


Volume
Avg volume
PT. Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk bergerak di Bidang jasa, khususnya penunjang telekomunikasi. Meliputi jasa telekomunikasi terutama penyewaan menara dan pemeliharaan jaringan telekomunikasi. Perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 9 April 2018
$INET
⚡ TRADING PLAN: INET
🟢 Entry
Wait for Base: Menunggu harga menunjukkan tanda-tanda akumulasi di area 520 – 540.
Confirmation Entry: > 585 (Hanya masuk jika harga berhasil menembus resisten minor terakhir untuk mengonfirmasi berakhirnya fase koreksi jangka pendek).
🎯 Take Profit (TP)
TP 1: 640 – 660 → jual 50% (Mengamankan keuntungan di area resisten sebelum puncak tertinggi terakhir).
TP 2: 700 – 720 → jual sisa (Target optimis jika momentum kenaikan kembali ke jalur paraboliknya).
🔴 Stop Loss (SL)
SL Agresif: 490.
Daily Close < 460 → EXIT TOTAL (Wajib keluar segera jika level ini tertembus, karena tren naik jangka panjang akan patah dan harga berisiko jatuh kembali ke area 300-an).
⚠️ Catatan Cepat
MACD Dead Cross: Abaikan kenaikan kecil seperti +0,90% saat ini selama garis MACD belum kembali mengarah ke atas; ini bisa menjadi jebakan beli (bull trap).
Volume Check: Pastikan setiap pantulan harga didukung oleh volume transaksi yang meningkat secara signifikan untuk memvalidasi pembalikan arah.
Volatility Alert: INET adalah saham yang sangat volatil; gunakan ukuran posisi yang bijaksana dan jangan mengalokasikan terlalu banyak modal dalam satu kali transaksi.
Jangan Lupa Follow!
Random Tag :
$IBST $GHON
$INET
⚡ TRADING PLAN: INET
🟢 Entry
Buy on Weakness: 530 – 560 (Membeli saat terjadi koreksi minor untuk mendapatkan harga rata-rata yang lebih dekat dengan support).
Confirmation Entry: Wait for MACD Golden Cross (Menunggu hingga garis biru memotong ke atas garis merah untuk konfirmasi pembalikan tren yang lebih aman).
🎯 Take Profit (TP)
TP 1: 640 – 670 → jual 50% (Mengamankan profit di area target resisten psikologis pertama).
TP 2: 700 – 740 → jual sisa (Target jika momentum sanggup membawa harga kembali ke area puncak tertinggi sebelumnya).
🔴 Stop Loss (SL)
SL Agresif: 515.
Daily Close < 490 → EXIT TOTAL (Sinyal teknis bahwa pantulan hari ini gagal dan harga berisiko jatuh kembali ke area 400).
⚠️ Catatan Cepat
High Volatility: INET dikenal sebagai saham dengan pergerakan harga yang sangat cepat; pastikan Anda memiliki waktu untuk memantau layar atau menggunakan fitur trailing stop.
Histogram Watch: Jika histogram negatif terus memendek dan berubah menjadi hijau dalam beberapa hari ke depan, ini adalah validasi kuat untuk penguatan lebih lanjut.
Volume Tracking: Kenaikan hari ini harus diikuti oleh volume transaksi yang konsisten di hari berikutnya untuk memastikan ini bukan sekadar dead cat bounce.
Jangan Lupa Follow!
Random Tag :
$IBST $GHON
"Strategi Anti-Nyangkut: Membaca Sinyal Distribusi"
"Nyangkut" di pucuk adalah mimpi buruk bagi setiap trader saham. Hal ini biasanya terjadi karena seseorang membeli saham saat harga sedang berada di puncak kejayaannya, tepat sebelum Smart Money melakukan aksi jual besar-besaran. Pemain besar sangat ahli dalam menyembunyikan aksi jual mereka di tengah volume yang sangat ramai. Mereka menciptakan kesan seolah-olah saham tersebut masih sangat kuat, padahal yang sedang terjadi adalah aliran Bad Money yang masif karena mereka sedang membuang barang secara perlahan kepada ritel yang sedang euforia.
Untuk menghindari jebakan maut ini, Anda membutuhkan indikator yang bisa membedah isi dari volume besar tersebut. Trigger Smart Money akan menunjukkan kepada Anda nilai Clean Money yang sebenarnya. Jika Anda melihat harga saham masih naik atau bergerak mendatar di area tinggi, namun dana bersihnya mulai negatif secara signifikan, itu adalah tanda peringatan keras. Itu artinya, meskipun volume terlihat ramai, lebih banyak uang yang keluar daripada yang masuk. Pemain besar sedang "meninggalkan kapal", dan sudah saatnya Anda juga melakukan hal yang sama sebelum harga terjun bebas.
Membangun kebiasaan untuk selalu mengecek aliran dana masuk dan keluar akan menyelamatkan portofolio Anda dari kerugian yang tidak perlu. Jangan pernah tertipu oleh narasi positif di media sosial jika data Clean Money menunjukkan fakta sebaliknya. Pasar saham tidak memiliki belas kasihan bagi mereka yang mengabaikan tanda-tanda distribusi. Dengan memiliki radar pemburu dana besar, Anda memiliki sistem peringatan dini yang akan selalu menjaga modal Anda tetap aman, memastikan Anda keluar dengan profit sebelum pesta berakhir bagi para pemegang Bad Money.
$SMLE $PEGE $GHON
1/3



$INET
⚡ SCALPING PLAN: INET
🟢 Entry
Buy on pullback: 460 – 485 (Menunggu harga menunjukkan stabilitas dan tanda perlawanan beli di area support historis sebelum masuk secara bertahap).
Buy breakout (agresif): > 540 (Valid jika harga mampu berbalik naik dan menembus resisten minor terakhir dengan volume beli yang kembali meledak).
🎯 Take Profit (TP)
TP 1: 580 – 620 → jual 30–40% (Mengamankan keuntungan di area target jangka pendek terdekat).
TP 2: 680 – 710 → jual 30–40% (Mengincar kembali area puncak harga tertinggi sebelumnya).
TP 3: 750+ → jual sisa (Diterapkan jika momentum kenaikan kembali menguat secara luar biasa).
🔴 Stop Loss
SL pullback: 450.
SL breakout: 500.
Daily close < 440 → CUT LOSS tanpa ragu (Sinyal bahwa struktur kenaikan telah rusak total dan harga berisiko jatuh lebih dalam).
⚠️ Catatan Cepat
Karakter saham volatile: INET memiliki volatilitas yang sangat tinggi, terutama setelah kenaikan tajam → jangan full sekali masuk.
Momentum Analysis: Selama histogram MACD masih memanjang di area negatif, hindari menyimpan posisi terlalu lama karena risiko koreksi lanjutan sangat tinggi.
Disiplin: Sangat tidak disarankan melakukan average down jika harga sudah jebol di bawah level psikologis 450.
Jangan Lupa Follow!
Random Tag :
$IHSG $GHON
SAHAM : $GJTL
HARGA SAAT INI : 1.055
1️⃣ TREN & STRUKTUR HARGA (Swing View)
- Tren Utama : Sideways cenderung bullish
- Timeframe Acuan : Daily (Swing Trader)
- Catatan : Harga konsolidasi sehat, peluang rebound selama support kunci terjaga
2️⃣ SUPPORT & RESISTANCE
- Support Minor : 1.000 – 1.020
- Support Kunci : 980
- Resistance 1 : 1.100
- Resistance 2 : 1.160 – 1.200
3️⃣ KONDISI VOLUME & BANDAR
- Volume cenderung muncul saat koreksi → indikasi akumulasi
- Kenaikan bertahap, belum euforia
- Selama harga di atas 980 → masih dijaga
4️⃣ RISK / REWARD (WAJIB UNTUK SWING)
- Entry Acuan : 1.055
- Stop Loss : 980 (±7,1%)
- Target Swing : 1.180 (±11,8%)
- Risk : Reward : 1 : 1,7 → CUKUP LAYAK
5️⃣ FUNDAMENTAL SINGKAT
- Emiten produsen ban dengan orientasi ekspor
- Sensitif terhadap harga bahan baku & permintaan otomotif global
- Cocok untuk swing hingga mid-term dengan disiplin stop loss
📌 KESIMPULAN SWING TRADER
GJTL layak dipantau untuk swing trading selama bertahan di atas support kunci 980.
Peluang kenaikan ke area 1.100–1.180 masih terbuka dengan risiko terukur.
Analisa ini panduan ya Boss, eksekusi tetap kembali ke gaya trading Boss.
$FOLK $GHON
$TBIG Klien Telkomsel
Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Perusahaan menara terbesar di Indonesia itu ada tiga, salah satunya adalah TBIG. Yang bikin TBIG menarik itu bukan karena ceritanya heboh, tapi karena karakternya sangat khas. Revenue besar, kontrak panjang, kas operasional deras, tetapi sahamnya super terkunci dan neracanya hidup dari disiplin refinancing. Jadi TBIG bisa terlihat rapi kalau investor fokus ke CFO dan backlog, tetapi bisa terlihat menegangkan kalau investor fokus ke likuiditas jangka pendek. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi profil, TBIG berdiri 8 November 2004 dan IPO 26 Oktober 2010, jeda sekitar 6 tahun. Struktur kepemilikan TBIG juga sangat ketat. PSP BDIA 81,00%, PT Wahana Anugerah Sejahtera 9,51%, publik hanya 8,81%. Ini membuat TBIG bahkan lebih terkunci dibanding $GHON yang publik 13,27% dan jauh lebih terkunci dibanding $TOWR 32,82% atau BALI 40,299%. TBIG hanya sedikit lebih longgar dibanding CENT yang publik 7,73%. Kalau investor peduli likuiditas perdagangan dan ruang publik, TBIG jelas bukan yang paling ramah.
Soal ukuran bisnis, TBIG besar, tapi posisinya berada di bawah TOWR. Revenue 9M 2025 TBIG Rp5,16 triliun, sedangkan TOWR Rp9,69 triliun. TBIG masih jauh di atas CENT Rp1,88 triliun, BALI Rp922,02 miliar, dan GHON Rp159,75 miliar. Dari sisi aset menara, TBIG tidak menyajikan jumlah unit menara secara numerik di data ini, tetapi nilai revaluasi aset menara Rp31,27 triliun. Ini memberi gambaran bahwa skala fisiknya memang kelas besar.
Pelanggan TBIG juga menunjukkan pola khas bisnis menara besar, yaitu bertumpu pada operator utama. Telkomsel Rp1,72 triliun setara 33,28%, Indosat Rp1,30 triliun setara 25,12%, XLSmart Rp988,44 miliar setara 19,15%, XL Axiata Rp371,74 miliar setara 7,20%, Smart Rp271,81 miliar setara 5,26%. Total 5 pelanggan ini sekitar 90,01% revenue. Ini mirip pola TOWR yang 3 pelanggan besar sekitar 88% revenue, dan mirip juga dengan CENT serta GHON yang sama-sama tinggi konsentrasi. BALI relatif lebih menyebar karena 4 pelanggan besar sekitar 63,5% revenue, plus ada porsi pemerintah yang membuat karakter cashflow-nya berbeda. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau bicara growth, TBIG sedang di fase matang dan terlihat stagnan. Revenue growth 0,70%, laba turun 4,96%, tetapi CFO naik 6,78%. Capex turun 22,1% dan utang pendanaan turun 4,0%. Dampaknya, free cash flow naik 39%. Ini pola yang mirip dengan TOWR yang juga sedang memeras efisiensi, bedanya TOWR masih growth revenue 2,52%, laba naik 3,05%, CFO naik 9,14%, capex turun 33,18%, dan utang turun 13,27%, sehingga FCF naik 42,08%. Jadi kalau investor bertanya segrowth apa TBIG, jawabannya bukan kencang, tetapi efisien. TBIG menang di disiplin kas, bukan di top line.
Dari sisi profitabilitas, TBIG terlihat bagus karena tetap laba besar. Laba 9M 2025 Rp1,15 triliun dari revenue Rp5,16 triliun, margin bersih sekitar 22,29%. Ini di bawah TOWR yang sekitar 26,32%, tetapi jauh di atas BALI sekitar 15,04%. GHON paling tebal sekitar 36,90%, namun skalanya jauh lebih kecil. CENT berbeda cerita karena rugi bersih Rp1,47 triliun. Jadi secara laba, TBIG itu masuk kategori bagus dan stabil, hanya saja tidak sedang tumbuh kencang.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bagian paling meyakinkan dari TBIG adalah kualitas kas. CFO Rp4,24 triliun, sekitar 3,69 kali laba Rp1,15 triliun. Capex Rp1,62 triliun, sehingga FCF Rp2,61 triliun. Secara nominal, FCF TBIG itu besar, lebih besar dari CENT sekitar Rp1,09 triliun, jauh di atas BALI Rp186,53 miliar dan GHON sekitar Rp60,50 miliar. TOWR tetap raja FCF dengan Rp6,28 triliun. Jadi kalau ukuran utamanya mesin kas operasional, TBIG itu salah satu yang paling kuat.
Sekarang sisi jeleknya, TBIG punya risiko yang sangat jelas, likuiditas jangka pendek. Liabilitas jangka pendek Rp16,81 triliun, sedangkan aset lancar Rp2,65 triliun, defisit modal kerja Rp14,16 triliun. Ini defisit yang masif dan artinya TBIG sangat bergantung pada refinancing utang jangka pendek. GHON juga punya masalah likuiditas, tetapi skalanya jauh lebih kecil, defisitnya sekitar Rp212,35 miliar. CENT juga punya gap aset lancar dan liabilitas jangka pendek Rp1,86 triliun. BALI paling tipis defisitnya sekitar Rp19,40 miliar. Jadi untuk aspek risiko likuiditas, TBIG termasuk yang paling menegangkan.
Di sisi leverage, TBIG membawa liabilitas pendanaan Rp30,69 triliun. Ini lebih kecil dari TOWR Rp45,27 triliun, tetapi jauh lebih besar dibanding CENT kalau hanya hitung utang bank Rp12,15 triliun, dan tetap lebih besar dari total CENT jika investor hanya fokus ke satu sisi. BALI Rp3,39 triliun dan GHON Rp473,08 miliar jelas jauh di bawah. Backlog TBIG Rp36,20 triliun menutup 118% utang pendanaan Rp30,69 triliun. Ini bagus, tetapi tidak se-tebal TOWR yang backlog cover 221% atau GHON yang backlog cover 241%. BALI backlog cover 127%. Jadi TBIG ada di level aman, tetapi bukan yang paling nyaman.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Risiko kurs dan bunga di TBIG ada, tetapi terlihat dikelola. TBIG punya eksposur utang USD dan JPY, lalu ada lindung nilai sebesar US$810,5 juta dan juga interest rate swap untuk bunga mengambang. Ini membuat profil risikonya lebih terkontrol dibanding CENT yang terpukul rugi kurs Rp296,50 miliar dan beban keuangan Rp1,27 triliun, ditambah 40% liabilitas dalam USD. Namun jangan salah, hedging itu mengurangi guncangan, bukan menghilangkan ketergantungan pada refinancing.
Jadi TBIG itu salah satu raksasa menara kelas atas, revenue Rp5,16 triliun 9M 2025, backlog Rp36,20 triliun setara 5,26 tahun, CFO Rp4,24 triliun, dan FCF Rp2,61 triliun. TBIG punya kualitas kas yang sangat kuat dan backlog yang memberi visibilitas lebih dari 5 tahun. Sayangnya TBIG sangat rentan di likuiditas jangka pendek karena defisit modal kerja Rp14,16 triliun sehingga refinancing jadi napas utama. TBIG bisa disebut sudah matang dan efisien, karena revenue growth hanya 0,70% dan laba turun 4,96%, tetapi FCF naik 39% karena capex turun dan kas operasional naik. TBIG itu relatif aman kalau pasar pendanaan kondusif dan refinancing lancar, tetapi menjadi cepat riskan kalau likuiditas global mengetat, karena struktur jatuh tempo dan defisit modal kerja membuat ruang salah langkahnya sempit.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/9









$GHON Perusahaan Menara Sunyi
Request member External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
GHON adalah saham menara yang sangat sepi investor. Ini sering bikin orang salah sangka, seolah GHON itu kecil dan tidak penting. Padahal kalau investor lihat angka kas, backlog, dan struktur utangnya, GHON justru terlihat seperti bisnis menara versi ringkas yang efisien, tetapi punya satu masalah yang bisa jadi penentu hidup-mati, yaitu likuiditas jangka pendek. Di sisi lain, $BALI terlihat seperti emiten menara yang sedang masuk fase panen karena laba positif dan free cash flow sudah muncul, sementara $CENT adalah raksasa kontrak dan kas operasional, tetapi laporan laba ruginya babak belur karena kurs, bunga, dan leverage yang besar. Jadi pertanyaan mana yang lebih baik itu harus dipilah per aspek, bukan satu angka tunggal. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau ukurannya skala bisnis, CENT menang telak. Revenue 9M 2025 CENT Rp1,88 triliun, jauh di atas BALI Rp922,02 miliar dan GHON Rp159,75 miliar. Backlog CENT juga paling besar Rp14,13 triliun, dibanding BALI Rp4,31 triliun dan GHON Rp1,14 triliun. Dari sisi panjang napas kontrak, CENT juga unggul tipis karena backlog setara 5,62 tahun revenue tahunan, GHON 5,35 tahun, lalu BALI 3,50 tahun. Jadi kalau investor mencari perusahaan yang paling mapan secara ukuran dan kontrak jangka panjang, CENT berada di urutan pertama.
Namun begitu masuk ke profitabilitas, pemenangnya berubah. CENT rugi bersih 9M 2025 Rp1,47 triliun dari revenue Rp1,88 triliun, margin bersihnya sekitar minus 78%. BALI laba bersih Rp138,72 miliar dari revenue Rp922,02 miliar, margin bersih sekitar 15,04%. GHON justru paling tebal marginnya, laba bersih Rp58,95 miliar dari revenue Rp159,75 miliar, margin bersih sekitar 36,90%. Jadi kalau ukuran utamanya laba bersih yang benar-benar positif, GHON paling unggul, lalu BALI, sedangkan CENT tertinggal.
Dari sisi kualitas kas, ketiganya sama-sama menarik, tetapi dengan alasan berbeda. BALI punya CFO Rp487,25 miliar, sekitar 3,51 kali laba Rp138,72 miliar. GHON CFO Rp128,68 miliar, sekitar 2,18 kali laba Rp58,95 miliar. Dua-duanya menunjukkan laba yang sangat cair. CENT malah paling ekstrem, karena walau rugi Rp1,47 triliun, CFO tetap positif Rp1,54 triliun. Ini sinyal bahwa operasionalnya masih menghasilkan kas, sedangkan rugi akuntansi lebih banyak dipukul beban keuangan dan faktor non-kas. Kalau investor menilai kemampuan mendanai investasi, semuanya lolos, karena CFO lebih besar daripada capex. BALI capex Rp300,72 miliar, GHON capex Rp68,18 miliar, CENT capex Rp454,05 miliar. Jadi dari sisi free cash flow, CENT paling besar sekitar Rp1,09 triliun, BALI Rp186,53 miliar, GHON sekitar Rp60,50 miliar. Artinya, untuk ukuran uang sisa absolut, CENT menang. Untuk kualitas laba menjadi kas, BALI terlihat paling konsisten, karena laba positif dan CFO sangat kuat. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Aspek utang dan daya tahan finansial memberi hasil yang lebih tajam lagi. GHON paling ringan leverage-nya, utang bank neto Rp473,08 miliar, dan backlog Rp1,14 triliun menutup sekitar 241% utang tersebut. Secara ilustrasi, pelunasan utang pakai laba butuh sekitar 6,0 tahun, pakai free cash flow sekitar 5,9 tahun. BALI utangnya Rp3,39 triliun, backlog Rp4,31 triliun menutup sekitar 127%, tetapi waktu pelunasan pakai free cash flow sekitar 13,6 tahun, jadi lebih lama. CENT membawa beban paling berat, utang bank Rp12,15 triliun ditambah pinjaman pemegang saham Rp8,45 triliun, total sekitar Rp20,60 triliun. Backlog Rp14,13 triliun memang menutup 116% utang bank, tetapi belum menyentuh pinjaman pemegang saham, dan CENT tetap rugi bersih besar. Jadi kalau investor menilai kesehatan struktur utang, GHON unggul, BALI cukup, CENT paling berisiko.
Lalu ada aspek yang sering jadi penentu pasar, yaitu konsentrasi pelanggan dan struktur free float. Dari sisi konsentrasi pelanggan, BALI paling mendingan karena 4 pelanggan besar total sekitar 63,5% revenue. GHON lebih terkonsentrasi karena 4 pelanggan terbesar sudah sekitar 90,27% revenue, walau itu operator besar semua. CENT paling terkonsentrasi karena 2 pelanggan utama saja sekitar 80,33% revenue. Dari sisi free float, BALI paling unggul karena publik 40,299%, GHON publik 13,27%, CENT publik 7,73%. Artinya, kalau investor peduli ruang saham beredar dan potensi likuiditas pasar, BALI paling unggul.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bagian terakhir adalah risiko yang sifatnya bisa mengubah cerita. Risiko terbesar CENT adalah kurs dan bunga. Ada sekitar 40% liabilitas dalam USD, rugi kurs Rp296,50 miliar, biaya keuangan Rp1,27 triliun, dan kenaikan suku bunga 1% diperkirakan menambah rugi sebelum pajak Rp116,50 miliar. Risiko terbesar GHON adalah likuiditas, karena liabilitas jangka pendek Rp253,18 miliar jauh di atas aset lancar Rp40,83 miliar, jadi GHON sangat bergantung pada refinancing atau dukungan grup. BALI lebih tenang di kurs dan bunga, karena eksposur valas neto sekitar Rp845,00 juta dan tidak ada pinjaman berbunga mengambang, tetapi BALI punya risiko hukum berupa gugatan, plus posisi likuiditas tipis karena liabilitas jangka pendek Rp799,80 miliar sedikit di atas aset lancar Rp780,40 miliar.
Kalau bicara skala revenue dan backlog absolut unggul CENT. Profitabilitas unggul GHON lalu BALI. Free cash flow absolut unggul CENT, tetapi kualitas laba menjadi kas paling nyaman dibaca di BALI dan GHON karena laba positif dan CFO lebih besar dari laba. Struktur utang dan backlog coverage paling unggul GHON, disusul BALI, lalu CENT. Risiko keuangan kurs dan bunga paling berat di CENT, risiko likuiditas paling berat di GHON, dan BALI cenderung lebih seimbang tetapi punya risiko hukum yang perlu dipantau. Jadi kalau investor mencari bisnis menara yang paling rapi secara laporan dan risiko finansial, BALI biasanya terasa paling aman. Kalau investor mencari bisnis yang paling efisien dan utangnya paling terkendali dengan kontrak panjang, GHON menarik tetapi wajib mengunci isu likuiditas. Kalau investor mengejar skala dan kontrak paling besar, CENT unggul, tetapi itu datang bersama risiko kurs, bunga, dan rugi akuntansi yang bisa terus mengganggu. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau bicara potensi turnaround murni dari tiga ini, kandidat paling kuat itu CENT. Alasannya sederhana, CENT sekarang terlihat jelek di laba rugi karena rugi bersih 9M 2025 Rp1,47 triliun, tetapi mesin kas operasionalnya justru kuat, CFO Rp1,54 triliun, lalu free cash flow 9M kira-kira Rp1,09 triliun. Jadi problem CENT lebih banyak di struktur pembiayaan dan volatilitas kurs serta bunga, bukan di kemampuan menghasilkan kas dari sewa menara. Dengan backlog Rp14,13 triliun setara 5,62 tahun revenue, sebenarnya fondasi kontraknya tebal. Kalau manajemen bisa menurunkan beban keuangan Rp1,27 triliun, meredam rugi kurs Rp296,50 miliar, dan mengurangi sensitivitas kenaikan bunga 1% yang berdampak Rp116,50 miliar ke rugi sebelum pajak, maka laba bisa berbalik cukup cepat. Risiko besarnya, leverage tinggi dan sekitar 40% liabilitas dalam USD, jadi turnaround CENT sangat tergantung arah kurs dan biaya dana.
GHON punya potensi perbaikan, tetapi kurang cocok disebut turnaround besar karena GHON sudah untung. GHON laba bersih 9M 2025 Rp58,95 miliar dengan margin kira-kira 36,90%, CFO Rp128,68 miliar, dan free cash flow sekitar Rp60,50 miliar. Backlog Rp1,14 triliun setara 5,35 tahun revenue, ini kuat. Masalah GHON ada di top line yang turun tipis 0,79% dan risiko likuiditas, liabilitas jangka pendek Rp253,18 miliar jauh di atas aset lancar Rp40,83 miliar. Jadi GHON lebih ke cerita stabilisasi likuiditas dan efisiensi tenancy ratio, bukan cerita dari rugi besar ke laba besar.
BALI paling kecil peluang turnaround karena BALI sudah dalam fase yang relatif sehat. BALI revenue 9M 2025 Rp922,02 miliar, growth 22,16%, laba Rp138,72 miliar, CFO Rp487,25 miliar, free cash flow Rp186,53 miliar, backlog Rp4,31 triliun setara 3,50 tahun. Risiko BALI lebih ke gugatan hukum dan konsentrasi pelanggan, bukan krisis profitabilitas. Jadi BALI lebih cocok disebut compounder yang lagi panen, bukan turnaround. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Urutan potensi turnaround yang paling masuk akal
1. CENT paling tinggi, karena gap antara rugi akuntansi dan kas operasionalnya sangat besar, sehingga ruang balik arah juga besar.
2. GHON menengah, tetapi lebih tepat disebut perbaikan kualitas neraca dan likuiditas, bukan turnaround dramatis.
3. BALI paling rendah, karena sudah profitable dan growth kencang, jadi ruang turnaround kecil karena memang tidak sedang “jatuh”.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/9









PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk - GHON
Laporan Keuangan
- Neraca Keuangan
- Laporan Laba Rugi
- Laporan Arus Kas
- Laporan Perubahan Ekuitas
Kunjungi dan follow kami untuk laporan lengkap fundamental emiten!
Sumber Data: https://cutt.ly/GtaLDvCx
$GHON
1/4




$TAPG kalian ga mau serok gapapa
pengendali siap buy-back tanpa hura hara
makin lama makin kering nih saham
$GHON$PBSA