BBRI

BBRI

ID flagID flag

Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

3,780

-10

(-0.26%)

Today

144.47 M

Volume

245.74 M

Avg volume

Company Background

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BBRI merupakan BUMN yang bergerak di bidang usaha perbankan, Bank terbesar di Segmen Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dengan layanan micro banking terbesar di Indonesia maupun di dunia, Selain fokus pada segmen UMKM, BRI juga terus mengembangkan berbagai produk consumer banking dan layanan institusional bagi masyarakat perkotaan. Melalui layanan e-banking yang didukung oleh 24.684 unit ATM serta 284.426 unit EDC yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, BRI bertekad untuk terus mendukung peningkatan efisiensi kegiatan perekonomian nasional sekaligus meningkatkan kenyamanan dan... Read More

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BBRI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

KABARBURSA.COM – Investor ritel mencatat akumulasi bersih Rp635,1 miliar sepanjang 9–13 Februari 2026. Nilai transaksi di pasar reguler mencapai Rp28,9 triliun, dengan total beli Rp14,8 triliun dan jual Rp14,2 triliun dalam lima hari perdagangan.
Dari angka tersebut, satu saham menonjol jelas. P...

www.kabarbursa.com

www.kabarbursa.com

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

@jazle uang dingin mah santai saja kawan..., kalau di saya minusnya di $BBCA ketutup $BBRI nah cuannya di $BMRI udah harga meroket dividen nya jumbo lagi

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

KABARBURSA.COM - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI melakukan kolaborasi strategis dengan FC Barcelona.
Kerja sama BRI dan FC Barcelona dimulai lewat gelaran BRI Barça Week yang berlangsung pada 13 hingga 15 Februari 2026 di Mall Kota Kasablanka, Jakarta.
Kolaborasi ini ditandai dengan...

www.kabarbursa.com

www.kabarbursa.com

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$DMAS daripada saham ini buat deviden, lebih worth it $BBRI $BMRI.

Harga saham selalu naik kearah utara, bukan cuma deviden trap.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Analisis Siklus Wyckoff dan Pergerakan Bandar

Siklus Wyckoff dan pergerakan bandar memang nyata. Namun, pembeda antara mereka yang benar-benar mengikuti pergerakan modal besar dengan mereka yang hanya menjadi umpan serta exit liquidity hanyalah satu hal: di fase mana mereka masuk.

1. Manipulasi Informasi dan Hierarki Berpikir

Saham yang tidak dipromosikan (pompom) oleh pembuat konten media sosial, ketua komunitas, atau kelas berbayar belum tentu sedang dalam fase akumulasi. Namun, saham yang sudah dipromosikan secara masif sudah pasti sedang dalam fase distribusi.

Bagaimana dengan brokermology? Esensinya sama, hanya berbeda pada tingkatan cara berpikir (order of thinking):

First Order Thinking: Dijerat menggunakan pompom media sosial.
Second Order Thinking: Dijerat menggunakan pola grafik (chart) dan tren volume.
Third Order Thinking: Dijerat dengan tampilan akumulasi broker (broksum) yang terlihat "cantik".
Fourth Order Thinking: Mereka yang mampu membaca kerangka waktu ganda (multiple timeframe). Apakah akumulasi broker besarnya hanya terjadi pada 1–2 bulan tertentu lalu sebelum-sebelumnya fluktuatif? Ataukah akumulasinya berlangsung konsisten dari kuartal ke kuartal, bahkan tahun ke tahun, dengan tren yang sangat landai dan halus?

Bandar memiliki jumlah dan ukuran yang beragam. Mereka tidak hanya menghindari deteksi investor ritel, tetapi juga berkompetisi dengan bandar lain. Oleh karena itu, muncul Fifth Order Thinking: akumulasi menggunakan broker ritel, lalu memberikan umpan menggunakan broker bermodal besar. Atau, pada saham yang baru melantai (IPO), mereka menampung barang melalui broker penjamin emisi (underwriter), lalu melakukan transfer barang melalui transaksi Free on Payment (FOP) ke broker ritel atau broker yang tidak mencolok (low profile), baru kemudian melakukan distribusi.

2. Psikologi Pasar dan Akumulasi

Saham yang mematahkan tren atau sedang dalam tren menurun belum tentu sedang diakumulasi. Namun, saham yang sedang dalam fase akumulasi sudah pasti—baik disengaja maupun tidak—diciptakan menjadi "neraka psikologis" bagi manusia normal.

Karakteristiknya meliputi: membosankan, tren menurun yang lambat (diiris tipis-tipis), serta fluktuasi yang membingungkan agar investor melepas aset di harga murah. Tidak akan ada aksi yang memberikan secercah harapan, seperti lonjakan volume (volume spike) atau penembusan harga (breakout).

Bagaimana cara mengetahui investor ritel sudah melepas barang? Melalui jumlah dan komposisi pemegang saham. Langkah BEI meningkatkan transparansi dari 9 menjadi 27 komposisi kepemilikan berimplikasi pada semakin banyaknya identitas tunggal investor (SID) yang perlu dipinjam oleh bandar untuk menyamarkan jejak mereka.

FAQ: "Tetapi, bukankah bandar masih menampung barang buangan ritel?"

Gunakan logika sederhana: memancing memerlukan modal. Baik itu modal uang untuk membeli umpan, atau modal waktu untuk mencari cacing. Modal tersebut dikorbankan demi mendapatkan hasil yang jauh lebih besar.

Modal untuk mendapatkan cacing tidak seberapa dibandingkan nilai ikan kakap yang diincar. Jika targetnya hanya ikan teri, mungkin mereka tidak membutuhkan umpan besar. Namun, jika targetnya adalah ikan kakap, pasti ada aset yang harus dikorbankan.

Jika bandar membiarkan modal sebesar Rp1 miliar tertahan di harga puncak, itu mungkin hanya 1% dari total modal Rp100 miliar. Jika Rp10 miliar yang tertahan, itu hanya 1% dari Rp1 triliun. Terlebih jika saham tersebut memiliki rasio P/E negatif dengan harga dua hingga tiga digit; hanya dengan "umpan kecil", banyak investor ritel yang akan terpancing.

Penutup

Kami tidak anti-bandar, tidak pula mengabaikan eksistensi mereka. Kami hanya ingin memanusiakan saudara-saudara kami yang masih rentan terhadap narasi instan. Jangan mudah tergiur dengan narasi: "Belajarlah dari mereka yang sukses dari nol," namun ujung-ujungnya hanya pamer kemewahan di media sosial.

$BBCA $BBRI $IHSG

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Analisis Siklus Wyckoff dan Pergerakan Bandar

Siklus Wyckoff dan pergerakan bandar memang nyata. Namun, pembeda antara mereka yang benar-benar mengikuti pergerakan modal besar dengan mereka yang hanya menjadi umpan serta exit liquidity hanyalah satu hal: di fase mana mereka masuk.

1. Manipulasi Informasi dan Hierarki Berpikir

Saham yang tidak dipromosikan (pompom) oleh pembuat konten media sosial, ketua komunitas, atau kelas berbayar belum tentu sedang dalam fase akumulasi. Namun, saham yang sudah dipromosikan secara masif sudah pasti sedang dalam fase distribusi.

Bagaimana dengan brokermology? Esensinya sama, hanya berbeda pada tingkatan cara berpikir (order of thinking):

First Order Thinking: Dijerat menggunakan pompom media sosial.
Second Order Thinking: Dijerat menggunakan pola grafik (chart) dan tren volume.
Third Order Thinking: Dijerat dengan tampilan akumulasi broker (broksum) yang terlihat "cantik".
Fourth Order Thinking: Mereka yang mampu membaca kerangka waktu ganda (multiple timeframe). Apakah akumulasi broker besarnya hanya terjadi pada 1–2 bulan tertentu lalu sebelum-sebelumnya fluktuatif? Ataukah akumulasinya berlangsung konsisten dari kuartal ke kuartal, bahkan tahun ke tahun, dengan tren yang sangat landai dan halus?

Bandar memiliki jumlah dan ukuran yang beragam. Mereka tidak hanya menghindari deteksi investor ritel, tetapi juga berkompetisi dengan bandar lain. Oleh karena itu, muncul Fifth Order Thinking: akumulasi menggunakan broker ritel, lalu memberikan umpan menggunakan broker bermodal besar. Atau, pada saham yang baru melantai (IPO), mereka menampung barang melalui broker penjamin emisi (underwriter), lalu melakukan transfer barang melalui transaksi Free on Payment (FOP) ke broker ritel atau broker yang tidak mencolok (low profile), baru kemudian melakukan distribusi.

2. Psikologi Pasar dan Akumulasi

Saham yang mematahkan tren atau sedang dalam tren menurun belum tentu sedang diakumulasi. Namun, saham yang sedang dalam fase akumulasi sudah pasti—baik disengaja maupun tidak—diciptakan menjadi "neraka psikologis" bagi manusia normal.

Karakteristiknya meliputi: membosankan, tren menurun yang lambat (diiris tipis-tipis), serta fluktuasi yang membingungkan agar investor melepas aset di harga murah. Tidak akan ada aksi yang memberikan secercah harapan, seperti lonjakan volume (volume spike) atau penembusan harga (breakout).

Bagaimana cara mengetahui investor ritel sudah melepas barang? Melalui jumlah dan komposisi pemegang saham. Langkah BEI meningkatkan transparansi dari 9 menjadi 27 komposisi kepemilikan berimplikasi pada semakin banyaknya identitas tunggal investor (SID) yang perlu dipinjam oleh bandar untuk menyamarkan jejak mereka.

FAQ: "Tetapi, bukankah bandar masih menampung barang buangan ritel?"

Gunakan logika sederhana: memancing memerlukan modal. Baik itu modal uang untuk membeli umpan, atau modal waktu untuk mencari cacing. Modal tersebut dikorbankan demi mendapatkan hasil yang jauh lebih besar.

Modal untuk mendapatkan cacing tidak seberapa dibandingkan nilai ikan kakap yang diincar. Jika targetnya hanya ikan teri, mungkin mereka tidak membutuhkan umpan besar. Namun, jika targetnya adalah ikan kakap, pasti ada aset yang harus dikorbankan.

Jika bandar membiarkan modal sebesar Rp1 miliar tertahan di harga puncak, itu mungkin hanya 1% dari total modal Rp100 miliar. Jika Rp10 miliar yang tertahan, itu hanya 1% dari Rp1 triliun. Terlebih jika saham tersebut memiliki rasio P/E negatif dengan harga dua hingga tiga digit; hanya dengan "umpan kecil", banyak investor ritel yang akan terpancing.

Penutup

Kami tidak anti-bandar, tidak pula mengabaikan eksistensi mereka. Kami hanya ingin memanusiakan saudara-saudara kami yang masih rentan terhadap narasi instan. Jangan mudah tergiur dengan narasi: "Belajarlah dari mereka yang sukses dari nol," namun ujung-ujungnya hanya pamer kemewahan di media sosial.

$BBCA $BBRI $KLBF

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$GIAA Jadi holding penerbangan,pelita air masuk, Right Issuenya kapan?
Bisalah 200 ini
Target lanjut serok kalau turun sampai 70
Gambar hanyalah pemanis
$GMFI $BBRI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Ada "Kartu Kuning" dari MSCI buat pasar modal kita? ⚠️

​Masalah free float dan transparansi kepemilikan saham di atas 1% lagi jadi sorotan utama. Kalau kita nggak berbenah, risiko eksodus modal asing itu nyata. Tapi tenang, BEI sudah nyiapin langkah reformasi besar-besaran.
​Cek apakah saham di portofolio kalian aman dari sentimen ini:
https://cutt.ly/3tmblwwS

$BBCA $BBRI $BMRI

Hiiiiiii
Liat, ada banyak sekali ide, gagasan, dan semangat perubahan yg saya sampaikan, bahkan a way of thinking, yg skg Prabowo lakukan.
Gw berharap Prabowo segera menyadari bahwa BUMN yg TBK harus segera berorientasi profit.
Balikkan kejayaan $SMGR . Ciptakan semen subsidi. Bantu rakyat dari bencana alam.
Kalau kalian kasih cuan ke konglo hasilnya hanya akan manipulasi laporan keuangan utk menghindari pajak, larinya kekayaan megara utk membeli dolar dan aset di luar negeri.

AMBIL ALIH TAMBANG EMAS NIKEL DAN MINERAL RARE DARI KONGLO!!!! Walau ijin mereka benar, tapi itu tetap harus disita berdasarkan UNDANG2. Tapi Negara wajib bayar ganti rugi utk alat dan biaya explorasi!!!!!


So, ayo bangkit utk Indonesia sejahtera.
Indonesia bkn milik konglomerat yg menyetir politik Indonesia.
God Bless Indonesia.

$BBRI
$ANTM

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

https://cutt.ly/mtmvMGTS

Bagi yang jago hitung, coba hitungkan kalau bigbanks kita NIM nya dipaksa turun, apa yang akan terjadi.

Jangan ada yang bilang bahwa hal yang mustahil menurunkan NIM bank kita.

$BBCA$BMRI$BBRI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

KABARBURSA.COM – Tiga broker dengan nilai transaksi terbesar pada perdagangan Jumat, 13 Februari 2026 mencatat arah dana yang berbeda.
Data top broker menunjukkan Stockbit Sekuritas Digital (XL), UBS Sekuritas Indonesia (AK), dan Mandiri Sekuritas (CC) mendominasi aktivitas pasar reguler pada hari...

www.kabarbursa.com

www.kabarbursa.com

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BBRI itu tombol dollar di bawah buat apaan si gunanya

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

KABARBURSA.COM - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan total emisi obligasi dan sukuk yang telah tercatat sepanjang tahun 2026 sebanyak 19 emisi dari 13 emiten dengan nilai Rp14,56 triliun.
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan total emisi obligasi dan sukuk yang tercat...

www.kabarbursa.com

www.kabarbursa.com

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

@Masbrill Bisnis bank itu kan membiayai perekonomian negara. $BBCA sih persh bagus, namun kalo ekonomi lagi loyo bagaimana kredit bisa tumbuh kencang? Yg ada malah byk kredit macet.
Sentimen pasar saham jg netral (tidak bullish maupun bearish).

$BBRI $BMRI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$HMSP apa yg akan terjadi terhadap harga saham HMSP jika FF 15% diberlakukan, apakah philip morris menjual sebagian atau emiten HMSP go private atau bagaimana ?
apakah nanti harganya bisa terjun ?
apakah harganya bisa 🚀🚀🚀 ?

colek : $BBRI $BBNI

𝐒𝐭𝐮𝐝𝐢 𝐊𝐚𝐬𝐮𝐬 𝐊𝐨𝐦𝐛𝐢𝐧𝐚𝐬𝐢 𝐅𝐮𝐧𝐝𝐚𝐦𝐞𝐧𝐭𝐚𝐥 + 𝐄𝐥𝐥𝐢𝐨𝐭𝐭 𝐖𝐚𝐯𝐞 | 𝐀𝐫𝐭𝐢𝐤𝐞𝐥 𝐤𝐞-4 𝐝𝐚𝐫𝐢 “𝐌𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐛𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐄𝐥𝐥𝐢𝐨𝐭𝐭 𝐖𝐚𝐯𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐀𝐧𝐚𝐥𝐢𝐬𝐚 𝐅𝐮𝐧𝐝𝐚𝐦𝐞𝐧𝐭𝐚𝐥”

Setelah memahami kelemahan analisa fundamental dan bagaimana Elliott Wave Analysis (EWA) mampu menutupinya, kini saatnya melihat bagaimana keduanya bekerja bersama dalam praktik nyata.

Studi kasus ini akan menunjukkan bahwa kombinasi analisa fundamental dan EWA bukan hanya teori, tetapi strategi yang bisa membantu trader menghindari jebakan “false signal” dan membuat keputusan lebih matang.

𝐂𝐨𝐧𝐭𝐨𝐡 𝐊𝐚𝐬𝐮𝐬: 𝐈𝐧𝐟𝐥𝐚𝐬𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐈𝐇𝐒𝐆 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐅𝐚𝐬𝐞 𝐖𝐚𝐯𝐞 𝐊𝐨𝐫𝐞𝐤𝐭𝐢𝐟

Bayangkan sebuah skenario di mana Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi bulanan. Secara fundamental, inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi biasanya menimbulkan kekhawatiran akan kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia. Hal ini bisa menekan IHSG karena investor khawatir biaya pinjaman meningkat dan pertumbuhan ekonomi melambat.

Namun, jika kita melihat chart $IHSG dengan pendekatan EWA, ternyata indeks sedang berada di wave korektif (A-B-C) setelah kenaikan impulsif sebelumnya. Artinya, meski fundamental memberi sinyal negatif, pasar sebenarnya sedang dalam fase konsolidasi yang wajar.

Trader yang hanya mengandalkan fundamental bisa panik dan menjual terlalu cepat, sementara trader yang menggabungkan EWA akan melihat bahwa koreksi ini adalah bagian dari siklus normal sebelum tren naik berlanjut.

𝐌𝐞𝐧𝐠𝐡𝐢𝐧𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐅𝐚𝐥𝐬𝐞 𝐒𝐢𝐠𝐧𝐚𝐥 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐊𝐨𝐦𝐛𝐢𝐧𝐚𝐬𝐢 𝐀𝐧𝐚𝐥𝐢𝐬𝐚

False signal sering muncul ketika pasar bereaksi berlawanan dengan data. Misalnya, inflasi tinggi justru direspons dengan penguatan IHSG karena investor menilai tekanan inflasi masih terkendali dan ekspektasi suku bunga tidak berubah drastis. Trader fundamental bisa kebingungan menghadapi anomali ini.

Dengan EWA, trader punya kerangka tambahan: apakah IHSG sedang di wave ke-5 yang biasanya lebih pendek karena profit-taking, atau di wave ke-2 yang sering menjadi retracement sehat sebelum tren berlanjut. Kombinasi ini membantu trader menyaring sinyal fundamental dengan struktur teknikal, sehingga keputusan lebih seimbang antara “cerita ekonomi” dan “psikologi pasar”.

𝐒𝐢𝐦𝐮𝐥𝐚𝐬𝐢 𝐒𝐞𝐝𝐞𝐫𝐡𝐚𝐧𝐚: 𝐊𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐁𝐞𝐥𝐢/𝐉𝐮𝐚𝐥 𝐒𝐚𝐡𝐚𝐦 𝐓𝐞𝐫𝐤𝐚𝐢𝐭 𝐈𝐧𝐟𝐥𝐚𝐬𝐢

Mari kita buat simulasi sederhana:
• Fundamental: Inflasi naik → potensi tekanan pada sektor perbankan dan properti, karena ekspektasi suku bunga lebih tinggi.
• EWA: Chart saham perbankan besar (misalnya $BBRI atau BMRI) menunjukkan harga sedang berada di wave ke-2 korektif.

Dalam kasus ini, trader bisa menunggu wave ke-2 selesai dan entry di awal wave ke-3, yang biasanya paling panjang dan kuat. Hasilnya, trader tidak hanya mengikuti arah fundamental (yang memberi sinyal tekanan jangka pendek), tetapi juga memanfaatkan timing teknikal untuk entry di momentum yang lebih optimal.

Sebaliknya, jika fundamental memberi sinyal positif (misalnya inflasi rendah → potensi penguatan daya beli, mendukung saham consumer goods seperti $UNVR atau ICBP), tetapi chart menunjukkan harga sudah di wave ke-5, trader bisa lebih hati-hati. Wave ke-5 sering kali menjadi akhir tren, sehingga risiko masuk di titik jenuh lebih besar.

Kombinasi fundamental dan EWA membantu trader menghindari keputusan yang terlalu terburu-buru.

𝐏𝐞𝐧𝐮𝐭𝐮𝐩

Studi kasus IHSG ini menunjukkan bahwa analisa fundamental dan EWA bukanlah dua pendekatan yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Fundamental memberi arah besar berdasarkan kondisi ekonomi, sementara EWA memberi detail timing dan level harga. Dengan menggabungkan keduanya, trader bisa menghindari false signal, masuk di momentum yang tepat, dan keluar sebelum tren berbalik.

Di artikel berikutnya, kita akan menyusun Checklist Praktis untuk Trader: langkah-langkah konkret menggabungkan fundamental dan EWA, tools yang bisa digunakan, serta strategi risk management agar kombinasi ini benar-benar bisa diterapkan dalam aktivitas trading sehari-hari.

6 𝐭𝐚𝐡𝐮𝐧 𝐆𝐫𝐨𝐮𝐩 𝐭𝐫𝐚𝐝𝐢𝐧𝐠 𝐖𝐚𝐯𝐞𝐭𝐢𝐠𝐚
𝑻𝒓𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈 𝒅𝒂𝒏 𝒕𝒖𝒎𝒃𝒖𝒉 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒌𝒂𝒎𝒊

https://cutt.ly/ftmcOlI5

Read more...

MASIH ANALISA PAKE CARA PURBA? 📉🔥
​Di market, siapa yang punya Tools lebih canggih, dia yang menang. Lo sibuk nyari Indikator Holy Grail, tapi lo lupa kalau di era digital, Visual itu Psikologi.

​Liat foto-foto di bawah. Semuanya buatan AI.
Dari foto "Old Money" Jakarta (buat branding lo sebagai trader sukses), sampai konsep futuristik yang bikin konten analisa lo kelihatan kayak buatan institusi besar.
​Edukasi buat lo yang masih anggep AI cuma mainan:

Dalam trading, Execution adalah segalanya. Sama kayak AI. Hasil AI lo ampas bukan karena AI-nya bego, tapi karena Prompt (Instruksi) lo yang nggak presisi.
​Lo nggak bisa cuan maksimal kalau cuma modal Feeling. Begitu juga di AI:
​Precision matters: Salah satu kata aja di prompt, hasilnya False Breakout.
​Context is King: Nggak tahu cara set ambience, hasil visual lo cuma sideways—nggak ada harganya.

​Dunia udah berubah. Trader yang pinter itu yang bisa delegasiin kerjaan visualnya ke AI biar waktunya fokus di depan chart.
​Gua udah rapiin AI PROMPT ENGINE—ini Trading Plan versi visual. Isinya formula paten buat bikin aset visual kelas kakap tanpa perlu sewa desainer mahal. Biaya sewa desainer bisa lo pake buat nambahin margin trading lo!

​Jangan cuma jago baca chart, tapi buta teknologi.
​Ambil Edge lo sekarang sebelum market (kompetitor konten lo) makin jenuh.

Analisa boleh salah, tapi penampilan konten jangan ampas. Sikat!

$BBRI $BRMS $JPFA

Read more...

1/8

testestestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Q1/26 ada satu aturan yang kemungkinan besar nantinya dapat menjadi katalis positif untuk Bank Himbara alias Bank BUMN.

Apa itu?

Yakni revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025 terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE) SDA. Nantinya, DHE SDA diwajibkan untuk disimpan di Bank Himbara saja pada kurun waktu tertentu. Bisa dilihat Bank Himbara yang kemungkinan paling diuntungkan adalah $BMRI.

$BBNI $BBRI

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Ngeri king $BBRI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

minggu ke dua di bulan Februari
$BBRI
$IHSG
$PANI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BBCA mau menguji 6.375 ya?
$BBRI $BBNI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Bagaimana valuasi saham PART 3:
https://cutt.ly/utmg6ILm

$BBRI $BBCA $BUMI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

@skydrugz27 klo beli $BBRI di 6,275 berarti blm pucuk2 bgt ya bang🤔 ??

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Terakhir Kali $BBRI Berhasil Di Atas 6000 Terjadi di 1 April 2024

Dan sampai sekarang 14 Februari 2026, BBRI tidak pernah lagi menyentuh harga 6000.

Kalau ada investor yang haka all in di harga lebih dari 6000 itu artinya mereka sudah Nyangkut berapa lama kalau tidak ada average down sama sekali?

Itu artinya nyangkut sekitar 684 hari. Itu setara dengan 1 tahun 10 bulan 13 hari, atau sekitar 1,87 tahun.

Hampir 2 tahun Nyangkut. Apalagi kalau belinya di all time high 6450 di Maret 2024 maka itu artinya lebih lama lagi nyangkut nya.

Saham yang isi saham publik nya mayoritas didominasi investor aseng memang sulit sih naiknya kalau majikan mereka di luar negeri bilang sell all.

Beda dengan saham yang bandarnya didominasi bandar lokal. Bandar lokal cenderung tidak peduli sama sentimen luar negeri. Bahkan ketika sahamnya kena sanksi OJK karena kasus manipulasi IPO pun harga sahamnya bisa tetap terbang seperti pada case $PIPA dan $REAL

Bandar lokal itu tidak takut pada apapun. Beda dengan bandar aseng yang dikit dikit takut, dikit dikit takut. 🗿

Jadi kalau investor aseng sudah exit semua dari bursa Indonesia, berarti harapan investor ritel adalah bandar lokal saja.😌

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/9

testestestestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

DPR Trend 10 tahun $BBRI $BBCA $BMRI...
Bri dan Mandiri sama2x pernah Trend patah DPR nya...

@sai123m bagus sekali
Di Indonesia saat ini hingga awal 2026, retail investor belum bisa melakukan short selling di pasar saham secara resmi.
Peraturan dan implementasi short selling masih ditunda oleh regulator sampai setidaknya 17 Maret 2026.


BEI menunda penerapan fasilitas short selling (termasuk pembiayaan dan transaksi) hingga 17 Maret 2026.
Karena itu, BEI tidak menerbitkan Daftar Efek Short Selling sampai tanggal itu, artinya belum ada saham yang bisa ‘dijadikan short’ secara formal. Regulasi ini berlaku untuk semua pelaku (termasuk retail) — sehingga retail sampai saat ini belum bisa short sell di BEI karena fasilitasnya belum aktif.

Rencana penerapan short selling di Indonesia sudah dibicarakan sejak 2024 dan sempat dijadwalkan aktif akhir 2025, namun selalu ditunda berkali-kali karena kondisi pasar dan pertimbangan regulator.

Jadi sampai setidaknya Maret 2026, meskipun ada regulasi yang diarahkan, retail belum bisa melakukan short sell karena fasilitas teknis dan daftar sahamnya belum tersedia.


Tetapi.. kenyataannya
Investor asing:
Punya inventory saham besar
Bisa jual kapan pun
Tidak butuh izin khusus untuk jual kepemilikan mereka sendiri

Kepemilikan Asing di BEI (per data 2025)
Investor asing mempunyai sekitar 45,9% dari total nilai kepemilikan saham di pasar modal Indonesia (nilai pasar saham secara keseluruhan).
Saham Big Cap


Ini juga berlaku untuk
Broker / institusi besar lokal:
Mereka Punya inventory proprietary (pemegang saham mayoritas)
Bisa distribusi pelan
Bisa hedging lintas market (index, futures, offshore)
Retail & broker lokal kecil:
Inventory terbatas
Tidak punya struktur lindung nilai
Risiko ke compliance tinggi

Tapi kok asing kayak jual rugi?

Ini yang bikin ilusi.
Contoh:
Asing beli $BBCA di avg Rp 4.000 (bertahun-tahun lalu)
Sekarang jual di Rp 7.000

Retail lihat: beli di atas "
“Kok jual pas turun? Rugi dong?”
Padahal:
Mereka tetap untung besar
Cost basis mereka jauh di bawah
Yang terlihat cuma transaksi hari ini, bukan sejarah posisi

Kita tidak bisa melihat dari susut pandang ritel tapi harus dari sudut pandang institusi Yang Mengendalikan harga $BMRI $BBRI

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Masih percaya $BBRI? AWOKWOKW

wajar dan normal kalau seseoarang kecewa karena dividen tak seperti ekspektasi.
bukan karena memperlakukan seperti slip gaji dll.

wajar karena faktor manusia.

sebagai investor nglotokpun, anggap mikir bak inpestor beneran, menggap emitennya seperti "miliknya" , ya memang begitu kan arti kepemilikan saham ?
anggap begitu,
maka artinya mikirnya pasti bisnis, usaha

semua orang usaha, normal dan wajar MEMILIKI ekpektasi dividen dari usahanya, apapun usaha yang di miliki, mulai dari pecel lele sampai perusahaan bursa .

sebagai manusia biasa, ya wajar ada rasa kecewa ketika sesuatu hal tak sesuai ekspektasi.

bagaimana menyikapi rasa kecewa , itu ya hal lain lagi.

$IHSG
$BTC
$BBRI

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

KABARBURSA.COM – Aksi broker asing UBS Sekuritas Indonesia (AK) pada perdagangan Jumat, 13 Februari 2026 menunjukkan rotasi dana yang kontras. AK mencatat pembelian besar pada saham energi dan komoditas, namun secara bersamaan melepas saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.
Data top broker me...

www.kabarbursa.com

www.kabarbursa.com

2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy