


Volume
Avg volume
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) merupakan perusahaan energi yang terintegrasi secara vertikal di Indonesia dengan bisnis di sektor batubara, energi, utilitas dan infrastruktur pendukung. Disamping itu ADRO juga mempunyai lini bisnis seperti logistik dan ketenagalistrikan yang terintegrasi melalui anak-anak perusahaan dan ketenagalistrikan. Lokasi utama operasional Adaro berada di propinsi kalimantan selatan. Produk utama Adaro adalah Environcoal, batubara termal dengan kadar polutan yang rendah. Adaro Energy juga memiliki aset batubara metalurgi yang beragam mulai dari batubara kokas semi lunak sampai batubara kokas... Read More
$HMSP guys Tanya dong saham ini saham kayaknya bagus rajin bagi Deviden juga, cuma Free float nya 7.5℅ .
apa kedepan saham nya akan longsor karna akan banyak saham yg dijual untuk ngejar FF 15%.
Random tag
$ADRO $BUMI
$IMPC Apa ini yang di maksud dengan saham gorengan ??
$BBRI $ADRO
https://cutt.ly/3tQL2gvk
drama MSCI & FTSE nya udah kelar kan..?
waktu nya $EMTK kejar MSCI tahun ini.
Free Float sudah terpenuhi ✓
Likuiditas Tinggi ✓
Keuangan Stabil ✓
Cash Besar ✓
Kepemilikan Jelas ✓
Fundamental Bisnis Di Industrinya Kuat ✓
dan yang paling penting ada The Vanguard & BlackRock🚀
-Bukan Pom-Pom, tapi fakta nya memang seperti itu.
Random : $AADI & $ADRO
pendapatan per Quartal dan dividen gak seberapa tapi $RMKE buang putus emiten² kyk $BBRI dan $ADRO.... memang memang pasar modal kita itu lucu sekali🤣... bagi yang merasa gak suka skip aja😁
.
Blank Spot
Serumit-rumitnya ngulik saham yg indikatornya seabrek di Stockbit, jauh lebih rumit ngulik pasar hutang yang remang temaram, kadang malah gelap gulita. Salah meraba bentuk, maka bisa kaget dan tersengat.
Saham itu hanyalah turunannya saja 🤭
Pasar modal kini kan sudah menjadi profesi umum, inget profesi, bukan sambilan atau sampingan.
Memaknai sebuah profesi, saham adalah perang analisa atas tumpukan data.
Selepas menghabiskan setengah batamg rokok berbuka, pikiran ini mengingatkan lagi,
“Siapa menguasi Informasi, dia akan menggenggam Dunia”
Maka ga heran kalo ada sekolah/kursus saham, dan berbayar tidak murah, mungkin supaya audiens lebih menghargai informasi. Klo gratisan audiens cenderung meremehkan.
Tinggal kualitas informasinya saja yang ditaksir layak untuk dihargai berapa.
Namun begitupun, kita tetap akan dihadapkan pada yg disebut Blank Spot seperti uraian awal di atas.
Dan tenang saja, apapun ekspektasi tetap akan disinggahi “keberuntungan” atau minimal belas kasihan, pasti belas kasihan yang masuk akal, atas perhitungan untung rugi yang terbit dari blank spot tadi.
Rumit, maka ak memilih biasa-biasa saja 😊
$IHSG $AMMN $ADRO
$AADI $ADMR $ADRO https://cutt.ly/jtQKbAbu
"Seseorang bisa duduk di tempat teduh hari ini, karena ia telah menanam pohon di masa lalu..."
$ADRO
$ANTM
$PSAB
Membedah Fundamental Valuasi Melalui Lensa McKinsey 🏛️ - part 2
2. Hukum Konservasi Nilai
Melanjutkan kerangka analitis sebelumnya, Hukum Konservasi Nilai (Conservation of Value) adalah prinsip ekuivalensi mutlak dalam corporate finance. Jika ROIC dan Growth adalah "mesin" pencetak nilai, maka Konservasi Nilai adalah "hukum" yang menjaga agar pasar tidak tertipu oleh ilusi optik.
Prinsip ini berakar kuat pada Teorema Modigliani-Miller (M&M), yang secara esensial menyatakan bahwa nilai intrinsik suatu entitas murni ditentukan oleh kapasitas asetnya dalam menghasilkan arus kas bebas (Free Cash Flow), bukan dari bagaimana arus kas tersebut dikemas, dibagi, atau dicatat secara akuntansi.
Mari kita bedah mekanika dari hukum ini dalam praktik profesional dan eksekusi korporasi:
A. Analogi "Kue Arus Kas" dan Ilusi Struktur Modal
Bayangkan total arus kas masa depan perusahaan sebagai sebuah kue pie. Hukum Konservasi Nilai menegaskan bahwa Anda tidak bisa memperbesar ukuran kue tersebut hanya dengan memotongnya menjadi lebih banyak bagian atau mengubah cara Anda membagikannya.
