


Volume
Avg volume
PT. Jasuindo Tiga Perkasa Tbk (JTPE) bergerak dalam bidang penyediaan solusi percetakan sekuriti baik dokumen ,label dan hologram, teknologi kartu yaitu kartu pembayaran, kartu sekuriti, kartu reguler dan Biro Personalisasi, percetakan komersial berupa dokumen bisnis, promoplus, gameplus, dan label premium serta penyediaan teknologi informasi.
Apa kesan pertamamu kalau mendengar perusahaan manufaktur? Asset heavy? Capex untuk peremajaan alat produksi?
Apa kesan pertamamu kalau mendengar perusahaan jasa? Asset light? Jarang butuh capex, dan capex-nya kecil-kecil aja?
Apakah artinya manufaktur memiliki return yang lebih kecil atas modal yang diinvestasikan, dan asset light lebih besar?
Awalnya saya mengira begitu, sampai saya yang berprofesi di sektor jasa dengan banyak klien di sektor manufaktur, mendiversifikasi porto saya antara perusahaan manufaktur dan jasa, saya bisa melihat dua sisi sudut pandang
Sudut pandang dalam aktivitas ekonomi selalu ada dua: penyedia nilai (value supplier) dan pelanggan (customer)
Kesan pertama tentang manufaktur vs jasa, asset heavy vs asset light, ini terbatas pada dua scope:
1. Sudut pandang value supplier
2. Dengan asumsi perusahaan dan aktivitas ekonominya bersifat statis, selalu fixed di masa depan
Tapi ketika batas-batas ini kita cabut sudut pandang kita jadi lebih luas
Pertama jika kita cabut asumsi bahwa perusahaan dan aktivitas ekonomi selalu bersifat statis, kita bisa melihat bahwa asset light vs asset heavy untuk sektor yang sama, itu selalu RELATIF terhadap fase pertumbuhan mereka masing-masing
Ada perusahaan yang sedang dalam fase pertumbuhan, maka tahun depan bisa jadi dia RELATIF lebih asset heavy dibandingkan tahun ini dan tahun lalu
Ada perusahaan yang sudah matang, maka tahun depan most likely tidak banyak berubah selain fluktuasi kas akibat laba ditahan dan dividen, bisa jadi juga malah downtrend karena supplier semakin trust sama mereka sehingga mereka bisa bayar belakangan setelah mengakui laba duluan
Ada perusahaan yang saking matangnya, maka mereka mencari keuntungan dari dua: efisiensi, misalnya mengonversi plant produksi padat karya menjadi padat teknologi, atau mencari opsionalitas, misalnya menekan aset usaha utama, lalu laba ditahan hasil efisiensi tadi, bahkan kas dari asset write-off, dipakai untuk diversifikasi. Story "asset play" Engkong Peter Lynch menggunakan logika ini
Artinya jika batasan ini kita cabut, sebuah perusahaan bukan punya aset yang berat atau ringan, tapi punya trajectory, arahnya ke mana, makin berat atau makin ringan
Lalu jika kita cabut sudut pandang value supplier, kita punya sudut pandang yang justru PALING menentukan seberapa worth-it return yang kita dapatkan untuk modal yang diinvestasikan, yaitu sudut pandang customer
Ini kerasa banget di perusahaan tempat saya bekerja: sektor jasa berteknologi tinggi. Dikiranya sektor jasa yang asset light, dipadukan dengan teknologi yang bernilai tambah tinggi = return yang worth-it atas modal yang diinvestasikan? Pft bos saya itu BEP-nya 8 tahun lebih. 8 tahun pertama bisnisnya itu slowly bleeding, struggle to stay afloat
Kenapa kok bisa? Kombinasi dari banyak sisi:
1. Sisi value supplier: perusahaan yang masih fase pertumbuhan, asetnya naik dari tahun ke tahun, dari 1001 jenis investasi-investasi kecil yang diakumulasi
2. Sisi customer: perusahaan yang masih fase pertumbuhan, marginnya saling tekan dengan kompetitor, dan yang paling bisa menekan margin kita justru adalah status quo yang punya harga premium
Asset light? Yes. High added value? Yes
Tapi secara return atas modal yang diinvestasikan? Lebih worth it yang sebaliknya
Mungkin dia manufaktur. Mungkin dia asset heavy. Tapi karena sudah matang, capex-nya udah nggak menggeser jarum sebanyak arus kas bebas dan dividennya, lebih fokus pada efisiensi bahkan mengeksplorasi opsionalitas
Dan yang paling terasa dampaknya? Dia yang sudah matang memiliki PRICING POWER yang tinggi tanpa harus menjadi oligopoli apalagi monopoli, bahkan tanpa butuh proteksi regulator. Mereka sudah berdiri di kaki mereka sendiri, dan customer sudah trust dan loyal sama brand mereka
Ada? Banyak
Asset light, asset heavy, semua punya tempatnya masing-masing di porto. Tapi kalau mau level up, kita harus bisa berpikir lebih kritis lagi: apa iya asset light se-cozy itu? Apa asset heavy selalu seberat itu?
