Volume
Avg volume
UIC berdiri pada tahun 1983 dan mulai beroperasi secara komersial sejak November 1985, didukung oleh teknologi berlisensi dari UOP LLC, Amerika Serikat. Produk utama UIC adalah Alkylbenzene (AB) yaitu salah satu bahan baku utama deterjen. UIC adalah produsen tunggal AB di Indonesia dan memproduksi dua jenis AB, yaitu Linear Alkylbenzene (LAB) dan Branched Alkylbenzene (BAB), dengan produk sampingan Heavy Alkylate (HA) dan Light Alkylate (LA). UIC memiliki tiga unit pabrik AB yang semuanya berada dalam satu lokasi, dengan total kapasitas produksi sebesar 270.000 MT per tahun (kombinasi LAB dan BAB). UIC merupakan perusahaan de... Read More
$UNIC LK Q2 2025: Sabun Untuk Mahasiswa
Request salah satu user Stockbit member External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
PT Unggul Indah Cahaya Tbk ini punya cerita yang panjang sejak lahirnya di 7 Februari 1983. Perusahaan ini berdiri berdasarkan Undang-Undang Penanaman Modal Asing dan kemudian disahkan Menteri Kehakiman pada 30 Mei 1983. Baru dua tahun setelah itu, tepatnya November 1985, mereka mulai jalan secara komersial. Kantor pusatnya ada di Wisma UIC Jakarta, sementara pabrik utamanya berdiri di Merak Banten. Dari awal berdiri sampai sekarang, UIC memang fokus di bisnis kimia dasar, khususnya alkylbenzene yang merupakan bahan baku utama untuk detergen, sesuatu yang pasti ada di hampir semua rumah tangga. Bayangkan saja, setiap kali sabun cuci atau deterjen dipakai, ada kemungkinan bahan bakunya berasal dari UIC. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi kepemilikan, struktur sahamnya cukup menarik karena tidak ada induk tunggal yang mengendalikan perusahaan. Pemegang saham utamanya adalah PT Aspirasi Luhur dengan porsi 36,35%, lalu PT Alas Pusaka 11,39%, PT Salim Chemicals Corpora 10,34%, PT Lautan Luas Tbk 5,96%, sementara sisanya 35,96% dimiliki publik dan beberapa pemegang saham minoritas termasuk Hanny Sutanto yang juga jadi Wakil Presiden Komisaris dengan kepemilikan 0,08%. Kondisi ini membuat manajemen perusahaan lebih independen, tidak terjebak dominasi satu kelompok besar. Komisarisnya pun diisi tokoh senior seperti Erwin Sudjono sebagai Komisaris Utama Independen, Franciscus Welirang yang sudah lama malang melintang di dunia pangan dan konsumer, sampai Teddy Jeffrey Katuari. Direksinya dipimpin Yani Alifen sebagai Presiden Direktur, didampingi Lily Setiadi sebagai Wakil Presiden Direktur, dan Toni Liawan sebagai Direktur. Jimmy Masrin yang sebelumnya ikut di jajaran direksi mundur pada Maret 2025.
Bisnis yang dijalankan tidak hanya kimia, meski segmen inilah yang jadi mesin uang utama. UIC juga punya kegiatan pergudangan, perdagangan umum, real estate, dan transportasi barang. Dari segi pelaporan, ada dua segmen usaha yang tercatat, yaitu Chemicals dan Real Estate. Segmen Chemicals jelas dominan dengan kontribusi hampir seluruh pendapatan, sedangkan Real Estate malah selalu rugi operasional sehingga jadi beban kecil yang ikut terseret di laporan laba rugi. Anak usahanya cukup tersebar di berbagai negara, misalnya UICPL di Singapura untuk investasi, UICV di Vietnam untuk produksi dan distribusi bahan aktif detergen seperti LAS dan SLES, Petrocentral di Indonesia untuk sodium tripolyphosphate dan asam fosfat, AWAL di Australia dan AWNZ di Selandia Baru yang mengurusi phosphate dan surfactant, hingga WG di Indonesia sebagai developer properti. Ada juga WUT di Indonesia yang statusnya tidak aktif. Diversifikasi wilayah ini bikin perusahaan punya jaringan pasar lintas negara, walaupun tetap saja pondasi keuangannya datang dari kimia.Upgrade skill https://cutt.ly/ge3LaGFx
Kalau bicara kinerja, semester I 2025 memperlihatkan perusahaan ini makin kuat. Laba bersih naik ke US$11,8 juta dari US$9,2 juta di periode yang sama tahun 2024. Laba usaha juga melonjak ke US$12,8 juta dari sebelumnya US$10,6 juta. Laba per saham dasar alias EPS ikut terdongkrak dari US$0,0245 menjadi US$0,0311. Tapi angka yang paling mencolok adalah arus kas operasi. Kalau tahun lalu masih negatif US$2 juta, sekarang jadi positif US$31,8 juta. Angka ini bahkan hampir tiga kali lipat dari laba bersih, tanda laba yang dihasilkan bukan sekadar catatan akuntansi, melainkan benar-benar ditopang kas masuk. Setelah dipotong belanja modal sekitar US$1,7 juta, free cash flow masih sekitar US$30 juta. Dengan posisi kas begitu kuat, manajemen berani bagi dividen besar, US$10,4 juta pada 2025 dibanding hanya US$3,4 ribu di 2024. Bayangkan, dari recehan tahun lalu langsung melonjak jadi belasan juta dolar tahun ini. Itu bukti mereka yakin sama likuiditas perusahaan.
Neracanya pun bikin adem. Total aset per 30 Juni 2025 tercatat US$348,7 juta. Dari jumlah itu, ekuitas US$302,7 juta, sementara liabilitas cuma US$46 juta. Artinya struktur modal sangat sehat, leverage rendah, dan jelas ekuitas mendominasi. Pinjaman jangka pendek hanya US$1,7 juta, kecil sekali jika dibandingkan kas setara kas yang mencapai US$135,6 juta. Jadi meskipun ada kewajiban jangka pendek, dana kas lebih dari cukup untuk menutupinya. Semua covenant pinjaman juga dipenuhi. Dengan kata lain, tidak ada tekanan utang yang berarti. Biaya bunga bahkan turun dari US$370 ribu di 2024 menjadi US$157 ribu di 2025, tanda beban keuangan makin ringan.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kontrak dan perjanjian mereka cukup strategis. Ada lisensi teknologi dari UOP LLC Amerika untuk proses produksi Detergent Alkylate dan PACOL. Kontrak pasokan gas ditandatangani dengan PGN hingga 2028, Banten Inti Gasindo sampai 2026, Sadikun Niagamas Raya sampai 2026, dan Inti Alasindo Energi sampai 2040. Untuk bahan baku, mereka kontrak dengan Pertamina Petrochemical Trading sampai 2026 untuk benzene, serta Qatar Shell GTL sampai 2027 untuk normal paraffin. Sewa fasilitas juga lumayan banyak, misalnya sewa dermaga dan tangki dengan PT Karyaindah Alam Sejahtera hingga 2026, sewa kantor dengan PT Megah Niaga Jaya hingga 2031, dan sewa lahan pabrik Petrocentral di Petrokimia Gresik. Nah yang terakhir ini agak rawan karena kontraknya sudah habis Agustus 2023 dan sedang diperpanjang. Manajemen bilang yakin perpanjangan bisa minimal tiga tahun lagi. Untuk UIC Vietnam, sewa lahan dan kantor aman sampai 2043. Karena banyak transaksi dalam mata uang asing, mereka lindungi dengan kontrak forward exchange biar tidak terlalu terpukul fluktuasi kurs.
Kalau dilihat dari sisi masalah, sebenarnya tidak ada yang besar. Hanya ada dua catatan. Pertama, segmen real estate yang selalu rugi dan jadi beban kecil. Kedua, perpanjangan sewa lahan Petrocentral yang masih pending. Selain itu, kondisi keuangan dan operasional tergolong solid. Revenue naik dari US$163,8 juta di 2024 menjadi US$194,5 juta di 2025, COGS ikut naik tapi gross profit tetap lebih tinggi. Beban penjualan, distribusi, dan administrasi juga naik, namun masih kalah cepat dibanding pertumbuhan margin. Pajak naik wajar karena laba naik. Jadi sejauh ini tidak ada mismatch besar. Malah anomali yang ada justru positif, yaitu operating cash flow jauh lebih besar dari laba bersih.Upgrade skill https://cutt.ly/ge3LaGFx
Risiko tetap ada, terutama dari harga komoditas. Karena bahan baku kimia ini turunan minyak bumi, setiap naik turunnya harga crude oil pasti berimbas ke biaya produksi. Perusahaan sudah mengantisipasi dengan efisiensi produksi dan strategi pembelian bahan baku lebih baik, tapi tetap saja faktor eksternal ini tidak bisa dihindari. Di sisi lain, diversifikasi geografis ke Vietnam, Australia, dan Selandia Baru memberi sedikit bantalan karena tidak melulu bergantung pada satu pasar domestik.
Apa yang bikin UIC ini unik? Pertama, mereka punya posisi penting di industri alkylbenzene, sesuatu yang sangat spesifik tapi juga sangat dibutuhkan. Kedua, mereka sudah beroperasi sejak 1985, artinya punya rekam jejak panjang menghadapi berbagai krisis. Ketiga, cashflow mereka luar biasa kuat, bahkan bisa jauh melampaui laba bersih, sesuatu yang jarang ditemukan di banyak perusahaan lain. Keempat, mereka mampu bagi dividen besar, menandakan manajemen percaya diri dengan arus kas ke depan.
Kalau bicara kelemahan, ada beberapa. Real estate yang selalu rugi jadi noda kecil di laporan keuangan. Lalu risiko perpanjangan sewa lahan Petrocentral meski kecil tetap harus diperhatikan. Dan tentu saja eksposur terhadap fluktuasi harga minyak dunia yang bisa membuat biaya bahan baku melonjak sewaktu-waktu. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau bicara tentang siapa yang duduk di kursi komisaris dan direksi, wajah-wajah yang muncul di sini adalah representasi dari kelompok usaha besar di Indonesia. Erwin Sudjono sebagai Presiden Komisaris independen membawa latar belakang militer tinggi, termasuk pernah memimpin Kostrad. Ada Hanny Sutanto dan Teddy Jeffrey Katuari yang jelas mewakili jaringan bisnis Wings Group, terlihat dari jejaknya di PT Sayap Mas Utama, PT Alas Pusaka, dan Lion Wings. Indrawan Masrin adalah figur Lautan Luas, perusahaan kimia yang dia pimpin sejak 1996. Franciscus Welirang, sosok lama dari Indofood yang memimpin Bogasari, hadir di kursi komisaris dan jelas ini adalah representasi Salim Group yang selama ini jadi raksasa di pangan dan agribisnis. Lalu ada Farid Harianto, ekonom senior dengan rekam jejak panjang di sektor keuangan dan infrastruktur, yang duduk sebagai komisaris independen sekaligus ketua komite audit. Dengan komposisi seperti ini, UIC praktis jadi arena pertemuan jaringan Wings, Lautan Luas, Salim Group, hingga profesional independen.
Di jajaran direksi, tongkat kepemimpinan dipegang Yani Alifen yang sudah puluhan tahun di UIC, dengan latar pendidikan teknik mesin dari ITS. Ia dibantu Lily Setiadi sebagai Wakil Presiden Direktur yang baru naik kursi sejak Februari 2025, membawa pengalaman panjang di entitas anak. Toni Liawan juga baru masuk sebagai direktur pada 2025. Komposisi ini berubah setelah RUPS Luar Biasa Februari 2025 yang mencatat pengunduran diri Djazoeli Sadhani dan Jimmy Masrin, digantikan oleh Lily dan Toni. Semua perubahan itu sudah dikukuhkan dan tercatat di sistem badan hukum pada Maret 2025.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Nama Jimmy Masrin sendiri sempat jadi sorotan karena terseret kasus hukum. Ia diperiksa dan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam dugaan korupsi fasilitas kredit LPEI yang merugikan negara hingga Rp11,7 triliun. Jimmy punya keterkaitan dengan PT Petro Energy, tempat ia pernah menjadi Komisaris Utama, dan PT Caturkarsa Megatunggal, di mana ia menjabat Presiden Direktur. Kuasa hukumnya membantah tuduhan itu dengan alasan audit forensik telah dilakukan dan Jimmy punya itikad baik dalam menyelesaikan kewajiban utang, tetapi fakta bahwa KPK menahannya membuat posisinya di perusahaan tidak bisa dipertahankan. Pada akhirnya ia mengundurkan diri dari semua jabatan publiknya, baik di UIC maupun di Lautan Luas Group, efektif per Maret 2025. Manajemen menegaskan bahwa operasional perusahaan tetap berjalan normal tanpa dampak signifikan.
Dari situ terlihat bagaimana UIC berada di persimpangan berbagai kelompok besar. Wings Group jelas dominan, Salim Group diwakili langsung Franciscus Welirang, Lautan Luas lewat Indrawan Masrin, sementara profesional independen seperti Farid Harianto memberi warna tata kelola. Kepergian Jimmy Masrin memang mencoreng citra, tetapi justru menegaskan bagaimana mekanisme pasar modal dan tata kelola korporasi dipaksa bekerja, dengan pengunduran diri sebagai langkah menjaga keberlangsungan dan independensi perusahaan. Struktur kepemilikan dan representasi tokoh-tokoh besar ini membuat UIC bukan sekadar perusahaan kimia, tapi juga simpul strategis dari konglomerasi besar yang berinteraksi di pasar Indonesia.Upgrade skill https://cutt.ly/ge3LaGFx
PT Unggul Indah Cahaya Tbk ini terlihat sebagai perusahaan yang bukan hanya sehat, tapi juga punya earnings quality sangat bagus. Laba yang mereka catat benar-benar sejalan bahkan dilampaui arus kas masuk, liabilitasnya kecil, asetnya besar, dan ekuitasnya tebal. Selama mereka bisa menjaga suplai bahan baku, memperpanjang kontrak sewa pabrik, dan mengendalikan dampak harga komoditas, perusahaan ini bisa terus bertahan bahkan berkembang lebih jauh. Dengan kata lain, ini contoh perusahaan yang bukan hanya bisa cetak laba, tapi juga benar-benar punya fondasi kas yang kuat untuk jangka panjang.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/7
Kembali lagi bersama saya, kuli bangunan BEJ yang membangun gedung BEJ bersama Marzuki Usman dan Bacelius Ruru diawasi oleh JB Sumarlin. Pada saat ini saya turut prihatin melihat pergerakan $IHSG yang didorong oleh emiten-emiten sampah dengan PE ratusan. Teringat semangat deregulasi dulu ketika paket oktober dicanangkan di masa Orba, saham saham berfundamental seperti Astra dan $UNIC yang mendorong pergerakan index. Kini cukup tim enter bapak presiden Prabowo untuk hajar kanan $DCII beberapa billion RUPIAH cukup untuk menaikkan index nol koma sekian poresen dan mengkabulkan index menjadi 8000. Ternyata budaya Asal Bapak Senang (ABS) lahir kembali, dan budaya itu sudah merangsek masuk hingga ke tingkat bid dan offer
pasang bid dulu $UNIC di 7675.. jaga2 dia cari2 selah utk melorot ke angka prediksi.. ya setidaknya walaupun biasanya cuma berani dijadiin low dan offer nya jomplang yg penting kudu dibikin HIT.. skr klo dah dijaga alamat gak HIT prediksi saya nie๐ ๐
@coolhartman $UNIC Cuan dri Deviden,.
Misal d waktu Cum Date Harga 9450 beli 10 Lot,. 9450000
Dividen 448,.
Perhitungan 10 Lot = 1000 lbr
1000 x 448 = 448000
Saat Beli Pasang SL d. - 1.5 %
9450000 x 1.5 % = 141750 loss
Keuntungan 448000 - 141750 = Rp. 306250
gmna Para suhu tlong pencerahan dg teori ini,.
terimakasih
selanjutnya saya berburu deviden $TLKM