


Volume
Avg volume
PT Cikarang Listrindo Tbk, didirikan pada 28 Juli 1990 dan resmi melakukan Penawaran Umum Perdana Saham di Bursa Efek Indonesia pada 14 Juni 2016 (kode saham POWR), bergerak dalam bidang pembangkitan, transmisi, distribusi, dan penjualan tenaga listrik meliputi pembangkit gas dan uap dengan total kapasitas terpasang 1.179,8 MW (termasuk co‑firing biomassa 70 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya 35,8 MWp serta tambahan 14,1 MWp yang sedang dibangun) serta penyediaan Sertifikat Energi Terbarukan (I‑REC) dan pengoperasian 11 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Saat ini Perseroan memfokuskan pengembangan energi ... Read More
The real SAHAM ANTI BADAI dividen 6 kali setahun $POWR $SMSM 🔥
Paling cocok buat defensif invest hasil profit
$ADRO melakukan penghapusan 1,36 milyar lembar saham dari treasury mereka yg di buyback tahun 2025. Hal ini akan membuat EPS akan naik dan ujungnya valuasi saham akan diharapkan bakal ikut naik.
Menebak arah permainan Sang Pengendali, apakah untuk tujuan kembali masuk papan atas MSCI? Apakah untuk repo saham?
Satu yang pasti, alasan saya hold ADRO dan masuk dalam kluster Core Deviden Portofolio saya, bukan hanya soal masuk index atau tidak masuk index saja, tetapi roadmap perusahaan sebagai perusahaan EBT terbesar di Asia Tenggara yang sangat CLEAR dan punya riwayat rajin membagikan deviden.
Dengan pesat nya pemakaian AI dalam aktivitas masyarakat di Indonesia, maka kebutuhan data centre bukan lagi dalam satuan Giga Watt, melainkan Terra Watt. Kebutuhan energi sebesar ini tidak mungkin sanggup disediakan oleh pemerintah sendirian. Peranan swasta PASTI lebih dominan. Nah, roadmap inilah yang menjadi fondasi tesis saya di ADRO. Bagaimana dgn kamu, apa alasanmu hold dan akumulasi ADRO?
$POWR

$POWR karyawan itu weakhand seminggu dia jual lg atau setelah batas waktu hold yg ditetapkan perusahaan dia jual lg namanya dpt duit gratis dijual 1 perak juga tetap untung.
Menguji tesis dividend growth dengan yield on cost
Berbeda dengan dividend yield yang besarnya mengikuti harga saham, besar yield on cost (YoC) bergantung pada harga pembelian awal.
Yield on cost = DPS / harga pembelian
Jika DPS terus meningkat, yield on cost juga akan terus meningkat.
Jika DPS tidak tumbuh, yield on cost akan jalan di tempat.
Dengan kata lain, yield on cost adalah metrik penting dalam dividend growth investing.
Paling enak itu jika kita langsung belajar dari real case ya. Yuk lah.
Srudy case #1 - $SMSM (dividend growth klasik)
Harga beli akhir 2020 adalah 1.385.
DPS 2021 --> 70 (YoC 5,1%)
DPS 2022 --> 85 (YoC 6,1%)
DPS 2023 --> 105 (YoC 7,6%)
DPS 2024 --> 135 (YoC 9,7%)
DPS 2025 --> 140 (YoC 10,1%)
Dalam 5 tahun, yield on cost SMSM naik dari 5,1% menjadi 10,1%.
Itu adalah contoh jika DPS terus meningkat.
Tapi itu hanya data historis. Ke mana kapal akan berlayar setelahnya itu menjadi PR kita untuk mencari tahu.
Lalu bagaimana jika DPS stagnan atau growth-nya lambat?
Study case #2 - $POWR
Harga beli akhir 2020 adalah 710.
DPS 2021 --> 57,56 (YoC 8,1%)
DPS 2022 --> 65 (YoC 9,1%)
DPS 2023 --> 71,16 (YoC 10,0%)
DPS 2024 --> 72,16 (YoC 10,2%)
DPS 2025 --> 69,79 (YoC 9,8%)
POWR memang terkenal cukup royal membagikan dividen. Walaupun begitu, dividennya tidak banyak meningkat dari tahun ke tahun.
Jika menginginkan income dari dividen, kita perlu mempertimbangkan apakah dividen yang kita terima bisa terus meningkat seiring inflasi.
Bagaimana menurutmu untuk case POWR ini?
Pada case selanjutnya, kita akan melihat bagaimana harga beli bisa sangat berpengaruh terhadap yield on cost.
Study case #3 - $PTBA
Case PTBA ini cukup menarik karena menggambarkan karakteristik saham komoditas secara umum.
Saya akan mengambarkannya dalam 2 skenario berdasarkan periode yang berbeda.
Kita akan bisa melihat bahwa meskipun sahamnya sama, tidak serta merta bisa kita bilang bagus atau jelek.
Skenario ke-1: periode 2021-2025.
Ini adalah periode yang full senyum bagi holder PTBA.
Harga beli akhir 2020 adalah 2.810.
DPS 2021 --> 74,69 (YoC 2,7%)
DPS 2022 --> 688,51 (YoC 24,5%)
DPS 2023 --> 1.094,05 (YoC 38,9%)
DPS 2024 --> 397,71 (YoC 14,2%
DPS 2025 --> 332,44 (YoC 11,8%)
Perhatikan bahwa pada tahun 2020, coal berada di level yang cukup rendah dan terus meningkat setelahnya. Pasti sudah tau ceritanya kan? 😀
Harga beli yang relatif rendah menyebabkan yield on cost melonjak dari hanya 2,7% pada tahun 2021 menjadi 11,8% pada tahun 2025.. pada tahun 2023 bahkan sempat mencapai 38,9%.
Tentu saja ada 2 faktor yang menentukan:
1. Harga beli yang rendah
2. Laba yang meningkat tajam setelahnya larena harga coal melonjak.
Jika yang terpenuhi hanya poin 1 sementara harga coal tidak ke mana-mana tentu yield on cost juga akan jalan di tempat.
Yang apes itu jika membeli di harga terlalu tinggi dan DPS stagnan atau terus turun setelahnya.
Ini terlihat pada case selanjutmya. Sahamnya masih sama, yaitu PTBA, namun pada periode yang berbeda.
Skenario ke-2: periode 2010-2015
Harga beli akhir 2010 adalah 4.590.
DPS 2011 --> 111,97 (YoC 2,4%)
DPS 2012 --> 140,1 (YoC 3,1%)
DPS 2013 --> 144,15 (YoC 3,1%)
DPS 2014 --> 92,39 (YoC 2,0%)
DPS 2015 --> 64,91 (YoC 1,4%)
Sahamnya sama, yaitu PTBA. Namun karena harga belinya berbeda dsn pergerakan harga coal setelahnya juga berbeda, hasil yang didapatkan juga sangat berbeda.
Terlihat bahwa dividen yang didapatkan relatif kecil dan malahan cenderung terus turun setelahnya.
Gak enak ya di posisi seperti itu 😅
Nah, dari tiga study case di atas, kita bisa tarik benang merahnya.
Pertama, yield on cost bukanlah metrik yang berdiri sendiri. Yield on cost adalah perpaduan dari dua faktor, yaitu
1. Harga beli
2. Keberlanjutan pertumbuhan dividen.
Kedua, yield on cost tidak peduli harga saham hari ini naik atau turun. Yang lebih penting adalah apakah perusahaan mampu membagikan dividen yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
Pada saham seperti SMSM, YoC naik secara konsisten dan lebih mudah diproyeksikan walaupun tidak terlalu kencang.
Pada saham seperti POWR, YoC tinggi tapi cenderung stagnan. Dividennya cukup besar sebagai pendapatan namun kurang nyaman jika kita menginginkan pendapatan yang terus tumbuh.
Pada saham komoditas seperti PTBA, YoC bisa melesat dengan cepat atau sebaliknya. YoC sangat bergantung pada fase siklus komoditasnya saat melakukan pembelian.
Dalam dividend growth investing, yield on cost yang diinginkan bukan yang langsung tinggi, melainkan YoC yang cenderung terus meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini umumnya bisa dipenuhi jika bisnisnya masih memiliki ruang untuk tumbuh.
Yield on cost adalah tools untuk menguji apakah tesis dividend growth kita pada suatu saham masih relevan.
Jika yield on cost mulai berhenti meningkat, kita harus mencari tahu apakah mesin pertumbuhan bisnisnya masih menyala atau sudah mulai kehabisan bensin.
Karena pada akhirnya, tujuan dari dividend growth investing adalah membangun mesin pencetak pendapatan yang semakin kuat di masa mendatang.
Setiap investor punya preferensi yang berbeda.
Ada yang nyaman dengan YoC tinggi meski stagnan seperti POWR, dan ada yang menyukai pertumbuhan konsisten seperti SMSM. Ada juga yang menyukai saham siklikal dengan potensi return besar jika timingnya tepat.
Masing-masing memiliki plus minus sendiri.
Kalau kamu lebih suka yang mana?
Disclaimer: Tulisan ini adalah media edukasi dan bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Segala kerugian sebagai akibat penggunaan informasi pada tulisan ini bukan menjadi tanggung jawab penulis.
Tulis komentar... 🔓🆒🆔⬆️🔚
Update Higher To Price dari sinyal yang muncul hari tsb :
GGRM : 2.7%
$POWR : 0.7%
WIIM : 4.7%
Ada yang menarik dengan saham $CDIA dilihat dari foreign flow nya yang bisa dilihat disini https://cutt.ly/HtkZMVnv
Jika target sudah tercapai saatnya keluar
DisclamerOn : bukan saran jual beli
#ScreenerDekan™️
Not bad lah

@andika178 $POWR, $BJBR $BJTM bisa ikut dilirik bang untuk modal kecil. EAST jg bisa, baru bagi kemarin. ARNA bakal bagi sekitar Maret/April.
@PramodanaM3 gpp bang, yg penting masuk. bisa jadi bukan salah sekuritas.
🎶 🆑💯❌⁉️🆙♨️⭕️🆓
Fokus aja yg ini
GGRM
$POWR
WIIM
Untuk periode
Hari : Kamis
Tanggal : ⏭️ 15 Januari 2026 ⏮️
Hadir dalam SINYAL #ScreenerDekan™️ di StockBit .
Kita tunggu % Higher to Price sewaktu closing nanti jam 16.00 untuk cross-check hasilnya yang selama ini fitur screener StockBit tidak mengecewakan.
DisclamerOn : bukan saran jual beli, hanya Guideline pribadi 🌈

SCALPING $ESSA (675)
RENCANA ENTRY & EXIT
Entry Buy (660 – 690)
Take Profit 1 (TP1) 700
Take Profit 2 (TP2) 720
Zona Stoploss (< 640)
RISK : REWARD (DETAIL)
Asumsi Entry Ideal (675)
Risiko (Risk)
Entry 675 → Stoploss 640
Risiko = 35 poin
Reward TP1
700 – 675 = 25 poin
Risk : Reward TP1 = 1 : 0.7
Reward TP2
720 – 675 = 45 poin
Risk : Reward TP2 = 1 : 1.3
Catatan Risk : Reward
- Minimal ambil TP1, jangan serakah
- TP2 hanya jika volume & momentum mendukung
- Jika TP1 tercapai, stoploss digeser ke BEP
Catatan Tambahan
- Scalping berhasil dari disiplin, bukan nekat
- Stoploss wajib dan tidak boleh digeser turun
- Tidak ada sinyal → tidak entry
- Fokus konsistensi, bukan sekali besar
Analisa saya boleh bantu, tapi keputusan tetap milik Boss.
Ayo REQUEST SAHAM di kolom komentar seperti
$POWR $TLKM
,DM “mau” jika ingin dianalisa sahamnya
Support like agar terus update!!!
Follow untuk ikuti flowchart keputusan saham trend
Kalau postingan ini bermanfaat, boleh banget kasih tip lewat tombol bergambar 💲 di bawah ya. Terima kasih banyak 🙏
$BREN
⚡ SCALPING PLAN: BREN
🟢 Entry
Speculative Buy: 8.600 – 8.900 (Mengincar pantulan teknis di area support historis).
Confirmation Buy: > 9.400 (Masuk jika harga berhasil kembali ke atas level psikologis dengan volume beli yang signifikan).
🎯 Take Profit (TP)
TP 1: 9.600 – 9.800 → jual 50% (Amankan keuntungan di area resisten minor terdekat).
TP 2: 10.200 – 10.500 → jual sisa (Target pengujian kembali area puncak konsolidasi sebelumnya).
🔴 Stop Loss
SL Agresif: 8.500.
Daily Close < 8.400 → EXIT TOTAL (Sinyal bahwa tren turun lebih dalam akan berlanjut).
⚠️ Catatan Cepat
High Value Stock: Mengingat harga per lembar saham yang tinggi, pastikan manajemen lot disesuaikan dengan kapasitas modal Anda.
Momentum Alert: Hindari melakukan pembelian besar selama histogram MACD masih memanjang ke bawah di area negatif.
Disiplin: Jangan melakukan average down jika harga sudah menjebol batas bawah di level 8.400.
Jangan Lupa Follow!
Random Tag :
$KEEN $POWR
"Membedah Anatomi Volume: Fakta vs Opini"
Dalam analisis saham, seringkali kita terjebak dalam perdebatan opini. Ada yang bilang saham A bagus karena fundamentalnya, ada yang bilang jelek karena grafiknya patah tren. Namun, di tengah hiruk-pikuk opini tersebut, hanya ada satu hal yang tidak bisa berbohong: Volume Transaksi. Volume adalah bensin bagi mesin pergerakan harga. Tanpa volume yang memadai, kenaikan harga hanyalah fatamorgana yang mudah sirna. Namun, kita harus masuk lebih dalam; kita harus membedah anatomi volume tersebut untuk menemukan Clean Money yang sesungguhnya.
Bayangkan volume transaksi harian sebagai sebuah kotak hitam. Tanpa alat bantu, Anda tidak tahu isi di dalamnya apakah lebih banyak barang yang masuk atau barang yang keluar. Trigger Smart Money membuka kotak hitam tersebut untuk Anda. Ia memisahkan antara transaksi yang dilakukan oleh institusi (Smart Money) dengan transaksi spekulasi harian yang seringkali tidak memiliki arah jelas (Bad Money). Ketika Anda melihat volume yang meledak secara abnormal disertai dengan selisih bersih dana masuk yang positif, Anda sedang melihat fakta, bukan lagi sekadar opini atau prediksi analis.
Keberhasilan dalam trading bukan ditentukan oleh seberapa banyak buku teori yang Anda baca, melainkan seberapa presisi Anda membaca aktivitas pelaku pasar saat ini. Dengan fokus pada data Trade Done secara real-time, Anda mendapatkan keunggulan waktu yang tidak dimiliki orang lain. Anda bisa melihat lonjakan minat beli tepat saat transaksi itu terjadi di bursa. Jangan biarkan keputusan investasi Anda didasarkan pada spekulasi yang tidak berdasar. Gunakanlah data aliran dana sebagai bukti nyata bahwa ada kekuatan besar yang siap mendorong saham pilihan Anda menuju target profit.
$PLAN $DMND $POWR
1/3



PART 3
SILAHKAN
$POWR $BMRI $RMKE
https://cutt.ly/ptjQR7cE
Jualan Tanah atau Jualan Listrik?
Jujur saja, melihat $KIJA itu seperti melihat toko barang antik yang tertutup debu tebal di pojok pasar. Orang malas melirik karena tampilannya kusam, padahal kalau kita mau sedikit repot mengelap kacanya, ada jam dinding emas di sana. Kebanyakan investor ritel kita sudah telanjur skeptis dengan saham ini karena pergerakannya yang lebih sering jalan di tempat atau malah mundur teratur. Kita sering terjebak pada narasi besar properti yang sedang lesu, tanpa sadar bahwa perusahaan ini sebenernya punya mesin uang yang jauh lebih membosankan tapi sangat menguntungkan, yaitu jualan listrik dan air. Bayangkan, di awal tahun dua ribu dua puluh enam ini, saat semua orang ribut soal suku bunga, mereka santai saja mengantongi pendapatan berulang dari ribuan pabrik yang tidak mungkin berhenti beroperasi hanya karena inflasi naik satu persen.
Struktur bisnis mereka itu unik karena mereka bukan cuma pengembang lahan mentah. Mereka itu penguasa ekosistem. Di Cikarang, mereka sudah punya segalanya, dari pembangkit listrik sampai pengolahan limbah. Ini yang sering dilewatkan pasar yang terlalu fokus pada angka marketing sales mingguan. Padahal, lebih dari separuh pendapatan mereka itu datang dari jasa pelayanan kawasan. Artinya, selama pabrik-pabrik di sana masih ngebul, uang tetap masuk ke kantong perusahaan. Apalagi sekarang ada tren relokasi industri besar-besaran dari China ke Asia Tenggara. Indonesia sedang jadi primadona baru, dan KIJA sudah siap dengan karpet merahnya di Kendal. Kerjasama mereka dengan Sembcorp dari Singapura itu bukan cuma formalitas di atas kertas, tapi bukti kalau pemain global pun percaya dengan kualitas manajemen lahan mereka.
Saya pribadi agak gemas melihat valuasi sahamnya. Ini terbilang murah untuk perusahaan yang punya cadangan lahan ribuan hektar. Ada semacam bias di pasar yang menganggap perusahaan ini terlalu berisiko karena utang dolarnya di masa lalu. Padahal, kalau kita lihat laporan keuangan terbaru, mereka sudah jauh lebih sehat dan mulai mampu mengendalikan beban keuangan. Pasar seolah menghukum mereka atas kesalahan sepuluh tahun lalu, padahal realita bisnisnya sudah berubah total. Kendal sekarang sudah jadi Kawasan Ekonomi Khusus yang artinya ada banyak insentif pajak yang bikin investor asing ngiler untuk buka pabrik di sana.
Lalu ada cerita soal Tanjung Lesung yang sering dianggap sebagai proyek mimpi di siang bolong. Bertahun-tahun orang hanya dijanjikan soal potensi wisata, tapi aksesnya macet parah. Namun, kondisi sekarang sudah berbeda. Jalan tol Serang Panimbang yang hampir rampung itu adalah pengubah permainan yang nyata. Begitu aksesnya terbuka, nilai aset mereka di sana tidak lagi cuma jadi angka di laporan tahunan, tapi bisa jadi tambang emas baru. Belum lagi aset di Morotai yang posisinya sangat strategis di jalur perdagangan Pasifik. Memang terdengar sangat jauh ke depan, tapi bukankah tugas kita sebagai investor adalah membeli masa depan di harga masa lalu?
Memang berinvestasi di saham seperti ini butuh kesabaran yang tidak manusiawi. Kita harus siap melihat saham lain terbang sementara KIJA mungkin cuma bergerak beberapa perak. Tapi buat saya, ini soal kenyamanan tidur di malam hari. Membeli aset berkualitas dengan harga diskon besar itu selalu lebih masuk akal daripada mengejar saham gorengan yang fundamentalnya cuma selembar tisu. Pada akhirnya, pasar mungkin butuh waktu lama untuk sadar, tapi kenyataan bahwa aset mereka terus bertumbuh dan arus kas dari listrik tetap mengalir adalah fakta yang tidak bisa didebat. Kita tinggal duduk manis, menunggu narasi pasar berubah, atau setidaknya menikmati proses perusahaan ini bertransformasi menjadi raksasa yang tidak lagi sekadar tidur.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
$SSIA $POWR
@kakdr Ohhh jadi ga ada saham emang yang di keep buat dividennya regardless harganya naik turun berapa ya paman? misal $POWR