CMRY Earnings Call 3Q26: Lonjakan Topline Ditopang Volume, Naikkan Harga ‘Dairy Products’ pada 4Q26 untuk Pulihkan Margin
Cisarua Mountain Dairy ($CMRY) telah melaporkan kinerja 3Q26/9M26 — yang telah kami tuliskan di sini https://stockbit.com/post/37111791 — serta mengadakan earnings call pada Senin (2/11). Berikut rangkuman kami atas highlight kinerja 9M26 serta prospeknya ke depan:
Stockbit’s take
▪️ Pendapatan 3Q26/9M26 tumbuh +27% YoY/+26% YoY, seluruhnya didorong oleh volume tanpa kenaikan harga.
▪️ Margin laba kotor pada 3Q26 lanjut turun ke 42,1%, berada di batas bawah guidance 2026 dari manajemen, akibat lonjakan harga bahan baku yang diperparah pelemahan rupiah. Manajemen berencana menaikkan harga produk segmen ‘dairy products’ pada 4Q26 untuk memulihkan margin.
▪️ Laba usaha pada 3Q26 terkontraksi -6% YoY seiring lonjakan opex, tetapi laba usaha selama 9M26 masih tumbuh +9% YoY jika mengecualikan provisi kebakaran yang tercatat pada 2Q26.
▪️ Guidance pendapatan selama 2026 dipertahankan pada kisaran +15–20% YoY, tetapi manajemen memproyeksikan realisasinya akan melampaui guidance pada run rate 9M26.
Topline Melonjak Didorong Volume, Ditopang Segmen ‘Dairy Products’
▪️ CMRY mencatat pertumbuhan pendapatan solid selama 3Q26/9M26, yang seluruhnya berasal dari volume.
▪️ Pertumbuhan tersebut berasal dari kedua segmen perseroan, dengan segmen ‘dairy products’ mencatat pertumbuhan lebih dari +50% YoY selama 9M26, didorong oleh rejuvenasi produk, peningkatan produktivitas channel, serta kenaikan basket size.
▪️ Manajemen menyebut momentum segmen ‘dairy products’ ditopang oleh peningkatan consumer disposable income dan melihat tren ini dapat berlanjut.
▪️ Di sisi lain, segmen ‘consumer foods’ lanjut ternormalisasi, yang diperkirakan akibat dampak program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap segmen ready–to–cook di mana konsumsi menurun seiring berkurangnya kebutuhan bekal sekolah.
▪️ Dari sisi kapasitas, pabrik baru segmen ‘consumer foods’ mengalami penundaan hingga April 2027 akibat kendala pengiriman mesin dan proses sertifikasi.
▪️ Di sisi lain, utilisasi pabrik segmen ‘dairy products’ berada di kisaran 65–70%, dengan runway 2–3 tahun sebelum memerlukan investasi kapasitas baru.
Margin Laba Kotor Tertekan Biaya Input, Harga ‘Dairy Products’ Akan Dinaikkan pada 4Q26
▪️ Margin laba kotor pada 3Q26 turun ke level 42,1% (vs. 3Q25: 46,3%), seiring kenaikan harga whole milk powder dan skim milk powder, daging sapi, kemasan plastik, serta pelemahan rupiah yang melampaui asumsi manajemen.
▪️ Untuk memperkuat margin, manajemen berencana menaikkan harga ‘dairy products’ pada 4Q26, di mana para kompetitor sudah menaikkan harga terlebih dahulu.
▪️ Manajemen memproyeksikan margin laba kotor selama 2026 akan tetap berada dalam guidance 42–44% dan mengindikasikan potensi ekspansi margin dari level saat ini pada 4Q26 atau 1Q27.
▪️ Untuk segmen ‘consumer foods’, manajemen memilih tidak menaikkan harga pada produk existing, melainkan memperkenalkan SKU baru yang lebih premium.
▪️ Sementara itu, margin laba usaha pada 3Q26 tertekan lebih dalam ke 17,9% (vs. 3Q25: 24,3%) akibat meningkatnya beban distribusi pada 3Q26 seiring kenaikan harga BBM dan ekspansi pengiriman ke luar Jawa–Bali, sementara beban penjualan dan pemasaran masih dalam kisaran guidance 20–22%.
Stockbit’s View: Volume Story Berlanjut, Margin Recovery Jadi Katalis Berikutnya
▪️ Kami menilai bahwa CMRY mencatatkan kinerja yang solid selama 9M26, dengan pertumbuhan topline seluruhnya berbasis volume.
▪️ Meski margin laba kotor tertekan dari biaya bahan baku dan pelemahan nilai tukar rupiah, hal ini sesuai dengan keputusan manajemen untuk menahan harga yang kemungkinan membantu menjaga momentum pertumbuhan.
▪️ Kenaikan harga jual ‘dairy products’ pada 4Q26 berpotensi menjadi katalis ekspansi margin, sementara segmen ‘consumer foods’ diperkirakan membaik seiring pemulihan produk ready–to–cook dan tambahan kapasitas dari pabrik baru.
▪️ Ke depan, risiko utama yang kami cermati adalah volatilitas nilai tukar rupiah dan harga bahan baku — yang dapat memperpanjang tekanan margin jika kenaikan harga tidak cukup mengkompensasi — serta penundaan lebih lanjut pada pabrik ‘consumer foods’.
__________
Amara Beatrice (@amarabeatrice)
Investment Analyst Stockbit