🤑 TINS 1H26: Laba Bersih +805% YoY, Lampaui Ekspektasi
Timah ($TINS) mencatat laba bersih Rp2,7 T pada 1H26 (+805% YoY), melampaui ekspektasi (70% estimasi 2026F konsensus Rp3,9 T).
Lonjakan laba tersebut utamanya berasal dari ekspansi margin seiring kenaikan pendapatan +147% YoY selama 1H26 menjadi Rp10,4 T akibat kenaikan ASP logam timah (+52% YoY) dan volume penjualan (+85% YoY), sementara beban pokok pendapatan hanya naik +89% YoY. Selama 1H26, margin laba kotor naik ke level 39% (vs. 1H25: 20%) dan mengalir hingga ke margin laba bersih yang meningkat ke level 26,1% (vs. 1H25: 7,1%).
Secara kuartalan, laba bersih pada 2Q26 mencapai Rp1,2 T (-19% QoQ, +563% YoY). Penurunan laba bersih secara kuartalan utamanya disebabkan oleh volume penjualan yang turun menjadi 4.975 MT (-17% QoQ, +63% YoY) di saat produksi logam timah justru mencapai 5.235 MT (-7% QoQ, +39% YoY) dan berdampak pada perubahan nilai persediaan yang berbalik menjadi positif Rp220 M (vs. 1Q26: negatif Rp182 M). Selain itu, penurunan laba bersih secara kuartalan pada 2Q26 juga disebabkan oleh pendapatan lain–lain yang berbalik negatif Rp40 M (vs. 1Q26: positif Rp37 M), yang sebagian besar berasal dari pos lain–lain yang tidak dirinci.
🔑 Key Takeaway
Kami tetap mempertahankan pandangan positif kami terhadap TINS sejak 4Q25, yang kini dikonfirmasi oleh laba bersih 1H26 yang telah mencapai 70% estimasi 2026F konsensus. Untuk 2H26, pandangan kami ditopang oleh: 1) optimisme perseroan dapat mengejar volume produksi pada 2H26, mengingat realisasi produksi bijih timah selama 1H26 baru mencapai ~41% dari usulan RKAB 2026 di level 30 ribu ton bijih timah; 2) ASP yang berpotensi bertahan tinggi seiring pasar timah global yang masih mencatat defisit pasokan 5.720 ton pada 1H26 menurut CRU Tin Monitor; dan 3) posisi pangsa pasar yang menguat, dengan pangsa ekspor timah nasional TINS mencapai 56,5% pada 2Q26 (vs. 1Q26: 53,6%; 2Q25: 18,3%) dan 54,8% selama 1H26 (vs. 1H25: 20,3%).
• Key upside: 1) potensi one–off gain dari penyerahan aset sitaan negara yang hingga 1H26 belum diakui karena proses administrasi masih berjalan; 2) kenaikan harga timah global seiring harga timah LME global saat ini telah mencapai US$54.000/MT, di atas rata–rata periode 2Q26 di US$51.859/MT dan rata–rata periode 1H26 di US$50.319/MT; dan 3) realisasi penjualan atas persediaan yang tertahan pada 2Q26, seiring produksi yang melampaui penjualan sebanyak 260 MT.
• Faktor risiko: 1) penurunan volume produksi dan penjualan lebih lanjut pada 2H26, setelah realisasi 2Q26 sebesar 4.975 MT berada di bawah perkiraan kami di kisaran 7.000–8.000 MT; 2) kenaikan biaya tunai ke level US$23.220/MT pada 2Q26 (+14% QoQ, +19% YoY), yang kami nilai merupakan kombinasi kenaikan biaya bahan baku dan naiknya biaya tetap per unit seiring volume produksi bijih timah yang turun -6% QoQ; dan 3) risiko pasar memperlakukan lonjakan laba sebagai puncak siklus: estimasi laba bersih 2026F konsensus direvisi naik +81% dalam 6 bulan terakhir menjadi Rp3,9 T, sementara harga saham TINS hanya menguat +6,75% YTD dan masih diperdagangkan pada ~6,3x P/E 2026F.
Meski melampaui ekspektasi, market nampak melakukan sell on news pada perdagangan hari ini, dengan TINS ditutup turun -1,16% ke Rp3.420/saham setelah sempat naik ke level Rp3.570/saham pada intraday.
Stockbit Snips 29 Juli 2026
https://cutt.ly/byuWktnt
