


Volume
Avg volume
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. atau BMRI merupakan bank BUMN yang melakukan usaha di bidang perbankan. Entitas anak Perseroan diantaranya: PT Bank Syariah Mandiri (perbankkan syariah), Bank Mandiri (Europe) Limited (perbankan), PT Mandiri Sekuritas (Sekuritas), PT Bank Sinar Harapan Bali (perbankan), PT Mandiri Tunas Finance (pembiayaan konsumen), Mandiri Internasional Remittance Sendirian Berhad (layanan Remittance), PT Axa Mandiri Financial Service (Asuransi jiwa) dan PT Mandiri AXA General Insurance (Asuransi kerugian). Entitas asosiasi dan pengendalian bersama Perseroan: PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (Lembaga Penyelesa... Read More
Market hari ini brutal, tapi mencerahkan. IHSG merah dalam gara-gara 'Black Swan' di sektor Astra ($UNTR & $ASII). Tapi coba cek data flow sore ini:
Disaat ritel panik buang barang, Asing justru NET BUY di $BMRI dan BBNI. Ini definisi 'Collateral Damage'. Bank fundamental bagus dihukum karena dosa emiten lain.
Thanks for the discount, Mr. Market. Serok bawah jalan terus.
#IHSG #DividendHunter #ValueInvesting
Klaim Purbaya Bisa Jinakkan Rupiah dalam Semalam
💱 Rupiah melemah ke Rp16.956, mendekati level psikologis Rp17.000
🧠 Ketua LPS Purbaya klaim punya strategi perkuat Rupiah 1–2 malam
🏦 Namun stabilisasi kurs tetap mandat Bank Indonesia, bukan LPS
⚖️ Purbaya akui batasan etika dan kewenangan institusional
📉 Tekanan Rupiah terjadi konsisten meski tipis sepanjang Januari
🛡️ LPS pastikan sistem perbankan tetap solid dan aman
https://cutt.ly/ptzzFSZQ
Baca selengkapnya
$BMRI $BBRI $BBCA
1/4




$ANTM #DYOR #IDXInsightPro
Insightology
Trend masih naik
Struktur sehat
Penutupan kuat
Candle bullish
Volume tinggi (1.34x avg)
Price in low-volume area - potential fast move zone
Volume trend decreasing - waning interest
Momentum 5-hari kuat
Momentum 10-hari kuat
Tidak ada resistance terdekat - bullish
RSI 72.0 - Overbought (rawan koreksi)
MACD di atas signal - momentum bullish
Histogram contracting (momentum melemah)
Tidak ada pattern signifikan
Volatility tinggi & expanding (5.67%) - potensi breakout!
IHSG turun -0.45% - tekanan ringan
Sektor Barang Baku lemah 0.00%
Correlation moderate (0.35)
ALIGNMENT SEMPURNA: Weekly & Daily bullish - conviction tinggi!
Gap terakhir: GAP DOWN 6.32% pada 20 Jan 2026
Gap down besar (6.32%) tanpa volume - tekanan lemah, rebound likely
Semua gap dalam periode lookback sudah di-fill - normal
$BBCA $BMRI

$BBCA net sell
KZ YU ZP BK
asing semua memang bijiii...🤣
dr 280 jt rakyat konoha
260 jt rakyat konoha pd gak punya saham
hanya 20 jt rakyat konoha yg punya SID saham...
jadi wajar
$BBRI Bank Rakyat-nya utk Asing bukan utk Rakyat yg memiliki kepemilikannya.
$BMRI pun demikian,
IHSG dikendalikan investor asing aja.
maka itu muncul para konglo BRPT, PANI, JARR, BUVA yg bisa angkat IHSG ketimbang Bluechip-nya yg gak diminati oleh rakyat sendiri.
1/2


$BBCA 7700 ? mau tutup gap 7500 ?
https://stockbit.com/post/26552972
vs $BMRI 5000
https://stockbit.com/post/25204267

➖ Trump bicara panjang lebar di World Economic Forum Davos, Swiss termasuk alasan US menginginkan Greenland, yang dianggapnya tidak sebanding dengan apa yang sudah diberikan US kepada NATO dan negara Eropa.
https://cutt.ly/AtzlWlOL
Dalam sesi wawancara, Trump menyatakan tidak menginginkan situasi konflik di dunia berkembang jadi Perang Dunia III.
Trump masih akan terus bernegosiasi soal Greenland dengan Denmark, NATO, serta negara Eropa lainnya, dan tidak melanjutkan pendekatan militer.
Walaupun di sisi lain negara Eropa sudah menunjukkan reaksi balasan.
$BMRI $ARCI $ASII
$SQMI vs $ZINC: Hidup dari Belas Kasih Pihak Lain
Request salah satu user Stockbit bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Agak aneh sebenarnya melihat SQMI dan ZINC ini sampai sekarang masih survive di bursa. Bukan karena bisnisnya sedang bagus, tapi karena sistem penyangganya masih mau menahan runtuh. Di tambang, cadangan besar sering jadi bahan promosi, padahal yang menentukan besok masih hidup atau tidak adalah kas, jatuh tempo utang, dan kemampuan kembali jualan. Begitu penjualan berhenti, angka aset triliunan bisa berubah jadi beban diam yang tidak bisa dipakai bayar bunga. Dan ketika kreditur mulai menghitung ulang kesabaran, emiten bisa tetap tercatat di bursa, tapi secara ekonomi sudah berjalan di tepi jurang. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Pembeda paling jelas ada di pemicu krisisnya. ZINC seperti mesin besar yang mendadak dimatikan karena jalur ekspor macet, sehingga penjualan sejak awal 2025 menjadi Rp0. SQMI sebaliknya, bukan macet izin, tapi macet lapangan, proyek emas Ciemas terdampak hujan ekstrem La Nina yang memicu banjir, longsor, dan gangguan listrik, sehingga operasi berhenti dan pemasukan yang tersisa Rp1,41 miliar pun berasal dari stok lama, bukan produksi baru. Jadi yang satu terkunci di pintu keluar barang, yang satu terkunci di pintu masuk produksi.
Aset ZINC per September 2025 sekitar Rp2,34 triliun, kira-kira 4,58 kali aset SQMI yang sekitar Rp511,1 miliar. Namun ukuran ini tidak otomatis bikin aman, karena kualitas likuiditasnya yang menentukan. ZINC punya aset lancar sekitar Rp179 miliar berhadapan dengan liabilitas jangka pendek sekitar Rp1,84 triliun, rasio kasarnya hanya 9,73% dan selisihnya sekitar Rp1,66 triliun. SQMI bahkan lebih mengkhawatirkan dari sisi bantalan modal, karena ekuitas sudah minus Rp28,4 miliar, sementara ZINC masih ekuitas positif Rp451,9 miliar, yang setara sekitar 19,31% dari aset. Di sini terlihat dua bentuk ketahanan, ZINC masih punya bantalan ekuitas, SQMI sudah menembus garis merah neraca. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Rugi bersih ZINC 9 bulan 2025 sekitar Rp162,8 miliar, naik 178%, yang setara sekitar 6,96% dari aset. SQMI rugi bersih sekitar Rp54,9 miliar, tetapi itu setara sekitar 10,74% dari aset. Artinya secara relatif, SQMI lebih cepat menggerus basis asetnya. Ditambah modal kerja SQMI minus Rp489,6 miliar, kira-kira minus 95,79% dari aset, ini tipe kondisi yang membuat perusahaan hidup dari penundaan pembayaran, negosiasi vendor, dan suntikan dana, bukan dari bisnis normal.
Yang membuat ZINC terlihat masih berdiri adalah perbedaan antara rugi akuntansi dan rugi kas, tetapi ini juga sekaligus alarm. Rugi bersih besar tidak langsung identik dengan arus kas operasi yang sama besarnya, karena ada beban non kas seperti penyusutan sekitar Rp23,9 miliar, dan ada beban bunga yang tidak dibayar yang menumpuk sebagai akrual. Arus kas operasi ZINC tercatat minus Rp16,1 miliar, dan ada penerimaan kas dari pelanggan sekitar Rp36,1 miliar meski penjualan di laba-rugi Rp0, biasanya karena penagihan masa lalu. Ini terlihat seperti oksigen kecil yang menahan sesak, tetapi tidak cukup untuk menutup beban yang paling mematikan, yaitu bunga dan jatuh tempo utang. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Di sisi utang, ZINC berada dalam pertarungan langsung dengan perbankan dan pasar surat utang. Utang bank utama ke Bank Mandiri $BMRI sekitar Rp1,5 triliun, sementara kas sekitar Rp14,2 miliar, kas hanya sekitar 0,95% dari utang bank. Masalahnya bukan sekadar besar, tapi sudah masuk ke ranah pelanggaran perjanjian, Debt Service Coverage Ratio (DSCR) sekitar 0,02 dibanding batas minimal 1,25, lalu ada bunga tertunggak sekitar Rp159,1 miliar, dan dominasi beban keuangan yang hampir seluruhnya berasal dari bunga Mandiri sekitar Rp63,1 miliar. Di jalur obligasi, pernah ada kelalaian pembayaran pokok, peringkat sempat jatuh ke idD, dan kemudian ada permohonan penundaan pembayaran dana amortisasi dan bunga. Ini menjelaskan mengapa suspensi perdagangan bisa muncul, karena pasar melihat risiko gagal bayar yang bukan lagi teori.
SQMI punya pola berbeda, lebih banyak ditahan oleh dukungan internal dan restrukturisasi operasional. SQMI punya cerukan bank di Bank Central Asia (BCA) hingga Rp25 miliar yang sempat tertutup pada periode 30 September 2025 melalui pencairan deposito berjangka yang dibatasi penggunaannya. Penopang terbesarnya justru dari entitas induk Wilton Resources Corporation Ltd (WRC) dan Wilton Resources Holdings Pte Ltd (WRH), termasuk fasilitas pinjaman modal kerja tanpa bunga hingga SGD100 juta, ditambah surat dukungan yang menyatakan tidak menagih setidaknya sampai 31 Mei 2026. Ada juga pinjaman modal kerja pihak ketiga hingga Rp36 miliar dengan bunga 10% per tahun. Jadi SQMI bertahan karena penundaan penagihan dan tambahan napas pendanaan, bukan karena bisnisnya sudah kembali menghasilkan.
ZINC dan SQMI sama-sama sedang hidup di wilayah yang ditentukan oleh toleransi pihak lain. Pada ZINC, pihak lain itu terutama bank dan pemegang obligasi, sehingga kata kuncinya restrukturisasi dan pemulihan penjualan. Pada SQMI, pihak lain itu entitas induk, pemberi pinjaman, dan vendor, sehingga kata kuncinya restart operasi dan stabilitas fasilitas. Sama-sama ada cerita mencari mitra, ZINC menyebut rencana kerja sama penjualan dengan pihak lokal karena ekspor macet, SQMI menunjuk pendamping profesional untuk mencari investor strategis. Tetapi itu masih tahap rencana, belum bukti pemulihan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi hubungan antar-keduanya, tidak ada indikasi kerja sama langsung ZINC dengan SQMI. Persamaannya lebih bersifat administratif dan ekosistem pasar modal, misalnya penggunaan Biro Administrasi Efek (BAE) yang sama, PT Sinartama Gunita. Ada juga irisan bank, Bank Mandiri muncul sebagai kreditur utama ZINC, sementara pada SQMI Mandiri muncul sebagai tempat penempatan deposito berjangka yang dibatasi penggunaannya untuk jaminan reklamasi. BCA muncul di SQMI sebagai penyedia cerukan, dan juga pernah terkait perjanjian kredit atau aksi korporasi di ZINC. Ini bukan sinergi bisnis, hanya irisan infrastruktur keuangan yang umum di emiten.
Keduanya memegang Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP), tetapi masa berlaku administratifnya berbeda. ZINC memiliki blok yang berlaku sampai 30 Juli 2032 dan 6 September 2037, sedangkan SQMI punya izin yang berakhir lebih cepat pada 4 Januari 2028 dan 7 September 2030. Di atas kertas, ZINC punya waktu administratif lebih panjang. Tetapi investor perlu ingat, luas wilayah izin dan umur tambang itu bukan hal yang sama. Luas izin bisa ribuan hektar, tetapi area yang benar-benar dihitung cadangannya bisa jauh lebih kecil, misalnya ZINC punya izin 5.569 ha, tetapi estimasi cadangan disebut dihitung pada sekitar 390,88 ha. Untuk akuntansi, depresiasi dan deplesi biasanya mengikuti periode yang lebih pendek antara umur tambang ekonomi dan sisa masa izin. Jadi izin panjang tidak otomatis berarti umur ekonomi panjang, dan izin luas tidak otomatis berarti cadangan luas. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Peluang pemulihan ZINC bertumpu pada dua tuas yang sangat konkret. Pertama, pintu penjualan harus kembali terbuka, entah lewat izin ekspor kembali keluar, atau lewat penjualan domestik yang benar-benar menyerap produksi. Kedua, hilirisasi lewat smelter harus menjadi operasi komersial, bukan sekadar progres konstruksi, smelter timbal sudah 100% dan smelter seng 93%. Kalau ini berhasil, profil pendapatan bisa berubah dari konsentrat ke ingot dengan nilai tambah lebih tinggi, dan ketergantungan pada ekspor konsentrat bisa berkurang. Tetapi selama bunga menumpuk dan jatuh tempo menekan, setiap bulan tanpa penjualan membuat posisi tawar perusahaan makin turun.
Peluang pemulihan SQMI bertumpu pada disiplin eksekusi lapangan. Fokus pada pemrosesan ore terbuka oxide ores lebih realistis sebagai langkah awal dibanding langsung memaksa tambang bawah tanah, karena tujuannya menghidupkan arus kas secepat mungkin. Dukungan induk sampai 31 Mei 2026 memberi waktu, tetapi waktu itu hanya bernilai kalau fasilitas benar-benar stabil, listrik aman, dan produksi berjalan. Dengan ekuitas sudah minus dan modal kerja minus sangat dalam, SQMI tidak punya banyak ruang untuk gagal restart beberapa kali, karena setiap kegagalan biasanya dibayar dengan utang baru, bunga baru, atau penundaan pembayaran yang makin agresif.
ZINC adalah cerita utang besar bertemu penjualan nol, sementara SQMI adalah cerita operasi berhenti bertemu neraca yang sudah defisit. Keduanya masih tercatat di bursa karena masih ada pihak yang menahan, bank yang diajak bicara, induk yang menunda tagih, vendor yang diajak negosiasi, regulator yang belum membawa ke delisting. Keanehannya bukan pada fakta masih ada di papan, tetapi pada seberapa lama semua pihak itu mau terus menahan, sebelum akhirnya meminta pembayaran yang tidak mungkin dipenuhi tanpa pemulihan bisnis yang nyata.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










$SQMI vs $ZINC: Duo Tambang Struggling
Request salah satu user Stockbit bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
SQMI dan ZINC saat ini sedang bermasalah, dan pasar biasanya tidak memaafkan dua hal sekaligus, arus kas yang mati dan utang yang jatuh tempo. Banyak investor suka terpukau oleh cadangan tambang, padahal cadangan hanya berarti kalau perusahaan punya oksigen finansial untuk menggali, mengolah, dan menjual. Di kondisi seperti ini, yang terlihat bukan lagi cerita komoditas, melainkan matematika kas, bunga, dan tenggat. ZINC menunjukkan bagaimana izin ekspor bisa mematikan mesin pendapatan dalam hitungan bulan. SQMI menunjukkan bagaimana gangguan alam dan operasional bisa membuat perusahaan kecil masuk spiral modal kerja negatif yang susah dibalik. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi apa yang digarap, ZINC berdiri di logam dasar, konsentrat seng dan timbal, ditambah bijih besi, dengan area operasi sekitar 5.569 hektar di Kalimantan Tengah. SQMI berada di emas lewat Proyek Ciemas di Sukabumi. Perbedaan komoditas ini penting, karena logam dasar biasanya butuh jalur penjualan yang sangat bergantung pada perizinan ekspor dan rantai pasok smelter, sedangkan emas bisa terlihat lebih fleksibel, tetapi sangat sensitif pada kelancaran operasi tambang dan fasilitas pengolahan. Ukuran neraca mempertegas jarak, aset ZINC per September 2025 sekitar Rp2,34 triliun, sedangkan SQMI sekitar Rp511,1 miliar. Namun ukuran besar tidak otomatis aman, justru ketika pendapatan berhenti, ukuran besar berubah menjadi beban biaya tetap dan beban bunga yang terus berjalan.
Kalau investor hanya melihat baris penjualan, kontrasnya terasa menohok. ZINC mencatat penjualan Rp0 karena ekspor tidak berjalan sama sekali. SQMI masih mencatat Rp1,41 miliar, tetapi itu berasal dari penjualan sisa stok lama, bukan dari produksi baru. Ini membuat angka penjualan SQMI terlihat hidup, padahal denyut operasionalnya belum pulih. Pada titik ini, penjualan bukan indikator kekuatan, melainkan indikator seberapa lama perusahaan bisa menunda kondisi nol pendapatan.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Di laba-rugi, keduanya sama-sama menanggung rugi yang besar relatif terhadap kemampuan bertahan. ZINC rugi bersih sekitar Rp162,8 miliar untuk 9 bulan 2025, naik 178% dibanding periode sebelumnya. SQMI rugi bersih sekitar Rp54,9 miliar. Secara nominal ZINC lebih dalam, tetapi ZINC juga membawa struktur utang dan kewajiban jangka pendek yang sangat berat. SQMI lebih kecil, namun rugi tersebut datang di saat operasional berhenti dan modal kerja sudah negatif, sehingga setiap bulan tanpa produksi cenderung mempercepat penurunan.
Bagian yang paling menentukan ada di ekuitas. ZINC masih punya ekuitas positif sekitar Rp451,9 miliar, artinya masih ada bantalan, walau bantalan itu cepat menipis karena rugi dan bunga. SQMI sudah ekuitas negatif sekitar Rp28,4 miliar, yang artinya kewajiban lebih besar daripada aset. Dalam praktik bursa, ekuitas negatif itu bukan sekadar angka, itu sinyal bahwa ruang manuver pembiayaan makin sempit, opsi pendanaan makin mahal, dan risiko aksi korporasi yang menyakitkan investor biasanya meningkat.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Tekanan likuiditas ZINC terlihat jelas dari mismatch jangka pendek. Liabilitas jangka pendek sekitar Rp1,84 triliun berhadapan dengan aset lancar sekitar Rp179 miliar. Selisihnya sekitar Rp1,66 triliun, ini jurang yang tidak bisa ditutup dengan efisiensi kecil-kecilan. Kas ZINC sekitar Rp14,2 miliar, sementara utang bank sekitar Rp1,5 triliun, jadi kas hanya setitik dibanding kewajiban berbunga. Ditambah lagi ada bunga yang tidak terbayar yang menumpuk di akrual sekitar Rp159,1 miliar, lalu beban bunga periode berjalan sekitar Rp63,1 miliar yang tetap menggerus meski penjualan nol. Di SQMI, masalahnya juga sama di inti, modal kerja negatif sekitar Rp489,6 miliar, jadi operasi yang berhenti bukan hanya menghentikan pendapatan, tetapi juga menghentikan kemampuan menormalkan kewajiban lancar.
Ada satu perbedaan karakter yang sering luput dari investor. Pada ZINC, sebagian besar aset terikat pada aset pertambangan sekitar Rp1,18 triliun atau 50,4% dari total aset, ditambah aset tetap sekitar Rp252 miliar. Ini aset yang nilainya besar tetapi tidak cepat berubah menjadi uang tunai. Bahkan persediaan sekitar Rp157,6 miliar, dengan barang dalam proses sekitar Rp61,8 miliar, juga tidak otomatis menjadi kas kalau fasilitas tidak jalan. Di SQMI, hambatan utamanya bukan hanya struktur aset, tetapi gangguan operasional akibat La Nina yang membuat infrastruktur dan pasokan listrik terganggu berat. Hasil akhirnya sama, kas tidak mengalir, tetapi sumber macetnya berbeda, ZINC macet di izin dan pemasaran, SQMI macet di kesiapan site dan fasilitas.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Di arus kas, ZINC memberi pelajaran penting soal beda rugi akuntansi dan rugi kas. Rugi bersih Rp162,8 miliar terlihat mengerikan, namun arus kas operasi hanya sekitar minus Rp16,1 miliar karena ada komponen non kas seperti penyusutan sekitar Rp23,9 miliar, dan ada beban bunga yang tidak dibayar yang menumpuk sebagai akrual. Bahkan ada penerimaan kas dari pelanggan sekitar Rp36,1 miliar meski penjualan di laba-rugi Rp0, yang biasanya berarti penagihan piutang lama atau penyelesaian transaksi masa lalu. Ini positif, tetapi nilainya tetap kecil dibanding beban bunga dan kewajiban jatuh tempo. SQMI pada posisi yang lebih rapuh karena ketika operasi berhenti total, arus kas operasional cenderung menjadi cerita bertahan hidup dari pendanaan eksternal, entah dari pemegang saham pengendali, pinjaman pihak ketiga, atau negosiasi dengan pemasok.
Sisi pembeda terbesar ZINC adalah jalan keluar yang berbentuk industrial, yaitu smelter. Smelter timbal sudah selesai 100% dan smelter seng mencapai 93%. Kalau fasilitas ini benar-benar beroperasi komersial, ZINC punya peluang menggeser profil bisnis dari eksportir konsentrat menuju penjual logam murni, yang biasanya memberi nilai tambah lebih tinggi dan bisa mengurangi ketergantungan pada izin ekspor konsentrat. Namun peluang ini hanya menjadi nyata kalau dua prasyarat terpenuhi, restrukturisasi utang berjalan dan akses penjualan kembali lancar. Tanpa itu, smelter bisa berubah menjadi aset besar yang tetap menyedot biaya. Tambahan pembeda lain adalah eksposur pihak berelasi, misalnya piutang jangka panjang ke KLM sekitar Rp346,8 miliar atau 14,77% dari aset, yang memperlihatkan konsentrasi risiko pada satu proyek dan satu entitas.
Pada SQMI, jalan keluarnya lebih berbentuk pemulihan operasi dan pendanaan. Rencana manajemen adalah memulai kembali operasi secara aman setelah pemeliharaan fasilitas dan stabilisasi pasokan listrik, dengan fokus awal pada pengolahan dari tambang terbuka oxide ores sebelum kembali ke tambang bawah tanah. SQMI juga punya penopang berupa surat dukungan entitas induk yang tidak menagih liabilitas tertentu sampai 31 Mei 2026, lalu pendanaan dari pinjaman pihak ketiga. Ini memberi waktu, tetapi tidak otomatis menyelesaikan inti masalah, karena waktu hanya bernilai kalau diikuti restart operasi yang benar-benar menghasilkan arus kas yang cukup.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau investor membandingkan risiko yang paling dekat, ZINC tampak seperti kasus waktu jatuh tempo utang bank $BMRI bertemu pendapatan nol. Utang bank Rp1,5 triliun yang jatuh tempo di 2025 adalah sumber tekanan utama, karena beban bunga tetap berjalan dan covenant sudah dilanggar, sehingga posisi tawar perusahaan terhadap kreditur menjadi sangat penting. SQMI tampak seperti kasus ekuitas negatif bertemu modal kerja negatif, sehingga setiap perbaikan membutuhkan dana segar dan disiplin eksekusi di lapangan. Keduanya sempat mengalami suspensi, yang dari perspektif pasar berarti likuiditas saham ikut terganggu, dan investor dipaksa menanggung ketidakpastian tanpa fleksibilitas keluar masuk.
Dari sisi potensi, keduanya sama-sama punya karakter biner, hasil akhirnya bisa sangat berbeda tergantung satu dua pemicu utama. Pada ZINC, pemicunya adalah keluarnya perizinan yang membuat penjualan kembali berjalan, dan operasional smelter yang benar-benar masuk fase komersial, bukan hanya progres konstruksi. Kalau itu terjadi, penjualan bisa kembali hidup, persediaan dan barang dalam proses bisa mulai berubah menjadi kas, dan narasi restrukturisasi utang punya alasan ekonomi. Kalau tidak terjadi, beban bunga dan kewajiban jangka pendek akan terus menekan ekuitas yang tersisa. Pada SQMI, pemicunya adalah restart operasi yang stabil, karena tanpa produksi, angka penjualan kecil dari stok lama tidak berarti apa-apa, sementara ekuitas negatif membuat ruang pendanaan makin sempit. Jika operasi pulih, emas biasanya memberi leverage yang menarik karena unit economics bisa membaik cepat, tetapi jika pemulihan tersendat, pendanaan tambahan cenderung datang dengan syarat yang makin berat bagi investor.
Persamaan paling kuat dari keduanya adalah sama-sama berada di mode bertahan hidup, dan sama-sama membutuhkan kombinasi negosiasi pendanaan dan pemulihan operasi untuk kembali normal. Perbedaannya, ZINC masih punya bantalan ekuitas positif dan aset industrial yang bisa menjadi mesin pendapatan jika berhasil dinyalakan, sedangkan SQMI sudah berada pada kondisi ekuitas negatif sehingga setiap langkah pemulihan harus berhadapan dengan kenyataan neraca yang defisit. Penilaian paling jujur untuk investor adalah ini, ini bukan tipe saham yang dipahami lewat rasio valuasi normal, ini lebih mirip pertaruhan pada peristiwa pemulihan yang spesifik, restrukturisasi dan perizinan untuk ZINC, pemulihan operasi dan pendanaan untuk SQMI. Jika pemicu utama itu tidak terjadi, angka-angka yang ada sekarang sudah cukup untuk menjelaskan mengapa risiko pailit atau aksi korporasi dilutif tetap membayangi.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










"Dana 200T di himbara gak terserap optimal? oh bukan salah saya, salah bank itu main aman.
Rupiah 17rb ? oh itu salah Bank Indonesia, kalau saya yang ngurus mah 2 hari selesai.
Daya beli lemah dan defisit anggaran ? Oh itu bukan salah saya, salah orang sebelumnya.
IHSG All Time High? Ohhh itu semua berkat sayaa dongg"
🤣
$IHSG $BBRI $BMRI
Detik-Detik Menjelang Pidato Trump: Market Pegang Mouse, Jari Siap Klik Cut Loss
Malam ini pukul 20:30 WIB, market global kembali duduk manis seperti murid teladan—bukan karena paham pelajaran, tapi karena takut salah gerak. Sebab yang akan bicara bukan analis, bukan bank sentral, melainkan Donald Trump. Satu orang yang kalau batuk saja, indeks bisa demam. Trader menahan napas, investor pura-pura tenang, sementara algoritma sudah pemanasan seperti mau lomba lari.
Pidato ini bukan soal isi, tapi soal nada. Kalau Trump mulai dengan kata “great”, “strong”, atau “tremendous”, USD bisa sok jago, yield naik, saham bingung mau ikut senang atau takut. Tapi kalau kalimatnya menyenggol The Fed, perang dagang, atau negara yang “doesn’t pay their fair share”, market langsung sadar diri: oh, ini bakal panjang malamnya. Volatilitas naik, candle jadi panjang, dan stop loss diuji iman.
Belum selesai drama pidato, market disuguhi Redbook, Penjualan Rumah Tertunda, Belanja Konstruksi—seolah data ekonomi dipaksa naik panggung setelah aktor utama bikin keributan. Kalau data jelek, market bilang: “Ini gara-gara Trump.” Kalau data bagus, market bilang: “Ini meskipun Trump.” Selalu ada kambing hitam yang siap.
Untuk nanti malam, skenario klasik:
Forex dan futures liar dulu, mikir belakangan.
Emas dan obligasi pura-pura jadi tempat aman, padahal sama-sama goyang.
Saham? Naik dikit, turun banyak—atau sebaliknya, tergantung mood pidato.
Besok hari, barulah market sok rasional. Headline disaring, kata-kata ditimbang, analis keluar dari persembunyian. Biasanya terjadi satu hal pasti: market bergerak kebalikan dari reaksi awal, bikin yang FOMO malam ini menatap layar dengan senyum pahit.
Kesimpulannya sederhana: ini bukan soal ekonomi, ini soal retorika. Bukan angka yang menggerakkan market, tapi mulut. Jadi kalau nanti market loncat-loncat tanpa arah, jangan bingung. Itu bukan bug—itu fitur bawaan setiap kali Trump pegang mikrofon.
$BBCA $BBRI $BMRI

Info Singkat saham untuk 22 Januari 2026 (bukan rekomendasi jual-beli) :
$BMRI : Rangenya yakni Rp 4.910,- (support ) s/d Rp 5.200,- (resistance) . Posisi bandar masi didalam sebesar Rp 709,3 milyar di harga rata-rata Rp 4.820,- selama seminggu terakhir. Untuk BMRI masi dalam fase penentuan, posisi bandar sudah oke tinggal teknikalnya saja yang harus konfirmasi. Premisnya adalah jika BMRI mampu kembali keatas Rp 5.200 dan bertahan maka ada potensi meneruskan "minor" uptrendnya ke level Rp 5.500-5.650. Kita tunggu saja dulu apakah akan terkonfirmasi atau tidak.
$BUMI : Rangenya yakni Rp 370,- (support ) s/d Rp 408,- (resistance) . Posisi bandar nya masi keluar sebesar Rp 1,62 Triliun selama seminggu terakhir. Untuk BUMI secara teknikal dia masi ada potensi untuk uji area support di Rp 368-370. Saya lebih memilih wait and see untuk saham satu ini.
$UNTR : Rangenya yakni Rp 26.700,- (support) s/d Rp 28.225,- (resistance) Posisi bandar masi keluar sebesar Rp 489,03 Milyar selama seminggu terakhir. Untuk UNTR buanganya cukup besar karena ada berita anak perusahaannya yakni PT Agincourt Resources dicabut izin usahanya. Jadi sementara tunggu saja dulu sampai "shock" marketnya mereda.
Ingin mendapatkaan analisa IHSG harian dan info saham GOTO dan PGAS serta ikut polling saham yang akan dibahas setiap harinya? yuk gabung dengan komunitas seirine investama, klik disini : https://bit.ly/telegramSEC.
Jika merasa informasi ini berguna juga boleh traktir secangkir kopi via stockbit tips, terimakasih.❤️❤️❤️
Harus diingat:
1. Jangan trading dengan brutal mentang-mentang melihat bandar ada didalam, gunakan money management yang baik.
2. ini hanyalah info singkat dan bukan rekomendasi jual-beli.
DISCLAIMER ON
"Semoga informasi ini berguna bagi teman-teman sekalian, support terus kami dengan "LIKE" dan "FOLLOW" akun stockbit
Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama para perbankan menyerahkan dana sebesar Rp161 miliar kepada masyarakat korban penipuan yang melapor ke Indonesia Anti Scam Centre (IASC).
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJ...

www.cnbcindonesia.com

diinjeck 200T pun percuma kalau suku bunga gk diturunin, siap² ekonomi lesu lagi & saham² pada koreksi sngat dalam. hati-hati buat yg beli pucuk. 🤭
RT $BBRI $BBNI $BMRI
@DrianDelano setidaknya tidak memperburuk dengan pemikiran kolot dan dangkal. Atau emang sengaja membuat rkonomi hancur agar menciptakan chaos agar jokowi terbebas dari jeratan hukum? Siapa yg tau? Hanya waktu yg akan membuktikan. Sampai sekarang Danantara ngga ada guna itu. Prabowo minta lembaga yg bebas birokrasi agar ekonomj kuat agar adanya penyerapan tenaga kerja. Eh rakyar kasih Danantara alhasil utk apa? Kasih proyek ke swasta kan? Ytk membantu swasta yg bangkrut kan? Ada kinerja BUMN makin bagus? Ada produk BUMN makin murah? Kan knj kayak centralisasi korupsi aja. Sedih ngga sih? Stres ngga sih liat pemerintahan gini???
Terlalu rakus. Mereka korupsi 100 triliun dari deviden BUMN lebih bagus tapi BUMN dibersihkan. Bumn makin profesional bumn mendunia bumn efisien efektif. Bukan tempat bagi2 kue terima kasih ke kroni. Jgn sampai semua BUMN hancur kayak SMGR
Ya Allah berikan lah rakyat Indonesia kelegaan dari semua kehancuran ini. Amin
RANDOM
$SMGR
$BMRI
$BUMI
$BBCA $BBRI $BMRI holder big banks udah pada nangis tuh 1thn gk naek2... pdhl IDX lagi naik2nya, giliran IDX turun ikutan turun.. lebih mending saham gorengan 🤣
$BMRI $BBRI $IHSG
Keanya aku lebih baik pamit dulu deh sama dunia saham 😭
Dunia lagi di inpit sama
- World War III ☢️
- Big Crisis Global 🔥
- Emas naik gila gilaan, History Repeat it self .. ketika Emas naik gila, itu menandakan Big Krisis Ekonomi akan terjadi or Else Perang
Perang terjadi karena Krisis Ekonomi dan harus dilakukan agar negaranya tidak bangkrut , jdi yang dilakukan Trump ni sedang membuat kerusuhan demi kepentingan AS ... More land More Profit thats it
Aku menyesal bangga banggain trump saat dia menang, ternyata dia sangat liar dan sangat rusuh
selagi di jabatin Trump, Dunia mau dia control
dia ingin menunjukkan The Greatest America Comeback 🎖
Nasib.. Menurut kalian gimana? Sharing Opini
aku jujur sih lagi takut karena berita"ku pada menuju ke sana semua World War III
Jakarta, CNBC Indonesia — Tekanan jual di pasar saham kembali membayangi perdagangan hari ini seiring koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big bank) kompak bergerak melemah, meski terdapat satu emiten yang masih mampu bertahan di zona hijau.
Saha...

www.cnbcindonesia.com

Ada yg salah dengan Purbaya?
Kayaknya Purbaya bikin happy market. Gw cuan gede sejak purbaya menjabat. bukan cuma saham.. porto gw yg bagger.
Sejak Purbaya jadi Menkeu..
seperti ada "harapan baru"
Soal rupiah serahkan ke yg punya wewenang
..."Bank Sentral"
$BBRI $BBCA $BMRI
suku bunga BI Ditahan di 4.75% di 21 Januari 2026
- suku bunga deposito juga ikut ditahan 3.75%
- suku bunga pinjaman juga ditahan 5.5%
BI menahan suku bunga karena inflasi masih berada dalam kisaran 2.5% ±1%, sehingga tidak ada tekanan kuat untuk memaksa menaikkan bunga sekaligus untuk menjaga stabilitas rupiah dan mendukung ekonomi nasional.
Sektor perbankan masih berpotensi melemah karena margin bunga berpotensi stagnan, but yang punya tenang saja karena banking big caps masih bisa untuk long term meski tidak sekenceng saham yang lagi hits belakangan ini 💪
$BMRI $BBCA $BBRI
Padahal dengan pulihnya pertumbuhan kredit ke 9,69% yoy di akhir tahun 2025 (yang baru saja diumumkan Gubernur BI), arah ekonomi domestik Indonesia sudah berbalik jadi lebih baik.
Saham big banks biasanya akan bergerak mengikuti perbaikan arah ekonomi. Indikator yang paling dekat adalah pertumbuhan kredit.
Kalau saham big banks membaik, barulah $IHSG lebih pede ATH-nya.
Karena menandakan investor bukan hanya percaya dengan prospek, tapi juga yakin dengan stabilitas ekonomi Indonesia kedepannya.
Sayangnya perbaikan domestik ini tidak didukung faktor eksternal, risiko global makin meningkat. Apalagi setelah US mulai berantem dengan sekutu Eropa-nya sendiri soal Greenland.
Oleh karena itu, yang penting ekonomi domestik tetap bisa dijaga pertumbuhan dan stabilitasnya oleh Pemerintah dan BI, karena faktor eksternal tidak bisa dikendalikan.
$BBCA $BMRI
1/8







