indikator notasi khusus
Perusahaan memiliki Notasi Khusus
EX

100

+9

(9.89%)

Today

581,400

Volume

229,312

Avg volume

Company Background

PT AirAsia Indonesia Tbk Perubahan bidang usaha Perusahaan dari semula bergerak dalam bidang usaha pengadaan jasa transportasi darat, perbengkelan, perakitan suku cadang dan perdagangan umum, berubah menjadi perusahaan bergerak dalam bidang jasa konsultasi bisnis dan manajemen, dan perdagangan umum;

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

RESUME PERDAGANGAN SAHAM HARIAN 13 Feb 2026

Hasil analisis data perkembangan harga saham pada 13 Feb 2026
Jumlah emiten saat ini ada sebanyak 958 emiten. Diantara emiten tersebut ada sebanyak 622 (64,93%) emiten yang memiliki earning per shared (eps) positif.

πŸ”€Transaksi Non Reguler
Ada transaksi non reguler pada 128 (13,36%) emiten, tertinggi di saham $CMPP dengan volume perdagangan non-reguler sebesar 400.000.000.

πŸ”€Transaksi Asing
Ada sebanyak 796 (83,09%) saham yang dikoleksi oleh asing. Terbanyak dibeli asing secara volume di saham $BBCA dengan harga penutupan terakhir 7.200 (-1,71%) dan volume foreign buy sebesar 135.796.300.

πŸ”€Sentimen Positif dengan Peningkatan Pembelian
Ada sebanyak 527 (55,01%) saham yang mengalami peningkatan pembelian. Peningkatan pembelian dengan bid cukup besar $BAIK dengan harga penutupan terakhir 515 (24,40%) dan volume bid sebesar 55.113.200 dengan kenaikan 1.665,05X.

πŸ”€Saham Murah dengan Pembelian Asing > 10 Miliar
Ada sebanyak 21 (2,19%) saham yang harganya kurang dari 1000, memiliki pembelian asing di atas 10 Miliar. Pembelian Asing paling besar BUMI dengan harga penutupan terakhir 292 (8,15%) dan volume bid sebesar 93.839.700 dengan kenaikan 1.665,05X.

πŸ”€ Aktif diperdagangkan > 10.000 kali
Ada sebanyak 219900 (22.954,07%) saham yang harganya kurang dari 1000, memiliki frekuensi perdagangan lebih dari 10.000 kali. Frekuensi paling besar pada saham ZATA dengan frekuensi sebanyak 219.900 kali, sementara harga penutupan terakhir 121 (-3,20%) dan volume bid sebesar 8.738.000 dengan kenaikan 1.665,05X.

πŸ”€ Terendah Dalam 52 Minggu Terakhir
Ada sebanyak 2 (0,21%) saham yang harganya kurang dari 1000 dan merupakan harga terendah pada 52 minggu terakhir. Salah satu diantaranya PADA dengan harga penutupan terakhir 220 (1,85%) dan volume bid sebesar 270.400 atau mengalami perubahan 0,30X dari hari sebelumnya.

_Disclaimer:_*)
#> Catatan ini hanya informasi, bukan ajakan jual beli.
#> Catatan ini disusun dengan algoritma analisis data yang dikembangkan oleh @PasukanCutloss Primbon Saham

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

@Splash101 LK Rimau waktu masih jadi $CMPP Zaman old. Cek labanya πŸ˜”
$PMUI $GRPM

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Rencana PMUI Jual GRPM Ke Rimau Grup: Pemain Lama Backdoor di Bursa IHSG

Diskusi hari ini di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

$PMUI baru saja merilis keterbukaan informasi bahwa mereka melakukan perjanjian penjualan $GRPM ke Rimau Grup yang sifatnya non binding term sheet. Banyak langsung bertanya-tanya siapa ini Rimau Grup dan bagaimana konsekuensinya kalau transaksi ini benar-benar terjadi atau malah batal. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau dilihat dari permukaan dulu, ini bukan transaksi kecil. PMUI itu pemegang saham pengendali GRPM dengan porsi sekitar 70% lebih, jadi yang dibahas bukan jual beli portofolio minoritas, melainkan perpindahan kendali. Begitu kendali berpindah, arah strategis perusahaan hampir pasti ikut berubah, karena pengendali baru biasanya membawa agenda, struktur pendanaan, sampai desain bisnis yang berbeda.

Kenapa nama Rimau langsung bikin pasar sensitif. Karena Rimau punya sejarah di pasar modal yang, mau tidak mau, melekat dengan cerita backdoor. Jejaknya paling gampang dibaca lewat emiten berkode $CMPP. Dulu emiten itu bukan bernama Rimau. Ia berdiri 25 Juli 1989 sebagai Centris Multi Persada Pratama, lalu IPO tahun 1994 dengan melepas 20 juta saham di harga Rp2.450 per saham. Pada titik ini, belum ada Rimau di ceritanya.

Rimau masuk ke panggung pada 3 Januari 2013 saat Rimau Multi Investama membeli pengendali, sekitar 62,96% di harga Rp790 per saham. Secara definisi ketat, ini bukan backdoor listing, ini akuisisi pengendali atas emiten yang sudah listed. Namun dampaknya tetap besar, karena sejak itu bursa mulai mengasosiasikan kendaraan tersebut dengan narasi tambang dan pelayaran batubara. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Fase yang benar-benar membuat kata backdoor muncul itu 2017. Di sini bukan sekadar ganti pemilik, tetapi ganti isi perusahaan. AirAsia memilih CMPP sebagai jalur masuk pasar modal tanpa IPO, lewat penawaran umum terbatas dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue. Rencananya menerbitkan sekitar 13,46 miliar sampai 13,65 miliar saham baru di harga pelaksanaan Rp250, target dana sekitar Rp3,41 triliun, dengan dilusi yang disebut bisa tembus 97,97%. Skemanya bukan untuk menambah modal kerja batubara, tetapi untuk menggeser pusat gravitasi bisnis ke penerbangan, termasuk penggunaan dana untuk instrumen perpetual PT Indonesia AirAsia sekitar Rp2,6 triliun yang kemudian dikonversi sehingga kendaraan listed itu menjadi mayoritas di bisnis AirAsia.

Di titik ini terjadi pembalikan posisi yang menarik. Rimau yang tadinya pengendali, setelah rights issue porsinya menjadi kecil, sementara pihak terkait AirAsia dan mitranya menjadi dominan. Komposisi yang sering dikutip adalah Fersindo Nusaperkasa sekitar 49,96% dan Air Asia Investment sekitar 48%, sementara Rimau Multi Investama tinggal sekitar 1,55% dan publik sekitar 0,48%. Lalu pada 3 Januari 2018, nama emiten berubah menjadi AirAsia Indonesia Tbk dengan kode tetap CMPP. Jadi Rimau pernah berada di dua sisi sekaligus, pernah masuk lewat kendaraan listed, lalu kendaraannya dipakai pihak lain untuk transformasi besar sampai Rimau terdilusi. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Masuk ke 2026, pola pikir pasar otomatis terpancing ketika Rimau lewat entitasnya kembali muncul sebagai calon pengendali emiten lain. Rencana yang beredar adalah pengambilalihan sekitar 80% GRPM oleh PT Tunas Binatama Lestari, entitas Rimau Group, dari PMUI sekitar 70,67% atau 1.091.851.700 saham dan Agus Susanto sekitar 9,33% atau 144.148.300 saham. Di fase ini baru term sheet non binding, jadi deal bisa saja lanjut, bisa juga putus di tengah jalan setelah due diligence, syarat internal, atau urusan regulator.

