๐ MBMA: Dampak Penghentian Smelter HPAL di IMIP Cenderung Moderat
Bloomberg melaporkan bahwa 4 smelter HPAL milik GEM Co. di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) telah dihentikan sementara, menyusul tanah longsor mematikan di area limbah PT QMB New Energy Materials (QMB) pada bulan lalu. Keempat smelter tersebut terdiri dari QMB โ yang dikabarkan dapat dihentikan hingga 3 bulan โ serta PT Green Eco Nickel, PT Meiming New Energy Material (Meiming), dan PT ESG New Energy Material (ESG) yang dikabarkan dihentikan sementara selama beberapa pekan [https://stockbit.com/post/29442450]. Merdeka Battery Materials ($MBMA) merupakan pemegang saham minoritas di Meiming (12,5% kepemilikan) dan ESG (27% kepemilikan), berdasarkan laporan tahunan 2024.
๐ฐ Stockbit's take:
Penghentian 4 smelter HPAL ini cenderung berdampak moderat bagi MBMA melalui beberapa jalur berikut:
1. Dampak ke Laba Bersih dari JV โ MBMA membukukan laba bersih dari JV sebesar US$10,9 juta pada 3Q25 (setara 32% laba bersih) dengan kontribusi utama berasal dari ESG (US$8,7 juta) dan Meiming (US$2,6 juta), sementara beberapa JV lainnya masih merugi. Penurunan kontribusi ini dapat memberikan tekanan pada laba bersih MBMA dalam jangka pendek.
2. Dampak ke Pendapatan dari Proyek MTI โ Melalui anak usahanya, PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI), MBMA memiliki perjanjian dengan QMB sebagai pemasok asam dan uap (acid and steam supply). Jika operasi QMB terhenti, penjualan MTI kepada QMB berpotensi ikut terdampak. Namun, perlu dicatat bahwa MTI sendiri masih mencatatkan rugi sebesar US$5,4 juta pada 3Q25, sehingga dampak terhadap profitabilitas relatif terbatas.
3. Dampak ke Pendapatan dari Penjualan Bijih Limonit โ MBMA membukukan penjualan bijih limonit senilai US$15,9 juta kepada ESG, setara 27% total pendapatan bijih limonit dan ~5% dari total pendapatan per 3Q25.
Selain dari kehilangan laba JV yang lebih bersifat immediate, kami menilai dampak penghentian ini berpotensi lebih kecil dari perkiraan awal jika MBMA mampu mengalihkan penjualan asam, uap, serta bijih limonit ke smelter HPAL lain yang masih beroperasi di sekitarnya, seperti Huayou. Perlu dicatat pula bahwa dalam kondisi cash cost yang sudah tinggi akibat lonjakan harga sulfur di tengah konflik Timur Tengah, profitabilitas smelter HPAL sejatinya sudah tergerus [https://stockbit.com/post/29408701]. Dengan kata lain, laba yang berpotensi hilang dari penghentian ini kemungkinan sudah lebih kecil dibandingkan kondisi normal.
______
Theodorus Melvin (@TheodorusMelvin)
Investment Analyst Stockbit