Ketika manajemen melakukan rekayasa struktur modal, misalnya dengan menerbitkan utang baru (debt) untuk menebus saham (equity buyback). mereka pada dasarnya hanya mengubah "siapa" yang memiliki klaim atas kue tersebut. Pemegang saham yang tersisa mungkin akan melihat metrik Earnings Per Share (EPS) mereka melonjak tajam karena jumlah lembar saham beredar menyusut. Namun, secara bersamaan, profil risiko dari sisa ekuitas tersebut meningkat tajam akibat beban utang (leverage) yang lebih tinggi. Pasar yang rasional akan langsung merespons dengan menurunkan valuasi kelipatan (P/E ratio), sehingga total nilai intrinsik perusahaan (Enterprise Value) tetap terkonservasi atau tidak berubah. Nilai hanya bisa tercipta jika utang tersebut memberikan perlindungan pajak riil (tax shield) yang secara harfiah menambah cash flow baru, bukan dari efek mekanis kenaikan EPS.
B. Kekebalan Pasar Terhadap Ilusi Akuntansi (Accounting Optics)
Buku McKinsey dengan sangat tegas membuktikan bahwa pasar modal (smart money) jauh lebih cerdas daripada angka-angka bottom line di laporan laba rugi. Perubahan kebijakan akuntansi yang memanipulasi laba bersih tetapi tidak menyentuh arus kas riil sama sekali tidak akan mendistorsi valuasi. Terdapat dua preseden historis yang menjadi studi kasus utama:
- Penghapusan Amortisasi Goodwill (FASB 142): Pada awal tahun 2000-an, standar akuntansi AS (US GAAP) mengubah aturan pelaporan. Perusahaan tidak lagi diwajibkan untuk mengamortisasi (menyusutkan) goodwill dari akuisisi masa lalu secara berkala. Akibatnya, secara instan, laba bersih ratusan perusahaan multinasional melonjak drastis karena beban non-kas tersebut hilang dari laporan laba rugi. Namun, apakah harga saham mereka ikut meledak? Tidak. Pasar mengabaikan lonjakan laba bersih tersebut karena arus kas riil (Free Cash Flow) yang dihasilkan dari operasi perusahaan tidak berubah satu sen pun.
- Pencatatan Opsi Saham Karyawan (Employee Stock Options / ESO):
Di masa lalu, perusahaan teknologi sering memberikan kompensasi berupa opsi saham kepada karyawan tanpa mencatatnya sebagai beban di laporan laba rugi, sehingga laba terlihat sangat besar. Ketika regulator memaksa agar opsi saham ini dicatat sebagai beban (expense), laba akuntansi perusahaan-perusahaan ini anjlok seketika. Namun, valuasi saham mereka tidak runtuh. Mengapa? Karena pasar sudah mendiskontokan (memperhitungkan) efek dilusi dari opsi saham tersebut jauh sebelum aturan akuntansi itu diubah. Sekali lagi, nilai terkonservasi pada level fundamental kas dan kepemilikan riil, bukan pada tinta laporan laba rugi.
C. Mitos Penciptaan Nilai melalui Merger & Akuisisi (M&A)
Hukum Konservasi Nilai menjadi pisau analisis paling tajam untuk membongkar kesesatan berpikir dalam aksi korporasi M&A. Banyak bankir investasi mempresentasikan skenario merger yang EPS-accretive (langsung menaikkan laba per saham entitas gabungan) sebagai bukti penciptaan nilai.
McKinsey membongkar bahwa menggabungkan dua perusahaan, Perusahaan A dan Perusahaan B tidak akan pernah menciptakan nilai sepeser pun kecuali penggabungan tersebut menghasilkan arus kas baru yang tidak bisa dihasilkan jika keduanya berdiri sendiri (Sinergi Arus Kas).
Jika Perusahaan A mencaplok Perusahaan B murni untuk memperbesar ukuran perusahaan, namun A membayar harga akuisisi (termasuk premi) yang persis sama dengan nilai sekarang (Present Value) dari arus kas B, maka transaksi tersebut memiliki Net Present Value (NPV) = Nol. Laba bersih gabungan mungkin terlihat masif, pendapatan (top line) meroket, tetapi tidak ada satu pun value baru yang tercipta bagi pemegang saham Perusahaan A. Bahkan, jika A membayar premi terlalu mahal (overpay), nilai justru dihancurkan, karena A mentransfer sebagian "kue" milik pemegang sahamnya kepada pemegang saham B.
Bagi seorang analis profesional, Hukum Konservasi Nilai mengajarkan disiplin yang sangat ketat: Financial engineering (rekayasa keuangan), stock splits (pemecahan saham), spin-offs yang tidak mengubah operasi, atau perubahan metode pencatatan inventaris yang tidak berdampak pada pajak, secara absolut bukanlah mesin pencipta nilai.
Satu-satunya cara manajemen dapat memperbesar "kue" valuasi adalah dengan kembali ke formula dasar: memotong biaya operasional riil, menaikkan harga jual tanpa kehilangan volume (pricing power), berinvestasi pada proyek dengan ROIC tinggi, atau membuang aset mati untuk mengembalikan kas kepada pemegang saham. Di luar itu, semuanya hanyalah kosmetik.
poin selanjutnya akan dibahas di part 3
random tag: $BMRI $ANTM $ADRO

$BSSR
Anggap saat ini kamu gak punya pegangan dan simpanan uang sama sekali,😰 Mungkin karena ada yg salah dalam perjalanan hidupmu.
Tapi kalo kamu SDH sadar dan punya tekat, shg mulai saat ini tiap bulan akan sisikan rp.3.000.000 secara konsisten dan disiplin utk di investasikan dgn return +-15% pertahun selama 20 tahun, maka kamu akan pensiun sebagai milyarder setelah 20 tahun kemudian.🤔
20 tahun kalo di pikirkan memang cukup lama, tapi kalo di jalankan, bahkan kita sudah melalui lebih dr 20 tahun di dunia ini, dgn sia2 tanpa jadi milyarder.
Apakah masih akan menyia-nyiakan kan waktu 20 tahun yang akan datang???🤔
Pilihan ada di tanganmu, mau pensiun sebagai milyarder nanti? Ato masih suka dgn kondisi tanpa uang di pegangan tangan seperti saat ini??🤔🤭
$ADRO $BBRI

@akhmadfajri Okey… Siyap, sudah Hold ketiga emiten $ADRO, $TLKM, $ASII tsb, hanya TLKM yg masih perlu diperbanyak nyicil Buy..🫢🙏🏻
Baca deh post IG gw @theturtleinvesting mengenai Delayed Gratification, yg menurut gw sering disalahartikan dan diglorifikasi.
Boleh ga setuju.
$ADRO $AADI $ADMR
Diskusi di Klub Eksklusif: Munger, Fisher, dan Surat Rekomendasi "Panas"
Di sebuah sudut perpustakaan kayu yang harum aroma cerutu di Omaha, Charlie Munger duduk dengan kacamata tebalnya. Di hadapannya, Phil Fisher yang sudah sepuh namun tetap tajam, sedang menyesap teh.
Seseorang datang membawa sebuah selebaran Newsletter yang sedang viral di kalangan pialang. Isinya penuh dengan seruan tentang "Momentum Indeks", strategi menebak langkah "Syndicate", dan angka-angka fantastis dari tiga perusahaan: Coal-Corp, Tele-Link, dan Mining-Star.
Sang Realis Menatap Lembaran Faksimili
Charlie Munger mengambil lembaran tersebut, membacanya sekilas, lalu mendengus. Ia melepaskan kacamatanya dan menatap Anda dengan tajam.
"Anak muda," kata Munger dengan suara parau namun tegas. "Dunia ini tidak pernah berubah. Dulu namanya Bucket Shops, sekarang mereka menyebut dirinya 'Pakar Momentum'. Kamu membawa angka-angka dari Coal-Corp dan Mining-Star yang membuat saya mual. PBV 20 kali untuk perusahaan penggali lubang? PER 500? Itu bukan investasi. Itu adalah bentuk kegilaan massal yang sering saya lihat sebelum kehancuran." Ia menunjuk pada catatan arus kas (Free Cash Flow) yang negatif.
"Di Berkshire, kami mencari perusahaan yang menghasilkan kas, bukan yang memakan modal hanya untuk mengejar hantu bernama 'Indeks Global'. Jika kamu membeli Tele-Link yang kehilangan uang hanya karena berharap ada dana pensiun atau indeks besar yang akan membelinya darimu di harga lebih mahal, kamu sedang melakukan Greater Fool Theory—mencari orang yang lebih bodoh darimu untuk menampung barang rongsokan."
Sang Penjelajah Mencari Bukti Lapangan
Phil Fisher ikut condong ke depan. Ia lebih tertarik pada klaim "Inovasi Masa Depan" yang ditulis dalam buletin tersebut.
"Saya selalu mencari perusahaan yang tumbuh berlipat-lipat," ujar Fisher lembut. "Tapi saya tidak mencarinya dari mulut seorang penulis newsletter yang mencari langganan. Saya mencarinya dengan teknik Scuttlebutt—bertanya pada mantan karyawan dan kompetitor."
Fisher mengetuk bagian tulisan tentang sektor energi.
"Inovasi di Coal-Corp? Itu hanya komoditas yang digali dari tanah. Jika 'inovasi' itu hanya kata-kata subjektif dari seorang pialang, maka itu bukan inovasi—itu propaganda. Saya ingin tahu: apakah manajemen Tele-Link punya rencana konkret untuk menurunkan biaya per pelanggan? Jika laba mereka masih negatif, berarti rencana itu hanya ada di atas kertas. Saya tidak membeli 'harapan' yang diketik rapi di mesin tik; saya membeli pertumbuhan yang terbukti oleh operasional."
Munger kembali menyela dengan senyum kecut.
"Anak muda, penulis surat ini bilang 'Jangan jadi penjudi'. Tapi ironisnya, dia mengajakmu duduk di meja paling panas dengan menyebut-nyebut soal 'Syndicate' dan 'Momentum'. Jika kamu harus tahu apa yang dilakukan para manipulator pasar untuk merasa aman, berarti kamu tidak memiliki kendali atas nasibmu sendiri."
Munger melipat kertas itu dan mengembalikannya kepada Anda.
"Membayar harga setinggi itu untuk Mining-Star yang arus kasnya macet itu seperti mencoba membeli sekeranjang udara dengan harga emas. Biarkan para pemain spekulasi itu menari selama musik masih berbunyi. Tapi ingat, saat musik berhenti, tidak ada kursi untuk mereka semua."
Sebelum pengantar newsletter itu pergi, Fisher memberikan satu nasihat terakhir:
"Investasi yang hebat adalah saat kamu bisa tidur nyenyak karena tahu bisnisnya berkembang, bukan karena kamu harus menunggu telepon dari pialangmu tentang pengumuman indeks. Jika tesis investasimu hancur hanya karena sebuah institusi batal membeli saham tersebut, maka sejak awal kamu tidak pernah memiliki tesis investasi."
Munger mengangguk setuju. "Ingat, investasi itu seharusnya membosankan. Jika kamu merasa sangat bersemangat karena 'momentum', kamu sedang berjudi. Dan bandar kasino selalu menang pada akhirnya."
---
Jakarta, Sabtu pagi 22 tahun kemudian. Seorang pengusaha muda membuka aplikasi sahamnya sambil menyeruput kopi. Notifikasi berdering—postingan baru dari "Ketua Komunitas Saham Konglo Index Global".
Pengusaha itu membaca dengan semangat. Momentum. Cerita. Tujuan Bandar. Kata-kata yang memabukkan. Bursa sudah finalisasi dengan Index Provider Global. "Telecom Blue" akan terbang. Waktunya masih lama, tapi harus masuk sekarang.
Dia hampir menekan tombol buy.
Tapi kemudian dia teringat—dua minggu lalu, di perpustakaan sebuah universitas tua, dia menemukan buku Common Stocks and Uncommon Profits yang usang. Di dalamnya, secarik kertas: catatan tangan seseorang yang pernah bertemu Charlie Munger di Omaha, 2003.
"Invert, always invert," tulis si penulis tak dikenal. "Kalau semua orang melihat momentum, lihat apa yang bisa salah."
---
Pengusaha itu menutup aplikasi. Bukan karena ragu, tapi karena mulai bertanya dengan cara yang berbeda.
Kalau Index inclusion memang game-changer, kenapa yang keluar dari index justru "Consumer Empire"—konglomerat dengan fundamental lebih solid daripada "Black Gold Conglomerate"?
Dia menggali lebih dalam. Bukan ke postingan influencer lain, tapi ke laporan tahunan. Free float. Struktur kepemilikan. Siapa sebenarnya yang mengendalikan saham ini?
Yang dia temukan membuatnya diam.
"Telecom Blue." Merger anak usaha—capex 5G menghantui. Pricing power terbatas. Regulasi yang makin ketat. Index inclusion tidak mengubah satu pun dari ini.
"Black Gold Conglomerate." Sumber daya alam. Siklus komoditas. Dua dekade lalu harganya empat kali lipat, sekarang seperempatnya. Konglomerat di belakangnya punya reputasi—reputasi pinjaman dengan jaminan saham, dan dana hasil utang diputar kembali untuk membeli saham yang sama, menciptakan kenaikan artifisial yang tampak sehat.
"Energy Service Red." Jasa minyak. Harga minyak global volatil. Kontrak bergantung pada kebijakan BUMN yang bergonta-ganti direksi.
---
Minggu malam. Pengusaha itu kembali ke catatan tua itu. Halaman berikutnya, ada quote Phil Fisher yang dia salin ulang:
"The stock market is filled with individuals who know the price of everything but the value of nothing."
Dia tersenyum pahit. Influencer itu tahu harga "Telecom Blue" naik 12% minggu ini. Tapi apa value yang dia beli? Cerita. Ekspektasi. Perasaan menjadi "orang dalam" yang tahu tujuan bandar.
Fisher akan bertanya langsung—kalau dia masih hidup, mungkin ia akan menghubungi investor relations—Apa yang terjadi dengan free float structure "Telecom Blue"? Siapa pemegang saham di balik nominee accounts? Bagaimana R&D mereka untuk revenue stream di luar legacy telecom?
Scuttlebutt. Grapevine method. Fakta dari tanah, bukan narasi dari udara.
---
Senin pagi. Pengusaha itu tidak membeli "Telecom Blue."
Bukan karena dia yakin harganya akan turun. Tapi karena dia tidak tahu—dan yang lebih penting, karena dia menyadari incentive di balik rekomendasi itu.
Influencer sudah beli. Postingan itu bukan analisis. Itu position management. Cari exit liquidity. Framing dengan bahasa yang membuat pengikut merasa bodoh kalau bertanya, "Tapi fundamentalnya gimana?"
Munger akan melihat ini sebagai immunization strategy—vaksinasi terhadap akuntabilitas. Kalau salah: kamu tidak baca dengan teliti. Kalau benar: saya sudah bilang.
---
Di sebuah kafe yang sunyi, Andi duduk termenung di depan laptop. Matanya masih menatap layar, membaca ulang postingan seorang influencer saham yang baru saja ia simpan. Kata-kata itu terasa begitu meyakinkan. Andi merasa terpanggil. Ia sudah membuka aplikasi trading, siap mengeksekusi. Tapi sebelum jarinya menekan tombol beli, tiba-tiba ponselnya berdering. Seorang teman lama, Pak Tanto, mengajaknya bertemu. Pak Tanto adalah investor tua yang dikenal bijak, sering bercerita tentang Charlie Munger dan Phil Fisher.
