Gangguan di Selat Hormuz Berpotensi Tekan Pasokan Sulfur bagi Produsen Nikel RI
Reuters melaporkan bahwa gangguan pengiriman di Selat Hormuz akibat konflik di Timur Tengah berpotensi menekan pasokan sulfur bagi produsen nikel di Indonesia, yang sekitar 75% kebutuhannya berasal dari kawasan tersebut. Sulfur digunakan untuk memproduksi asam sulfat, yang memiliki peranan penting dalam proses pemurnian nikel dan pengolahan tembaga. Menurut 2 narasumber Reuters dari perusahaan smelter asal China di Indonesia, persediaan sulfur di smelter HPAL rata–rata hanya cukup untuk konsumsi selama 1–2 bulan. Analis di Project Blue, Marco Martins, mengatakan kepada Reuters bahwa biaya sulfur sudah mencakup sekitar setengah dari biaya operasional pabrik HPAL, bahkan sebelum konflik di Timur Tengah dimulai. Martins memprediksi bahwa tanpa pasokan alternatif, smelter berpotensi mengurangi produksi pada bulan depan.
[Sumber: Reuters]
$NCKL $MBMA
______
Stockbit Sekuritas