Hidden Gem Series - Projek Efisiensi Biaya (Studi Kasus Projek Minerva PTRO)
=====================================================================
Pada awalnya saya mau membuat tulisan ini berjudul perusahaan cyclical citarasa growth investing. Tetapi tampaknya akan lebih menarik jika kita membahas perihal sisi efisiensi biaya yang dihasilkan dari sebuah projek efisiensi luar biasa.

Link tulisan asli : https://bit.ly/3mUTKJQ

Investor pada saham PTRO mungkin familiar dengan projek minerva. Sebuah projek yang begitu digitalisasi tambang yang begitu dibangga-banggakan oleh emiten ini. Memang seberapa hebat projek digital tambang ini terhadap kinerja PTRO.

Tulisan kali ini akan membahas secara dalam tentang projek minerva pada emiten PTRO beserta dampak projek ini terhadap kinerja emiten PTRO.

Apa Itu Projek Minerva
====================
PTRO bekerja sama dengan tim konsultan McKinsey untuk projek minerva di proyek Kideco Jaya.

Hal ini berarti projek minerva ini belum berjalan untuk semua projek yang dijalankan oleh PTRO dan baru berjalan di pilot projek.

Konsultan yang menjalankan adalah McKinsey sebuah perusahaan konsultasi kelas dunia yang mungkin salah satu yang terbaik

Projek minerva ini sendiri adalah projek digitalisasi proses mining agar terjadi cost efficiency untuk proses mining.

PTRO bergabung dalam 44 perusahaan dunia yang terpilih sebagai <em>lighthouse company </em>oleh World Economic Forum karena proses digitalisasi. Bergabung dengan 43 perusahaan kelas dunia didalam kelompok elite tersebut di tahun 2019.

Saya mencoba mencari detail target yang ingin dicapai dari projek minerva ini dari slide presentation yang dibuat oleh team McKinsey. Kurang lebih target KPI yang mau dicapai adalah:

Ketika saya membaca target KPI yang ingin dicapai saya seperti melihat sales yang terlalu overpromise memberikan sales speech kepada saya sejujurnya. Tetapi mari kita lihat bagaimana hasil karya kualitas konsultan kelas dunia macam McKinsey ini.

Dampak Projek Minerva Terhadap PTRO
====================================
Setelah mengenal siapa yang mengerjakan dan apa yang mau dicapai oleh projek minerva tersebut, maka selanjutnya adalah mencari pembuktian apakah benar projek ini memiliki dampak terhadap kinerja usaha PTRO.

Seperti yang saya bahas tadi PTRO mulai implementasi projek minerva ini pada Juni 2018. Jadi mari kita lihat kinerja PTRO sebelum tahun 2018 terlebih dahulu

Jika kita lihat sebelum tahun 2018 (sebelum projek minerva), PTRO memiliki data sebagai berikut:

NB: Tahun 2018 saya hilangkan, karena projek minerva baru berjalan di tengah tahun. Sehingga untuk menghindari bias akan saya hilangkan dari perbandingan data.

Sekarang mari kita lihat setelah tahun 2018 (setelah projek minerva), PTRO memiliki data sebagai berikut:

Kita bisa melihat setelah projek minerva, COGS PTRO berhasil ditekan hingga tahun 2020 berhasil ditekan dibawah 80%.. Kita bisa melihat hampir semua komponen biaya pembentuk COGS mengalami penurunan yang sangat baik. Hanya biaya amortisasi, sistem informasi manajemen, dan maintenance yang mengalami peningkatan. Hal yang tentu lumrah jika kita menjalani projek digitalisasi untuk berinvestasi pada sistem IT yang lebih canggih sebagai investasi kita.

Hanya operating cost 2020 memang mengalami peningkatan sedikit untuk biaya gaji dan upah. Tetapi peningkatan signifikan sebenarnya terjadi kepada peningkatan komponen biaya sistem informasi manajemen yang dibebankan untuk back office. Tentu hal yang wajar jika terjadi peningkatan biaya sistem informasi manajemen untuk mendukung keberhasilan projek digitalasisasi ini.

Jadi kita bisa melihat projek Minerva memang berhasil membuat efisiensi biaya untuk PTRO. Tapi apa hebatnya jika perusahaan bisa menghasilkan penurunan biaya?

Sales Turun Laba Meningkat
==========================
Sebelum kita bahas $PTRO mari kita lihat sekilas kinerja beberapa emiten saham tambang sebagai pembanding.

- $DOID mengalami penurunan penjualan dari tahun 2019 yang sebelumnya 12.2 Triliun rupiah menjadi penjualan annualized (karena laporan keuangan 2020 belum terbit ketika tulisan ini dibuat) di sekitar 9.8 Triliun. Ini berarti penurunan penjualan sekitar 19.6%

- $UNTR mengalami penurunan penjualan dari tahun 2019 yang sebelumnya 84.4 Triliun rupiah menjadi penjualan 2020 di angka 60.3 Triliun rupiah. Ini berarti penurunan penjualan sekitar 39.9%

- DOID mengalami penurunan net income dari tahun 2019 yang sebelumnya 285 miliar rupiah turun menjadi net income 2020 annualized (karena laporan keuangan 2020 belum terbit ketika tulisan ini dibuat) di angka -73 miliar rupiah
- UNTR mengalami penurunan net income dari tahun 2019 yang sebelumnya 11.3 Triliun rupiah menjadi net income 2020 di angka 6 triliun rupiah. Ini berarti penurunan sekitar 49%

Maka dengan pembanding 2 emiten terkenal yang bergerak di bidang jasa konstruksi tambang batu bara tersebut kita bisa memiliki gambaran tahun 2020 bukan tahun yang bagus untuk industri batu bara. Penurunan demand besar-besaran karena pandemi COVID-19 yang juga menyebabkan kejatuhan harga batu bara benar-benar memukul kinerja emiten batu bara di tahun 2020

Mari kita lihat kinerja PTRO di tahun 2020:
=====================================
- PTRO mengalami penurunan penjualan dari tahun 2019 yang sebelumnya 6.6 Triliun rupiah turun menjadi penjualan 2020 di angka 4.7 Triliun rupiah. Ini adalah penurunan sekitar 28%. Jadi tentu saja tahun 2020 juga berdampak pada kinerja PTRO

- PTRO mengalami peningkatan laba bersih dari tahun 2019 yang sebelumnya 433 miliar rupiah meningkat menjadi 449 miliar rupiah di tahun 2020. Ini adalah peningkatan laba sebesar 3.7%.

- Jika kita lihat hanya dari sisi peningkatan net income yang "cuma" sekitar 3.7% mungkin tidaklah terlihat begitu menarik. Tapi sebuah perusahaan yang mengalami penurunan penjualan 28% dan bisa tetap meningkatkan laba bersih 3.7% adalah sesuatu yang ajaib. Hal ini mengingatkan saya akan salah satu emiten cerdas lainnya yang pernah saya bahas pada tulisan hidden gem series yang lain.

Baca juga : Hidden Gem Series - Kisah Turnaround Company (Studi Kasus ADES) link https://bit.ly/2OIoNeR

Saya berharap untuk menemukan pendapatan lain-lain yang membuat anomali perusahaan sales turun laba naik ini kerapkali tercipta. Sayangnya saya tidak bisa menemukan adanya pendapatan lain - lain seperti itu untuk kasus PTRO.

PTRO benar - benar berhasil menjalankan proyek efisiensi biaya dimana dengan sales 2020 yang turun menjadi 4.7 triliun rupiah berhasil menghasilkan gross profit senilai 1 triliun rupiah. Berbeda tipis dengan gross profit 2019 yang senilai 1.1 triliun rupiah dari penjualan senilai 6.6 triliun rupiah.

Saya tidak bisa bayangkan apa yang terjadi jika PTRO mengalami siklus bisnis yang bagus seperti tahun ini dan projek minerva ini diimplementasikan lebih lanjut ke projek - projek lain mereka. Perusahaan ini memiliki potensi yang luar biasa untuk terus bertumbuh lebih besar lagi. Perusahaan cyclical yang memiliki cita rasa growth stock yang baik.

Saya jadi paham, kenapa Lo Kheng Hong pelit sekali untuk memberikan sedikit likuiditas untuk melepaskan sebagian dari 15% kepemilikannya di saham emiten ini. Jika saya jadi dia, saya pun rasanya tidak mau melepaskan saham di emiten pintar ini rasanya.

Tulisan ini sekaligus jawaban saya atas beberapa direct message yang masuk ke DM Stockbit saya ketika saya menjawab saya akan memilih $ADES dan PTRO jika untuk jangka panjang dari semua emiten bagus yang diberikan opsi untuk dipilih ketika acara stockbit meet mentor yang diadakan kemarin (16 April 2021). pada link https://stockbit.com/post/6208776

-THOWILZ-

Read more...