


Volume
Avg volume
PT Tunas Baru Lampung Tbk merupakan perusahaan yang bergerak dalam produksi minyak goreng sawit, minyak goreng kelapa, minyak kelapa mentah, CPO, dan sabun mandi. Kegiatan bisnis Perusahaan meliputi produksi dan distribusi produk-produk konsumen berbasis agrikultural, seperti minyak sawit, minyak kelapa, minyak sayur, minyak kelapa mentah, stearin, minyak sawit mentah, minyak biji sawit, distilat asam lemak sawit, distilat asam lemak kelapa, keping sawit dan kopra, serta sabun. Perusahaan yang merupakan kelompok usaha Sungai Budi ini mempunya brand yang terkenal yaitu Rose Brand. Perusahaan ini menjual produk-produknya di pasar... Read More
MASUK SCREENING PANTAUAN
$GOTO (AWAS SANGKUT AWAS GOCEK)
$CPRO (AWAS SANGKUT AWAS GOCEK)
$TBLA (AWAS SANGKUT AWAS GOCEK)
CHEM (AWAS POM POM, AWAS SANGKUT)
ESTI (AWAS SANGKUT AWAS GOCEK)
MAYA (AWAS SANGKUT AWAS GOCEK)
#DYOR
$TBIG
⚡ SCALPING PLAN: TBIG
🟢 Entry
Buy on pullback: 2.450 – 2.580 (Menunggu harga menguji area support dinamis dan angka psikologis 2.500).
Buy breakout (agresif): > 2.750 (Valid jika harga mampu kembali menembus ke atas area koreksi hari ini dengan volume beli yang besar).
🎯 Take Profit
TP 1: 2.800 – 2.850 → jual 40% (Target menguji kembali area swing high terdekat).
TP 2: 2.950 – 3.000 → jual 40% (Target psikologis angka bulat dan level tertinggi baru).
TP 3: 3.150+ → jual sisa (Jaga dengan trailing stop untuk memaksimalkan profit dari tren besar).
🔴 Stop Loss
SL pullback: 2.380.
SL breakout: 2.650.
Daily close < 2.400 → CUT LOSS segera (Menghindari risiko kejatuhan lebih dalam menuju level 2.100).
⚠️ Catatan Cepat
Momentum Alert: MACD sangat tinggi, yang bisa menandakan kondisi overextended (kenaikan terlalu cepat); waspadai pembalikan arah tajam jika terjadi dead cross.
Karakter Saham: TBIG adalah saham blue-chip di sektor menara; pergerakannya biasanya didukung oleh arus dana besar, sehingga konfirmasi volume sangat penting.
Manajemen Risiko: Mengingat penurunan -4,63% cukup dalam, sebaiknya masuk secara bertahap (averaging up) setelah harga menunjukkan pantulan yang valid.
Jangan Lupa Follow!
Random Tag :
$TBLA $TBMS
$TBLA
⚡ SCALPING PLAN
🟢 Entry
Buy on pullback: 660 – 680 (Harga saat ini sedang berkonsolidasi di area support historis setelah tren penurunan panjang).
Buy breakout (agresif): > 700 (Valid jika harga mampu menembus area resisten minor dengan volume yang meningkat).
🎯 Take Profit
TP 1: 720 → jual 30–40% (Area resisten psikologis terdekat dan zona konsolidasi sebelumnya).
TP 2: 750 → jual 30–40% (Target rebound teknikal menuju area middle trendline).
TP 3: 780 – 800 → jual sisa (Jika momentum pembalikan arah berlanjut menguji area supply November).
🔴 Stop Loss
SL pullback: 650.
SL breakout: 685.
Daily close < 650 → CUT LOSS tanpa ragu (Menghindari risiko harga mencari level terendah baru).
⚠️ Catatan Cepat
MACD Signal: Garis MACD (-12,53) sudah berada di atas garis sinyal (-13,73), menunjukkan potensi awal pembalikan arah (Golden Cross) di area negatif.
Histogram: Batang histogram sudah berubah menjadi positif (1,20), yang merupakan sinyal akumulasi mulai masuk setelah fase oversold yang panjang.
Karakter Saham: TBLA sedang mencoba membentuk base di harga bawah; sabar menunggu konfirmasi volume sebelum menambah posisi.
Jangan Lupa Follow!
Random Tag :
$AALI $BMSR
https://cutt.ly/utfQ1yKI $TBLA
https://cutt.ly/UtfQK7EV $TBLA
Pembahasan ekuitas lanjutan
yang mau belajar tentang ekuitas bisa banget untuk dibaca
part satunya di sini https://stockbit.com/post/25487546
Di part satu membahas ekuitas atau struktur modal suatu perusahaan dalam bentuk modal saham, sedangkan kali ini fokus di struktur ekuitas bagian saldo laba
• Saldo Laba merupakan jumlah laba bersih yang di sisihkan perusahaan dari hasil usaha, untuk digunakan lagi oleh perusahaan, hasil ini bentuknya akumulasi yang diperoleh perusahaan
ilustrasi > Toni dagang roti, untung 100 ribu perhari 80 ribu dia ambil untuk makan transportasi dsb, sisa 20 ribu di masukan lagi untuk di putar buat kulakan roti lagi, dengan harapan keuntungan nya naik, 20 ribu itulah saldo laba
• Dibawah saldo laba ada catatan telah ditentukan dan belum di tentukan, menunjukkan rencana penggunaan nya akan seperti apa
ilustrasi > Toni tadi telah menyisihkan uang keuntungan untuk dijadikan modal lagi ( saldo laba ) 20 ribu ,
Toni telah merencanakan 10 ribu untuk tambahan modal beli Roti tawar ,namun 10 ribu nya lagi belum kepikiran mau di belikan apa akhirnya di simpan dulu alias Unappropriated
lalu ada keterangan dibawah nya lagi
Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik ekuitas induk, ini merupakan kekayaan bersih yang dapat di akui oleh pemegang saham, nilai BV alias Book value hasil dari perhitungan ini
Ekuitas dibagi total lembar saham
lalu bagaimana dengan istilah Kepentingan non pengendali? angka ini menunjukkan modal pihak lain, diluar para pemegang saham, alias mereka yang memiliki saham di anak perusahaan
Gambar dibawah merupakan hasil screenshot laporan $ROTI
Random tag
$BRRC$TBLA

🔔 Sistem Peringatan Dini Akumulasi: Masuk Sebelum Tren Harga Dimulai
Dalam dunia investasi, mengetahui kapan sebuah saham akan bergerak naik sebelum pergerakan itu terlihat jelas adalah holy grail. Pergerakan ke atas yang masif hampir selalu didahului oleh fase akumulasi yang tenang oleh Smart Money. Mereka masuk secara tersembunyi, membeli saham dalam jumlah besar tetapi tanpa menciptakan noise harga yang berarti, sehingga trader ritel baru menyadari setelah harga sudah melonjak.
Trigger Smart Money adalah sistem peringatan dini yang diciptakan untuk mendeteksi fase awal akumulasi tersembunyi ini di pasar saham Indonesia. Alat ini adalah mata-mata digital Anda, yang bekerja di back-end BEI, memproses data transaksi live untuk mengidentifikasi anomali yang merupakan signature dari uang besar.
Fitur paling kuat dari perangkat ini adalah Pendeteksian Volume Mendadak yang Tak Proporsional. Kami tidak tertarik pada pergerakan harga atau rata-rata volume yang lambat. Kami mencari momen ketika volume sebuah saham meledak—mencapai 6x atau 8x lipat dari rata-rata volume intraday yang biasanya—sebagai indikasi tak terbantahkan bahwa Tangan Besar sedang aktif. Deteksi ini kemudian divalidasi dengan Analisis Arus Dana Netto. Volume yang tinggi hanya menjadi sinyal buy yang valid ketika dominasi dana masuk (net buying) mengalahkan dana keluar (net selling). Dengan memadukan volume abnormal yang cepat dengan konfirmasi arah aliran dana yang dominan, Trigger Smart Money menyediakan sinyal akumulasi yang sangat presisi, menjamin Anda mendapatkan alert yang paling cepat dan paling andal, sehingga Anda dapat mengambil posisi saat Smart Money baru mulai menimbun.
$TKIM $LPPF $TBLA
1/2


$TBLA https://cutt.ly/ftsJofyv
$TBLA https://cutt.ly/ztsHIXlQ
Bagaimana $TBLA Bisa Survive dari Cashflow Minus?
Request member bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Kita perlu pelajari bagaimana PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) bisa survived arus kas operasional negatif (Cash Flow from Operations atau CFO) selama beberapa tahun tanpa bangkrut. Karena kalau cuma melihat CFO negatif, banyak investor langsung mengira perusahaan ini sudah di ujung jurang. Padahal yang benar-benar bikin perusahaan tumbang itu bukan rugi akuntansi, melainkan gagal bayar tepat waktu. TBLA adalah contoh klasik perusahaan yang secara operasional masih berjalan, tetapi modal kerjanya menyedot kas sehingga napas keuangan selalu pendek. Di titik ini, permainan utamanya bukan di laporan laba rugi, melainkan di akses kredit, kualitas jaminan, dan disiplin menjaga covenant bank. Yang menarik, TBLA justru memilih membayar pemasok lebih cepat, sementara penagihan ke pelanggan relatif lebih lama. Kombinasi ini biasanya mematikan jika tidak ada bank yang siap menjadi sumber oksigen. Jadi kuncinya bukan satu faktor, melainkan mesin pendanaan yang dipasang rapat di belakang layar. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Di periode sembilan bulan 2025 (9M 2025), pola bertahannya terlihat sangat jelas. Arus kas operasional (CFO) TBLA minus sekitar Rp2,0T, artinya kas dari kegiatan inti benar-benar terbakar. Namun di saat yang sama, arus kas dari pendanaan (Cash Flow from Financing atau CFF) justru plus sekitar Rp2,8T. Secara sederhana, kas yang habis di dapur operasional ditutup dengan suntikan utang baru, bahkan lebih besar dari defisitnya. Dengan cara ini, TBLA tetap bisa melanjutkan produksi, membeli bahan baku, dan membayar kewajiban yang jatuh tempo. Pola bertahan seperti ini terlihat tenang dari luar, tetapi di dalamnya TBLA hidup dalam ritme refinancing, hari ini menarik pinjaman, besok melunasi pinjaman lain, lalu mengulang siklus yang sama.
Alasan operasionalnya membakar kas sebesar itu ada di pengelolaan modal kerja yang makin tidak ramah kas. Sepanjang 9M 2025, pembayaran kepada pemasok dan lainnya mencapai sekitar Rp15,9T, sementara penerimaan dari pelanggan sekitar Rp15,6T. Secara aritmetika sederhana saja sudah terlihat defisit. Ini sejalan dengan turunnya utang usaha pihak ketiga dari sekitar Rp3,3T di akhir 2024 menjadi sekitar Rp1,7T per akhir September 2025. Penurunan sekitar Rp1,6T ini menunjukkan TBLA mempercepat pembayaran ke pemasok. Dampaknya, Days Payable Outstanding atau DPO memendek tajam. DPO kuartalan turun dari sekitar 54 hari di kuartal I (Q1) menjadi sekitar 45 hari di kuartal II (Q2), lalu hanya sekitar 33 hari di kuartal III (Q3). Dari sudut pandang manajemen kas, ini membuat perusahaan harus menutup kekurangan harian dengan utang bank.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Di sisi masuknya kas, penagihan ke pelanggan juga tidak cepat. Days Sales Outstanding atau DSO di Q1 sekitar 85 hari, memburuk ke sekitar 105 hari di Q2, lalu membaik ke sekitar 89 hari di Q3. Secara kumulatif 9M 2025, DSO berada di kisaran 89 hari. Artinya TBLA membayar pemasok rata-rata sekitar satu bulan, tetapi baru menerima kas dari pelanggan sekitar tiga bulan. Persediaan memang relatif lebih efisien dibanding tahun sebelumnya, tetapi tetap memakan waktu. Days Inventory Outstanding atau DIO di Q1 sekitar 86 hari, Q2 sekitar 91 hari, Q3 sekitar 83 hari, dan secara kumulatif 9M 2025 sekitar 97 hari. Kombinasi DIO dan DSO yang panjang, ditambah DPO yang makin pendek, membuat Cash Conversion Cycle atau CCC melebar. CCC Q1 sekitar 116 hari, melonjak ke sekitar 151 hari di Q2, turun sedikit ke sekitar 138 hari di Q3, dan rata-rata 9M 2025 sekitar 134 hari. Ini berarti modal kerja TBLA harus membiayai jeda sekitar 4,5 bulan sebelum uang kembali menjadi kas. Dalam kondisi seperti ini, perusahaan tanpa akses kredit biasanya sudah berhenti di tengah jalan.
Lalu bagaimana TBLA menutup lubang itu. Jawabannya ada pada peningkatan besar-besaran utang bank jangka pendek. Utang bank jangka pendek naik sekitar 69% dari sekitar Rp5,2T di akhir 2024 menjadi sekitar Rp8,8T per akhir September 2025. Total utang berbunga ikut naik menjadi sekitar Rp17,7T. Komposisinya juga berubah, porsi utang jangka pendek terhadap total utang berbunga naik dari sekitar 35% menjadi hampir 50%. Di saat yang sama, total liabilitas yang jatuh tempo kurang dari satu tahun mencapai sekitar Rp12,6T. Secara praktik, TBLA menukar kenyamanan pemasok dengan ketergantungan yang semakin besar pada bank.
Di sinilah peran fasilitas pembiayaan khusus menjadi krusial. TBLA menggunakan fasilitas pre-shipment financing dari Bank Danamon dengan limit sekitar Rp4,7T untuk modal kerja, serta account payable financing dari bank seperti Indonesia Eximbank dan CTBC. Mekanismenya sederhana tetapi efeknya keras. Utang dagang yang biasanya tanpa bunga dilunasi lebih cepat, lalu digantikan dengan utang bank berbunga yang jadwal pembayarannya mengikuti ketentuan bank. Ini menjelaskan mengapa utang usaha turun, sementara utang bank jangka pendek melonjak. Dari sisi pemasok, mereka dibayar cepat. Dari sisi bank, kendali ada di covenant dan agunan. Dari sisi TBLA, ini adalah cara bertahan yang mahal tetapi efektif.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Alasan bank masih bersedia memberi napas adalah kualitas jaminan dan dukungan grup. Sekitar 79% piutang usaha dijadikan agunan, sekitar 79% persediaan juga diagunkan, dan hampir 88% tanaman produktif dijaminkan. Di atas itu ada corporate guarantee dari PT Sungai Budi dan personal guarantee dari Widarto serta Santoso Winata, ditambah jaminan silang dari berbagai entitas anak. Dalam kondisi arus kas operasional negatif, bank tidak hanya melihat laba rugi, tetapi melihat siapa yang berdiri di belakang pinjaman dan aset apa yang bisa dieksekusi jika terjadi gagal bayar.
Faktor lain yang sering luput dari perhatian investor adalah kontrak operasional jangka panjang. TBLA memiliki kontrak pengadaan biodiesel Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dengan entitas Pertamina dan $AKRA, kerja sama pelabuhan dengan Pelindo II berbasis build operate transfer selama 25 tahun dengan bagi hasil sekitar 20% sampai 50%, serta perjanjian plasma dengan berbagai koperasi desa untuk periode 13 sampai 25 tahun. Kontrak-kontrak ini memang tidak langsung menghasilkan kas tunai, tetapi memberi visibilitas operasi dan kepastian aliran barang, sehingga bank melihat TBLA sebagai bisnis yang masih berfungsi.
Di sisi internal grup, perjanjian dengan pihak berelasi juga membentuk tulang punggung operasional. PT Sungai $BUDI menjadi distributor utama produk TBLA sampai 2028. Sewa lahan pabrik dan kantor di Bandar Lampung diperpanjang hingga 2036. Sewa lahan pabrik gula dan perkebunan tebu juga berjangka panjang. Rangkaian kontrak ini membuat operasi TBLA melekat erat pada ekosistem grup pengendali. Dari sudut tata kelola, ini bisa memunculkan tanda tanya. Namun dari sisi survivability, inilah salah satu alasan TBLA tetap bisa bertahan di tengah tekanan kas.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Tentu semua ini tidak gratis. Beban bunga 9M 2025 naik menjadi sekitar Rp1,0T dari sekitar Rp0,85T di periode yang sama tahun sebelumnya. Hampir seluruh pinjaman berbunga mengambang, dengan bunga Rupiah sekitar 7% sampai 9,5% dan bunga Dolar AS sekitar 5,5% sampai 6,7%. Sensitivitasnya tinggi, kenaikan bunga Rupiah 1% saja bisa memangkas laba sebelum pajak sekitar Rp170B. Rasio utang bersih terhadap ekuitas atau gearing ratio ikut naik dari sekitar 160% menjadi sekitar 186%. Walaupun masih di bawah batas covenant bank yang umumnya 200% sampai 260%, ruang napasnya jelas makin sempit.
Intinya, TBLA bertahan bukan karena kasnya kuat, melainkan karena kreditnya kuat. TBLA mengorbankan DPO, membiarkan DSO dan DIO tetap panjang, lalu menutup celah modal kerja dengan utang jangka pendek dan fasilitas pembiayaan yang terus diputar. Semua itu ditopang oleh agunan besar, kontrak operasional yang memberi keyakinan ke kreditur, serta dukungan pihak berelasi yang menyediakan guarantee dan struktur ekosistem aset. Selama bank masih percaya dan covenant tetap terjaga, TBLA bisa terus berjalan. Tetapi ketika bank mulai mengetatkan limit, suku bunga naik tajam, atau kualitas piutang kembali memburuk, mesin bertahan ini berpotensi berubah dari oksigen menjadi tekanan yang langsung menghimpit likuiditas.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/7







Apakah Piutang $TBLA yg bertambah disebabkan karna sudah supply nya Biodiesel quota jumbo ke Pertamina Patra Niaga yg memang ada term payment nya wak?
$TBLA LK Q3 2025: Piutang Perlu Dibereskan
Lanjutan dari request sebelumnya bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Di artikel sebelumnya saya sudah bahas tentang kendala TBLA yang kesulitan pasokan gula. Entah apa masalah TBLA sampai susah mendapatkan pasokan gula. Apakah karena kasus impor gula Tom Lembong. Sulit dipastikan. Pada postingan kali ini fokusnya digeser ke masalah yang jauh lebih krusial dan sering luput dari perhatian investor, yaitu kegagalan TBLA mengubah piutang menjadi cashflow. Inilah alasan utama kenapa laba terlihat tumbuh, valuasi kelihatan murah, dividen tampak menarik, tapi harga saham tetap lemas dan kas justru megap-megap. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau laporan posisi keuangan TBLA dibuka pelan-pelan, terlihat jelas bahwa piutang usaha sudah bukan lagi akun pendukung, tapi berubah menjadi tulang punggung aset lancar. Per akhir 2024, piutang usaha sekitar Rp4,75 T atau 35,28% dari total aset lancar Rp13,47 T. Masuk Q1 2025, piutang melonjak ke Rp5,78 T dan porsinya naik tajam menjadi 43,32% dari aset lancar. Q2 sempat turun tipis ke Rp5,49 T, tapi Q3 kembali naik ke Rp5,93 T dengan kontribusi masih sangat besar, sekitar 40,05% dari aset lancar Rp14,80 T. Artinya sederhana. Dalam sembilan bulan, struktur likuiditas TBLA makin bergantung pada piutang. Masalahnya, piutang itu bukan kas, melainkan janji bayar.
Secara nominal, piutang usaha naik sekitar Rp1,18 T dari akhir 2024 ke akhir Q3 2025. Angka ini hampir dua kali laba bersih 9M 2025 yang cuma Rp630 B. Jadi setiap kali investor melihat laba tumbuh, di saat yang sama ada kas yang justru terkunci di piutang. Yang bikin lebih tidak nyaman, kualitas pertumbuhan piutang ini memburuk. Piutang pihak berelasi justru turun sekitar 9% dari Rp3,28 T ke Rp2,98 T. Sebaliknya, piutang pihak ketiga meledak hampir dua kali lipat, dari Rp1,47 T menjadi Rp2,95 T. Ini sinyal kuat bahwa TBLA makin agresif jualan kredit ke pihak ketiga, terutama BUMN energi, tapi penagihannya tidak secepat laju penjualan.
Kalau ditarik per kuartal, polanya makin kelihatan. Q1 2025 adalah fase paling berat. Dalam satu kuartal saja, piutang melonjak sekitar Rp1,02 T. Artinya hampir seperlima revenue Q1 yang sekitar Rp5,60 T tidak berubah jadi kas, tapi parkir di piutang. Q2 sempat memberi harapan karena saldo piutang turun sekitar Rp283 B, seolah penagihan mulai jalan. Tapi harapan itu tidak bertahan lama. Di Q3, piutang naik lagi sekitar Rp433 B. Jadi tren besarnya jelas. Ada napas sebentar di Q2, tapi secara keseluruhan kualitas konversi kas memburuk. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sekarang sambungkan ke arus kas. Selama 9M 2025, revenue TBLA sekitar Rp16,38 T. Tapi kas yang benar-benar diterima dari pelanggan hanya Rp15,60 T. Ada selisih sekitar Rp781 B. Selisih ini secara kasar berubah menjadi tambahan piutang. Rasio konversi kas kumulatifnya 95,23%. Di atas kertas masih terlihat wajar, tapi detail kuartalannya mengkhawatirkan. Q1 hanya 84,61%, Q2 memang sempat di atas 100%, lalu Q3 turun lagi ke sekitar 95,18%. Pola zig-zag ini menunjukkan kas TBLA sangat tergantung timing penagihan, bukan kekuatan struktural.
Dampaknya langsung ke CFO. Selama 9M 2025, CFO TBLA negatif sekitar Rp1,99 T, padahal laba bersih positif Rp630 B. Ini bukan mismatch kecil, tapi gap struktural. Operasi inti secara akrual untung, tapi secara kas justru menguras napas. TBLA menerima kas dari pelanggan Rp15,60 T, tapi membayar ke pemasok dan lainnya sekitar Rp15,85 T. Bahkan sebelum bicara bunga dan pajak, arus kas operasional sudah defisit.
Efek dominonya langsung terasa ke utang. Untuk menutup lubang kas ini, TBLA terpaksa menarik utang jangka pendek secara agresif. Utang bank jangka pendek melonjak dari Rp5,20 T di akhir 2024 menjadi Rp8,80 T di akhir Q3 2025. Total utang berbunga naik ke Rp17,67 T. Dengan laba bersih annualized sekitar Rp840 B, rasio utang terhadap laba mendekati 21 kali. Lebih parah lagi, karena CFO dan FCF sama-sama negatif, utang ini bukan dibayar dari kas operasional, tapi diputar ulang untuk menjaga napas harian. Beban bunga ikut naik. Beban bunga utang bank 9M 2025 sekitar Rp984 B, naik lebih dari 24% YoY. Ini mempersempit ruang bernapas ke depan.
Di titik ini, wajar kalau market tidak terpesona dengan PER 4,83 kali atau PBV 0,45 kali. Angka-angka itu memang terlihat murah, tapi murah karena risiko. Harga saham Rp675 dibandingkan kas per saham sekitar Rp131 dan utang per saham sekitar Rp2.933 memberi pesan yang keras. Utang per saham lebih dari empat kali harga saham. Market membaca TBLA bukan sebagai mesin kas, tapi sebagai perusahaan yang labanya banyak berhenti di piutang dan harus disokong utang.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Soal dividen, ceritanya juga dua sisi. Dividend yield sekitar 6,96% memang terlihat menarik, dengan DPR sekitar 45%. Tapi pertanyaan kasarnya sederhana. Dividen ini dibayar dari mana. Selama FCF masih negatif besar, dividen secara ekonomi tidak ditopang kas nyata. Risiko ke depan adalah dividen dibayar sambil utang bertambah atau modal kerja makin ditekan. Ini justru bisa memperpanjang siklus kas seret.
Masalah utama TBLA saat ini bukan semata pasokan gula atau naik-turunnya harga CPO. Akar masalahnya adalah siklus konversi kas yang rusak. Penjualan tumbuh, laba naik, tapi piutang tumbuh lebih cepat dari kemampuan menagih. Selama pola ini tidak dibalik, CFO akan tetap tertekan, utang jangka pendek akan terus naik, dan harga saham akan terus diperlakukan sebagai saham diskon berisiko tinggi. Kalau TBLA ingin keluar dari jebakan ini, kuncinya bukan cerita pertumbuhan laba, tapi disiplin penagihan piutang, perbaikan termin pembayaran, dan pemulihan arus kas. Tanpa itu, laba hanya akan jadi angka cantik di laporan, bukan uang nyata di rekening.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/7







$TBLA LK Q3 2025: Kok Susah Banget Harganya Naik?
Request member bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Hari ini ada member External Community Pintar Nyangkut di Telegram yang tanya kok ini TBLA ndak bisa naik-naik harganya? Waktu harga sawit dan gula naik, harganya malah nyungsep, ndak seperti saham sawit lain yang meroket. Ini biasanya bukan soal komoditasnya kurang bagus, tapi soal market sudah keburu menilai ada lubang di bawah karpet. TBLA itu kasus di mana laba akrual terlihat sehat, valuasi kelihatan murah, bahkan dividen kelihatan menarik, tapi arus kas operasinya justru berdarah-darah. Di market, CFO negatif itu seperti bunyi alarm, mau harga CPO dan gula setinggi apa pun, investor tetap nanya satu hal. Uangnya beneran masuk atau cuma lewat laporan laba rugi? Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Harga TBLA sekarang Rp 675, dan performa 5 tahun terakhir turun 16%. Padahal sektor sawit secara umum naik. Diskon ini nyaris selalu berarti market tidak percaya kualitas laba atau takut sama utang dan likuiditas. Angkanya mendukung kekhawatiran itu. Di 9M 2025, revenue TBLA Rp 16,38 T, naik 31,21% dibanding 9M 2024 Rp 12,49 T. Laba bersih juga naik 25,66% menjadi Rp 630,17 B dari Rp 501,52 B. Kalau investor cuma baca dua angka ini, harusnya saham terbang. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, karena arus kas operasi berbalik ekstrem. CFO 9M 2025 minus Rp 1,99 T, sementara 9M 2024 masih positif Rp 1,25 T. Jadi TBLA bukan kekurangan laba, TBLA kekurangan kas.
Akar masalahnya ada di modal kerja dan ritme pembayaran. Penerimaan kas dari pelanggan 9M 2025 Rp 15,60 T, tapi pembayaran ke pemasok dan lainnya tembus Rp 15,85 T, ini yang jadi penggunaan kas terbesar dan bikin CFO jatuh. Di saat yang sama, piutang usaha pihak ketiga naik drastis dari Rp 1,47 T ke Rp 2,95 T. Secara sederhana, TBLA banyak jualan, labanya tercatat, tapi kasnya belum balik cepat, sementara kewajiban bayar bahan baku, operasional, dan rantai pasok jalan terus. Ini yang bikin market tidak peduli cerita harga CPO naik, karena perusahaan tetap bisa megap-megap kalau siklus kasnya jebol.
Komposisi bisnisnya juga penting buat menjelaskan perilaku harga. Di 9M 2025, produk kelapa sawit jadi mesin utama, revenue Rp 13,10 T atau 80,08% dari total. Produk gula justru mengecil, revenue Rp 3,28 T turun 36,53% dari Rp 5,17 T di 9M 2024. Kontribusi gula turun dari 41,40% menjadi 20,04%. Ini nyambung dengan cerita persediaan bahan baku gula mentah yang habis, dari Rp 167,84 B akhir 2024 menjadi Rp 0 dan tetap Rp 0 sampai 30 September 2025. Persediaan gula barang jadi juga turun dari Rp 1,71 T menjadi Rp 811,31 B, turun 52,79%. Jadi waktu orang bilang harga gula naik harusnya TBLA ikut meroket, faktanya segmen gulanya lagi menyusut secara tahunan, sehingga sentimen gula tidak otomatis jadi bensin untuk harga saham. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sekarang masuk ke bagian yang bikin investor makin ragu. Utang. Utang bank jangka pendek per 30 September 2025 Rp 8,80 T, naik tajam dari Rp 5,20 T per 31 Desember 2024. Total utang TBLA per 30 September 2025 Rp 17,67 T. Dengan laba bersih annualized sekitar Rp 840,23 B, rasio utang terhadap laba 20,97 kali. Itu artinya kalau cuma mengandalkan laba bersih, butuh hampir 21 tahun untuk melunasi utang, itu pun dengan asumsi laba tidak turun dan tidak ada kebutuhan capex tambahan. Lebih parah lagi, karena CFO dan FCF negatif, utang terhadap CFO dan utang terhadap FCF secara logika sudah tidak bisa dipakai buat narasi aman, karena arus kasnya defisit. Di level psikologis, market akan baca begini. Perusahaan tumbuh, tapi tumbuhnya butuh utang tambahan untuk menutup napas harian.
Capex di sini bukan musuh utama, tapi ikut menambah tekanan. Capex 9M 2025 Rp 1,12 T, relatif stabil dibanding 9M 2024, sehingga sumber masalah utama tetap CFO yang ambruk. Kombinasi CFO minus Rp 1,99 T dan capex Rp 1,12 T bikin FCF 9M 2025 minus Rp 3,11 T. Per kuartal pun konsisten merah. CFO Q1 2025 minus Rp 861,92 B, Q2 2025 minus Rp 230,79 B, Q3 2025 minus Rp 900,00 B. FCF Q1 2025 minus Rp 1,24 T, Q2 2025 minus Rp 570,69 B, Q3 2025 minus Rp 1,30 T. Ini menjelaskan kenapa harga saham tidak bisa ikut euforia komoditas. Karena tiap kuartal, kasnya tetap keluar lebih banyak daripada masuk.
Bagian yang sering bikin investor makin bingung adalah valuasi yang terlihat sangat murah. PER 4,83 kali, PBV 0,45 kali, P/S 0,19 kali, bahkan PEG 0,19 kali. Secara angka, TBLA terlihat seperti diskon besar. Tapi diskon ini bukan hadiah, ini harga ketakutan. Market mendiskon karena laba dianggap low cash quality. P/CFO dan P/FCF bahkan negatif, jadi metrik kas tidak bisa dipakai untuk membenarkan murahnya harga. Ditambah lagi risiko neraca. Net debt per saham Rp 2.782, total utang per saham Rp 2.933, sementara harga saham cuma Rp 675 dan kas per saham Rp 131. Ini kalimat yang langsung nyetrum ke kepala investor. Utang per saham lebih dari 4 kali harga saham. Jadi walaupun nilai buku per saham Rp 1.492, market bilang asetnya tidak dianggap semudah itu jadi uang tunai, karena modal kerja dan utangnya bisa menyedot nilai lebih dulu. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dividen ikut jadi pisau bermata dua. Di atas kertas, dividend yield 6,96% dengan DPR 44,96% terlihat enak. Tapi investor yang fokus kas akan langsung tanya, dividen ini dibayar dari apa? Karena FCF lagi negatif besar. Kalau dividen dibayar saat FCF negatif, sumbernya biasanya kombinasi utang baru atau pengetatan modal kerja yang makin agresif. Itu bisa bikin tekanan kas makin parah di periode berikutnya. Jadi dividend yield tinggi di TBLA bukan otomatis kabar baik, justru bisa dibaca market sebagai tambahan risiko kalau tidak didukung arus kas yang sehat.
Terus kenapa TBLA tidak ikut meroket seperti saham sawit lain? Karena saham lain bisa saja punya CFO positif, utang lebih jinak, atau siklus kas lebih bersih, sehingga ketika harga CPO naik, market langsung percaya itu akan jadi kas, bukan cuma jadi laba di laporan. TBLA sebaliknya, laba tumbuh 25,66% dan revenue naik 31,21%, tapi CFO jatuh ke minus Rp 1,99 T dan FCF jatuh ke minus Rp 3,11 T. Market melihat pertumbuhan yang dibayar mahal dengan leverage dan tekanan likuiditas, jadi harga cenderung ditahan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau investor mau bicara target valuasi ideal Rp 1.400 per saham, syaratnya sebenarnya bukan pertumbuhan laba lagi, karena EPS akrual sudah cukup untuk cerita PER 10 kali. Syarat utamanya cuma satu, CFO harus balik positif dan stabil, lalu FCF minimal positif dan sanggup menutup dividen dan capex tanpa nambah utang. Kalau 2026 masih kejadian pola yang sama, laba bagus tapi kas bocor, kemungkinan besar TBLA tetap jadi saham diskon, nyangkut di area Rp 600 sampai Rp 800, bukan karena komoditasnya jelek, tapi karena market takut perusahaan kehabisan oksigen kas di tengah utang jangka pendek yang membesar.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/7







👑 Menguasai Pasar: Senjata Rahasia Para Trader Elit Kini Milik Anda
Para trader elit tidak menguasai pasar karena keberuntungan, melainkan karena mereka memiliki alat dan metodologi untuk melihat pergerakan Smart Money jauh sebelum trader lain. Keunggulan ini adalah senjata rahasia yang memungkinkan mereka untuk selalu masuk di harga yang optimal. Kini, senjata rahasia itu bisa Anda miliki.
Trigger Smart Money adalah senjata rahasia Anda, sebuah alat analisis canggih yang secara eksklusif berfokus untuk melacak jejak akumulasi yang tersembunyi oleh Smart Money di BEI. Kami menghilangkan keunggulan institusional dengan memberikan Anda akses ke analisis yang setara.
Kunci penguasaan pasar kami terletak pada Deteksi Volume Anomali yang Sangat Sensitif dan Verifikasi Money Flow yang Mutlak. Kami mencari lonjakan volume yang sangat tiba-tiba (misalnya, lebih dari 6x rata-rata intraday) sebagai indikasi adanya aksi beli masif. Sinyal ini kemudian harus terkonfirmasi didominasi oleh arus dana masuk (net buying). Hanya sinyal yang lolos uji dual-verifikasi ini yang merupakan sinyal akumulasi yang kuat. Dengan kecepatan real-time dan akurasi yang teruji, Trigger Smart Money memberdayakan Anda untuk mengambil keputusan trading secepat dan seakurat para trader elit, memungkinkan Anda untuk mulai menguasai pasar.
