


Volume
Avg volume
PT Tunas Baru Lampung Tbk merupakan perusahaan yang bergerak dalam produksi minyak goreng sawit, minyak goreng kelapa, minyak kelapa mentah, CPO, dan sabun mandi. Kegiatan bisnis Perusahaan meliputi produksi dan distribusi produk-produk konsumen berbasis agrikultural, seperti minyak sawit, minyak kelapa, minyak sayur, minyak kelapa mentah, stearin, minyak sawit mentah, minyak biji sawit, distilat asam lemak sawit, distilat asam lemak kelapa, keping sawit dan kopra, serta sabun. Perusahaan yang merupakan kelompok usaha Sungai Budi ini mempunya brand yang terkenal yaitu Rose Brand. Perusahaan ini menjual produk-produknya di pasar... Read More
$TBLA
izin bang, aku ga ngerti emiten ini, secara fundamental/teknikal/bandarmologi. saya pemula
tapi karena ada didaerah saya, dan saya kerjaan rl saya masih bekerja sama dengan salah satu emiten ini, tbl
agak aneh kenapa turun terus, sedangkan bisa terbilang tbl ini ditempat saya sangat sangat rame, dari sawitnya sendiri, kalau dari singkong juga lumayan lah
Sidang debottlenecking yang dipimpin Menkeu Purbaya memberi lampu hijau penyesuaian regulasi untuk percepatan program E5 (bioetanol 5%) yang akan dicampurkan ke BBM.
https://cutt.ly/wtbz09MV
Aturan pembebasan cukai etil alkohol bioetanol dan segala perizinan usaha untuk program E5 yang dijalankan PT Pertamina Patra Niaga segera selesai dalam seminggu ke depan.
$MOLI $SRSN $TBLA
$BUDI Saham Tepung Tapioka yang Bergantung pada Keluarga
Request member External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
PT Budi Starch & Sweetener Tbk itu kelihatan seperti pabrik tapioka biasa, tapi pola uangnya lebih mirip mesin produksi di dalam ekosistem grup. Begitu 73,40% penjualan lewat satu pihak berelasi, angka laporan jadi sangat dipengaruhi relasi, bukan murni permintaan pasar. Ini bisa terlihat stabil saat grup kompak, tapi bisa berubah tajam kalau hubungan dagang bergeser sedikit saja. Banyak investor suka model begini karena terasa ada kepastian serapan, tapi risikonya terkonsentrasi di satu pintu. Jadi masalah utamanya bukan sekadar harga singkong atau margin produk, melainkan siapa yang pegang keran distribusi, tempo pembayaran, dan suplai. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Aset BUDI naik 5,34% dari Rp3,82 triliun menjadi Rp4,02 triliun per 30 September 2025. Struktur asetnya berat di aset produktif pabrik dan modal kerja. Aset tetap neto Rp1,51 triliun atau sekitar 37,47% dari total aset, piutang usaha pihak berelasi Rp1,22 triliun atau sekitar 30,29%, persediaan Rp940,72 miliar atau sekitar 23,40%, kas Rp145,63 miliar atau sekitar 3,62%. Ini langsung menjelaskan karakter BUDI, padat aset pabrik, padat modal kerja, dan sangat terikat relasi.
Kas BUDI melonjak 96,78% dari Rp74,01 miliar menjadi Rp145,63 miliar, persediaan naik 78,72% dari Rp526,35 miliar menjadi Rp940,72 miliar, sementara piutang pihak berelasi turun 19,94% dari Rp1,52 triliun menjadi Rp1,22 triliun. Kombinasi kas naik dan piutang turun biasanya kabar baik, tapi persediaan yang melonjak besar saat penjualan turun perlu dicurigai, bisa karena penumpukan bahan baku, antisipasi harga, atau perputaran barang melambat.
Revenue BUDI di LK Q3 2025 turun 27,11% menjadi Rp2,17 triliun dari Rp2,97 triliun. Tapi yang menarik, segmen tepung tapioka tetap jadi tulang punggung kontribusi 63,01% walau pendapatannya turun 31,97%, justru laba kotornya naik 9,36% menjadi Rp203,85 miliar dan margin laba kotor 14,93%. Artinya volume atau harga jual mungkin turun, tapi efisiensi biaya membaik, ini sinyal perbaikan kualitas margin di inti bisnis. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kontrasnya ada di sweeteners dan karung plastik. Sweeteners kontribusi 32,32% dengan penurunan 9,88% dan margin laba kotor paling tipis 7,71%, jadi segmen besar yang profitabilitasnya paling ketat. Karung plastik kontribusi 3,27% tapi pendapatannya ambruk 53,24%, menandakan bisnis kemasan internal tidak otomatis aman ketika permintaan melemah. Asam sulfat dan lainnya kontribusi kecil 6,69% namun penurunannya hanya 1,77% dan margin laba kotor tertinggi 17,75%, ini tipe segmen kecil yang sering jadi penahan saat segmen besar goyah.
Konsentrasi wilayah juga kentara. Aset paling dominan di Lampung Rp3,24 triliun atau sekitar 80,5% dari total aset, sementara Karawang Rp413,30 miliar, Surabaya Rp185,97 miliar, dan Solo Rp183,61 miliar. Dari sisi penjualan, domestik mendominasi 97,54% dan ekspor cuma 2,46% atau Rp53,23 miliar, jadi diversifikasi geografis penjualan masih kecil. Lampung juga jadi pusat penjualan Rp1,50 triliun atau 69,1%, ini mempertegas konsentrasi operasional sekaligus risiko lokasi.
Bagian yang paling menjelaskan kalimat bergantung pada pihak berelasi ada di pelanggan. PT Sungai Budi menyerap 73,40% pendapatan atau sekitar Rp1,59 triliun dan bertindak sebagai agen tunggal distribusi di Indonesia untuk beberapa produk. Tempo kredit sampai 6 bulan membuat BUDI praktis mengunci arus kasnya ke satu counterpart, dan itu tercermin dari piutang pihak berelasi yang masih Rp1,22 triliun. Selama agen tunggal ini sehat dan patuh bayar, bisnis terasa aman, tapi kalau ada dispute, renegosiasi harga, atau perlambatan penyerapan, efeknya langsung tembus ke kas, persediaan, dan produksi. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
PT Golden Sinar Sakti menyumbang 14,96% dari COGS BUDI, lalu ada PT Tunas Baru Lampung Tbk $TBLA 2,49% dari COGS dan PT Budi Makmur Perkasa 0,25% dari COGS. Untuk pembiayaan pembelian, BUDI memakai fasilitas non-cash loan seperti L C dan supplier financing dari Bank Mandiri $BMRI, CIMB Niaga, dan Bank Permata. Ini membentuk satu rantai, suplai, produksi, distribusi, pembiayaan, yang sebagian besar beraroma grup.
Belanja modal BUDI mencapai Rp94,44 miliar, mayoritas ke segmen tapioka Rp79,15 miliar, jadi fokusnya menjaga mesin utama tetap efisien. Ada aset dalam pembangunan Rp31,76 miliar dengan progres 80% sampai 96%, ini biasanya proyek mesin dan bangunan yang dekat selesai dan bisa menambah kapasitas atau menurunkan biaya. Nilai perolehan mesin pembangkit listrik sendiri Rp558,4 miliar juga menggambarkan strategi kontrol biaya energi. Ada juga investasi jangka panjang termasuk penyertaan di PT Associated British Budi Rp416,20 miliar sebelum eliminasi, menambah dimensi pendapatan dan risiko dari afiliasi.
Kalau investor bertanya kenapa penjualan turun tapi kas naik, itu bisa terjadi karena penagihan membaik, belanja tertahan, atau ada pergeseran pembayaran. Tapi ujian nyatanya ada di perputaran persediaan. Persediaan naik besar saat revenue turun sering menjadi titik awal tekanan margin berikutnya, karena barang yang lama parkir berisiko diskon, biaya gudang, atau penurunan kualitas, tergantung jenis persediaannya. Di sini BUDI punya sinyal positif di margin tapioka, tapi sinyal peringatan di akumulasi stok. Maka kualitas kinerja paling jujur bukan di laba kotor, melainkan di arus kas operasional dan umur persediaan. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Potensi BUDI ada di tiga hal. Pertama, inti tapioka masih bisa menjaga dan bahkan menaikkan laba kotor saat penjualan turun, artinya kontrol biaya bekerja. Kedua, segmen asam sulfat punya margin tertinggi 17,75% dan penurunannya paling kecil, jadi kandidat penstabil bila dikembangkan. Ketiga, integrasi energi dan kemasan memberi opsi efisiensi biaya yang tidak semua pesaing punya.
Tapi risiko BUDI juga jelas, yakni konsentrasi pelanggan 73,40% dan piutang relasi Rp1,22 triliun membuat BUDI seperti berjalan dengan satu roda besar, cepat, tetapi kalau roda itu bermasalah, sulit disangga oleh roda lain.
• Total aset Rp4,02 triliun, naik 5,34%
• Aset tetap Rp1,51 triliun sekitar 37,47% dari aset
• Piutang usaha pihak berelasi Rp1,22 triliun sekitar 30,29%
• Persediaan Rp940,72 miliar sekitar 23,40%
• Kas Rp145,63 miliar sekitar 3,62%
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
• Kas naik 96,78%
• Persediaan naik 78,72%
• Piutang pihak berelasi turun 19,94%
• Penjualan 9 bulan turun 27,11%
🧾 Penjualan dan margin segmen
• Tepung tapioka kontribusi 63,01%, penjualan turun 31,97%, margin laba kotor 14,93%, laba kotor naik 9,36% jadi Rp203,85 miliar
• Sweeteners kontribusi 32,32%, penjualan turun 9,88%, margin laba kotor 7,71%
• Asam sulfat dan lainnya kontribusi 6,69%, penjualan turun 1,77%, margin laba kotor 17,75%
• Karung plastik kontribusi 3,27%, penjualan turun 53,24%, margin laba kotor 13,53%
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🧩 Ketergantungan pihak berelasi
• Penjualan ke pihak berelasi 73,40% lewat agen tunggal, tempo kredit sampai 6 bulan
• Risiko utama konsentrasi arus kas dan penyerapan barang
🧱 Konsentrasi lokasi dan pasar
• Aset di Lampung 80,5%
• Penjualan domestik 97,54%, ekspor 2,46% atau Rp53,23 miliar
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/2


Keep Buying 😂
Saatnnya menambah isi porto dengan emiten2 yg memberikan deviden.
Harus bisa di bedakan mana yg memang akan kena impact MSCI mana yg ikut2an ketarik turun karena IHSG di bawa turun.
Sebenarnya kondisi ini sudah di tunggu2 sih, dan kebetulan alasanya jelas.
Di awal minggu ada 2 yg lolos "Interview" keduanya krusial posisinya, yg 1 berhubungan langsung dengan bursa, yg 1 amat sangat powerfull di bidang hukum. Yang bikin miris yg 1 "interviewnya" hanya 10 menit.
Saya pikir interview level OB sepertinya butuh waktu lebih lama deh (saya pikir itu lho)
Ada aksi ada reaksi, sudah jelas kan asing lihatnya bagaimana?
Perlu di ingat 1 hal dalam invest
"Never lose your money"
Buat asing lebih penting keamanan di bandingkan gain. Tidak percaya? cek aja sendiri berapa sih deviden yield yg bisa di berikan oleh emiten di negara mereka masing2.
Happy Invest 😁
$AMRT New entry di porto
$TBLA Kembali beli setelah 1 tahun lalu lepas
$BMRI Kesempatan nambah lagi, kemarin saya pikir sudah susah kembali ke AVG saya, ternyata di kasih lagi, tanpa ba bi bu serok sekuat2nya 😁
@SaifulSakaw limbah sawit ga ad yg kebuang diriau sini 🤣 asal loe tau jongkos sawitnya aja dipake jadi pupuk disni ga effisien effisieny sawit jadi ethanol x.paling bener sawit ke biodiesel selesai perkara ga ush macem macem kaitin hal yg ga akan dikerjain
kalo mau ambil emiten ethanol ambil noh $TBLA ribuan hektar kebun dr kebun tebu sampe pabrik kebun sawit jg ada
@Salli2487
$TBLA Kalo saya lagi, exportnya tidak terlalu besar, dominan dari domestik. Kemudian untuk liabilitas, meski tinggi tapi liabilitas jangka pendeknya masih tertutupi dengan aset lancar, terutama piutang.
Sepertinya ini perusahaan sehat ya, tapi mengandalkan hutang untuk operasionalnya.
Mohon koreksi.
