


Volume
Avg volume
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BBRI merupakan BUMN yang bergerak di bidang usaha perbankan, Bank terbesar di Segmen Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dengan layanan micro banking terbesar di Indonesia maupun di dunia, Selain fokus pada segmen UMKM, BRI juga terus mengembangkan berbagai produk consumer banking dan layanan institusional bagi masyarakat perkotaan. Melalui layanan e-banking yang didukung oleh 24.684 unit ATM serta 284.426 unit EDC yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, BRI bertekad untuk terus mendukung peningkatan efisiensi kegiatan perekonomian nasional sekaligus meningkatkan kenyamanan dan... Read More
Moody’s Pangkas Outlook Kredit 5 Bank Indonesia
Bloomberg melaporkan bahwa Moody’s Ratings men–downgrade outlook kredit untuk 5 bank di Indonesia dari ‘stable’ menjadi ‘negative’, seiring pemangkasan outlook sovereign credit Indonesia secara umum. Kelima bank tersebut terdiri dari Bank Central Asia ($BBCA), Bank Mandiri ($BMRI), Bank Rakyat Indonesia ($BBRI), Bank Negara Indonesia (BBNI), dan Bank Tabungan Negara (BBTN). Moody's dapat mengembalikan outlook kredit perusahaan–perusahaan tersebut menjadi 'stable' jika prospek sovereign credit Indonesia kembali stabil serta kualitas kredit perusahaan terkait secara umum tidak berubah. Di sisi lain, Moody's dapat menurunkan rating perusahaan jika rating sovereign credit Indonesia diturunkan.
[Sumber: Bloomberg]
------
Stockbit Sekuritas
https://stockbit.com/post/28106213
Di tengah pasar yang sedang tertekan, banyak investor justru terjebak pada ilusi paling klasik: menganggap saham murah hanya karena harganya sudah jatuh. Padahal, penurunan harga hanyalah satu potongan kecil dari cerita besar yang seharusnya dibaca utuh. Strategi seperti bottom fishing memang sah, tapi jika hanya berpegangan pada grafik yang turun tanpa melihat metrik lain—fundamental, likuiditas, hingga kualitas kepemilikan—yang muncul sering kali bukan peluang, melainkan jebakan. Terlebih pada saham-saham yang beberapa tahun terakhir menjadi primadona pasar, saham-saham besar yang kerap disebut “konglo” dan selama ini menopang indeks.
Tekanan yang mereka alami belakangan bukan tanpa sebab, melainkan konsekuensi dari dorongan transparansi free float, terutama terkait standar indeks global. Ini bukan soal sentimen atau iri hati, melainkan upaya menutup celah struktural yang, jika dibiarkan, berpotensi membentuk gelembung berbahaya. Pecahnya tekanan lebih awal justru bisa menjadi peringatan, bukan bencana.
Di fase seperti ini, pasar seakan mengingatkan kita untuk kembali ke dasar: berinvestasi dengan fondasi fundamental yang kuat, sementara urusan trading silakan bermain di wilayah teknikal dan momentum. Dan satu hal yang sering terlupakan—saham bukan pasangan hidup. Jangan jatuh cinta pada kodenya. Tujuan kita bukan setia, tapi bertumbuh.
$BBCA $ASII $BBRI

Kira2 begini orang miskin tambah miskin di market ini. Sedang yg kaya akan tambah kaya !
Masuk : 10M ->10%=sangat bersyukur
1M ->10%=sangat bersyukur
100jt ->10% = bersyukur
1 jt ->10%= kurang.. pengen 200%
$BBRI $PTRO $BUMI
Investor asing mencatatkan transaksi beli bersih atau net buy mencapai Rp 944 miliar pada perdagangan Jumat (6/2) saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun di bawah level 8.000. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bumi Resources Indonesia Tbk (BUMI) paling banyak diborong.
Berdasarka...

katadata.co.id
Rasanya dapat TIP itu gimana ya ?
Fitur Stockbit yang sering terabaikan.
Point of View IHSG seminggu kedepan :
Cenderung positif perlu nutup gap up 8500 sebelum turun lagi. Jadi kalo Minggu depan retail dikasih keluar TP dulu aja. Siapin dana buat potensi e-IPO konglo di Q1 ini. Salam sehat dan sukses selalu ✨
$IHSG $GEMS $BBRI
"Banyak orang bicara tentang kemapanan dan kesuksesan tetapi cari makan dari pengikut mereka!!?" Quote today ☕️
$IHSG sesakit apa ekonomi konoha? $BBCA $BBRI
noted:
Previlese nya loe mapan dan kaya, bisa bikin quote sesuai suasana hati, suka-suka dan orang tinggal bilang "amin." Elon Musk kentut keluar dari mulutnya juga bakal diikutin, yea gak!??