$TUGU $MSIN $TBLA
1/2


➖ Waspada siklon tropis Bakung (barat Lampung dan Jawa), bibit siklon tropis 93S (selatan Bali NTB), dan bibit siklon tropis 95S (selatan Papua).
Masih terpantau di citra satelit BMKG ter-update.
Risiko angin kencang, gelombang laut tinggi, dan peningkatan curah hujan.
Moga bencana hidrometeorologi sudah lebih terantisipasi setelah kejadian Sumatera bagian utara.
Ini juga sudah dilaporkan BMKG kepada presiden saat sidang kabinet paripurna kemarin.
$IHSG $TBLA $CPIN

$TBLA katanya seh saham CPO yg masih lagging, katanya potensi kasih div interim 45, ydh kita coba lihat, semoga BS perform d 2026😁
$TBLA https://cutt.ly/3tpHnyMl
$TBLA https://cutt.ly/qtpFABAm
$TBLA
Dua timeframe (1h & 1day) sama2 nunjukin harga lagi ditekan seller
Semua MA di atas harga, trend masih bearish
Candle kecil2 di tf kecil & volume menurun, tanda seller mulai capek, tapi belum ada buyer kuat kayanya
Harga lagi nangkring di area support yang lumayan (sekitar 665-670)
Belum ada pola reversal yang proper
Cuma ada early sign base building candle kecil, shadow bawah & harga deket2 MA5
Butuh 2-3 candle stabil di atas MA5 biar bs disebut base beneran
RSI 27-37 oversold euy, peluang mantul kecil ada kali ya
Stochastic sekitar 5-an jenuh jual banget, timing mantul bisa kapan aja
MFI rendah (8-12) duit belum masuk, akumulasi masih tipis
Volume lagi turun, tekanan jual melemah.
655-670
kayanya boleh nyicil2 masuk, tapi liat2 lagi deh ya
630-645
buat nambah kalau test resist atas gagal
685-705
resistance plus area MA200 harian
Kalau jebol kemungkinan turun ke 600-615, ati2 liatin volumenya juga ya
Analisa lagi ya, belum tentu bener... goodluck! 🤪
randomtag $JPFA $NSSS
🌊 Mengarungi Gelombang Pasar: Masuk Sebelum Arus Besar Datang
Dalam dunia trading, menjadi early bird adalah kunci profitabilitas yang superior. Namun, bagaimana caranya masuk sebelum tren harga terbentuk? Jawabannya ada pada analisis mendalam terhadap perilaku volume abnormal yang merupakan indikator tidak terbantahkan dari aktivitas Smart Money. Para pemain ini tidak pernah menunggu tren; mereka menciptakan tren melalui aksi akumulasi mereka yang tersembunyi. Mereka berinvestasi secara bertahap, dan ketika jumlah modal yang mereka tanamkan sudah signifikan, pergerakan harga yang eksplosif adalah hasilnya.
Trigger Smart Money diciptakan untuk mengubah Anda dari pengikut tren menjadi pengambil posisi awal. Ini adalah alat pemindaian yang secara eksklusif berfokus pada dinamika volume dan aliran dana di pasar saham Indonesia. Ia berfungsi sebagai teropong yang memungkinkan Anda melihat jejak langkah raksasa finansial ini sebelum jejak itu diinjak oleh banyak orang.
Kekuatan analisisnya terletak pada deteksi Pola Volume yang Melanggar Kebiasaan. Kami menolak pendekatan volume rata-rata yang reaktif. Trigger Smart Money secara spesifik mencari titik di mana volume perdagangan melonjak secara eksponensial—misalnya, 5x, 8x, atau bahkan 10x dari norma volume intraday historis. Ini adalah indikator alarm yang sangat sensitif terhadap manuver uang besar. Namun, sinyal tersebut disaring lagi dengan Analisis Money Flow yang Mendalam. Volume yang tinggi saja bisa menjadi jebakan. Perangkat kami memverifikasi apakah lonjakan volume tersebut diiringi oleh aliran dana masuk (buying pressure) yang dominan atau tidak. Kombinasi dari Volume Anomali + Positive Money Flow = Sinyal Akumulasi Aksi Nyata. Dengan cara ini, Anda tidak perlu lagi berspekulasi. Anda mendapatkan bukti konkret tentang di mana Smart Money mulai menimbun barang. Informasi ini diolah secara real-time, berdasarkan data perdagangan aktual, memastikan Anda selalu selangkah di depan.
$MORA $TBLA $UNTD
1/2


$TBLA DOWNTREND DAN SDH BREAK 680... CL DULU YA GAESSS, SAYA GA PUNYA BARANG, CM KASIH TAU KARENA MANTAU...
$ASHA $DSFI