Kenapa hipotesis backdoor langsung kuat. Karena mismatch bisnisnya terlalu jelas. Rimau itu tambang batubara, pelabuhan, shipping, energi. GRPM itu distribusi FMCG, dekat dengan jualan minuman. Tidak ada irisan supply chain yang natural. Secara industrial logic, kalau grup tambang membeli distributor minuman, skenario yang paling masuk akal bukan sinergi operasional, melainkan penggunaan status listed GRPM untuk re-entry ke pasar modal, entah sebagai kendaraan holding, entah sebagai wadah injeksi aset tambang dan logistik.

Di tengah itu, pasar juga melihat sinyal perilaku harga. Banyak yang mengamati harga GRPM sudah naik ratusan persen jauh sebelum kabar resmi keluar. Pola seperti ini sering muncul pada saham yang sedang diendus akan menjadi kendaraan aksi korporasi besar, walau tetap tidak otomatis berarti ada kepastian transaksi. Karena term sheet non binding artinya cerita bisa berubah kapan saja, dan kalau batal, harga bisa berbalik cepat. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Soal potensi kas untuk PMUI, ini bagian yang simpel tapi sensitif. PMUI memegang sekitar 1,09 miliar saham GRPM. Nilai kas kotor dari transaksi itu pada dasarnya jumlah saham dikali harga transaksi per saham. Karena harga final belum dipublikasikan, investor hanya bisa memetakan sensitivitas. Setiap tambahan Rp100 pada harga transaksi berarti tambahan kas sekitar Rp109,2 miliar untuk PMUI. Kalau harga dealnya Rp200, kas kotor kira-kira Rp218,4 miliar. Kalau Rp500, kas kotor kira-kira Rp545,9 miliar. Angka bersihnya nanti masih dipengaruhi biaya transaksi dan pajak sesuai struktur final.

Kronologi besar Rimau di pasar modal
* 1989 CMPP berdiri sebagai Centris Multi Persada Pratama.
* 1994 IPO.
* 2013 Rimau masuk sebagai pengendali lewat akuisisi.
* 2014 berubah nama menjadi Rimau Multi Putra Pratama.
* 2017 rights issue jumbo yang mengantar transformasi ke AirAsia, di sinilah backdoor paling jelas.
* 2018 berubah nama jadi AirAsia Indonesia, kode tetap CMPP.
* 2026 Rimau muncul lagi sebagai calon pengendali emiten lain, kali ini GRPM, masih tahap term sheet non binding.
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kenapa backdoor GRPM terdengar paling masuk akal
* Sektor bisnis tidak nyambung.
* Rimau punya riil asset tambang, pelabuhan, shipping yang cocok untuk skema injeksi aset.
* GRPM punya status listed, free float, dan jalur pendanaan publik.
* Rekam jejak Rimau pernah bersentuhan dengan pola transformasi emiten lewat aksi korporasi besar.

Risiko dan kelemahan yang harus diakui
* Deal bisa batal di tahap due diligence atau regulator.
* Harga saham bisa koreksi tajam jika ekspektasi tidak terwujud.
* Kalau backdoor terjadi, potensi dilusi rights issue besar.
* Profil risiko investor GRPM bisa berubah drastis dari FMCG ke komoditas.

Penentu akhir arah cerita
* Apakah ada definitive agreement dan berapa harga finalnya.
* Bagaimana skema tender offer wajib dan kelanjutan kepemilikan publik.
* Ada tidaknya rights issue, injeksi aset, atau perubahan KBLI setelah pengendali pindah.
* Detail rencana bisnis pasca transaksi, apakah tetap FMCG atau bergeser ke energi dan batubara.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/6

testestestestestes

$GIAA nih bagi yg nungguin merger Pelita Air dgn Garuda Indonesia
cnbcindonesia - Adapun Danantara menargetkan tahun ini akan memangkas anak hingga cucu usaha Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dari 1.043 entitas menjadi 300 entitas.

Hal itu dilakukan sebagai upaya konsolidasi BUMN. Nantinya anak hingga cucu usaha pelat merah akan dikonsolidasikan berdasarkan sektor.

Dony menegaskan bahwa konsolidasi BUMN ini merupakan pekerjaan yang harus dilakukan saat ini. Secara logis, sangat sulit Danantara melakukan pemantauan terhadap 1.043 entitas yang berada di bawah naungan pelat merah.

"Tapi kalau 300 kita sudah proses mapping itu jauh lebih mudah. Toh dari 300 kalau kita bagi by sector kita hanya masuk 16 saja," katanya.

tag
$GMFI $CMPP

Read more...

1/3

testestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

PT AirAsia Indonesia Tbk - CMPP
Laporan Keuangan
- Neraca Keuangan
- Laporan Laba Rugi
- Laporan Arus Kas
- Laporan Perubahan Ekuitas

Sumber Data: https://cutt.ly/8tb6Fri1

$CMPP

1/4

testestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Data Bongkar Muat Barang Angkutan Udara Luar Negeri FY 2025.

Air Cargo Unloaded: 203.932 ton, turun 10,61% dibanding tahun 2024.
Air Cargo Loaded: 209.381 ton, naik 10,75% dibanding tahun 2024.

Total Air Cargo: 413.313 ton, turun 0,93% dibanding tahun 2024.

Ruang untuk bertumbuh masih sangat besar, terutama untuk Belly Cargo yang selama ini load factor nya masih sangat rendah.

Sebagai perbandingan, Thailand pada tahun 2025 mampu mencatatkan total air cargo sebanyak 1.624.261 ton, tumbuh 9% yoy. Capaian tersebut setara hampir 4x lipat dibandingkan Indonesia.

$CASS $GIAA $CMPP

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Jumlah Penumpang Pesawat Internasional 2025 berdasarkan data BPS

Keberangkatan: 20.545.353 penumpang, naik 8,14% dibanding 2024.
Kedatangan: 20.463.314 penumpang, naik 8,19% dibanding 2024.
Transit: 88.716 penumpang, naik 1,45% dibanding 2024.

Total: 41.097.383 penumpang, naik 8,15% dibanding 2024.

Jumlah ini adalah all-time high, setidaknya sejak tahun 2017, menandakan pulihnya perjalanan udara rute internasional di Indonesia.

$CASS $GIAA $CMPP

Read more...

Indonesia AirAsia gencar melakukan ekspansi pada 2026 dengan fokus utama perluasan rute ke Indonesia Timur, meliputi Surabaya, Makassar, Kendari, Palu, dan Luwuk, serta memperkuat rute internasional ke Melbourne dan Da Nang mulai Maret 2026. Strategi ini mencakup penguatan konektivitas domestik dan operasional virtual hub di Makassar.

Berikut rincian ekspansi Indonesia AirAsia di 2026:

Rute Domestik Baru (Mulai 7 Maret 2026):
Menghubungkan Surabaya (SUB), Makassar (UPG), Palu (PLW), Kendari (KDI), dan Luwuk (LUW).

Rute Internasional Baru (Mulai 20-21 Maret 2026): Denpasar (DPS) - Melbourne (MEL) dan Denpasar (DPS) - Da Nang (DAD).

Rute Baru Batam: Batam - Kuala Lumpur (BTH-KUL) mulai 13 Maret 2026.

Penguatan Operasional: Membentuk virtual hub di Makassar, menambah armada di Medan, dan memaksimalkan utilisasi pesawat untuk efisiensi.

Peningkatan Layanan: Penambahan frekuensi ke Adelaide dan perpindahan ke Terminal 2E Bandara Soekarno-Hatta (CGK) untuk penerbangan domestik.

Ekspansi ini bertujuan meningkatkan konektivitas antardaerah dan memperkuat posisi pasar internasional, didukung dengan target peningkatan kinerja operasional yang lebih efisien.

$CMPP $BUMI $GMFI

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$CMPP Masuk Ketika Turun 50-65...

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$CMPP

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$CMPP bismillahirrahmanirrahim

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$IKAI $CANI $CMPP
EUFORIA FCA nampaknya akan lebih besar ketimbang saat September kemarin. DYOR
BLTA ELTY JGLE BNBR ARKA MDIA VIVA INCF BIPP BAPI GMFI dll.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ELIT jangan lupa ke $CMPP

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Valuasi $GMFI Pasca RI

Request member di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Banyak investor baru ramai bertanya soal nasib GMFI justru setelah Rights Issue selesai, padahal biasanya pertanyaan seperti ini muncul sebelum aksi korporasi. Polanya klasik, begitu harga turun dari 92 ke 78, barulah rasa sakitnya terasa di porto. Penurunan itu setara 15,22%, cukup untuk bikin investor yang sudah nyangkut merasa seperti ditinggal sendirian di halte. Yang perlu dipahami, Rights Issue GMFI ini bukan sekadar cari cash, ini lebih mirip operasi besar untuk menyelamatkan neraca laporan keuangan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Jumlah RI yang ditawarkan GMFI maksimal 90,05 Miliar saham baru, dan yang benar-benar terserap saat RI adalah 87,27 Miliar saham, artinya tingkat terserap 96,91%. Kedengarannya seperti sukses besar, tapi komposisinya yang menentukan cerita.

Dari 87,27 Miliar saham yang masuk via RI, porsi PT Angkasa Pura Indonesia lewat inbreng mencapai 82,10 Miliar saham, itu sekitar 94,08% dari total yang terserap. RI dari Angkasa Pura ini tidak ada real cash nya karena sifatnya inbreng alias tukar guling aset gedung jadi lembar saham.

Sementara cash murni dari publik yang tebus RI hanya 5,17 Miliar saham, sekitar 5,92% dari yang terserap. Bahkan kalau fokus ke porsi publik saja, dari jatah sekitar 7,95 Miliar saham, yang ditebus publik sekitar 65,02% dari jatah publik dan sisanya hangus, jadi minat publik pada RI GMFI ini suam - suam kuku. Ndak beneran laris tapi setidaknya lebih dari 50% jatah publik ditebus dari total jatah 7,5 Miliar lembar saham. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Efek skala yang paling terasa buat investor adalah jumlah saham beredar yang melonjak dari 37,57 Miliar menjadi 124,84 Miliar saham, naik 3,32 kali lipat. Ini berarti dilusi itu besar, dan wajar kalau pasar butuh waktu untuk mencerna, karena EPS ke depan harus bekerja lebih berat untuk menutup jumlah lembar yang jauh lebih banyak.

Dari sisi dana, inbreng bernilai 5,66 Triliun ditambah cash publik sekitar 356,67 Miliar, total headline value sekitar 6,02 Triliun.

Namun investor harus bisa membedakan, 5,66 Triliun itu aset non-cash, sementara 356,67 Miliar itu uang yang bisa dipakai beli spare part dan menggerakkan operasional. Jadi kalau investor berharap Rights Issue ini langsung menghapus masalah likuiditas, ekspektasi itu keliru dari awal, karena mayoritas suntikannya bukan uang tunai. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Di neraca, inbreng HGB seluas sekitar 972.123 m2 itu game changer untuk satu hal yang sangat penting, kepastian lokasi dan hilangnya beban sewa serta konsesi yang selama ini menekan, plus penghapusan liabilitas sewa terkait pihak berelasi yang sebelumnya tercatat sekitar USD 40,03 Juta, kira-kira 649,86 Miliar jika pakai kurs 16.233. Kalau memakai angka defisiensi modal sekitar USD 248,99 Juta, kira-kira 4,04 Triliun di kurs yang sama, maka kombinasi inbreng 5,66 Triliun dan cash 356,67 Miliar secara logika memang sanggup membalik ekuitas dari negatif jadi positif, kira-kira di kisaran 1,98 Triliun sebelum memperhitungkan biaya dan penyesuaian lain. Ini alasan kenapa dari sisi kesehatan neraca, Rights Issue ini memang langkah yang masuk akal. Tapi pasar saham tidak hidup dari neraca saja, pasar hidup dari kemampuan bisnis mengubah struktur itu menjadi cashflow yang konsisten.

Di titik ini baru nyambung kenapa harga masih bisa melemah walau penyerapan Rights Issue tinggi. Pasar sedang mengatakan, oke neraca dibersihkan, tapi buktikan dulu mesin uangnya jalan tanpa tersendat. Cash publik 356,67 Miliar itu membantu, tapi relatif kecil kalau dibanding skala kebutuhan modal kerja MRO, apalagi kalau rantai pasok dan terms pembayaran vendor tidak ikut membaik. Ditambah lagi ada risiko biaya transaksi yang bisa menggerus manfaat, misalnya eksposur BPHTB yang disebut sekitar 294,6 Miliar, kalau skema keringanan tidak final, itu bisa jadi lubang cash yang nyata. Jadi harga 78 itu bisa dibaca sebagai market discount atas risiko eksekusi, bukan sekadar market lupa bahwa Rights Issue sudah selesai. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau investor ingin melihat apakah GMFI benar-benar punya harapan setelah Rights Issue, indikatornya sederhana aja sih. Pertama, cek dulu apakah penghilangan beban sewa dan konsesi benar-benar terlihat menurunkan cost base dan menaikkan margin, bukan cuma cantik di proforma. Kedua, cek juga apakah cashflow operasional membaik, terutama dari perputaran piutang dan inventory, karena bisnis MRO itu bisa profit di laporan, tapi ngos-ngosan di kas kalau billing dan collection lambat. Ketiga, cek lagi apakah ketergantungan pada pelanggan tertentu berkurang dan kontrak pihak ketiga naik, karena kalau revenue masih terlalu bertumpu pada grup sendiri, risikonya balik lagi ke masalah lama. Keempat, apakah belanja modal dan ekspansi fasilitas seperti hanggar dan engine shop benar-benar menghasilkan utilisasi dan kontrak baru, bukan sekadar rencana.

Jadi penurunan harga dari 92 ke 78 juga bisa dianggap upaya market mencerna fundamental baru GMFI. Kalau memakai jumlah saham pasca penjatahan 124,84 Miliar lembar, kapitalisasi pasar di 78 kira-kira 9,74 Triliun, sementara di 92 kira-kira 11,48 Triliun, artinya ada penyusutan nilai pasar sekitar 1,75 Triliun hanya dari perubahan harga itu.

Investor yang nyangkut sering berharap pasar menghargai Rights Issue sebagai kabar baik otomatis, padahal pasar biasanya minta output, bukan niat. Jadi harapan GMFI itu ada, tapi syaratnya jelas, manajemen harus mengubah aset dan perbaikan neraca menjadi cashflow, dan itu hanya bisa dibuktikan lewat tren kuartalan yang konsisten, bukan lewat pengumuman aksi korporasi lagi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Pada akhirnya harga tergantung bandar 😌

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$GIAA $CMPP

Read more...

1/10

testestestestestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$CMPP, Net incomenya boncos terus... apalagi pas covid gede bgt, sebelum 2016 sja msih untung... bisnis Sunset? Tony Fernandes dah gak kedengaran lgi kiprahnya ya....

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Sesuai analisis tehnikal saya pada 13 Januari 2026, emiten $CMPP perhari ini ditutup pada harga 107. Uptrend sesuai garis pergerakan rata-rata.

Happy cuan buat semua yang sudah dapat barang di harga 93 dan 94. Enjoy the ride!

Beberapa hari ini lagi rekap dan hitung data penerbangan Indonesia dari dan ke Australia. Sementara baru kelar yang tahun 2023 dan 2024. Datanya ada di gambar.

Tujuannya agar bisa mengetahui breakdown kinerja dari emiten $CASS, khususnya dari segmen cargo and ground handling.

Baris berwarna biru adalah pelanggan CASS.

Coba komentar dulu mau ga disayembarakan tebak airline nya?

$GIAA $CMPP

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Tampak tehnikal $CMPP terlihat cakep

Best entry: 93 & 94

Hold sampai bagger or ARA

DYOR

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

siap terbang $CMPP

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$CMPP siap nampung kalau ada yang mau jual sahamnya di pasar nego

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BIPI take profit take profit pindah $CMPP siap terbang

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

terbang bersama air asia $CMPP

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$CMPP waktunya terbang bersama yang lain $BIPI $ELTY

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$GIAA $GMFI $CMPP

apa itu papan pemantauan khusus (fca 5) dan beberapa strategi penyelesaiannya.

semoga bermanfaatπŸ™

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Morning 2026 setelah menebus RI $GMFI πŸ§‘πŸ»β€πŸ’»πŸ΅
Ke 250 aja udh cukup 🀣🀣.


Random tag
$GIAA $CMPP

1/3

testestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Prospek saham di sektor pariwisata, penerbangan, dan transportasi wisata untuk tahun 2026 secara umum diproyeksikan cerah dan menjanjikan pertumbuhan positif, didukung oleh data dari sumber kredibel seperti BPS, World Economic Forum (WEF), dan Bank Indonesia (BI).

$WEHA $GMFI $CMPP πŸš€πŸš€πŸš€ amankan aset❗

Berikut adalah analisis terperinci berdasarkan data dan laporan terkini:

Proyeksi Pertumbuhan Industri

Peringkat Global Meningkat:

Berdasarkan Travel and Tourism Development Index (TTDI) yang dirilis oleh WEF pada Mei 2024, peringkat pariwisata Indonesia melonjak 10 posisi ke peringkat 22 dari 119 negara. Ini menunjukkan peningkatan daya saing dan potensi besar untuk menarik lebih banyak wisatawan internasional pada 2026

Target Kunjungan Optimis:

Pemerintah menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mencapai 16 hingga 17,6 juta orang pada tahun 2026, serta 1,18 miliar pergerakan wisatawan nusantara (wisnus). Target devisa pariwisata juga dibidik menembus US$24,7 miliar.

Kontribusi PDB:

Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) diharapkan meningkat, diproyeksikan menembus 4,6 hingga 4,7 persen pada 2026.

Data Sektor Transportasi Wisata

Pertumbuhan Positif:

Kinerja pemesanan transportasi sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan positif. Pemesanan transportasi tumbuh 23 persen, menunjukkan permintaan yang kuat yang diperkirakan berlanjut hingga 2026.

Pergeseran Preferensi Moda:

Terjadi pergeseran preferensi ke moda transportasi darat, dengan pemesanan kereta api dan bus meningkat signifikan (47% dan 46% masing-masing), didorong oleh harga yang lebih terjangkau dan konektivitas antardaerah yang membaik.

Peningkatan Infrastruktur:

Pemerintah terus fokus pada pembangunan infrastruktur inklusif yang menunjang sektor pariwisata, termasuk aksesibilitas transportasi dan akomodasi, yang menjadi faktor pendukung utama pertumbuhan industri.

Faktor Pendukung Utama

Kebijakan Pemerintah yang Mendukung: Kolaborasi kuat antara pemerintah, Bank Indonesia, dan pelaku industri melalui inisiatif seperti "Indonesia Tourism Outlook 2025/2026" dan berbagai insentif fiskal (seperti tax holiday dan tax allowance) memperkuat ekosistem pariwisata.

Digitalisasi:

Perilaku wisatawan yang semakin digital (89% mencari inspirasi melalui media sosial) mendorong pelaku industri untuk beradaptasi dengan teknologi. Penggunaan AI dan platform digital dalam pemasaran dan manajemen destinasi meningkatkan efisiensi dan pengalaman pengunjung.

Dominasi Gen Z dan Milenial:

Karakteristik pasar didominasi oleh Gen Z dan milenial yang mencari pengalaman otentik dan "nilai untuk uang" (value for money), bukan sekadar kemewahan. Ini membuka peluang bagi pengembangan desa wisata dan ekowisata.

Investasi Swasta:

Realisasi investasi sektor pariwisata menunjukkan pertumbuhan kuat, meningkat 44,03% pada semester I 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek industri ini.

Risiko dan Tantangan

Meskipun prospek cerah, terdapat tantangan seperti ketidakpastian ekonomi global, potensi risiko geopolitik, isu lingkungan, dan infrastruktur yang belum merata di semua daerah. Namun, dengan strategi mitigasi risiko dan fokus pada pariwisata berkelanjutan, sektor ini dipandang tangguh.

Kesimpulan Investasi

Secara keseluruhan, data dari sumber kredibel mengindikasikan bahwa tahun 2026 akan menjadi momentum pertumbuhan signifikan bagi sektor pariwisata dan turunannya di Indonesia. Peningkatan peringkat daya saing, target pemerintah yang ambisius, dan tren pasar yang kondusif memberikan sinyal positif bagi kinerja saham di industri terkait.

Read more...

SIAP-SIAP ASING SUDAH GAK PERCAYA TAMBANG, SUMATERA, ACEH, baru-baru ini KALIMANTAN & PAPUA. besok Bencana Mana Lagi??

2026 ERANYA NAIK PERINGKAT dari sektor yang aman dari pengrusakan Hutan.

$GMFI $WEHA $CMPP πŸš€πŸš€πŸš€

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$NINE Part 3

Part 1 & 2 dulu bahas masalah rekam jejak tata kelola owner dianggap fear. Ternyata benar asetnya sama aja yang dimasukin dari yang dulu sempat delisting di ASX (Australia Stock Exchange).

Lalu Clash sama Bursa, suspen lama.

Sekarang saya post isinya pertanyaan saja terkait menyikapi berita aset yang akan dimasukan.

$CMPP dulu RI berapa Triliun dan BACKDOOR, sekarang market cap-nya segitu lagi juga karena bisnisnya rugi beruntun. Naiknya pun pernah tinggi, tapi pucuk tidak pernah ada yang tau. $PANI itu special case.

1. Anda perlu cari tahu, sebenarnya apa aktivitas usaha dari Poh Golden Ger Resources. Hint: Annual Report terakhir di tahun 2021 menunjukkan list anak usaha dan basis perusahaan mereka dimana).

Mereka punya lahan itu ditambang atau nggak? atau mereka cuma perusahaan yang melakukan eksplorasi saja? bukan eksploitasi?

2. Anda cari tahu, calon usaha yang mau diimbreng itu akan mewarisi utang lama perseroan atau nggak? SEMISAL aktivitas usahanya dulu perlu banyak biaya.

Baru deh masuk itung-itungan di Rights Issue, delusi kepemilikan, sama kepentingan owner (dari MTO bisa terlihat, dari kondisi annual report mereka bisa di konfirmasi).

Semisal sudah bisa jawab 2 pertanyaan itu, akan terlihat beberapa hal:
1. Kenapa mereka mau Rights Issue? siapa targetnya?
2. Kenapa Advanced Opportunity Fund guyur market sebelumnya?
3. Kenapa mereka rugi beruntun 5 tahun dan delisted dari Australia? (Hint: ada di bisnis mereka dan biaya mereka).

Goodluck.

Read more...

1/4

testestestes
2013-2026 Stockbit Β·AboutΒ·ContactHelpΒ·House RulesΒ·TermsΒ·Privacy