


Volume
Avg volume
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) merupakan perusahaan energi yang terintegrasi secara vertikal di Indonesia dengan bisnis di sektor batubara, energi, utilitas dan infrastruktur pendukung. Disamping itu ADRO juga mempunyai lini bisnis seperti logistik dan ketenagalistrikan yang terintegrasi melalui anak-anak perusahaan dan ketenagalistrikan. Lokasi utama operasional Adaro berada di propinsi kalimantan selatan. Produk utama Adaro adalah Environcoal, batubara termal dengan kadar polutan yang rendah. Adaro Energy juga memiliki aset batubara metalurgi yang beragam mulai dari batubara kokas semi lunak sampai batubara kokas... Read More
$ADRO saham gak masuk akal, harusnya naik batubara naik, aluminium kemarin naik. Sahamnya di situ2 aja
Sepertinya ada pihak stockbit yg tdk senang saya posting update porto YTD trs dan berbagi ilmu. Tau2 kmrn malam porto YTD ku grafiknya dibuat junam tanpa sebab padahal aslinya tidak. Ya kali dalam sehari bs junam 50%? Batas ARB aja 25%.
Pantas postingan2 bagus dari pak Teddy jg sering dikasih warning tanpa sebab.
Ternyata dalamnya @Stockbit @WellsonLo begini ya banyak oknum jg.. Jd berpikir 2x buat nambah dana disini.
Ok dah sy berhenti posting dan sharing ilmu kl begitu.
$ADRO $ARCI $IHSG

Sebetulnya hold forever komoditas bisa
Tuh yg beli $ADRO 1000 an atau 600 an udah multibagger dividen
Atau beli $UNTR pas 100 perak
Di hold sampai kiamat pun bisa
Bukan aturan resmi
Kalau semua rebutan exit pucuk makan makanan. Donk?
Akumulasi vs Distribusi
📊 Cara baca chart seperti ini sebenarnya sederhana
Kita harus tahu dulu jenis sahamnya.
Contoh ADRO = saham cyclical.
Artinya harga bergerak mengikuti siklus komoditas.
Kalau pakai chart ini:
📍 Maret 2021 → Akumulasi
Harga berada di bawah tren linier.
Biasanya ini fase pesimis market, tapi justru area smart money mulai kumpulin.
📍 Oktober 2022 → Distribusi
Harga sudah jauh di atas tren.
Retail mulai FOMO, tapi pemain besar justru mulai lepas.
Makanya di saham cyclical kita harus paham fase siklusnya.
Beli saat pesimis.
Kurangi saat euforia.
Sekarang $ADRO di fase mana? komen yang tau
lalu saham incaranmu ada di fase mana?
$BBCA $BUMI

Aluminium Naik +5% Pasca Eskalasi AS–Iran
Harga aluminium ditutup di US$3.296/MT pada Kamis (5/3), naik +5% sejak eskalasi konflik AS–Iran pada 28 Februari 2026 dan membawa penguatan YTD menjadi +10%. Kenaikan ini dipicu oleh gangguan pasokan dari dua produsen besar: (1) Aluminium Bahrain (Alba), pemilik smelter terbesar di luar China, menghentikan pengiriman dan menyatakan force majeure akibat terganggunya pelayaran di Selat Hormuz; dan (2) Qatalum menghentikan operasi smelternya di Qatar akibat terputusnya pasokan gas, dengan perkiraan penghentian penuh pada akhir Maret dan waktu pemulihan 6–12 bulan. Sebagai konteks, 9% dari total produksi aluminium global melewati Selat Hormuz.
[Sumber: Reuters, Straits Times]
📝Stockbit's Commentary
Seperti yang dibahas di Unboxing Metals 101 [https://stockbit.com/post/28964965], UEA dan Bahrain merupakan negara surplus aluminium terbesar ke-4 dan ke-5 secara global. Kombinasi gangguan logistik dan berkurangnya kapasitas smelter di kawasan ini berpotensi menopang harga aluminium dalam jangka pendek dan menjadi sentimen positif bagi $ADMR, $ADRO (induk ADMR dengan kepemilikan 85%), dan $CITA melalui potensi kenaikan ASP aluminium. Perlu dicatat, ADMR dan CITA masing-masing memiliki 65% dan 12,5% saham di PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) yang sedang mengembangkan smelter berkapasitas 500.000 tpa (tahap pertama) dan ditargetkan naik hingga 1,5 juta tpa pada tahap berikutnya. Pada 2026, KAI menargetkan produksi 300.000 ton aluminium.
______
Theodorus Melvin (@TheodorusMelvin)
Investment Analyst Stockbit

VALUASI: KOMPAS UTAMA DI TENGAH BADAI
Di pasar saham, sering kali terjadi keributan besar.. Entah itu karena ketegangan geopolitik (perang), perubahan komposisi indeks global seperti MSCI, atau sentimen makro lainnya.. Bagi sebagian besar investor yang tidak punya pegangan, berita ini adalah ancaman.. Tapi bagi Investor yang berpegang teguh pada Valuasi, berita ini adalah peluang..
1. Memahami Nilai vs Harga
Inti dari investasi adalah memahami bahwa harga adalah apa yang Anda bayar, sedangkan nilai adalah apa yang Anda dapatkan.. Valuasi adalah proses menghitung nilai intrinsik atau "harga wajar" sebuah perusahaan berdasarkan kinerja keuangannya..
Jika harga pasar < nilai intrinsik = Undervalued (Diskon/Murah)..
Jika harga pasar > nilai intrinsik = Overvalued (Premium/Mahal)..
2. Memanfaatkan Kepanikan (Market Sentiment)
Sentimen pasar sering kali digerakkan oleh rasa takut dan serakah.. Saat ada berita buruk seperti perang, banyak orang panik dan menjual sahamnya secara massal tanpa melihat fundamental.. Di sinilah valuasi menjadi penyelamat:
Beli saat murah: Ketika harga jatuh jauh di bawah nilai wajarnya, itulah saatnya mengoleksi aset bagus dengan harga "pasar loak"..
Jual saat mahal: Sebaliknya, saat pasar terlalu optimis dan harga sudah melampaui nilai intrinsiknya, itulah saat yang tepat untuk merealisasikan keuntungan..
3. Margin of Safety: Jaring Pengaman Anda
Dengan membeli saham yang murah (undervalued), Anda memiliki Margin of Safety yang lebar. Ini adalah selisih antara harga beli dengan nilai intrinsik yang berfungsi sebagai pelindung jika analisis Anda sedikit meleset atau jika pasar butuh waktu lama untuk pulih..
4. Fokus pada Bisnis, Bukan Layar
Seorang investor sejati seperti Warren Buffett atau Lo Kheng Hong tidak pusing dengan fluktuasi harian.. Selama perusahaan tetap menghasilkan laba, memiliki arus kas kuat, dan dikelola manajemen yang jujur, maka penurunan harga akibat sentimen luar hanyalah gangguan sementara yang justru memberi peluang beli..
Kesimpulannya: Jangan biarkan emosi pasar mendikte keputusan Anda.. Mau ada ketegangan geopolitik atau kocok ulang indeks MSCI, itu semua cuma noise jangka pendek.. Kalau fundamental perusahaan masih oke dan harga sahamnya dihargai jauh di bawah nilai intrinsiknya (margin of safety lebar), ya itu namanya dapet barang mewah harga pasar loak.. Jadikan valuasi sebagai kompas. Jika murah beli, jika mahal jual.. Sesederhana itu, namun butuh kedisiplinan tinggi untuk menjalankannya..
random tags : $ADRO $ITMG $TPMA
Kelelahan Mengejar Bayangan dan Ketenangan yang Sebenarnya
Kedengarannya seperti... hari-hari ini, layar kita menampilkan warna yang sama, tapi cerita di belakangnya mulai berbeda. Ada yang sibuk menjelaskan korelasi indeks global, membaca arah minyak akibat ketegangan di selat jauh, dan menyusun ulang peta momentum yang berpindah dari satu sektor ke sektor lain.
Tampaknya ada tekanan yang luar biasa besar untuk selalu tahu 'apa yang akan terjadi selanjutnya'. Sepertinya ada perasaan bahwa jika kita tidak bisa berpikir layaknya seorang penggerak pasar, tidak bisa menebak arah minyak dunia, atau tidak bisa memprediksi dampak konflik di luar sana, maka kita akan terus diombang-ambingkan oleh ketidakpastian.
...Diombang-ambingkan ketidakpastian?
Kedengarannya seperti ada yang merasa bahwa kunci keselamatan adalah dengan terus bergerak, terus membaca, terus memprediksi apa yang akan terjadi besok. Seolah-olah, dengan cukup pintar membaca tanda-tanda, kita bisa menghindari setiap ombak dan hanya menaiki yang menguntungkan.
Sepertinya ada daya tarik yang kuat untuk percaya bahwa kunci keuntungan rutin adalah dengan berpindah secepat mungkin dari satu cerita ke cerita lainnya—dari narasi pertumbuhan masa depan ke narasi krisis energi. Rasanya sangat melegakan jika kita memiliki seseorang yang seolah-olah bisa melihat masa depan untuk kita.
Itu benar. Itu adalah naluri bertahan yang wajar. Naluri yang berkata, "Jika saya bisa melihat apa yang akan terjadi, saya tidak akan tenggelam."
Namun, saya penasaran. Bagaimana rasanya bagi Anda, jika setiap hari Anda harus bangun dengan kecemasan tentang berita apa yang terjadi semalam di belahan dunia lain, hanya untuk memastikan modal Anda tetap selamat?
...Hanya untuk tetap selamat?
Dua Jenis Penghuni Pantai
Ada dua jenis orang yang tinggal di tepi pantai.
Yang pertama adalah ahli ombak. Mereka menghabiskan waktu mempelajari angin, membaca tanda-tanda di langit, dan menghitung kapan ombak besar akan datang. Saat ombak datang, mereka berlari—kadang ke arah laut untuk menangkapnya, kadang ke darat untuk menghindarinya. Mereka percaya bahwa dengan analisis yang tepat, mereka bisa selalu berada di puncak ombak yang benar dan menjauhi yang salah. Tapi ombak tidak pernah datang sendiri, dan tidak pernah persis seperti prediksi. Suatu hari, mereka lelah. Karena berlari melawan ombak adalah pekerjaan yang tidak pernah usai.
Yang kedua adalah pembangun rumah panggung. Mereka juga memperhatikan ombak, tapi tidak untuk dikejar atau dihindari. Mereka memilih tanah yang lebih tinggi, dan diam-diam, setiap bulan, mereka mengumpulkan kayu dan memaku satu per satu. Ketika ombak besar datang—dan ia pasti datang—rumah mereka tidak hanyut. Bahkan, mereka bisa duduk tenang di beranda, minum kopi, dan melihat para ahli ombak berlari-lari di pantai.
Yang menarik, saat laut tenang, kedua jenis ini tidak terlihat berbeda. Sang ahli ombak bisa berselancar dengan indah, menarik perhatian banyak orang. Sang pembangun rumah panggung tidak terlihat—ia hanya duduk di rumahnya, melakukan hal yang sama seperti kemarin. Tapi saat badai datang, kontrasnya jadi nyata.
Yang satu sibuk bertanya, "Kapan ombak berikutnya datang? Ke mana arahnya? Sektor mana yang akan terangkat?"
Yang lain hanya bertanya, "Apakah rumah saya masih cukup kuat untuk musim ini?"