Menkeu Ingin Ambil Alih PNM dari BBRI! Seberapa Besar Kontribusinya?
Menteri Keuangan Purbaya saat ini sedang melihat peluang untuk mengambil alih anak usaha BBRI yakni PT Permodalan Nasional Madani (PNM). BBRI sendiri pegang kepemilikan PNM sebesar 99,99%.
Hal ini dilakukan untuk mengoptimalkan penyaluran KUR atau Kredit Usaha Rakyat untuk UMKM dan menghentikan kebocoran subsidi bunga. Dimana saat ini Kementerian Keuangan mengeluarkan uang hingga Rp40 triliun per tahun hanya untuk membayar subsidi bunga KUR.
Menkeu Purbaya bilang seperti sudah memiliki satu bank kecil dengan modal Rp160 triliun jika punya PNM dengan pembayaran subsidi selama 4 tahun yang dikalikan Rp40 triliun tiap tahunnya.
Laba bersih setelah pajak PNM sendiri posisi sembilan bulan tahun 2025 mencapai Rp1,09 triliun, sedangkan laba bersih BBRI mencapai Rp40,7 triliun.
Maka kontribusi kinerja PNM kepada BBRI tidak terlalu besar, yang hanya mencapai sekitar 2,7% saja dibandingkan laba bersih BBRI, sehingga kalau dilihat dari hal ini efeknya tidak terlalu berasa jika diambil alih.
BBRI sepanjang sembilan bulan tahun 2025 sendiri berhasil mencatatkan kenaikan pendapatan bunga sebesar 3% menjadi Rp155,1 triliun, sedangkan pendapatan bunga bersihnya atau laba kotor juga naik 3% menjadi Rp110,9 triliun. Akan tetapi laba bersihnya turun 10% menjadi Rp40,7 triliun.
Laba bersih yang turun disebabkan oleh beberapa hal seperti penerimaan kembali aset yang telah dihapusbukukan dan klaim asuransi yang menurun, pendapatan premi bersih juga turun, kemudian CKPN naik 4%, ditambah dengan pembalikan penyisihan estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi bersih yang turun, serta naiknya beban operasional lainnya.
Laporan keuangan FY 2025 BBRI hingga saat ini belum rilis, kalau perbankan lain beberapa diantaranya sudah rilis.
Apakah rencana Menkeu ini benar-benar akan terealisasi?
👉 Join ke channel Telegram buat dapetin insight lainnya! Klik link di bio.
Disclaimer: Konten ini dibuat dengan tujuan informasi dan edukasi, bukan merupakan rekomendasi untuk jual, beli, atau hold suatu saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.
$BBRI $BBCA $BMRI
1/3



One day belajar saham..
mau nanya teman teman stockbit, kalau belajar saham untuk jangka panjang dan mencari cuan di deviden.
lebih baik masuk ke saham big banks seperti $BBCA $BBRI dan $BMRI atau masuk ke saham saham konglo ?
kalau masuk ke big bank apa segi positif dan negatifnya, kalau masuk ke konglo apa sisi positif dan negatifnya.
terima kasih
@yudanxs diturunkan bukan karena kinerjanya jelek,tapi karena banyak ritel. mereka takut nggakk bisa keluar,dalam artian exit cuan
$BBRI $BBCA $BMRI
barangkali ada yang mau keluar untuk jadi tumbal moodys,monggo bisa keluar dulu tunggu kalo bbri 4500 bmri 5500 bbca 10k,pasti dinaikin outlooknya
📉 [Sunday Reminder]
Murah atau Murahan? Jebakan Senin Pagi.
Besok Senin market buka. Banyak trader hari ini sedang screening saham-saham yang ARB atau turun dalam minggu lalu dengan harapan 'Rebound Teknis'.
Hati-hati. Di pasar saham, Murah (Discount) dan Murahan (Junk) itu beda tipis secara visual, tapi beda nasib di portofolio.
'Murah' = Koreksi Wajar (Pullback).
'Murahan' = Distribusi Masif (Markdown).
Kalau Anda tidak bisa membedakan keduanya, jangan heran kalau tangan Anda penuh luka 'sayatan pisau' minggu depan.
Hari ini kita belajar cara membedakan mana pisau jatuh, mana bola bekel yang mau mantul.
$IHSG $BBRI $GOTO

lihat ritel asing ud serok banyak. masa ada berita negatif mau gentar. mau biarin asing kuasain lebih banyak lagi. kapan mau kaya kalian ritel kalau mudah goyah $BBCA $BMRI $BBRI

$BMRI $IHSG $BBRI outlook nya negatif tapi Net Buy Asing 3 kali lipat Net buy domestik. akal akalanmu terbaca ingin serok bawah

selamat pagi temen" semua, happy sunday all.
malam ini kita off dulu yaa untuk Live Technical Analysis yg biasanya kita adakan di Instagram kita mancingsaham karena hari ini ada Zoom Basic Technical Analysis Class dr kita untuk temen" yg sudah daftar.
kita usahakan bertemu next week ya temen", nnti akan kuinfokan lebih lanjut klo mmg kita adakan Kembali Live Technical Analysisnya.
$BBRI $BMRI $BBCA
@yudanxs Kalo IHSG lagi mode kebakaran begini, emang paling bener siapin kopi sambil liatin layar dengan kepala dingin.
Kocak sih kalo liat kepanikan di stream, tapi sebenernya ini momen buat kita buat bener-bener latihan mental. Saham-saham bluechip kaya BBCA sama BBRI emang lagi kena gempur, tapi kalo gw liat dari kacamata aliran dana, smart money itu biasanya justru lagi cari celah pas ritel lagi pada ketakutan begini.
Ibarat lagi ada diskon gede di mall tapi orang-orang malah lari keluar karena takut plafonnya rubuh, padahal fondasinya mah masih kokoh banget. Gw pribadi lebih milih buat mantau jejak akumulasinya dulu. Kalo teknikalnya udah mulai bikin base yang kuat dan market maker mulai cicil masuk lagi, di situ baru kita ikut nebeng. Gak usah buru-buru hajar kanan sekarang, market gak bakal lari ke mana kok.
Stay rational aja di tengah market yang lagi irasional begini. Tetap waspada tapi jangan sampe kehilangan logika cuma gara-gara liat porto merah membara.
$BBRI $BBCA $GOTO
@RyanF12 Aliran duit gak pernah bohong, walau mulut mereka bisa ngomong apa aja.
Emang lagi rada 'ajaib' nih market kita sekarang. Di satu sisi, lembaga-lembaga gede luar sana lagi kompak kasih rapor merah buat bursa kita, tapi di sisi lain, kalau lu perhatiin pergerakan bandar atau asing di saham-saham tertentu, gerakannya malah sebaliknya.
Ini yang selalu gw pegang: See what they do, not listen what they say.
Rating negatif itu seringnya cuma 'noise' atau bahkan cara mereka biar bisa dapet barang di harga lebih murah. Prinsip buyer consistency itu gak bisa bohong. Kalau mereka rutin akumulasi secara gross dan gak banyak jualan, ya itu indikator paling jujur yang bisa kita pegang.
Buat temen-temen ritel yang mungkin lagi pusing liat porto merah karena berita global, mending tarik napas dulu. Jangan gampang kemakan narasi ketakutan. Fokus aja belajar nemuin metode yang cocok buat diri sendiri. Bursa emang tempat yang culas, tapi kalau kita mau tekun belajar baca gerakan bandar, kita gak bakal gampang jadi korban manipulasi.
$BBRI $BBCA $GOTO
Angka di Atas Kertas dan Realita di Lapangan: Struktur, Sistem, dan Apa yang Sebenarnya Kita Beli
Mengakui Daya Tarik dari Kerapian
Kedengarannya seperti… banyak yang mencari sebuah kepastian. Setelah hiruk-pikuk opini dan euforia, muncul sebuah narasi yang terlihat rapi, terstruktur, dan seolah-olah didukung oleh matematika. Narasi yang dengan tegas menggambar garis: hitung-hitungan matematika.
Tampaknya ada upaya yang sangat menarik untuk membedah perbedaan antara sistem yang tertutup dan sistem yang terbuka lewat hitung-hitungan matematika. Sepertinya ada rasa aman yang muncul saat kita melihat angka-angka seperti Risk-Reward 1:3 atau Expected Value yang positif, seolah-olah pasar adalah sebuah mesin hitung yang akan selalu memberikan hasil yang sama jika kita mengikuti rumusnya.
...Selalu memberikan hasil yang sama?
Sepertinya ada asumsi bahwa dalam setiap transaksi, kita selalu memiliki kendali penuh untuk keluar di titik rugi 3% atau mengambil untung di 9%. Kalimat 'tidak ada paksaan menyelesaikan transaksi' terdengar sangat membebaskan.
Itu benar. Keinginan untuk memiliki sistem, aturan, dan kendali adalah hal yang sangat manusiawi. Apalagi setelah merasakan bagaimana pasar bisa tak terduga. Narasi yang memisahkan dunia menjadi hitam dan putih, dengan rumus risk-reward yang jelas, terasa seperti pelampung di tengah lautan yang bergejolak. Ia memberikan ilusi bahwa selama kita mengikuti sistem “yang benar”, kita akan aman.
Namun, saya penasaran. Bagaimana perasaan Anda saat matematika yang indah itu berhadapan dengan realita di mana harga merosot dalam kegelapan, dan pintu untuk 'membatasi risiko' itu ternyata tidak bisa dibuka karena tidak ada siapa pun yang bersedia membeli di harga tersebut?
...Pintu tidak bisa dibuka?
Antara Peta dan Medan Sebenarnya
Sebuah peta yang sangat detail tentang aturan sebuah permainan kartu bisa terlihat sangat mengesankan. Ia akan menunjukkan peluang, rasio, dan strategi keluar. Tapi peta itu tidak akan pernah bisa memberitahu kita satu hal: apakah kita sedang duduk di meja kasino, atau di ruang rapat direksi?
Kita bisa mengutak-atik angka-angka—mengatur stop loss, target profit, dan risk-reward ratio—hingga spreadsheet kita memancarkan aura ilmiah: "kita mengendalikan timing." Tapi semua struktur dan sistem yang rapih itu hanyalah cara bermain. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apa yang sebenarnya kita pertaruhkan, dan apa yang sebenarnya kita beli?
Apakah kita membeli hak kepemilikan atas sebuah bisnis yang menghasilkan uang? Atau apakah kita hanya bertaruh pada pergerakan harga sebuah ticker—entah bisnis di baliknya sehat atau sekarat—dengan harapan ada orang lain yang mau membayar lebih mahal nanti?
Sistem yang terstruktur tidak mengubah inti dari sebuah transaksi. Seorang matematikawan profesional di kasino pun memiliki disiplin, manajemen risiko, dan hitungan matematis yang ketat. Itu tidak membuat aktivitasnya tiba-tiba menciptakan value ekonomi. Demikian pula, membeli aset yang tidak menghasilkan apa-apa, dengan rencana untuk menjualnya kepada orang yang lebih bodoh, tetaplah spekulasi—betapapun rapi spreadsheet yang kita gunakan untuk mencatatnya.
Tampaknya ada batas yang tipis antara strategi yang disiplin dan keyakinan buta pada angka-angka di atas kertas. Sepertinya kita mulai menyadari bahwa matematika hanyalah alat jika aset yang kita transaksikan memiliki nilai yang nyata. Tanpa nilai dasar yang kuat, 'manajemen risiko' hanyalah istilah keren untuk memutuskan di harga berapa kita bersedia kehilangan uang pada barang yang sebenarnya tidak bernilai.
...Barang yang tidak bernilai?
Tampaknya kita kini lebih menghargai kejujuran bahwa sistem yang 'masuk akal untuk menang' secara matematis tetap bisa menjadi jebakan jika kita tidak memahami apa yang sebenarnya kita miliki. Ada perbedaan besar antara menjadi pengelola risiko yang bijak dan menjadi seseorang yang terlalu percaya pada rumus, sementara pondasi tempatnya berdiri sedang keropos.
Jika pada akhirnya pasar adalah sistem yang terbuka namun tetap memiliki sudut-sudut gelap yang tak terduga, bagaimana cara Anda memastikan bahwa strategi matematika Anda tidak berubah menjadi sekadar teori di saat realita pasar menuntut likuiditas yang ternyata tidak ada siapa pun yang bersedia membeli di harga tersebut?
Jadi, ketika kita sibuk memperdebatkan peta dan aturan permainan, ada satu pertanyaan yang mungkin perlu diajukan terlebih dahulu:
“Sebelum menghitung risk-reward ratio untuk masuk dan keluar, sudahkah kita bisa menjawab dengan tenang: ‘Apa yang akan aset ini berikan kepada saya, selain kesempatan untuk menjualnya nanti?’”
$ADRO $BBRI $BBCA

INDONESIA BERDIKARI.
Sudah terlalu lama OLIGARKI DAN PIHAK ASING menguasai kekayaan negara untuk kepentingan nya sendiri dan Di era PRESIDEN PRABOWO semuanya itu di hentikan demi Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Kemakmuran Rakyat Indonesia sesuai dengan cita-cita beliau.
Jangan heran banyak pihak yang merasa terganggu dan ingin melemahkan Pemerintah Sekarang Lewat Perang Narasi dan mungkin salah satunya penyebab kejatuhan $IHSG. Sekarang PERBANKAN yang mulai di hajar dengan News Negatif, mungkin karena sektor ini salah satu pertahanan IHSG.
$BBRI $BMRI
Target Prabowo
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto tengah menyiapkan 18 proyek hilirisasi senilai Rp618 triliun. Proyek ini diperkirakan dapat menciptakan 276.000 lapangan kerja berkualitas baru.
Semula, Prabowo menilai, keberadaan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mempunyai peran yang cukup strategis dalam pengelolaan aset negara. Mengingat, melalui Danantara, pemerintah tidak perlu meminta investasi dari luar negeri.
"Kita punya kemampuan sekarang. Jadi tadi saya sampaikan pokok-pokok yang harus kita mulai dan laksanakan adalah hilirisasi. Delapan belas proyek ini akan ciptakan 276.000 pekerjaan berkualitas dengan investasi Rp618 triliun," kata Prabowo dalam acara Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026, Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Senin (2/2/2026).
Selain proyek hilirisasi, Prabowo juga turut menyoroti mengenai persoalan sampah yang menurutnya harus segera diatasi. Pasalnya penampungan sampah nasional diperkirakan akan mencapai over kapasitas di 2028.
"Sampah ini jadi masalah, diproyeksi hampir titik sampah akan over capacity di 2028 bahkan lebih cepat," kata Prabowo.
Oleh sebab itu, guna mengatasi permasalahan tersebut pemerintah tengah menyiapkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTsa) atau biasa disebut dengan program Waste to Energy. Proyek ini rencananya akan dibangun di 34 titik pada kabupaten/kota,
"Kita perkirakan dua tahun lagi berfungsi ini investasi cukup besar, totalnya itu US$3,5 miliar untuk 34 titik itu tapi setelah saya lihat di beberapa kabupaten, kota-kota Kabupaten juga harus ada, dan ini sudah ada inisiatif bupati improvisasi kita pelajari bisa tuker pengalaman," ujar Prabowo.

bagi yg mindsetnya crash kemaren karena asing ingin serok bawah.. coba pahami bagaimana index global bekerja.
mereka tidak peduli fundamental (serok bawah) ataupun teknikal apalagi mologi mologi.. yg mereka pedulikan hanya liquiditas yg bukan omong kosong. bukan liquiditas boong2an seperti emiten konglo.
$BUMI $CUAN $BBRI
https://cutt.ly/6tbKK2uA
MBG sebaiknya memang tidak usah cuma masalahnya sekarang sudah berjalan kalo memang harus DIHENTIKAN repot juga sekarang sudah menjadi simalakama. sy lebih SETUJU pemerintah fokus ke pendidikan, pendidikan sekarang sangat tidak optimal karena sistem kelas saat ini tidak sesuai karena si dalam satu kelas itu ternyata beragam ada yg jago berhitung bahkan ada yang sama sekali tidak bisa tambah-tambahan bahkan sudah kelas 3 SMA, kalo ga percaya coba tes satu persatu dalam satu kelas ga usah tingkat dasar kelas 3 SMA aja begitu pun pelajaran yg lainnya. karena sistem pendidikan kita sangat-sangat memprihatinkan.
HARUS ADA REVOLUSI PENDIDIKAN. dimana siswa benar2 dikelompokkan sesuai pemahaman dan penguasaan pelajaran jangan dicampur2 karena dia lulus SMP yaa harus SMA tapi kenyataannya selama SMP dia sama sekali ga paham pelajaran yg selama ini ia ikuti karena anaknya males dan gurunya juga ga ambil pusing yg penting ada yg bisa yg ga bisa yaa bodo amat seharusnya mereka didik sampai benar-benar paham dan bisa. sekolah juga malu begitu pun murid dan orang tua kalo sampai anaknya ga naik kelas atau ga lulus makanya ada Mark up nilai cukup mudah untuk memperbaiki nilai cukup diberikan tugas bahkan ada juga guru minta dibelikan sesuatu, seharusnya siswa dikelompokkan sesuai pemahamannya yg memang belum bisa yaa jangan naik kelas. dan juga pecat para bajingan2 di DIKNAS!
kembali ke MBG, sy selaku pedagang ada pengurus MBG biasa beli kebutuhan MBG mereka Mark up harganya luar biasa itu baru dari satu dua jenis barang biasanya 2 bon satu bon kosong satu lagi bon belanjaan. seharusnya BGN memiliki daftar harga semua barang kebutuhan MBG sehingga tidak adanya Mark up harga kan setiap menu dari BGN.. random tag $BBCA, $BBRI, $BRPT