pesan bahwa saat harga coal turun, BYAN masih bisa menjaga volume dan nilai penjualan lebih baik daripada dua pembandingnya. Di sisi laba bersih, pola ini juga masih terasa walaupun tidak persis sama. AADI laba bersih turun dari AS$1,32 miliar ke AS$849,1 juta. BYAN turun dari AS$943,3 juta ke AS$784,0 juta. GEMS turun dari AS$483,1 juta ke AS$259,7 juta. Kalau dibaca secara absolut, penurunan AADI paling besar karena basisnya juga paling tinggi. Tetapi kalau dibaca dari ketahanan hasil akhir, BYAN tetap terlihat paling kuat dan GEMS paling tertekan.

Lalu masuk ke margin. Ini bagian yang paling cepat menunjukkan siapa yang paling berkualitas saat siklus komoditas tidak bersahabat. BYAN masih mencetak margin laba bersih sekitar 22,8%. AADI sekitar 17,2%. GEMS sekitar 10,7%. Tiga-tiganya masih untung tebal kalau dibanding banyak industri lain, tetapi jelas ada jarak kualitas. BYAN berada di lapisan paling atas karena dari tiap dolar penjualan, laba bersih yang tertinggal masih paling banyak. AADI masih sangat sehat, hanya tidak setebal BYAN. GEMS masih layak disebut profitable, tetapi penyangganya paling tipis. Ini penting karena saat harga komoditas makin lemah, perusahaan dengan margin paling tipis akan paling cepat terasa tekanannya. Jadi kalau investor mencari bantalan paling tebal untuk menghadapi siklus turun, BYAN terlihat paling nyaman.

Kalau dilihat dari struktur bisnis, sebenarnya ketiganya sangat mirip. Ketiganya hidup hampir sepenuhnya dari batu bara. AADI memperoleh sekitar 95,3% revenue dari batu bara dan sisanya logistik. BYAN bahkan sekitar 99,4% murni dari batu bara. GEMS sekitar 99,7% juga dari batu bara. Jadi dari sisi diversifikasi, hampir tidak ada yang bisa disebut benar-benar tersebar. Semuanya tetap pemain batu bara. Artinya nasib mereka pada 2025 memang sangat ditentukan oleh harga coal global. Ini menjelaskan kenapa pola penurunannya juga bergerak dalam arah yang sama. Bukan karena ada masalah manajemen yang aneh-aneh, bukan karena pelanggan lari, dan bukan karena vendor marah. Sumber tekanannya jelas, yaitu harga jual komoditas yang lebih rendah dari tahun sebelumnya.

Sekarang pindah ke arus kas operasi atau CFO. Di sinilah investor bisa melihat apakah penurunan laba itu hanya angka akuntansi atau benar-benar menghantam kas. Ketiganya masih sanggup mencetak CFO besar. AADI dan BYAN tetap berada di level ratusan juta sampai miliaran dolar, sedangkan GEMS masih di level ratusan juta dolar. Tetapi secara karakter, BYAN paling nyaman karena kombinasi profitabilitas dan posisi neracanya paling bersih. AADI juga sangat kuat karena skala operasinya besar dan kasnya masih sangat memadai. GEMS masih oke, tapi terasa paling sempit ruang geraknya karena posisinya tidak senyaman dua nama lain. Dari sini terlihat bahwa penurunan siklus 2025 belum membuat ketiganya kehilangan kemampuan menghasilkan uang tunai. Hanya saja tebal tipisnya bantalan kas memang berbeda.

Kalau soal utang, gambarnya malah makin jelas. BYAN paling bersih karena sudah melunasi seluruh utang bank. Kas sekitar AS$574,5 juta dan utang bank nol membuat BYAN masuk posisi net cash absolut. Ini status paling nyaman di antara tiga emiten ini. AADI juga sangat mampu. Utang bank sekitar AS$378,8 juta, sementara kasnya jauh di atas kebutuhan jangka pendek dan cukup untuk menutup utang bank dengan sangat aman. GEMS memang paling tidak nyaman kalau dibanding dua lainnya, karena kas sekitar AS$112,1 juta sedikit di bawah utang bank sekitar AS$133,8 juta. Tetapi ini tetap bukan situasi yang menakutkan karena selisihnya kecil dan bisa dengan mudah ditutup oleh arus kas operasi kurang dari satu tahun. Jadi kalau urut dari neraca paling bersih sampai paling ketat, BYAN di posisi pertama, AADI kedua, dan GEMS ketiga. Namun bahkan yang ketiga pun masih jauh dari kata berbahaya. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Lalu soal kualitas pelanggan. Ini justru salah satu titik terbaik dari ketiganya. Ketiganya hampir tidak punya masalah pelanggan bandel yang material. AADI dari total piutang usaha AS$516,4 juta hanya punya tunggakan lebih dari 90 hari sekitar AS$17,1 juta atau sekitar 3,3%. BYAN lebih rapi lagi. Dari piutang usaha AS$258,2 juta, yang menunggak lebih dari 90 hari hanya sekitar AS$525 ribu atau 0,2%. GEMS juga bersih, dengan tunggakan lebih dari 3 bulan sekitar AS$1,5 juta dari total piutang AS$240,0 juta atau sekitar 0,6%. Kalau dilihat dari kualitas tagihan, BYAN paling bersih, lalu GEMS, lalu AADI. Tetapi semuanya masih ada di level yang sangat aman. Artinya penurunan laba mereka sama sekali bukan akibat pelanggan gagal bayar. Ini poin penting karena berarti masalah 2025 bukan datang dari kualitas bisnis yang memburuk, melainkan dari harga jual komoditas.

Hubungannya dengan vendor juga relatif sehat. Ketiganya tidak terlihat menahan pembayaran vendor secara agresif seperti perusahaan yang sedang sesak napas. AADI menjadwalkan utang usahanya dalam rentang normal. BYAN juga mengelola utang dagangnya tanpa tanda penundaan besar. GEMS yang paling jelas datanya menunjukkan mayoritas utang usahanya belum jatuh tempo, dan yang lewat lebih dari 3 bulan hanya sekitar AS$12,6 juta atau sekitar 4% dari total utang usaha. Ini memberi sinyal bahwa rantai pasok mereka tetap dijaga. Mereka paham kalau kontraktor tambang, hauling, dan vendor logistik dibayar seret, produksi bisa terganggu. Jadi manajemen modal kerjanya masih tertib. Lagi-lagi ini menegaskan bahwa penurunan laba 2025 bukan berasal dari sistem operasional yang mulai kacau. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau dari sisi persoalan hukum, tidak ada yang benar-benar merusak cerita investasi ketiganya. AADI punya gugatan lahan besar, tapi sudah ditolak di tingkat tinggi dan manajemen merasa tidak material. BYAN punya sengketa pajak, tapi posisi hukumnya sejauh ini masih cukup kuat. GEMS relatif paling bersih dari sisi litigasi besar dan lebih banyak menghadapi penyesuaian regulasi pertambangan biasa. Jadi tidak ada satu pun di antara tiga nama ini yang sedang dibebani bom hukum yang bisa langsung mengubah cerita fundamental mereka.

BYAN terlihat paling rapat, paling stabil, dan paling nyaman dari sisi margin dan neraca. AADI terlihat paling besar, paling dominan dari sisi skala pendapatan, dan tetap sangat kuat walaupun marginnya tidak setebal BYAN. GEMS terlihat paling tertekan, tetapi tetap belum bisa disebut lemah karena masih mampu mencetak laba bersih dua digit margin dan piutangnya tetap sangat bersih. Jadi kalau investor ingin lihat siapa yang paling defensif dalam siklus coal turun, BYAN paling unggul. Kalau investor ingin lihat siapa yang paling besar dan masih sangat sehat, AADI menonjol. Kalau investor ingin lihat siapa yang paling sensitif terhadap penurunan harga coal, GEMS paling terasa dampaknya.

AADI, GEMS, dan BYAN memang sama-sama menunjukkan laba turun pada Full Year 2025. Tapi menyamakan ketiganya begitu saja juga kurang tepat. AADI turun dari basis yang sangat besar namun tetap kokoh. BYAN turun paling tenang dan paling efisien. GEMS turun paling terasa dan paling tipis bantalannya, walau masih sehat. Ketiganya masih sangat layak disebut mesin uang. Yang berubah hanya tingkat ketebalan bantalan mereka saat harga coal tidak lagi semewah tahun sebelumnya. Jadi 2025 ini bukan tahun yang membuat investor meragukan fondasi mereka. Ini lebih seperti tahun yang memperlihatkan siapa yang paling tahan saat angin komoditas tidak lagi meniup sekuat dulu.

🧾 Ukuran bisnis
🔹 AADI revenue AS$4,91 miliar
🔹 BYAN revenue AS$3,42 miliar
🔹 GEMS revenue AS$2,41 miliar
 ▫️ AADI paling besar
 ▫️ GEMS paling kecil

📉 Ketahanan top line dan bottom line
🔹 BYAN paling stabil
🔹 AADI turun lebih terasa
🔹 GEMS paling tertekan
🔹 Laba bersih
 ▫️ AADI AS$849,1 juta
 ▫️ BYAN AS$784,0 juta
 ▫️ GEMS AS$259,7 juta
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

💰 Ketebalan margin
🔹 BYAN NPM 22,8%
🔹 AADI NPM 17,2%
🔹 GEMS NPM 10,7%
 ▫️ BYAN paling efisien
 ▫️ GEMS bantalan paling tipis

🏦 Neraca
🔹 BYAN utang bank nol
🔹 AADI sangat mampu bayar utang
🔹 GEMS paling ketat tapi masih aman

🧠 Kualitas bisnis
🔹 Tiga tiga nya hidup dari coal
🔹 Piutang macet sangat kecil
🔹 Vendor tetap dibayar rapi
🔹 Jadi laba turun bukan karena bisnis kacau
 ▫️ Murni karena harga coal turun

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

@cabuto
Nah, bahkan yg udah di nyatakan sebagai reserve aja masih bisa balik jadi resources, Krn berbagai sebab dan kondisi.
Apalagi yg posisinya memang di nyatakan sebagai resources, tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan, seperti yg di katakan @doraemon.
Resources yg bisa di jadikan reserve, semua punya konsekuensinya, yg ujung2 nya kemungkinan besar akan menggerus laba $ITMG.

Dan perlu di ketahui, saat ini ITMG dgn SR >10 adalah salah satu yg tertinggi SR di bandingkan dgn emiten batbar lainnya.
Karena memang cadangan batubara yg mudah di keruk SDH hampir habis.
Selebihnya dia harus menjangkau lokasi2 yg lebih "sulit" utk di produksi.

Sangat beda dgn $BSSR terutama di AGMnya yg punya SR 2,9-3 saja (rerata SR BSSR 3-3,5)
Ato $BYAN yg SR nya +-4,4 saja.🤔

Sekali lagi saran saya buat Doraemon, belajar lagi ya, jgn baru tahu dikit udah koar2.

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Dua emiten tambang batu bara nasional telah melaporkan kinerja keuangan 2025. Keduanya adalah PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Dari laporan itu, diketahui bahwa performa keuangan dua perusahaan tersebut mengalami penurunan secara tahunan.
Perinciannya, laba ber...

katadata.co.id

katadata.co.id

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah pada perdagangan hari ini, Jumat (6/3/2026). Kendati demikian, IHSG berhasil memangkas koreksi pada akhir sesi 2.
IHSG tercatat turun 124,85 poin atau -1,62% ke level 7.585,69. Sebanyak 581 saham turun, 181 naik,...

www.cnbcindonesia.com

www.cnbcindonesia.com

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara sempat melonjak ke sekitar US$138 per ton pada Selasa atau mencapai level tertinggi sejak November 2024, setelah penghentian operasi yang jarang terjadi di fasilitas gas alam cair (LNG) Qatar meningkatkan permintaan untuk peralihan bahan bakar (fuel switchin...

www.cnbcindonesia.com

www.cnbcindonesia.com

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

@VinnaCaroline udah lama belinya.. cuma baru dijual skrg aja. pas $BYAN SS

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BYAN

TP juga di BYAN ya. nnti kalo dapet tunggu bawah lagi



$BIPI $BUMI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BBNIDRCH6A terbangkaann

$ITMG
$BYAN

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$IHSG
$ITMG
$BYAN

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

info dong katanya $BIPI ada $TAMU dari $BYAN ?

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Kamis (5/3) di zona hijau setelah naik 1,76% ke level 7.710,54.
Penguatan indeks ditopang saham perbankan berkapitalisasi besar seperti Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang naik 3,27%, Bank Mandiri Tbk (BMRI) menguat...

www.cnbcindonesia.com

www.cnbcindonesia.com

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$IHSG ditutup naik 1,76%, mengakhiri penurunan 3 hari berturut-turut. Merubah penutupan yang selalu merah di hari Kamis di 5 minggu terakhir maupun di bulan Februari.
Total transaksi 17,94T tergolong sepi karena jauh di bawah rata rata harian YTD 2026 sekitar 30T.
NFS All Market 210B, 2 hari terakhir.

Hampir seluruh sektor mengalami penguatan kecuali Transport -0,13%.
Top Sector: Cyclical

Top Leaders: $BBCA, BMRI, BBRI
Top Laggards: $BYAN, BREN, FILM

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BYAN skrng harga terendah 1 tahun terakhir

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten milik orang terkaya RI, Dato Low Tuck Kwong, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sepanjang 2025 mencatatkan laba US$784,05 juta, atau turun 16,88 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya di US$943,37 juta.
Sementara laba bersih per saham dasar dan dilusian turun ti...

www.cnbcindonesia.com

www.cnbcindonesia.com

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 4,57% ke level 7.577,06 pada perdagangan Rabu (4/3). Pelemahan terjadi merata, dengan seluruh 11 sektor berakhir di zona merah. Sektor Basic Industry mencatat penurunan terdalam sebesar 7,42%. Namun, pada perdagangan pag...

www.cnbcindonesia.com

www.cnbcindonesia.com

@arsalfadilah bikin sendiri.
dapat ilham dari langit...
untuk cek berita nya , ketik di google ja....

sembarang tag : $BYAN , $BUMI , $GOTO

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

KABARBURSA.COM – Kinerja keuangan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sepanjang tahun buku 2025 mengalami penurunan laba bersih di tengah perubahan komposisi biaya operasional perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan tahunan yang dipublikasikan perusahaan, Bayan Resources membukukan laba bersih sebesar ...

www.kabarbursa.com

www.kabarbursa.com

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

oke lanjut part 31 : beberapa perusahaan sudah mulai publikasi FY-2025 nya. Sekarang kita cek status dan siklus 5 tahunannya. 3 emiten dulu (TEBE, DCII, BYAN)

PT Dana Brata Luhur Tbk ( $TEBE ) bergerak di infrastruktur penunjang batubara seperti hauling road, terminal batubara, dan jasa logistik tambang melalui anak usaha PT Talenta Bumi dan PT Pelabuhan Talenta Bumi

Model bisnis : Infrastruktur logistik batubara
Layanan utama : hauling road, terminal batubara, pelabuhan khusus
Anak usaha : Talenta Bumi, Pelabuhan Talenta Bumi, Talenta Bumi Energi
Pendapatan utama : jasa transportasi batubara & terminal handling
Karakter bisnis : kontrak jangka panjang dengan perusahaan tambang

Sifat bisnisnya:
➡ semi-infrastruktur tambang (asset heavy)
➡ cashflow biasanya stabil jika volume batubara tinggi.

alokasi capex
2021 : pengembangan hauling road & peralatan angkut
2022 : upgrade conveyor dan peningkatan kapasitas terminal
2023 : tambahan armada truck & fasilitas pelabuhan
2024 : optimasi terminal line & peralatan loading
2025 : ekspansi pelabuhan dan integrasi logistik

Artinya ➡ bisnis TEBE sangat capital intensive.

Multiple yang wajar:
10x – 14x TE
Fair Value Jika TEPS 2025 ≈ 115 = 1.150-1.610 per share

fase emiten
2021 Recovery, batubara mulai naik
2022 Expansion, supercycle coal
2023 Mature growth, volume stabil
2024 Stabilization, harga coal turun tapi volume masih kuat
2025 Strategic expansion, integrasi dengan grup baru

Pengendali berubah menjadi bagian dari Jhonlin Group.
Implikasinya:
👍 kemungkinan volume hauling meningkat
👍 potensi kontrak internal group
👍 ekspansi pelabuhan
Ini bullish structural catalyst.

$DCII = Data Center Colocation & Digital Infrastructure
Model bisnis:
- Menyewakan rack / server space di data center
- Menyediakan power, cooling, connectivity
- Colocation untuk: hyperscale cloud, fintech, enterprise, telco, content provider
Karakter bisnis:
- Capex sangat besar
- Margin tinggi
- Recurring revenue jangka panjang
- Kontrak biasanya multi-year
Di public expose disebutkan:
- 119 MW kapasitas IT aktif
- pipeline ekspansi sampai 600 MW dan bahkan >1000 MW di masa depan

Karena DCII adalah Digital Infrastructure Monopoly-like Asset, valuasi normal industri global bisa 25-60x
Namun untuk Indonesia: Fair Multiple DCII = 25-35x
jadi sekitar 7.560-13.230 per share

DCII sangat capex intensive. Strategi manajemen:
1. Modular data center : Bangun kapasitas bertahap → occupancy dulu baru tambah.
2. Hyperscale anchor tenant. Server cloud besar (AWS, Google, dll) biasanya: sewa long term, kontrak besar, Ini membuat utilization cepat naik.
3. Landbank. DCII membeli lahan untuk cluster data center. Contoh: Cibitung, Karawang, Bintan hyperscale campus

siklus capex
2021 Cibitung expansion
2022 hyperscale facility
2023 Karawang DC
2024 Surabaya & Bintan pipeline
2025 hyperscale campus

Kondisi Market Segment
- Cloud demand : sangat kuat
- AI compute : mulai naik
- Hyperscaler : agresif masuk
- Data sovereignty : mendorong local DC
- Indonesia internet growth : tinggi
Kesimpulan, Data center Indonesia = early stage

jadi DCII = kualitas bisnis sangat tinggi
tapi harga saham biasanya sangat premium.
Karakter: digital infrastructure monopoly
mirip: Equinix

next $BYAN , PT Bayan Resources Tbk, integrated coal producer dengan model bisnis:
- Coal mining (Kalimantan Timur & Selatan)
- Coal hauling & infrastructure (jalan hauling, barge, port)
- Coal logistics & transshipment
- Export coal sales (China, India, ASEAN)

Karakter utama bisnis BYAN:
- Low cost producer
- Infrastruktur logistik sendiri
- Margin sangat sensitif harga batubara global

strategi Capex
2021 Infrastruktur hauling, menyiapkan volume produksi besar
2022 Tambang + equipment, ekspansi saat harga coal tinggi
2023 Port & logistic, meningkatkan kapasitas ekspor
2024 Overburden removal, menjaga strip ratio & produksi
2025 Fleet & efficiency, menurunkan cost per ton

Strategi BYAN sangat khas:
Capex saat coal mahal → harvest cash saat coal turun
Ini alasan cash BYAN sangat besar dan sering membayar dividen besar.

fase emiten
2021 Early boom, ekspansi produksi, coal naik
2022 Supercycle peak, laba ekstrem, krisis energi global
2023 High cycle, laba masih tinggi, demand China kuat
2024 Normalisasi, margin turun, harga stabil
2025 Mid cycle, stabil, ASP turun
2026 Efficiency phase, fokus cost, coal supply normal

Berdasarkan guidance Public Expose:
Produksi: 68 MT FY2025 → target stabil 2026
Risiko utama:
- Harga batubara global
- Kebijakan energi China / India
- Strip ratio meningkat
- ESG pressure terhadap coal
Positif:
- Cost BYAN sangat rendah
- Infrastruktur logistik sendiri
- Net cash company

valuasi
True Earning Per Share ≈ $0.021 – $0.025 = sekitar $0.115 - $0.23 per share

kesimpulan BYAN :
Business quality : sangat kuat
Balance sheet : net cash
Cyclicality : sangat tinggi
Dividend potential : tinggi
Growth : terbatas
BYAN = cash cow cyclical

Read more...

@didikagussusilo 😁

$GEMS, $BYAN, $UCID

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mncatat laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$767,91  juta (US$0,023 per saham) pada 2025, turun 16,77% jika dibandingkan US$922,64 juta (US$0,028 per saham) pada 2024.
Berdasarkan laporan keuangan Desember ...

stockwatch.id

stockwatch.id

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

IDXChannel – PT Bayan Resources Tbk (BYAN) membukukan laba bersih sebesar USD784,05 juta sepanjang 2025. Capaian tersebut turun 16,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD943,37 juta.
Sejalan dengan penurunan laba, laba bersih per saham dasar dan dilusian emiten batu b...

www.idxchannel.com

www.idxchannel.com

ceo $BYAN : nak km Belio saham $**** nanti secepatnya dikerek menuju 3k, nanti papa suruh shifu dan jendral2 dragonfams kerek
anak ceo : udah pa.. kapan diberangkatin shifu dkk?
shifu : woh Tenang ko, segera pokoknya mah apalagi batubara abis ini prospeknya bagus, apalagi didukung kedepan $IHSG jadi sasaran investor2 besar dunia soalnya termasuk 7 negara teraman

like 100 shifu bocorin saham apa yg $****

YTTA
yang teler teler aja
😂🤣🤣🤣🤣

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Gambar 1 : Indonesia Stock HeatMap
Gambar 2 : Nasdaq 100 Stock HeatMap
Gambar 3 : Shenzhen Stock HeatMap
Apa neh yang kalean paling nyangkut dalem ?
$IHSG $BMRI $BYAN

1/3

testestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

JAKARTA – PT Bayan Resources Tbk (BYAN) membukukan laba bersih US$767,9 juta pada tahun 2025, turun 16,8% akibat harga jual batu bara yang melandai signifikan sepanjang tahun.
Pasalnya, pendapatan BYAN juga relatif stagnan, merosot 0,6% menjadi US$3,4 miliar, meski volume penjualan batu bara naik ...

www.idnfinancials.com

www.idnfinancials.com

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Keluarga Low Muncul di $MAHA: Sinyal Emas atau Sekadar Umpan FOMO? 🚀

Saham PT Mandiri Herindo Adiperkasa Tbk (MAHA) belakangan mulai menarik perhatian pasar, terutama setelah terlihat adanya nama keluarga Low dalam jajaran pemegang saham besar. Publik tentu tidak asing dengan keluarga Low yang dikenal sebagai pengendali PT Bayan Resources Tbk ($BYAN), salah satu raksasa batu bara nasional. Kehadiran nama besar seperti ini secara psikologis memberi sentimen positif, karena pasar cenderung percaya pada rekam jejak, jaringan, dan pengalaman mereka di industri pertambangan.

Secara fundamental, pasar sering membaca keterlibatan investor strategis sebagai sinyal kepercayaan jangka panjang. Bukan hanya soal modal, tetapi juga soal akses, efisiensi operasional, dan potensi sinergi bisnis. Jika benar ada arah penguatan struktur kepemilikan dengan latar belakang grup berpengalaman, maka MAHA bisa saja dipandang bukan sekadar saham lapis dua, melainkan bagian dari ekosistem energi yang lebih besar.

Namun, optimisme tetap harus dibarengi rasionalitas. Jangan setiap ada nama besar langsung merasa ini “tiket emas” yang harus dikejar tanpa hitung-hitungan. Pasar saham bukan arisan keluarga yang pasti kebagian untung. Pergerakan harga tetap ditentukan supply-demand, sentimen komoditas, dan kondisi global. Apalagi sektor batu bara sangat sensitif terhadap harga acuan dan isu geopolitik.

Dan untuk para FOMOers tercinta: kalau baru hijau dua hari lalu langsung panik buy di pucuk, lalu besoknya harga diguyur bandar, jangan salahkan grafik. Saham bukan lomba lari siapa cepat dia dapat. Kadang yang paling tenang justru yang paling selamat. Optimis boleh, tapi masuklah dengan strategi—bukan dengan jantung berdebar dan tombol “buy” yang ditekan sambil merem.

$IHSG

Read more...

1/2

testes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

EmitenNews.com - Bayan Resources (BYAN) sepanjang 2025 mengemas laba USD784,05 juta. Anjlok 16,88 persen dari episode sama tahun sebelumnya dengan level USD943,37 juta. Oleh sebab itu, laba bersih per saham dasar dan dilusian emiten batu bara besutan Low Tuck Kwong tersebut turun tipis menjadi USD0...

www.emitennews.com

www.emitennews.com

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BYAN floting hanya kecil % 🫰🏻

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BYAN
PT Bayan Resources Tbk (BYAN)

Laba dan Pendapatan Menurun: Pendapatan perusahaan turun tipis menjadi US$3.427.576.485, yang berimbas pada turunnya laba bersih menjadi US$784.051.186.

Kewajiban Berkurang Signifikan: Perusahaan berhasil melunasi utang bank jangka pendeknya hingga bersaldo nol. Hal ini mendorong penurunan total liabilitas secara drastis menjadi US$680.460.160.

Modal (Ekuitas) Menguat: Total ekuitas perusahaan meningkat menjadi US$2.694.584.284.

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy