15,375

-450

(-2.84%)

Today

18,700

Volume

43,032

Avg volume

Company Background

PT Akasha Wira International Tbk (“Perseroan”) didirikan dengan nama PT Alfindo Putrasetia pada tahun 1985. Nama Perseroan telah diubah beberapa kali, terakhir pada tahun 2010, ketika nama Perseroan diubah menjadi PT Akasha Wira International Tbk. Perseroan memiliki beberapa kegiatan usaha dan produk yang dihasilkan, diantaranya adalah industri air minum dalam kemasan dengan merek Nestlé Pure Life dan Vica Royal; industri kosmetika dengan merek Makarizo; industri food & beverage dengan merek Pureal dan Wonhae; serta distribusi produk kosmetika professional merek Wella and Clairol di Indonesia.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Mingle Game in IHSG

Halo teman-teman, long holiday kali ini memberi kita kesempatan untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk aktivitas kita selama ini dan bisa menyediakan waktu untuk keluarga dan juga diri sendiri. Yang kebetulan pula disambut dengan malam ini yang akan dilaksanakannya aktivitas tarawih menandakan bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah sudah datang menghampiri kita. Sudah 11 bulan kita sibuk mengejar dunia, alangkah baiknya jika 1 bulan ke depan kita perbanyak waktu untuk mengejar akhirat.

Oke, cukup pembukaannya. Kita coba rekap balik kejadian market 2 minggu terakhir ya. Saya yakin sebagian besar dari teman-teman sudah tahu betapa carut marutnya market dikarenakan efek bertubi-tubi dari pengumuman MSCI, downgrade Moody, dan juga pengumuman FTSE (yang ketika infonya keluar market sudah keburu priced in). Kondisi ketika IHSG halt kemarin ntah mengapa membuat saya membayangkan adegan Mingle Game di Squid Game, dimana game-nya adalah kita berputar-putar selagi musiknya menyala (narasi masuk MSCI digaungkan dimana-mana) , dan ketika musik mati (MSCI freeze dan semua saham2 potensial masuk MSCI seketika batal atau dihold) semua pemain seketika berebutan masuk ke ruangan (exit dari saham tersebut) dengan sekuat tenaga, bahkan kalau perlu sampai mengorbankan orang lain. Itulah kondisi koreksi kemarin dimana semua 'pemain' saham narasi MSCI berebutan keluar sekaligus sampai beberapa saham ARB berturut-turut. Pemandangan yang menyadarkan betapa kerasnya realita di bursa.

Terkait koreksi kali ini saya perhatikan ada pro kontra di antara para investor. Bagi yang stick to fundamental bisa jadi inilah momen yang ditunggu-tunggu selama ini. Bagi yang heavy di narasi MSCI story maka portonya terpukul telak, rata-rata di -30% s/d -40%an kalau saya perhatikan per hari ini (mengacu ke penurunan BUMI, $PTRO, EXCL). Tanpa mendiskreditkan siapapun, saya tetap mendoakan semoga porto kita selamat di 2026 ini, dan syukur-syukur bisa tetap ditutup positif dengan return di atas sukuk negara (5-6% / tahun).

MSCI, sisi benar dari pelaku yang salah

Pada akhirnya memang masalah transparansi di IHSG layak dipertanyakan, berapa banyak saham yang free floatnya sepertinya memang bukan dimiliki oleh publik beneran. Jika kita lihat data MSCI yang disadur oleh Revalue, kita bisa lihat DSSA sebagai contoh paling ekstrim free floatnya 151 T hanya dimiliki oleh 5rb investor saja, yang berarti rata-rata modal per investor 30 Miliar! Apakah wajar ritel publik uangnya sebanyak itu? Silahkan dijawab sendiri. Contoh lain $ADES dengan free floatnya 790 Miliar investornya 2400, yang berarti rata-rata modal per investor 329jt, masih di bawah rata-rata median sebesar 950jt. (Walaupun pergerakan ADES bisa dibilang tidak wajar juga, IHSG sudah halt 2x juga sahamnya ga bergerak kemana2 wkwk). Sehingga bisa jadi memang usaha untuk menunjukkan siapa pemegang saham > 1%, pemilik saham affiliated dengan PSP, dan UBO (Ultimate Beneficial Owner) dari suatu saham menjadi langkah menuju IHSG yang lebih baik kedepannya.

Namun jika kita mengatakan metodologi MSCI sudah benar sepertinya tidak masuk akal juga. Bisa dilihat yang terdekat MSCI mengeluarkan ACES, INDF, dan CLEO di Februari 2026 ini. Dimana INDF kita bisa lihat sendiri PE saat ini hanya berkisar 5-7x saja, dengan dividen 4%an. ACES juga PE saat ini berada di 8-10x, dengan dividen yield 6% lebih. Sehingga masalah overvaluasi di suatu saham terlihat tidak benar-benar menjadi concern dari MSCI. Yang membuat saya mempertanyakan juga bagaimana mungkin indeks yang memasukkan saham dengan PE ratusan kali dan mengeluarkan saham dengan PE di bawah 10x bisa survive dan untung dalam jangka panjang?

Ternyata jika kita perhatikan 10 Y return MSCI Indonesia Index hanya 1,21%! Itu bahkan jika kita tarik sudah dari 2010 stagnan di 1.400an, yang berarti 16 tahun MSCI Indo tidak kemana-mana. Padahal di saat yang bersamaan dalam 10 tahun terakhir IHSG masih naik 73,8%, walaupun tidak begitu besar namun tidak sekecil return MSCI juga. Bayangkan betapa banyak potensi yang hilang bagi investor yang mempercayakan uangnya kepada metodologi yang dibuat oleh MSCI. Sehingga dari dua data di atas saja menjadi wajar jika disimpulkan metodologi yang dilakukan MSCI sangat tidak efektif dalam menentukan mana perusahaan yang 'layak' investasi.

And the game goes on

Dari pernyataan pihak bursa beberapa waktu terakhir sepertinya diskusi dengan MSCI berjalan lancar. Walaupun hasil akhir diskusinya bersifat 'rahasia', tapi sepertinya market sudah mulai priced in bahwa kedepannya bisa jadi story MSCI indexing ini bisa berjalan lagi. Terlihat dari kenaikan BUMI dan PTRO beberapa hari terakhir. Sejujurnya untuk $BUMI sendiri karena saya cukup mengikuti storynya narasi masuk MSCI hanya pemanis saja, tapi ntah mengapa memang beberapa minggu terakhir hanya itu yang difokuskan oleh pelaku market. Story BUMI yang saya pahami adalah ekspansi melalui akusisi mineral2 strategis seperti gold, copper, dan alumina yang masih akan terus berlanjut mengingat limit obligasi 5 T mereka masih belum tercapai. Di saat harga komoditas2 di atas sedang mengalami kenaikan, ditambah lagi batubara yang kemungkinan mengalami peningkatan efek pemotongan RKAB seperti nikel kemarin, dan banyak lagi story yang menunggu kedepannya. Sehingga penurunan kemarin membuat saya berani menambah posisi di saham ini secara cukup jor2an.

Jujur saya tidak tahu untuk saham2 konglo yang overvaluasi ini kedepannya akan seperti apa. Namun jika diforecast mereka semua akan kembali ke kewajaran yang berarti butuh koreksi 80% lebih dari nilai saat ini dan efeknya ke IHSG pasti akan sangat parah, saya tidak cukup yakin pemerintah akan membiarkan hal tersebut terjadi. Apalagi dengan presiden kita yang beberapa kali sudah 'duduk bareng' dengan konglo2 tersebut. Worst scenario yang bisa saya bayangkan adalah saham2 konglo ini tidak kemana2 lagi dari harga saat ini, namun kenaikan IHSG kedepannya bisa jadi memang didukung saham2 fundamental seperti perbankan, TLKM d.l.l. Mengingat kita sudah masuk masa peralihan antara uang di DM ke EM yang ditopang oleh booming komoditas, yang sepertinya terlalu sayang untuk dilewatkan oleh Indonesia mendapatkan inflow yang besar dari transisi tersebut. Membuat beberapa pihak menduga-duga bahwa segala kejatuhan kemarin memang by design agar pihak-pihak asing ini bisa masuk ke market Indo dengan harga diskon, tapi itu asumsi yang terlalu liar menurut saya pribadi.

Akhir kata game narasi masuk MSCI ini mungkin belum sepenuhnya berakhir, tapi akan menjadi lebih terfilter mana yang beneran potensial dan mana yang sial. Karena 1 bulan lalu saya cukup heran juga ketika semua orang menganggap banyak sekali saham yang bisa masuk MSCI. Setau saya dari 2016 saya invest di IHSG tidak begitu2 amat juga hype-nya. Masuk MSCI itu bonus, dan itupun didapat dengan jalur yang wajar, bukan dengan push rank seperti ini. Fokuslah mencari perusahaan yang punya story ekspansi dan growth yang masuk akal, jangan pula sampai memakai DCF dengan basis perhitungan 3 tahun ke depan ya (beneran ada yang seperti ini infonya btw). Pastikan juga porsi saham-saham tersebut tidak sampai mendominasi porto, karena bagaimanapun fundamental dan valuasi yang wajar itulah yang akan menjadi benteng terakhir kita ketika kondisi berdarah-darah seperti kemarin terulang lagi kedepannya.

Oke, sekian aja dari saya kali ini, happy holiday semuanyaa

Read more...

1/10

testestestestestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Bacaan teman ngopi Anda sore ini. Semoga bermanfaat!

Asymmetry is the holy grail in finance. The initial return profile of buying a stock is symmetrical. If a stock goes up 25%, you make 25%, and vice versa, if a stock goes down 25%, you lose 25%.

Yet over the long term, it is certainly not symmetrical. The risk-reward asymmetry becomes compelling. When buying a stock, the downside is capped at 100%, but the upside is theoretically unlimited, with potential returns of 10x, 20x, or 50x. Each long stock position functions like a long call option, and a portfolio of stocks effectively resembles a giant long call option payoff.

Asymmetry is the holy grail in investing, where over a long time, in heads, you don’t lose a lot, and in tails, you win increasingly more.

Let’s start with 100 equally invested in Stock A and B. The price of Stock A keeps rising 25% every year, and Stock B keeps declining 25% every year. (shown in picture 1 below)

In the first year, the value of Stock A rises 25% to 125, and Stock B declines 25% to 75. The portfolio value remains unchanged at 200 with 0% returns (not good).

At the end of year 5, Stock A rose ~3X to 305, and Stock B has declined by 76% to 24. The portfolio value is 329, with a cumulative return of 64% and an annualized return of 10.5% p.a. (good).

At the end of year 10, Stock A rose ~9.3X to 931, and Stock B has declined 94% to 6. The portfolio value is 937, with a cumulative return of 368% and an annualized return of 16.7% p.a. (strong).

At the end of year 20, Stock A is an 86-bagger to 8674, and Stock B has declined 99.7% to 0.30. The portfolio value is 8,674, with a cumulative return of 4237% and an annualized return of 20.7% p.a. (very strong).

While we acknowledge that the assumptions are highly simplistic:
(1) a constant 50% batting average
(2) an equal-weighted two-stock portfolio
(3) both stocks rising and declining at the same rate,

the following lessons are instructive.

*𝐖𝐢𝐧𝐧𝐞𝐫𝐬 𝐢𝐧𝐜𝐫𝐞𝐚𝐬𝐢𝐧𝐠𝐥𝐲 𝐦𝐚𝐭𝐭𝐞𝐫, 𝐥𝐨𝐬𝐞𝐫𝐬 𝐢𝐧𝐜𝐫𝐞𝐚𝐬𝐢𝐧𝐠𝐥𝐲 𝐝𝐨𝐧’𝐭. If you have a winner, a little is all you need, and even if you do have a loser, it doesn’t matter. Asymmetry does not exist in discrete time periods, but shows up over time. (as illustrated in picture 2)

*𝐂𝐨𝐦𝐩𝐨𝐮𝐧𝐝𝐢𝐧𝐠 𝐬𝐭𝐚𝐫𝐭𝐬 𝐬𝐥𝐨𝐰 𝐛𝐮𝐭 𝐚𝐜𝐜𝐞𝐥𝐞𝐫𝐚𝐭𝐞𝐬 𝐨𝐯𝐞𝐫 𝐭𝐢𝐦𝐞. Returns take time to show up, only if the winners are held. Being able to hold on to winners and not trim them allows one to keep growing cumulative returns exponentially and annualized returns towards steady-state rates of 20%-22%+ p.a. after 10-20 years. (as illustrated in picture 3)

*𝐖𝐢𝐧𝐧𝐞𝐫𝐬 𝐛𝐞𝐜𝐨𝐦𝐞 𝐢𝐧𝐜𝐫𝐞𝐚𝐬𝐢𝐧𝐠𝐥𝐲 𝐬𝐢𝐠𝐧𝐢𝐟𝐢𝐜𝐚𝐧𝐭 𝐚𝐬 𝐲𝐨𝐮 𝐡𝐢𝐭 𝐢𝐭 𝐨𝐮𝐭 𝐨𝐟 𝐭𝐡𝐞 𝐩𝐚𝐫𝐤, 𝐚𝐬 𝐩𝐨𝐫𝐭𝐟𝐨𝐥𝐢𝐨 𝐜𝐨𝐧𝐜𝐞𝐧𝐭𝐫𝐚𝐭𝐢𝐨𝐧 𝐠𝐫𝐨𝐰𝐬 𝐨𝐯𝐞𝐫 𝐭𝐢𝐦𝐞. The gains from the multi bagger winners will keep growing, increasingly offsetting the losers’ combined losses many times over. The losers don’t matter. The winners do. (as illustrated in picture 4)

*𝐒𝐮𝐟𝐟𝐢𝐜𝐢𝐞𝐧𝐭 𝐝𝐢𝐯𝐞𝐫𝐬𝐢𝐟𝐢𝐜𝐚𝐭𝐢𝐨𝐧 𝐢𝐬 𝐧𝐞𝐜𝐞𝐬𝐬𝐚𝐫𝐲 𝐭𝐨 𝐚𝐥𝐥𝐨𝐰 𝐟𝐨𝐫 𝐭𝐡𝐢𝐬 𝐭𝐨 𝐛𝐞 𝐚𝐜𝐡𝐢𝐞𝐯𝐞𝐝, 𝐧𝐨𝐭 𝐛𝐞𝐢𝐧𝐠 𝐨𝐯𝐞𝐫𝐥𝐲 𝐜𝐨𝐧𝐜𝐞𝐧𝐭𝐫𝐚𝐭𝐞𝐝 (<𝟏𝟎 𝐬𝐭𝐨𝐜𝐤𝐬) 𝐨𝐫 𝐛𝐞𝐢𝐧𝐠 𝐨𝐯𝐞𝐫𝐥𝐲 𝐝𝐢𝐯𝐞𝐫𝐬𝐢𝐟𝐢𝐞𝐝 (>𝟑𝟎 𝐬𝐭𝐨𝐜𝐤𝐬). If one is overly concentrated, and if a winner becomes overly large or runs into single-position limits, one eventually has to trim the winner. Constantly trimming your flowers, not allowing your winners to run, and watering your weeds are among the worst things one can do. Sufficient diversification by owning more stocks allows one to have a better risk appetite and more patience to hold on to winners, especially when they experience inevitable large price declines along the way.

Compounding increases at an increasing rate on the upside and decreases at a decreasing rate on the downside. That makes it the eighth wonder of the world. Gains grow faster, and losses shrink slower. Those who understand this asymmetry earn it. Those who don’t, pay it. Find winners, hold them, and let time bend the curve in your favor.

$CASS $ADES $TOTL

Read more...

1/5

testestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Sebenarnya, makna saham gorengan dan non gorengan itu yg sperti apa guys? Karena saya liat bbrp minggu kebelakang berseliweran berantas saham gorengan..

Apakah $ADES dan DEWA itu gorengan karena tidak pernah bagi dividen?

Ataukah di 2017 $UNVR juga gorengan karena PER >50x, PBV >30x?

Ataukah harus beli $BBRI karena bisa bagi dividen dengan payout ratio >80% setiap tahunnya?

Anggaplah BBRI tidak gorengan, seorang newbie beli BBRI ditahun 2024 saat harganya 6000, apakah kita jadi menganggap newbie tersebut tidak tersesat?

Saya jujur bingung, kenapa investasi atau trading ini kesannya malah fokus dalam men “judge” cara berinvestasi orang lain ketimbang membahas literasi dari setiap POV orang orang yg berhasil cuan di bursa.

Bukankah tujuan kita sama? Mau trader investor atau apalah sebutannya…

Kita sama sama cari cuan kan? Kenapa harus cara cari cuan dipaksakan melalui 1 metode yg menurut bbrp orang itu paling benar dan paling tepat? Se tepat apa metode tersebut sampai kesannya orang lain cuan dengan cara lain itu artinya bodoh?

Read more...

1/3

testestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

yo... WTF $ADES

ini snack apaan?

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADES hit hingga target 2.
22 januari sd 13 februari , 1 bulan kurang yah waktunya.

salam

$IHSG

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADES 10% floating profitku hilang..

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$UNVR

Halo Smart Investor! Senang sekali Anda bertanya. Sebagai mentor Anda hari ini, saya sudah membedah Laporan Keuangan Tahunan **Unilever Indonesia Tbk (UNVR)** per 31 Desember 2025.

Ada kabar yang sangat menarik, tapi ada juga "jebakan" angka yang harus Anda pahami agar tidak salah langkah. Mari kita bedah fundamentalnya.

### 1. Kinerja Laba: "Ledakan" Profit (Tapi Hati-hati!)
Sekilas, kinerja UNVR terlihat luar biasa fantastis tahun ini.
* **Laba Bersih Meroket:** Total laba tahun berjalan melompat drastis menjadi **Rp7,6 triliun**, naik lebih dari dua kali lipat dibanding tahun 2024 yang hanya Rp3,3 triliun.
* **Pendapatan Naik Tipis:** Penjualan (Top Line) tumbuh moderat menjadi **Rp31,9 triliun** dari Rp30,6 triliun.

**✋ Tunggu dulu, Smart Investor! Jangan FOMO.**
Kenaikan laba bersih yang gila-gilaan itu **bukan** murni dari jualan sabun atau sampo. Ada pendapatan "sekali waktu" (one-off gain) yang besar:
* **Laba dari Operasi yang Dihentikan:** UNVR mencatatkan keuntungan sebesar **Rp4,1 triliun** dari operasi yang dihentikan (kemungkinan besar hasil penjualan unit bisnis/aset).
* **Laba Operasional Inti (Recurring):** Jika kita buang faktor "one-off" tadi, laba murni dari operasional yang dilanjutkan adalah **Rp3,5 triliun**, naik dari Rp2,9 triliun tahun lalu.

> **Arahan Mentor:** Kinerja operasional UNVR membaik (tumbuh sekitar 21% secara organik), tapi angka Rp7,6 triliun itu adalah bonus. Jangan proyeksikan angka ini akan terulang tahun depan.

### 2. Posisi Kas: "Cash is King"
Ini yang bikin pemegang saham bisa senyum lebar. Posisi kas UNVR sedang sangat tebal.
* **Kas dan Setara Kas:** Melonjak tajam menjadi **Rp5,7 triliun**, padahal tahun lalu hanya Rp671 miliar.
* **Dari mana uangnya?** Selain dari operasional yang sehat, Arus Kas Investasi mencatat pemasukan besar senilai **Rp7 triliun** dari pelepasan aset/operasi yang dihentikan.

### 3. Neraca (Balance Sheet): Lebih Sehat
* **Aset Lancar:** Naik dua kali lipat menjadi Rp10,5 triliun, didorong oleh tumpukan uang tunai tadi.
* **Ekuitas:** Modal sendiri (Ekuitas) naik signifikan menjadi **Rp4,4 triliun** dari Rp2,1 triliun. Ini membuat neraca perusahaan jauh lebih kuat dibanding tahun sebelumnya.

### 💡 Kesimpulan & Strategi Investasi

Sebagai mentor, inilah pandangan saya untuk portofolio Anda:

1. **Potensi Dividen Jumbo:** Dengan kas Rp5,7 triliun dan laba bersih Rp7,6 triliun, UNVR punya kapasitas membayar dividen yang sangat besar tahun ini. Ingat, UNVR historisnya royal bagi dividen.
2. **Turnaround Story:** Laba inti dari operasi yang dilanjutkan (Continuing Operations) sudah tumbuh positif. Ini sinyal bagus bahwa bisnis utamanya mulai pulih setelah masa-masa sulit.
3. **Waspada Valuasi:** Pasar mungkin bereaksi berlebihan terhadap angka laba Rp7,6 triliun. Selalu gunakan **Laba Operasi Berlanjut (Rp3,5 T)** atau **EPS Operasi Berlanjut (Rp93 per saham)** sebagai basis valuasi wajar (PER), bukan total laba yang tercampur *one-off gain*.

**Saran Mentor:**
Jika Anda *dividend hunter*, ini momen yang menarik. Tapi jika Anda *growth investor*, fokuslah pada kemampuan manajemen mempertahankan pertumbuhan laba inti (yang Rp3,5 triliun tadi) di tahun-tahun mendatang.

