


Volume
Avg volume
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. atau BMRI merupakan bank BUMN yang melakukan usaha di bidang perbankan. Entitas anak Perseroan diantaranya: PT Bank Syariah Mandiri (perbankkan syariah), Bank Mandiri (Europe) Limited (perbankan), PT Mandiri Sekuritas (Sekuritas), PT Bank Sinar Harapan Bali (perbankan), PT Mandiri Tunas Finance (pembiayaan konsumen), Mandiri Internasional Remittance Sendirian Berhad (layanan Remittance), PT Axa Mandiri Financial Service (Asuransi jiwa) dan PT Mandiri AXA General Insurance (Asuransi kerugian). Entitas asosiasi dan pengendalian bersama Perseroan: PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (Lembaga Penyelesa... Read More
ANALISA SAHAM $PTPS
Harga Sekarang: Rp 196
Zona Area Beli Aman:
Rp 185 – 190
• Area support kuat, cocok untuk entry aman jika harga pullback ke zona ini, Boss
Zona Stoploss:
< Rp 178
• Jika turun di bawah level ini, struktur swing melemah dan rawan koreksi lebih dalam, Boss
Jika naik & breakout:
> Rp 205 → ENTRY LANJUTAN (tambah posisi)
• Breakout 205 berpotensi memicu momentum bullish lanjutan, Boss
Target Profit:
• TP1 = Rp 220
• TP2 = Rp 240 – 260
Keterangan Tambahan:
• Selama harga bertahan di atas 185, peluang swing bullish tetap terjaga, Boss
• Saham sektor konstruksi/engineering, pergerakan agresif dan sensitif terhadap volume
• Breakout valid jika disertai volume meningkat
Analisa saya boleh bantu, tapi keputusan tetap milik Boss.
Ayo REQUEST SAHAM di kolom komentar seperti
$BMRI $ESSA
,DM “mau” jika ingin dianalisa sahamnya
Support like agar terus update!!!
Follow untuk ikuti flowchart keputusan saham trend
Kalau postingan ini bermanfaat, boleh banget kasih tip lewat tombol bergambar 💲 di bawah ya. Terima kasih banyak 🙏
Ini adalah hasil analisa bandarmology $BMRI yang diambil dari https://cutt.ly/qtQSRsj3
Analisis Faktor Kunci:
Smart Money Flow (Asing): BEARISH KUAT. Aliran modal asing menunjukkan distribusi (selling) yang sangat dominan. Broker asing terbesar (ZP, BK) adalah penjual utama, dengan total penjualan bersih asing jauh melebihi pembelian. Pembeli asing (RX, YU) tidak cukup signifikan untuk menahan tekanan jual. Ini adalah sinyal peringatan utama.
Aktivitas Pemerintah & Lokal (Insider/Institusi Domestik): BULLISH. Pihak domestik, terutama broker pemerintah (NI, DX) dan lokal (BB, XL, SQ), bertindak sebagai penyerap (net buyer) yang agresif. Mereka membeli dalam volume besar di tengah gempuran jual asing, menunjukkan keyakinan pada fundamental saham atau adanya dukungan likuiditas domestik.
Momentum & Tekanan Pasar: BEARISH dalam jangka pendek. Indikator bandarmology seragam negatif: "Big Dist" pada akumulasi/distribusi (accdist) untuk rata-rata, top3, dan top5. Net flow uang (amount) negatif Rp 1.066 Triliun (-35.2%). Meski jumlah buyer (48) > seller (40), kekuatan jual (value) jauh lebih terkonsentrasi dan besar, didominasi oleh beberapa broker besar.
Interpretasi & Skenario:
Narasi yang terbentuk adalah "Perang Likuiditas" atau "Transfer Kepemilikan". Skenario yang paling mungkin adalah institusi asing sedang melakukan profit taking atau realokasi portofolio secara besar-besaran dari BMRI. Penjualan mereka terstruktur dan masif (lihat CC, ZP, BK).
Di sisi lain, institusi domestik (pemerintah dan lokal) dengan percaya diri membeli saham-saham yang dilepas asing. Ini bisa diinterpretasi sebagai:
Dukungan strategis dari pihak domestik yang melihat harga sudah menarik (value buying).
Pergantian kepemilikan dari pemain jangka pendek (asing) ke pemain jangka panjang (domestik).
Perang sinyal ini menciptakan tekanan jual di pasar (sehingga harga cenderung turun atau tertekan), namun diikuti oleh bid (permintaan beli) yang kuat di bawahnya. Jika pembeli domestik kehabisan daya serap, harga berpotensi koreksi lebih dalam. Namun, jika mereka konsisten menahan dan asing berhenti menjual, harga bisa menemukan dasar yang kuat.
Kesimpulan & Rekomendasi:
Sinyal Utama: NEUTRAL-TO-BEARISH (Konflik Sinyal Tinggi). Sinyal teknis dan aliran asing sangat bearish, namun aksi beli institusi domestik memberikan pondasi support yang kuat.
Strategi Investor Existing: HOLD dengan batas stop loss. Jika Anda investor jangka panjang dan percaya pada fundamental BMRI, aksi beli domestik bisa menjadi penahan. Namun, awasi jika tekanan jual asing berlanjut. Pertimbangkan untuk averaging down hanya jika sinyal jual asing mulai mereda.
Strategi Calon Investor: WAIT & WATCH / BUY ON WEAKNESS dengan skala bertahap. Jangan terburu-buru masuk. Tunggu konfirmasi bahwa tekanan jual asing telah berkurang atau habis. Bisa mulai akumulasi porsi kecil di area support teknis jika dibarengi dengan volume beli domestik yang masih solid.
Level Kunci:
Resistance: Area di sekitar harga rata-rata beli asing (Rp 4,800 - Rp 4,900).
Support: Area di sekitar harga rata-rata beli domestik (Rp 4,700 - Rp 4,800). Perhatikan aksi broker pemerintah (NI, DX) sebagai penahan utama.
Risiko Utama: Kelanjutan gelombang jual asing yang bisa mengikis kepercayaan dan melibas bid domestik.
Peluang: Terbentuknya base (dasar) yang kuat setelah proses distribusi asing selesai, yang bisa menjadi awal rally berikutnya yang didorong pemain domestik.
1/4




Mau muji saham bank tapi em 😭
SHARPE RATIO
Sharpe Ratio: Indikator untuk mengukur efisiensi investasi dengan membandingkan imbal hasil ekstra (excess return) terhadap volatilitas (risiko). Angka ini menunjukkan berapa persen keuntungan tambahan di atas aset tanpa risiko untuk setiap 1% gejolak harga yang ditanggung.
Risk-Free Rate: Mengacu pada aset tanpa risiko gagal bayar. Berdasarkan data per 21 Februari 2026, instrumen ritel terbaru adalah ORI029 dengan kupon pasti 5,45% per tahun (tenor 3 tahun). Sumber: https://cutt.ly/MtQSsP1R.
Sumber Data Saham: Menggunakan return bulanan riil dari Stockbit selama 50 bulan terakhir (Januari 2022 – Februari 2026). Khusus CUAN menggunakan 36 bulan (Maret 2023 – Februari 2026).
2. Rangkuman Hasil Sharpe Ratio (Disetahunkan)
Diurutkan dari tingkat efisiensi tertinggi hingga terendah dengan acuan kupon SBN 5,4%:
1. CUAN (Petrindo Jaya Kreasi)
Return Tahunan: 169,77% | Risiko Tahunan: 121,35%
Sharpe Ratio: 1,35 (Sangat Efisien)
2. BUMI (Bumi Resources)
Return Tahunan: 61,50% | Risiko Tahunan: 77,46%
Sharpe Ratio: 0,72 (Efisien)
3. BMRI (Bank Mandiri) $BMRI
Return Tahunan: 12,39% | Risiko Tahunan: 25,43%
Sharpe Ratio: 0,27 (Positif tapi Rendah)
4. BBRI (Bank Rakyat Indonesia) $BBRI
Return Tahunan: 2,31% | Risiko Tahunan: 28,23%
Sharpe Ratio: -0,11 (Tidak Efisien)
5. BBCA (Bank Central Asia) $BBCA
Return Tahunan: 1,09% | Risiko Tahunan: 16,55%
Sharpe Ratio: -0,26 (Paling Tidak Efisien Historis)
Sharpe Ratio tidak melihat saham mana yang perusahaannya lebih bagus secara fundamental. Rasio ini murni melihat harga atas risiko. CUAN memberikan untung yang menutupi risikonya yang gila-gilaan, sementara pergerakan harga BBCA belakangan ini belum cukup kuat untuk mengalahkan bunga investasi yang paling aman sekalipun. 🤯
!PAST =/ Future
Coefficient of Variation (CV) (STDV/MEAN) = kecil baik
CUAN: Memiliki CV 0,71
BUMI: Memiliki CV 1,26
BMRI: Memiliki CV 2,05
BBRI: Memiliki CV 12,24
BBCA: Memiliki CV 15,22
BTC : Sharpe Ratio: 0,53 / Coefficient of Variation (CV): 1,56 (ESTIMATE)
$IHSG ditutup turun tipis 0,03%, turun 2 hari terakhir.
Total transaksi 20,39T.
NFB All Market 240,52B, 3 hari berturut-turut.
Top Sector: Infrastructure
Laggard Sector: Non-Cyclical
Top Leaders: $BMRI, AMMN, FILM
Top Laggards: $DSSA, BYAN, BRPT

Rilis data ekonomi US
❌ Core PCE Price Index MoM Dec = 0,4% (vs previous 0,2%, vs consensus 0,3%)
❌ PCE Price Index MoM Dec = 0,4% (vs previous 0,2%, vs consensus 0,3%)
❌ Core PCE Price Index YoY Dec = 3% (vs previous 2,8%, vs consensus 2,9%)
❌ PCE Price Index YoY Dec = 2,9% (vs previous and consensus 2,8%)
➖ Core PCE Prices QoQ Q4 Adv = 2,7% (vs previous 2,9%, vs consensus 2,6%)
❌ PCE Prices QoQ Q4 Adv = 2,9% (vs previous and consensus 2,8%)
✅ Personal Income MoM Dec = 0,3% (vs previous 0,4%, vs consensus 0,3%)
➖ Personal Spending MoM Dec = 0,4% (vs previous and consensus 0,4%)
✅ GDP Growth Rate QoQ Q4 Adv = 1,4% (vs previous 4,4%, vs consensus 3%)
❌ GDP Price Index QoQ Q4 Adv = 3,7% (vs previous 3,7%, vs consensus 2,8%)
✅ GDP Sales QoQ Q4 Adv = 1,2% (vs previous 4,5%)
✅ Real Consumer Spending QoQ Q4 Adv = 2,4% (vs previous 3,5%)
Inflasi PCE US naik lagi di atas ekspektasi, namun di sisi lain pertumbuhan ekonomi US justru melemah di bawah ekspektasi.
Risiko ekonomi US mengalami stagflasi kembali menyeruak. Inflasi sulit turun tapi ekonomi melambat.
Perkembangan demikian masih memerlukan kebijakan Fed Funds Rate yang ketat.
Dan kalaupun keputusan cut rate diambil, lebih dikarenakan kondisi darurat untuk mencegah pemburukan terlalu parah.
$BBCA $BMRI $WIFI
Kalian kenapa? Kalian kan investor. Knpa pada panik.
Itulah asiknya investasi, serok di harga bawah $BMRI $PTBA
Eh lupa, kalian team fomoan🤣🤣
@malezbayar Hehe ketahuan juga ya.. 😄
Kalau cuma lihat price, pasti rasanya pengen lepas cepat.
Tapi kalau lihat bisnisnya, cadangan, exposure ke nikel & emas, plus narasi hilirisasi yang belum selesai… ya jadi mikir dua kali buat jual murah-murah. Kadang bukan betah nahan, tapi lebih ke belum selesai ceritanya.
Dan yang bikin seru, market itu sering kasih diskon justru saat sentimen lagi jelek.
Nah di fase itu, kita cuma bisa pilih ikut emosi harga… atau percaya sama value yang belum sepenuhnya dihargai pasar 😉
Random tag
$ANTM $BMRI $WIFI
@rujakcingur Betul paman, memang kalau current price kelihatan, orang bisa nebak-nebak itu emiten apa 😄
Tapi yang nggak kelihatan itu justru yang paling mahal: potensi ke depan dan target price-nya.
Nah itu yang belum tentu semua orang bisa lihat, apalagi kalau belum paham fundamental dan narasi besarnya.
Justru di situlah letak “game”-nya.
Orang lain mungkin menebak emitennya, tapi belum tentu mereka tahu:
- seberapa kuat bisnisnya bertahan di siklus,
- seberapa besar growth runway-nya,
- dan seberapa jauh rerating valuasi bisa terjadi kalau market balik normal.
Jadi ya… boleh saja ditebak emitennya 😉
Tapi arah masa depannya? Target akhirnya?
Hehe… itu yang bikin perjalanan investasi jadi jauh lebih menarik dan penuh kejutan.
Random tag
$BMRI $WIFI $ANTM
“Ashmore Saja Optimis, Kenapa Media Masih Hobi Menakut-nakuti Pasar Indonesia?”
Optimisme pelaku institusi global seperti Ashmore Group terhadap Indonesia memang sering terasa kontras dengan judul-judul media yang terdengar penuh kekhawatiran. Sebenarnya ini bukan anomali. Media hidup dari perhatian pembaca, dan secara psikologis berita bernada negatif jauh lebih cepat menarik klik dibandingkan kabar stabil atau positif. Ketika ada isu suku bunga global, pelemahan rupiah, atau arus dana asing keluar, itu lebih “seksi” untuk dijadikan headline dibandingkan pertumbuhan AUM, inflow dana, atau perbaikan margin yang sifatnya gradual.
Selain itu, sudut pandang media umumnya jangka pendek dan berbasis sentimen pasar harian, sementara manajer investasi seperti Ashmore bekerja dengan horizon lebih panjang dan berbasis data fundamental. Apa yang bagi media terlihat sebagai risiko (volatilitas, ketidakpastian global, politik, dll.), bagi institusi justru bisa dilihat sebagai fase akumulasi saat valuasi murah. Jadi bukan berarti medianya salah—mereka hanya bermain di time frame yang berbeda dengan investor institusional.
Faktor lain adalah fungsi media sebagai “early warning system”. Mereka cenderung mengangkat potensi risiko agar pelaku pasar waspada, bukan untuk menjatuhkan pasar. Ironisnya, di fase ketika fundamental mulai membaik tetapi harga masih tertekan, narasi fear memang terasa dominan. Justru di titik seperti inilah biasanya terjadi perbedaan antara investor yang mengikuti arus berita dan investor yang membaca arah data.
$BBCA $BMRI $BBRI

$BMRI update harian, sekarang lagi Diakumulasi pelan-pelan sama pemain besar (terutama asing). Yang jual kebanyakan justru lokal. Jadi ini bukan saham lagi dibuang, tapi lagi pindah tangan dari lokal ke institusi.
Walaupun di transaksi harian kelihatan banyak yang jual, tapi setiap ada yang jual langsung ada yang nampung. Makanya harga nggak jatuh. Kalau memang distribusi, harusnya sudah longsor karena tekanan jualnya gede.
Ini cirinya Asing lagi nyerap barang: dibiarin ditekan dulu, lalu diambil semua supply-nya. Jadi naiknya nanti bukan karena ritel rame, tapi karena stok sudah dikumpulin.
Dari foreign flow kelihatan jelas asing beli jauh lebih besar dibanding jual (net buy sekitar +173B). Artinya uang besar masuk, bukan keluar.
Broker pembeli utama itu BK, AK, BB, YU ini broker institusi besar dan mereka beli di harga yang hampir sama semua di sekitar 5.12x–5.14x. Kalau average mereka rapat begitu, berarti memang lagi bangun posisi, bukan trading sebentar.
Sebaliknya yang banyak jual itu broker lokal seperti OD, MG, YP, LG, ZP. Jadi yang keluar itu domestik, yang masuk itu institusi luar.
Di running trade malah kelihatan sell lebih banyak dari buy, tapi harga tetap muter di area 5.125–5.150 dan nggak jatuh. Ini tanda penting: jualnya diserap. Kalau nggak ada yang nampung, harga pasti sudah turun.
Transaksi paling banyak juga terjadi di area itu (5.12x–5.15x), artinya di situlah barang lagi dipindah tangan. Orderbook juga nunjukin bid selalu muncul lagi di bawah, sementara offer ditaruh di atas buat nahan harga supaya nggak naik dulu sebelum akumulasi selesai.
Jadi secara flow: barang keluar dari lokal > masuk ke asing > ditahan supaya nggak kelihatan naik.
1/10










@Andika1199 saya di $BMRI ini yg surplus banyak dari kenaikan harga saham + dividen lebih besar dari $BBCA dan $BBRI
$BMRI hmmm investor asing pindah ke Mandiri, sementara $BBCA mulai perlahan ditinggal. Apakah ini pertanda bahwa dana asing mulai percaya pemerintahan Indonesia under pak Prabowo, makanya pindah ke BUMN Indonesia, dengan flagship simbolnya $BMRI?
Mohon penjelasannya para Suhu-suhu investor 🙏
🔎 Narasi Investasi #32 (20 Februari 2026)
Di Saat Pasar Berdarah, Yang Diuji Bukan Portofoliomu… Tapi Keyakinanmu.
Tanggal 28 dan 29 Januari 2026 menjadi hari yang tidak mudah dilupakan oleh banyak pelaku pasar. Layar perdagangan memerah, indeks jatuh begitu cepat hingga trading halt pun terjadi. Detik-detik itu terasa sunyi sekaligus mencekam seakan pasar sedang menarik napas panjang sebelum kembali menekan lebih dalam. Grup-grup saham dipenuhi pesan panik, timeline penuh prediksi kiamat finansial, dan portofolio yang sebelumnya hijau perlahan berubah seperti ladang yang terbakar. Rasanya bukan sekadar rugi di atas kertas, tapi ada campuran takut, ragu, dan penyesalan yang sulit dijelaskan.
Di tengah suasana itu, banyak investor mengalami gundah gulana yang nyata. Antara ingin menjual demi menyelamatkan sisa modal, atau bertahan dengan keyakinan yang mulai goyah. Setiap notifikasi harga turun seperti dentuman kecil yang menguji mental.
Pikiran dipenuhi pertanyaan:
Apakah ini awal dari kejatuhan lebih dalam?
Apakah saya salah memilih saham?
Bahkan mereka yang selama ini merasa rasional pun tak luput dari rasa cemas saat melihat portofolio seperti “kebakaran” tanpa henti.
Namun waktu berjalan, dan badai perlahan mereda. Bagi mereka yang benar-benar memahami fundamental perusahaan yang dimiliki yang tahu bagaimana bisnisnya bertahan, bagaimana arus kasnya tetap kuat, dan bagaimana narasi jangka panjangnya belum berubah, momen mengerikan itu justru menjadi ujian yang bisa dilewati. Bukan karena mereka tidak takut, tapi karena pemahaman memberi ruang untuk tetap tenang di tengah kepanikan massal. Keyakinan itu bukan tanpa rasa sakit, tapi cukup kuat untuk tidak menyerah pada emosi sesaat.
Kini, setelah hari-hari tergelap itu berlalu, portofolio yang sempat terasa hangus perlahan mulai pulih. Tidak instan, tidak dramatis, tapi cukup untuk mengingatkan satu hal penting: pasar selalu berfluktuasi, namun nilai bisnis yang baik tidak mudah hilang hanya karena sentimen sesaat. Dari pengalaman itulah banyak investor menyadari bahwa memahami saham bukan sekadar strategi, melainkan benteng psikologis. Karena saat market berdarah-darah, yang menyelamatkan bukan keberanian sesaat, melainkan keyakinan yang dibangun jauh sebelum badai datang.
Portofolio yang sempat ‘terbakar’ itu kini mulai pulih.
Mau tahu isinya dan alasan tetap bertahan?
Share selengkapnya di link bio.
***
💡 Disclaimer: Bukan ajakan beli/jual, lakukan riset sendiri.
🔎 Bantu Like, agar kami tetap semangat!
📲 Follow dan cek bio kami, biar gak ketinggalan insight terbaru!
💬 Investasi bukan cuma soal uang, tapi juga soal ilmu!
Random tag
$BMRI $ANTM $WIFI

➖ Selain update soal MSCI, OJK juga mengumumkan penindakan dan penjatuhan sanksi yang baru saja dilakukan hari ini terhadap pelaku manipulasi transaksi saham.
https://cutt.ly/otQE7JRq
$BMRI $IHSG $IMPC
$BMRI
Keren permainan bandar , Aku suka cara memainkan ritel naik turun 😎
Detik" terakhir ku liat keren sih langsung buat Ritel Sell Off semua
Di buat BID and Offernya bingung mau kemana ni BMRI
kita liat akhir sesi
aku bilang dia akan tutup di 5125-5150
$BBCA $BMRI $BBRI
Tolong dicatat, jika Om bandar dan asing sampai tanggal RUPS 12 Maret 2026 masih kekeuh tidak mau beli saham bbca melampaui harga 7.400, fix mereka tidak rela ada trader kelas teri untung besar 🤪
Mau investasi di pasar modal dan belum paham caranya. Klik buku ini saja!
$CDIA $BMRI $ANTM
https://cutt.ly/0tQWIza7
Jakarta, CNBC Indonesia — Perdagangan pasar saham pada akhir sesi I akhir pekan ini masih menunjukkan tekanan jual bersih investor asing. Berdasarkan data transaksi di seluruh pasar, beli bersih asing tercatat sebesar Rp3 triliun, sementara nilai jual mencapai Rp3,2 triliun, sehingga terjadi net ...

www.cnbcindonesia.com

KABARBURSA.COM – Empat saham bank berkapitalisasi besar (big banks) bergerak di zona hijau pada sesi I perdagangan Jumat, 20 Februari 2026, saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru melemah tipis.
Berdasarkan data yang dihimpun Kabarbursa.com, pergerakan ini memperlihatkan perbankan menjadi p...

www.kabarbursa.com

$ADMF LK Full Year 2025: Menjadi Broker Kredit
ADMF ini sebenarnya lebih cocok disebut sebagai broker kredit. Ambil pinjaman murah dari bank, lalu salurkan ke nasabah dengan bunga tinggi. Kedengarannya simpel, tapi di baliknya ada manajemen risiko, pricing, dan pendanaan yang kalau rapi bisa jadi tambang margin. Yang menarik, ADMF tidak cuma meminjam, tapi memaketkan kredit, asuransi, dan disiplin covenant supaya modal kerja terus berputar. Jadi pertanyaannya bukan apakah model ini bagus, tapi apakah ADMF menjalankannya dengan kecerdasan yang konsisten saat siklus ekonomi berubah. External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Di industri multifinance, inti bisnisnya adalah transformasi dana, cari pendanaan dengan biaya rendah, lalu dialirkan ke pembiayaan ritel yang yield-nya lebih tinggi. Secara esensi, ADMF menjual kemampuan seleksi nasabah, kemampuan menagih, dan kemampuan mengelola risiko, bukan sekadar menjual uang. Maknanya, utang ke kreditor bukan tanda lemah, melainkan bahan bakar utama untuk memperbesar aset produktif berupa piutang pembiayaan. Selama kualitas portofolio terjaga, utang adalah alat scaling, bukan beban. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Struktur pendanaan ADMF terlihat seperti kombinasi bank loans dan pasar modal. Saldo pinjaman bank sekitar 10,38 T tersebar ke banyak bank, ditambah utang obligasi neto sekitar 8,60 T dan sukuk mudharabah neto sekitar 1,64 T, total sekitar 20,62 T. Ini menunjukkan dua hal, pertama, ADMF tidak bergantung pada satu pipa, kedua, ADMF cukup kredibel untuk mengakses publik melalui obligasi dan sukuk. Secara trend logis, diversifikasi sumber dana seperti ini biasanya dipakai untuk menjaga biaya dana stabil dan menjaga likuiditas saat satu kanal sedang mengetat.
Kunci jenius atau tidaknya strategi ini ada pada manajemen cost of fund biaya dana. Kalau ditanya semua pinjaman ADMF maka rata-rata tertimbang suku bunga efektif pinjaman bank sekitar 6,63%, sementara bunga obligasi sekitar 6,37%. Yang bikin unggul ADMF adalah adanya fasilitas kredit sangat murah dari MUFG dalam JPY dengan bunga sekitar 0,57% sampai 0,72%, namun di spektrum lain ada fasilitas yang mahal sampai sekitar 8,93% sampai 9,61% dari sisa-sisa Mandala. ADMF sedang melakukan optimasi portofolio utang, campur dana super murah dan dana normal, lalu menekan rata-rata biaya, sambil tetap menjaga fleksibilitas tenor 2026 sampai 2031 dan obligasi sukuk sampai 2030. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Di sisi bunga kredit pendapatan dari nasabah, selisihnya tebal, dan ini sumber laba ADMF. Bunga kredit ADMF untuk pembiayaan mobil sekitar 17,78%, motor sekitar 33,23%, durable goods sekitar 58,37%, dan multiguna berbasis akad syariah MMQ sekitar 41,12%. Jika pembandingnya cost of fund 6,63%, maka spread kotor cuan ADMF kira-kira sekitar 11,15% untuk mobil, 26,60% untuk motor, 51,74% untuk durable, dan 34,49% untuk kredit multiguna. Jadi ADMF punya ruang besar untuk membayar biaya operasional, biaya risiko kredit, dan tetap menyisakan margin, selama underwriting dan collection tidak kendur. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Namun model cuan spread lebar ini banyak syaratnya, ADMF dikunci oleh covenant dari kreditor. Ada batas gearing ratio rasio leverage maksimal 10x, ada batas NPF (Non-Performing Financing) maksimal 5% atau di beberapa perjanjian 3,5%, ada pembatasan aksi korporasi dan pembatasan pelepasan aset non-piutang di atas ambang tertentu. Interpretasinya, kreditor memaksa ADMF tetap waras, tumbuh boleh, tapi tidak boleh ugal-ugalan. Ini justru sehat, karena di bisnis pembiayaan, kesalahan satu siklus bisa menghapus keuntungan beberapa tahun.
Menurut saya strategi ini jenius, tapi jenius yang sifatnya bersyarat. Jenius karena ADMF memanfaatkan arbitrase struktural, biaya dana 6,63% diputar ke yield yang bisa puluhan persen, lalu scale diperbesar dengan akses bank, obligasi, dan sukuk, sambil dijaga pagar covenant. Tapi strategi ini bisa berubah jadi tidak jenius kalau ADMF terlena, mengejar volume tanpa disiplin risiko, karena begitu NPF naik mendekati covenant, biaya dana bisa melonjak, akses pendanaan bisa menyempit, dan spread tebal langsung habis untuk CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai). Potensi terbesarnya ada pada pasca-merger, jika biaya integrasi turun dan produktivitas naik, maka mesin spread yang sudah besar bisa jadi lebih efisien dan lebih tahan siklus.
🎯 Inti strategi pendanaan ADMF
🧲 Ambil dana dari kreditor, bank, obligasi, sukuk.
🚗 Salurkan ke pembiayaan ritel dengan yield tinggi.
🛵 Motor 33,23%.
🚙 Mobil 17,78%.
🧺 Durable 58,37%.
🧩 Multiguna syariah MMQ 41,12%.
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
📦 Skala Diversifikasi sumber utang 2025
🏦 Pinjaman bank sekitar 10,38 T.
🌍 MUFG sekitar 4,81 T sebagai kontributor terbesar.
🏛️ Bank besar domestik ikut mengisi porsi penting.
🧾 Obligasi neto sekitar 8,60 T.
🕌 Sukuk mudharabah neto sekitar 1,64 T.
🧭 Tenor 2026 sampai 2031, obligasi sukuk sampai 2030.
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
💸 Cost of fund yang bikin edge
✅ Rata-rata bunga efektif pinjaman bank sekitar 6,63%.
✅ Rata-rata obligasi sekitar 6,37%.
⚡ Termurah MUFG JPY sekitar 0,57% sampai 0,72%.
⚠️ Termahal legacy Mandala sekitar 8,93% sampai 9,61%.
🧠 Kenapa ini bisa disebut jenius
🧮 Spread kotor besar, ruang untuk biaya dan risiko.
🧷 Diversifikasi kreditor, risiko pipa putus lebih kecil.
🛡️ Covenant memaksa disiplin, growth tidak liar.
🏁 Akses grup MUFG memberi opsi dana super murah.
⚠️ Titik rawan yang wajib investor sadari
📈 Risiko suku bunga, cost of fund bisa naik cepat.
🧨 Risiko kredit, NPF naik bisa memicu breach covenant.
🧱 Risiko likuiditas, mismatch tenor kalau tidak dijaga.
🧷 Risiko konsentrasi, porsi MUFG besar tetap sensitif kebijakan grup.
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🚀 Potensi yang realistis
📉 Jika biaya integrasi turun, efisiensi naik, margin bersih bisa pulih.
🧠 Jika underwriting dan collection tetap disiplin, spread tebal jadi keunggulan jangka panjang.
🏦 Jika diversifikasi funding makin luas, ketahanan saat siklus ketat makin kuat.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$BDMN $BMRI
1/8








Saham $BMRI lagi dalam fase pulih setelah sempat jatuh cukup dalam ke sekitar Rp4.000-an di awal Februari 2026. Dari titik terendah itu, harganya sudah naik lumayan (sekitar 25%), dan sekarang lagi main di kisaran Rp5.000–5.200.
• Kabar baiknya: Chart teknikalnya bagus banget buat jangka pendek. Banyak sinyal beli (MACD naik, harga di atas garis rata-rata, RSI belum kelewat tinggi). Artinya, momentum lagi positif, dan banyak analis bilang ini masih murah dengan target harga bisa ke Rp5.700–6.400 ke depannya. Cocok buat strategi DCA (beli sedikit-sedikit rutin), karena kalau turun lagi ke Rp4.900–5.000, kamu bisa tambah beli dengan harga lebih murah, rata-rata belimu jadi lebih enak.
• Kabar buruknya: Baru-baru ini (kemarin 19 Feb) sempat turun cukup dalam ke Rp5.075 (-3,79%), jadi lagi agak goyang. Ada indikator yang bilang "sudah agak mahal sementara" (Stochastic overbought), jadi mungkin ada koreksi kecil lagi (turun 5–8%) sebelum naik lanjut.
Intinya: Saham ini lagi bagus buat dibeli bertahap (DCA) kalau kamu sabar dan percaya bank besar seperti Mandiri bakal tetap kuat jangka panjang. Jangan buru-buru all-in sekarang, tunggu kalau ada turun lagi biar lebih aman. Pantau aja support di Rp5.000 (kalau jebol ke bawah, hati-hati), dan resistance Rp5.200 (kalau tembus, bisa gaspol naik).
Secara keseluruhan, posisinya positif buat investor yang suka averaging down. Bukan saham yang bakal meledak besok, tapi stabil dan punya potensi cuan kalau pasar bank lagi oke. Semangat investasinya!
🚨 Disclaimer: Konten ini bersifat edukasi & bukan merupakan rekomendasi beli & jual. Investasi mengandung risiko yang wajib disadari, antisipasi, dan menjadi tanggung jawab sendiri 📊

KABARBURSA.COM – Investor asing melakukan rotasi agresif pada sesi I perdagangan Jumat, 20 Februari 2026, dengan melepas saham energi dan teknologi serta mengalihkan dana ke sektor perbankan.
Berdasarkan data yang dihimpun Kabarbursa.com, pergerakan ini terjadi saat Indeks Harga Saham Gabungan (IH...

www.kabarbursa.com

Sejumlah saham perbankan jumbo terpantau mulai diborong investor asing pada perdagangan Jumat (20/2). Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi yang paling banyak dikoleksi.
Data perdagangan menunjukkan investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) BBRI sebanyak 70,03 juta saham deng...

katadata.co.id