Tampaknya kita mulai menyadari adanya pola yang melelahkan ini. Sepertinya ada perbedaan yang sangat mendalam antara 'mengetahui apa yang terjadi' dengan 'mengetahui apa yang kita miliki'. Ada pengakuan yang jujur bahwa mereka yang memiliki bisnis dengan fondasi yang sehat, neraca yang kuat, dan manajemen yang jujur, tidak perlu menghabiskan energi untuk menebak-nebak celah sempit di tengah kekacauan global hanya untuk sekadar bertahan hidup.
...Sekadar bertahan hidup?
Tampaknya kita sedang belajar bahwa kedaulatan finansial yang sejati bukan datang dari kemampuan kita untuk 'menyerok di dasar' atau menebak arah angin berikutnya. Kedaulatan itu datang saat kita menyadari bahwa aset yang berkualitas tetaplah berkualitas, baik saat layar berwarna hijau maupun merah membara. Ada ketenangan yang berbeda saat kita berhenti mencoba menjadi orang lain dan mulai fokus pada bisnis yang memang kita pahami nilainya di dunia nyata.
Di tengah semua narasi yang berganti dari momentum rights issue ke momentum oil, dari cash is king ke wait and see, dari tunggu pantulan ke monitor makro—ada satu pertanyaan yang mungkin lebih penting dari semua prediksi itu:
"Jika badai ini berlangsung lebih lama dari yang semua orang perkirakan, hal apa dalam portofolio atau diri saya yang justru akan makin kokoh seiring waktu?"
Jika pada akhirnya pasar adalah tempat yang selalu penuh dengan kejutan baru yang tak terduga, bagaimana cara Anda memastikan bahwa kesejahteraan Anda tidak bergantung pada seberapa cepat Anda bisa mengejar berita terbaru, melainkan pada seberapa kuat aset Anda tetap berdiri saat semua narasi itu akhirnya menguap?
$UNTR $ADRO $MDKA

@abbysyailendra
$ADRO $ITMG $PTBA
alasan utama pemerintah ngebut konversi ini sebenarnya bukan cuma soal melakukan perubahan energi, tapi karena PLN kelebihan pasokan listrik (over-supply), terutama di sistem Jawa-Bali.
Pemerintah sudah terlanjur kontrak dengan swasta (IPP) untuk proyek 35.000 MW.
Listriknya ada, tapi yang beli
kurang.
Daripada PLN bayar denda ke pembangkit swasta karena listriknya nggak kepake (take or pay), pemerintah "memaksa" konsumsi lewat kompor listrik.
Pemerintah juga sebenarnya sedang "pusing" karena subsidi LPG 3kg itu bocor ke mana-mana (orang kaya ikut beli).
@AFIFHOKI angka $MTFN 250 dapat dari mana? Kebetulan aku hold $ADRO dan $UNIQ tadi sempet aku tegur di UNIQ, tapi komenku dihapus, yasudah aku muncul disini.
$ADRO $ITMG $PTBA
Presiden Prabowo baru saja membentuk Satgas Percepatan Transisi Energi yang dipimpin oleh Bahlil Lahadalia untuk mengebut konversi ke kompor listrik dan PLTS.
alasan utama pemerintah ngebut konversi ini sebenarnya bukan cuma soal melakukan perubahan energi, tapi karena PLN kelebihan pasokan listrik (over-supply), terutama di sistem Jawa-Bali.
Pemerintah sudah terlanjur kontrak dengan swasta (IPP) untuk proyek 35.000 MW.
Listriknya ada, tapi yang beli
kurang.
Daripada PLN bayar denda ke pembangkit swasta karena listriknya nggak kepake (take or pay), pemerintah "memaksa" konsumsi lewat kompor listrik.
Pemerintah juga sebenarnya sedang "pusing" karena subsidi LPG 3kg itu bocor ke mana-mana (orang kaya ikut beli).
Konversi kompor listrik = Kenaikan permintaan listrik = PLTU harus ngebul lebih kencang. Jadi, narasi "hijau" ini sebenarnya adalah napas tambahan buat industri batubara domestik agar tetap relevan di tahun 2026.
