


Volume
Avg volume
PT Budi Starch & Sweetener Tbk, didirikan pada tahun 1979 dengan nama awal PT North Aspac Chemical Industrial Company, merupakan bagian dari kelompok usaha agribisnis besar Sungai Budi Group (SBG) yang telah berdiri sejak 1947. Perusahaan ini bergerak di bidang industri pengolahan berbasis singkong, dengan merek dan produk utama meliputi tepung tapioka, glukosa, fruktosa, maltodextrin, asam sulfat, serta karung plastik. Saat ini, Budi Starch & Sweetener tengah fokus memperluas pasar domestik dan ekspor, serta meningkatkan kapasitas dan efisiensi produksi melalui riset dan pengembangan berbasis singkong, termasuk pengembangan bib... Read More
$BUDI masuk radar akum harga sek murah minimal 20% lek jadi jalan , list pemantauan π
klo masuk sementara sl di200 tpi klo beli cicil2 ga masalah dapet diskon

Bagaimana $TBLA Bisa Survive dari Cashflow Minus?
Request member bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Kita perlu pelajari bagaimana PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) bisa survived arus kas operasional negatif (Cash Flow from Operations atau CFO) selama beberapa tahun tanpa bangkrut. Karena kalau cuma melihat CFO negatif, banyak investor langsung mengira perusahaan ini sudah di ujung jurang. Padahal yang benar-benar bikin perusahaan tumbang itu bukan rugi akuntansi, melainkan gagal bayar tepat waktu. TBLA adalah contoh klasik perusahaan yang secara operasional masih berjalan, tetapi modal kerjanya menyedot kas sehingga napas keuangan selalu pendek. Di titik ini, permainan utamanya bukan di laporan laba rugi, melainkan di akses kredit, kualitas jaminan, dan disiplin menjaga covenant bank. Yang menarik, TBLA justru memilih membayar pemasok lebih cepat, sementara penagihan ke pelanggan relatif lebih lama. Kombinasi ini biasanya mematikan jika tidak ada bank yang siap menjadi sumber oksigen. Jadi kuncinya bukan satu faktor, melainkan mesin pendanaan yang dipasang rapat di belakang layar. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Di periode sembilan bulan 2025 (9M 2025), pola bertahannya terlihat sangat jelas. Arus kas operasional (CFO) TBLA minus sekitar Rp2,0T, artinya kas dari kegiatan inti benar-benar terbakar. Namun di saat yang sama, arus kas dari pendanaan (Cash Flow from Financing atau CFF) justru plus sekitar Rp2,8T. Secara sederhana, kas yang habis di dapur operasional ditutup dengan suntikan utang baru, bahkan lebih besar dari defisitnya. Dengan cara ini, TBLA tetap bisa melanjutkan produksi, membeli bahan baku, dan membayar kewajiban yang jatuh tempo. Pola bertahan seperti ini terlihat tenang dari luar, tetapi di dalamnya TBLA hidup dalam ritme refinancing, hari ini menarik pinjaman, besok melunasi pinjaman lain, lalu mengulang siklus yang sama.
Alasan operasionalnya membakar kas sebesar itu ada di pengelolaan modal kerja yang makin tidak ramah kas. Sepanjang 9M 2025, pembayaran kepada pemasok dan lainnya mencapai sekitar Rp15,9T, sementara penerimaan dari pelanggan sekitar Rp15,6T. Secara aritmetika sederhana saja sudah terlihat defisit. Ini sejalan dengan turunnya utang usaha pihak ketiga dari sekitar Rp3,3T di akhir 2024 menjadi sekitar Rp1,7T per akhir September 2025. Penurunan sekitar Rp1,6T ini menunjukkan TBLA mempercepat pembayaran ke pemasok. Dampaknya, Days Payable Outstanding atau DPO memendek tajam. DPO kuartalan turun dari sekitar 54 hari di kuartal I (Q1) menjadi sekitar 45 hari di kuartal II (Q2), lalu hanya sekitar 33 hari di kuartal III (Q3). Dari sudut pandang manajemen kas, ini membuat perusahaan harus menutup kekurangan harian dengan utang bank.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Di sisi masuknya kas, penagihan ke pelanggan juga tidak cepat. Days Sales Outstanding atau DSO di Q1 sekitar 85 hari, memburuk ke sekitar 105 hari di Q2, lalu membaik ke sekitar 89 hari di Q3. Secara kumulatif 9M 2025, DSO berada di kisaran 89 hari. Artinya TBLA membayar pemasok rata-rata sekitar satu bulan, tetapi baru menerima kas dari pelanggan sekitar tiga bulan. Persediaan memang relatif lebih efisien dibanding tahun sebelumnya, tetapi tetap memakan waktu. Days Inventory Outstanding atau DIO di Q1 sekitar 86 hari, Q2 sekitar 91 hari, Q3 sekitar 83 hari, dan secara kumulatif 9M 2025 sekitar 97 hari. Kombinasi DIO dan DSO yang panjang, ditambah DPO yang makin pendek, membuat Cash Conversion Cycle atau CCC melebar. CCC Q1 sekitar 116 hari, melonjak ke sekitar 151 hari di Q2, turun sedikit ke sekitar 138 hari di Q3, dan rata-rata 9M 2025 sekitar 134 hari. Ini berarti modal kerja TBLA harus membiayai jeda sekitar 4,5 bulan sebelum uang kembali menjadi kas. Dalam kondisi seperti ini, perusahaan tanpa akses kredit biasanya sudah berhenti di tengah jalan.
Lalu bagaimana TBLA menutup lubang itu. Jawabannya ada pada peningkatan besar-besaran utang bank jangka pendek. Utang bank jangka pendek naik sekitar 69% dari sekitar Rp5,2T di akhir 2024 menjadi sekitar Rp8,8T per akhir September 2025. Total utang berbunga ikut naik menjadi sekitar Rp17,7T. Komposisinya juga berubah, porsi utang jangka pendek terhadap total utang berbunga naik dari sekitar 35% menjadi hampir 50%. Di saat yang sama, total liabilitas yang jatuh tempo kurang dari satu tahun mencapai sekitar Rp12,6T. Secara praktik, TBLA menukar kenyamanan pemasok dengan ketergantungan yang semakin besar pada bank.
Di sinilah peran fasilitas pembiayaan khusus menjadi krusial. TBLA menggunakan fasilitas pre-shipment financing dari Bank Danamon dengan limit sekitar Rp4,7T untuk modal kerja, serta account payable financing dari bank seperti Indonesia Eximbank dan CTBC. Mekanismenya sederhana tetapi efeknya keras. Utang dagang yang biasanya tanpa bunga dilunasi lebih cepat, lalu digantikan dengan utang bank berbunga yang jadwal pembayarannya mengikuti ketentuan bank. Ini menjelaskan mengapa utang usaha turun, sementara utang bank jangka pendek melonjak. Dari sisi pemasok, mereka dibayar cepat. Dari sisi bank, kendali ada di covenant dan agunan. Dari sisi TBLA, ini adalah cara bertahan yang mahal tetapi efektif.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Alasan bank masih bersedia memberi napas adalah kualitas jaminan dan dukungan grup. Sekitar 79% piutang usaha dijadikan agunan, sekitar 79% persediaan juga diagunkan, dan hampir 88% tanaman produktif dijaminkan. Di atas itu ada corporate guarantee dari PT Sungai Budi dan personal guarantee dari Widarto serta Santoso Winata, ditambah jaminan silang dari berbagai entitas anak. Dalam kondisi arus kas operasional negatif, bank tidak hanya melihat laba rugi, tetapi melihat siapa yang berdiri di belakang pinjaman dan aset apa yang bisa dieksekusi jika terjadi gagal bayar.
Faktor lain yang sering luput dari perhatian investor adalah kontrak operasional jangka panjang. TBLA memiliki kontrak pengadaan biodiesel Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dengan entitas Pertamina dan $AKRA, kerja sama pelabuhan dengan Pelindo II berbasis build operate transfer selama 25 tahun dengan bagi hasil sekitar 20% sampai 50%, serta perjanjian plasma dengan berbagai koperasi desa untuk periode 13 sampai 25 tahun. Kontrak-kontrak ini memang tidak langsung menghasilkan kas tunai, tetapi memberi visibilitas operasi dan kepastian aliran barang, sehingga bank melihat TBLA sebagai bisnis yang masih berfungsi.
Di sisi internal grup, perjanjian dengan pihak berelasi juga membentuk tulang punggung operasional. PT Sungai $BUDI menjadi distributor utama produk TBLA sampai 2028. Sewa lahan pabrik dan kantor di Bandar Lampung diperpanjang hingga 2036. Sewa lahan pabrik gula dan perkebunan tebu juga berjangka panjang. Rangkaian kontrak ini membuat operasi TBLA melekat erat pada ekosistem grup pengendali. Dari sudut tata kelola, ini bisa memunculkan tanda tanya. Namun dari sisi survivability, inilah salah satu alasan TBLA tetap bisa bertahan di tengah tekanan kas.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Tentu semua ini tidak gratis. Beban bunga 9M 2025 naik menjadi sekitar Rp1,0T dari sekitar Rp0,85T di periode yang sama tahun sebelumnya. Hampir seluruh pinjaman berbunga mengambang, dengan bunga Rupiah sekitar 7% sampai 9,5% dan bunga Dolar AS sekitar 5,5% sampai 6,7%. Sensitivitasnya tinggi, kenaikan bunga Rupiah 1% saja bisa memangkas laba sebelum pajak sekitar Rp170B. Rasio utang bersih terhadap ekuitas atau gearing ratio ikut naik dari sekitar 160% menjadi sekitar 186%. Walaupun masih di bawah batas covenant bank yang umumnya 200% sampai 260%, ruang napasnya jelas makin sempit.
Intinya, TBLA bertahan bukan karena kasnya kuat, melainkan karena kreditnya kuat. TBLA mengorbankan DPO, membiarkan DSO dan DIO tetap panjang, lalu menutup celah modal kerja dengan utang jangka pendek dan fasilitas pembiayaan yang terus diputar. Semua itu ditopang oleh agunan besar, kontrak operasional yang memberi keyakinan ke kreditur, serta dukungan pihak berelasi yang menyediakan guarantee dan struktur ekosistem aset. Selama bank masih percaya dan covenant tetap terjaga, TBLA bisa terus berjalan. Tetapi ketika bank mulai mengetatkan limit, suku bunga naik tajam, atau kualitas piutang kembali memburuk, mesin bertahan ini berpotensi berubah dari oksigen menjadi tekanan yang langsung menghimpit likuiditas.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/7







$BUDI deviden sudah masuk, harga diskon lagi. saatnya nambah muatan mumpung harga diskon
random tag
$AALI $SSMS
PT Budi Starch Sweetener Tbk. - BUDI
Laporan Keuangan
- Neraca Keuangan
- Laporan Laba Rugi
- Laporan Arus Kas
- Laporan Perubahan Ekuitas
Kunjungi dan follow kami untuk laporan lengkap fundamental emiten!
Sumber Data: https://cutt.ly/Vto0oKKx
$BUDI
1/4




terima kasih PT Sungai Budi, induk $BUDI dan $TBLA
udah sah ada motor NMAX yg bisa bikin makin ganteng, idaman @bamzat
