imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

️ TINS 1H26 Earnings Call Takeaway: Volume 3Q26 Diestimasikan Flat, Dividend Payout Ratio Berpotensi Naik

Timah ($TINS) pada Jumat (14/8) mengadakan earnings call untuk membahas kinerja 1H26, yang telah kami tuliskan melalui link berikut [https://stockbit.com/post/34306859], serta prospek pada 2H26. Berikut catatan penting kami:

• Volume: Guidance 3Q26 Flat, Terkendala Pasokan Bijih — Manajemen TINS memberikan guidance volume penjualan pada 3Q26 akan berada di level yang kurang lebih sama dengan 2Q26 di 4.975 ton seiring kendala pasokan bijih. Kami menilai kendala ini kemungkinan besar berasal dari telah habisnya kuota produksi RKAB di Belitung. Saat ini, perseroan sedang berkoordinasi dengan Kementerian ESDM terkait potensi kenaikan RKAB untuk area tersebut. Tambahan volume di luar itu bergantung pada bertambahnya alat kerja — dengan 4 kapal isap produksi yang sedang diproses dan diupayakan masuk paling lambat 4Q26 — serta pembukaan area baru terutama di Bangka Utara.

• Cash Cost Diekspektasikan Melandai pada 2H26 — Manajemen menjelaskan bahwa mayoritas kenaikan cash cost pada 2Q26 disebabkan oleh kenaikan harga BBM, yang berdampak pada kenaikan imbal jasa mitra. Selain itu, terdapat maintenance smelter pada 2Q26 akibat isu kompresor, sehingga menaikkan biaya spare part. Untuk 2H26, manajemen tidak mengekspektasikan major maintenance, sehingga produksi berpotensi lebih stabil. Soal penetapan harga patokan mineral (HPM) untuk pembelian timah dari mitra, manajemen masih memonitor dan belum dapat berkomentar banyak soal dampaknya.

• Guidance Internal Berpotensi Direvisi Naik — Laba bersih TINS selama 1H26 sudah mencapai 169% dari target internal 2026F di ~Rp1,6 T, sehingga manajemen sedang menyusun ulang guidance bersama pemegang saham. Jika tidak ada kendala berarti, hasil revisi akan disampaikan secara terpisah pada Agustus atau September 2026.

• Outlook Dividend Payout Ratio Berpotensi Naik — Manajemen membuka kemungkinan adanya kenaikan dividend payout ratio dibandingkan tahun buku 2025 di 50%, meski keputusan final untuk tahun buku 2026 tetap kewenangan pemegang saham.

• Update Hasil Sitaan: Masih dalam Proses Harmonisasi — Manajemen menyebut proses integrasi aset sitaan ke dalam laporan keuangan TINS masih dalam harmonisasi dengan Kementerian Keuangan. Status barang rampasan negara harus dialihkan dulu menjadi barang milik negara, lalu masuk sebagai penyertaan modal negara ke MIND ID, sebelum diturunkan ke TINS. Aturan penyertaan modal negara kepada BUMN tersebut belum ada, sehingga masih dalam proses pembuatan, revisi, dan harmonisasi.

Stockbit’s View: Estimasi Konsensus 2H26 Konservatif, Dividen Jadi Cerita Berikutnya

• Kami mempertahankan pandangan positif terhadap TINS sejak 4Q25. Setelah rilis kinerja 1H26, estimasi laba bersih 2026F konsensus naik dari Rp3,9 T menjadi Rp4,5 T. Meski naik, angka tersebut mengisyaratkan TINS hanya perlu mencetak laba bersih ~Rp1,8 T pada 2H26, atau -33% di bawah capaian 1H26 di Rp2,7 T. Kami menilai TINS dapat mencapai estimasi laba bersih konsensus seiring: 1) volume produksi yang tidak turun dengan rata–rata harga jual (ASP) yang diharapkan relatif stabil; 2) outlook biaya yang lebih baik dari manajemen pada earnings call; dan 3) kemampuan perseroan dalam menjaga margin laba selama 3 kuartal terakhir.

• Kami juga melihat lonjakan laba bersih TINS pada tahun buku 2026 membuka ruang kenaikan nominal dividen. Mengasumsikan harga saham TINS di Rp3.900/saham dan laba bersih sesuai konsensus di Rp4,5 T, dividen TINS akan berkisar Rp305–366/saham dengan asumsi payout ratio sekitar 50–60%, mengindikasikan dividend yield sekitar 9,4–7,8%.

• Key upside: 1) tambahan volume produksi pada 2H26 dari penambahan RKAB di Belitung dan beroperasinya 4 kapal isap produksi tambahan; 2) outlook biaya yang lebih rendah dari penurunan harga BBM dan biaya spare part; dan 3) kenaikan dividend payout ratio di atas 50% untuk tahun buku 2026.

• Faktor risiko: 1) konsensus Bloomberg memproyeksikan harga timah 2027F turun ke level US$44.750/ton (vs. harga spot saat ini: ~US55.770/ton), sehingga pasar berpotensi memperlakukan laba bersih 2026 sebagai puncak siklus; 2) potensi kenaikan biaya dari penetapan HPM atau kenaikan royalti oleh Kementerian ESDM; dan 3) aturan devisa hasil ekspor yang menahan 50% hasil ekspor di bank Himbara selama ~1 tahun sejak 1 Juni 2026, sehingga TINS kini meminta persetujuan pemegang saham untuk tambahan pendanaan meski memiliki kas bersih Rp3,4 T.

______
Theodorus Melvin (@TheodorusMelvin)
Investment Analyst Stockbit Group

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy