


Volume
Avg volume
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BBRI merupakan BUMN yang bergerak di bidang usaha perbankan, Bank terbesar di Segmen Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dengan layanan micro banking terbesar di Indonesia maupun di dunia, Selain fokus pada segmen UMKM, BRI juga terus mengembangkan berbagai produk consumer banking dan layanan institusional bagi masyarakat perkotaan. Melalui layanan e-banking yang didukung oleh 24.684 unit ATM serta 284.426 unit EDC yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, BRI bertekad untuk terus mendukung peningkatan efisiensi kegiatan perekonomian nasional sekaligus meningkatkan kenyamanan dan... Read More
KABARBURSA.COM - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan total emisi obligasi dan sukuk yang telah tercatat sepanjang tahun 2026 sebanyak 19 emisi dari 13 emiten dengan nilai Rp14,56 triliun.
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan total emisi obligasi dan sukuk yang tercat...

www.kabarbursa.com

@Masbrill Bisnis bank itu kan membiayai perekonomian negara. $BBCA sih persh bagus, namun kalo ekonomi lagi loyo bagaimana kredit bisa tumbuh kencang? Yg ada malah byk kredit macet.
Sentimen pasar saham jg netral (tidak bullish maupun bearish).
$BBRI $BMRI
$HMSP apa yg akan terjadi terhadap harga saham HMSP jika FF 15% diberlakukan, apakah philip morris menjual sebagian atau emiten HMSP go private atau bagaimana ?
apakah nanti harganya bisa terjun ?
apakah harganya bisa 🚀🚀🚀 ?
colek : $BBRI $BBNI
𝐒𝐭𝐮𝐝𝐢 𝐊𝐚𝐬𝐮𝐬 𝐊𝐨𝐦𝐛𝐢𝐧𝐚𝐬𝐢 𝐅𝐮𝐧𝐝𝐚𝐦𝐞𝐧𝐭𝐚𝐥 + 𝐄𝐥𝐥𝐢𝐨𝐭𝐭 𝐖𝐚𝐯𝐞 | 𝐀𝐫𝐭𝐢𝐤𝐞𝐥 𝐤𝐞-4 𝐝𝐚𝐫𝐢 “𝐌𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐛𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐄𝐥𝐥𝐢𝐨𝐭𝐭 𝐖𝐚𝐯𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐀𝐧𝐚𝐥𝐢𝐬𝐚 𝐅𝐮𝐧𝐝𝐚𝐦𝐞𝐧𝐭𝐚𝐥”
Setelah memahami kelemahan analisa fundamental dan bagaimana Elliott Wave Analysis (EWA) mampu menutupinya, kini saatnya melihat bagaimana keduanya bekerja bersama dalam praktik nyata.
Studi kasus ini akan menunjukkan bahwa kombinasi analisa fundamental dan EWA bukan hanya teori, tetapi strategi yang bisa membantu trader menghindari jebakan “false signal” dan membuat keputusan lebih matang.
𝐂𝐨𝐧𝐭𝐨𝐡 𝐊𝐚𝐬𝐮𝐬: 𝐈𝐧𝐟𝐥𝐚𝐬𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐈𝐇𝐒𝐆 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐅𝐚𝐬𝐞 𝐖𝐚𝐯𝐞 𝐊𝐨𝐫𝐞𝐤𝐭𝐢𝐟
Bayangkan sebuah skenario di mana Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi bulanan. Secara fundamental, inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi biasanya menimbulkan kekhawatiran akan kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia. Hal ini bisa menekan IHSG karena investor khawatir biaya pinjaman meningkat dan pertumbuhan ekonomi melambat.
Namun, jika kita melihat chart $IHSG dengan pendekatan EWA, ternyata indeks sedang berada di wave korektif (A-B-C) setelah kenaikan impulsif sebelumnya. Artinya, meski fundamental memberi sinyal negatif, pasar sebenarnya sedang dalam fase konsolidasi yang wajar.
Trader yang hanya mengandalkan fundamental bisa panik dan menjual terlalu cepat, sementara trader yang menggabungkan EWA akan melihat bahwa koreksi ini adalah bagian dari siklus normal sebelum tren naik berlanjut.
𝐌𝐞𝐧𝐠𝐡𝐢𝐧𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐅𝐚𝐥𝐬𝐞 𝐒𝐢𝐠𝐧𝐚𝐥 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐊𝐨𝐦𝐛𝐢𝐧𝐚𝐬𝐢 𝐀𝐧𝐚𝐥𝐢𝐬𝐚
False signal sering muncul ketika pasar bereaksi berlawanan dengan data. Misalnya, inflasi tinggi justru direspons dengan penguatan IHSG karena investor menilai tekanan inflasi masih terkendali dan ekspektasi suku bunga tidak berubah drastis. Trader fundamental bisa kebingungan menghadapi anomali ini.
Dengan EWA, trader punya kerangka tambahan: apakah IHSG sedang di wave ke-5 yang biasanya lebih pendek karena profit-taking, atau di wave ke-2 yang sering menjadi retracement sehat sebelum tren berlanjut. Kombinasi ini membantu trader menyaring sinyal fundamental dengan struktur teknikal, sehingga keputusan lebih seimbang antara “cerita ekonomi” dan “psikologi pasar”.
𝐒𝐢𝐦𝐮𝐥𝐚𝐬𝐢 𝐒𝐞𝐝𝐞𝐫𝐡𝐚𝐧𝐚: 𝐊𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐁𝐞𝐥𝐢/𝐉𝐮𝐚𝐥 𝐒𝐚𝐡𝐚𝐦 𝐓𝐞𝐫𝐤𝐚𝐢𝐭 𝐈𝐧𝐟𝐥𝐚𝐬𝐢
Mari kita buat simulasi sederhana:
• Fundamental: Inflasi naik → potensi tekanan pada sektor perbankan dan properti, karena ekspektasi suku bunga lebih tinggi.
• EWA: Chart saham perbankan besar (misalnya $BBRI atau BMRI) menunjukkan harga sedang berada di wave ke-2 korektif.
Dalam kasus ini, trader bisa menunggu wave ke-2 selesai dan entry di awal wave ke-3, yang biasanya paling panjang dan kuat. Hasilnya, trader tidak hanya mengikuti arah fundamental (yang memberi sinyal tekanan jangka pendek), tetapi juga memanfaatkan timing teknikal untuk entry di momentum yang lebih optimal.
Sebaliknya, jika fundamental memberi sinyal positif (misalnya inflasi rendah → potensi penguatan daya beli, mendukung saham consumer goods seperti $UNVR atau ICBP), tetapi chart menunjukkan harga sudah di wave ke-5, trader bisa lebih hati-hati. Wave ke-5 sering kali menjadi akhir tren, sehingga risiko masuk di titik jenuh lebih besar.
Kombinasi fundamental dan EWA membantu trader menghindari keputusan yang terlalu terburu-buru.
𝐏𝐞𝐧𝐮𝐭𝐮𝐩
Studi kasus IHSG ini menunjukkan bahwa analisa fundamental dan EWA bukanlah dua pendekatan yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Fundamental memberi arah besar berdasarkan kondisi ekonomi, sementara EWA memberi detail timing dan level harga. Dengan menggabungkan keduanya, trader bisa menghindari false signal, masuk di momentum yang tepat, dan keluar sebelum tren berbalik.
Di artikel berikutnya, kita akan menyusun Checklist Praktis untuk Trader: langkah-langkah konkret menggabungkan fundamental dan EWA, tools yang bisa digunakan, serta strategi risk management agar kombinasi ini benar-benar bisa diterapkan dalam aktivitas trading sehari-hari.
6 𝐭𝐚𝐡𝐮𝐧 𝐆𝐫𝐨𝐮𝐩 𝐭𝐫𝐚𝐝𝐢𝐧𝐠 𝐖𝐚𝐯𝐞𝐭𝐢𝐠𝐚
𝑻𝒓𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈 𝒅𝒂𝒏 𝒕𝒖𝒎𝒃𝒖𝒉 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒌𝒂𝒎𝒊
https://cutt.ly/ftmcOlI5

Q1/26 ada satu aturan yang kemungkinan besar nantinya dapat menjadi katalis positif untuk Bank Himbara alias Bank BUMN.
Apa itu?
Yakni revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025 terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE) SDA. Nantinya, DHE SDA diwajibkan untuk disimpan di Bank Himbara saja pada kurun waktu tertentu. Bisa dilihat Bank Himbara yang kemungkinan paling diuntungkan adalah $BMRI.
$BBNI $BBRI
Bagaimana valuasi saham PART 3:
https://cutt.ly/utmg6ILm
$BBRI $BBCA $BUMI
Terakhir Kali $BBRI Berhasil Di Atas 6000 Terjadi di 1 April 2024
Dan sampai sekarang 14 Februari 2026, BBRI tidak pernah lagi menyentuh harga 6000.
Kalau ada investor yang haka all in di harga lebih dari 6000 itu artinya mereka sudah Nyangkut berapa lama kalau tidak ada average down sama sekali?
Itu artinya nyangkut sekitar 684 hari. Itu setara dengan 1 tahun 10 bulan 13 hari, atau sekitar 1,87 tahun.
Hampir 2 tahun Nyangkut. Apalagi kalau belinya di all time high 6450 di Maret 2024 maka itu artinya lebih lama lagi nyangkut nya.
Saham yang isi saham publik nya mayoritas didominasi investor aseng memang sulit sih naiknya kalau majikan mereka di luar negeri bilang sell all.
Beda dengan saham yang bandarnya didominasi bandar lokal. Bandar lokal cenderung tidak peduli sama sentimen luar negeri. Bahkan ketika sahamnya kena sanksi OJK karena kasus manipulasi IPO pun harga sahamnya bisa tetap terbang seperti pada case $PIPA dan $REAL
Bandar lokal itu tidak takut pada apapun. Beda dengan bandar aseng yang dikit dikit takut, dikit dikit takut. 🗿
Jadi kalau investor aseng sudah exit semua dari bursa Indonesia, berarti harapan investor ritel adalah bandar lokal saja.😌
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/9









@sai123m bagus sekali
Di Indonesia saat ini hingga awal 2026, retail investor belum bisa melakukan short selling di pasar saham secara resmi.
Peraturan dan implementasi short selling masih ditunda oleh regulator sampai setidaknya 17 Maret 2026.
BEI menunda penerapan fasilitas short selling (termasuk pembiayaan dan transaksi) hingga 17 Maret 2026.
Karena itu, BEI tidak menerbitkan Daftar Efek Short Selling sampai tanggal itu, artinya belum ada saham yang bisa ‘dijadikan short’ secara formal. Regulasi ini berlaku untuk semua pelaku (termasuk retail) — sehingga retail sampai saat ini belum bisa short sell di BEI karena fasilitasnya belum aktif.
Rencana penerapan short selling di Indonesia sudah dibicarakan sejak 2024 dan sempat dijadwalkan aktif akhir 2025, namun selalu ditunda berkali-kali karena kondisi pasar dan pertimbangan regulator.
Jadi sampai setidaknya Maret 2026, meskipun ada regulasi yang diarahkan, retail belum bisa melakukan short sell karena fasilitas teknis dan daftar sahamnya belum tersedia.
Tetapi.. kenyataannya
Investor asing:
Punya inventory saham besar
Bisa jual kapan pun
Tidak butuh izin khusus untuk jual kepemilikan mereka sendiri
Kepemilikan Asing di BEI (per data 2025)
Investor asing mempunyai sekitar 45,9% dari total nilai kepemilikan saham di pasar modal Indonesia (nilai pasar saham secara keseluruhan).
Saham Big Cap
Ini juga berlaku untuk
Broker / institusi besar lokal:
Mereka Punya inventory proprietary (pemegang saham mayoritas)
Bisa distribusi pelan
Bisa hedging lintas market (index, futures, offshore)
Retail & broker lokal kecil:
Inventory terbatas
Tidak punya struktur lindung nilai
Risiko ke compliance tinggi
Tapi kok asing kayak jual rugi?
Ini yang bikin ilusi.
Contoh:
Asing beli $BBCA di avg Rp 4.000 (bertahun-tahun lalu)
Sekarang jual di Rp 7.000
Retail lihat: beli di atas "
“Kok jual pas turun? Rugi dong?”
Padahal:
Mereka tetap untung besar
Cost basis mereka jauh di bawah
Yang terlihat cuma transaksi hari ini, bukan sejarah posisi
Kita tidak bisa melihat dari susut pandang ritel tapi harus dari sudut pandang institusi Yang Mengendalikan harga $BMRI $BBRI
wajar dan normal kalau seseoarang kecewa karena dividen tak seperti ekspektasi.
bukan karena memperlakukan seperti slip gaji dll.
wajar karena faktor manusia.
sebagai investor nglotokpun, anggap mikir bak inpestor beneran, menggap emitennya seperti "miliknya" , ya memang begitu kan arti kepemilikan saham ?
anggap begitu,
maka artinya mikirnya pasti bisnis, usaha
semua orang usaha, normal dan wajar MEMILIKI ekpektasi dividen dari usahanya, apapun usaha yang di miliki, mulai dari pecel lele sampai perusahaan bursa .
sebagai manusia biasa, ya wajar ada rasa kecewa ketika sesuatu hal tak sesuai ekspektasi.
bagaimana menyikapi rasa kecewa , itu ya hal lain lagi.
$IHSG
$BTC
$BBRI
KABARBURSA.COM – Aksi broker asing UBS Sekuritas Indonesia (AK) pada perdagangan Jumat, 13 Februari 2026 menunjukkan rotasi dana yang kontras. AK mencatat pembelian besar pada saham energi dan komoditas, namun secara bersamaan melepas saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.
Data top broker me...

www.kabarbursa.com

SCALPING $BRMS (1080)
RENCANA ENTRY & EXIT
Entry Buy (1050 – 1100)
Take Profit 1 (TP1) 1120
Take Profit 2 (TP2) 1180
Zona Stoploss (< SL) 1000
RISK : REWARD (DETAIL)
Asumsi Entry Ideal (1070)
Risiko (Risk)
Entry 1070 → Stoploss 1000
Risiko = 70 poin
Reward TP1
TP1 – Entry = 50 poin
Risk : Reward TP1 = 1 : 0,7
Reward TP2
TP2 – Entry = 110 poin
Risk : Reward TP2 = 1 : 1,6
Catatan Risk : Reward
- Minimal ambil TP1, jangan serakah
- TP2 hanya jika volume & momentum mendukung
- Jika TP1 tercapai, stoploss digeser ke BEP
Catatan Tambahan
- Scalping berhasil dari disiplin, bukan nekat
- Stoploss wajib dan tidak boleh digeser turun
- Tidak ada sinyal → tidak entry
- Fokus konsistensi, bukan sekali besar
Analisa saya boleh bantu, tapi keputusan tetap milik Boss.
Ayo REQUEST SAHAM di kolom komentar seperti
$BBRI $ADRO
,DM “mau” jika ingin dianalisa sahamnya
Support like agar terus update!!!
Follow untuk ikuti flowchart keputusan saham trend
Kalau postingan ini bermanfaat, boleh banget kasih tip lewat tombol bergambar 💲 di bawah ya. Terima kasih banyak 🙏
3 SKENARIO ENTRY SAHAM $BBRI (Swing Trader Plan)
Harga sekarang: 3780
1) SKENARIO ENTRY SEKARANG (Moderate Entry)
- Entry: 3720 – 3850
- Stoploss: < 3600
- TP1: 4000
- TP2: 4200 – 4350
Alasan: Harga masih konsolidasi di atas area support kuat, struktur swing BBRI masih memungkinkan lanjutan naik Boss.
2) SKENARIO ENTRY PULLBACK (Conservative – Paling Aman)
- Entry: 3500 – 3600
- Stoploss: < 3350
- TP1: 3850
- TP2: 4100 – 4350
Alasan: Area demand bawah cukup solid, ini zona paling aman buat entry sambil jaga risiko Boss.
3) SKENARIO ENTRY AGRESIF (Buy on Breakout)
- Entry: Buy kalau breakout > 3920 dengan volume besar
- Stoploss: < 3720
- TP1: 4200
- TP2: 4500 – 4800
Alasan: Breakout resistance kunci bisa jadi trigger momentum lanjutan Boss.
Alasan Buy:
• Harga masih di area demand
• Struktur swing memungkinkan rebound / masih bullish
• Breakout 3920 bisa jadi trigger lanjutan
Risiko:
• Kalau 3500 jebol = potensi lanjut turun / koreksi lebih dalam
• Breakout tanpa volume rawan fake
• Stoploss wajib buat jaga modal Boss
Analisa ini panduan ya Boss, eksekusi tetap kembali ke gaya trading Boss.
Ayo REQUEST SAHAM di kolom komentar seperti
$ICBP $AGAR
,DM “mau” jika ingin dianalisa sahamnya
Support like agar terus update!!!
Follow untuk ikuti flowchart keputusan saham trend
Kalau postingan ini bermanfaat, boleh banget kasih tip lewat tombol bergambar 💲 di bawah ya. Terima kasih banyak 🙏
ANALISA SAHAM $MIDI
Harga Sekarang: Rp 320
Zona Area Beli Aman:
Rp 305 – 312
• Area support kuat, cocok untuk entry aman jika harga pullback ke zona ini, Boss
Zona Stoploss:
< Rp 295
• Jika turun di bawah level ini, struktur swing melemah dan rawan koreksi lebih dalam, Boss
Jika naik & breakout:
> Rp 332 → ENTRY LANJUTAN (tambah posisi)
• Breakout 332 berpotensi memicu momentum bullish lanjutan, Boss
Target Profit:
• TP1 = Rp 350
• TP2 = Rp 370 – 385
Keterangan Tambahan:
• Selama harga bertahan di atas 305, peluang swing bullish tetap terjaga, Boss
• Saham ritel defensif, pergerakan cenderung stabil mengikuti konsumsi harian
• Breakout valid jika disertai volume meningkat
Analisa saya boleh bantu, tapi keputusan tetap milik Boss.
Ayo REQUEST SAHAM di kolom komentar seperti
$BBRI $SCNP
,DM “mau” jika ingin dianalisa sahamnya
Support like agar terus update!!!
Follow untuk ikuti flowchart keputusan saham trend
Kalau postingan ini bermanfaat, boleh banget kasih tip lewat tombol bergambar 💲 di bawah ya. Terima kasih banyak 🙏
”📊 Price to Earnings Ratio: Senjata Rahasia untuk Menilai Wajar Harga Saham”
by mancingsaham Academy
Bagi investor yang ingin menghindari overpaying dalam berinvestasi, *Price to Earnings Ratio (PER)* adalah alat fundamental paling krusial yang harus dikuasai. PER tidak hanya sekadar angka valuasi, tetapi merupakan cerminan ekspektasi pasar terhadap prospek pertumbuhan perusahaan di masa depan.
1️⃣ Apa Itu PER?
PER adalah *rasio yang membandingkan harga pasar saham* dengan laba per saham (EPS) perusahaan. Rasio ini menunjukkan berapa kali lipat investor bersedia membayar harga saham dibandingkan dengan laba yang dihasilkan perusahaan per lembar saham.
Fungsi Utama PER:
· Valuasi Saham: Menilai apakah saham undervalued, wajar, atau overvalued
· Ekspektasi Pasar: Mencerminkan psikologi pasar terhadap prospek perusahaan
· Komparasi Industri: Membandingkan valuasi antar perusahaan sejenis
· Screening Awal: Filter cepat untuk identifikasi peluang investasi
2️⃣ Cara Menghitung PER dengan Presisi
*Rumus Dasar*:
PER = Harga Pasar per Saham ÷ EPS
Langkah Perhitungan Detail:
1. Cari Harga Saham: Data real-time dari aplikasi trading
2. Hitung EPS: Laba Bersih ÷ Jumlah Saham Beredar
3. Bagi Harga dengan EPS: Hasilnya adalah angka PER
*Contoh Praktis*:
Perusahaan dengan:
- Laba bersih = Rp 5 triliun
- Saham beredar = 5 miliar lembar
- Harga saham = Rp 2.500
EPS = Rp 5T ÷ 5B = Rp 1.000
PER = Rp 2.500 ÷ Rp 1.000 = 2.5x
3️⃣ Jenis-Jenis PER dan Aplikasinya
*Trailing PER*:
· Data Historis: Menggunakan EPS 12 bulan terakhir
· Keunggulan: Berdasarkan kinerja aktual
· Keterbatasan: Tidak mencerminkan ekspektasi masa depan
*Forward PER*:
· Data Proyeksi: Estimasi EPS 12 bulan ke depan
· Keunggulan: Lebih dinamis dan forward-looking
· Sumber: Konsensus analis dan guidance perusahaan
4️⃣ Kelebihan dan Keterbatasan PER
*Kelebihan PER*:
· Simplicity: Mudah dipahami dan dihitung
· Availability: Data tersedia luas di platform trading
· Screening Tool: Efektif untuk filter awal saham
· Industry Relevance: Cocok untuk sektor dengan laba stabil
*Keterbatasan PER*:
· Perusahaan Rugi: Tidak bisa dihitung jika EPS negatif
· Perbedaan Sektor: Rata-rata PER bervariasi antar industri
· Ignoring Growth: Tidak memperhitungkan potensi pertumbuhan
· Short-term Sensitivity: Rentan terhadap fluktuasi laba jangka pendek
5️⃣ Aplikasi Praktis PER dalam Investasi
Implementasi nyata analisis PER untuk pengambilan keputusan:
*Menilai Kewajaran Harga*:
· Benchmarking: Bandingkan dengan rata-rata industri
· Contoh: PER 2.5x vs rata-rata industri 10x = potential undervalued
*Analisis Komparatif*:
· Peer Comparison: Bandingkan PER perusahaan dalam sektor sama
· Quality Check: Pastikan kualitas laba setara sebelum komparasi
*Mengukur Ekspektasi Pasar*:
· High PER Interpretation: Bisa mencerminkan ekspektasi growth tinggi
· Low PER Analysis: Mungkin menunjukkan pesimisme pasar atau masalah fundamental
6️⃣ Studi Kasus: Analisis PER Teknis
Analisis mendalam PER saham BBCA dan Apple:
**Studi Kasus BBCA**:
· Harga Saham: Rp 9,500
· EPS TTM: Rp 650
· PER Calculation: 14.6x
· Interpretasi: Dibanding rata-rata perbankan 10-15x = wajar
**Studi Kasus Apple (AAPL)**:
· Harga Saham: $150
· EPS: $6
· PER Calculation: 25x
· Interpretasi: Tinggi, tapi justified oleh pertumbuhan konsisten
7️⃣ Faktor Penentu Tingkat PER
*Faktor Perusahaan*:
· Growth Prospects: Tingkat pertumbuhan laba historis dan proyeksi
· Competitive Advantage: Moat bisnis dan positioning strategis
· Management Quality: Track record eksekusi tim manajemen
*Faktor Eksternal*:
· Sektor Industri: Karakteristik dan siklus bisnis
· Suku Bunga: Tingkat bunga bebas risiko sebagai benchmark
· Sentimen Pasar: Risk appetite investor secara makro
8️⃣ Strategi Investasi Berbasis PER
*Value Investing Approach*:
· Cigar Butt Strategy: Mencari saham PER rendah dengan margin of safety
· Contrarian Play: Bertentangan dengan sentimen pasar mainstream
*Growth Investing Strategy*:
· PEG Ratio Integration: PER ÷ Pertumbuhan EPS
· Quality Premium: Membayar PER tinggi untuk bisnis berkualitas
*Sector Rotation Strategy*:
· Cycle Analysis: Memanfaatkan siklus valuasi sektor
· Mean Reversion: Bermain dari PER rendah ke rata-rata historis
9️⃣ Risk Management dengan PER
*Red Flags Identification*:
· PER Extreme: Terlalu tinggi/tanpa justifikasi fundamental
· Earnings Quality Issue: PER rendah karena kualitas laba buruk
· Sector Disruption Risk: PER tidak mencerminkan risiko disrupsi
*Practical Implementation Guide*:
· 🔍 Data Collection: Kumpulkan data PER historis dan sektor
· 💰 Normalization: Sesuaikan untuk one-time items dan musiman
· 📊 Peer Comparison: Bandingkan dengan perusahaan sejenis
· ⏰ Timing Strategy: Entry point berdasarkan level PER relatif
· 🛡️ Diversification: Kombinasikan dengan metrik fundamental lain
🔟 Kesimpulan
PER adalah *alat valuasi yang powerful namun tidak sempurna*. Sebagai investor, kemampuan menganalisis tidak hanya angka PER, tetapi juga *konteks industri, kualitas earnings, dan ekspektasi pertumbuhan* di balik angka tersebut akan memberikan keunggulan kompetitif yang signifikan.
Ingat *PER hanyalah salah satu alat analisis* – kombinasikan dengan indikator lain seperti PBV, ROE, debt-to-equity, dan analisis prospek bisnis untuk mendapatkan gambaran utuh tentang kelayakan investasi suatu saham.
Semoga bermanfaat dan selamat berinvestasi! 🚀
Gabung di mancingsaham community untuk analisis market, stockpick pilihan, update berita saham, dan diskusi eksklusif dengan investor & trader lainnya. 📩 Bergabung sekarang! Klik https://cutt.ly/Dtmpo95l atau chat 081251880459 (WhatsApp).
$BBRI $BBCA $ANTM
1/10










Sebenarnya, makna saham gorengan dan non gorengan itu yg sperti apa guys? Karena saya liat bbrp minggu kebelakang berseliweran berantas saham gorengan..
Apakah $ADES dan DEWA itu gorengan karena tidak pernah bagi dividen?
Ataukah di 2017 $UNVR juga gorengan karena PER >50x, PBV >30x?
Ataukah harus beli $BBRI karena bisa bagi dividen dengan payout ratio >80% setiap tahunnya?
Anggaplah BBRI tidak gorengan, seorang newbie beli BBRI ditahun 2024 saat harganya 6000, apakah kita jadi menganggap newbie tersebut tidak tersesat?
Saya jujur bingung, kenapa investasi atau trading ini kesannya malah fokus dalam men “judge” cara berinvestasi orang lain ketimbang membahas literasi dari setiap POV orang orang yg berhasil cuan di bursa.
Bukankah tujuan kita sama? Mau trader investor atau apalah sebutannya…
Kita sama sama cari cuan kan? Kenapa harus cara cari cuan dipaksakan melalui 1 metode yg menurut bbrp orang itu paling benar dan paling tepat? Se tepat apa metode tersebut sampai kesannya orang lain cuan dengan cara lain itu artinya bodoh?
1/3



BREAKING NEWS DI HARI VALENTINE !
Semakin Kalian Takut , Semakin Asing Menyerok !, Saham-Saham Yang Fundamentalnya Kuat Seperti Dibawah Ini Punya Ch*nd*ng per 31 Januari 2026, $BUMI Emang Sudah Dilepasnya Menjadi 2%, Kenapa BBCA Semakin Turun Tidak Perlu Di Jelaskan , Mari Sharing Di Komentar Bawah !
$BMRI $BBRI

Aseng Lari dari IHSG?
Kemarin ada user Stockbit yang cerita tentang aseng yang lari dari IHSG 2 Triliun
Hal tersebut sudah saya bahas di postingan sebelumnya https://stockbit.com/post/28456757
Kalau kita lihat memang di 13 Februari 2026 itu aseng paling banyak exit dari $BBCA 1,3 Triliun
$BUMI 233 Milyar
$BBRI 97 Milyar
Rata-rata saham yang asengnya exit itu harganya anjlok seperti di BBCA BBRU GOTO TLKM ANTM BRPT SMGR EXCL AMMN INDF CUAN ARCI
Tapi ada yang anomali yakni BUMI INKP PTRO yang tetap ijo ketika aseng berbondong-bondong exit. Itu menunjukkan bahwa investor lokal lumayan kuat serap buangan aseng.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

IDXChannel – Sejumlah saham berkapitalisasi besar hingga lapis dua menjadi sasaran aksi jual investor asing dalam sepekan terakhir, di tengah volatilitas pasar yang masih dipengaruhi sentimen global dan isu peninjauan indeks.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Bank Central Asia ...

www.idxchannel.com

Bukan soal besar atau kecilnya profit, tapi soal konsisten dan disiplin risk management.
$BMRI $BBRI $BBNI
IDXChannel - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat terdapat dua pencatatan obligasi dan satu sukuk selama sepekan perdagangan periode 9–13 Februari 2026.
Dikutip dari data statistik BEI, Sabtu (14/2/2026), pada Kamis 12 Februari 2026, Obligasi Berkelanjutan I Hino Finance Indonesia Tahap II Tahun 20...

www.idxchannel.com