Setengah jam kemudian, mereka duduk berhadapan. Andi tak bisa menahan diri, ia langsung mengeluarkan ponsel dan menunjukkan postingan itu. "Pak, ini menurut Bapak gimana? Kelihatannya masuk akal, kan? Ada berita index inclusion global, ada momentum, sahamnya mulai naik..."
Pak Tanto tersenyum, mengambil ponsel itu, membacanya pelan-pelan. Lalu ia meletakkannya di atas meja, seperti meletakkan sesuatu yang tidak terlalu penting. "Andi," katanya, "coba bayangkan Charlie Munger sedang duduk di kursi ini. Apa yang akan ia katakan?"
Andi mengerutkan kening. "Mungkin dia akan bilang... ini spekulasi?"
"Tepat sekali," jawab Pak Tanto. "Munger selalu bilang, 'Invert, always invert.' Kalau kita balik pertanyaannya: mengapa kita harus membeli saham ini? Bukan karena berita index inclusion global, tapi karena bisnisnya bagus. Apakah Telecom Blue punya keunggulan kompetitif? Apakah manajemennya jujur dan kompeten? Apakah labanya tumbuh konsisten? Kalau kita tidak tahu jawabannya, kita sedang berjudi, bukan berinvestasi."
Andi terdiam. Ia memang tidak tahu banyak tentang Telecom Blue. Yang ia tahu hanya dari berita dan indikator-indikator teknikal.
"Lalu bagaimana dengan Phil Fisher?" tanya Andi penasaran.
"Fisher akan melakukan sesuatu yang disebut scuttlebutt," lanjut Pak Tanto. "Dia akan keluar, mencari tahu sebanyak mungkin tentang perusahaan itu. Ngobrol dengan pelanggannya, dengan mantan karyawannya, dengan pesaingnya. Dia ingin tahu apakah Telecom Blue benar-benar punya cerita bisnis jangka panjang, bukan sekadar cerita pasar. Fisher pernah berkata, 'Investasi terbaik adalah pada perusahaan yang dikelola dengan integritas dan kemampuan luar biasa.' Nah, apakah kita tahu integritas manajemen Telecom Blue?"
Andi menggeleng. "Jadi, berita index inclusion global itu tidak penting?"
"Bukan tidak penting," kata Pak Tanto. "Tapi itu hanya pemanis, bukan inti. Munger dan Fisher akan melihat berita itu sebagai faktor eksternal yang mungkin menarik perhatian, tapi tidak mengubah nilai intrinsik perusahaan. Mereka akan bertanya: apakah perubahan aturan index inclusion global ini benar-benar membuat bisnis Telecom Blue lebih baik? Apakah labanya naik? Apakah produknya lebih laku? Atau hanya sekadar likuiditas? Likuiditas tidak membuat perusahaan lebih berharga."
Pak Tanto mengambil secarik kertas dan mulai mencorat-coret. "Lihat, influencer itu bilang 'index inclusion global lebih mengutamakan likuiditas daripada fundamental'. Nah, bagi Munger, itu justru peringatan. Dia akan bilang: jangan ikut-ikutan pasar yang sibuk dengan likuiditas. Fokuslah pada value yang sebenarnya, yaitu bisnis itu sendiri. Kalau kamu membeli saham hanya karena likuiditas, kamu seperti membeli tiket lotre."
Andi mulai paham. "Tapi dia juga bilang bahwa orang luar bisa berpikir seperti bandar kalau tahu tujuan mereka. Itu menarik, Pak."
Pak Tanto tertawa kecil. "Bandar itu punya tujuan jangka pendek: mengumpulkan uang dari orang lain. Tapi Munger dan Fisher? Mereka tidak ingin menjadi bandar. Mereka ingin menjadi pemilik bisnis. Mereka membeli perusahaan seperti membeli rumah: mereka ingin tinggal di situ puluhan tahun. Jadi, berpikir seperti bandar justru menjauhkan kita dari prinsip investasi sejati. Ingat kata Munger: 'Kesabaran adalah kunci. Keuntungan besar datang dari menunggu, bukan dari berspekulasi.'"
Andi menatap layar ponselnya lagi. Postingan itu masih sama, tapi kini terasa berbeda. "Jadi, bagaimana kalau saya tetap ingin membeli Telecom Blue? Tapi dengan cara yang benar?"
"Baik," kata Pak Tanto. "Ayo kita lakukan simulasi kecil. Andaikan kita adalah Phil Fisher. Apa yang ingin kita ketahui tentang Telecom Blue?"
Mereka pun mulai berdiskusi. Pak Tanto mengajukan pertanyaan-pertanyaan khas Fisher: Bagaimana pertumbuhan pelanggan Telecom Blue dalam lima tahun terakhir? Apakah mereka punya teknologi yang lebih unggul dari pesaing? Siapa direktur utamanya, dan apa reputasinya? Bagaimana manajemen modal kerjanya? Apakah ada indikasi masalah tata kelola seperti perusahaan-perusahaan lainnya yang bergantung pada momentum dan cerita index inclusion global?
Andi mencoba mencari informasi cepat di internet, tapi banyak yang tidak ia temukan. "Wah, ternyata susah ya, Pak. Butuh riset lama."
