indikator notasi khusus
Perusahaan memiliki Notasi Khusus
I

139

-6

(-4.14%)

Today

128.32 M

Volume

152.56 M

Avg volume

Company Background

Bukalapak adalah perusahaan teknologi Indonesia yang memiliki misi menciptakan perekonomian yang adil untuk semua. Melalui platform online dan offlinenya, Bukalapak memberikan kesempatan dan pilihan kepada semua orang untuk meraih hidup yang lebih baik. Sejak didirikan pada tahun 2010, Bukalapak telah melayani lebih dari 6 juta Pelapak, 5 juta Mitra Bukalapak dan 90 juta pengguna aktif dan pada tahun 2017 menyandang status unicorn. Bukalapak selalu memiliki perhatian khusus dalam pemberdayaan UMKM Indonesia.

$EMTK $BUKA saat krisis, perusahaan2 yg Bisnis nya baik, terutama yg Cash nya besar , Hutang nya kecil, itu lah yang akan SURVIVE dan akan rebound kencang.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$EMTK Investor yang Beli dl 460 Jual di 1700 Tentu Udah Cuan Gede, Sedangkan yang Beli di 1700 Sekarang Mungkin Lagi Nyangkut atau Malah Sudah Cutloss

Tergantung kecenderungan investor tersebut antara Cintailah Nyangkut vs Cintailah Cutloss

Kalau memang cinta nyangkut, maka mungkin investor tersebut tetap akan Hold sampai jadi komisaris EMTK gantikan keluarga Sariatmadja.

Tapi kalau investor tersebut cinta cutloss maka minus 2-7% aja mungkin udah out dan move on. Apalagi kalau itu saham udah jebol semua support MA20, MA50, MA100 dan MA200.

Dalam dunia saham, posisi menentukan opini.

Investor yang masih nyangkut cenderung akan tetap positive thinking sama saham tempatnya nyangkut sedangkan investor yang sudah duluan cutloss cenderung akan negative thinking sama saham tersebut.

Tak ada opini yang abadi di saham🗿
Hari ini bisa aja opini bilang bagus, besok nya bisa berubah. Posisi menentukan opini. 🗿

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$SCMA $BUKA

Read more...

1/10

testestestestestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Salah satu emiten yang cocok buat diakuisisi $BUKA selain $RALS

kira2 saham apa ya yg di rekom org2 yg $BUKA kelas di market spt ini.🤔
apa malah $KIOS nya tutup🙈

Spill donk..!!!🤭

$EMTK yg naiknya sudah gila2an setahun ini mungkin masih wajar kalau ARB sekalipun.. Karena mereka pun masih bisa jual dengan kondisi Take profit..

$SCMA, $BUKA

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$RATUDRCM6A rebound 🚀
$IHSG
$BUKA

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

mirip pola penurunannya januari 2024 bakal lama ini berbulan2 baliknya hadehhh. Tapi semoga aja ngga sih.

$BUKA

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BUKA apa perlu di CL dulu untuk bisa naik ini eminten

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Bukti $IHSG adalah bursa gorengan, coba kalian sebutkan, dalam jangka waktu 10 tahun terakhir, apa saham yg IPO di rentang tersebut adalah saham dengan kualitas bagus dan berkembang jadi bluechip? Bahkan saham yang heboh kaya $GOTO dan $BUKA ujung-ujungnya adalah zonk. Tetep aja, saham yg bisa diandelin buat growth cuman itu itu aja kaya BBCA. Yang sekelas TLKM, BBRI, BMRI, UNVR, ASII aja kalau kalian hold jangka panjang, boncos mayan dalem. Siapa yg sangka bahwa TLKM yang dulu perkasa di harga 4000an sekarang nembus 3600 aja susah payah. Begitu jga dengan UNVR, GGRM, HMSP, dll. Buat investor asing, apakah saham Indo ini menarik? Ga ada capital gain dan juga kurs rupiah melemah terus. Come on man.

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BUKA 29 Jan 26
Investor: BUKALAPAK.COM
Action: BUY
Shares Traded: +78,049,200 (+0.0757%)
Current: 10,736,007,907 (10.4083%)
Previous: 10,657,958,707 (10.3326%)
Broker: LG
Investor Type: Domestic
Source: KSEI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Cutloss sebenarnya pilihan tepat, karena jika portomu turun 50% untuk bisa balek BEP saja butuh kenaikan 100%. $KIJA $BUKA

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BUKA 28 Jan 26
Investor: BUKALAPAK.COM
Action: BUY
Shares Traded: +30,000,000 (+0.0291%)
Current: 10,657,958,707 (10.3326%)
Previous: 10,627,958,707 (10.3035%)
Broker: LG
Investor Type: Domestic
Source: KSEI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BUMI $BUKA $GOTO

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$GOTO rugi melulu.. gojek ga pny kendaraan ..ga bayar perbaikan.. anehnya rugi… tokopedia sudah dibeli tiktok pula.. $BUKA ga bagi deviden , bisnis agak kurang jelas.. sudah untung ga bagi deviden puarah…

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BUKA dan $GOTO Kalah Lawan Shopee Lalu Kemudian Ganti Bisnis

Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Lima tahun terakhir membuktikan satu hal, e-commerce bukan ajang siapa paling ramai, tapi siapa paling tahan rugi paling lama. Begitu akses modal makin mahal dan investor makin cerewet soal arus kas, permainan subsidi berubah jadi permainan efisiensi. Banyak e-commerce yang terlihat seperti menyerah, padahal yang terjadi adalah mereka memilih berhenti bakar uang di medan yang return-nya makin tipis. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

GOTO dan BUKA sama-sama sampai di fase ini, bosan e-commerce tetapi jalur keluarnya beda total. Jadi ini bukan cerita batal jadi marketplace, ini cerita mutasi jadi platform yang cari uang lewat layanan lain yang lebih bisa dikendalikan.