$JTPE $TOTL $SIDO

If you are presented with a bet, you can calculate your expected winnings (the amount you’ll earn on average each time you bet) by multiplying the probability of winning times the amount won per bet and then subtracting the probability of losing times the amount lost per bet.
Let’s say I offer you two different bets:
There is a bag of 100 marbles. One is red and 99 are green. For every dollar you bet, if you pick a green marble I’ll pay you 1.02 dollar. If you pick red you lose your dollar. The expected return works out to you earning on average 1 dollar every time you bet. Basically 99 times you’ll earn 102% and once you’ll lose 100%. So for every bet you make you will earn a 100% return on average.
There is a bag of 100 marbles. 99 are red and one is green. For every dollar you bet, if you pick a green marble I’ll pay you 199 dollar. If you pick red you lose your dollar. The expected return works out to you earning on average 1 dollar every time you bet. Basically 99 times you’ll lose 100% and once you’ll earn 19,900%. So for every bet you make you will earn a 100% return on average.
The expected return of the two bets is the same. Therefore, in theory, you should be indifferent between the two bets, especially if you’re allowed to make the bet over and over again so that the long term probabilities play out.
But what if instead you had to bet your life savings on one of these two options? Most everyone would pick bet #1. This is because if you bet everything and lose, you won’t get a chance to bet again (because you’ll be broke). You’ll never get to the long term. In other words, when deciding which bet to make, you only really care about the expected return. But if you are trying to decide how much to bet, you also need to take into account the likelihood of winning.
Interestingly, almost every Wall Street research report will address the expected return portion of the equation. “We think this stock can get to 100 dollar over the next 12-months,” “our price target for the stock is 75 dollar, ”we think the stock can double over the next three years.” But while these types of forecasts are part of every discussion of every investment opportunity, the standard stock research report makes no mention of the probability of success. For that matter, despite the industry generating an extraordinary volume of research on which stocks to buy, the literature on how much of each stock to buy is unbelievable thin. Yet how much of a stock to buy is a decision that needs to be made every single time any investor makes an investment.
How likely an investment is to pay off at or better than your estimate of its expected return must be a key input to position sizing. But estimating this probability is difficult and the best process varies depending on your investment strategy and in particular your time horizon.
For a short term oriented investment strategy in which an investor makes investments based on known catalysts such as the probability that a biotech company will have a new drug approved, most of the attributes of the company can be ignored and the investor can focus on the specifics of the catalyst in question.
But for a long term oriented strategy in which an investor makes investments based on their assessment that a particular company is superior to competitors in its ability to generate cash flow, the catalysts are mostly unknown and so the probability of success must be estimated based on an assessment of the company itself.
$TOTL $CASS $JTPE
MAKRO EKONOMI 2
Konsumsi sebagai penggerak ekonomi
Dalam komponen PDB Product Domestik Bruto
unsur Consumer atau konsumsi merupakan faktor penting
Bagaimana sebuah konsumsi berperan dalam pertumbuhan ekonomi ? Dampaknya apa ?
Berikut penjelasan sederhana nya
Ketika konsumsi naik artinya barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan, terserap ( Terbeli ) lalu perusahaan mendapatkan keuntungan, Perusahaan yang untung akan ekspansi lalu membuka lapangan pekerjaan baru, Selain itu perusahaan akan berkontribusi ke negara lewat pajak, negara akan membangun infrastruktur menunjang aktivitas lebih lancar menciptakan lapangan pekerjaan baru lagi, dan daya beli lebih kuat lagi dan akhirnya Ekonomi bergerak
Bagaimana jika konsumsi turun? atau melemah ?
Bahkan dalam kondisi ekstrem hal tersebut akan memperlambat ekonomi, Ketika daya beli turun perusahaan akan memperlambat ekspansi nya bahkan memangkas jumlah tenaga kerja. Dampaknya pengangguran naik, pendapatan pajak negara turun, efek multiple tercipta, bahkan bisa sangat berbahaya untuk ekonomi karena roda ekonomi macet
PERAN MONETER DAN FISKAL
Maka ketika hal tersebut terjadi, peran Moneter dan fiskal dibutuhkan, yaitu pemerintah harus turun tangan mendorong daya beli supaya bangkit lagi, lalu ketika daya beli terlalu kuat alias inflasi, pemerintah dan moneter alias BI harus menjaga nya lewat pengereman perputaran uang yang ada
BI lewat kebijakan moneter nya naik turun in suku bunga, mengendalikan sistem keuangan
Negara Lewat kebijakan anggaran nya
Balik lagi ke Konsumsi
maka hal apa yang perlu diperhatikan investor saham?
1.) Amati bagaimana daya beli masyarakat secara langsung, Misal pas liburan , nonton, atau pas belanja bagaimana pola masyarakat dalam pengeluaran nya apakah ada perubahan
2.) Amati Indikator yang tersedia seperti tingkat Inflasi, Dan Tingkat Penyaluran kredit perbankan seperti apa
Dengan melihat hal tersebut kita bisa mendapatkan gambaran bagaimana kondisi ekonomi dari sisi konsumsi
random tag
$JTPE$AMRT$PTPS
Gambar dibawah adalah tingkat Inflasi, saya ambil dari web trading economies, pada awal tahun inflasi sangat rendah sekali bahkan deflasi ,tanda daya beli lemah pada saat tersebut, namun sudah recovery

$JTPE
Masuk bertahap contoh modal 1jt.(3:3:4)%
300k harga opening (high risk)
300k harga turun 4-6% (Avg down)
400k harga turun 8-10% (Avg down terakhir)
SL 5-10% dari harga avg terakhir.
Medium Risk masuk ketika harga turun 3-5 dari opening price dengan rules yang rasio yang sama (3:3:4)%
Cuan bungkus 3-5%
MASUK SCREENING PANTAUAN
$ASHA (AWAS SANGKUT AWAS GOCEK)
$MDKI (AWAS SANGKUT AWAS GOCEK)
$JTPE (AWAS SANGKUT AWAS GOCEK)
#DYOR
$JTPE
⚡ SCALPING PLAN: JTPE
🟢 Entry
Buy on Support: 540 – 555 (Mengincar pantulan teknikal di area support minor).
Buy on Breakout: > 605 (Hanya jika harga mampu menembus level tertinggi sebelumnya dengan volume yang meledak).
🎯 Take Profit
TP 1: 590 – 600 → jual 60% (Menguji kembali level puncak historis terdekat).
TP 2: 640 – 650 → jual sisa (Target ekspansi jika tren bullish berlanjut secara agresif).
🔴 Stop Loss
SL Agresif: 530.
Daily Close < 510 → CUT LOSS mutlak (Sinyal bahwa tren naik telah patah dan harga berisiko jatuh ke area 450).
⚠️ Catatan Cepat
Momentum Alert: Perhatikan histogram MACD; jika besok histogram tetap mengecil, tunda pembelian karena harga kemungkinan akan bergerak menyamping (sideways) atau turun perlahan.
Karakter Saham: JTPE dikenal memiliki tren yang stabil namun bisa sangat tajam saat terkoreksi; pastikan untuk tidak terjebak dalam euforia kenaikan sebelumnya.
Volume Tracking: Pantau apakah ada penurunan volume transaksi saat harga melemah; jika volume kecil, itu indikasi koreksi sehat.
Jangan Lupa Follow!
Random Tag :
$KOTA $ABMM