"Nah, itu dia. Munger bilang, 'Jika kita tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan yakin, kita berada di luar lingkaran kompetensi kita. Lebih baik lewati.' Dan ingat, dia juga bilang: 'Tidak ada yang namanya investasi yang mudah. Kalau mudah, semua orang kaya.' Jadi, kalau kamu tidak punya waktu atau kemampuan untuk riset sedalam itu, lebih baik beli reksa dana indeks."
Andi menghela napas. "Berarti influencers ini... menyesatkan?"
"Tidak selalu," jawab Pak Tanto. "Dia memberi informasi tentang momentum, itu fakta. Tapi dia mengajakmu untuk fokus pada hal yang salah. Mungkin dia sendiri percaya pada pendekatan itu, mungkin juga tidak. Yang jelas, Munger dan Fisher akan menertawakan gagasan bahwa kita bisa menebak arah bandar. Mereka akan bilang: pasar itu acak dalam jangka pendek, tapi dalam jangka panjang, harga akan mengikuti nilai. Jadi, jangan buang waktu mencoba memprediksi gerak-gerik bandar. Luangkan waktu untuk memahami bisnis."
Matahari mulai condong ke barat. Andi menutup laptopnya. "Terima kasih, Pak. Saya jadi ingat pepatah Munger: 'Jangan pernah bingung antara kebodohan dengan kejahatan.' Mungkin influencer ini tidak jahat, tapi ia membuat orang bodoh dengan mengalihkan perhatian dari hal yang benar-benar penting."
Pak Tanto mengangguk puas. "Kamu cepat belajar. Ingat, investasi itu sederhana, tapi tidak mudah. Selalu kembali ke dasar: bisnis, manajemen, harga. Abaikan noise. Dan kalau ada yang bilang 'ini momentum besar', tanyakan pada diri sendiri: apakah ini benar-benar mengubah nilai perusahaan? Kalau tidak, mungkin lebih baik duduk tenang dan membaca laporan tahunan."
Mereka berpisah. Dalam perjalanan pulang, Andi membuka aplikasi trading, lalu menutupnya lagi. Ia memutuskan untuk membaca laporan keuangan Telecom Blue malam itu. Bukan karena ingin cepat kaya, tapi karena ingin menjadi pemilik bisnis yang cerdas. Dan ia tahu, itu perjalanan panjang, bukan lari sprint.
Di kafe tadi, secangkir kopi masih tersisa. Di meja, ponsel Pak Tanto bergetar. Sebuah pesan dari Andi: "Pak, saya sudah baca laporan tahunan Telecom Blue. Ternyata labanya turun tiga tahun berturut-turut. Mungkin memang bukan saham untuk saya. Terima kasih sudah menyelamatkan saya dari jebakan momentum."
Pak Tanto tersenyum. Dalam hatinya, ia membayangkan Charlie Munger dan Phil Fisher sedang mengangguk pelan dari kejauhan.
---
Tiga bulan kemudian. "Telecom Blue" naik 8%, lalu turun 15% saat laporan keuangan menunjukkan margin tekanan 5G yang lebih berat dari ekspektasi. "Black Gold Conglomerate" mengikuti harga komoditas global—naik turun tanpa pola yang bisa diprediksi dari "momentum Index Global."
Pengusaha itu tidak merasa jenius karena tidak ikut. Dia hanya merasa... bebas. Dari kebutuhan menebak tujuan bandar. Dari anxiety kalau "cerita" tidak berjalan sesuai script. Dari spiral komunitas yang melabel skeptis sebagai "penyebar ketakutan."
---
Di margin catatan tua itu, dia menulis sendiri sekarang:
"Momentum adalah opium untuk trader yang lelah memikirkan bisnis. Index inclusion adalah lagging indicator liquidity, bukan leading indicator value. Dan ketika semua orang di komunitas yang sama melihat hal yang sama, tidak ada edge—hanya crowd."
---
Prinsip Fisher mengajak pengusaha itu bertanya: "Apa yang kamu pelajari?"
Jawabannya: "Saya belajar bedain information dan knowledge. Finalisasi dengan Index Provider adalah information. Tapi knowledge adalah: inclusion tidak mengubah cash flow, reputasi konglo tidak mengubah GCG, dan 'waktu masih lama' itu admission of speculation, bukan investment."
Lalu ia kembali membuka The Psychology of Human Misjudgment, menunjuk halaman tentang social proof dan incentive-caused bias. "Dua mental model dalam satu postingan. Itu lollapalooza effect—tapi yang negatif. Kamu beruntung bisa invert sebelum terjebak."
---
Pengusaha itu menutup buku. Di luar, Jakarta macet seperti biasa. Tapi di portfolionya—yang tidak ada "Telecom Blue," "Black Gold Conglomerate," atau "Energy Service Red"—ada sesuatu yang lebih langka: clarity.
$ADRO $TLKM $ESSA

Megaproyek $38,4 Miliar Prabowo-Trump: Siapa Pemenangnya? 🚀
Deal dagang raksasa antara Indonesia dan Amerika Serikat bukan cuma angka di atas kertas. Ini adalah pergeseran peta kekuatan ekonomi yang bakal berdampak langsung ke portofolio kita. Sektor Energi, Aviasi, hingga Tekstil dapet angin segar luar biasa.
Jangan sampe ketinggalan kereta sebelum market "priced in" peluang ini. Cek bedah tuntas emiten mana aja yang paling diuntungkan di sini:
https://cutt.ly/ttQFgFSw
$ADRO $TLKM $ASII
ANALISA SAHAM $ADRO
Harga Sekarang: Rp 2.300
Zona Area Beli Aman:
Rp 2.200 – 2.250
• Area support kuat, cocok untuk entry aman jika harga pullback ke zona ini, Boss
Zona Stoploss:
< Rp 2.150
• Jika turun di bawah level ini, struktur swing melemah dan rawan koreksi lebih dalam, Boss
Jika naik & breakout:
> Rp 2.350 → ENTRY LANJUTAN (tambah posisi)
• Breakout 2.350 berpotensi memicu momentum bullish lanjutan, Boss
Target Profit:
• TP1 = Rp 2.450
• TP2 = Rp 2.600 – 2.750
Keterangan Tambahan:
• Selama harga bertahan di atas 2.200, peluang swing bullish tetap terjaga, Boss
• Saham sektor batubara big cap, volatilitas tinggi dan sensitif terhadap harga coal global
• Breakout valid jika disertai volume meningkat
Analisa saya boleh bantu, tapi keputusan tetap milik Boss.
Ayo REQUEST SAHAM di kolom komentar seperti $KIOS $MBMA ,DM “mau” jika ingin dianalisa sahamnya
Support like agar terus update!!!
Follow untuk ikuti flowchart keputusan saham trend
Kalau postingan ini bermanfaat, boleh banget kasih tip lewat tombol bergambar 💲 di bawah ya. Terima kasih banyak 🙏
$ESSA udah cukup ya sw nya, minggu depan ada nuansa kebahagiaan, sepertinya akan dpt THR dari pak tohir 🍃
$ADMR $ADRO
Are you ready for tomorrow morning?!
Let's start the party as the streets run with blood, Wohoooo 🎉 🥳
Face it like a man dude!!!
Jangan pernah kabur, kalau kamu survive di masa ini, kelak kamu akan lebih tangguh dan berpengalaman ✌️
Always remember, for now and always CASH is KING 👑
GOLD is for Hedging, wajib punya 2 itu 👍
Menyerah/Bertahan? Nasionalis pantang mundur, maju terus rak sah wedi 🐉
Good Night 🌃
Tag ajalah
$ADRO $ITMG $BBNI
ANALISA SAHAM $TRIN
Harga Sekarang: Rp 1.070
Zona Area Beli Aman:
Rp 1.000 – 1.030
• Area support kuat, cocok untuk entry aman jika harga pullback ke zona ini, Boss
Zona Stoploss:
< Rp 970
• Jika turun di bawah level ini, struktur swing melemah dan rawan koreksi lebih dalam, Boss
Jika naik & breakout:
> Rp 1.100 → ENTRY LANJUTAN (tambah posisi)
• Breakout 1.100 berpotensi memicu momentum bullish lanjutan, Boss
Target Profit:
• TP1 = Rp 1.180
• TP2 = Rp 1.250 – 1.320
Keterangan Tambahan:
• Selama harga bertahan di atas 1.000, peluang swing bullish tetap terjaga, Boss
• Saham sektor properti, pergerakan agresif dan sensitif terhadap arus dana
• Breakout valid jika disertai volume meningkat
Analisa saya boleh bantu, tapi keputusan tetap milik Boss.
Ayo REQUEST SAHAM di kolom komentar seperti
$ADRO $DKFT
,DM “mau” jika ingin dianalisa sahamnya
Support like agar terus update!!!
Follow untuk ikuti flowchart keputusan saham trend
Kalau postingan ini bermanfaat, boleh banget kasih tip lewat tombol bergambar 💲 di bawah ya. Terima kasih banyak 🙏
Trump Masih Maksa Mau Kasi Tarif Meskipun Supreme Court Sudah Batalkan Aturan Tarif Sebelumnya
Diskusi hari ini bukan di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatalkan tarif darurat Trump membuat pasar langsung gaduh karena banyak yang mengira tarif global otomatis berhenti. Yang terjadi justru lebih mirip ganti jalur hukum, bukan menyerah. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Di sistem ketatanegaraan AS, tarif diperlakukan sebagai pajak impor. Pajak dan pungutan pada prinsipnya wilayah Kongres. Presiden bisa bergerak kalau Kongres memang pernah memberi delegasi kewenangan lewat undang-undang yang jelas.
Diskusinya di thread ini https://stockbit.com/post/28673944
Tarif darurat yang dibatalkan itu bertumpu pada IEEPA, kepanjangan dari International Emergency Economic Powers Act 1977. IEEPA dirancang untuk keadaan darurat ekonomi internasional seperti sanksi, pembekuan aset, dan pembatasan transaksi, lalu dipakai untuk memperluas tarif ke banyak negara secara cepat. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Langkah itu memicu gelombang gugatan. Inti gugatan bukan soal suka atau tidak suka tarif, melainkan soal dasar kewenangannya. Apakah undang-undang darurat ekonomi bisa dipakai untuk memungut tarif luas yang efeknya setara pajak.
Mahkamah Agung kemudian memutus bahwa IEEPA tidak memberi wewenang untuk mengenakan tarif luas. Maknanya tegas, jalur IEEPA tertutup untuk tarif model itu. Pemerintah tidak bisa mengulang pola yang sama dengan undang-undang yang sama.
Namun putusan itu tidak mematikan semua jalur tarif. Mahkamah Agung tidak mengatakan Presiden dilarang memasang tarif sama sekali. Pengadilan hanya menutup satu pintu, sehingga Gedung Putih mencari pintu lain yang memang disediakan Kongres.
Karena itu muncul rencana tarif 10% ke semua negara. Secara teknik hukum, ini dibingkai lewat Section 122 dalam Trade Act 1974. Section 122 memberi ruang tarif sementara dengan batas persentase dan batas waktu, biasanya untuk merespons tekanan besar pada neraca pembayaran.
Section 122 terlihat lebih aman secara teks karena memang menyebut tarif dan punya pagar pembatas. Tetapi titik rawannya ada di syarat faktual. Pemerintah harus bisa menunjukkan alasan yang nyambung dengan tujuan Section 122, bukan sekadar alat tekanan negosiasi.
Di saat yang sama, Gedung Putih biasanya menyiapkan jalur yang lebih panjang umur. Section 301 dalam Trade Act 1974 dipakai untuk tarif setelah investigasi praktik dagang tidak adil. Section 232 dalam Trade Expansion Act 1962 dipakai untuk tarif berbasis alasan keamanan nasional pada sektor tertentu. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Lalu bagaimana ke perjanjian dagang Amerika Serikat dan Indonesia yang baru diteken. Deal bilateral tidak otomatis gugur karena satu dasar tarif domestik dibatalkan, karena isi deal biasanya jauh lebih luas dari angka tarif, termasuk standar teknis, hambatan non-tarif, kuota, dan komitmen akses pasar. Risiko paling nyata justru pada tumpang tindih implementasi, apakah tarif 10% diperlakukan sebagai lapisan tambahan, atau dianggap sudah tercakup, dan jawabannya akan muncul dari aturan pelaksana bea-cukai dan petunjuk operasional.
🧭 Kronologi
🗓️ IEEPA, International Emergency Economic Powers Act 1977, dipakai untuk tarif luas karena diklaim kondisi darurat ekonomi.
⚖️ Mahkamah Agung membatalkan pemakaian IEEPA untuk tarif luas.
🔁 Pemerintah beralih ke pasal dagang lain untuk menjaga tarif tetap hidup.
🧩 IEEPA 1977. Alat darurat ekonomi, cocok untuk sanksi dan pembatasan transaksi, bukan pajak impor global.
⏳ Section 122 Trade Act 1974. Tarif sementara, ada batas angka dan batas waktu.
🔎 Section 301 Trade Act 1974. Tarif berbasis investigasi praktik dagang tidak adil, lebih prosedural.
🛡️ Section 232 Trade Expansion Act 1962. Tarif sektor tertentu berbasis alasan keamanan nasional.
🧨 Titik rawan hukum yang biasanya digugat
⚠️ Kesesuaian alasan dengan syarat pasal, terutama untuk Section 122.
⚠️ Prosedur dan pembuktian investigasi, terutama untuk Section 301 dan Section 232.
⚠️ Cara penerapan di pelabuhan, karena efek riil lahir dari aturan pelaksana.
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🤝 Dampak praktis ke deal AS Indonesia
✅ Deal tidak otomatis batal.
🧾 Yang menentukan biaya impor adalah petunjuk bea-cukai, apakah 10% menumpuk atau tidak.
📦 Carve-out dan kuota, bila ada, biasanya paling cepat terasa dampaknya.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$KLBF $BBRI $ADRO
1/6






ada yang tau perbedaan INDS dan coin MANTA ?
bedanya si pampedak tidak kenal si NAMTOH
intinya kalau mau pom pom kenalan dulu gih sama dia
#MENOLAKLUPA🤣🤣🤣
$BUMI
$ENRG
$ADRO
BEI dan OJK Bilang Masalah MSCI Udah Hampir Beres. Tinggal Finalisasi dalam bentuk aturan dan SOP
sumber: https://cutt.ly/htQIGvZY
Itu artinya di Mei nanti saham-saham Indonesia udah bisa upgrade skill ke MSCI Global Index lagi.
Saham apa yang kira-kira bisa masuk MSCI Global Index di Mei 2026 nanti?
Market cap wajib di atas 50 Triliun
Transaksi harian wajib di atas 100 milyar sehari
Free float wajib di atas 15%
Saham apakah yang masuk kriteria itu?
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$BUMI $ADRO $KLBF
1/6






ada yang punya $OASA jujur saya juga ada avg 458 megang
Support Penting
Area ini cocok untuk pantau buy / average:
430–420 → support minor + area MA pendek
412–400 → support kuat (banyak transaksi di volume profile)
380–350 → support mayor (last defense trend)
Jika tembus 400 dengan volume → swing bullish melemah.
Strategi Swing Aman
Buy area: 420–430
Cut loss: < 400
TP bertahap:
460
500
550+
Target 1: 460–480
Area supply terdekat
Cocok buat partial take profit cepet
Target 2: 500–520
Resistance psikologis + area distribusi sebelumnya
katanya Wte tender yang menang $DAAZ
tag $ADRO
jangan lupa mampir ke profil 🎯
1/2

