πŸ›’οΈ Harga Minyak Kembali Naik: Dampak untuk IHSG

Harga minyak global naik sekitar +8% ke level US$99/barrel pada perdagangan intraday hari Kamis (12/3), menyusul 2 perkembangan di tengah perang AS–Israel dan Iran. Pertama, International Energy Agency (IEA) pada Rabu (11/3) sepakat melepas cadangan minyak sebesar 400 juta barel β€” terbesar dalam sejarah organisasi tersebut β€” guna meredam lonjakan harga. Kedua, 3 kapal dilaporkan terkena proyektil di Selat Hormuz dan Teluk Persia setelah Garda Revolusi Iran menyatakan menembaki kapal-kapal yang dianggap tidak mematuhi perintah mereka. Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, menegaskan pihaknya tidak akan mengizinkan pengiriman minyak bagi AS, Israel, dan sekutunya, seraya memperingatkan harga minyak berpotensi mencapai US$200/barel.

[Sumber: Bloomberg, Reuters]

πŸ“ Stockbit Commentary

Kenaikan harga minyak hari ini mengindikasikan bahwa market masih khawatir dengan prospek pasokan. Sebagai konteks, penutupan Selat Hormuz mengganggu pasokan ~20 juta barrel per hari. Meski pelepasan cadangan IEA merupakan yang terbesar dalam sejarah, kapasitas laju pelepasan harian menurut laporan Reuters secara historis tidak pernah lebih dari ~2 juta barrel per hari, jauh dari volume yang terganggu di Selat Hormuz. Market sendiri masih menunggu rincian jadwal dan laju pelepasan harian cadangan minyak IEA tersebut.

Dalam Stockbit Commentary sebelumnya [https://stockbit.com/post/29443138], kami menyebut 2 hal yang dapat menormalisasi harga minyak, yakni: 1) supply intervention melalui pelepasan cadangan; dan 2) demand destruction melalui suku bunga yang lebih tinggi. Dengan respons market yang tidak meyakini efektivitas intervensi IEA β€” tercermin dari harga minyak yang kembali naik β€” potensi dibutuhkannya demand destruction menjadi semakin nyata jika perang dan penutupan Selat Hormuz berlangsung berkepanjangan.

Implikasi bagi IHSG? Semakin lama harga minyak bertahan di level tinggi, tekanan pada APBN berpotensi semakin besar, yang dapat berujung pada kenaikan harga BBM atau pemangkasan belanja pemerintah. Namun, kenaikan harga minyak secara historis kerap diikuti oleh kenaikan harga batu bara dan CPO, yang merupakan 2 komoditas ekspor utama Indonesia. Dengan demikian, dampak keseluruhan bagi Indonesia akan bergantung kepada dinamika ketiganya. Di sisi lain, tekanan inflasi global juga berpotensi mendorong Bank Indonesia untuk mengikuti arah pengetatan suku bunga secara global.

Oleh karena itu, sektor batu bara β€” seperti $AADI dan ITMG β€” serta CPO β€” seperti $TAPG dan DSNG β€” dapat menjadi pilihan bagi investor dalam skenario harga minyak yang tinggi secara berkepanjangan.

$IHSG
______
Edi Chandren (@edichand)
Lead Investment Analyst Stockbit

Read more...
2013-2026 Stockbit Β·AboutΒ·ContactHelpΒ·House RulesΒ·TermsΒ·Privacy