KENAPA 6 TRILYUN CASH PENTING UNTUK $FORU
MEMBACA CADANGAN
Jarak tambang BP dan Maruwai/Lampunut - ADMR ±60 km. JOGMEC juga memetakan Borneo Prima dan Maruwai (Lampunut) dalam klaster tambang yang sama di utara Kalteng.
Pada era BHP, Lampunut masih dikategorikan sebagai projek dalam pengembangan. Tahun 2014 BHP mencatat sekitar 72 Mt sumberdaya (bukan cadangan).
Pada 2016 Adaro bahkan masih menyebut belum ada estimasi cadangan untuk Lampunut, walaupun pada tahun 2017 sumberdaya Lampunut sudah naik menjadi sekitar 101 Mt.
Setelah mine design matang, cadangan mulai terbentuk besar. Pada 2021 Lampunut memiliki cadangan sekitar 89,6 Mt. Menariknya sejak 2020 saja sudah sekitar 25 - 26 MT coal ditambang tetapi cadangan per 2025 masih 87,9 Mt
Cadangan BP sekarang 87,7 Mt dengan sumber daya 206 MT serta baru 6,67% area konsensi di eksplorasi mendalam. Cadangan masih sangat mungkin bergerak.
Jika masih ingat, ADMR IPO 2020 divaluasi 6T, dengan cepat naik ke 60T terus kemudian 120T. Waktu 60T saja, saya sungguh bingung dasar valuasinya darimana, padahal cadangan kecil, pendapatan masih belum besar, tapi dalam 2-3 tahun ketika operasional mulai terbentuk matang, baru semuanya menjadi wajar.
Tapi FORU bukan ADMR.
____________________________________________________________________
KENAPA 6T CASH PENTING
Melanjutkan tulisan pertama saya tentang 6 T
https://stockbit.com/post/34665276
Tuhan memang adil, tambang-tambang coking coal di Kalimantan yang harga produknya premium umumnya lokasinya sangat menantang. Maruwai haulingnya 96km, BP 140km, jetty kedua-nya yang dihulu sungai barito, biasanya diakhir tahun sulit dilewatin.
Tapi sekali lagi, Tuhan Adil, harga coking coal itu premium, bahkan SR Lampunut yang dalam perencanaan tambang itu 5-6x, realisasi di 2tahun terakhir sekitar 3,12 - 3,14x. Hampir tidak ada lokasi coking coal di muka bumi lainnya yang SR-nya setipis itu.
TAPI Tuhan kasih hauling dan transportasi yang menantang dan itu butuh modal awal yang besar.
Dari tahun 2018-2019, ADMR di Lampunut, telah menghabiskan USD289juta atau sekitar 5,1T itu Fase awal rump up, untuk hauling, plant prosesing, jetty, fleet, infrastruktur dan lainnya. Tapi dimoment ini tambang masih rugi hampir 1T.
IMR sendiri per 31 Maret 2016, sudah membakar uang di BP USD121,8 juta atau Rp2,07T
Hauling sudah ada, tapi belum lebar, tanah dan masih bersimpangan dengan jalan warga (harus ada jembatan). Insfrastruktur masih relatif ala kadarnya, fleet masih kecil dan rencana memang sedang disiapkan dengan Hasnur sebagai kontraktor baru datang.
Jadi berbeda dengan tambang-tambang di kaltim biasanya cukup 1T untuk memulai, tambang di Utara Kalteng ini memulainya saja tidak kira-kira uang modal awalnya, 5-6T.
Produknya hard coking coal premium (ASP bagus), kontraktor bagus sudah ada - Hasnur, satu-satunya kendala cuman uang cash 6T.
Dan masih ada yang percaya 6T itu bakalan didapatkan dari kita-kita ritel ini.
___________________________________________________________________
7 Hari kerja lagi, menunggu prospektus terbit.
Semoga jawabannya ada disana.