"Sinyal Akumulasi di Balik Tekanan Jual Global"
Seringkali bursa kita (IHSG) tertekan oleh sentimen negatif dari pasar global, seperti penurunan bursa Amerika atau kenaikan suku bunga. Di saat seperti ini, kepanikan ritel biasanya memuncak dan mereka berbondong-bondong melakukan panic selling. Inilah yang disebut sebagai arus Bad Money yang keluar karena ketakutan. Namun, bagi mata yang jeli, momen ini seringkali dimanfaatkan oleh Smart Money untuk menampung saham-saham bagus di harga diskon. Mereka justru masuk saat semua orang sedang takut.
Trigger Smart Money membantu Anda melihat anomali ini secara real-time. Di tengah harga yang memerah, sistem akan mendeteksi saham-saham yang justru mencatat lonjakan volume intraday 5x lebih besar. Jika data menunjukkan nilai Clean Money terus bertambah positif saat indeks sedang turun, itu adalah sinyal bahwa "tangan kuat" sedang melakukan perlindungan harga atau akumulasi defensif. Mengikuti jejak ini berarti Anda membeli saat risiko sudah sangat terdiskon oleh ketakutan pasar yang berlebihan.
Jangan biarkan sentimen makro membutakan analisis mikro Anda pada aliran dana. Harga bisa turun karena sentimen, tapi jika Smart Money tidak keluar, maka penurunan tersebut hanyalah peluang sementara. Dengan radar deteksi dana besar, Anda bisa tetap tenang di tengah badai pasar. Anda akan tahu mana saham yang benar-benar hancur dan mana saham yang sedang dipersiapkan untuk memantul paling kuat saat kondisi pasar mulai stabil kembali.
$MTEL $PYFA $TBLA
1/2


@ekoferihandi good ini yg gw maksud.
indo kenakan tarif ekspor tinggi ya tinggal beli dr malaysia. ga ngaruh banyak 😆😅
$BBRI $BMRI $TBLA
$TBLA
Berikut analisis dampak kebijakan pemerintah yang menunda mandatory biodiesel B50 terhadap emiten PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) dan perkiraan profit TBLA di tahun 2025 berdasarkan data industri teraktual: 
⸻
📉 Dampak Penundaan Mandatori B50 terhadap TBLA;
1. Permintaan biodiesel domestik tumbuh lebih lambat
• Pemerintah memutuskan menunda penerapan mandatori B50 pada 2026 dan mempertahankan mandatori B40 untuk 2026 dengan alasan kesiapan teknis dan pendanaan. 
• Penundaan ini mengurangi potensi kenaikan serapan crude palm oil (CPO) domestik hingga sekitar tambahan ±2,2 juta ton yang semula diharapkan dari B50. 
• Bagi TBLA, yang merupakan pemain besar di segmen biodiesel (FAME), kebutuhan biodiesel dalam negeri akan tumbuh lebih moderat dibanding skenario B50. Hal ini berpotensi mengurangi upside volume penjualan biodiesel dibanding ekspektasi awal pasar.
2. Harga sawit dan biodiesel berpotensi lebih volatil
• Penundaan B50 memberi sinyal kepada pasar global bahwa serapan domestik tidak sebesar ekspektasi sebelumnya, sehingga harga minyak sawit (CPO) cenderung melemah atau lebih volatil. 
• Harga CPO dan produk turunannya (termasuk biodiesel) sangat memengaruhi margin operasional TBLA. Penurunan harga CPO bisa menekan margin jika tidak diimbangi efisiensi biaya produksi.
3. Subsidi dan pendanaan program biodiesel lebih terkendali
• Fokus di B40 berarti beban subsidi biodiesel BPDP tetap berada pada level yang relatif bisa dikelola saat ini, sehingga risiko finansial terhadap pabrikan biodiesel—termasuk TBLA—lebih rendah dibanding skenario B50 yang membutuhkan dana subsidi jauh lebih besar. 
• Ini positif bagi TBLA karena mengurangi risiko perubahan kebijakan subsidi yang drastis.
👉 Intinya: penundaan B50 memperlambat pertumbuhan volume biodiesel domestik yang bisa diserap TBLA, tetapi mengurangi risiko volatilitas dan tekanan subsidi yang ekstrem di jangka pendek.
⸻
📊 Kapasitas Produksi TBLA dan Implikasinya
• TBLA telah menyelesaikan pabrik biodiesel keduanya dan kini memiliki total kapasitas produksi ±765 ribu ton per tahun. 
• Dengan kapasitas ini, TBLA secara teknis siap mendukung kenaikan mandatori biodiesel di masa depan—baik B40 maupun ketika B50 kembali dibahas. 
• Saat ini pabrik biodiesel TBLA baru digunakan sekitar ±82% dari kapasitas mereka, artinya masih ada spare capacity yang bisa menyerap kontrak baru bila permintaan naik. 
⸻
💰 Perkiraan Profit TBLA Tahun 2025
Karena laporan keuangan resmi penuh belum tersedia, kita gunakan perkiraan berbasis indikator industri dan proyeksi analis:
📌 Asumsi & Proyeksi
Komponen Estimasi
Perkiraan Revenue 2025 ±Rp22 triliun (proyeksi) 
Net Profit Margin (2025) ±4,3% (lebih tinggi dari 2024) 
Estimasi Laba Bersih 2025 ±Rp0,95 triliun*
*Perkiraan: Rp22 triliun × 4,3% ≈ Rp0,946 triliun
📊 Proyeksi Berdasarkan Kinerja Q1–Q3 2025
• Per kuartal III 2025, TBLA menunjukkan kenaikan laba bersih sekitar +25,8% yoy dan ROE yang bisa mencapai 12–15% bila momentum kuat berlanjut. 
• Kenaikan ASP biodiesel serta produk kebun (CPO, PKO) cenderung mendukung kinerja bisnis hilir TBLA sepanjang 2025. 
👉 Secara konservatif, laba bersih TBLA di 2025 diperkirakan berada di kisaran ±Rp0,9–1,2 triliun, tergantung harga komoditas dan realisasi penjualan biodiesel.
⸻
📌 Inti Kesimpulan
Dampak Penundaan B50:
• 📉 Permintaan biodiesel domestik tumbuh lebih lambat → tekanan upside volume
• ⚖️ Risiko subsidi/pembiayaan lebih terkendali → stabilitas bisnis relatif lebih baik
Proyeksi TBLA 2025:
• Revenue sekitar Rp22 triliun
• Laba bersih sekitar Rp0,9–1,2 triliun (tergantung harga CPO/biodiesel dan penjualan)
• ROE diperkirakan meningkat bila pemakaian kapasitas dan kontrak biodiesel terus meningkat
Berikut analisis sensitivitas profit TBLA dengan beberapa skenario harga CPO & biodiesel (bearish–base–bullish), difokuskan pada kapasitas pabrik terbaru TBLA dan kondisi B40 (tanpa B50).
⸻
1️⃣ Asumsi Dasar Model (2025)
Kapasitas & Operasional
• Kapasitas biodiesel TBLA: ±765.000 ton/tahun
• Utilisasi rata-rata 2025: 80–90%
• Volume penjualan biodiesel: 610–690 ribu ton
• Segmen non-biodiesel (CPO, gula, dll) tetap berkontribusi ±35–40% revenue
Biaya & Struktur
• Feedstock utama: CPO
• Margin biodiesel sangat sensitif ke:
• Harga CPO
• Harga indeks biodiesel (HIP)
• Selisih subsidi BPDP
⸻
2️⃣ Skenario Harga (2025)
Skenario Harga CPO Harga Biodiesel (HIP)
Bearish Rp10.500/kg Rp12.500/liter
Base Case Rp11.500/kg Rp13.500/liter
Bullish Rp13.000/kg Rp15.000/liter
Catatan:
• Saat B50 ditunda, base case jadi skenario paling masuk akal
• Bullish biasanya terjadi jika ekspor ketat + gangguan supply global
⸻
3️⃣ Dampak ke Margin Biodiesel TBLA
Skenario Gross Margin Biodiesel
Bearish 6–7%
Base Case 9–10%
Bullish 12–14%
TBLA relatif lebih tahan margin dibanding emiten sawit murni karena:
• Hilirisasi (biodiesel)
• Kontrak pemerintah (lebih stabil volume)
⸻
4️⃣ Sensitivitas Laba Bersih TBLA (2025)
📊 Estimasi Laba Bersih
Skenario Laba Bersih
Bearish Rp550–650 miliar
Base Case Rp900–1.000 miliar
Bullish Rp1,25–1,45 triliun
⸻
5️⃣ EPS & Valuasi Implikasi
Estimasi EPS
Skenario EPS
Bearish Rp53–63
Base Case Rp87–110
Bullish Rp125–150
Estimasi Harga Wajar (PER 8–10x)
Skenario Fair Value
Bearish Rp425–630
Base Case Rp700–970
Bullish Rp1000–1.500
PER 8–10x wajar untuk emiten sawit hilir dengan volatilitas komoditas.
⸻
6️⃣ Inti Insight Penting untuk Investor
🔹 Penundaan B50 bukan game changer negatif untuk TBLA
→ lebih ke delay upside, bukan penurunan fundamental
🔹 Base case TBLA tetap solid
• Laba mendekati Rp1 triliun
• Utilisasi pabrik baru terpakai optimal
• Arus kas relatif stabil dari biodiesel
🔹 Upside terbesar TBLA justru dari:
1. Kenaikan harga CPO global
2. Kenaikan HIP biodiesel
3. Peningkatan utilisasi >90%
4. Kembalinya wacana B50 (2026+)
$TAPG $DSNG
Tantangan Sektor saham Crude Palm Oil (CPO) di 2026
Pemerintah secara resmi menunda implementasi mandatori biodiesel B50 yang semula ditargetkan berlaku pada semester II/2026. Sebagai gantinya, pemerintah memutuskan untuk melanjutkan penggunaan B40 hingga tahun 2026. Penundaan ini didasarkan pada beberapa alasan strategis:
* Kesiapan Teknis: Pemerintah masih memerlukan waktu untuk mengevaluasi hasil uji coba pada berbagai sektor strategis [3].
* Stabilitas Pasokan: Fokus saat ini adalah menjaga stabilitas pasokan energi nasional.
* Faktor Harga: Terdapat selisih harga (gap) yang lebar antara minyak mentah (Brent) yang masih murah (sekitar US$64/barel) dengan harga CPO yang tinggi (sekitar US$864/ton). Hal ini membuat pemerintah cenderung mengumpulkan energi fosil terlebih dahulu untuk ketahanan energi jangka pendek.
* Kendala Suplai: Realisasi pemanfaatan biodiesel domestik tahun 2025 tercatat sebesar 14,2 juta kiloliter, sementara B50 diperkirakan membutuhkan 20,1 juta kiloliter, sehingga dari sisi suplai produksi masih menjadi tantangan.
##Prospek Saham Sawit
Prospek emiten CPO dalam jangka pendek hingga menengah diperkirakan akan tertekan dengan ruang koreksi yang masih terbuka. Beberapa poin penting terkait prospeknya meliputi:
**Tekanan Permintaan dan Margin: Dengan ditundanya B50, ekspektasi peningkatan permintaan domestik menjadi batal, sehingga pasar kembali bergantung pada ekspor. Di sisi lain, kenaikan pungutan ekspor dari 10 persen menjadi 12,5 persen (serta kenaikan 2,5 persen untuk produk turunan) yang mulai berlaku Maret 2026 berpotensi menekan margin keuntungan emiten, terutama yang memiliki eksposur ekspor besar.
**Sentimen Pasar: Mayoritas pergerakan harga saham CPO saat ini masih berada di zona merah akibat kombinasi penundaan B50 dan rencana kenaikan pungutan tersebut.
**Peluang Valuasi Murah: Meskipun tertekan, kondisi ini menciptakan peluang bagi investor karena harga saham yang terkoreksi membuat valuasi menjadi semakin menarik. Berdasarkan pantauan terhadap 10 emiten CPO, terdapat empat emiten yang sudah memiliki valuasi murah dengan diskon di atas 10 persen dilihat dari mean PBV 5-year nya yakni $TBLA, $LSIP, $AALI, TLDN. Sementara SIMP, GZCO, DSNG, BWPT, TAPG dianggap memiliki harga lebih premium.
##Kesimpulan untuk Investor
Penurunan harga saham saat ini dapat dijadikan sebagai titik masuk (entry point) yang menarik sambil menunggu perbaikan katalis di masa depan. Namun, investor disarankan untuk tetap selektif dan disiplin dalam memeriksa fundamental serta teknikal perusahaan, terutama mencari emiten dengan struktur biaya yang efisien dan neraca keuangan yang solid.

@ferdiarrahman jadi pembatalan B50 malah menguntungkan dan dongkrak harga CPO gitu? aneh banget thesisnya.
$TBLA $SIMP $ASII