#16 Media Sosial dan Distorsi Harapan Investor
Saya masih ingat masa ketika membuka media sosial terasa seperti membuka jendela ke dunia investasi yang “sempurna”. Timeline dipenuhi tangkapan layar portofolio hijau, persentase keuntungan besar, dan cerita sukses yang seolah datang tanpa cela. Awalnya saya terinspirasi. Tapi pelan-pelan, inspirasi itu berubah menjadi tekanan. Saya mulai bertanya pada diri sendiri: kenapa hasil saya terasa biasa saja? Kenapa perjalanan saya tidak secepat dan seindah yang terlihat di layar?
Tanpa sadar, media sosial menggeser cara saya memandang realitas. Saya mulai mengukur kinerja dari potongan-potongan cerita orang lain, tanpa tahu konteks, tanpa tahu risiko, tanpa tahu apa yang tidak ditampilkan. Yang muncul di permukaan hanyalah hasil akhir, bukan prosesnya. Setiap kali portofolio saya bergerak datar atau turun, saya merasa tertinggal. Padahal, yang saya bandingkan bukanlah kenyataan dengan kenyataan, melainkan kenyataan dengan kurasi terbaik orang lain.
Titik baliknya datang ketika saya mulai menyadari betapa selektifnya cerita yang dibagikan. Jarang ada yang memamerkan keraguan, kesalahan, atau tahun-tahun yang berjalan biasa saja. Saya pun mulai membatasi asupan, bukan karena anti media sosial, tapi karena saya ingin kembali mendengar suara sendiri. Ketika fokus saya kembali ke tujuan pribadi dan rencana yang saya pahami, tekanan itu perlahan mereda. Saya tidak lagi merasa harus menyesuaikan langkah dengan kecepatan orang lain.
Hari ini, saya masih menggunakan media sosial, tapi dengan jarak yang lebih sehat. Saya belajar bahwa distorsi harapan adalah risiko yang nyata, meski tidak tercantum di prospektus mana pun. Media sosial bisa memberi inspirasi, tapi juga bisa menanamkan ekspektasi yang tidak realistis. Ketika kita lupa bahwa setiap perjalanan investasi bersifat personal, mudah sekali terjebak pada standar yang bukan milik kita. Dan sejak saya berhenti membandingkan, investasi kembali menjadi proses yang lebih tenang dan jujur.
$IHSG $CLPI $JTPE
