


Volume
Avg volume
PT Akasha Wira International Tbk (“Perseroan”) didirikan dengan nama PT Alfindo Putrasetia pada tahun 1985. Nama Perseroan telah diubah beberapa kali, terakhir pada tahun 2010, ketika nama Perseroan diubah menjadi PT Akasha Wira International Tbk. Perseroan memiliki beberapa kegiatan usaha dan produk yang dihasilkan, diantaranya adalah industri air minum dalam kemasan dengan merek Nestlé Pure Life dan Vica Royal; industri kosmetika dengan merek Makarizo; industri food & beverage dengan merek Pureal dan Wonhae; serta distribusi produk kosmetika professional merek Wella and Clairol di Indonesia.
$ADES OH MARKET $IHSG $BUMI CRASHTOT (CRASH TOTAL) YA KOK GAK KERASA GAN GELI GELI GAN NGOAHAHAHAHAA

Umpama di awal Anda punya 1 warung bakso enak. Misal Return of invested capital 30% setahun. Selagi Anda bisa terus ekspansi jadi 2 warung 3 warung sampai n warung tanpa terlalu mengurangi ROIC tadi, tidak ada alasan untuk membagikan dividen.
Tapi ketika sampai di titik n warung tadi, kalau ketambahan warung lagi malah ROIC nya turun jauh, di situlah Anda boleh mempertimbangkan untuk bagi dividen ketimbang untuk ekspansi. Karena ekspansi selanjutnya sudah menurunkan value bisnis.
Kl ga bagi dividen atau buyback, value bisnisnya jg akan turun karena cash yg dikempit tidak akan mampu menghasilkan ROIC 30% per tahun.
Jadi usaha yg fase awal/muda, tidak perlu membagikan dividen karena setiap rupiahnya akan menjadi 1,3 rupiah di tahun berikutnya dalam kasus ini. Di sinilah value nya tercipta.
Sebaliknya, di fase akhir/tua, kalau ga bagi dividen, ROE nya akan menurun, menyebabkan valuasi bisnis jg menurun. Di sinilah, ketika bagi dividen justru menjaga value bisnisnya tetap di level yang bagus.
Maka dibutuhkan praktek capital allocation yang rasional dari manajemen yang paham betul bisnis dan siklusnya.
$ADES $IPCC $TOTL
Mencontek dalam berinvestasi, bolehkah?
Halo teman-teman semua, bagaimana kabarnya di awal 2026 ini? Semoga portonya selamat ya dari guncangan beberapa waktu ini, dan selamat yang sudah sedia cash dari kemarin, sehingga bisa memiliki kesempatan mengakumulasi beberapa saham yang lagi diberikan diskon oleh market. Saya yakin kesempatan tersebut hanya datang jika kita sudah siap, yang berarti jika kita investasi hanya ikut-ikut kata orang lain saja tanpa benar-benar mengerti apa yang kita beli, penurunan harga saham yang terjadi kemarin bisa jadi sesuatu yang menyeramkan, membuat tangan gelisah dan tidur jadi tidak nyenyak, apalagi jika posisi sudah all in, dimana saya sangat against all in yang saya jelaskan disini https://stockbit.com/post/22710930. Oleh karena itu untuk artikel kali ini saya mau membahas terkait investasi saham dengan mencontek orang lain, apakah itu hal yang salah atau sebenarnya tidak masalah?
Mencontek Style Investasi
Berhubung saya lagi baru selesai main Dark Soul, maka untuk case ini izin saya kaitkan dengan filosofi di game tersebut ya. Di awal game Dark Soul kita memiliki kesempatan untuk memilih character kita akan fokus di strength / dexerity / magic build. Yang keduanya memiliki pros dan consnya di masing-masing periode tertentu. Cabang dari ketiga build tersebut juga bisa bervariasi tergantung dari senjata apa dan magic apa yang akan kita pakai sepanjang perjalanan nanti, sehingga perjalanan setiap orang bisa dipastikan memiliki keunikannya sendiri, jarang sekali (kalaupun ada) game yang dimainkan dengan sama persis antara satu pemain Dark Soul dengan pemain lain. Pada akhirnya kita juga pasti memiliki style sendiri yang kita nyaman mainkan, meskipun mungkin style itu bukan yang paling kuat.
Begitupun di pasar modal, semakin banyak mendengar pendapat dari pelaku market melalui podcast ataupun seminar di sana sini, maka saya rasa teman-teman juga sadar begitu banyak style investasi yang bisa kita pilih ya. Mulai dari value investing ala PER PBV, value + growth investing, 'new era' of value investing, trading by momentum, scalping, dan banyak lagi style investasi orang yang membuat market menjadi unik dan sejujurnya tidak pernah multak ada kata benar dan salah di setiap transaksi yang terjadi. Pada akhirnya yang membeli selalu ingin saham yang dia beli naik dan saham yang dia jual tidak naik lagi kedepannya (kalau ada yang denial beli saham berharap harganya turun lagi percayalah itu biasanya hanya untuk menghibur diri saja wkwk).
Sehingga bisa saja kita mencontek style investasi mentor A atau B, tapi seharusnya seiring waktu jika kita benar-benar serius menekuni dunia saham maka kita juga pada akhirnya akan memiliki style yang akan nyaman kita pakai sendiri. Perjalanan menuju penemuan jati diri tersebut merupakan perjalanan panjang yang alhamdulillah saya pribadi sepertinya sudah selesai proses pencarian jalannya yang saya share disini https://stockbit.com/post/24117594. Buat yang masih belum menemukan style-nya tetap semangat, dan keep open minded untuk bisa menerima segala insight yang ada di market. Saya tidak menyarankan untuk keluar dari comfort zone, tapi perluaslah comfort zone kita setiap harinya dengan terus mempelajari hal-hal baru yang related dengan style yang ingin kita jalani selama perjalanan kita berinvestasi di saham kedepannya.
Mencontek Stockpick
Dari style investasi tadilah maka universe stockpick kita akan terbentuk, yang biasanya jika kita menjalani style yang sama maka ketemunya sahamnya ya itu lagi itu lagi, apalagi di IHSG yang universe sahamnya cukup kecil jika dibanding di market US. Jika teman-teman sadar sebenarnya saham-saham yang saya bahas di Stockbit mayoritas berasal dari saham-saham yang direkomendasikan oleh Mentor Baik juga, mulai dari $ADES, BTPS, $TSPC, ULTJ, WINS. Then why bother sharing? Toh sudah ada orang lain juga yang sudah membahasnya? (Pada masanya memang sampai ada yang bertanya hal seperti ini).
Uniknya di dunia saham adalah untuk 1 saham yang sama persis dengan orang lain, alasan masuknya bisa jadi 100% berbeda yang utamanya disebabkan perbedaan time horizon waktu kita mulai analisis dan beli sahamnya dibanding orang lain. Kita ambil contoh saja di ADES, yang saya tahu ada beberapa orang yang sudah beli dari harga < 2.000 dulu. Tapi orang yang sama tersebut juga menjelaskan alasan dia beli di harga itu dulu sangat berbeda dengan alasan dia hold hingga saat ini dan bahkan masih berani untuk tetap membeli lagi di harga 15,000. Dikarenakan story ADES yang berubah dari saham yang masih diragukan turnaround-nya di 2021 dulu menjadi saham yang jelas lagi masuk ke fase2 fast grower dan hanya dihargai dengan PEG 0,6x saja.
Semakin lama saya mengarungi market, maka semakin terbuka juga sudut pandang saya terhadap 'si paling awal dalam membahas suatu saham', karena pada akhirnya jarang ada yang benar-benar valid dengan klaim mereka sebagai yang pertama menganalisis sebuah saham, karena di sisi dunia lain ada saja sebenarnya yang sudah membahas thesis saham tersebut, kalaupun bukan berasal dari komunitas bisa saja berasal dari analisis sekuritas, atau bahkan ya prospektus IPO perusahaan tersebut. Yang menjadi pembeda adalah siapa yang berhasil 'meramaikan' saham tersebut dengan analisisnya saja. Pertanyaannya adalah, apakah perlu selalu menjadi penemu paling pertama untuk bisa sukses? Untungnya tidak, terkadang analisis apalagi di dunia value investing butuh waktu yang tidak sebentar untuk market mulai mengapresiasinya. Sehingga memberikan ruang bagi kita untuk crosscheck analisis orang-orang lain yang bisa menjadi referensi analisis kita.
Mencontek Money Management
Membahas contek mencontek ini membuat saya teringat dengan Monish Pabrai yang pernah dengan pede mengatakan 'saya peniru yang tidak tahu malu, segala sesuatu dalam hidup saya dikloning, saya tidak punya ide original', terus apakah Monish Pabrai tidak sukses? Silahkan dijawab sendiri ya. Begitupun dengan China yang sepertinya satu dunia sudah tahu pada masanya semua dicontek oleh manufaktur di China, sampai pada akhirnya mereka bisa semaju sekarang dan menjadi pelopor inovasi di bidang produksi dan teknologi. Amati, Tiru, Modifikasi di tangan yang tepat menjadi senjata paling efektif untuk belajar.
Jika teman-teman sadar 5 saham yang saya bahas di atas itu merupakan mantan penghuni porto saya (beberapa masih hold), yang sumbernya bukan berasal dari 1 mentor saja, karena risk profile saya pribadi yang tidak mungkin sama dengan orang lain termasuk mentor saya sekalipun. Penyebab mengapa saham yang sama juga akan berbeda di dalam porto seseorang dengan orang lain adalah dikarenakan kondisi keuangan satu dengan yang lain pastinya berbeda. Ada yang 100% asetnya di saham, ada yang hanya 50%, ada yang mungkin hanya 10% saja. Untuk yang 10% aset di saham menjadi sedikit wajar jika mereka berani all in di $BUMI misalnya, karena kalaupun ternyata BUMI balik ke gocap seharusnya hidupnya tidak begitu terdampak. Menjadi keputusan yang kurang bijaksana juga bila kita all in di ADES sekalipun jika aset kita 100% di saham, siapa tahu apa yang akan terjadi kedepannya?
Pada akhirnya pilihan saham kita bisa sama persis dengan orang lain, tapi conviction tidak akan bisa sama. Conviction itu pula yang akan berpengaruh ke timing buy and sell kita, kapan kita TP sebagian, Avg down, Avg up, belum lagi tiiming sizing saham tersebut di porto. Terlalu banyak faktor yang menjadi variabel dalam penentu kinerja kita, yang akan menjadi sangat berbahaya jika kita beli dan jual saham hanya karena 'eh si ini beli saham x, eh si ini udah jual saham y kemarin'. Semakin dalam pemahaman kita terhadap story emiten yang akan kita beli, maka akan semakin kecil pula penyesalan yang terjadi jika kita beli ketinggian atau jual kecepetan nanti. Ya, pada akhirnya pendalaman analisis yang dilakukan menurut saya pribadi lebih untuk mengurangi penyesalan kita dibanding meningkatkan return kita di saham tersebut.
Closing
Semoga dengan ini clear ya guys, mencontek tidak masalah asal ada pelajaran yang kita ambil dari mencontek tersebut. Ibarat ketika ujian orang yang mencontek tapi sudah belajar akan jauh lebih tenang dibanding orang yang mencontek jawaban temannya tanpa tau sama sekali asal muasal jawaban tersebut. Maka tidak usah malu untuk sharing hasil analisis kita di suatu saham walaupun sudah ada orang lain yang membahas saham tersebut ya. Minimal dengan sharing tersebut kita menjadi tahu sampai mana batas pemahaman kita terhadap emiten tersebut, dan bonusnya adalah bisa jadi berjumpa orang lain yang juga lagi membahas emiten tersebut sehingga lebih banyak lagi insight2 yang bisa didapatkan yang mungkin terlewat oleh kita.
Analisis detail di Stockbit saya kemarin menjadi landasan saya untuk mendapat kerangka berpikir cara menganalisis sebuah saham secara lebih komprehensif, namun karena effort yang cukup besar untuk membuatnya (dulu sampai 5 part untuk bahas 1 saham saja), maka belakangan ini saya lebih aktif sharing hasil rangkumannya saja via IG saya yang bisa dicek di @Ire1123. Disitu saya lumayan sering berbagi watchlist, update2nya, beserta beberapa kondisi makro d.l.l juga untuk bisa dipantau. Tidak akan sedetail pembahasan di Stockbit, tapi semoga cukup untuk menjadi trigger apa yang teman-teman perlu pantau kedepannya.
Oke, sekian dari saya kali ini, terima kasih sudah membaca dan semoga bermanfaat!
1/10










@Eefjul secara sederhana apabila sudut pandangnya investor jangka panjang, menurut saya yang diharapkan sama yaitu dividen.
Mengharapkan dividen dari emiten yang "belum" membagikan dividen bukan hal yang salah. Sebagai contoh kita memelihara sapi perah betina. Mungkin di umur 1 s.d. 2 tahun belum akan memberikan return apapun tetapi ada ekspektasi bahwa nanti setelah si sapi hamil dan melahirkan di usia 3 tahun misalnya akan ada susu yang bisa diperah dan menghasilkan manfaat ekonomi.
Analogi tersebut menurut saya mungkin yang paling dekat dengan pertanyaan kenapa seorang investor jangka panjang mau investasi di suatu emiten yang belum membagikan dividen.
Perusahaan dengan kualitas dan manajemen yang bagus yang masih bisa bertumbuh akan menggunakan semua resource yang dimiliki untuk tumbuh, sampai di suatu titik sudah kesulitan tumbuh baru biasanya akan membagikan dividen. Contohnya seperti $NISP. Seingat saya dulu NISP jarang membagikan dividen nah baru beberapa tahun terakhir NISP rajin membagikan dividen.
Contoh saham yang saya pribadi tunggu dividennya adalah $ADES, salah satu alasan saya membeli emiten tersebut selain pertumbuhan dan kualitas manajemen yang bagus adalah karena saya menunggu dividennya.
Pasar memang tempatnya ekspektasi saling bertemu jadi pastikan jika ingin mengambil jalur yang logis dan realistis memilih emiten juga yang logis dan realistis, maksudnya jangan membeli emiten yang cita-citanya dibeli oleh pihak ini dengan harga sekian. Atau emiten yang usahanya sudah senja tapi janji ke depan akan tumbuh 100 ribu persen dan akan bagi dividen.
kita juga bisa memilih jalur lain, tapi nalar logis dan realistisnya digunakan untuk hitung yang yang lainnya misal kejar indexing.
Jalan untuk menunggu emiten tumbuh dan membagikan dividen itu susah susah gampang (susahnya 2x gampangnya cuma 1 yaa)
susah karena harus mencari yang bagus dan manajemennya amanah
susah karena harus menunggu dan membuktikan bahwa konsisten dan aman, sanggup melewati badai (contoh sapi tadi, tidak ada jaminan sapinya tidak mati di tengah jalan sebelum menghasilkan susu)
mudah karena sudah pasti naik, emiten yang punya dividen yield 50% dari hari harga sekarang dan konsisten terus ke depan dividennya tidak mungkin tidak naik dibanding harga hari ini.
sekian, semoga senantiasa yang terbaik untuk kita semua.
@GUNAWANBAGUSRINALDI Sola bukannya beda sektor om.. $ADES mungkin lebih relate, sama2 turnaround dan skrg fast growth
Woi warga Stream!
Banyak yang galau liat $CLEO sideways atau turun dikit? Yang nyangkut di 500-an, JANGAN PANIK. Nih gue kasih insight kenapa ini sebenernya lagi "isi bensin" buat terbang.
1. LOGIKA SEDERHANA: BISNIS ANTI RESESI
Lu mau krisis, mau IHSG merah berdarah, mau dompet tipis, tetep minum kan?
Cleo ini jualan air, bukan jualan barang mewah. Revenue-nya ngalir terus 24 jam. Ini saham defensive rasa growth. Fundamental badak!
2. DIBACKING CRAZY RICH SURABAYA
Inget, ini barangnya Pak Hermanto Tanoko (Tancorp). Track record beliau bangun emiten gak pernah main-main. Liat $AVIA, liat grupnya yang lain.
Masa iya bos besar ngebiarin saham andalannya tidur terus? Logikanya, ini lagi fase akumulasi. Ritel yang gak sabaran dibuangin dulu, barangnya dipungut "Ndar" di harga bawah.
3. EKSPANSI GILA-GILAAN
Pabrik baru dibangun di mana-mana. Tujuannya apa? Mangkas ongkos kirim!
Begitu semua pabrik jalan, margin laba bakal tebel banget. Laba naik = Harga saham naik. Rumus pasti itu!
Sekarang ini ibarat kita lagi ikut "nanam sawit", bentar lagi panen raya cuannya.
4. VALUASI?
Buat perusahaan yang growth labanya double digit konsisten tiap tahun, harga sekarang itu SALAH HARGA.
Yang beli di 500 itu sebenernya udah dapet harga wajar, cuma emang butuh napas panjang dikit. Nanti kalau udah breakout ATH (All Time High), yang baru mau masuk bakal nangis dipojokan.
KESIMPULAN:
Harga 500-an itu bukan pucuk, tapi lantai beton buat loncatan berikutnya.
Mumpung belum terbang, mending average down atau hold kenceng.
Jangan sampe nanti pas udah 700++ baru rame-rame nanya "Boleh masuk gak gan?". Telat bos!
Disclaimer On. Do Your Own Research. Salam cuan!
$ADES
Mana Yang Terbaik dari $ICBP vs $ADES vs $CPRO
Lanjutan dari postingan di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
ICBP memiliki beberapa saingan kelas berat di bisnis konsumer. Di papan bursa, saingan kelas berat itu bukan selalu berarti produknya satu rak, tapi berarti rebutan satu hal yang sama, yaitu kepercayaan investor terhadap kualitas laba dan kualitas kas. Saat pasar sedang sensitif, perusahaan yang labanya besar tapi kasnya rapuh akan dihukum, perusahaan yang kasnya tebal tapi neracanya bawa risiko besar juga bisa ikut dihukum. Itulah kenapa membandingkan ICBP dengan ADES, CPRO, lalu disandingkan juga dengan JPFA, CPIN, MAIN, SIPD, hasilnya jadi seperti melihat dua dunia yang beda, konsumer yang cenderung stabil versus agribisnis yang cenderung siklikal. Dan di tengah semua itu, ICBP kelihatan seperti raksasa yang paling rapi di kas, tapi juga paling berat di beban utang. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi skala nominal 9M 2025, ICBP berdiri paling depan di revenue sekitar Rp56,27 T, tipis di atas CPIN sekitar Rp50,60 T dan di atas JPFA sekitar Rp43,10 T, sementara MAIN sekitar Rp9,25 T, CPRO sekitar Rp7,34 T, SIPD sekitar Rp3,93 T, dan ADES sekitar Rp1,85 T. Skala ini langsung terasa di laba bersih juga, ICBP sekitar Rp7,11 T, jauh di atas CPIN sekitar Rp3,37 T dan JPFA sekitar Rp2,41 T, lalu ADES sekitar Rp0,49 T dan CPRO sekitar Rp0,43 T, MAIN sekitar Rp0,14 T, SIPD sekitar Rp0,005 T. Kalau investor suka cara baca yang lugas, ICBP itu bukan cuma paling besar, tapi juga paling tebal labanya dalam kelompok ini. Namun uang yang paling jujur tetap kas, dan di CFO ICBP juga paling besar sekitar Rp7,17 T, mengungguli CPIN sekitar Rp4,02 T dan JPFA sekitar Rp2,21 T, lalu MAIN sekitar Rp0,41 T, ADES sekitar Rp0,39 T, CPRO sekitar Rp0,24 T, SIPD sekitar Rp0,07 T. Setelah dikurangi capex, free cashflow ICBP sekitar Rp3,86 T masih jadi yang terbesar, diikuti CPIN sekitar Rp2,71 T, lalu JPFA sekitar Rp0,68 T, ADES sekitar Rp0,17 T, MAIN sekitar Rp0,17 T, CPRO sekitar Rp0,07 T, dan SIPD minus sekitar Rp0,05 T. Di titik ini sudah kelihatan pola, skala besar yang sehat itu bukan cuma revenue besar, tapi kemampuan menyisakan free cashflow, dan ICBP serta CPIN menonjol.
Kalau diskalakan menjadi margin supaya adil, peta kekuatan berubah lagi. ADES tampil sebagai juara persentase, CFO margin sekitar 20,88% dan NPM sekitar 26,43%, ini level yang membuat ADES terlihat seperti perusahaan yang sangat efisien dan sangat minim gangguan dari struktur pendanaan. ICBP berada di level besar yang jarang bisa ditiru, CFO margin sekitar 12,74% dan NPM sekitar 12,63%, artinya di skala Rp56,27 T revenue, ICBP masih bisa mempertahankan ketebalan kas dan laba yang rapi. CPIN berada di tengah yang sehat, CFO margin sekitar 7,93% dan NPM sekitar 6,65%, sedangkan JPFA CFO margin sekitar 5,12% dan NPM sekitar 5,59%. CPRO lebih tipis, CFO margin sekitar 3,32% dan NPM sekitar 5,82%, MAIN NPM sekitar 1,47% dengan CFO margin sekitar 4,41%, dan SIPD paling tipis, NPM sekitar 0,13% dan CFO margin sekitar 1,79%, lalu free cashflow malah negatif. Jadi kalau investor membandingkan kualitas kas versus laba dalam satu tarikan napas, ADES menang telak di persentase, ICBP menang telak di kombinasi persentase yang tetap tebal di skala raksasa. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Capex memberi sinyal gaya bermain masing-masing. ADES punya capex terhadap revenue sekitar 11,53%, tertinggi, ini biasanya ciri perusahaan yang sedang agresif memperbesar kapasitas dan memperkuat mesin pertumbuhan, selaras dengan cerita penggunaan capex untuk penambahan tanah dan mesin pabrik. ICBP capex terhadap revenue sekitar 5,88%, juga tinggi untuk skala raksasa, dan ini masuk akal karena bisnis makanan olahan butuh pabrik, lini produksi, dan efisiensi logistik yang terus ditingkatkan. CPIN, MAIN, CPRO ada di kisaran 2,38% sampai 2,57%, JPFA 3,54%, SIPD 3,01%, sehingga secara umum grup agribisnis terlihat lebih moderat di capex terhadap revenue dibanding ADES dan ICBP, walau kebutuhan capex mereka tetap besar di nominal untuk skala tertentu. Yang lebih penting lagi, capex dibanding CFO menunjukkan siapa yang belanja dari kas dengan nyaman. CPIN paling longgar, capex sekitar 32,40% dari CFO. ICBP sekitar 46,14% masih masuk kategori nyaman. ADES sekitar 55,24% masih wajar untuk fase ekspansi. JPFA sekitar 69,12% dan CPRO sekitar 71,90% membuat ruang napas lebih sempit, sementara SIPD sekitar 168,15% menunjukkan belanja modalnya melampaui kas operasional, lalu wajar kalau free cashflow jadi negatif. Ini inti perbandingan trend versus skala, perusahaan kecil bisa terlihat sangat profitabel tapi harus belanja besar untuk tumbuh, perusahaan besar bisa belanja besar tapi tetap punya sisa kas, sedangkan perusahaan siklikal bisa belanja besar justru ketika kasnya tidak stabil.
Sekarang masuk ke utang berbunga dan beban yang menempel di tiap model bisnis. ICBP menanggung utang berbunga sekitar Rp46,91 T, paling besar dan jaraknya jauh dari yang lain. JPFA sekitar Rp11,37 T, CPIN sekitar Rp7,06 T, MAIN sekitar Rp1,08 T, CPRO sekitar Rp0,73 T, SIPD sekitar Rp0,89 T, sedangkan ADES nyaris nol, hanya sekitar Rp0,37 B. Di sinilah investor harus tegas membedakan risiko. ADES bisa terlihat sangat cantik di margin karena beban utangnya praktis tidak ada. ICBP bisa terlihat sangat kuat di kas, tapi utangnya besar, sehingga investor wajar memberi diskon risiko ketika kurs dan biaya pendanaan jadi isu. Dan di agribisnis, utang sering berkait dengan siklus modal kerja dan ekspansi, sehingga di periode tertentu terlihat aman, di periode lain bisa cepat terasa berat. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Efisiensi per karyawan menambah lapisan skala yang lebih manusiawi. CPIN adalah mesin efisiensi revenue per karyawan, sekitar Rp5,16 B per karyawan, disusul CPRO sekitar Rp4,16 B dan ADES sekitar Rp3,95 B, lalu SIPD sekitar Rp2,89 B, MAIN sekitar Rp2,54 B, ICBP sekitar Rp1,52 B, dan JPFA sekitar Rp1,38 B. Namun untuk laba per karyawan, ADES jauh memimpin sekitar Rp1,04 B per karyawan, ini gila-gilaan efisien, lalu CPIN sekitar Rp343 J dan ICBP sekitar Rp192 J, sedangkan JPFA sekitar Rp77 J, CPRO sekitar Rp242 J, MAIN sekitar Rp37 J, SIPD sekitar Rp3,7 J. Di CFO per karyawan, CPIN sekitar Rp410 J masih yang paling tinggi, ADES sekitar Rp825 J terlihat sangat tinggi karena skala karyawan kecil dan margin kas tebal, ICBP sekitar Rp193 J, MAIN sekitar Rp112 J, CPRO sekitar Rp138 J, JPFA sekitar Rp70 J, SIPD sekitar Rp52 J. Dan yang paling nyentil, utang per karyawan ICBP sekitar Rp1,27 B per karyawan, tertinggi, sehingga narasinya konsisten, ICBP kuat di kas, tetapi membawa beban utang besar yang menempel di setiap kepala secara statistik. ADES utang per karyawannya sekitar Rp0,8 juta, praktis nol, sehingga wajar margin dan fleksibilitasnya terlihat paling bersih.
Bagian trend pertumbuhan membuat investor bisa melihat siapa yang sedang menekan gas, siapa yang sedang menghadapi gangguan. Revenue growth dipimpin ADES sekitar 38,3%, jauh meninggalkan CPRO sekitar 6,5% dan JPFA sekitar 4,4%, sementara SIPD turun sekitar 1,7%. Laba growth paling menonjol CPIN sekitar 41,0% dan ADES sekitar 39,5%, sedangkan ICBP turun sekitar 12,7% dan penjelasannya jelas, rugi kurs pendanaan membuat laba bersih tertekan walau mesin operasionalnya relatif stabil. CFO growth juga menarik, JPFA tumbuh sekitar 30,8% dan ADES sekitar 27,4%, tetapi CPRO justru anjlok sekitar 43,9%, ini contoh klasik betapa volatile arus kas di bisnis pakan dan agribisnis, angka laba bisa terlihat wajar, tapi kas bisa berubah drastis ketika modal kerja berputar tidak sesuai ekspektasi. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
ICBP hidup dari mi instan sekitar 74,7% revenue, artinya mesin utama jelas dan konsisten. ADES motor utamanya kosmetik sekitar 50,5% revenue, dengan margin kotor kosmetik sekitar 62,2% yang jauh lebih tinggi daripada makanan dan minuman sekitar 40,0%, sehingga wajar margin keseluruhan ADES terlihat sangat tebal. CPRO ditopang pakan sekitar 82,8% revenue, JPFA motor peternakan komersial sekitar 40,1% revenue, dan di grup peternakan margin pakan JPFA sekitar 19,9% menjadi sorotan. Dari sisi aset, ICBP sekitar Rp132,4 T berada di kelas raksasa, CPIN sekitar Rp43,7 T kelas menengah besar, sedangkan ADES sekitar Rp3,2 T dan SIPD sekitar Rp3,0 T adalah pemain kecil. Ini menjelaskan kenapa ADES bisa menang di persentase, tetapi ICBP menang di bobot kas absolut, dan juga menjelaskan kenapa ICBP sering jadi pusat perhatian pasar, karena perubahan kecil di sentimen kurs dan utang bisa menggeser angka laba dalam nominal yang besar.
Rentang NPM di tujuh perusahaan ini bergerak dari sekitar 0,13% sampai 26,43%, dengan rata-rata sekitar 8,39% dan median sekitar 5,82%. CFO margin bergerak dari sekitar 1,79% sampai 20,88%, dengan rata-rata sekitar 8,03% dan median sekitar 5,12%. Capex terhadap revenue bergerak dari sekitar 2,38% sampai 11,53%, dengan rata-rata sekitar 4,49% dan median sekitar 3,01%. Artinya, ICBP dan ADES berada di wilayah di atas rata-rata, tetapi dengan alasan yang berbeda, ADES menang karena efisiensi dan utang nyaris nol, ICBP menang karena kualitas kas yang tebal di skala raksasa. Dan perusahaan agribisnis di kelompok ini memberi pelajaran yang tegas, margin bisa pulih, tapi arus kas bisa berubah cepat, sehingga investor yang mengejar stabilitas biasanya akan lebih menghargai konsistensi CFO dan free cashflow daripada sekadar cerita pertumbuhan revenue.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/2


Izin nyumbang opini pak. Kebanyakan investor retail mendefinisikan murah itu hanya dari PBV.
Padahal bisa saja dia pantas murah karena ROE nya memang kecil. Ada juga PBV kecil ROE besar, karena debt nya kegedean.
Maksud saya, investasi tidak sesimpel beli bv murah harap pbv nya revert ke atas.
Murah seharusnya ketika kualitas bisnisnya memiliki nilai di atas harga pasarnya. Nilai ini adalah kombinasi dari nilai aset + return on capital + growth rate + length of runway. Bukan semata-mata book value saja.
Ada banyak contoh di masa lalu seperti $ADES $CASS $TOTL yang value bisnis nya meningkat secara persisten, sehingga market price nya juga akan menyesuaikan pula. 🙏
$PTPS
⚡ SCALPING PLAN: PTPS
🟢 Entry
Buy Area: 192 – 196 (Masuk selama harga mampu bertahan di atas level 190 pada pembukaan sesi hari ini).
Breakout Entry: 202 (Masuk jika harga berhasil menembus level psikologis 200 dengan volume yang meyakinkan).
🎯 Take Profit
TP 1: 208 – 214 → jual 65% (Target resisten minor untuk mengunci keuntungan cepat).
TP 2: 224 – 232 → jual sisa (Target optimis jika PTPS kembali ke tren naik utamanya).
🔴 Stop Loss
SL Agresif: 188 (Membatasi risiko jika pantulan harga gagal berlanjut).
Cut Loss Mutlak: Daily Close < 182 (Sinyal bahwa tren penurunan akan berlanjut ke area 170).
⚠️ Catatan Cepat
MACD Crossover: Perhatikan jika garis biru memotong ke atas garis merah hari ini; itu adalah konfirmasi kuat untuk menambah posisi (Add on).
Volatility Watch: PTPS seringkali memiliki sumbu (shadow) panjang pada lilin harian; pastikan eksekusi dilakukan secara disiplin tanpa terbawa emosi volatilitas.
Jangan Lupa Follow!
Random Tag :
$ADES $STTP
Jumlah Modal, Mentalitas, dan Rasa Cukup
(Pelajaran dari Tahun 2025)
Inti tulisan ini adalah bahwa memang memiliki modal yang besar dan rasa cukup bisa membuat perjalanan mengarungi bursa menjadi lebih nyaman.
Iseng dengan budget besar itu bisa menghasilkan hasil yang besar juga kan? tapi yang lebih penting kalau modalnya buesar, budget isengnya juga berarti akan besar dan kalau beruntung sampai bagger yaa besar juga keuntungannya, kalau gagal namanya budget iseng. Sederhananya kalau budget iseng 10% maka:
a. 10% dari 100 juta itu 10 juta,
b. 10% dari 10 milyar berarti 1 milyar
dannn bagger dari 10 juta adalah 10 juta, kalau bagger dari 1 milyar ya 1 milyar.
persentase isengnya sama 10%, persentase keuntungan dari isengnya juga sama 100% tapi karena total modalnya berbeda maka akan berbeda juga keuntungannya.
Tapiii, jangan berkecil hati, 10 milyar itu tak akan jadi 10 milyar kalau dikurangi 100 juta. Dan orang yang tiba-tiba punya 10 milyar dengan mudah akan beda mentalitasnya dengan orang yang beberapa tahun sebelumnya memulai dan mengembangkan dari 100 juta.
Sebagian besar orang yang bisa punya budget iseng adalah orang yang pernah berjuang, karena tahu beratnya mengumpulkan dan menjaga apa yang sudah dipunyai.
Namun kalau memang sudah ada bakat menjadi UNHWI bahkan triliuner maka selalu ratusan persen tiap tahun dari porto adalah hal yang perlu diwujudkan, kalau saya sudah cukup, sudah tidak mengejar pertumbuhan persentase lagi.
terakhir saya memohon maaf apabila saya mengabaikan apa yang pernah saya katakan, karena lingkungan akhirnya saya juga terjerembap ke arena permainan yang tidak pernah saya bayangkan akan saya nikmati lagi.
_________________________________
Berikut tulisan panjangnya.
Tahun 2025, lebih tepatnya paruh kedua 2025 karena informasi dari mentor panutan saya dan informasi (stockpick) dari stream di stockbit, yang tentu dari user yang menurut saya track record-nya jelas, saya putuskan untuk mulai ikut mengambil saham-saham narasi yang sejujurnya secara kinerja tidak begitu saya pahami.
Awalnya tidak pernah terbersit sedikit pun bahwa saya akan beli saham-saham yang akan atau dengan PER VOC (meminjam istilah pria terganteng di Stockbit) tanpa dasar kinerja yang jelas sama sekali.
Betul saya pernah beli saham yang PE-nya besar bahkan minus tetapi saya saat itu memahami bagaimana kinerjanya ke depan. Kinerja maksudnya adalah kinerja laba bukan kinerja harga sahamnya.
Namun karena mentor-mentor yang saya ikuti kuat sekali memberikan sinyal untuk ikut permainan narasi, dan kebetulan salah satu narasinya sangat menarik untuk saya, akhirnya saya masuk. Normalnya untuk saya, saya hanya akan masuk ke saham yang tidak jelas untuk saya maksimal satu saham 1% dari total modal di RDN, tetapi karena dukungan semesta yang luar biasa, entah bagaimana saya membenamkam 30% total modal RDN saya ke saham narasi. Hal gila untuk saya, apalagi kalau ingat sejak 2024 saya sudah khawatir dengan kondisi ekonomi yang secara struktural sudah tidak karuan.
Meskipun sebenarnya muncul angka 30% itu bukan murni dari sisa modal RDN tetapi sebagian porsi uang dingin yang niat awalnya saya siapkan untuk digerakkan ketika badai datang. Namun karena petuah mentor-mentor yang saya percayai dan akun andalan stockbit akhirnya saya gerakkan terlebih dahulu sebagian modal saya.
Kalau ditanya "dulu biasanya menulis apa yang mau dibeli atau apabila ada insight kenapa sekarang tidak?"
Untuk saya alasannya ada dua,
yang pertama karena ide aslinya bukan dari saya. Dalam aksi ini saya benar-benar contek persis stockpick mentor dan orang yang saya percayai atau sekedar mengikuti orang dengan track record baik di stockbit.
Kalau ditanya apakah selalu cuan, jawabannya tentu tidak. Dari 9 saham yang saya contek ada satu yang belum bergerak bahkan cenderung menurun tetapi secara valuasi memang bukan PER VOC dan memang sepertinya tidak ada niatan jualan ke bule.
Saya tentu tak mungkin membagikan kembali tulisan dan ide orang lain. Saya juga tidak punya kompetensi sama sekali soal narasi jadi daripada saya plagiat ide orang lain, saya biarkan dan nikmati/risikokan sendiri begitu saja.
alasan kedua, kenapa saya tidak menulis sama sekali soal saham narasi yang saya ikuti. Tentu karena risikonya yang tinggi dan tak bisa saya ukur. Kalau dibilang "gila ya bahkan risiko atas saham yang dibeli saja tidak tahu?"
agak memalukan sebenarnya karena biasanya saya menulis harus membeli yang diketahui, atas apa yang saya lakukan kemarin, bukan saja menjilat ludah sendiri tetapi sudah meminum ludah sendiri wkwk.
Namun, dari kegilaan yang saya lakukan itu (membeli saham narasi yang tidak saya pahami) memberikan saya feel dan pengalaman bahwa memang jika target modal kita sudah terlewati maka kita akan jadi jauh lebih santai dan lebih bebas untuk melakukan lebih banyak hal. Termasuk melakukan hal-hal yang dulu kita anggap gila.
Contoh dari paragraf di atas adalah misal, ketika sudah punya rumah, mobil dan tabungan sekolah anak, serta Kas atau setara kas dan investasi sudah di 10M (misalnya) maka target atau batas akhir sudah terlampaui jika ternyata barangnya (rumah mobil dst) telah tersedia dan kas setara kas ada di 20M maka "iseng" dengan 3M tidak akan jadi masalah.
Kalau ditanya 3M besar? tentu. buat saya sampai sekarang 3M besar tetapi 3M ini sudah, bonus yang kalau sampai amit-amit menguap ya sudah masih ada sisanya, masih ada lainnya.
Kemudian, misalkan akan ada badai, masih ada 7M lainnya yang bisa digerakkan.
Kemudian enaknya punya target yang sudah dilampaui, tidak ada feel deg-deg an atau gugup berlebihan. Saya ingat betul dulu pernah main sembarangan di waran, begitu naik 100% lebih dalam tiga hari bikin kepikiran terus bahkan saya sering diam-diam di tengah rapat ke kamar mandi hanya untuk lihat berapa harganya. padahal waktu itu nilainya tak sampai 1/10 dari isengnya saya saat ini.
Kalau sekarang, bahkan pernah seminggu tidak saya buka RDN saya.
Benar-benar santai dan "bodo amat" wkwk.
Waktu sudah naik sampai ratusan persen juga tidak ada rasa gugup atau deg-deg an sama sekali. Kalaupun turun juga sama, santai. Begitu TP sudah tinggal tunggu waktu lalu masuk saham narasi lainnya. Benar-benar gila kalau dipikir lagi hahaha.
Jika dibilang itu kan yang berhasil, kalau yg gagal?
kebetulan yg gagal dan belum naik itu masih 50:50 peluangnya dan saham itu sebenarnya ada kinerjanya, yg jelas belum PER VOC dan belum dimiliki konglomerasi.
Saya akhirnya juga membuktikan bahwa jika sudah 11 bahkan mungkin 13 digit maka jika masih mampu tumbuh ratusan bahkan ribuan persen setahun memang ada bakat untuk jadi orang super duper kaya. Buat saya, tidak ada niat sama sekali untuk jadi seperti itu makanya dititik ini saya sudah melihat nominal yang bertambah bukan persentasenya, sudah bukan kolam saya lagi, kalau secara portofolio tahun 2025 ternyata bisa mendekati 200% pure keberuntungan dan terima kasih untuk mentor-mentor dan stockbitor andalan.
Untuk 2026, target saya sepertinya tidak berubah, tinggal menambahkan 20% ke target dan sisanya berarti budget iseng. Namun saya benar-benar hanya fokus di satu saham untuk yang ikut narasi. Dan lucunya, total nilai saham iseng saya tersebut sudah lebih besar dari saham utama yang saya pegang dari beberapa tahun lalu.
Tahun 2026, jelas saham narasi itu yang akan dijual, core stock saya meskipun potensinya lebih kecil akan saya biarkan mengendap.
Kalau badai datang, yg benar-benar punya kinerja laba yang bertahan bukan yang kelihatan bagus.
Yang dibutuhkan ketika badai itu kekuatan di saat tersebut bukan kekuatan yang katanya akan terjadi besok atau lusa.
narasi lagi atau tidak, saya ikut saja apakah ada kabar baru atau tidak. Tapi yang jelas semakin lama maka saya akan semakin takut dan semakin tidak ingin kehilangan uang.
Terima kasih sebesar-besarnya kepada mentor yang mengajarkan saya mengenal pemikira Soros dan tentu saham narasi yang begitu lezat haha.
saya juga memohon maaf dengan sangat yaa sering koar-koar beli yang diketahui eh malah ikut beli saham karena sinyal dari mentor dan stockbitor andalan hehehe. sekali lagi mohon maaf dengan sangat. saya tidak mengajak bukan karena saya jahat, justru karena tidak ingin ambil risiko jadi biarlah yang gila-gila saja yang ikut.
Jika pembaca belum tahu siapa mentor saya dan stockbitor andalan yang begitu ganteng yang saya contek persis stockpicknya mungkin perlu menggali lebih banyak.
Kenapa tidak saya sebutkan saja orangnya? supaya mentor saya tersebut dan stockbitor andalan tidak direpoti pertanyaan-pertanyaan dasar. Sambil mencari sambil belajar yaa.
Gapapa persentase keuntungan kalian kalah $ADES $TSPC dibanding DATA KETR DEWA BUMI, yang penting terus bertumbuh dengan luar biasa yaa.
Terima kasih DATA KETR DEWA untuk tahun 2025-nya.
Semoga eca dan aci bisa dijual dengan senang dan membahagiakan untuk bumi di tahun 2026.
sekian, semoga senantiasa yang terbaik untuk kita semua.