


Volume
Avg volume
Perseroan didirikan dengan nama PT Medela Potentia pada tahun 2011. Kegiatan usaha Medela Potentia saat ini meliputi layanan distribusi, dimana layanan ini terus berkembang dengan menyediakan layanan lengkap meliputi importasi, registrasi produk, penyimpanan, penyaluran, sistem rantai dingin (cold chain), penjualan dan penagihan untuk beragam produk farmasi, produk kesehatan dan alat kesehatan, dengan jangkauan wilayah distribusi ke seluruh Indonesia dan Kamboja. Untuk wilayah Indonesia, Medela Potentia melayani lebih dari 3.000 Rumah Sakit Swasta maupun Pemerintah, 23.000 Apotek, 3.500 Klinik, serta lebih dari 50.000 fasilitas ... Read More
Farmasi: Pola Revenue Farmasi yang Aneh
Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Kalau kita perhatikan pola Revenue perusahaan farmasi di IHSG, kita akan temukan beberapa kesamaan. Yang paling jelas, sektor ini kelihatan ramai di penjualan, tapi tidak semua ramai itu jadi uang. Banyak emiten menang di volume karena distribusi, sementara yang menang di margin justru yang pegang merek dan produk konsumen. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Di balik angka Revenue, cerita aslinya ada di COGS dan modal kerja, karena di farmasi barang itu bergerak lewat gudang, piutang, dan termin yang panjang. Jadi wajar kalau ada emiten yang Revenue-nya besar tapi laba tipis, karena kerja mereka mirip jasa logistik berbalut obat. Sebaliknya ada emiten yang Revenue-nya tidak sebesar raksasa, tapi laba tebal karena pricing power dan efisiensi produksi. Investor yang cuma lihat pertumbuhan Revenue biasanya telat sadar bahwa struktur biaya di sektor ini beda-beda kelas. Dan yang paling penting, ketimpangan skala membuat statistik rata-rata sering menipu, karena ada satu pemain yang terlalu dominan.
Dari 15 saham farmasi di IHSG, total Revenue mereka semua itu mencapai Rp74,18 triliun, dengan total laba bersih Rp5,15 triliun. Tetapi distribusinya timpang. $KLBF sendirian membukukan Revenue Rp25,99 triliun dan laba Rp2,69 triliun, sekitar 35% dari total Revenue sektor yang dihitung. Ini yang bikin rata-rata Revenue per emiten terlihat besar di Rp4,95 triliun, padahal median-nya cuma Rp2,06 triliun. Artinya mayoritas emiten berada di bawah bayangan raksasa, sementara beberapa pemain besar mengangkat rerata.
Kunci membaca sektor ini ada di rasio COGS terhadap Revenue. Kelompok margin tipis adalah model distribusi. $MDLA mencetak Revenue Rp11,09 triliun tapi COGS Rp10,02 triliun, jadi COGS sekitar 90% dari Revenue, laba bersihnya Rp293,93 miliar. PEVE juga mirip, Revenue Rp2,59 triliun dengan COGS Rp2,31 triliun, COGS sekitar 89%, laba bersih Rp44,15 miliar. Di dunia nyata, ini bisnis menang lewat perputaran barang, bukan lewat markup besar, jadi kualitas piutang, disiplin termin, dan efisiensi gudang itu lebih menentukan daripada slogan produk. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kebalikannya ada di consumer health yang biasanya lebih nyaman. SIDO Revenue Rp2,73 triliun dengan COGS Rp1,18 triliun, COGS sekitar 43%, laba bersih Rp818,54 miliar. $VICI juga relatif ringan, Revenue Rp1,03 triliun dengan COGS Rp452,50 miliar, COGS sekitar 44%, laba bersih Rp119,13 miliar walau profit-nya turun 10,3% dari tahun lalu. Behind the scenes-nya sederhana, saat merek kuat dan produk dekat ke konsumen, perusahaan punya ruang untuk menjaga margin, sehingga guncangan biaya bahan baku dan distribusi lebih mudah ditahan.
Di kelas manufaktur mapan, pola yang dicari investor adalah stabilitas laba saat Revenue tumbuh normal. KLBF tumbuh Revenue 7,2% dan laba 12,5%, ini tipe mesin sehat karena profit tumbuh lebih cepat dari penjualan. SGH SOHO juga menarik, Revenue naik 6,1% tetapi laba naik 28,9% menjadi Rp440,09 miliar, biasanya ini tanda efisiensi biaya atau mix produk yang membaik. MERK Revenue naik 8,0% dan laba naik 32,5% jadi Rp102,10 miliar, sementara DVLA Revenue naik 2,2% dan laba naik 11,5% jadi Rp164,33 miliar. Ini kelompok green flag versi fundamental, bukan karena selalu tumbuh kencang, tapi karena bisa menjaga profit saat pasar tidak memberi hadiah besar. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Ada juga grup yang kelihatan stabil tapi sebenarnya stagnan. TSPC Revenue Rp10,13 triliun turun tipis 0,2% dan laba Rp1,20 triliun turun 0,5%. Ini bukan jelek, ini lebih ke fase konsolidasi, biasanya pasar akan menunggu katalis baru atau perbaikan margin supaya grafik bergerak lagi.
Red flag paling gampang terlihat saat Revenue turun dan rugi masih besar. KAEF Revenue turun 10,9% ke Rp7,01 triliun dan masih rugi Rp234,11 miliar, memang membaik dari rugi Rp550,84 miliar, tapi tetap menunjukkan luka restruktur belum sembuh. IKPM Revenue turun 11,3% ke Rp257,10 miliar dan berubah dari laba kecil Rp0,82 miliar menjadi rugi Rp31,95 miliar, ini biasanya sinyal tekanan margin atau beban operasional yang tidak seimbang.
INAF lebih ekstrem secara kualitas, Revenue Rp133,74 miliar tetapi COGS Rp145,31 miliar, artinya barang dijual dengan gross loss sekitar Rp11,57 miliar, lalu rugi bersih Rp127,09 miliar. Ini sering berkaitan dengan skala yang mengecil, beban tetap yang tidak bisa ikut turun secepat penjualan, dan potensi tekanan harga atau penyesuaian persediaan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kasus yang paling sering bikin investor salah baca adalah growth yang meledak tapi profit justru makin jelek. PYFA Revenue melonjak 77,3% ke Rp2,06 triliun, tetapi rugi membengkak ke Rp365,82 miliar dari rugi Rp214,27 miliar. Ini pola khas pasca akuisisi, penjualan naik karena konsolidasi, tapi beban bunga, amortisasi, biaya integrasi, dan penyesuaian struktur bisa menekan laba. Jadi Revenue growth tinggi di farmasi tidak otomatis sehat, investor wajib cek apakah pertumbuhan itu organik atau hasil beli bisnis, lalu lihat apakah beban ikut terkendali.
Kalau investor mau investasi di saham farmasi maka ada 3 hal yang harus diperhatikan. Pertama, lihat jenis bisnisnya, distribusi akan selalu punya COGS tinggi dan margin tipis, jadi fokusnya harus ke perputaran, bukan cuma laba. Kedua, lihat apakah laba bergerak lebih cepat dari Revenue, seperti KLBF, SGH, MERK, DVLA, itu biasanya tanda manajemen biaya yang rapi. Ketiga, waspadai kombinasi Revenue turun plus rugi besar, atau Revenue naik kencang tapi rugi makin dalam, karena itu biasanya bukan masalah musiman, itu masalah struktur. Di sektor farmasi, cerita terbaik jarang datang dari kalimat promosi produk, cerita terbaik datang dari bagaimana perusahaan mengubah penjualan jadi profit tanpa mengorbankan neraca.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










$MDLA ini saham bagus buat 5 tahun kedepan. Bergerak bidang obat dengan RoCE 5 tahun (2021-2025) sebesar 21.05 %, dan freefloatnya masih sebesar 16.91%.
$MDLA
DSO 60.67
Semoga management bisa lebih selektif lagi dalam memberi kredit ke costumer.
Sehingga, bisa menaikkan dpr ke angka 45%.
Saya setuju dan sependapat dengan gurunda @husin1030 untuk DPR nya ditingkatkan
🤫 Aksi Diam-Diam: Mendeteksi Pembelian Masif di Tengah Keheningan
Pergerakan Smart Money yang paling menguntungkan seringkali terjadi di tengah keheningan, atau saat saham terlihat membosankan. Mereka sengaja melakukan aksi diam-diam untuk menghindari menarik perhatian, membeli dalam volume besar tetapi menyebar transaksinya agar harga tidak naik terlalu cepat. Keheningan harga ini menipu trader yang hanya fokus pada grafik candlestick.
Trigger Smart Money adalah alat yang mampu memecahkan keheningan ini. Alat ini dirancang untuk mendeteksi aksi diam-diam tersebut di pasar saham Indonesia, mengungkapkan di mana Smart Money sedang menanamkan uangnya, meskipun harga terlihat stabil.
Fungsi intinya adalah Mendeteksi Lonjakan Volume Intraday yang Cepat dan Tak Terduga. Lonjakan volume ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa aksi diam-diam sedang berlangsung. Kami mencari volume yang melonjak 4 hingga 7 kali lipat dari rata-rata intraday normal. Lonjakan volume masif ini, meskipun harga terlihat tenang, adalah sinyal kuat dari akumulasi. Sinyal ini kemudian divalidasi dengan Analisis Arus Dana Netto, untuk memastikan bahwa dominasi tekanan beli (net buying) adalah penyebab dari lonjakan volume tersebut. Dengan menggabungkan deteksi volume ekstrem dengan konfirmasi money flow, Trigger Smart Money memungkinkan Anda untuk menemukan peluang trading yang paling tenang, sebelum saham tersebut meledak.
$MARK $MDLA $PNBN
1/2


Saya ingat ketika $MDLA IPO bersamaan dengan $YUPI (nggak jauh beda). Rekomendasi saya menarik, tapi ada risiko Supply lembar saham yang cukup jumbo. Tapi, dari segi harga penawaran masih cukup murah.
Cuma satu hal, sampai saat ini, saya menilai risiko beli saham IPO untuk investasi jangka menengah panjang masih cukup tinggi. Probabilitasnya masih cukup rendah. Pilihannya kalau nggak saham konglo, atau saham tersebut memang ada siklus besar, hingga memang dari fundamental menarik bagi investor, terutama asing seperti $CMRY
Ternyata, saya melewatkan beberapa hal menarik, seperti IPO MDLA dibeli oleh IFC sekitar Rp190 miliar. Tapi, ya sesuai dengan plan saya, ogah ambil risk-reward yang lebih besar risk-nya.
Kini, MDLA sudah masuk lantai indeks global cukup cepat kurang dari 1 tahun. Dengan perkembangan pasca IPO ini, menurutmu seberapa menarik saham MDLA? kami buatkan 6 fakta terkait saham MDLA di sini: https://cutt.ly/RtdY9Ht8

$MDLA
Buy : 268 - 264
TP : 294
CL : 250
$IPCM
Buy : 356 - 348
TP : 392
CL : 336
$ACST
Buy : 134 - 130
TP : 148
SL : 126
DYOR - RR 2
$MDLA ini masih under value banget dibanding dengan yang lainnya. Keungan bagus dengan asset 6 Triliun. Buat jangka panjang ini emiten bagus sih.
What Seth Klarman said about Top-down and Bottom-Up Approach
There are three central elements to a value-investment philosophy.
1. Value investing is a bottom-up strategy entailing the identification of specific undervalued investment opportunities.
2. Value investing is absolute-performance-, not relative performance oriented.
3. Value investing is a risk-averse approach; attention is paid as much to what can go wrong (risk) as to what can go right (return).
In the discussion of institutional investing, it was noted that a great many professional investors employ a top-down approach. This involves making a prediction about the future, ascertaining its investment implications, and then acting upon them. This approach is difficult and risky, being vulnerable to error at every step.
Practitioners need to accurately forecast macroeconomic conditions and then correctly interpret their impact on various sectors of the overall economy, on particular industries, and finally on specific companies. As if that were not complicated enough, it is also essential for top-down investors to perform this exercise quickly as well as accurately, or others may get there first and, through their buying or selling, cause prices to reflect the forecast macroeconomic developments, thereby eliminating the profit potential for latecomers.
By way of example, a top-down investor must be correct on the big picture (e.g., are we entering an unprecedented era of world peace and stability?), correct in drawing conclusions from that (e.g., is German reunification bullish or bearish for German interest rates and the value of the deutsche mark), correct in applying those conclusions to attractive areas of investment (e.g., buy German bonds, buy the stocks of U.S. companies with multinational presence), correct in the specific securities purchased (e.g., buy the ten-year German government bond, buy Coca-Cola), and, finally, be early in buying these securities.
The top-down investor thus faces the daunting task of predicting the unpredictable more accurately and faster than thousands of other bright people, all of them trying to do the same thing. It is not clear whether top-down investing is a greater fool game, in which you win only when someone else overpays, or a greater-genius game, winnable at best only by those few who regularly possess superior insight. In either case, it is not an attractive game for risk-averse investors.
There is no margin of safety in top-down investing. Top-down investors are not buying based on value; they are buying based on a concept, theme, or trend. There is no definable limit to the price they should pay, since value is not part of their purchase decision. It is not even clear whether top-down-oriented buyers are investors or speculators. If they buy shares in businesses that they truly believe will do well in the future, they are investing. If they buy what they believe others will soon be buying, they may actually be speculating.
Another difficulty with a top-down approach is gauging the level of expectations already reflected in a company’s current share price. If you expect a business to grow 10 percent a year based on your top-down forecast and buy its stock betting on that growth, you could lose money if the market price reflects investor expectations of 15 percent growth but a lower rate is achieved.
The expectations of others must therefore be considered as part of any top-down investment decision. By contrast, value investing employs a bottom-up strategy by which individual investment opportunities are identified one at a time through fundamental analysis. Value investors search for bargains security by security, analyzing each situation on its own merits. An investor’s top-down views are considered only insofar as they affect the valuation of securities.
Paradoxically a bottom-up strategy is in many ways simpler to implement than a top-down one. While a top-down investor must make several accurate predictions in a row, a bottom-up investor is not in the forecasting business at all. The entire strategy can be concisely described as “buy a bargain and wait.”
Investors must learn to assess value in order to know a bargain when they see one. Then they must exhibit the patience and discipline to wait until a bargain emerges from their searches and buy it, regardless of the prevailing direction of the market or their own views about the economy at large.
One significant and not necessarily obvious difference between a bottom-up and top-down strategy is the reason for maintaining cash balances at times. Bottom-up investors hold cash when they are unable to find attractive investment opportunities and put cash to work when such opportunities appear.
A bottom-up investor chooses to be fully invested only when a diversified portfolio of attractive investments is available. Top-down investors, by contrast, may attempt to time the market, something bottom-up investors do not do. Market timing involves making a judgment about the overall market direction; when top-down investors believe the market will decline, they sell stocks to hold cash, awaiting a more bullish opinion.
Another difference between the two approaches is that bottom-up investors are able to identify simply and precisely what they are betting on. The uncertainties they face are limited: what is the underlying business worth; will that underlying value endure until shareholders can benefit from its realization; what is the likelihood that the gap between price and value will narrow; and, given the current market price, what is the potential risk and reward?
Bottom-up investors can easily determine when the original reason for making an investment ceases to be valid. When the underlying value changes, when management reveals itself to be incompetent or corrupt, or when the price appreciates to more fully reflect underlying business value, a disciplined investor can reevaluate the situation and, if appropriate, sell the investment. Huge sums have been lost by investors who have held on to securities after the reason for owning them is no longer valid. In investing it is never wrong to change your mind. It is only wrong to change your mind and do nothing about it.
Top-down investors, by contrast, may find it difficult to know when their bet is no longer valid. If you invest based on a judgment that interest rates will decline but they rise instead, how and when do you decide that you were wrong? Your bet may eventually prove correct, but then again it may not. Unlike judgments about value that can easily be reaffirmed, the possible grounds for reversing an investment decision that was made based upon a top-down prediction of the future are simply not clear.
$CITA $IPCC $MDLA
🤫 Aksi Diam-Diam: Mendeteksi Pembelian Masif di Tengah Keheningan
Pergerakan Smart Money yang paling menguntungkan seringkali terjadi di tengah keheningan, atau saat saham terlihat membosankan. Mereka sengaja melakukan aksi diam-diam untuk menghindari menarik perhatian, membeli dalam volume besar tetapi menyebar transaksinya agar harga tidak naik terlalu cepat. Keheningan harga ini menipu trader yang hanya fokus pada grafik candlestick.
Trigger Smart Money adalah alat yang mampu memecahkan keheningan ini. Alat ini dirancang untuk mendeteksi aksi diam-diam tersebut di pasar saham Indonesia, mengungkapkan di mana Smart Money sedang menanamkan uangnya, meskipun harga terlihat stabil.
Fungsi intinya adalah Mendeteksi Lonjakan Volume Intraday yang Cepat dan Tak Terduga. Lonjakan volume ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa aksi diam-diam sedang berlangsung. Kami mencari volume yang melonjak 4 hingga 7 kali lipat dari rata-rata intraday normal. Lonjakan volume masif ini, meskipun harga terlihat tenang, adalah sinyal kuat dari akumulasi. Sinyal ini kemudian divalidasi dengan Analisis Arus Dana Netto, untuk memastikan bahwa dominasi tekanan beli (net buying) adalah penyebab dari lonjakan volume tersebut. Dengan menggabungkan deteksi volume ekstrem dengan konfirmasi money flow, Trigger Smart Money memungkinkan Anda untuk menemukan peluang trading yang paling tenang, sebelum saham tersebut meledak.
$MINE $HEAL $MDLA
1/2

