Pintu yang Mana? Hak untuk Memilih dan Tanggung Jawab yang Mengikuti
Kedengarannya seperti... akhir-akhir ini ada semacam kelelahan dengan orang-orang yang merasa paling benar. Dengan mereka yang memberi stempel "gorengan" atau "bodong" pada saham tertentu, seolah-olah merekalah pemilik satu-satunya kebenaran.
Tampaknya ada keinginan yang kuat untuk mempertahankan kebebasan dalam menentukan jalan kita sendiri di pasar modal. Sepertinya ada ketidaknyamanan saat kita merasa seolah-olah sedang didikte tentang apa yang dianggap baik atau buruk, seolah-olah setiap orang tidak memiliki hak untuk mendefinisikan keberhasilannya masing-masing.
...Mendefinisikan keberhasilannya masing-masing?
Sepertinya ada argumen menarik yang menyamakan ketidakpastian masa depan perusahaan rintisan dunia dengan gejolak harga yang kita lihat sehari-hari. Rasanya sangat membesarkan hati jika kita percaya bahwa setiap risiko yang kita ambil hari ini memiliki peluang untuk menjadi sejarah besar di kemudian hari.
Itu benar. Setiap orang dewasa berhak menentukan metodenya sendiri. Ada yang suka analisa laporan keuangan, ada yang lebih percaya pada aliran dana dan supply-demand. Ada yang horizonnya panjang, ada yang pendek. Semua sah. Sejarah memang mencatat bahwa beberapa perusahaan yang awalnya diragukan akhirnya membuktikan diri.
Namun, saya penasaran. Bagaimana perasaan Anda jika ternyata perbandingan itu justru mengaburkan perbedaan nyata antara perusahaan yang sedang membangun masa depan dengan entitas yang bahkan tidak memiliki fondasi untuk bertahan hidup di masa sekarang?
...Tidak memiliki fondasi?
Bukan Soal Hak, Tapi Soal Kesesuaian
Izinkan saya mengajak melihat dari sudut yang sedikit berbeda.
Bukan soal siapa yang berhak menentukan baik-buruk. Bukan soal apakah suatu saham pantas disebut gorengan atau tidak. Karena di pasar, pada akhirnya, tidak ada yang peduli dengan opini kita—yang peduli hanya hasil di portofolio masing-masing.
Pertanyaannya bukan: "Apakah saya berhak memilih saham ini?"
Pertanyaannya: "Apakah saya memahami konsekuensi dari pilihan saya?"
Tampaknya kita mulai menyadari bahwa memberikan label pada sesuatu bukan berarti kita sedang bertindak sebagai hakim, melainkan sedang mencoba mengenali medan perang yang akan kita masuki. Sepertinya ada perbedaan yang sangat mendalam antara hak untuk memiliki metode yang berbeda, dengan risiko kehilangan segalanya karena kita menganggap semua benda yang berkilau memiliki nilai yang sama. Ada pengakuan yang jujur bahwa di balik istilah 'subjektif', angka-angka di neraca tetap memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan realita yang pahit.
...Realita yang pahit?
Ada ketenangan yang muncul bukan karena kita merasa lebih benar dari orang lain, melainkan karena kita tahu bahwa apa yang kita miliki memiliki alasan yang jelas untuk ada di dalam portofolio kita. Bukan karena janji tentang apa yang mungkin terjadi bertahun-tahun lagi, tapi karena kualitas nyata yang bisa kita buktikan saat ini juga. Tampaknya kita sedang belajar bahwa kedaulatan sejati bukan berarti bebas melakukan apa saja tanpa arah, melainkan memiliki standar yang melindungi diri kita sendiri saat pasar tidak lagi berpihak pada narasi.
Jadi, ketika kita mempertahankan hak untuk memilih saham apa pun, itu sepenuhnya benar. Tapi mungkin ada satu pertanyaan yang lebih jujur untuk diajukan pada diri sendiri:
"Dari semua saham yang saya pilih, adakah satu pun yang bisnisnya bisa saya jelaskan dengan tenang—tanpa perlu menyebut kode saham lain sebagai pembanding, dan tanpa perlu berharap pada mimpi yang sama?"
Bukan untuk dihakimi. Hanya untuk diketahui. Karena pada akhirnya, yang menemani kita saat layar mati bukanlah opini orang lain, bukan pula pembelaan atas hak memilih. Yang menemani adalah keyakinan kita sendiri terhadap apa yang kita pegang.
Jika pada akhirnya pasar adalah hakim yang paling jujur bagi setiap modal yang kita titipkan, bagaimana cara Anda memastikan bahwa kebebasan yang Anda banggakan hari ini tidak sedang membawa Anda menuju situasi di mana Anda tidak lagi memiliki pilihan untuk sekadar bertahan?
$IHSG $BBCA $BBRI
Baca juga:
https://stockbit.com/post/25530514
