


Volume
Avg volume
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. atau BMRI merupakan bank BUMN yang melakukan usaha di bidang perbankan. Entitas anak Perseroan diantaranya: PT Bank Syariah Mandiri (perbankkan syariah), Bank Mandiri (Europe) Limited (perbankan), PT Mandiri Sekuritas (Sekuritas), PT Bank Sinar Harapan Bali (perbankan), PT Mandiri Tunas Finance (pembiayaan konsumen), Mandiri Internasional Remittance Sendirian Berhad (layanan Remittance), PT Axa Mandiri Financial Service (Asuransi jiwa) dan PT Mandiri AXA General Insurance (Asuransi kerugian). Entitas asosiasi dan pengendalian bersama Perseroan: PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (Lembaga Penyelesa... Read More
Mantap Analisa Kohh😍 😍
Link ---> https://cutt.ly/qrNri5Yc 💎
$BBRI $BBCA $BMRI

Bank Swasta Lebih Efisien
Bank swasta itu biasanya lebih efisien ketimbang bank milik pemerintah. Ini fakta yang terlihat jelas di laporan keuangan 2025. Tapi yang menarik, data 2025 juga nunjukkin efisiensi itu bukan cuma soal status swasta vs BUMN, melainkan soal model bisnis dan disiplin biaya. Ada bank yang bisa tambah orang dan tambah kantor tapi produktivitasnya tetap naik, ini jarang. Ada juga bank yang mengurangi orang dan menutup kantor tapi produktivitasnya malah makin tajam, ini tanda eksekusi yang rapi. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Kalau investor mau menguji efisiensi, cara paling sederhana bukan debat opini, tapi lihat 3 hal bareng-bareng. Pertama skala laba bersih, karena ini output final. Kedua produktivitas per karyawan dan per kantor, karena ini ukuran seberapa padat karya dan seberapa efektif jaringan. Ketiga arah perubahan 2024 ke 2025, karena bank yang benar-benar efisien biasanya bisa memperbaiki rasio sambil menjaga pertumbuhan laba. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi jumlah karyawan, pola besarnya jelas, hampir semua bank menurunkan headcount. PT Bank Central Asia Tbk ($BBCA) justru naik dari 27.844 menjadi 27.937 atau +0,33%. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk ($BMRI) turun dari 38.898 ke 38.751 atau -0,38%. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk ($BBNI) praktis stagnan turun 2 orang menjadi 27.201 atau -0,01%. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) turun dari 16.691 ke 16.274 atau -2,50%, dan PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) turun dari 6.506 ke 6.332 atau -2,67%. Artinya 2025 itu tahun efisiensi SDM, dengan BBCA jadi outlier yang tetap ekspansif.
Dari sisi kantor, ceritanya tidak selalu searah dengan SDM. BMRI menutup jaringan dari 2.192 ke 2.153 atau -1,78% dan BBNI turun dari 2.081 ke 2.074 atau -0,34%, ini konsisten dengan migrasi layanan ke digital. BBCA justru naik dari 1.266 ke 1.271 atau +0,40%, dan BRIS naik dari 1.039 ke 1.049 atau +0,96% meskipun SDM-nya turun. NISP paling agresif merapikan jaringan dari 206 ke 201 atau -2,43%. Interpretasinya, BRIS tampak sedang merapikan tenaga kerja tapi tetap memperluas titik layanan, kemungkinan fokusnya memperkuat coverage ritel syariah sambil memindahkan proses rutin ke kanal digital.
Sekarang ke output final laba bersih atribusi induk. BBCA mencetak 57.537.287 juta atau sekitar 57,54 T dengan growth +4,93%, sementara BMRI 56.293.950 juta atau sekitar 56,29 T dengan growth +0,92%. Gap laba dua raksasa ini tipis sekali, tapi arah pertumbuhannya berbeda, BBCA lebih bertenaga. BBNI turun ke 19.562.342 juta atau sekitar 19,56 T dengan growth -10,60%, ini jelas tekanan berat di 2025. BRIS 7.567.523 juta atau sekitar 7,57 T dengan growth +8,02%, ini growth tertinggi di kelompok ini walau basis labanya lebih kecil. NISP 5.057.473 juta atau sekitar 5,06 T dengan growth +3,92%, stabil dan rapi. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau efisiensi jaringan yang dinilai, laba per kantor adalah tes yang lumayan tegas. BBCA menghasilkan 45.269,3 juta atau sekitar 45,27 miliar per kantor dan naik +4,51%, ini level yang jauh di atas yang lain. BMRI 26.146,7 juta atau sekitar 26,15 miliar per kantor dan naik +2,74%, masih kuat. NISP 25.161,6 juta atau sekitar 25,16 miliar per kantor dan naik +6,50%, ini menarik karena naik tajam sambil mengurangi kantor, artinya trimming dilakukan dengan selektif. BBNI jatuh ke 9.432,2 juta atau sekitar 9,43 miliar per kantor dan turun -10,30%, ini sinyal tekanan profit yang nyata. BRIS 7.214,0 juta atau sekitar 7,21 miliar per kantor dan naik +6,99%, masih rendah secara level tapi perbaikannya cepat.
Tes paling tajam untuk efisiensi operasional biasanya laba per karyawan. BBCA berada di 2.059,5 juta atau sekitar 2,06 miliar per karyawan dan naik +4,58%, ini standar tertinggi. BMRI 1.452,7 juta atau sekitar 1,45 miliar per karyawan dan naik +1,30%, efisien walau tipis. NISP 798,7 juta per karyawan dan naik +6,78%, progresnya bagus untuk bank yang lebih kecil. BBNI 719,2 juta per karyawan dan turun -10,59%, penurunan produktivitasnya nyaris sejajar dengan penurunan laba, jadi ini bukan sekadar isu headcount. BRIS 465,0 juta per karyawan dan naik +10,79%, growth produktivitas tercepat, tapi levelnya masih paling rendah sehingga ruang perbaikan masih besar. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
✅ Bank swasta memang unggul efisiensi, terutama BBCA dan NISP.
🧱 Tapi BMRI menunjukkan BUMN bisa tetap efisien secara produktivitas, walau laju pertumbuhan labanya lambat.
📈 Perubahan 2024 ke 2025 yang paling terasa
👥 SDM naik hanya BBCA +0,33%.
👥 SDM turun terdalam NISP -2,67% dan BRIS -2,50%.
🏢 Kantor naik tertinggi BRIS +0,96%.
🏢 Kantor turun terdalam NISP -2,43% dan BMRI -1,78%.
💰 Laba bersih 2025
🥇 BBCA 57,54 T, growth +4,93%.
🥈 BMRI 56,29 T, growth +0,92%.
📉 BBNI 19,56 T, growth -10,60%.
🚀 BRIS 7,57 T, growth +8,02%.
🧩 NISP 5,06 T, growth +3,92%.
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🏢 Produktivitas jaringan
🏆 BBCA 45,27 miliar per kantor, growth +4,51%.
💪 BMRI 26,15 miliar per kantor, growth +2,74%.
✂️ NISP 25,16 miliar per kantor, growth +6,50% meski kantor turun.
⚠️ BBNI 9,43 miliar per kantor, growth -10,30%.
🌱 BRIS 7,21 miliar per kantor, growth +6,99%.
👤 Produktivitas SDM
🥇 BBCA 2,06 miliar per karyawan, growth +4,58%.
🥈 BMRI 1,45 miliar per karyawan, growth +1,30%.
📌 NISP 798,7 juta per karyawan, growth +6,78%.
⚠️ BBNI 719,2 juta per karyawan, growth -10,59%.
🚀 BRIS 465,0 juta per karyawan, growth +10,79%.
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/3



$PTBA $BMRI $BRPT
siap2, kemungkinan DME akan menggunakan LNG yg diubah menjadi DME sebab bila menggunakan batubara doang prosesnya lebih mahal dari pada LPG. Nantinya DME YG DIBUAT MERUPAKAN HASIL GABUNGAN LNG DAN BATUBARA SECARA BERSAMA2 MEMBENTUK SYNGAS DAN DIUBAH MENJADI DME,(proses pirolisis metana/LNG tanpa oksigen dibuat dengan mencampurnya saat batubara telah mencapai suhu tertentu sambil memastikan tambahan kadar atom Oksigen yg tidak banyak, akan membuat jenuh kadar atom C bebas, atom H bebas dan oksigen bebas, sambil hati2 dengan lonjakan tekanan ketika metana/LNG digabungkan dengan batu bara yg bersuhu tinggi, baiknya LNG dipanaskan terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan batubara),. Hasilnya akan lebih hemat sebab membentuk volume SYNGAS lebih banyak. Selama ini pembuatan SYNGAS hanya menggunakan batubara saja ataupun LNG saja, akan tetapi ketika keduanya digabungkan maka batubara sebagai sumber karbon yg tinggi tetapi rendah hidrogen dan LNG sebagai sumber Hidrogen yang tinggi tetapi rendah karbon dan keduanya mudah melepas ikatan atom C dan H sebab keduanya dapat terbakar dan merupakan bahan bakar, maka akan mempermudah pembentukan SYNGAS dan Volume SYNGAS yg jauh lebih tinggi.
(bila ilmuan kita hebat bahkan bisa membuat BBM bro dari batu bara dicampur LNG)
INDONESIA AKAN MENJADI PROYEK PERCONTOHAN DUNIA APABILA MELAKUKANNYA. 🇮🇩🇮🇩🇮🇩
https://cutt.ly/9tbJ931g

Mantap Analisa Kohh😍 😍
Link ---> https://cutt.ly/qrNri5Yc 💎
$BMRI $BBRI $ADRO

Mantap Analisa Kohh😍 😍
Link ---> https://cutt.ly/qrNri5Yc 💎
$BMRI $BBRI $ADRO

$BMRI Tidak Lagi Menjadi Induk $BRIS Sejak Januari 2026
Mungkin banyak investor BMRI dan BRIS yang tidak menyadari kalau sejak Januari 2026, BMRI tidak lagi menjadi pengendali BRIS karena Danantara yang langsung take over BRIS. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
BMRI adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, BRIS adalah PT Bank Syariah Indonesia Tbk, dan Danantara adalah PT Danantara Asset Management (Persero). Yang berubah di sini bukan sekadar angka kepemilikan saham, tapi pusat kendali keputusan strategis. Di struktur BUMN, kendali sering ditentukan oleh kewenangan atas Saham Seri A Dwiwarna, karena saham ini punya hak istimewa atas keputusan kunci perusahaan. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Jadi meskipun BMRI masih bisa memegang porsi saham besar, BMRI tetap bisa kehilangan status pengendali kalau kewenangan strategisnya dialihkan. Dampaknya paling terasa bukan di operasional harian yang tiba-tiba berubah total, tapi di cara angka BRIS masuk ke laporan keuangan BMRI mulai tahun buku 2026. Ini yang sering bikin investor salah baca, karena tampilan laporan bisa berubah drastis walau bisnis dasarnya tidak mendadak menyusut.
Begitu status pengendali hilang, laporan BMRI tidak lagi mengonsolidasikan BRIS secara baris demi baris. Artinya aset, liabilitas, pendapatan, dan biaya BRIS tidak lagi menempel langsung di laporan konsolidasian BMRI. Kepemilikan BMRI di BRIS cenderung berubah perlakuannya menjadi investasi dengan pengaruh signifikan, sehingga kontribusi BRIS muncul sebagai bagian laba investasi dalam satu baris, bukan lagi tercermin di pos-pos operasional BRIS yang digabung penuh.
Efek sampingnya bisa menipu mata. Neraca konsolidasian BMRI berpotensi terlihat mengecil, bukan karena banknya tiba-tiba ciut, tapi karena BRIS keluar dari konsolidasi. Di saat yang sama beberapa rasio efisiensi bisa terlihat membaik karena struktur biaya dan pendapatan BRIS tidak lagi tercampur di angka BMRI. Investor yang tidak sadar konteks bisa mengira ini perbaikan murni operasional, padahal ada efek penyajian. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi BRIS, pergantian pengendali biasanya membuat arah sinergi lebih lintas grup, tidak lagi terasa seperti anak usaha yang dominan mengikuti satu induk. Ini bisa membuka peluang percepatan strategi syariah, tetapi investor tetap wajib mengawasi disiplin ekspansi, kualitas pembiayaan, dan biaya dana. Perubahan pengendali itu soal governance, dan governance sering berujung ke prioritas pertumbuhan, prioritas margin, atau prioritas stabilitas.
Untuk isu mandatory tender offer, intinya ada pada substansi perubahan pengendali akhir. Kalau perubahan kendali terjadi dalam restrukturisasi internal dengan pengendali akhir tetap negara, mekanismenya berbeda dibanding takeover pasar oleh pihak baru. Karena itu bisa terjadi perpindahan kendali operasional tanpa skenario tender wajib seperti pada pengambilalihan oleh entitas non-sepengendali. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🧩 Yang benar-benar berubah
• Kendali strategis BRIS berpindah dari BMRI ke Danantara
• Dampaknya mulai terasa di laporan tahun buku 2026
📉 Yang akan terlihat di laporan BMRI 2026
• BRIS tidak lagi masuk konsolidasi baris demi baris
◦ Total aset, DPK, pembiayaan konsolidasi bisa tampak turun
◦ Rasio efisiensi bisa tampak naik karena komposisi berubah
• Laba dari BRIS cenderung tampil sebagai satu pos bagian laba investasi
🧠 Kesalahan baca yang sering kejadian
• Neraca turun dianggap bisnis turun
• Rasio membaik dianggap murni operasional membaik
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$BBNI
1/2


@SintaPutri4 ya ngga mungki juga kakak g beli bumi, ptro, brpt, cuan, buva, trin, fpni dan teman2nya kan?
Dan g mungkin juga kakak hny beli $BBRI $BBCA $BMRI yang nggak perlu 🆑 kan?
Karena kita kan trader, ya pastilah sentuh saham2 yg pertama tadi, jadi pendirian anti 🆑 itu saya rasa kurang tepat, apalagi itu bukan sesuatu yg perlu dibanggakan, krn sebagai centang hijau yg banyak di follow orang, cara itu dapat menjerumuskan banyak followers kakak, sehingga mereka lebih cepat menjadi miskin...
Kredit Restrukturisasi Perbankan: $BRIS vs $BMRI vs $BBNI vs BBCA vs NISP
Kredit restrukturisasi itu area abu-abu yang paling gampang bikin investor salah baca laporan bank. Kalau investor cuma lihat NPL rendah, bisa kecele, karena sebagian masalah bisa lagi diparkir di restrukturisasi. Kalau investor cuma lihat restrukturisasi tinggi, juga bisa kecele, karena itu bisa berarti bank lagi aktif menyelamatkan debitur sebelum benar-benar macet. Data 5 bank yang sudah rilis Full Year 2025 ini cukup untuk melihat pola siapa yang paling agresif menyelamatkan, siapa yang paling cepat menyelesaikan, dan siapa yang bantalan cadangannya paling tebal. Intinya, restrukturisasi itu bukan dosa, tapi harus dibaca bareng porsi, perubahan dari tahun lalu, kualitas di dalamnya, dan ketebalan cadangan. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Secara konsep, restrukturisasi berarti syarat kredit diubah supaya debitur bisa lanjut bayar, misalnya perpanjangan tenor, penurunan angsuran, atau penjadwalan ulang. Ini biasanya menahan lonjakan NPL jangka pendek, karena kredit yang berpotensi macet diberi napas dulu. Karena itu investor perlu lihat restrukturisasi sebagai indikator dini. Semakin besar porsi restrukturisasi, semakin besar bagian portofolio yang sedang diuji daya tahannya. Semakin cepat restrukturisasi turun, bisa berarti pemulihan berjalan, atau penyelesaian dilakukan, atau kredit bermasalah dipindah jalur lain. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi porsi terhadap total kredit 2025, urutannya jelas. BRIS paling tinggi 7,53% atau Rp23,72 T dari Rp314,81 T. BBNI 6,89% atau Rp62,00 T dari Rp899,53 T. BMRI 5,36% atau Rp99,13 T dari Rp1.849,97 T. BBCA 2,66% atau Rp25,85 T dari Rp970,23 T. NISP paling rendah 2,16% atau Rp3,75 T dari Rp173,37 T. Interpretasi cepatnya, BRIS, BBNI, BMRI punya porsi penyelamatan yang lebih besar, BBCA dan NISP relatif kecil.
Kalau dilihat perubahan 2024 ke 2025, kontrasnya makin kelihatan. BRIS melonjak +51,1% dari Rp15,70 T ke Rp23,72 T. BMRI naik +11,14%. BBNI turun -7,12%. NISP turun -9,75%. BBCA turun paling dalam -10,2%. Pola turun biasanya dibaca sebagai restrukturisasi berhasil kembali normal atau selesai, sedangkan pola naik berarti bank sedang membuka kran penyelamatan lebih lebar atau ada tekanan di segmen tertentu yang butuh keringanan.
Kualitas di dalam restrukturisasi yang paling bikin investor harus waspada ada di angka kredit restrukturisasi yang tetap jatuh jadi NPL. BBCA paling tinggi 30,08% atau Rp7,77 T NPL dari Rp25,85 T restrukturisasi. BBNI 13,40% atau Rp8,31 T dari Rp62,00 T. BMRI 9,34% atau Rp9,25 T dari Rp99,13 T. BRIS paling sehat 7,73% atau Rp1,83 T dari Rp23,72 T. Di sini BBCA terlihat berat, tapi konteksnya penting, porsi restrukturisasi BBCA kecil, jadi risikonya lebih terlokalisasi dan tidak otomatis mengganggu kesehatan bank secara sistemik. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Lapisan pengaman berikutnya adalah ketebalan cadangan, dibaca dari NPL coverage. BMRI paling tebal sekitar 235,3%. NISP sekitar 226,0%. BBNI sekitar 206,4%. BRIS sekitar 190,9%. BBCA sekitar 186,4% dan ini terendah di grup. Namun BBCA punya penyeimbang yang kuat, porsi kredit sehat yang dominan di Stage 1 sebesar 96,31% dan restrukturisasi yang kecil. Sementara NISP memberi sinyal sangat konservatif lewat CKPN khusus restrukturisasi yang sangat tebal, 78,2% dari baki debet restrukturisasi, jadi meski porsi restrukturisasi kecil, bantalan per rupiah restrukturisasi sangat besar.
Jadi fokusnya bukan mencari bank yang restrukturisasinya nol, tapi mencari bank yang restrukturisasinya terkendali dan cepat selesai tanpa bocor jadi NPL, sambil cadangannya cukup tebal. BMRI dan NISP terlihat paling defensif dari sisi bantalan cadangan. BBNI terlihat sedang fase pembersihan, restrukturisasi turun tapi tetap menjaga coverage di atas 200%. BRIS terlihat agresif memperluas restrukturisasi, angka NPL di restrukturisasi masih sehat, tapi lonjakan volumenya harus dipantau ketat karena itu yang biasanya jadi sumber kejutan beberapa kuartal ke depan. Untuk bank lain yang belum rilis, pola bacanya nanti tetap sama, porsi restrukturisasi, arah perubahannya, kualitas di dalamnya, dan cadangan, karena empat hal itu yang menentukan apakah restrukturisasi cuma jembatan pemulihan atau justru lorong menuju NPL. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
📦 Porsi restrukturisasi ke total kredit 2025
🥇 BRIS 7,53% atau Rp23,72 T
🥈 BBNI 6,89% atau Rp62,00 T
🥉 BMRI 5,36% atau Rp99,13 T
🟦 BBCA 2,66% atau Rp25,85 T
🟩 NISP 2,16% atau Rp3,75 T
📊 Perubahan 2024 ke 2025
🚀 BRIS +51,1%
📈 BMRI +11,14%
📉 BBNI -7,12%
📉 NISP -9,75%
📉 BBCA -10,2%
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🧯 NPL di dalam restrukturisasi
🔥 BBCA 30,08%
⚠️ BBNI 13,40%
🟡 BMRI 9,34%
🟢 BRIS 7,73%
🛡️ Bantalan cadangan NPL coverage
🧱 BMRI sekitar 235,3%
🧱 NISP sekitar 226,0%
🧱 BBNI sekitar 206,4%
🧱 BRIS sekitar 190,9%
🧱 BBCA sekitar 186,4%
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/3



$BRIS Mengurangi Karyawan Untuk Mengejar Laba Growth
Penurunan karyawan BRIS di 2025 itu bukan otomatis tanda lagi seret, justru sering jadi sinyal manajemen lagi beresin mesin. Yang bikin menarik, laba BRIS malah naik 8,02% saat jumlah orang turun 2,50%. Artinya ada pergeseran cara cari untung, dari nambah orang menjadi nambah produktivitas. Tapi di saat yang sama, total gaji karyawan tetap naik 4,02%, jadi ini bukan sekadar efisiensi potong biaya. Ini lebih mirip rotasi, merapikan struktur, lalu bayar lebih mahal untuk orang yang dianggap penting. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Karyawan BRIS dari 16.691 orang di 2024 turun ke 16.274 di 2025. Namun beban gaji dan remunerasi karyawan naik dari Rp5,28 T ke Rp5,50 T. Karena orangnya turun tapi total biaya naik, rata-rata gaji per orang naik sekitar 6,7% per tahun, atau rata-rata gaji per bulan Rp28,1 juta. Jadi BRIS melakukan rasionalisasi posisi, sambil menaikkan kualitas SDM, memperbaiki struktur tunjangan, atau mengganti peran manual menjadi peran yang lebih digital dan lebih mahal. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Produktivitasnya BRIS ikut membaik, walau levelnya masih jauh di bawah bank konvensional raksasa. Laba per karyawan BRIS di 2025 sekitar Rp465 juta per tahun. Bandingkan, Bank Central Asia Tbk (BCA, $BBCA) sekitar Rp2,06 M per orang, Bank Mandiri (Persero) Tbk (Mandiri, $BMRI) sekitar Rp1,45 M, Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI, BBNI) sekitar Rp719 juta, Bank OCBC NISP Tbk (OCBC NISP, NISP) sekitar Rp799 juta. BRIS bergerak ke arah yang benar, tapi gapnya masih lebar, jadi ruang naik produktivitasnya juga besar.
Kalau dilihat pola bank lain, BRIS itu bukan outlier yang istimewa dari sisi efisiensi. NISP juga memangkas karyawan 2,67% tapi total gaji naik 6,68%, jadi gaji rata-rata per orang naik cukup tajam. Mandiri karyawannya turun tipis 0,38% tapi total gaji naik 11,02%, ini berarti inflasi biaya SDM atau penyesuaian tunjangan besar-besaran. BCA stabil, karyawan naik 0,33% dan total gaji naik 1,93%, relatif paling terkendali. BNI nyaris flat dari sisi jumlah orang, tetapi total gaji naik 5,43%. Dari sini terlihat, 2025 memang tahun biaya SDM naik, bedanya tiap bank memilih cara berbeda untuk menjaga produktivitas.
BRIS punya 10 direktur dan 8 komisaris, total 18 orang, dengan remunerasi direksi dan komisaris Rp186,95 M dan naik 17,29%. Rata-rata sekitar Rp865,5 juta per orang per bulan. Ini jauh di bawah BCA dan Mandiri yang sekitar Rp5 M per orang per bulan, sementara NISP sekitar Rp925 juta. Angka BNI dan Mandiri perlu dibaca hati-hati karena definisi dan timingnya tidak selalu apple-to-apple, misalnya BNI 2025 tidak memasukkan bonus performa 2024, dan Mandiri 2025 dilaporkan mencakup manajemen kunci sampai level senior. Namun satu benang merahnya tetap, posisi direksi dan komisaris memang punya kompensasi besar, dan ada nilai non-gaji seperti jaringan, reputasi, akses informasi, serta pengaruh kebijakan, yang bikin kursi itu sangat diperebutkan. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Jadi penurunan karyawan BRIS di 2025 bisa dianggap fase konsolidasi setelah ekspansi. BRIS menjaga biaya total tetap naik moderat, tapi menaikkan biaya per orang, seolah bilang, kita pilih orang yang lebih tepat dan lebih produktif. Risiko sisi negatifnya ada, misalnya beban kerja naik, kualitas layanan turun kalau pemangkasan tidak rapi, atau biaya SDM makin berat kalau produktivitas tidak mengejar. Tetapi karena laba tetap tumbuh dan produktivitas per orang naik, indikasinya manajemen masih memegang kendali.
Buat investor, potensi BRIS ada di dua jalur. Jalur pertama, mengecilkan gap produktivitas terhadap bank besar lewat digitalisasi dan perbaikan komposisi bisnis. Jalur kedua, menjaga kualitas aset supaya pertumbuhan laba tidak dimakan pencadangan. Kalau 2026 nanti laba per karyawan naik lebih cepat daripada kenaikan gaji per karyawan, itu sinyal mesin makin sehat. Kalau sebaliknya, gaji per orang naik terus tapi laba per orang stagnan, itu sinyal efisiensi belum sampai ke akar.
🧑💻 Arah SDM BRIS di 2025
📉 Karyawan 16.274 turun 2,50%
💸 Total gaji Rp5,50 T naik 4,02%
📈 Gaji rata-rata per orang naik sekitar 6,7%
🧠 Makna paling kuat, rasionalisasi posisi sambil upgrade kualitas SDM
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🏭 Produktivitas per orang 2025
🟩 BRIS Rp465 juta per karyawan per tahun
🥇 BBCA Rp2,06 M
🥈 BMRI Rp1,45 M
🥉 NISP Rp799 juta
📌 BBNI Rp719 juta
🔍 Makna, ruang naik produktivitas BRIS masih besar
💼 Biaya gaji per karyawan per bulan
🧩 BRIS Rp28,1 juta
🏦 BBNI Rp44,5 juta
🏢 NISP Rp46,0 juta
🏛️ BBCA Rp53,0 juta
🏗️ BMRI Rp57,3 juta
✅ Struktur biaya BRIS paling ringan, tapi output per orang harus dikejar
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
👔 Lapisan pengurus dan kompensasinya
👥 BRIS 18 orang, remunerasi Rp186,95 M, naik 17,29%
💰 Rata-rata BRIS Rp865,5 juta per orang per bulan
⚖️ Banding cepat, NISP Rp925 juta, BBCA Rp5,84 M, BMRI Rp5,43 M
⚠️ BBNI dan BMRI tidak selalu apple-to-apple karena definisi dan timing
🔺 Laba per karyawan harus naik lebih cepat dari gaji per karyawan
🧩 Efisiensi proses harus terlihat, bukan hanya pengurangan orang
🛡️ Kualitas aset harus stabil supaya laba tidak habis untuk pencadangan
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/7







$BMRI tetap untung dan hasilnya lebih bagus dari perkiraan.Walaupun keuntungan tahun ini naiknya cuma dikit, tapi Bank Mandiri masih kuat cari laba Kondisi keuangan aman & stabil Analis sebelumnya ngira hasilnya bakal lebih lemah, ternyata lebih bagus
Ibaratnya:
Target lari 10 km, dikira cuma sanggup 8 km,
ternyata masih bisa nyampe 10,5 km. Bukan rekor, tapi melebihi ekspektasi 👍
$BBRI $BBCA

Laporan dari PT Indo Premier Sekuritas tertanggal 6 Februari 2026 memberikan pembaruan mengenai Bank Mandiri ($BMRI) dengan mempertahankan rekomendasi BELI (BUY) dan target harga sebesar Rp6.400.
Berikut adalah poin-poin utama dari rangkuman laporan tersebut:
1. Kinerja Keuangan FY25 yang Kuat
• Laba Bersih: Bank Mandiri mencatat laba bersih sebesar Rp56,3 triliun pada tahun fiskal 2025 (FY25), tumbuh 1% secara tahunan (yoy). Hasil ini melampaui ekspektasi konsensus pasar (110% dari estimasi konsensus), meskipun sesuai dengan perkiraan internal Indo Premier.
• PPOP: Laba Sebelum Pencadangan (PPOP) tercatat stabil (flat) secara tahunan, namun tumbuh 22% secara kuartalan (qoq) pada kuartal keempat 2025 (4Q25) berkat pendapatan non-bunga yang solid.
2. Pertumbuhan Kredit dan Dana Pihak Ketiga
• Pertumbuhan Kredit: Kredit tumbuh sebesar 13% yoy, melampaui target awal bank di kisaran 8-10%. Pertumbuhan ini didorong kuat oleh segmen korporasi (+23% yoy) dan komersial (+12% yoy).
• Dana Pihak Ketiga (Deposit): Total simpanan melonjak signifikan sebesar 24% yoy, didorong oleh pertumbuhan deposito berjangka (TD) yang melonjak 58% yoy dan dana murah (CASA) yang naik 13% yoy.
3. Margin dan Kualitas Aset
• Net Interest Margin (NIM): NIM terkonsolidasi turun 26 bps menjadi 4,9% pada FY25 karena penurunan imbal hasil kredit (loan yield). Untuk FY26, bank menargetkan NIM yang lebih rendah di kisaran 4,6-4,8%.
• Kualitas Aset: Rasio Kredit Bermasalah (NPL) membaik menjadi 1,1% di 4Q25. Biaya Kredit (CoC) tercatat sangat rendah di angka 58bp, jauh di bawah target panduan FY25 yang sebesar 80-100bp.
4. Pandangan dan Valuasi Tahun 2026
• Target FY26: Bank Mandiri menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 7-9% dan biaya kredit (CoC) di kisaran 60-80bp untuk tahun 2026.
• Valuasi Menarik: BMRI saat ini diperdagangkan pada valuasi yang menarik, yakni 1,5x P/B (Rasio Harga terhadap Nilai Buku), yang masih berada di bawah rata-rata 10 tahunnya sebesar 1,6x. Indo Premier memproyeksikan pertumbuhan laba per saham (EPS) sebesar 7% pada FY26F.
Secara keseluruhan, Bank Mandiri tetap menjadi pilihan utama (top pick) karena kinerja yang melampaui ekspektasi konsensus dan kualitas aset yang terus menunjukkan perbaikan.

$BRIS Growth at Any Cost
BRIS sudah rilis laporan keuangan Full Year 2025, dan ini bikin banyak orang harus revisi intuisi. Di tengah bank besar lain yang labanya ada yang melambat bahkan turun, BRIS malah tumbuh paling kencang di laba. Ini sinyal bahwa cerita bank syariah tidak cuma soal branding halal, tapi benar-benar sudah masuk fase eksekusi. Yang lebih menarik, BRIS tumbuh cepat walau ukuran bisnisnya masih jauh di bawah raksasa konvensional. Jadi kalau investor menilai bank cuma dari besarnya kredit, investor bisa salah baca arah permainan. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Dari sisi ukuran bisnis 2025, BRIS masih kelas menengah, pembiayaan Rp314,81 T dan Dana Pihak Ketiga atau DPK Rp381,24 T. Bandingkan dengan BBCA kredit Rp970,23 T dan BMRI kredit Rp1.849,97 T, jaraknya memang lebar. Tapi dari arah perubahan, BRIS termasuk yang agresif, pembiayaan tumbuh +14,41% dan DPK tumbuh +16,19%. Itu bukan angka kosmetik, karena bank yang sedang melemah biasanya susah menjaga dua-duanya tetap naik bareng. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bagian yang bikin investor melirik adalah laba bersih BRIS Rp7,57 T dengan pertumbuhan +8,02%, paling tinggi di daftar ini. BBCA laba Rp57,54 T tumbuh +4,93%, BMRI Rp56,29 T tumbuh +0,92%, NISP Rp5,06 T tumbuh +3,92%, sedangkan BBNI Rp19,56 T justru turun -10,60%. Artinya, BRIS bukan sekadar tumbuh karena basis kecil, tapi juga sedang menang di sisi momentum eksekusi. Di fase begini, pasar biasanya mulai memperhatikan kualitas pertumbuhan, bukan cuma nominal.
Namun ada harga yang harus dibayar, yaitu struktur dana murah. CASA ratio atau porsi giro dan tabungan BRIS 65,76%, masih di bawah BBCA 84,22% dan juga di bawah BMRI 70,89% serta BBNI 69,75%. Di bank, CASA itu semacam bensin murah. Makin tinggi, biaya dana biasanya makin ringan, ruang margin makin lega, dan bank lebih tahan saat suku bunga kompetitif. Jadi BRIS masih punya PR besar, mempertebal dana murah supaya mesin pembiayaan yang tumbuh cepat tidak jadi mahal biaya bagi hasilnya. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi risiko kredit, BRIS terlihat rapi. NPF gross BRIS 1,81% dan NPF net 0,47%. Secara kebersihan portofolio, BMRI paling kuat dengan NPL gross 1,13% dan NPL net 0,43%. BBCA NPL gross 1,71% dan net 0,67%. BBNI 1,93% dan net 0,70%. NISP 1,94% dan net 0,76%. Posisi BRIS ini menarik karena net-nya sangat rendah, artinya bantalan cadangannya relatif kuat dibanding kredit bermasalah yang tersisa.
Likuiditas juga terlihat cukup seimbang. FDR BRIS 82,58%, itu berarti dana yang dihimpun masih produktif jadi pembiayaan tanpa terlalu agresif sampai mepet. BBNI paling tinggi 86,42% lalu BMRI 84,52%, BBCA 78,64%, dan NISP 71,20% yang cenderung sangat longgar. Secara gaya, BRIS berada di tengah, tidak sekencang BBNI, tidak selonggar NISP. Ini biasanya bagus untuk bank yang sedang mengejar pertumbuhan tapi tetap mau menjaga rem risiko.
BRIS sedang dalam kombinasi yang unik karena pertumbuhan pembiayaannya lumayan cepat, laba tumbuh paling tinggi, dan kualitas aset tetap terjaga. Kelemahannya juga jelas yakni biaya dana masih bisa ditekan lagi lewat penguatan CASA, dan skala masih jauh lebih kecil sehingga sensitivitas terhadap kompetisi harga bisa lebih terasa. Potensinya ada di dua titik, kalau CASA bisa naik bertahap dan disiplin risiko tetap kuat, laju laba bisa lebih stabil dan valuasi biasanya ikut menyesuaikan. Sementara itu, untuk pembanding, BBCA tetap jadi benchmark efisiensi dana murah, BMRI jadi benchmark kualitas aset, BBNI jadi benchmark agresivitas pertumbuhan yang sedang diuji oleh tekanan laba, dan NISP jadi benchmark konservatif dengan likuiditas longgar. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
• 🏦 Kredit atau pembiayaan
• $BMRI Rp1.849,97 T
• $BBCA Rp970,23 T
• BBNI Rp899,53 T
• BRIS Rp314,81 T
• NISP Rp173,38 T
• 💰 DPK
• BMRI Rp1.816,90 T
• BBCA Rp1.233,80 T
• BBNI Rp1.040,83 T
• BRIS Rp381,24 T
• NISP Rp243,51 T
📈 Arah pertumbuhan 2025 vs 2024
• 🚀 Kredit atau pembiayaan
• BBNI +15,94%
• BRIS +14,41%
• BMRI +13,97%
• BBCA +7,65%
• NISP +1,71%
• 🧲 DPK
• BBNI +29,21%
• BMRI +25,63%
• NISP +18,25%
• BRIS +16,19%
• BBCA +10,10%
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
💵 Laba 2025
• 🥇 Laba nominal
• BBCA Rp57,54 T
• BMRI Rp56,29 T
• BBNI Rp19,56 T
• BRIS Rp7,57 T
• NISP Rp5,06 T
• ⚡ Pertumbuhan laba
• BRIS +8,02%
• BBCA +4,93%
• NISP +3,92%
• BMRI +0,92%
• BBNI -10,60%
⛽ Dana murah dan daya tahan margin
• 🏧 CASA ratio
• BBCA 84,22%
• BMRI 70,89%
• BBNI 69,75%
• BRIS 65,76%
• NISP 57,96%
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🛡️ Kualitas aset
• 🧯 NPL atau NPF gross
• BMRI 1,13%
• BBCA 1,71%
• BRIS 1,81%
• BBNI 1,93%
• NISP 1,94%
• 🧊 NPL atau NPF net
• BMRI 0,43%
• BRIS 0,47%
• BBCA 0,67%
• BBNI 0,70%
• NISP 0,76%
• 📌 Laba dibanding kredit
• BBCA 5,93%
• BMRI 3,04%
• NISP 2,92%
• BRIS 2,40%
• BBNI 2,17%
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🧠 Likuiditas intermediasi
• 🔄 LDR atau FDR
• BBNI 86,42%
• BMRI 84,52%
• BRIS 82,58%
• BBCA 78,64%
• NISP 71,20%
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/4




misal beli bri 5000, mm kalo turun 250 avg down, masing2 25% porto sampe 4000 masih nyangkut tp dananya dah hbis, nyangkut 2 tahun, solusinya gimana kak apa masih bisa trading? dan nunggu dari 5000 ke 4000 itu g sehari 2 hari, duit nganggurnya dikemanain? 👀. $BBRI $BMRI $BBCA
anggap lah ini terjadi dan $BMRI ke 2500 dgn fundamental yang sama... dividen yield 20% 🤣🤣
Antrian beli satu lot bisa kyk war tiket Coldplay.
Di Indo, bang Haji dekat komplek rumah klo mau lebaran, bagi duit 20rb/orang aja, nanti orang2 ngantri ampe sesak napas dan masuk puskesmas 🤦♂️
IDXChannel - Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terpantau diakumulasi investor asing dalam tiga hari terakhir. Meningkatnya minat asing seiring kinerja Bank Mandiri tahun 2025 yang di atas ekspektasi.
Sepanjang 4-6 Februari 2026, saham BMRI diborong investor asing dengan nilai pembelian bersih (net bu...

www.idxchannel.com

Pernah melalui krisis global Sept 2008, taper tantrum Sept 2015, Lockdown covid Mar 2020. Apakah tdk panik melalui badai MSCI saat ini? Tetap nyesek keles, tapi mungkin kadar paniknya tidak hard level, hanya di level medium mungkin 🤫.
Tapi setiap menghadapi crash, IHSG hanya butuh 4-9 bulan sudah balik lagi ke harga awal. Selama sabar, tdk pakai leverage, pegang saham yg kasih uang tunggu aka deviden, dan masih punya pekerjaan lain.... semuanya akan baik2x saja. Semangat kawan... hari ini semua kacau, mungkin besok... besok.. lebih... lebih parah😜
Gak ah... hari ini semua kacau, pasti besok akan lebih baik. Semangat 🔛🔥
$IRSX $BMRI
Outlook global sdg tdk baik2 saja..jgn all in crypto dulu meskipun xtrem fear..cicil boleh...
Saran sih mending cicil saham yg 2 bln lg tebar dividen besar..
DMAS, SIDO, ADRO, ITMG, Bank2 dkk...
$BSSR $BMRI $BBRI
IDXChannel - Investor asing tercatat melakukan akumulasi saham di Bursa Efek Indonesia pada Jumat (6/2/2026) dengan saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi target utama.
Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, investor asing mencatat aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp944 miliar. D...

www.idxchannel.com

$BMRI pas 5100 ud jual TP sebagian.... bungkus
pas turun ke 4100.. beli lagi ... skrg ud 5rb lg... mulai cicil TP dikit2
Market ibarat lautan bebas.. tidak ada yg lebih besar drpd lautan itu sendiri 🌊🌊
ilmu TP sama pentingnya dgn ilmu CL dan sama pentingnya dgn money risk management..
#beli brg yg kita ngerti
@Danz17 Ga dikonsolidasikan tapi masih dicatet pembukuan pendapatan bersihnya ya. Jadi ga ngaruh $BRIS spin off dari $BMRI
Bank yang Paling Efektif dan Efisien di 2025: $BBCA vs $BMRI vs BBNI vs $NISP
Sejauh ini baru 4 bank yang rilis laporan keuangan Full Year 2025, BBCA, BMRI, BBNI, NISP. Banyak bank lain masih belum rilis, tapi 4 ini sudah cukup untuk bikin peta awal, karena mereka mewakili dua dunia, bank transaksional super-dominan, bank BUMN yang mesin kreditnya besar, dan bank menengah yang sedang rapihin efisiensi. Yang bikin menarik, angka-angkanya bukan sekadar besar-kecil, tapi menunjukkan cara tiap bank cari cuan. Ada yang menang karena dana murah dan transaksi, ada yang menang karena volume kredit, ada yang menang karena ekspansi DPK, ada juga yang terlihat kencang di pertumbuhan tapi produktivitas per orangnya justru turun. Jadi kalau investor cuma lihat kredit naik tinggi lalu langsung merasa aman, itu sering jadi jebakan logika. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari kredit, yang geraknya paling kencang 2024 ke 2025 adalah BBNI naik 15,94% menjadi Rp899,53 T, disusul BMRI naik 13,97% menjadi Rp1.849,97 T, lalu BBCA naik 7,65% menjadi Rp970,23 T, dan NISP nyaris datar naik 1,74% menjadi Rp172,91 T.
Dari DPK, yang paling agresif BBNI naik 29,21% menjadi Rp1.040,83 T, BMRI naik 25,63% menjadi Rp1.816,90 T, NISP naik 18,25% menjadi Rp243,51 T, BBCA naik 10,10% menjadi Rp1.233,80 T. Polanya jelas, BUMN mendorong pertumbuhan lewat mesin penghimpunan dana dan penyaluran kredit yang besar, sementara BBCA tumbuh lebih moderat tapi biasanya kualitas pendanaan dan efisiensinya yang bicara.
Pembeda paling nyata ada di CASA ratio, karena ini langsung nyentuh cost of fund. BBCA naik dari 82,01% ke 84,22%, artinya porsi dana murah makin tebal. NISP juga naik dari 55,34% ke 57,96%, jadi meskipun kecil, arahnya sehat. BBNI relatif stabil, turun tipis dari 69,93% ke 69,75%, jadi struktur dananya kurang lebih sama. Yang paling mencolok BMRI, CASA ratio turun dari 79,43% ke 70,89% walau CASA nominal masih naik 12,12% menjadi Rp1.288,02 T. Ini biasanya sinyal ada kenaikan porsi deposito atau dana mahal, yang membuat bank perlu kerja ekstra agar kenaikan kredit benar-benar berubah jadi laba, karena margin mudah tergerus kalau biaya dana naik. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau dibawa ke produktivitas manusia, BBCA itu liga sendiri. Laba per karyawan 2025 Rp2.060 juta per tahun dan masih naik 4,57%. BMRI Rp1.454 juta dan naik tipis 1,32%. NISP Rp798 juta dan naik 6,68% meski karyawan turun 2,67%, ini mengarah ke peningkatan produktivitas. BBNI justru turun, laba per karyawan 2025 Rp721 juta turun 11,21%.
Jadi walau BBNI terlihat kencang di pertumbuhan kredit dan DPK, dari sisi hasil per orang ada tekanan yang nyata. Di level gaji rata-rata per karyawan per bulan, BMRI paling tinggi Rp57,28 juta dan naik 11,44%, BBCA Rp53,05 juta naik 1,61%, NISP Rp46,00 juta naik 9,65%, BBNI Rp44,51 juta naik 5,42%. Kombinasi gaji naik dan laba per orang turun seperti di BBNI biasanya membuat investor lebih perlu fokus ke efisiensi dan biaya risiko.
Di struktur pengurus, dua bank BUMN terlihat melakukan perampingan komisaris. BMRI komisaris turun dari 10 menjadi 7, BBNI komisaris turun dari 11 menjadi 6, sementara BBNI direktur naik dari 12 menjadi 13. BBCA stabil, direktur 12 dan komisaris 5. NISP juga merapikan, komisaris turun dari 8 ke 7 dengan direktur tetap 8.
Perampingan komisaris bisa berarti penguatan kontrol biaya dan penyederhanaan tata kelola, tapi juga mengubah keseimbangan check and balance. Penambahan direktur seperti di BBNI sering dibaca sebagai penambahan tangan eksekusi untuk dorong bisnis, namun konsekuensinya koordinasi dan biaya manajemen tetap harus dijaga supaya tidak menggerus profit.
Bagian remunerasi manajemen perlu dibaca hati-hati karena definisi yang mereka gunakan tidak seragam. BBCA menampilkan tantiem direktur dan komisaris naik 16,04% menjadi Rp887,70 M, dan angka per orang per bulan yang muncul dari sini adalah angka bonus, bukan total paket remunerasi tahunan. NISP gaji dan imbalan kerja direktur dan komisaris turun tipis 0,84% menjadi Rp166,55 M, sementara kompensasi rata-rata per orang per bulan naik 5,84% karena jumlah pengurus berubah. BMRI dan BBNI menunjukkan remunerasi manajemen yang turun sekitar 54%, BMRI menjadi Rp1,24 T dan BBNI menjadi Rp467,04 M, tetapi catatannya mencakup lapisan eksekutif lain seperti komite dan level SEVP atau SVP, jadi angka itu bukan apple-to-apple kalau investor membandingkan antar bank. Benang merahnya, biaya manajemen di BUMN terlihat diketatkan, sementara di bank swasta pembacaannya lebih ke pergeseran komposisi bonus dan struktur pengurus.
Bank dengan CASA ratio tinggi dan naik seperti BBCA cenderung punya ruang lebih luas untuk menjaga margin dan mencetak laba yang stabil walau pertumbuhan kredit tidak paling tinggi. Bank yang DPK-nya tumbuh sangat tinggi tetapi CASA ratio turun biasanya sedang membeli dana dengan harga lebih mahal, sehingga butuh penyaluran kredit yang lebih selektif dan efisiensi biaya yang lebih disiplin agar laba tidak tertinggal. Bank yang produktivitas per orang naik saat jumlah karyawan turun biasanya sedang matang dalam digitalisasi dan kontrol biaya. Bank yang pertumbuhan kredit dan DPK tinggi tapi laba per orang turun biasanya sedang menanggung beban biaya, pencadangan, atau tekanan margin, dan itu yang perlu diwaspadai lebih awal sebelum angka laba final keluar.
🏦 BBCA
💳 Kredit Rp970,23 T naik 7,65%
💰 DPK Rp1.233,80 T naik 10,10%
🧾 CASA ratio 84,22% naik 2,21 poin
👥 Laba per karyawan Rp2.060 juta naik 4,57%
🏛️ BMRI
🧱 Kredit Rp1.849,97 T naik 13,97%
💰 DPK Rp1.816,90 T naik 25,63%
🧾 CASA ratio 70,89% turun 8,54 poin
👥 Laba per karyawan Rp1.454 juta naik 1,32%
🏢 BBNI
🚀 Kredit Rp899,53 T naik 15,94%
💰 DPK Rp1.040,83 T naik 29,21%
🧾 CASA ratio 69,75% turun 0,18 poin
👥 Laba per karyawan Rp721 juta turun 11,21%
🏬 NISP
🐢 Kredit Rp172,91 T naik 1,74%
💰 DPK Rp243,51 T naik 18,25%
🧾 CASA ratio 57,96% naik 2,62 poin
👥 Laba per karyawan Rp798 juta naik 6,68%
⚡ Growth
📈 Kredit
🚀 BBNI 15,94%
🏛️ BMRI 13,97%
🏦 BBCA 7,65%
🏬 NISP 1,74%
📥 DPK
🚀 BBNI 29,21%
🏛️ BMRI 25,63%
🏬 NISP 18,25%
🏦 BBCA 10,10%
💰 Dana murah sebagai pembeda biaya dana
🟢 Paling tebal dan makin tebal
🏦 BBCA CASA ratio 84,22% naik 2,21 poin
🟡 Naik tapi masih menengah
🏬 NISP 57,96% naik 2,62 poin
🟠 Stabil tapi tidak membaik
🏢 BBNI 69,75% turun 0,18 poin
🔴 Turun besar meski nominal CASA naik
🏛️ BMRI 70,89% turun 8,54 poin
👥 Produktivitas SDM dan biaya SDM
🥇 Output per orang tertinggi
🏦 BBCA laba per karyawan Rp2.060 juta
🥈 Output per orang menengah
🏛️ BMRI Rp1.454 juta
🥉 Output per orang masih tertahan
🏬 NISP Rp798 juta
🏢 BBNI Rp721 juta
💵 Gaji rata-rata per karyawan per bulan 2025
🏛️ BMRI Rp57,28 juta naik 11,44%
🏦 BBCA Rp53,05 juta naik 1,61%
🏬 NISP Rp46,00 juta naik 9,65%
🏢 BBNI Rp44,51 juta naik 5,42%
🏛️ Perubahan struktur pengurus
🧱 Paling stabil
🏦 BBCA direktur 12, komisaris 5
✂️ Perampingan komisaris
🏛️ BMRI komisaris 10 ke 7
🏢 BBNI komisaris 11 ke 6
🏬 NISP komisaris 8 ke 7
➕ Penambahan eksekutor
🏢 BBNI direktur 12 ke 13
🧠 Definisi gaji tidak seragam antar bank
🏛️ BMRI dan 🏢 BBNI mencakup lapisan eksekutif lain di luar direktur dan komisaris
🏦 BBCA angka tantiem adalah bonus, bukan total paket tahunan
🏬 NISP memakai gaji dan imbalan kerja direktur dan komisaris yang lebih langsung terbaca
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










MSCI sejauh ini dari kesimpulan yg saya ambil tidak mau kehilangan momentum, karena mereka juga sudah in position di equity yang fundamentalnya kuat sprt top 10 marketcap perbankan $BBCA $BMRI $BBRI.
Terlepas dari metodologi mereka yang yang lebih ke kuantitatif teknikal dari pada fundamental, menurut saya knp bisa baru" ini panas, karena mereka mencoba untuk mengantisipasi tidak asal rebalance saham konglo yang mencoba ikut trend dan kabur (exit). Sedangkan yg kita tau saja, sblmnya saham konglo ** story, capex, dan perkembangannya selalu berkelanjutan.
Di Q3-4 2025 semakin banyak saham dengan target tujuan selanjutnya mereka utk masuk ke indeks MSC, jadi tidak ada salah nya juga saya rasa utk mereka mengantisipasi agar tidak kecolongan lagi sprt case tahun" lalu saham konglo yang masuk MSCI tidak berkelanjutan.
$BRIS - Sudah murah?
EPS 2021 = 65,65
EPS 2025 = 164,05
🔻
CAGR Real = 25,73%
CAGR Konservatif = 20%
🔻
PE Wajar (ala GARP) = 20×
🔻
Fair Value = 164,05 × 20 = 3.281
🔻
MOS 30% = 3.281 × 70% = 2.297 (Max Buy Price)
🍌DYOR🍌
$BTPS
$BMRI
Di saham berdividen jg pun bisa cutloss kalau belinya di pucuk. Saya jg pengalaman cutloss di $KKGI $BMRI $BBRI karena kurasa timeframenya terlalu panjang hanya utk kembali ke BEP kalau belinya di harga pucuk (dan khusus KKGI karena tiba-tiba rungkad 😂). Di saham-saham gorengan juga bisa cuan kalau belinya di bawah, kayak INET kalau beli di bawah 200 sblm RI, jual setelah cumdate RI masih bagger + hak tebus.
Intinya di semua saham 1, gausah beli di pucuk, beli pas sepi. Saham apapun kalau beli di pucuk + udah rame ga akan tenang.
Mungkin ada pihak-pihak yang gak senang dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia sehingga dihajar dari luar dan dari dalam.
$IHSG $BBCA $BMRI

🚨 Bencana Moody’s: Apakah Big Banks Akan Menuju Dasar Jurang? 📉💀
Lupakan sejenak narasi "Indonesia Baik-baik Saja." Keputusan Moody’s mengubah outlook menjadi NEGATIF adalah lonceng kematian bagi reli panjang perbankan kita. Ini bukan sekadar koreksi sehat, ini adalah sinyal Reversal Trend besar-besaran!
Jika outlook negatif ini berubah menjadi downgrade peringkat utang, dana asing tidak akan sekadar keluar—mereka akan LARI (massive capital outflow). Saham $BBCA, $BMRI, dan $BBNI yang selama ini dianggap "keramat" akan dipaksa tunduk pada realitas makro yang hancur.
🔥 Mengapa Ini Akan Menjadi "Blood Bath"?
1. Rupiah Terjun Bebas 📉: Dengan outlook negatif, daya tarik obligasi kita hilang. Rupiah bisa menembus 17.500/USD dengan mudah. Bagi bank, ini artinya biaya lindung nilai (hedging) meledak dan daya beli nasabah hancur.
2. Krisis Likuiditas 🧊: Bank akan saling berebut dana mahal. NIM (Net Interest Margin) yang selama ini jadi kebanggaan akan tergerus habis untuk menutupi risiko kredit yang macet di mana-mana.
3. Efek Domino BUMN 🏗️: BMRI dan BBNI adalah pemberi utang terbesar ke proyek-proyek BUMN. Jika peringkat negara turun, beban bunga BUMN membengkak, dan potensi gagal bayar massal ada di depan mata!
Target Harga Ultra-Negatif (Skenario Terburuk 2026)
Jika kepanikan melanda dan fund manager global mulai menekan tombol "Sell All," berikut adalah level bawah yang sangat mungkin disentuh:
🛡️ BBCA: Benteng Terakhir yang Retak
Jangan merasa aman di harga sekarang. Jika Foreign Flow berbalik negatif secara ekstrem, BBCA bisa kehilangan status premiumnya. Target harga pesimis kami ada di Rp 7.200 - Rp 7.500. Ya, kembali ke level tahun-tahun lalu karena valuasi Price to Book Value (PBV) harus didiskon paksa oleh pasar. 📉
🏗️ BMRI: Raksasa yang Terluka
Eksposur korporasinya yang masif akan menjadi bumerang saat ekonomi melambat. Tanpa dukungan dana asing, Mandiri bisa terjun bebas mencari titik keseimbangan baru di area Rp 4.500 - Rp 4.800. Level ini adalah area "pembersihan" retail yang selama ini terlalu optimis.
🏦 BBNI: Ujung Tombak Krisis
BBNI adalah yang paling rentan terhadap volatilitas ekonomi makro. Dengan fundamental yang paling tipis di antara Big 3, tekanan jual bisa membanting harga hingga ke bawah level psikologis, menuju Rp 3.500 - Rp 3.800. Ini bukan sekadar diskon, ini adalah harga "darurat."
🚩 Kesimpulan: JANGAN JADI PAHLAWAN! ❌
Di market yang sedang berdarah karena isu fundamental seperti Moody's, buying the dip sama saja dengan menangkap pisau jatuh yang sudah karatan.
Pesta likuiditas sudah usai. Sekarang adalah waktunya menyelamatkan modal yang tersisa sebelum angka-angka di atas menjadi kenyataan di layar monitor Anda. Cash is King, and Caution is Everything. 👑
Disclaimer: Analisis ini adalah skenario terburuk (Worst Case Scenario). Gunakan akal sehat dan manajemen risiko yang ketat. Penulis tidak bertanggung jawab atas kerugian akibat kepanikan Anda.
