


Volume
Avg volume
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. atau BMRI merupakan bank BUMN yang melakukan usaha di bidang perbankan. Entitas anak Perseroan diantaranya: PT Bank Syariah Mandiri (perbankkan syariah), Bank Mandiri (Europe) Limited (perbankan), PT Mandiri Sekuritas (Sekuritas), PT Bank Sinar Harapan Bali (perbankan), PT Mandiri Tunas Finance (pembiayaan konsumen), Mandiri Internasional Remittance Sendirian Berhad (layanan Remittance), PT Axa Mandiri Financial Service (Asuransi jiwa) dan PT Mandiri AXA General Insurance (Asuransi kerugian). Entitas asosiasi dan pengendalian bersama Perseroan: PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (Lembaga Penyelesa... Read More
Jadilah cowok yang:
KEPRIBADIANNYA $BMRI
SUKA MEM $BBCA
RAJIN MEM $BBRI
Begitulah Kira-kira hidup di Dunia ini
Gambar hanya dashboard yang dipakai para MI, bukan ajakan membeli ya, kebiasaan kalian

Update Makro 23/1/2026
Rilis Perkembangan Uang Beredar Indonesia Des 2025 oleh BI
✅ Uang Beredar Luas (M2) Des = Rp 10.133,1 triliun, tumbuh +9,6% yoy.
Lebih tinggi dari Nov Rp 9.893,3 triliun yang tumbuh +8,3% yoy.
✅ Uang Beredar Sempit (M1) Des = Rp 5.955,9 triliun, tumbuh +14,0% yoy
Lebih tinggi dari Nov Rp 5.748,0 triliun yang tumbuh +11,4% yoy.
➖ Uang Kuasi Des = Rp 4.124,7 triliun, tumbuh +5,5% yoy.
Lebih tinggi dari Nov Rp 4.101,0 triliun, namun melambat pertumbuhannya dari semula Nov +6,0% yoy.
✅ Uang Primer (M0) Adjusted Des = Rp 2.367,8 triliun, tumbuh +16,8% yoy.
Lebih tinggi dari Nov Rp 2.136,2 triliun, yang tumbuh 13,3% yoy.
✅ Penyaluran Kredit Des = Rp 8.448,1 triliun, tumbuh +9,3% yoy.
Lebih tinggi dari Nov Rp 8.196,5 triliun, yang tumbuh +7,9% yoy.
✅ Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) Des = Rp 9.467,6 triliun, tumbuh +10,4% yoy.
Lebih tinggi dari Nov Rp 9.219,1 triliun, yang tumbuh +8,5% yoy.
✅ Suku Bunga Kredit secara rata-rata tertimbang turun ke 8,80% pada Des, dari semula 8,95% pada Nov.
Suku Bunga Simpanan tenor 3, 6, 12, dan 24 bulan juga menurun. Hanya tenor 1 bulan yang meningkat.
............................
Pembalikan tren ekonomi Indonesia menuju arah yang lebih baik sudah terlihat dari likuiditas yang tumbuh semakin tinggi.
$BMRI $BBNI $BRIS

Bingung cari sektor apa yang sedang narasi? Ya bank himbara lah. Narasi nva BIG dividen Di youtube sudah ada influencer terkenal yand mengendorse bank himbara (baru tayang kemarin). Ini lah kenapa bank himbara masih bisa bertahan walaupun $IHSG mengalami koreksi
$BMRI $BBRI BBN
PASTI KALIAN BERTANYA2 KENAPA SAHAM KONGLOMERASI TURUN SAMPAI ADA YG ARB HARI INI?
SUDAH SAYA JELASKAN :
https://stockbit.com/post/26692562
$BBRI $BBCA $BMRI

"Membedah False Breakout: Kenapa Harga Sering Kembali Jatuh?"
Salah satu momen paling menjengkelkan bagi seorang trader adalah saat harga menembus level resistance (breakout), namun tak lama kemudian harganya justru jatuh lebih dalam. Fenomena ini dikenal sebagai False Breakout. Hal ini terjadi karena harga ditarik naik hanya dengan volume kecil atau hanya oleh dorongan Bad Money (ritel yang agresif), tanpa adanya dukungan dana besar yang nyata. Tanpa bensin yang cukup dari pemain besar, harga tidak memiliki kekuatan untuk bertahan di level baru dan akhirnya "longsor" saat terkena sedikit saja aksi jual.
Di sinilah peran penting Trigger Smart Money sebagai alat validasi. Sebuah breakout yang sehat dan potensial melaju jauh harus disertai dengan lonjakan volume intraday minimal 5x lipat dari rata-rata biasanya. Namun, yang lebih penting lagi adalah nilai Clean Money yang masuk. Jika harga menembus resistance namun dana bersihnya negatif, itu adalah jebakan distribusi yang harus Anda hindari. Sebaliknya, jika volume meledak dan dana masuk bersih sangat masif, itu adalah tanda bahwa Smart Money memang berniat mengawal harga ke level yang lebih tinggi lagi.
Memiliki filter validasi ini akan menyelamatkan modal Anda dari kerugian yang sering dialami oleh para "pemburu breakout" pemula. Jangan pernah percaya pada grafik harga saja tanpa melihat aliran dananya. Dengan memantau pergerakan dana secara real-time dari data trade done, Anda bisa membedakan mana emas dan mana loyang. Jadikan konfirmasi volume dan dana masuk sebagai syarat mutlak sebelum Anda memutuskan untuk masuk ke saham yang sedang breakout. Dengan begitu, setiap keputusan Anda didasari oleh logika pasar yang kuat, bukan sekadar harapan.
$BBRI $BJTM $BMRI
1/2


CIE - Cuan Inside Exchange
$BBKP
ke 103 dalam tiga tahun? atau LEBIH TINGGI bahkan LEBIH CEPAT??
aku beli pake UANG DINGIN & IKHLAS jika DELISTING.
target TP udah ada. ... nah kalo dibeli terus ternyata turun lagi tau harus bagaimana. .. ga bakal bingung apalagi CL 🥴
⚠️ WARNING ⚠️
* ini BUKAN REKOMENDASI wajib beli
random tags$IHSG$BMRI
tips trading utk pemula, setuju? https://stockbit.com/post/20680521
disclaimer : catatan pribadi ini hanyalah celoteh / prediksi nubitol, bukan ajakan beli atau jual.. . yuk mari kita sama2 mandiri 💞
(boleh diSHARE semoga bermanfaat)

Kalian tau ngga intervensi BI terhadap kurs itu cost nya super gede. Tau kenapa?
Selanjut nya rupiah hanya akan menguat sesaat, trus break out tinggi ke 17200an.
2026 tupiah akan ke 18000
Semua karena kebijakan prabowo yg kolot dangkal. Semua hitungannya naif.
Siap2 badai ekonomi akan datang.
Selama mindset prabowo sama,
Selama APBN terus terbuang sia2 bahkan sama maruar mau di kasih ke konglo via meikarta 😭😭😭😭
Semoga Tuhan segera mengirimkan pemimpin yg kompeten dan takut akan Tuhan.
Jaga Indonesia jgn sampai hancur kayak $SMGR
SIAP2 pajak 2026 akan lebih rendah dari 2025.
Welcome disaster.
Random
$BMRI
$BUMI

@gandhi84 menghibur disaat porto minus kah bang?. soalnya kalau porto plus udah gak oerlu hiburan 🫣 $BUMI $INET $BMRI
$BBCA $BBRI $BMRI
Kenapa saham banking, terutama big bank, sepertinya ikut cuaca ya?🤔
Cuaca mendung 2 hari ini, saham banking juga ikut mendung tuh.🤦🤔😂
Saham mestinya ikut ramalan suhu Saham dong, kok ini malah ikut ramalan BMKG.🤦😂😂🤣
$IHSG – Ketika Kerja Keras Belajar Berhenti
Pada dasarnya, ini bukan kisah tentang orang yang menolak kerja keras. Saya sudah terlalu lama hidup di dunia active income untuk berpura-pura suci dari keringat. Saya pernah mengejar target, menunggu tanggal gajian, dan merasa berguna hanya karena kalender dipenuhi oleh agenda terjadwal, hingga terkadang saya sendiri merasa mati rasa. Sebuah fase hidup yang dulu saya bela mati-matian, bahkan ketika diam-diam mulai terasa seperti menjadi “budak corporate” yang bangga pada kelelahan sendiri.
Keputusan untuk melepaskan diri dari active income bukan spontan. Saya telah merencanakannya sejak mulai menanam modal di saham sebagai langkah awal membangun passive income, tujuh tahun sebelum akhirnya benar-benar pensiun dini. Saat itu saya masih produktif, tubuh masih sanggup dan gaji masih tinggi, tetapi hati dan pikiran sudah lelah menimbang harga diri, risiko moral, dan tuntutan dunia kerja yang tak pernah mengenal kata cukup. Tubuh terasa melambat bukan sekadar karena kelelahan fisik, namun karena mulai mampu menilai mana beban yang benar-benar penting untuk dipikul dan mana yang hanya kesibukan kosong. Semangat tidak hilang, tetapi harga diri menolak tunduk pada tuntutan yang merendahkan.
Suatu pagi, ketika tubuh menolak lagi dipaksa mengejar target, muncul sebuah kesadaran sederhana: jika tubuh dan pikiran mulai enggan menumpahkan keringat untuk pekerjaan rutin, biarlah energi itu bekerja dengan cara berbeda melalui penghasilan yang pasif.
Yang muncul setelah itu bukan euforia, tapi ketenangan yang tak perlu dibela. Ada fase hidup di mana seseorang hanya ingin menjalani hari tanpa terus-menerus menawar dirinya sendiri. Perasaan itu terasa seperti lega yang paling mendasar, hak untuk sekadar ada tanpa harus selalu menjadi sesuatu, yang barangkali dirindukan oleh siapa pun yang pernah merasa lelah.
Keputusan itu tidak datang tanpa rasa gentar. Ketakutan membuat tubuh dan pikiran saya membeku sejenak saat pertama kali keluar dari pola hidup rutin yang selama ini dijalani. Dunia terasa bising, seolah meneriaki saya sebagai pecundang yang menyerah, seseorang yang melepas kendali sebelum waktunya. Ada malam-malam ketika keputusan itu terasa seperti kesalahan yang tak bisa ditarik kembali. Ancaman itu bukan soal lapar, tapi soal harga diri.
Saya ingat membuka ponsel berulang kali, bukan untuk mencari peluang, hanya untuk memastikan tidak ada pesan yang mempertanyakan mengapa saya menepi dari dunia pekerjaan yang selama ini membuat saya merasa berhasil. Yang saya takutkan bukan kekurangan uang, melainkan kemungkinan dianggap tidak lagi berguna. Pada saat-saat itu, sunyi belum terasa sebagai sesuatu yang berharga. Sunyi justru tampak seperti kemewahan yang belum sepenuhnya pantas. Namun dari kesenyapan itulah, secara perlahan, muncul pemahaman bahwa melepaskan kendali tidak selalu berarti kehilangan arah. Kadang langkah itu justru menjadi awal untuk menemukan ritme hidup yang lebih jujur.
Dari sanalah hidup berubah arah.
Pasar modal menjadi sekolah kedua saya, sekolah tanpa kurikulum moral, tanpa motivator, tanpa janji. Saham memberi pelajaran yang getir: kepemilikan tidak selalu berarti kendali. Kita ikut memiliki, tapi tidak berhak memerintah. Harga naik turun seperti iman; kadang kokoh tanpa alasan, kadang rapuh tanpa peringatan. Dividen datang seperti tamu yang sopan tapi tidak bisa diatur. Kadang besar, kadang kecil, kadang absen. Tidak ada kepastian dan tidak ada janji. Justru di situ letak kejujurannya. Dividen adalah hasil partisipasi, bukan upah waktu.
Capital gain berbeda. Laba yang muncul dari pergerakan harga ini berasal dari keberuntungan momentum dan kesediaan menanggung fluktuasi pasar. Mekanisme saham membagi risiko, tidak memindahkannya ke pihak lain. Pasar memaksa setiap pemilik belajar menerima untung dan rugi dengan dewasa, termasuk menentukan kapan harus cut loss dan melepaskan posisi yang merugi untuk menjaga modal dan kewarasan.
Namun hidup tidak bisa ditopang oleh ketegangan pikiran terus-menerus. Keyakinan pun memerlukan ruang untuk bernapas. Di situlah deposito masuk ke panggung. Saya memilih instrumen ini karena saat itu belum menemukan alternatif lain yang lebih sesuai untuk masuk. Banyak orang menyepelekan instrumen ini, bahkan mencurigainya. Tapi bagi saya, justru deposito yang menyelamatkan kewarasan. Perannya mirip pergantian gigi transmisi dalam perjalanan panjang, bukan untuk melaju lebih kencang, tetapi agar mesin tidak rusak sebelum tiba.
Bunga deposito bukan teriakan kemenangan. Tambahan ini tidak membuat dada membusung. Angkanya kecil, rutin, dan membosankan. Justru karena sifat itulah instrumen ini berguna. Deposito berfungsi sebagai jangkar psikologis, penanda bahwa hidup tidak selalu harus dipertaruhkan setiap hari. Tidak ada yang tercekik di sana. Tidak ada paksaan. Penabung berada di posisi bebas, kuat, dan penuh pilihan. Tambahan yang diterima bukan hasil pemerasan, melainkan kompensasi atas waktu dan erosi nilai uang.
Jika riba dimaknai sebagai struktur yang mencekik leher pihak lemah, maka secara intelektual sulit menyamakan bunga deposito dengan dosa struktural. Tidak ada jeritan. Tidak ada spiral utang. Yang hadir justru stabilitas yang tenang dan datar, sesuatu yang kerap dicurigai karena tidak dramatis dan tidak menawarkan sensasi moral.
Lalu ada obligasi, instrumen yang paling tidak seksi tapi paling dewasa. Kupon obligasi adalah kesepakatan rasional antara warga dan negara: menunda konsumsi hari ini, negara berjanji membayar kembali dengan tambahan yang wajar. Tidak ada ilusi pertumbuhan tanpa batas. Tidak ada spekulasi. Hanya kontrak yang berdiri di atas kepercayaan terbatas. Kepercayaan itu sendiri tidak sepenuhnya rasional, karena ada sejarah yang tidak selalu bersih dan kemungkinan untuk dikhianati selalu ada. Namun di usia tertentu, memilih percaya bukan karena sistemnya suci. Pilihan itu muncul karena hidup terlalu singkat untuk terus-terusan was-was.
Obligasi mengajarkan satu hal penting: tidak semua penghasilan harus lahir dari ketidakpastian. Ada fase hidup di mana kepastian terbatas terasa lebih bijaksana daripada mengejar imbal hasil tinggi dengan jantung berdebar. Kupon obligasi memang tidak membuat kaya mendadak, namun tidur nyenyak yang menyertainya adalah nilai yang kerap diremehkan oleh mereka yang masih muda dan penuh adrenalin.
Saya ingat satu pagi yang sangat biasa. Duduk di meja makan, seberkas matahari memotong tepat di atas layar ponsel. Debu-debu berputar pelan di udara. Kopi sudah mendingin. Mutasi rekening terbuka tanpa harap apa-apa. Angkanya tidak besar, tidak dramatis. Jari tidak gemetar. Napas tetap rata. Pagi itu tidak diisi kecemasan. Tidak ada dorongan untuk segera mencari sesuatu. Yang muncul justru kesadaran utuh bahwa hari ini bisa dijalani apa adanya. Di momen kecil semacam itulah saya memahami bahwa ketenangan ternyata bisa sangat konkret.
Selama masa pensiun ini, banyak godaan untuk terlibat dalam kerja sama bisnis. Ada yang saya tolak, ada yang diterima tetapi berakhir pahit. Uang saya tertipu oleh teman, meskipun kerugiannya hanya sekitar 1,5 persen dari total aset portofolio. Setelah pengalaman itu, kapok muncul. Tidak ada lagi niat memulai bisnis baru. Fokus sepenuhnya ada pada investasi dan trading saham, instrumen yang sudah dikuasai, risiko dipahami, dan memberi kendali lebih jelas atas kehidupan finansial.
Menariknya, instrumen-instrumen yang menopang passive income paling stabil sering dicurigai secara moral. Seolah-olah hidup yang tertata adalah bentuk kelalaian spiritual. Padahal Al-Qur’an tidak pernah memerintahkan manusia hidup dalam kecemasan permanen. “Dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia.” (QS. Al-Qashash: 77). Kalimat ini terdengar sederhana, sampai sadar betapa seringnya pesan tersebut dikalahkan oleh kesalehan yang gemar dipamerkan.
Saham, deposito, dan obligasi, bila dilihat bersama, bukan sekadar portofolio. Ketiganya membentuk narasi hidup. Saham melatih keberanian dan kesabaran. Deposito menjaga kewarasan. Obligasi mengajarkan kepercayaan pada sistem, meski tanpa kepolosan. Semua itu membentuk evolusi yang pelan: dari mengorbankan tubuh, lalu mengelola risiko, hingga akhirnya belajar mempercayai waktu.
Di fase hidup ini, passive income bukan lagi soal maksimalisasi. Fokusnya bergeser menjadi soal cukup. Cukup untuk hidup tanpa mengganggu orang lain. Cukup untuk menolak pekerjaan yang merendahkan martabat hanya demi menyambung hidup. Cukup untuk berkata tidak tanpa perlu menghitung sisa saldo di kepala. Lebih dari itu, cukup untuk duduk mendengarkan cerita anak dan istri, tanpa mata terus melirik jam dan pikiran sibuk menghitung target. Di titik ini, uang bukan lagi alat tukar barang, melainkan sudah menjadi alat tukar kedaulatan: kedaulatan untuk kembali hadir sepenuhnya bagi manusia lain.
Ada ironi yang sering luput: mereka yang paling lantang mengutuk bunga dan kupon justru kerap hidup dari biaya yang tak pasti, fee musiman, proyek yang bergantung mood pasar, atau janji-janji yang menggantung. Kegaduhan dirayakan, sementara stabilitas dituduh sebagai dosa yang tak tertulis. Pada saat yang sama, pensiunan yang hidup dari dividen, capital gain, bunga deposito, dan obligasi sering dicurigai terlalu nyaman, seolah kenyamanan itu sendiri merupakan kesalahan moral.
Padahal Nabi mengingatkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas keluarganya. Tanggung jawab semacam ini tidak romantis. Sifatnya praktis. Intinya tentang kestabilan, bukan heroisme.
Di titik itu saya tersadar: passive income hanyalah jejak keringat masa lalu yang belajar bekerja menggantikan tubuh. Kerja keras tidak dikhianati; kerja keras hanya akhirnya diberi izin untuk berhenti.
Pilihan ini menutup bab hidup yang panjang. Saat dividen, capital gain, bunga, dan kupon datang tanpa suara, yang hadir bukan angka, melainkan izin untuk menarik napas, benar-benar hadir, dan berhenti berlari.
$BMRI $BBRI

@daez bener ini, sering saya bilang dari juni 2025- Januari 2026 market gampang sekali, makanya banyak yg sok pinter, buka kelas berbayar pemula2 di Tok tok, IG, dll,padahal belum rasain IHSG bearish seperti 2024,sukses slalu 😇
$ADRO $BMRI $ASII
Mencari Saham MSCI
Diskusi hari ini di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Penentuan saham yang bisa masuk MSCI itu kelihatan seperti misteri karena hasil akhirnya cuma terlihat sebagai daftar nama, sementara prosesnya terjadi di balik layar, pakai angka yang kebanyakan investor tidak pernah hitung. Yang bikin tambah menyebalkan, saham bisa ramai di grup, bisa trending, bisa naik gila-gilaan, tapi tetap saja tidak dilirik karena yang dicari MSCI bukan cerita, melainkan bisa tidak sebuah dana besar keluar-masuk tanpa merusak harga. Banyak investor mengira cukup jadi emiten besar, padahal besar saja itu cuma syarat perlu, bukan syarat cukup. Ada juga saham yang kapitalisasi pasar-nya besar, tapi di pasar nyaris tidak ada barang yang benar-benar bisa dibeli, akhirnya indeks menganggapnya seperti etalase, bagus dilihat, susah dipakai. Di sisi lain, ada saham yang kelihatannya tidak sepopuler bluechip tertentu, tapi transaksi dan free float-nya sehat, justru lebih masuk akal bagi indeks. Jadi misterinya bukan karena MSCI pakai ilmu gaib, tapi karena kebanyakan investor tidak mau mengotori tangan dengan metrik yang membunuh narasi. Kalau investor mau jujur, MSCI itu mesin penyaring yang kejam, dan ia tidak peduli opini, hanya peduli kelayakan diperdagangkan dan ukuran yang relevan. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau mau bikin sistem skrining yang bisa mendeteksi saham berpotensi masuk, keluar, atau bertahan, kuncinya cuma tiga poros besar. Likuiditas, ukuran, dan faktor inklusi. Likuiditas paling inti biasanya berkumpul di Annualized Traded Value Ratio (ATVR) yang dibangun dari Monthly Traded Value Ratio (MTVR). Ukuran bertumpu pada market cap, tapi bukan market cap versi brosur, melainkan market cap yang sudah disesuaikan dengan free float lewat Foreign Inclusion Factor (FIF) atau Domestic Inclusion Factor (DIF). Lalu faktor inklusi adalah pengali terakhir yang menentukan seberapa nyata saham itu bisa dimiliki investor besar, bukan sekadar tercatat di papan. Begitu tiga poros ini dipasang, misterinya langsung berubah jadi pekerjaan statistik rutin yang melelahkan, tapi justru itu yang membuatnya bisa diprediksi.
Bagian yang sering bikin investor salah langkah adalah cara MSCI mengukur likuiditas, karena ia tidak suka lonjakan volume sehari-dua hari yang sifatnya kosmetik. Yang dipakai adalah median nilai transaksi bulanan, supaya spike ekstrem tidak menipu. Dari situ dihitung MTVR, secara konsep itu nilai transaksi bulanan dibagi free-float adjusted market cap. Setelah itu, ATVR dibentuk dari akumulasi MTVR 12 bulan, sehingga syarat minimalnya bukan cuma harus likuid hari ini, tetapi harus konsisten satu tahun penuh. Ini sebabnya banyak saham IPO atau saham yang baru saja digoreng volumenya sering gagal, bukan karena jelek, tapi karena datanya belum cukup atau pola likuiditasnya tidak stabil. Dalam praktik skrining, investor perlu menyimpan data 12 titik bulanan, bukan sekadar moving average harian, karena sumber masalah paling umum adalah investor menilai likuiditas dari beberapa minggu terakhir lalu menyimpulkan terlalu cepat. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Poros kedua adalah ukuran yang benar-benar dipakai indeks. Full market cap itu sekadar jumlah saham beredar dikali harga, tapi MSCI lebih peduli ukuran yang bisa diinvestasikan, yaitu full market cap yang dikali faktor inklusi seperti FIF. Jadi emiten bisa tampak raksasa, tapi kalau free float rendah, ukuran investable-nya mengecil drastis. Ini juga menjelaskan kenapa sebagian saham yang terlihat sangat besar tetap sulit masuk, karena indeks tidak mau menanggung risiko exit yang macet ketika dana global harus rebalancing. Investor yang membangun screener wajib memisahkan dua ranking, ranking full market cap untuk lihat skala perusahaan, lalu ranking free-float adjusted market cap untuk lihat skala yang benar-benar bisa disentuh dana besar.
Biar terasa konkret, gunakan angka yang sudah ada. Dengan kurs Rp16.900 per $1, market cap IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) sekitar $965 miliar atau kira-kira Rp16.308 triliun, dan rata-rata transaksi harian sekitar Rp31,502 triliun. Itu baseline ekosistem, artinya secara agregat pasar Indonesia cukup dalam, tapi kedalaman itu tidak merata, karena likuiditas menumpuk di sebagian kecil saham. Di sinilah MSCI bekerja seperti filter gravitasi, ia menarik saham yang likuid dan investable, lalu membiarkan sisanya jadi cerita komunitas. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Contoh saham yang statusnya hampir pasti bertahan adalah $BMRI. Dengan harga Rp4.990 dan jumlah saham 93,33 miliar lembar, full market cap-nya sekitar Rp465,7 triliun atau $27,55 miliar. Setelah dikali free float 37,47% (FIF 0,3747), free-float adjusted market cap-nya kira-kira $10,32 miliar, ini sudah kelas berat untuk radar indeks. Dari sisi likuiditas, nilai transaksi harian rata-rata Rp814,56 miliar, kalau diasumsikan 20 hari bursa per bulan, nilai transaksi bulanan sekitar Rp16,29 triliun. Dibandingkan free-float adjusted market cap dalam rupiah sekitar Rp174,48 triliun, MTVR-nya sekitar 9,34%, lalu ATVR 12 bulan menjadi sekitar 112,08%. Dengan profil seperti ini, BMRI itu bukan cuma layak, tapi terlalu layak, sehingga perubahan status biasanya baru terjadi kalau ada guncangan besar seperti penurunan ukuran yang ekstrem, kekeringan volume berkepanjangan, atau corporate action yang membuat saham tidak eligible.
Sekarang lihat kebalikan yang menyakitkan buat banyak investor, saham yang besar tapi sepi, contohnya $MORA. Full market cap sekitar Rp327,506 triliun atau $19,38 miliar, lalu free-float adjusted market cap sekitar $6,56 miliar dengan free float 33,83%. Secara ukuran, ini tampak lebih dari cukup. Tapi nilai transaksi harian cuma sekitar Rp6,31 miliar, sehingga nilai bulanan kira-kira Rp126,2 miliar. Dibagi free-float adjusted market cap dalam rupiah sekitar Rp110,795 triliun, MTVR-nya hanya sekitar 0,114%, lalu ATVR setahun cuma sekitar 1,37%. Ini titik di mana investor harus berhenti menghibur diri. Saham seperti ini mungkin bagus untuk narasi jangka panjang atau untuk pemegang yang tidak peduli likuiditas, tapi untuk MSCI, ini risiko exit yang tidak bisa ditoleransi. Investor yang mau memprediksi pergerakan MSCI harus berani mengatakan ini keras kepala secara data, ukuran besar tidak menyelamatkan likuiditas yang kering. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Contoh kandidat masuk biasanya saham yang menang di dua sisi sekaligus, ukuran investable cukup dan ATVR jauh di atas batas praktis. $PTRO misalnya. Full market cap sekitar Rp124,86 triliun atau $7,39 miliar, dengan free float 29,17% menghasilkan free-float adjusted market cap sekitar $2,15 miliar. Nilai transaksi harian Rp360,18 miliar, bulanan sekitar Rp7,20 triliun. Dibagi free-float adjusted market cap rupiah sekitar Rp36,42 triliun, MTVR sekitar 19,76%, sehingga ATVR sekitar 237,12%. Ini bukan sekadar lolos, ini profil yang biasanya membuat saham terlihat seperti mesin likuiditas. IMPC juga menarik karena kombinasi ukuran dan likuiditasnya masuk akal. Full market cap sekitar Rp194,9 triliun atau $11,53 miliar, free-float adjusted market cap sekitar $2,87 miliar dengan free float 24,89%. Nilai transaksi harian Rp77,33 miliar, bulanan sekitar Rp1,54 triliun, MTVR sekitar 3,17%, ATVR sekitar 38,04%. Tidak sebrutal PTRO, tapi masih terlihat memenuhi logika kelayakan.
Sementara itu, contoh yang sering bikin investor salah kaprah adalah RISE. Ukurannya sebenarnya lumayan, full market cap sekitar Rp110,16 triliun atau $6,52 miliar, free-float adjusted market cap sekitar $1,13 miliar dengan free float 17,32%. Tetapi nilai transaksi harian cuma Rp5,25 miliar, bulanan sekitar Rp105 miliar, MTVR sekitar 0,55%, ATVR sekitar 6,6%. Jadi kalau investor bertanya kenapa saham yang terlihat besar tidak kunjung masuk radar, jawabannya sederhana, free float rendah membuat investable size mengecil, lalu transaksi harian tidak mengejar, akhirnya ATVR gagal. Untuk tembus, bukan butuh satu-dua minggu ramai, tapi butuh eskalasi nilai transaksi yang bertahan lama, secara kasar 2,5 sampai 3 kali dari kondisi sekarang kalau ukuran investable tidak berubah. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Setelah likuiditas dan ukuran, poros ketiga adalah pemicu perubahan status yang sering datang dari corporate action dan eligibility. Aksi seperti rights issue, buyback, spin-off, perubahan batas kepemilikan asing, atau perubahan klasifikasi sektor dapat mengubah faktor inklusi, mengubah jumlah saham yang dianggap investable, atau membuat entitas hasil pemisahan langsung dijual keluar indeks pada ex-date jika dianggap tidak eligible. Sistem skrining yang serius wajib punya modul event, karena kadang saham tidak keluar karena metriknya turun perlahan, tapi karena aturan eligibility berubah dalam satu hari. Di sisi teknis perhitungan indeks, hal-hal seperti Price Adjustment Factor (PAF) dan perlakuan dividen spesial juga bisa mengganggu pembacaan data kalau investor tidak memisahkan mana perubahan ekonomi, mana perubahan mekanik perhitungan.
Kalau investor mau menyusun workflow yang benar-benar bisa dipakai, bayangkan pipeline yang berjalan tiap bulan. Pertama, tentukan universe saham dan kumpulkan data jumlah saham, harga penutupan, free float untuk menghitung FIF, lalu hitung free-float adjusted market cap. Kedua, kumpulkan nilai transaksi bulanan berbasis median harian per bulan, lalu hitung MTVR tiap bulan dan akumulasi 12 bulan menjadi ATVR. Ketiga, buat peta status. Kandidat bertahan adalah yang ukuran investable-nya aman dan ATVR-nya konsisten tinggi. Kandidat masuk adalah yang baru melewati ambang likuiditas secara konsisten dan ukuran investable-nya sudah menembus batas segmen. Kandidat keluar adalah yang ATVR-nya turun terus atau terkena event eligibility. Kalau investor melakukan ini disiplin, prediksi MSCI berhenti jadi misteri, dan berubah jadi permainan probabilitas yang bisa diperdebatkan dengan angka, bukan dengan feeling. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/4




Sudah saatnya kita Save 70% dana kita kalau kalau terjadi hal hal yang diinginkan Investor
$IHSG $BBCA $BMRI

$PTBA lg fokus nyicil lg buat nambah muatan untuk dividend jumbo 3-4 bln ke depan, mumpung msh koreksi $ADRO $BMRI
Empat saham bank jumbo ramai dilepas investor asing pada perdagangan Kamis (22/1). Saham-saham perbankan yang paling banyak dijual adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
Berdasarkan data Bursa E...

katadata.co.id
KABARBURSA.COM - PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) dijadwalkan mencatatkan penerbitan surat utang senilai Rp500 miliar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan hari ini. Dana hasil emisi akan dimanfaatkan untuk refinancing utang lama sekaligus memperkuat modal kerja perseroan.
Berdasarkan prospek...

www.kabarbursa.com

$BMRI
Belajar dari kesalahan dulu, Bagi kalian 4900 Murah BMRI?
masih belum... dia akan turun lagi 😅
Free Float MSCI , Emas Naik
Jangan ngarep
Jakarta, CNBC Indonesia — Panji Irawan resmi diangkat sebagai direktur utama PT Bank Mandiri Taspen. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menetapkan bankir senior itu lulus Uji Kelayakan dan Kepatutan alias fit and proper test.
Keputusan itu diumumkan oleh Instagram resmi perusahaan, @bank.mandirit...

www.cnbcindonesia.com