Dari ukuran bisnis per 9M 2025, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk punya pendapatan Rp13,30 triliun, jauh di atas PT https://cutt.ly/stvfhv5a Tbk Rp4,73 triliun. Aset GOTO Rp42,11 triliun, BUKA Rp26,14 triliun. Tenaga kerja juga beda kelas, GOTO 3.592 orang dan masih naik 7,1%, sementara BUKA 543 orang dan turun 46,6%. Jadi GOTO tetap mesin operasional besar, BUKA memilih jadi organisasi ramping.

Mesin pendapatan GOTO sekarang lebih mirip operator layanan harian. On-demand Rp9,03 triliun atau 67,9% dari pendapatan, naik 15,7%, dan sudah menghasilkan laba segmen Rp645,73 miliar dengan margin 7,1%. Fintech Rp3,68 triliun atau sekitar 27,6%, naik 85,3%, tetapi masih rugi segmen Rp346,68 miliar. Bagian e-commerce tinggal Rp627,49 miliar dan turun 46,1%, namun masih mencetak laba segmen Rp428,67 miliar dengan margin 68,3% karena sifatnya lebih seperti fee dan jasa setelah perubahan struktur. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

BUKA mengambil jalur berbeda, pendapatan ditarik oleh gaming. Gaming Rp3,85 triliun atau 81,4% dari pendapatan, naik 215%, tetapi laba segmennya cuma Rp16,60 miliar dengan margin 0,43%, jadi besar tapi tipis. O2O Rp605,96 miliar turun 63% dan rugi segmen Rp45,74 miliar. Ritel dan investasi kecil kontribusinya dan masih merugi di level segmen. Ini memberi sinyal bahwa BUKA sudah menemukan volume lewat produk virtual, tetapi belum menemukan take rate yang tebal.

Kalau bicara laju pertumbuhan pendapatan, BUKA terlihat lebih cepat, naik 39,03% YoY, sedangkan GOTO naik 14,00%. Tetapi konteksnya penting, BUKA tumbuh karena komposisi pendapatan bergeser agresif ke gaming, sementara GOTO tumbuh di layanan on-demand dan fintech yang butuh orkestrasi operasional, mitra, dan kepatuhan. Jadi yang satu tumbuh lewat komposisi produk, yang satu tumbuh lewat ekspansi aktivitas. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Di sisi laba bersih, GOTO masih rugi Rp996,97 miliar, sedangkan BUKA laba Rp2,91 triliun. Namun kualitas laba BUKA tidak sesederhana itu karena ditopang laba nilai investasi neto Rp2,32 triliun, artinya banyak laba datang dari investasi, bukan dari margin operasional inti. Investor yang hanya melihat laba bersih bisa salah menilai, karena satu perusahaan sedang memperbaiki mesin operasional, yang satu sedang diuntungkan oleh hasil investasi sambil merapikan mesin.

GOTO CFO sekitar minus Rp160,84 miliar, tetapi masih dekat ke titik impas operasional, sedangkan FCF sekitar minus Rp1,30 triliun karena belanja capex tidak berwujud Rp1,14 triliun. BUKA CFO sekitar Rp149,7 miliar dan FCF sekitar Rp113,5 miliar karena capex kecil Rp36,2 miliar. Jadi GOTO memilih investasi agresif untuk membangun produk dan ekosistem, BUKA memilih menjaga kas dan menekan belanja.

Soal bantalan neraca, keduanya sama-sama punya kas besar, GOTO sekitar Rp17,6 triliun dan BUKA Rp17,11 triliun. Tetapi beban historisnya beda ekstrem, akumulasi rugi GOTO Rp214,92 triliun dan masih membesar dari akhir 2024, sedangkan BUKA punya akumulasi rugi Rp7,35 triliun dan membaik dari Rp10,26 triliun. Ini menjelaskan kenapa narasi pasar ke GOTO biasanya soal turnaround panjang, sementara BUKA sering dibaca sebagai aset yang dihargai diskon dan sedang direstrukturisasi.

Perubahan bentuk bisnisnya juga nyata lewat aksi korporasi. GOTO melepas kendali Tokopedia sejak Januari 2024 dan kini hanya punya 24,99% sebagai asosiasi setelah transaksi dengan TikTok, lalu menjual 100% PT Aplikasi Harapan Bangsa beserta unit fulfillment, serta menjual 100% GoPay Vietnam. BUKA menjual PT Ree Derma International dan PT Dunia Kreasi Maju, melikuidasi Midas Labs Technology, serta melepas beberapa entitas lain lewat dekonsolidasi. Dua-duanya mengurangi bagian yang berat dan fokus ke bagian yang terasa lebih bisa dikendalikan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

GOTO terlihat sedang mengejar profit konsolidasian lewat kombinasi on-demand yang sudah untung, fintech yang tumbuh cepat, dan monetisasi ekosistem, namun risikonya tetap pada burn FCF dan kebutuhan disiplin biaya. BUKA terlihat sedang mengandalkan volume gaming dan efisiensi organisasi, namun tantangannya ada pada margin gaming yang sangat tipis dan O2O yang masih turun. Jadi keduanya memang menjauh dari perang e-commerce klasik, tetapi satu memilih perang efisiensi di layanan harian dan keuangan, satu memilih perang volume dan restrukturisasi sambil menjaga kas.

🤔BUKA dan GOTO sama-sama platform multi-sisi, mengandalkan jaringan pengguna dan mitra
💸 Sama-sama punya kas sekitar Rp17 triliun lebih sebagai bantalan
🧹 Sama-sama melepas unit yang tidak lagi sejalan dengan fokus utama Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

🚚 GOTO ditopang on-demand Rp9,03 triliun dan sudah laba segmen margin 7,1%
🎮 BUKA ditopang gaming Rp3,85 triliun tapi margin segmen 0,43%
👥 GOTO tumbuh karyawan 7,1%, BUKA pangkas 46,6%

🛵 GOTO sudah membuktikan ada segmen besar yang profit
🏦 GOTO punya fintech yang tumbuh 85,3% sebagai mesin masa depan
🧰 BUKA capex kecil, CFO dan FCF positif, organisasi super ramping
💰 BUKA laba 9M 2025 Rp2,91 triliun walau sangat dipengaruhi hasil investasi Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

🕳️ GOTO masih rugi bersih Rp996,97 miliar dan FCF minus sekitar Rp1,30 triliun
📉 BUKA O2O turun 63% dan segmen gaming besar tapi tipis sekali marginnya
🧾 BUKA laba sensitif ke hasil investasi, bukan murni mesin operasional

🧭 Yang paling menentukan buat investor
📌 GOTO, apakah fintech bisa balik ke laba segmen tanpa mengorbankan pertumbuhan
📌 GOTO, apakah burn FCF turun konsisten kuartal demi kuartal
📌 BUKA, apakah margin gaming bisa ditebalkan atau hanya volume besar tipis
📌 BUKA, apakah O2O berhenti turun dan bisa kembali relevan tanpa subsidi besar

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$SCMA

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$GOTO vs $BUKA: Apakah Sama - sama Sudah Bosan dengan Bisnis E-commerce? 🤔

Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

GOTO dan BUKA, dua-duanya lahir dari e-commerce, tapi yang menarik justru saat mereka berhenti jadi e-commerce. Marketplace itu gampang jadi komoditas, menangnya bukan lagi soal logo, tapi siapa yang punya mesin laba operasional dan siapa yang cuma punya kas. GOTO dan BUKA sama-sama memilih mundur dari arena paling berdarah, lalu pindah ke medan yang mereka anggap lebih bisa dimonopoli. Hasilnya, investor sekarang melihat dua entitas yang mirip asal-usulnya, tapi beda DNA bisnisnya. Kalau investor masih menilai mereka pakai kacamata e-commerce murni, sinyal paling penting bakal kelewat. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Di GOTO, titik belok besar terjadi ketika Tokopedia tidak lagi dikonsolidasikan sejak Januari 2024 dan posisinya menjadi entitas asosiasi dengan kepemilikan 24,99%. Dampaknya terasa jelas di angka 9M 2025, segmen e-commerce mengecil, lalu fokus uang dan tenaga berpindah ke layanan on-demand dan fintech.

BUKA juga belok, tapi arah beloknya beda. Pusat gravitasi pindah ke Gaming yang menjadi tulang punggung pendapatan, sementara O2O yang dulu menjadi cerita utama justru menyusut tajam. Jadi bukan sekadar ganti produk, melainkan ganti mesin pendapatan, ganti struktur biaya, dan ganti cara membaca kualitas laba.

Kalau lihat ukuran pendapatan 9M 2025, GOTO jauh lebih besar Rp13,29 triliun dibanding BUKA Rp4,72 triliun, sekitar 2,8x. Dari aset, GOTO Rp42,11 triliun melawan BUKA Rp26,14 triliun, sekitar 1,6x. Ini memberi konteks, GOTO bermain di volume besar, BUKA bermain dengan organisasi ramping dan lini yang lebih sempit. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Di level laba bersih, keduanya seperti hidup di dunia berbeda. GOTO masih rugi bersih Rp996,97 miliar untuk 9M 2025. BUKA mencetak laba bersih Rp2,91 triliun, tapi motor utamanya adalah laba nilai investasi Rp2,32 triliun, jadi investor wajib memisahkan mana laba karena operasional, mana laba karena portofolio investasi.

Mesin pendapatan GOTO lebih berlapis dan terlihat urutannya. On-demand menyumbang Rp9,03 triliun atau 67,9% dari pendapatan neto, tumbuh 15,7%, dan sudah untung operasional Rp645,73 miliar dengan margin 7,1%. Fintech menyumbang Rp3,68 triliun atau sekitar 27,6%, tumbuh 85,3%, tapi masih rugi operasional Rp346,68 miliar. E-commerce tinggal Rp627,49 miliar atau sekitar 4,7%, turun 46,1%, namun margin segmennya sangat tinggi 68,3% dengan laba segmen Rp428,67 miliar karena sifatnya makin fee-based.

Di BUKA, mesin pendapatan lebih terkonsentrasi. Gaming menyumbang Rp3,85 triliun atau 81,4% dan tumbuh 215%, tapi hasil segmennya hanya Rp16,60 miliar dengan margin 0,43%, tipis sekali untuk mesin utama. O2O tinggal Rp618,85 miliar dan turun 63% dengan rugi segmen Rp45,74 miliar. Retail Rp280,37 miliar dan investasi Rp44,72 miliar, keduanya juga rugi segmen. Artinya BUKA berhasil menemukan sumber top line baru, tapi belum berhasil mengubahnya jadi profit segmen yang tebal. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau bicara kualitas profit segmen, GOTO punya satu kuda penarik yang sudah jadi, yaitu on-demand yang sudah positif. BUKA justru sedang menghadapi paradoks, pendapatan terbesar datang dari Gaming, tapi yang tertinggal ke bawah sangat kecil. Ini biasanya berarti ada tekanan biaya, struktur take rate, atau sifat bisnisnya memang volume besar margin tipis yang butuh disiplin biaya ekstrem supaya kelihatan hasilnya.

Efisiensi tenaga kerja mempertegas perbedaan karakter. GOTO punya 3.592 karyawan, BUKA 543 karyawan. Revenue per karyawan per bulan sekitar Rp411,2 juta di GOTO, sedangkan BUKA sekitar Rp967,1 juta, jauh lebih tinggi karena basis karyawannya kecil dan pendapatannya terkonsentrasi di penjualan produk virtual. Namun COGS per karyawan per bulan di BUKA sekitar Rp890,1 juta, jauh di atas GOTO sekitar Rp174,2 juta, jadi angka produktivitas BUKA itu datang bersama beban pokok yang juga berat. Di sisi SG dan A, GOTO lebih tinggi sekitar Rp155,9 juta per karyawan per bulan dibanding BUKA sekitar Rp104,5 juta, masuk akal karena operasi on-demand butuh organisasi lapangan, compliance, dan eksekusi yang kompleks. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Arah penyesuaian organisasi juga berlawanan. GOTO menambah karyawan dari 3.352 menjadi 3.592 atau naik 7,1%, sinyal mereka masih membangun kapasitas untuk memperbesar mesin layanan dan fintech. BUKA memotong dari 1.018 menjadi 543 atau turun 46,6%, sinyal restrukturisasi agresif dan fokus ke lini yang dianggap paling tahan. Investor biasanya melihat ini sebagai dua strategi, GOTO mengejar operating leverage di jaringan layanan, BUKA mengejar survivability dan efisiensi ekstrem.

Keduanya memang sama-sama meninggalkan e-commerce, tapi mereka mendarat di dua dunia valuasi yang berbeda. GOTO sedang membayar mahal untuk membangun mesin yang bisa berulang dan akhirnya besar, dengan satu segmen sudah terbukti positif dan satu segmen tumbuh sangat cepat tapi belum profit. BUKA terlihat seperti kombinasi distributor produk virtual margin tipis dan holding investasi, sehingga laba bisa terlihat cantik saat investasi untung, tapi segmen operasional inti harus membuktikan dirinya. Investor yang mencari narasi turnaround operasional biasanya lebih nyambung ke GOTO, investor yang mencari opsi kas dan hasil investasi biasanya lebih nyangkut ke BUKA, tapi dua-duanya tidak bisa dinilai pakai logika marketplace lama. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

🛒 Sama-sama berangkat dari e-commerce lalu mengecilkan porsi marketplace
🧠 Sama-sama menggeser fokus ke lini yang dianggap lebih defensible dibanding perang diskon
🧯 Sama-sama dipaksa pasar untuk lebih disiplin biaya dan kualitas pendapatan

🛵 GOTO sekarang lebih mirip operator layanan dan fintech
🚚 On-demand Rp9,03 triliun, 67,9%, tumbuh 15,7%, laba segmen Rp645,73 miliar, margin 7,1%
💳 Fintech Rp3,68 triliun, sekitar 27,6%, tumbuh 85,3%, rugi segmen Rp346,68 miliar
🧾 E-commerce Rp627,49 miliar, sekitar 4,7%, turun 46,1%, laba segmen Rp428,67 miliar, margin 68,3%
🏢 Entitas kunci on-demand PT GO-JEK Indonesia, Go-Jek Singapore, PT Antar Makanan Anak Bangsa
🧠 Entitas kunci fintech GoPay lewat PT Dompet Anak Bangsa, Midtrans, Moka, dan entitas pembiayaan terkait

🎮 BUKA sekarang lebih mirip mesin top-up dan holding investasi
🕹️ Gaming Rp3,85 triliun, 81,4%, tumbuh 215%, laba segmen Rp16,60 miliar, margin 0,43%
🧑‍🤝‍🧑 O2O Rp618,85 miliar, turun 63%, rugi segmen Rp45,74 miliar
🏪 Retail Rp280,37 miliar, rugi segmen
💼 Investasi Rp44,72 miliar, rugi segmen
🧩 Entitas kunci gaming Buka Korea, Five Jack, Game Multi Realms
🧷 Entitas O2O PT Buka Mitra Indonesia, PT Bina Nusa Indonesia, Smart Sari, PT Gerakan Digitalisasi Indonesia

📈 Pendapatan 9M 2025 GOTO Rp13,29 triliun vs BUKA Rp4,72 triliun sekitar 2,8x

🧱 Aset GOTO Rp42,11 triliun vs BUKA Rp26,14 triliun sekitar 1,6x

👥 Karyawan GOTO 3.592 naik 7,1% vs BUKA 543 turun 46,6%

⚖️ Laba bersih GOTO rugi Rp996,97 miliar vs BUKA laba Rp2,91 triliun yang ditopang laba investasi Rp2,32 triliun

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$EMTK

Read more...

1/10

testestestestestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BUKA vs $GOTO: Dua Saham Teknologi yang Dulunya Banyak Dipuja Tapi Sekarang Terabaikan

Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Banyak investor hanya melihat valuasi GOTO mahal dan valuasi BUKA murah, lalu berhenti di situ. Padahal angka kas mereka mirip besar, tetapi cara pasar memberi harga ke masing-masing sangat berbeda. Di satu sisi ada bisnis platform yang masih bakar kas tapi perbaikan operasionalnya mulai kelihatan. Di sisi lain ada tumpukan kas yang lebih besar dari valuasi pasar, namun mesin kas operasionalnya masih mini. Jadi kalau investor cuma lihat PBV atau cuma lihat rugi laba, investor bakal salah menangkap cerita utamanya. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kedua-duanya sama-sama punya kas jumbo. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk punya kas dan setara kas sekitar Rp17,6 triliun, sementara PT https://cutt.ly/Ztvdajf8 Tbk punya kas dan setara kas Rp17,11 triliun. Bedanya ada di harga pasar, GOTO di harga Rp64 bernilai sekitar Rp67,74 triliun, sedangkan BUKA di harga Rp145 bernilai sekitar Rp13,70 triliun. Ini bikin posisi BUKA terasa seperti beli kas pakai diskon, sementara GOTO adalah bayar mahal untuk mesin bisnis yang diharapkan jadi laba besar.

Dari sisi omzet, GOTO jauh lebih besar. Net revenue 9M 2025 sekitar Rp13,30 triliun, annualised kira-kira Rp17,73 triliun. BUKA 9M 2025 pendapatan sekitar Rp4,72 triliun, jadi skalanya memang beda kelas. Di titik ini pasar biasanya bilang wajar kalau GOTO lebih mahal, karena top line lebih besar dan ekosistemnya lebih lebar, tetapi top line bukan akhir cerita. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

GOTO masih cetak rugi bersih 9M 2025 sekitar Rp997 miliar, tetapi rugi operasional turun tajam 89% dari Rp2,05 triliun jadi Rp222 miliar, artinya kebocoran biaya mulai ditambal. BUKA malah laba bersih Rp2,91 triliun, tetapi mesin utamanya bukan dari operasional murni, karena laba nilai investasi neto Rp2,32 triliun mendominasi akibat floating profit saham $BBHI. Jadi GOTO sedang memaksa bisnis inti menuju sehat, sementara BUKA sedang menunjukkan laba besar yang kualitasnya banyak ditentukan portofolio investasi.

GOTO punya CFO yang masih negatif sekitar Rp160,8 miliar, dan FCF negatif sekitar Rp1,30 triliun karena capex besar sekitar Rp1,14 triliun, terutama investasi aset takberwujud. BUKA CFO positif Rp149,7 miliar, capex kecil Rp36,2 miliar, FCF positif Rp113,5 miliar. Ini menjelaskan kenapa BUKA terasa defensif di neraca, sedangkan GOTO terasa seperti cerita turnaround yang butuh waktu dan butuh kas.

Soal belanja investasi, pola pikirnya beda. GOTO capex terhadap revenue sekitar 8,54%, jadi hampir 9% omzet diputar lagi untuk teknologi dan aset takberwujud. BUKA capex terhadap revenue cuma 0,77%, dan capex terhadap laba cuma 1,24%, modelnya asset-light dan tidak agresif membangun aset baru. Investor bisa suka dua-duanya, tetapi konsekuensinya beda, GOTO mengejar pertumbuhan dan efisiensi lewat investasi berat, BUKA mengejar stabilitas neraca dengan belanja minimal. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Dari sisi utang, BUKA jauh lebih bersih. Total liabilitas sekitar Rp852,2 miliar dan utang bank signifikan nyaris tidak ada, beban akrual yang paling besar sekitar Rp326,96 miliar. GOTO punya pinjaman dan sewa sekitar Rp4,37 triliun, termasuk pinjaman non-bank jangka panjang equity-linked bonds sekitar Rp2,73 triliun, meski leverage relatif masih terkendali dengan DER 0,41x. Jadi risiko struktur modal GOTO lebih kompleks, sementara BUKA lebih sederhana.

Valuasi BUKA PBV 0,54x, P/S 2,17x, PER annualised 3,53x, tetapi PER ini rapuh karena laba ditopang investasi dan CFO terhadap laba cuma 0,05x. GOTO PBV 2,11x, P/Tangible BV 2,27x, P/S 3,82x, EV/Sales 3,07x, dan EV/EBITDA 123,88x, ini jelas premium untuk bisnis yang masih rugi bersih. Artinya pasar sedang membeli harapan, bukan laporan laba saat ini.

Produktivitas SDM juga memberi petunjuk karakter bisnisnya. BUKA dengan 543 karyawan punya revenue per karyawan Rp8,70 miliar dan laba per karyawan Rp5,36 miliar, tetapi CFO per karyawan hanya Rp275,77 juta, lagi-lagi mengingatkan bahwa laba BUKA tidak sepenuhnya kas.

GOTO dengan 3.592 karyawan punya revenue per karyawan Rp3,70 miliar dan cash receipts per karyawan Rp4,19 miliar, namun loss per karyawan sekitar minus Rp277,5 juta dan CFO per karyawan minus Rp44,7 juta, artinya skala besar belum otomatis jadi kas masuk bersih. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Jadi kemiripan mereka ada pada satu hal, sama-sama punya kas besar yang memberi napas panjang. Perbedaannya, BUKA murah karena pasar belum percaya kas itu bisa diubah jadi mesin operasional yang kuat, sedangkan GOTO mahal karena pasar percaya mesin bisnisnya bisa jadi laba besar walau sekarang masih membakar kas. Kalau investor mencari margin of safety berbasis aset, BUKA terlihat menonjol. Kalau investor mencari opsi turnaround yang berhasil, GOTO adalah taruhan pada eksekusi.

💰 Kas GOTO Rp17,6 triliun, kas BUKA Rp17,11 triliun
🏷️ Market cap GOTO Rp67,74 triliun, market cap BUKA Rp13,70 triliun
🧊 Harga vs kas per saham GOTO Rp64 vs kas per saham Rp16,6, BUKA Rp145 vs kas per saham Rp181

🚚 Net revenue 9M 2025 GOTO Rp13,30 triliun vs BUKA Rp4,72 triliun
📊 Annualised revenue GOTO kira-kira Rp17,73 triliun

🩸 Rugi bersih 9M 2025 GOTO Rp997 miliar
🧯 Rugi operasional GOTO turun 89% dari Rp2,05 triliun ke Rp222 miliar
🎮 Laba bersih 9M 2025 BUKA Rp2,91 triliun
🧨 Laba nilai investasi neto BUKA Rp2,32 triliun, ini yang bikin laba besar

🧮 CFO margin GOTO minus 1,21%
🧯 CFO GOTO minus Rp160,8 miliar, capex Rp1,14 triliun, FCF minus Rp1,30 triliun
💧 CFO BUKA Rp149,7 miliar, capex Rp36,2 miliar, FCF Rp113,5 miliar

🧱 Liabilitas BUKA Rp852,2 miliar, utang bank signifikan nyaris tidak ada
🧷 Pinjaman non-bank jangka panjang GOTO Rp2,73 triliun
🧲 Total borrowings plus lease GOTO Rp4,37 triliun

🪙 PBV BUKA 0,54x, PBV GOTO 2,11x
🛒 P/S BUKA 2,17x, P/S GOTO 3,82x
🧨 EV/Sales BUKA minus 2,17x, EV/Sales GOTO 3,07x

🤝 BUKA dan GOTO Sama-sama punya kas besar untuk bertahan lama
⚔️ BUKA seperti beli aset diskon, risikonya kas tidak jadi mesin CFO besar
🔥 GOTO seperti beli opsi turnaround, risikonya FCF negatif bisa lama sebelum panen

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/9

testestestestestestestestes

Aurora Sky Tower
Sebuah Kisah Gelembung yang Menawan dan Mematikan

Phase 1 – Bubble Spark
Di suatu sore tahun 20XX, kabar mengejutkan datang dari bursa saham Indonesia. PT. Aurora Development, Tbk (kode saham: AURA), sebuah perusahaan properti kecil yang nyaris terlupakan, tiba-tiba diakuisisi oleh seorang tokoh flamboyan: Leon Artha, pengusaha penerbangan yang gemar tampil di media dengan ide-ide nyeleneh.

Aurora sendiri punya sejarah suram. Selama bertahun-tahun, proyek apartemennya mangkrak, penjualannya lemah, dan laporan keuangannya jarang sekali menunjukkan laba. Harga sahamnya pun melorot, dari Rp400 hingga tinggal Rp60 per lembar. Investor menghindarinya.

Namun Leon datang dengan visi spektakuler. Ia mengumumkan rencana pembangunan Aurora Sky Tower: sebuah menara hiburan setinggi 800 meter di atas pulau reklamasi di tepi pantai kota metropolitan. Menara itu diklaim akan menyatukan hotel bintang tujuh, restoran berputar, pusat belanja mewah, observatorium dengan teknologi augmented reality, dan arena konser terapung di puncaknya.

Media langsung menggambarkannya sebagai “ikon baru Asia” yang akan menyaingi Marina Bay Sands di Singapura atau Burj Khalifa di Dubai. Leon tampil di televisi dengan penuh percaya diri: “Aurora Sky Tower akan menjadi mercusuar pariwisata Indonesia, simbol kemajuan, dan magnet investasi.”

Investor pun mulai melirik. Jika proyek ini berhasil, tentu nilainya tak terbayangkan. Harga saham AURA yang tadinya mati suri tiba-tiba terasa seperti harta karun yang terpendam.

Phase 2 – Bubble Glow
Tak butuh waktu lama, mesin promosi mulai bekerja. Video animasi menara berkilauan beredar di YouTube, menampilkan laser menari di langit malam. Brosur iklan menyebutkan bahwa seluruh unit hotel sudah sold out hingga dua tahun ke depan, padahal menara masih berupa fondasi beton.

Dalam keterbukaan informasi, Aurora mengklaim bahwa okupansi dijamin penuh, bahkan sudah ada daftar tunggu untuk restoran tematik yang belum dibangun. Kabar yang lebih heboh: ada desas-desus Elon Musk akan menaruh kapsul roket di puncak menara sebagai wahana wisata luar angkasa.

Manajemen lalu mengubah nama perusahaan menjadi Aurora Global Entertainment, Tbk dengan kode saham baru: STAR. Nama yang lebih glamor, lebih “internasional”, dan terdengar seperti masa depan.

Reaksi pasar luar biasa. Analis mulai berebut memberi rekomendasi BUY. Media menulis tajuk utama: “Saham STAR menuju langit!” Harga sahamnya melonjak: dari Rp60 ke Rp300, lalu Rp700 hanya dalam beberapa bulan. Investor ritel berbondong-bondong membeli, takut ketinggalan kereta.

Kantor pusat Aurora menjadi pusat ziarah investor. Orang-orang berfoto di depan banner besar bertuliskan “Welcome to the Future”. Setiap berita baru—entah benar atau hanya rumor—langsung menambah bahan bakar euforia.

Phase 3 – Bubble Crash
Di balik kilau berita, ada cerita muram. Untuk membiayai proyek raksasa itu, Aurora menumpuk utang luar biasa besar. Pinjaman miliaran dolar datang dari bank internasional, sementara ada bisik-bisik soal dana gelap yang disalurkan melalui jaringan perusahaan cangkang.

Lebih parah lagi, laporan keuangan STAR penuh dengan manipulasi. Revenue melonjak di atas kertas, tapi banyak transaksi kamar hotel dan tiket observatorium hanyalah rekayasa: dipesan oleh entitas terkait yang sebenarnya tidak pernah membayar. Aset dinilai dengan harga fantastis, jauh melampaui nilai riil. Utang besar disembunyikan dalam catatan kaki yang jarang diperhatikan investor awam.

Kecurigaan mulai muncul ketika manajemen mengumumkan rencana rights issue untuk mencari dana segar. Publik bertanya-tanya: mengapa perusahaan yang katanya sangat menguntungkan masih membutuhkan tambahan modal besar?

Puncaknya, komisaris independen STAR menolak menandatangani laporan keuangan dan meminta audit forensik. Media berbalik arah, dari penuh pujian menjadi hujan kritik. Kepercayaan publik hancur.

Saham STAR yang sempat mencetak rekor Rp6.000 per lembar ambruk kembali ke Rp50. Investor ritel yang membeli di puncak euforia menanggung kerugian besar. Sementara itu, Leon Artha menghilang dari sorotan, meninggalkan menara setengah jadi di pulau reklamasi—sebuah monumen bisu dari ambisi yang meledak seperti balon.

Refleksi: Mengapa Gelembung Bisa Terjadi?
Cerita fiksi Aurora Sky Tower memang karangan, tetapi pola yang ditunjukkannya sangat nyata dalam sejarah keuangan. Hampir semua gelembung besar—dari Tulip Mania di Belanda, South Sea Bubble di Inggris, dot-com bubble di Amerika, hingga fenomena kripto atau saham gorengan di era digital—memiliki benang merah yang sama.

Awalnya selalu ada sebuah narasi besar: teknologi baru, proyek megah, atau janji masa depan yang memikat. Narasi ini menyulut imajinasi, membuat orang percaya bahwa kesempatan emas telah tiba. Investor awal membeli dengan antusias, harga mulai naik, lalu berita kenaikan harga itu sendiri menjadi bahan promosi. Media ikut memperbesar gema, analis mengeluarkan rekomendasi positif, dan publik pun menyerbu.

Euforia menciptakan ilusi tak terkalahkan. Orang lupa bertanya hal-hal mendasar: dari mana dana proyek sebenarnya berasal? Apakah revenue yang dilaporkan sungguh-sungguh nyata? Bagaimana struktur utangnya? Apakah valuasi aset masuk akal?

Ketika rasa curiga akhirnya muncul, semuanya biasanya sudah terlambat. Harga saham jatuh dengan cepat, jauh lebih cepat dibanding kenaikannya. Gelembung pun meledak, meninggalkan luka bagi investor yang terlambat sadar.

Pelajaran untuk Investor
Kisah Aurora memberi kita beberapa pelajaran penting.

Pertama, jangan mudah terpukau oleh promosi dan narasi indah. Perusahaan bisa menyajikan gambaran masa depan yang menakjubkan, tetapi tugas investor adalah menyelidiki realitas di baliknya. Jangan hanya percaya pada presentasi visual atau kata-kata bombastis, melainkan periksa laporan keuangan secara kritis.

Kedua, kenali tanda-tanda financial shenanigans. Revenue yang tiba-tiba melonjak tanpa penjelasan jelas, valuasi aset yang kelewat tinggi, atau kebutuhan pendanaan baru di tengah klaim profit besar adalah lampu merah. Investor harus waspada jika manajemen lebih sibuk dengan promosi ketimbang menjelaskan detail keuangan secara transparan.

Ketiga, ingat hukum dasar pasar: harga saham dalam jangka pendek bisa dipengaruhi emosi, tapi dalam jangka panjang ia akan kembali ke nilai fundamental. Tidak peduli seberapa spektakuler narasi, jika bisnis tidak menghasilkan arus kas nyata, harga akhirnya akan runtuh.

Keempat, kontrol emosi sendiri. Euforia massa sering membuat kita takut ketinggalan, sehingga ikut membeli hanya karena semua orang membeli. Padahal disiplin sejati seorang investor adalah berani menahan diri saat pasar sedang panas, dan justru mencari peluang ketika orang lain panik.

Kesimpulan
Aurora Sky Tower mungkin hanya fiksi, tapi kisahnya mencerminkan kenyataan yang berulang dalam sejarah pasar modal. Manusia mudah tergoda oleh mimpi besar, mudah terhanyut oleh cerita “cepat kaya”, dan sering lupa bahwa di balik setiap saham ada sebuah bisnis nyata yang harus menghasilkan keuntungan nyata.

Pasar saham bukan kasino megah dengan lampu warna-warni, melainkan cermin dari kinerja perusahaan dalam jangka panjang. Setiap investor perlu mengingat satu hal sederhana: nilai sejati tidak terletak pada narasi, melainkan pada fundamental bisnis.

Jika kita belajar dari kisah Aurora, mungkin kita bisa lebih berhati-hati lain kali—agar tidak ikut terperangkap dalam gelembung indah yang berakhir pecah, meninggalkan hanya debu ambisi dan kenangan pahit.

@Blinvestor

Follow my Telegram: https://cutt.ly/Btd6w8CM

Random tags: $GOTO $BUKA $EMTK

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

@skydrugz27 $BUKA sama $PWON memang ga bisa diabaikan buat yang targetnya jangka panjang

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Apakah $BUKA Too Cheap To Ignore? 🤔

Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Kalau pasar sekarang menilai BUKA murah, itu bukan karena pasar tiba-tiba cinta e-commerce. Pasar lagi bilang begini, ini saham kok seperti brankas kas yang dibuang murah. Investor yang jeli biasanya suka situasi seperti ini, karena downside sering tertahan oleh aset nyata. Tapi ada jebakan klasik, murah di PBV bisa tetap jadi murah selamanya kalau kasnya tidak pernah berubah jadi mesin laba operasional. Jadi tesisnya sederhana aja, valuasi terlihat menarik, namun kualitas sumber labanya wajib ditelusuri sampai tuntas. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Di neraca per 30 September 2025, penopang utamanya jelas kas dan setara kas Rp17,11 triliun dari total aset Rp26,14 triliun, porsi 65,4%. Ini tipe neraca yang jarang, karena mayoritas perusahaan teknologi justru sering kekurangan kas dan hidup dari pendanaan. Di sini kebalik, kasnya dominan, sehingga investor sebenarnya membeli bantalan yang besar. Karakter seperti ini biasanya membuat valuasi lebih tahan guncangan, karena perusahaan punya waktu panjang untuk membuktikan strategi.

Dari sisi kewajiban, gambarnya sangat konservatif. Total liabilitas Rp852,2 miliar, dan pos terbesar beban akrual Rp326,96 miliar. Tidak ada utang bank yang signifikan, jadi risiko tekanan bunga dan covenant relatif minim. Ini mengubah profil risiko, karena kebangkrutan akibat utang itu kecil, tapi risiko salah alokasi kas justru jadi fokus utama. Dengan kas yang besar, keputusan manajemen soal investasi dan akuisisi bisa menentukan nasib valuasi lebih besar daripada utang.

Di laporan laba rugi, mesin pendapatan paling dominan adalah segmen gaming Rp3,85 triliun, kontribusi 81,4% dari pendapatan neto Rp4,72 triliun. Sisanya sekitar Rp0,87 triliun datang dari segmen lain. Artinya, BUKA saat ini lebih terlihat sebagai mesin transaksi digital dengan konsentrasi yang tinggi, bukan marketplace yang merata. Konsentrasi seperti ini bisa bagus kalau unit economics-nya kuat, tapi juga membuat investor harus paham seberapa stabil permintaan segmen tersebut saat siklus ekonomi berubah. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Bagian yang paling sering bikin investor salah baca ada di laba bersih Rp2,91 triliun. Angka ini besar, namun pendorong utamanya laba nilai investasi neto Rp2,32 triliun karena floating profit dari saham $BBHI. Jadi secara karakter, laba ini lebih mirip hasil manajemen portofolio investasi daripada hasil operasional harian. Ini bukan salah, tapi konsekuensinya jelas, laba bisa fluktuatif, dan pasar akan menempelkan diskon kalau laba tidak berulang dan tidak berubah jadi kas yang konsisten.

Kalau dipindahkan ke arus kas operasi, gambarnya mengecil drastis. CFO cashflow from operations Rp149,7 miliar, sehingga CFO margin 3,17% dari pendapatan Rp4,72 triliun. Setelah capex Rp36,2 miliar, FCF free cash flow Rp113,5 miliar, FCF margin 2,40%. Capex terhadap pendapatan hanya 0,77%, cocok untuk model asset-light, namun tetap memberi sinyal bahwa pertumbuhan organik besar tidak otomatis muncul hanya karena capex kecil. Ini juga menjelaskan kenapa P C F O dan P F C F tampak mahal walaupun PER kelihatan murah.

Arus kas investasi justru jadi pemeran utama, arus kas masuk investasi Rp6,88 triliun, terutama dari pelepasan investasi Rp7,67 triliun. Ini menguatkan kesan bahwa aktivitas investasi memainkan peran besar dalam narasi laba dan kas. Untuk investor, pertanyaannya bukan sekadar untung, tapi apakah untung investasi ini akan diulang, atau hanya momen. Jika berulang, BUKA punya karakter investment house. Jika tidak berulang, maka laba 2025 tidak bisa dipakai untuk menilai valuasi jangka panjang. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Rasio kualitas laba memperjelas ceritanya. Liabilitas terhadap laba 0,29x terlihat sangat aman, namun liabilitas terhadap CFO 5,69x dan terhadap FCF 7,51x menunjukkan kalau hanya mengandalkan kas operasional, butuh waktu lama untuk menutup semua kewajiban. CFO terhadap laba 0,05x dan FCF terhadap laba 0,04x menegaskan mismatch, laba besar tapi kas operasional kecil. Ini bukan berarti buruk, tapi berarti sumber laba tidak datang dari putaran operasional inti.

Di sisi produktivitas, jumlah karyawan tetap 543 orang membuat metrik per orang terlihat tinggi. Penerimaan kas dari pelanggan Rp5,17 triliun setara Rp9,53 miliar per karyawan. Revenue Rp4,72 triliun setara Rp8,70 miliar per karyawan. Laba Rp2,91 triliun setara Rp5,36 miliar per karyawan, tapi CFO hanya Rp275,77 juta per karyawan, lagi-lagi menunjukkan laba besar tidak sejalan dengan kas operasi. Metrik paling bersih untuk membaca skalabilitas biasanya revenue per karyawan, karena tidak terlalu terdistorsi revaluasi investasi.

Sekarang masuk valuasi yang bikin investor melirik. Harga Rp145 dengan saham beredar 94,5 miliar memberi market cap Rp13,70 triliun. PBV 0,54x dari BVPS Rp267, sehingga pasar menilai aset bersih dengan diskon besar. Kas per saham sekitar Rp181, artinya investor secara praktis membeli kas Rp181 dengan harga Rp145, dan masih dapat bisnisnya. Enterprise value negatif membuat EV sales -2,17x, ini sinyal pasar memberi valuasi sangat rendah pada bisnis inti, tapi sekaligus memperlihatkan skeptisisme pasar terhadap kemampuan mengubah kas menjadi laba operasional yang berulang. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

🎯 Valuasi BUKA terlihat menarik
💰 Kas Rp17,11 triliun, 65,4% dari aset Rp26,14 triliun
🧱 Market cap Rp13,70 triliun, lebih kecil dari kas
🧮 PBV 0,54x, BVPS Rp267, harga Rp145
🧾 Kas per saham sekitar Rp181, investor beli kas dengan diskon
🧲 EV negatif, pasar seolah memberi nilai bisnis inti mendekati nol Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

📊 Mesin pendapatan yang paling nyata
🎮 Gaming Rp3,85 triliun, 81,4% dari pendapatan Rp4,72 triliun
🧩 Segmen lain sekitar Rp0,87 triliun, 18,6%

⚠️ Titik rawan yang tidak boleh diabaikan
🧨 Laba Rp2,91 triliun didorong laba nilai investasi neto Rp2,32 triliun
🪙 CFO Rp149,7 miliar, CFO margin 3,17%
🧾 FCF Rp113,5 miliar, FCF margin 2,40%
🔍 CFO terhadap laba 0,05x, FCF terhadap laba 0,04x Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
✅ Murah secara aset, kuat secara neraca, utang bank nyaris tidak ada
✅ Cocok jadi opsi value kalau manajemen bisa ubah kas jadi laba operasional stabil
⚠️ Kalau laba investasi berhenti, PER murah bisa cepat berubah jadi ilusi
🔑 Katalis yang paling dicari pasar, bukti laba operasional berulang, bukan laba investasi

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/10

testestestestestestestestestes

@Pipporudy18 Bener lagi 🤣🤣🤣
Jadikan Sebagai Warning saja.
ada ancaman Nyata Jika Ini Gagal.
Mey 2026 adalah penentuan Dan Mungkin sebelum itu sudah ada Reaksi pasar harap waspada.

Bukan Hanya saham Gorengan Yg harus dibasmi IPO ugal ugalan jg harus dipantau, Selama ini OJK hanya jdi mandor . toh gk ada kerugian apapun yg mereka ganti disaat Investor terjebak Investasi di emiten Bodong.

Keluarga /anak Pejabat bersangkutan Seenaknya saja Menyebut Tiker Emiten di medsos gk ada teguran jg dri BEI dan OJK padahal ini sudah melanggar jelas Melanggar UU

Tag Random gua udah lepas barang
$BUKA
$INET
$PTRO

Read more...

Bukalapak Tbk saat ini sebenarnya sdh berinvestasi ke perusahaan lain juga.

Bukalapak saat ini ada pegang sekitar 11,49% saham AlloBank.

ada kemungkinan bakal investasi di emiten² lain juga. misalnya ke Superbank, Vidio, ataupun perusahaan² lainnya.

kayaknya segera ada pengumuman aksi korporasi.

$BUKA
$BBHI
$EMTK

kalau saja ada aksi korporasi.... misalnya perubahan sektor bisnis .. misalnya dari marketplace ( yg sdh tutup) ke bisnis pulsa/ token.. lalu ganti lagi jadi perusahaan Investasi (seperti Saratoga), pasti harga saham bukalapak bakal naik tinggi.


$BUKA
$EMTK
$SRTG

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

BUKA buyback pakai Sekuritas LG.
periode 24 okt 2025 - 30Jan 2026 harga rata² 159.

yg beli di < 150 masih aman. masih ada Margin of Safety.

PBV 245.

benar² Innova yg dijual seharga Avanza


$BUKA
$EMTK
$SUPA

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Bukalapak selama 2 bulan ini aktif BUYBACK terus...
sekarang *sudah mengumpulkan 106.279.587 Lot* atau 10,3% dari seluruh saham yg beredar.

bakal ada aksi Korporasi. makanya berani akumulasi terus.

siap² 🚀🚀🚀


$BUKA
$EMTK
$SUPA

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Data olahan insider periode 26 - 30 Januari 2026
sembarang tag : $BULL , $TOWR , $BUKA

1/5

testestestestes
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy