


Volume
PT Tri Banyan Tirta Tbk merupakan perusahaan produsen air minum dalam kemasan (AMDK) dengan main brand ALTO, TOTAL, dan produk air alkali dengan merk Total 8+ yang merupakan pemimpin pasar di segmen premium air minum kemasan. Perseroan sangat fokus terhadap bisnisnya, sejak mengakuisisi PT Tirtamas Lestari (TML) di tahun 2013 yang merupakan perusahaan AMDK dengan brand TOTAL, menambah jumlah pabrik yang dimiliki menjadi 8 pabrik yang berlokasi di Mojoagung yang dilengkapi dengan mesin baru yang canggih, pabrik ini dioperasikan oleh anak perusahaan yang bernama PT Delapan Bintang Baswara (DBB).
$ALTO Penyebab suspensi dan pergerakan harga saham PT Tri Banyan Tirta Tbk (ALTO) pada tahun 2025 merupakan kombinasi dari masalah legal-operasional yang serius dan anomali pasar.
Berikut adalah penjelasan rincinya:
1. Penyebab Suspensi Saham ALTO
Saham ALTO mengalami suspensi dalam jangka waktu yang panjang (termasuk periode 6 bulan terakhir di tahun 2025) disebabkan oleh beberapa faktor akumulatif:
Gugatan PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang): Sejak awal 2025, ALTO menghadapi serangkaian gugatan PKPU dari para supplier-nya (seperti PT Sentralindo Teguh Gemilang dan PT Suryasukses Adi Perkasa) terkait tunggakan tagihan yang telah jatuh tempo sejak 2023-2024. Status PKPU Sementara ini memicu BEI untuk melakukan suspensi guna melindungi investor.
Masalah Kelangsungan Usaha (Going Concern): Perusahaan telah menghentikan operasional salah satu pabrik utamanya di Sukabumi (PT Tirtamas Lestari) setelah putusnya kontrak makloon dengan Danone Group. Selain itu, produksi merek internal seperti ALTO dan TOTAL sempat terhenti karena arus kas (cash flow) yang negatif.
Keterlambatan Laporan Keuangan: Seperti banyak emiten yang bermasalah secara finansial, ALTO sempat terkena suspensi karena belum menyampaikan laporan keuangan tahunan 2024 hingga pertengahan 2025, yang berujung pada sanksi administratif dari bursa.
2. Mengapa Saham ALTO Naik 12% (YTD) meskipun Disuspensi?
Kenaikan harga sebesar 12% Year-to-Date (YTD) pada saham yang sedang disuspensi mungkin terdengar kontradiktif, namun hal ini biasanya terjadi karena beberapa alasan teknis di bursa:
Kenaikan Sebelum Suspensi: Angka 12% tersebut kemungkinan besar akumulasi kenaikan yang terjadi di awal tahun sebelum gembok suspensi dipasang secara permanen atau saat ada periode pembukaan singkat (unsuspension).
Sentimen Investor Strategis: Ada rumor atau keterbukaan informasi mengenai masuknya investor baru (termasuk keterkaitan dengan grup besar seperti afiliasi Boy Thohir) yang berencana melakukan restrukturisasi utang. Spekulasi ini sering kali memicu kenaikan harga sesaat sebelum perdagangan dihentikan kembali.
Aksi Korporasi (Penjualan Aset): Manajemen ALTO mengumumkan rencana penjualan aset pabrik untuk memperbaiki arus kas. Harapan pasar terhadap perbaikan neraca keuangan ini sering kali diterjemahkan menjadi kenaikan harga saham oleh para spekulan.
$ALTO Berikut adalah poin-poin utama mengenai situasi saham ALTO:
1. Penghentian Produksi Merek Utama
Salah satu kabar paling mengejutkan di akhir 2024 dan berlanjut hingga 2025 adalah keputusan manajemen untuk berhenti memproduksi air kemasan merek ALTO, TOTAL, dan TOTAL 8.
Penyebab: Kondisi arus kas (cash flow) yang negatif secara terus-menerus.
Strategi Bertahan: Saat ini perusahaan hanya mengandalkan pendapatan dari skema maklon (memproduksi produk untuk pihak lain). Pelanggan maklon utama mereka adalah PT Kino Indonesia Tbk (KINO) yang menyerap hampir 90% kapasitas produksi di pabrik Cileungsi.
2. Kinerja Keuangan yang Mengkhawatirkan
Hingga laporan terbaru di tahun 2025, ALTO masih mencatatkan rapor merah:
Rugi Bersih Membengkak: Hingga kuartal III-2024 saja, rugi bersih naik lebih dari 190% menjadi Rp25,5 miliar. Kondisi ini diprediksi belum membaik signifikan di 2025 karena ketiadaan produk milik sendiri di pasar.
Gugatan PKPU: Perusahaan sempat menghadapi sejumlah permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dari pemasok karena keterlambatan pembayaran utang yang mencapai miliaran rupiah.
3. Status di Bursa (Papan Pemantauan Khusus)
Saham ALTO kini berada di Papan Pemantauan Khusus dengan mekanisme Full Call Auction (FCA).
Harga Saham: Harga saham ALTO berada di level sangat rendah, berkisar antara Rp13 hingga Rp18 per lembar saham.
Notasi Khusus: ALTO menyandang beberapa notasi peringatan dari bursa, termasuk Notasi E (Ekuitas Negatif) dan Notasi X (Masuk Papan Pemantauan Khusus). Perusahaan juga sempat tercatat sebagai emiten yang terlambat menyampaikan laporan keuangan interim di tahun 2025.
4. Rencana Penjualan Aset
Untuk memperbaiki arus kas yang macet, manajemen ALTO telah menyatakan rencana untuk menjual sejumlah aset perusahaan dan mencari investor strategis baru guna menyuntikkan modal segar agar merek "ALTO" bisa diproduksi kembali di masa depan.
Jakarta, CNBC Indonesia- Perkembangan teknologi digitalisasi turut mendorong transformasi sektor jasa keuangan dan perbankan termasuk dalam sistem pembayaran.
Saat ini layanan BI-Fas hingga teknologi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang berkembang ke QRIS Tap dengan memanfaatkan tekno...

www.cnbcindonesia.com
$ALTO
PT. Tri Banyan Tirta didirikan pada tahun 1997. Tujuan Perusahaan adalah untuk menjadikan ALTO Natural Spring Water sebagai merek lokal yang kuat dengan standar kualitas internasional untuk menangkap pasar potensial di Indonesia. Ambisi kami adalah menjadi grup minuman terdiversifikasi terbesar di Indonesia, yang akan dicapai melalui investasi berkelanjutan pada merek kami, orang-orang kami dan fasilitas kami yang luar biasa. Strategi perusahaan adalah komitmen untuk berhasil membangun dan mengembangkan merek-merek utama, peningkatan berkelanjutan dalam kualitas dan inovasi produk dan melebihi harapan pelanggan dalam hal layanan. Pabrik ini terletak di Babakan Pari, Sukabumi, Jawa Barat yang dikenal karena kemurnian dan sumber daya airnya yang terlindungi selama berabad-abad. PT. Tri Banyan Tirta didukung oleh tim profesional yang berkualifikasi dari berbagai latar belakang yang memperkuat perusahaan untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi.

EmitenNews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat 57 emiten belum melansir laporan keuangan interim per 30 Juni 2025. Nah, 52 dari total 57 emiten itu, dikenai peringatan tertulis III dan denda Rp150 juta. Lalu, satu emiten yaitu Urban Jakarta (URBN) dikenai peringatan tertulis II dan denda Rp50...

www.emitennews.com

IDXChannel—Siapa pemilik saham EDGE? PT Indointernet Tbk (EDGE) adalah perusahaan sektor teknologi yang memiliki lini bisnis di bidang jasa penyediaan internet, solusi cloud (komputasi awan), data center, dan layanan konektivitas.
Melansir laman resmi Indointernet (7/10/2025), perusahaan ini didir...

www.idxchannel.com

IDXChannel - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak 56 emiten belum menyerahkan laporan keuangan interim per 30 Agustus 2025 setelah mendapatkan peringatan tertulis I.
Sebagai sanksinya, puluhan perusahaan tercatat ini dikenakan peringatan tertulis II dan denda sebesar Rp50 juta.
Emiten yang m...

www.idxchannel.com

EmitenNews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) memutuskan menjatuhi hukuman kepada 56 perusahaan tercatat. Hukuman itu, berupa peringatan tertulis II, dan denda Rp50 juta. Pasalnya, hingga 31 Juli 2025 emiten-emiten itu belum melansir laporan keuangan.
Parahnya, hingga 30 Agustus 2025 perusahaan terca...

www.emitennews.com
