Morning semua.
Kemarin mungkin banyak yang kaget melihat LK $SIDO 1H26 karena pendapatannya turun lumayan dalam. Tapi kalau kita bedah lebih detail, penurunan ini murni karena efek destocking (normalisasi inventori), bukan karena demand produknya yang rusak.
Konsep destocking ini intinya jaringan distribusi sengaja mengurangi stok di gudang mereka. Jadi, distributor nahan order barang baru ke pabrik (sell-in), tapi tetap jualan stok yang ada ke konsumen akhir (sell-out). Dampaknya di LK SIDO pendapatan terlihat turun drastis, padahal demand riil di lapangan masih stabil.
Teman-teman perhatikan bukti divergensi di pos-pos kunci LK 1H26 ini:
* Perbedaan Sell-in vs Sell-out: Penjualan konsolidasian SIDO (sell-in) terkontraksi -19,8% YoY dari Rp1,82 triliun menjadi Rp1,46 triliun. Sebaliknya, penjualan ke konsumen akhir (sell-out) justru tumbuh +8% YoY di 2Q26. Market share Tolak Angin juga kokoh di level 71%.
* Piutang Pihak Berelasi Anjlok -67,5%: Piutang jaringan distribusi utama turun tajam dari Rp567,62 miliar (akhir 2025) menjadi sisa Rp184,60 miliar. Ini mengindikasikan distributor lagi fokus melunasi tagihan dan menghabiskan stok gudang ketimbang melakukan pemesanan baru.
* Persediaan Barang Jadi Naik +89,7%: Stok numpuk di tingkat pabrik, dari Rp79,31 miliar naik menjadi Rp150,48 miliar. Ini wajar karena produksi tetap berjalan sementara serapan distributor sempat ditahan.
Dari informasi yang ada, proses penyesuaian inventori ini sudah selesai di akhir Mei 2026. Artinya untuk 2H26 nanti, volume order dari distributor diproyeksikan sudah kembali normal sejalan dengan tingkat permintaan riil masyarakat.
Kalau market merespon negatif cuma karena headline LK, saham ini sangat menarik untuk kita pantau setelah selling pressure-nya mereda.
Disisi lain kalau divaluasi dengan Dividend Discounted Model sekitar 550 an dan ada gap di 480an.
Menarik, tinggal menunggu downtrend kehilangan tenaganya
thanks stockbit lewat insight https://stockbit.com/post/34812942 nya bikin bongkar2 lapkeu buat validasi.
$ADRO $IHSG