


Volume
Avg volume
PT. Bukit Asam Tbk (PTBA) bergerak dalam bidang pertambangan batubara, termasuk survei umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, pemurnian, pengangkutan dan perdagangan, pemeliharaan fasilitas pelabuhan batubara khusus untuk keperluan internal dan kebutuhan eksternal, pengoperasian pembangkit listrik tenaga uap untuk kebutuhan internal dan eksternal dan memberikan jasa konsultasi terkait industri pertambangan batubara serta produk turunannya, dan pengembangan perkebunan. Pada tahun 1993, Perusahaan ditunjuk oleh Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan Unit Usaha Briket Batubara.
Jakarta, CNBC Indonesia — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) buka suara terkait perubahan nama dua emiten tambang, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang berubah menjadi persero.
Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria mengatakan peruba...

www.cnbcindonesia.com

Arah kebijakan 08 basically adalah mau bikin negara untuk swasembada di berbagai sektor (pangan, energi, ekonomi, keamanan, dll.)
Entah bagaimana, susunan rencana pembangunan dia terkesan cocok dengan kondisi geopolitik dunia saat ini dimana ada Shifting of World Order (Dari post-WWII unipolar system menuju a fragmented multipolar framework) yang mana kondisi ekonomi dan politik akan lebih susah diprediksi
Pelan-pelan akan berotasi dan kebagian semua, tinggal tentukan sendiri "timing" yang tepat buat beli emiten tertentu
$AMMN $PTBA $MHKI

$PTBA ampir breakeven padahal udah pasrah Ama ini saham rencana ambil dividen aja apalagi lk nya busuk

🔥Banyak orang cuma dengar “DMO naik” tapi nggak benar-benar paham dampaknya ke laba perusahaan. Jadi apa Itu DMO?
*DMO = Domestic Market Obligation*
Artinya:
Pemerintah mewajibkan perusahaan batubara menjual sebagian produksinya ke dalam negeri.
Tujuannya:
* Jaga pasokan listrik nasional (PLN)
* Jaga harga listrik tetap stabil
* Lindungi industri domestik
Di Indonesia, pembeli terbesar adalah Perusahaan Listrik Negara (PLN).
---
💰 Kenapa DMO Jadi Sensitif?
Masalahnya bukan di “harus jual domestik”.
Masalahnya adalah:
Harga jual DMO di-cap (dibatasi).
Untuk batubara tertentu (misalnya kalori 6.322 GAR), harga DMO ke PLN sering dipatok sekitar USD 70/ton, sementara harga global (Newcastle) bisa:
* USD 120
* USD 150
* Bahkan pernah > USD 300
Artinya:
Kalau harga global tinggi, perusahaan tidak bisa menjual 100% produksinya ke harga mahal.
Sebagian harus dijual murah.
---
📌 Sekarang DMO Naik ke 30%
Sebelumnya: 25%
Sekarang: 30%
Artinya:
Dari setiap 100 ton produksi,
* 30 ton wajib dijual domestik (harga cap)
* 70 ton boleh dijual ekspor (harga pasar)
--------------------------------------------------------------------------------
🧠 Lalu Maksud Statement Ini Apa?
> “DMO 30% = margin domestik capped → upside terbatas”
Mari kita bedah pelan-pelan.
1️⃣ Margin domestik capped
Karena harga domestik dibatasi, maka:
* Kalau harga global naik → margin ekspor naik
* Tapi margin DMO tetap → tidak ikut naik
Jadi profit growth tidak linear mengikuti harga global.
---
2️⃣ Upside terbatas
Contoh sederhana:
Kalau tidak ada DMO: Harga naik 20% → laba bisa naik signifikan.
Kalau ada DMO 30%: Hanya 70% produksi yang menikmati kenaikan harga.
Artinya:
Laba naik, tapi tidak seagresif kenaikan harga global.
Itulah maksud “upside terbatas”.
---
📊 Dampaknya ke Saham Coal
✅ Positif:
* Market share big cap naik (karena kuota aman)
* Supply nasional turun → harga bisa stabil
❌ Negatif:
* Tidak bisa fully leverage bull market coal
* Valuasi sulit rerating besar
* Lebih cocok jadi dividend play daripada growth play
---------------------------------------------------------------------------
🧠 Siapa yang Aman?
Perusahaan PKP2B generasi I yang diperpanjang jadi IUPK:
Adaro Andalan Indonesia (AADI)
Bumi Resources (BUMI)
Indika Energy (INDY)
Bukit Asam (PTBA)
Mereka tidak mengalami pemangkasan kuota produksi.
👉 Ini penting.
Ketika supply nasional ditekan, tapi pemain besar tetap produksi normal →
market share mereka naik otomatis.
➡ ITMG & ADRO tidak sepenuhnya aman dari DMO
ITMG dan ADRO berisiko mengalami tekanan jangka pendek–menengah jika DMO makin dipertegas dan harga ekspor tetap lemah.
ADRO potensi rebound lebih kuat karena diversifikasi energi → jangka panjang lebih resilience daripada ITMG yang cuma ekspor.
--------------------------------------------------------------------------------
🎯 Kenapa Ini Penting Buat Investor?
Karena banyak orang berpikir:
“Coal supply dipangkas → harga naik → saham pasti terbang.”
Belum tentu.
Kalau DMO tinggi:
Profitability tidak bisa maksimal mengikuti harga global.
Makanya:
* Bukit Asam ($PTBA) misalnya sering jadi dividend play.
* Bukan saham super growth saat coal bull run.
---------------------------------------------------------------------------------
📊 Klasifikasi Risiko DMO (Versi Praktis Investor)
Kita ukur dari 2 hal:
1. Berapa % produksi masuk DMO
2. Seberapa besar gap harga domestik vs ekspor
---
🟢 DMO Rendah (Low Risk)
👉 Eksposur DMO < 30% dari total produksi
👉 atau perusahaan memang fokus domestik
Biasanya:
20–30% produksi
Atau cost of production sangat rendah (margin masih tebal walau jual domestik)
Contoh tipikal:
Perusahaan yang memang supply ke PLN sejak awal
Efeknya:
Margin relatif stabil
Tidak terlalu sensitif ke kebijakan
---
🟡 DMO Sedang (Moderate Risk)
👉 Eksposur 30–40%
Artinya:
Wajib patuh 30% DMO
Tapi masih punya 60–70% ekspor
Di kondisi harga global bagus → masih oke
Di kondisi harga global turun → margin mulai tertekan
Ini biasanya zona mayoritas pemain besar.
---
🔴 DMO Tinggi (High Risk)
👉 Eksposur > 40–50% produksi
Biasanya terjadi karena:
Produksi dipangkas tapi kewajiban DMO tetap
Volume ekspor menyusut
Tidak punya fleksibilitas pasar
Di sini:
ASP blended turun signifikan
EBITDA bisa drop cepat
Valuasi rerate negatif
---
⚠ Kenapa 30% Bisa Jadi “Tinggi”?
Karena bukan cuma soal persentase.
Masalahnya adalah:
Harga DMO untuk PLN sering di-cap (misal USD 70/ton untuk kalori tertentu)
Kalau harga global 120–150 USD → selisihnya besar banget.
Artinya:
Semakin tinggi gap harga → semakin berat efek DMO walaupun cuma 30%.
📌 Sekarang Kita Tarik ke Emiten
Secara umum (estimasi struktur bisnis):
Indo Tambangraya Megah ($ITMG)
Cenderung ekspor heavy → DMO 30% terasa sedang–tinggi
Adaro Energy Indonesia ($ADRO)
Ekspor dominan tapi punya diversifikasi → sedang
Bukit Asam (PTBA)
Domestik heavy → rendah–netral
------------------------------------------------------------------------------------------
🧠 Insight Strategis
Kalau harga coal global naik tajam →
DMO terasa menyakitkan.
Kalau harga coal global turun →
DMO justru jadi “penahan bawah”.
Makanya sektor coal sekarang lebih jadi income play (dividen) daripada growth play.
Coal saat ini lebih cocok:
* Stabilitas
* Yield
* Defensive hedge
Bukan:
* Multibagger momentum
Kalau Anda cari explosive gain, nickel lebih punya leverage karena tidak ada skema DMO seketat batubara.
JURNAL SAHAM - RABU, 18 FEBRUARI 2026
🪨 BATU BARA
🔎 Narasi:
Produksi nasional turun dari 790 juta ton → target >600 juta ton.
Tapi:
PKP2B Gen I & BUMN tidak dipangkas
DMO naik 25% → 30% (penjelasan DMO ada di postingan setelah ini👆)
📈 Fase Sektor:
Sideways stabilisasi dengan bias akumulasi di big caps
Kenapa?
Supply nasional turun → price floor Newcastle bisa terjaga
Big caps aman kuota → market share naik
Mid kecil bisa terpukul berat
Namun:
DMO 30% = margin domestik capped → upside terbatas.
👉 Coal bukan sektor bull run.
👉 Ini sektor stabilisasi & dividend play.
---
🔋 NIKEL
🔎 Narasi:
Kuota dipangkas 379 juta ton → 260–270 juta ton (~30%).
Ini jauh lebih agresif dibanding coal.
📈 Fase Sektor:
Awal fase accumulation menuju potential breakout
Kenapa?
Indonesia adalah price maker global
Supply discipline → support harga LME Nickel
Jika harga rebound 10–20% saja → EBITDA leverage besar
Ini mirip strategi ala OPEC.
Namun:
Kalau China melambat drastis → efek supply cut bisa netral.
👉 Nikel punya struktur lebih bullish daripada coal.
---
TOP RANKING BULLISH POTENTIAL (SWING–MID TERM)
🥇 #1 – $NCKL
Alasan:
• Struktur teknikal paling kuat di sektor
• Leverage tinggi ke kenaikan harga nickel
• Risk/reward menarik jika nickel rebound
• Masuk fase awal accumulation
Ini kandidat swing–mid term terbaik saat ini.
🥈 #2 – $INCO
Alasan:
• Base formation sehat
• Balance sheet kuat
• Lebih stabil dari NCKL
• Upside tidak seagresif NCKL tapi risiko lebih rendah
Cocok untuk mid-term hold.
🥉 #3 – $PTBA
Alasan:
• Stabil
• Dividend kuat
• Aman kuota
• Cocok untuk defensive rotation
Bukan untuk explosive gain, tapi stabil.
#4 – AADI
Struktur cukup baik, tapi upside terbatas dibanding nickel plays.
---
KESIMPULAN STRATEGIS HARI INI
Ini bukan market agresif total.
Ini market SELEKTIF BERBASIS KATALIS.
✅ Agresif: Nickel plays
⚖ Moderat: Coal big caps
❌ Hindari: Mid-small coal yang kuotanya dipotong besar
Kalau saya harus tegas:
👉 Fokus overweight di NIKEL.
👉 Coal hanya untuk stabilisasi portofolio.
👉 Jangan FOMO second liner.
Dua emiten pelat merah yaitu PT Bukit Asam Tbk dan PT Aneka Tambang Tbk resmi mengubah nama perseroan dengan menambahkan status Perusahaan Perseroan (Persero) di depan nama perusahaan. Perubahan ini dilakukan sebagai tindak lanjut ketentuan terbaru Undang-Undang Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Deng...

katadata.co.id