*Disclaimer: Analisa ini berdasarkan data laporan keuangan 2025 yang disajikan. Keputusan jual-beli tetap di tangan Anda. Salam Cuan!* 🚀

https://cutt.ly/7tnDJo8Q

RANDOM TAG $ADES $TCID

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

q4 $ADES semoga cakep 😀🎉

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADES semakin hari, semakin mendekati rilis LK FY, dimana eps pasti meningkat, sehingga valuasi rerating. otomatis harga saham naik.
produk galonnya dah mulai penetrasi di market, jabodetabek $IHSG

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADES SIAPA UBO MU

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$OKAS


bubar bubar aku udh jual di ARA 😁☺

cari lagi ahhh siapin dana buat besok


$ADMF $ADES


jangan lupa mampir ke profil yaaa

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADES $ASGR $IPCC semoga ga aneh2 kedepannya

1/2

testes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Heyyy antek antek asing $BUMI $BBRI $ADES

Hallo, Des?


$ADES

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$MLBI

Halo Investor! Senang sekali Anda bertanya. Hari ini, tanggal **6 Februari 2026**, mari kita bedah **PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI)**.

Sebagai mentor Anda, saya melihat MLBI saat ini berada dalam posisi yang unik: **secara fundamental sangat kuat dan murah ("undervalued"), namun secara teknikal sedang tidur ("sideways").** Ini adalah karakteristik klasik dari saham *dividend play* yang sedang menunggu momentum.

Berikut adalah analisis komprehensif dan arahan investasi untuk Anda:

### 1. Fundamental: Mesin Uang yang Tangguh (Cash Cow)
Kinerja MLBI hingga Kuartal 3 2025 (9M25) menunjukkan ketahanan bisnis yang luar biasa, meskipun ada sedikit tekanan pada laba bersih.

* **Pendapatan Tumbuh:** Pendapatan bersih naik tipis **1,8% YoY** menjadi Rp2,37 triliun. Meskipun pertumbuhannya moderat, ini menunjukkan permintaan produk masih stabil.
* **Margin Super Tebal:** Ini yang saya suka. *Gross Profit Margin* (GPM) stabil di angka **61,6%** dan *Net Profit Margin* (NPM) di **30,6%**. Sangat sedikit perusahaan di BEI yang bisa mencetak margin setebal ini. Ini menunjukkan *pricing power* yang kuat, terutama di segmen premium (Heineken).
* **Laba Bersih:** Memang ada penurunan laba bersih sebesar **5,0% YoY** menjadi Rp724,2 miliar karena tekanan biaya operasional. Namun, arus kas operasionalnya sangat kuat (Rp18,7 triliun di level grup global, data MLBI spesifik menunjukkan posisi kas Rp865,3 miliar).
* **Aksi Korporasi Strategis:** Pada Januari 2026, MLBI mengakuisisi 99,9% saham distributornya, **PT Karya Distilindo Sejahtera (KDS)** senilai Rp15 miliar. Jangan lihat nilai transaksinya yang kecil, tapi lihat tujuannya: **Integrasi Vertikal**. Ini memberi MLBI kendali penuh atas distribusi, menutup celah inefisiensi, dan memperkuat penetrasi pasar.

### 2. Valuasi: Salah Harga? (Undervalued)
Di sinilah letak peluangnya. Pasar sepertinya menghukum MLBI terlalu keras karena likuiditas yang rendah dan isu regulasi, padahal nilainya jauh di atas harga pasar.

* **Harga Saat Ini:** Rp5.600 (per 6 Februari 2026).
* **Nilai Wajar (Intrinsic Value):** Berdasarkan analisis *Discounted Cash Flow* (DCF), nilai wajar MLBI ada di kisaran **Rp7.621 - Rp7.784**.
* **Diskon:** Saat ini saham MLBI terdiskon sekitar **26% - 27%** dari nilai wajarnya.
* **Target Analis:** Konsensus analis bahkan menargetkan harga di **Rp8.650**, yang berarti ada potensi kenaikan (upside) hingga **54%**.

### 3. Dividen: Primadona Investor
Jika Anda mencari *passive income*, MLBI adalah salah satu rajanya.
* **Yield Dividen:** Sekitar **9,68%** per tahun. Ini jauh di atas bunga deposito atau rata-rata *yield* IHSG.
* **Payout Ratio:** MLBI dikenal sangat loyal, sering membagikan **100% laba bersihnya** sebagai dividen.

### 4. Sentimen Makro & Katalis: Angin Segar Pariwisata
Jangan abaikan faktor eksternal. Bisnis bir sangat berkorelasi dengan pariwisata dan *leisure*.
* **Booming Pariwisata Bali:** Hingga Juli 2025, wisatawan mancanegara ke Bali sudah tembus **4 juta**, dan diproyeksikan mencapai **7 juta** di akhir 2025. Wisatawan asing (terutama Australia) adalah konsumen utama bir Bintang dan Heineken. Pemulihan ini adalah katalis kuat untuk volume penjualan MLBI.
* **Regulasi Cukai:** Per Januari 2026, pemerintah memperketat pengawasan pengangkutan minuman beralkohol (PMK No 89 Tahun 2025). Ini justru **positif** bagi MLBI. Pengawasan ketat akan menekan peredaran alkohol ilegal/oplosan, sehingga konsumen akan beralih ke produk legal dan terjamin seperti Bintang.

### 5. Teknikal: Waktunya Akumulasi
* **Tren:** Harga sedang konsolidasi/sideways di rentang Rp5.000 - Rp6.550 dalam setahun terakhir.
* **Indikator:** Saat ini indikator teknikal jangka pendek (MA5, MA10) menunjukkan sinyal *Sell* atau *Neutral*, dengan RSI di level 51 (Netral).
* **Area Beli:** Harga saat ini (Rp5.600) sangat dekat dengan level *support* psikologis dan area *undervalued*. Ini bukan waktu untuk *trading* cepat, tapi waktu untuk **mengumpulkan barang (akumulasi)**.

### Arahan Untuk Investor (Action Plan)

1. **Untuk Investor Dividen (Income Investor):**
* **Rekomendasi:** **STRONG BUY**.
* **Alasan:** Kapan lagi Anda mendapatkan instrumen dengan *yield* hampir 10% dari perusahaan *market leader* yang utangnya sangat rendah? Amankan posisi sekarang sebelum RUPS pembagian dividen berikutnya.

2. **Untuk Investor Value (Growth/Value Investor):**
* **Rekomendasi:** **BUY & HOLD**.
* **Strategi:** Manfaatkan harga yang sedang *sideways* di Rp5.600. Anda membeli perusahaan berkualitas dengan diskon ~27%. Katalis pemulihan pariwisata dan efisiensi dari akuisisi KDS akan tercermin dalam laporan keuangan 2026. Target harga jangka menengah: **Rp7.600**.

3. **Manajemen Risiko:**
* Perhatikan likuiditas saham yang kadang rendah (tidak cocok untuk dana yang butuh dicairkan mendadak).
* Pantau terus isu regulasi, terutama RUU Larangan Minuman Beralkohol, meskipun risikonya saat ini terukur karena kontribusi cukai yang besar bagi negara.

**Kesimpulan Mentor:**
MLBI saat ini seperti "raksasa yang sedang tidur". Fundamentalnya kokoh, kas-nya melimpah, dan dividennya sangat manis. Jangan terpengaruh oleh pergerakan harga harian yang membosankan. Fokus pada *value* yang Anda dapatkan. Beli, simpan, dan nikmati dividennya sambil menunggu pasar menyadari nilainya kembali.

*Disclamer: Keputusan investasi tetap ada di tangan Anda. Lakukan riset mandiri (DYOR).*

https://cutt.ly/QtbxBnBa

RANDOM TAG $DLTA $ADES

Read more...

$ADES saham apa ini freefloat cuman 7.5%, harus nya 15%, sepi, ayo pada jual, saya tungguin di 9000 😂

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADES sini mampir @GALUHPRANOWO

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Saham PT Akasha Wira International Tbk ($ADES), produsen air minum dalam kemasan (AMDK) bermerek Nestle Pure Life, diproyeksikan memiliki prospek positif di tahun 2026. Hal ini didorong oleh kinerja fundamental yang kuat, ekspansi kapasitas produksi yang konsisten, serta posisi keuangan yang sangat sehat.

Berikut adalah rangkuman insight dan prospek saham ADES untuk tahun 2026:
Kinerja Keuangan dan Profitabilitas
ADES menunjukkan tren pertumbuhan laba yang konsisten dengan margin profitabilitas yang tinggi di sektornya:
• Pertumbuhan Pendapatan: Pendapatan melonjak dari Rp1,525 miliar pada 2023 menjadi Rp1,956 miliar pada 2024. Pada 9M2025, pendapatan mencapai Rp1,2 triliun (naik 38% YoY).
• Margin Keuntungan: Memiliki Net Profit Margin (NPM) yang stabil di kisaran 25–28%.
• Efisiensi Modal: Tingkat pengembalian ekuitas (ROE) terjaga kuat di atas 23%, yang menandakan pengelolaan aset yang sangat efisien.

Proyeksi Keuangan dan Harga Saham 2026
Berdasarkan data historis dan tren pertumbuhan, berikut adalah estimasi untuk tahun 2026:
• Target Pendapatan & Laba: Pendapatan potensial diperkirakan mencapai Rp2,3–Rp2,8 triliun, dengan target laba bersih yang realistis di angka Rp600–Rp800 miliar jika volume produksi terjual penuh.
• Target Harga Saham: Prediksi berbasis AI menargetkan harga rata-rata di kisaran Rp33.000-an, yang merupakan kenaikan signifikan dari level harga saat ini di kisaran Rp15.000–Rp16.000.
• Valuasi: Meski PBV (2,38x) terlihat overvalued secara relatif, PER (10–13x) masih dianggap wajar untuk sektor konsumen. Nilai intrinsik menurut metode Buffett diestimasi sekitar Rp13.054.

Strategi Ekspansi dan Operasional
ADES fokus pada optimalisasi kapasitas pabrik yang sudah ada daripada membangun pabrik baru secara spesifik untuk 2026:
• Optimalisasi Produksi: Mengalokasikan capital expenditure (capex) sebesar Rp350 miliar pada 2024 untuk lini produksi baru, ekspansi kemasan galon, dan akuisisi merek.
• Kapasitas Produksi: Kapasitas grup diperkirakan stabil pada 1,5–2 miliar liter per tahun dengan target utilisasi mencapai 85–95% pada 2026.
• Pendanaan Mandiri: Ekspansi dilakukan menggunakan kas internal tanpa utang bank yang signifikan, tercermin dari Debt to Equity Ratio (DER) yang sangat rendah (0,19x).

Posisi Pasar dan Keunggulan Kompetitif
Di tengah persaingan ketat dengan Aqua (Danone) dan CLEO, ADES memiliki beberapa keunggulan:
• Lisensi Merek Global: Penggunaan merek Nestle Pure Life memberikan citra premium dan loyalitas tinggi di segmen korporat dan HORECA (Hotel, Restoran, Kafe).
• Diversifikasi Pendapatan: Sekitar 30–40% pendapatan berasal dari bisnis maklon (kontrak manufaktur pihak ketiga) yang memberikan stabilitas arus kas.
• Market Share: Pangsa pasar ADES diprediksi stabil atau tumbuh tipis di kisaran 11–13% pada 2026.

Risiko yang Perlu Diperhatikan
• Likuiditas Saham: Free float yang rendah (hanya 8,48%) dapat membatasi volume perdagangan saham di bursa.
• Biaya Input: Kenaikan harga BBM dan kemasan plastik sebesar 5–10% berpotensi menekan margin jika tidak dialihkan ke harga jual.
• Kompetisi: Persaingan harga di segmen ritel botol PET sangat intens dengan pemain besar seperti Aqua dan Le Minerale.

Secara keseluruhan, ADES adalah perusahaan dengan fundamental "tahan banting" yang siap memanfaatkan tren konsumsi sehat di Indonesia hingga 2026.

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADES
target marketcap 16T - 18T
CAGR growt 25%-30%



$BUMI $BBRI

@MazAbdul emiten kalau sering bagi deviden justru jelek ( $DMAS ), itu jadi salah satu bukti jika manajemen gak bisa memikirkan ekspansi bisnis perusahaan, manajemen isinya pemalas. contoh emiten gak pernah bagi deviden $ADES, sahamnya naik terus, kenapa? ya karena uang keuntungan perusahaan dari pada dibagikan sebagai deviden mending buat ekspansi.

$BUMI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$FORE $ADES $ULTJ

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADES 😏

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADES apakah akan menjadi private?

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADES Selesai sudah kena aturan Free Float McD gan dihukum tutup gap total gan

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ADES saham mahal tapi ga ada deviden what the fuck

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

@bamzat wkwkk

apakah isu free float ini akan mengguncang $ADES ??

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Holder $ADES melihat market $IHSG 2 hari ini be like

$BUMI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

My bini $ADES full senyum 😘

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

gila IHSG crash total kok $ADES di portofolioku ga crash gimana ini gan

2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy