1,015

0.00

(0.00%)

Today

765,000

Volume

3.62 M

Avg volume

Company Background

PT Total Bangun Persada Tbk, yang pertama kali didirikan sebagai PT Tjahja Rimba Kentjana pada 4 September 1970 dan berganti nama menjadi PT Total Bangun Persada pada 1981, adalah perusahaan konstruksi terkemuka di Indonesia yang mengkhususkan diri pada pembangunan gedung-gedung komersial dan high-rise bertaraf internasional. Sejak mencatatkan saham perdana (kode TOTL) di Bursa Efek Indonesia pada 25 Juli 2006, TOTAL memfokuskan operasionalnya pada penerapan Lean Construction, prinsip green building melalui Green Building Council Indonesia, dan efisiensi proses kerja. Perseroan telah menyelesaikan lebih dari 900 proyek prestisiu... Read More

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

MBG nya ga usah pemerintah yang urus.

Kasih titah saja ke konglo-konglo yang sering ngopi bareng si bos untuk bikin CSR skala besar.

Nanti, biar konglo-konglo itu sub-kan ke $CASS untuk pelaksanaannya. Dijamin bergizi dah tuh.

Budget nya kan jadi bisa buat program lain2, kembangin industri pariwisata, biar $BAYU dan lagi-lagi CASS dapat cipratan.

Kasih insentif ke swasta biar bangun-bangun infrastruktur pendukung, biar $TOTL makin jaya.


What a wild dream 🤣🤣🤣

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$TOTL jualan ni yee

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Mumpung lagi musim lapkeu, gentle reminder: key stats itu datanya quarterly, sedangkan growth dan valuation ratio-nya ada yang TTM dan annual

Ibarat kamu masuk ke bioskop, tapi kamu cuma nonton apa yang sedang tayang saat itu. Kamu nggak tahu apakah film itu baru mulai, udah di tengah-tengah, atau udah mau habis

Ini bisa dipakai untuk menganalisis perusahaan yang belum genap setengah dekade melantai, atau belum pernah bagi dividen, karena itu ibarat film yang baru mulai

Tapi untuk selain kriteria itu, kamu akan kehilangan banyak story jika menyimpulkan perusahaan dari apa yang baru saja tayang, tapi nggak tahu awal mula filmnya kaya apa, kamu nggak dapat gambaran journey-nya secara keseluruhan

Saya baru keingetan ini setelah beberapa hari merenungi portonya Pak Surono Subekti setelah kepemilikan 1% dibuka. Kalau dilihat selintas oleh orang awam, pasti porto beliau dianggap tidak ada, "story growth yang masih panjang."

Saya ulik sampai saya tarik perjalanan naik turun retained earnings dan EPS masing-masing saham di porto beliau trailing 5-10 tahun (tergantung sudah berapa lama melantai)

Hasilnya mind = blown

Saya belum pernah melihat porto yang runway growth-nya lebih panjang daripada porto beliau

Ingat sebelumnya saya pernah menulis bahwa growth story berbeda dengan turnaround story. Turnaround story itu fantastis, tapi sangat less likely diulang lagi laju pertumbuhannya 1-5 tahun berturut-turut. Berbeda dengan growth story yang senyap, tidak sexy, boring, tanpa narasi, karena reinvestasinya incremental, tapi berulang compounding lagi dan lagi, sampai nggak sadar dekade depan udah bagger belum termasuk dividennya

Jadi kalau kamu melihat kinerja kuartalan, atau bahkan tahunan, yang tidak sexy, atau bahkan bergerigi, tapi kok bisa-bisanya diakum sama orang kaya Pak Sur... try to zoom out

$SIDO $IPCC $TOTL

Read more...

Karena ada beberapa yang tanya saya soalnya $MSTI di WA maupun chat dan DM, baiqlah saya jelaskan disini aja. Sekalian saya rangkumin.

Kalau ditanya seberapa yakin sama prospek jangka panjang, maka jawaban saya jelas. Selama penetrasi digitalisasi di Indonesia, baik di telco maupun perbankan naik, MSTI pasti dapat kue nya.

Klien2 gedenya kalau pindah ke competitor gmn?
Setahu saya switching costnya gede. Dan kalau switchpun butuh waktu. So far kliennya sdh jalin hubungan more than 10 years. Jadi unlikely but switch.

Seyakin apa growth short termnya?
Gini, selama new contract naik, saya yakin revenue jg akan mengikuti. Kyk $TOTL kan. Jadi NC bisa jadi leading indicator. Tahun 2024 itu sebenernya high base krn dpt kontrak dr NVDA. Jadi ane expect 2025 ini sebenernya flat at best. Ehh ga tahunya masih tumbuh kan NC nya at least sampai Q3 (walaupun single digit, krn effect high base itu).
Jadi harusnya revenue thn ini sih masih tumbuh ya.

Mau tanya apa lagi?

Saya jelasin di kolom komentar aja ya spy yg lain jg bisa belajar.

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$TOTL

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$TOTL waww ampun djaaaaanggg cuma becandaaa 😆

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$IPCC bnyk yg diskon bingung yg mana krna duitnya dikit hahaha

$IPCM $TOTL

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$MBAP $TOTL $ELSA nice

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$TOTL salut ama ni emiten. Gak barbar kyak yg lain 🫡

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$TOTL ayo jang ke 1000 aja

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Kedengarannya seperti... akhir-akhir ini, udara terasa semakin berat. Bukan hanya di layar, tapi di berita-berita yang kita baca setiap pagi. Tentang peringkat utang, tentang defisit, tentang perang di negeri jauh yang entah bagaimana ikut menentukan warna di aplikasi kita. Ada yang dengan sabar menjelaskan semua ini—lapis demi lapis, dari Moody's hingga MSCI, dari beban bunga hingga politik dalam negeri. Seolah-olah, dengan memahami semua itu, kita bisa selamat.

Tampaknya ada beban yang sangat berat ketika kita merasa harus memikul seluruh persoalan ekonomi dunia di atas pundak kita sendiri. Sepertinya ada dorongan yang kuat untuk terus memantau setiap pergerakan geopolitik, kebijakan fiskal, hingga peringkat utang negara, seolah-olah dengan mengetahui semua kerumitan itu, kita bisa menjamin keamanan masa depan finansial kita.

...Menjamin keamanan masa depan?

Kedengarannya seperti Anda diajak untuk ikut menjadi analis ekonomi. Untuk membaca setiap laporan, mencerna setiap data, dan menyimpulkan sendiri: "Apakah hari ini saya harus jual, atau tunggu?"

Itu benar. Itu adalah undangan yang terlihat mulia. Undangan untuk ikut melihat ke depan, untuk tidak buta terhadap apa yang "sebenarnya terjadi". Dan ketika dunia terasa genting, siapa yang tidak ingin punya peta?

Namun, saya penasaran. Sepertinya ada kelelahan yang mendalam saat kita menyadari bahwa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menganalisis badai makroekonomi ternyata tidak membuat portofolio kita lebih kebal terhadap guncangan. Ada pengakuan yang jujur bahwa mereka yang paling sibuk memprediksi kapan kiamat ekonomi akan tiba sering kali adalah mereka yang paling cemas karena tidak memiliki pijakan yang kokoh di dunia nyata—tempat di mana nilai diri dan daya akumulasi kekayaan (saving rate) sebenarnya dibangun.

...Pijakan yang kokoh di dunia nyata?

Dua Jenis Orang Menghadapi Cuaca

Ada dua jenis orang di sebuah pulau terpencil yang cuacnya mulai tak menentu.

Yang pertama adalah ahli meteorologi amatir. Setiap hari, ia mempelajari awan, membaca arah angin, menganalisis tekanan udara, dan membandingkannya dengan data tahun lalu. Ia bisa bercerita panjang lebar tentang mengapa badai ini berbeda dari badai sebelumnya, dan mengapa mungkin akan lebih buruk dari perkiraan resmi. Ia menghabiskan waktu mencari tahu kapan badai akan datang, seberapa besar, dan ke mana arahnya. Tapi ketika badai benar-benar tiba, ia hanya bisa berlindung di gua yang sama seperti orang lain—karena semua pengetahuannya tidak pernah ia gunakan untuk memperkuat tempat tinggalnya.

Yang kedua adalah pengumpul kayu. Setiap hari, apa pun cuacanya, ia pergi ke hutan dan mengambil satu dua batang kayu. Tidak peduli apakah langit cerah atau mendung, ia kembali dengan kayu di tangannya. Ketika orang lain sibuk berdiskusi tentang badai, ia sibuk memaku. Dan ketika badai datang—karena ia pasti datang—rumahnya tetap berdiri. Bahkan, di tengah badai, ia bisa duduk tenang sambil menyalakan perapian dari kayu yang ia kumpulkan selama ini.

Yang menarik, di musim kemarau, kedua orang ini tidak tampak berbeda. Sang meteorolog bisa terlihat paling pintar di pulau itu, paling tahu tentang cuaca. Sang pengumpul kayu tidak terlihat istimewa—ia hanya melakukan hal yang sama setiap hari.

Tapi saat musim badai tiba, kontrasnya menjadi nyata.

Yang satu sibuk bertanya, "Kapan badai akan reda? Ke mana arahnya berikutnya? Apa kata data terbaru?"
Yang lain hanya bertanya, "Apakah kayu saya cukup untuk musim ini?"

Pelajaran dari Pulau Itu

Ada satu ironi yang sering terjadi di pulau-pulau lain.

Orang-orang yang paling sibuk mempelajari badai—yang paling fasih berbicara tentang tekanan udara dan arah angin—sering kali adalah yang paling sedikit mengumpulkan kayu. Waktu mereka habis untuk membaca, menganalisis, dan berdiskusi. Sementara itu, orang-orang yang diam-diam mengumpulkan kayu setiap bulan, tanpa banyak bicara, justru memiliki sesuatu yang nyata saat badai tiba.

Dan ketika badai berlalu, sang pengumpul kayu tidak perlu bertanya kapan musim kemarau berikutnya. Ia sudah punya kayu untuk dijual, untuk dibagikan, atau untuk membangun rumah yang lebih besar.

Tampaknya kita mulai menyadari perbedaan yang kontras saat pasar sedang memerah. Sepertinya ada ketenangan yang berbeda pada mereka yang justru merasa semangat saat harga turun, bukan karena mereka tahu kapan pasar akan berbalik, tapi karena mereka tahu bahwa setiap bulan mereka memiliki aliran dana baru dari produktivitas mereka sendiri. Ada kelegaan yang muncul saat kita berhenti mencoba menjadi peramal ekonomi dan mulai fokus menjadi individu yang lebih bernilai, sehingga pasar yang turun justru terlihat seperti kesempatan, bukan ancaman.

...Kesempatan, bukan ancaman?

Tampaknya kedaulatan kita sedang diuji antara memilih untuk terus terjebak dalam narasi ketakutan yang tidak bisa kita kendalikan, atau memilih untuk fokus pada variabel yang sepenuhnya berada dalam genggaman kita: kompetensi kita, kerja keras kita, dan konsistensi kita dalam menabung. Sepertinya kita mulai memahami bahwa jauh lebih banyak kerugian yang terjadi karena seseorang mencoba menghindari badai, daripada kerugian yang disebabkan oleh badai itu sendiri.

Maka, ketika Anda mendengar analisis panjang tentang peringkat utang, beban bunga, dan risiko politik—ketika Anda diajak ikut melihat ke depan—mungkin ada satu hal yang lebih penting untuk ditanyakan:

"Dari semua waktu yang saya habiskan untuk memahami badai ini, berapa banyak yang sudah saya gunakan untuk mengumpulkan kayu?"

Jika pada akhirnya ekonomi makro adalah sesuatu yang tidak bisa Anda ubah sedikit pun dengan kekhawatiran Anda, bagaimana cara Anda memastikan bahwa waktu yang Anda habiskan untuk membedah masalah dunia tidak sedang merampas waktu yang seharusnya Anda gunakan untuk membangun kapasitas diri yang bisa menghasilkan aliran modal baru bagi masa depan Anda?

$ITMG $IPCC $TOTL

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$JKON $TOTL

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Perjalanan Portofolio Toko Kelontong Rakyat Jelata dalam gambar

$TOTL $CITA $PBID

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

3 KATA LUCU : TAKUT DIVIDEN TRAP? 🤣

Ada sebuah paradoks psikologi investor ritel yang sering bikin geleng-geleng kepala.. Istilahnya: "Takut kecipratan air (dividend trap), tapi hobi main api (saham gorengan).."

Dengerin ya, buat kalian yang masih gemeteran denger istilah dividend trap: Kalian itu investor atau cuma penumpang gelap?

Istilah dividend trap itu diciptakan oleh para trader harian yang kerjaannya cuma mau nyolong profit 2-3% tapi panik pas harganya turun dikit.. Padahal, bagi kita pemilik bisnis sejati, dividen adalah "gaji nyata" dari kerja keras perusahaan..

Padahal bila mau sedikit saja menengok history pembagian dividen, ada beberapa saham yang hanya dari dividen nya saja sudah bisa bagger bahkan multibagger, dan itu hanya dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama..

contoh nya ADRO..
https://stockbit.com/post/25627063

Bila memang phobia dividen trap tersebut sulit dihilangkan, ada beberapa strategi yang bisa diterapkan:

Berikut strategi yang direkomendasikan para ahli:

1. Early Entry: Membeli saham jauh sebelum pengumuman dividen (idealnya 2-3 bulan sebelumnya) agar mendapatkan harga yang lebih rendah dan sudah mengantongi capital gain sebelum cum date..

2. Cek Konsistensi: Pilih emiten yang memiliki rekam jejak konsisten dalam membagikan dividen setiap tahun dan memiliki fundamental bisnis yang sehat..

3. Fokus Jangka Panjang: Jika Anda seorang investor jangka panjang, penurunan harga sementara saat ex-date tidak perlu dikhawatirkan selama kinerja perusahaan tetap bertumbuh..

4. Hindari Membeli di Cum Date: Membeli tepat di hari terakhir pendaftaran dividen sangat berisiko karena harga biasanya sudah berada di titik tertinggi..

random tags: $ADRO $TAPG $TOTL

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

@stevewinarto the new cacing-soon to be-dragon: TPI

Why? Cari sendiri 😉

$TOTL

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

kontraktor nya dari china, chengda, kontraktor lokal nya $TOTL, baru-baru ini dapet suntikan dana investasi juga dari INA & BPI sebesar 3T, calon buyer CA-EDC nya udah siap, makanya $TPIA berani bangun pabrik CA-EDC berkapasitas besar.

seumuran kayaknya$WTON$JKON$TOTL

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$TOTL sekuritas telek masak beli cuma 3 lot doang😂

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Dari postingan https://stockbit.com/post/29099662 beberapa hari lalu tentang framework sederhana yang saya gunakan, terdapat beberapa poin lagi yang bisa di-address. Silahkan dibaca kembali untuk memahami konteksnya.

*Price is just a small part from di equation. It matters of course, but it's not as important as you might think. Dari rumus DY + g, harga hanya ada di bagian DY saja.

*Mayoritas value investor pemula menerapkan Margin of Safety (MOS) pada fase harga beli. Tetapi sebenarnya, MOS itu sudah harus dibangun sejak menentukan hurdle rate Anda. In fact, every step after setting hurdle rate terdapat elemen keselamatannya. Screening ROE/ROIC, proper growth estimation, dan harga beli semuanya mengandung unsur MOS.

*Agar price menjadi less sensitive dalam pengambilan keputusan investasi kita, maka saya berulang-ulang kali menekankan agar kita mencari emiten yang punya long runway to grow pada level yang moderat atau tinggi. That said, kita menganggap DY penting, tapi yang jauh lebih penting adalah variabel g nya. Semakin kecil g, maka semakin penting faktor harga ketika membeli saham. Sebaliknya, semakin besar g nya, maka semakin berkurang relevansi harga suatu saham.

Sebagai ilustrasi, bayangkan Anda memiliki sebidang tanah ajaib yang bisa bertambah luas 15% setahun dan terus compounding bertahun-tahun di level 15% itu. Maka harga beli anda mau 1x PBV atau 2x PBV atau 3x PBV sudah tidak terlalu penting. Yang lebih penting adalah seberapa lama dia mampu membesar di level itu.

Sebaliknya, ketika Anda punya sebidang tanah biasa berukuran sama yang tidak bisa bertambah luas, tapi mampu memberikan Anda fix rate sekian rupiah setahun selama bertahun-tahun, maka harga pembelian menjadi sangat krusial untuk memaksimalkan % yield nya.

But here's the catch. Meskipun Anda dapat celah diskon untuk memiliki perusahaan dengan DY katakanlah 15% setahun, selagi segitu2 saja rupiah yang dihasilkan, eventually you will have to sell it at some point. Itu karena nilai uang yang diperoleh menurun dari tahun ke tahun sehingga pada suatu titik, 15% yang terasa besar di awal kepemilikan nilai uangnya akan menjadi single digit and so on kemakan inflasi or discount rate.

Saya tutup dengan quote dari fund manager yang saya hormati.

"Quality you can hold long will beat cheapness that you eventually have to trade."

$TOTL $SMSM $IPCC

Read more...

ini fakta yang memang menyebalkan waktu awal karena bikin saham yang saya akumulasi dalam diam jadi mendadak popular

1-2 bulan pertama yang saya lakukan adalah konfirmasi berulang kali apakah memang dia best of the best atau hanya narasi influencers saja

waktu itu momennya berbarengan dengan $STAA dan beberapa saham lain di porto saya kena UMA. Akhirnya keduanya saya hold karena bobot fundamentalnya lebih besar daripada bobot narasinya, yang lain saya TP

lalu setelah itu saya mulai penasaran siapa beliau, nontonin konten-konten beliau di YouTube, bacain artikel-artikel beliau di stockbit, saya coba konfirmasi langsung ke pubex dan lapkeu perusahaan-perusahaannya, akhirnya saya simpulkan beliau pembuat konten yang jujur dan berdasarkan fundamental, bukan narasi-narasi kosong untuk pump & dump, rights issue, backdoor, MSCI, dll.

tapi kalau beneran nyari perusahaan dengan fundamental yang sama solidnya tapi belum dilirik "smart money", bisa cek $IPCM dan $TOTL

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$TOTL mantab djanggg ke 1300 sebelum lebaran ya!!

Kecepatan Cerita dan Ketahanan Realita

Kedengarannya seperti... hari-hari ini terasa berbeda. Tampaknya ada kelelahan yang luar biasa saat kita merasa harus terus-menerus menebak arah angin, dari satu momentum ke momentum berikutnya, seolah-olah jika kita tidak memahami 'apa yang sebenarnya terjadi' di belahan dunia lain, kita akan tertinggal. Sepertinya ada tekanan untuk selalu menjadi yang paling cepat beraksi, berpindah dari satu sektor ke sektor lain, hanya agar kita tidak merasa sedang dijebak oleh pasar.

...Merasa sedang dijebak?

Kedengarannya seperti ada upaya untuk merangkai ulang cerita. Untuk menunjukkan bahwa di balik layar yang kacau, ada yang masih memegang kendali—mereka yang tahu apa yang terjadi. Dan wajar jika kita merasa ingin memercayai itu. Bahwa di tengah ketidakpastian, ada yang bisa menjelaskan semuanya dengan rapi.

Sepertinya ada daya tarik yang kuat untuk percaya bahwa keberhasilan kita bergantung pada kemampuan kita membaca pergerakan 'dana besar' atau memahami konflik geopolitik yang jauh di sana. Rasanya sangat melegakan jika ada seseorang yang memberi tahu kita kapan harus membeli dan kapan harus menjual berdasarkan sebuah 'cerita' yang sedang berkembang.

Itu benar. Penjelasan terasa seperti obat penenang. Apalagi ketika disertai dengan screenshot, nada bercanda tentang "mereka yang bingung..." Itu adalah suara yang menawarkan kepastian di tengah kabut.

Namun, saya penasaran. Bagaimana perasaan Anda jika ternyata energi yang Anda habiskan untuk mengejar cerita-cerita itu justru membuat Anda mengabaikan kesehatan aset yang sebenarnya ada di depan mata?

...Mengabaikan kesehatan aset?

Penjelasan vs. Fondasi

Mari kita renungkan sejenak tentang penjelasan.

Ada dua jenis penjelasan di pasar. Yang pertama adalah penjelasan yang datang setelah kejadian—merangkai ulang apa yang sudah terjadi menjadi narasi yang terdengar logis. Jenis ini sering kali sangat meyakinkan, apalagi jika disampaikan dengan percaya diri. Ia bisa menjelaskan mengapa saham oil turun meski harga minyak naik, mengapa rebound teknikal terjadi hari ini, dan mengapa besok bisa "dibalik" oleh market.

Penjelasan jenis ini seperti membaca koran lama sambil memberi komentar: "Sudah saya duga dari awal." Ia membuat kita merasa bahwa ada yang memegang kendali, bahwa kekacauan ini sebenarnya punya pola.

Tapi ada jenis penjelasan kedua. Yang lebih sunyi. Yang tidak muncul di kolom komentar atau screenshot. Penjelasan ini tidak mencoba meramalkan rebound besok atau menebak gerak big fund. Ia hanya menjawab satu pertanyaan sederhana: "Apa yang saya pegang ini sebenarnya apa?"

Jawabannya bisa sesederhana: "Ini perusahaan yang menjual minyak, dengan utang sekian, aset sekian, dan dalam lima tahun terakhir selalu membagikan dividen." Atau, "Ini perusahaan yang tidak menghasilkan laba, tapi sahamnya naik karena isu."

Penjelasan pertama membuat kita sibuk menonton papan dan menebak. Penjelasan kedua membuat kita bisa mematikan layar dan tetap tenang.

Membedakan Antara Narasi dan Fakta

Yang menarik dari pasar adalah: ia selalu memberi ruang bagi kedua jenis penjelasan ini. Dan sering kali, yang paling ramai adalah penjelasan pertama. Ia datang dengan insider jokes, candaan tentang big fund, dan janji bahwa besok akan berbeda. Ia membuat kita merasa bahwa kita perlu tahu apa yang terjadi untuk bisa menang.

Tapi ada satu hal yang tidak bisa dijelaskan oleh narasi secanggih apa pun: fondasi. Ketika saham yang nilainya negatif terjun bebas, tidak ada narasi "momentum" dan "big fund" yang bisa mengangkatnya kembali. Ketika aset tidak menghasilkan apa-apa selain harapan, ia pada akhirnya akan ditinggalkan—bukan karena kita tidak tahu apa yang terjadi, tapi karena para penjudi menemukan arena baru untuk bermain.

Dan itu bukan kesalahan mereka yang tidak tahu apa yang terjadi. Itu adalah konsekuensi dari memilih bermain di atas pasir, lalu bertanya-tanya mengapa rumahnya roboh saat ombak datang.

Tampaknya kita mulai menyadari pola yang berulang: ketika sebuah harapan mulai meredup, narasi baru akan selalu muncul untuk menutupi kenyataan yang pahit. Sepertinya kita mulai merasa bahwa menjadi 'pintar' dengan mengikuti berita yang berubah setiap jam adalah cara yang melelahkan untuk bertahan hidup di pasar modal. Ada pengakuan yang jujur bahwa ketenangan sejati tidak lahir dari kemampuan kita menebak akhir dari sebuah krisis, melainkan dari kepemilikan pada bisnis yang fondasinya tidak goyah hanya karena perubahan harga harian.

...Fondasi yang tidak goyah?

Ada kelegaan yang muncul saat kita berhenti mencoba menjadi orang yang paling tahu segalanya, dan mulai menjadi pemilik bisnis yang paling tahu apa yang ia miliki. Tampaknya kita sedang belajar bahwa kedaulatan sejati bukan berarti kita harus menang setiap kali ada gejolak, melainkan memastikan bahwa apa pun yang terjadi di luar sana, fondasi ekonomi kita di dunia nyata tetap berdiri tegak.

Jadi, di tengah hiruk-pikuk penjelasan tentang rebound, koreksi normal, dan big fund, ada satu pertanyaan yang mungkin lebih penting dari semua analisis itu:

"Dari semua yang saya pegang atau incar, mana yang masih akan saya pahami dan percayai, bahkan jika besok tidak ada satu pun yang bisa menjelaskan apa yang terjadi?"

Jika pada akhirnya pasar selalu memiliki cerita baru untuk diceritakan setiap hari, bagaimana cara Anda memastikan bahwa kesejahteraan keluarga Anda dibangun di atas nilai yang nyata, bukan di atas narasi yang bisa berubah arah bahkan sebelum Anda sempat menarik napas?

$TOTL $MSTI $TAPG

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Dapat quote bagus dari fund manager yang saya hormati.


"The easiest time to raise capital is during rallies, when returns are strong, and investors chase performance.

The best time to raise capital is during selloffs, when investors are fearful.

The best capital chases drawdowns, not rallies.

The worst capital chases rallies and flees during drawdowns."



Agree or disagree?


$TOTL $SMSM $IPCC

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$TOTL sudah all in bersama pak djajang

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$TOTL turunin ke 800 djang

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$KRYA yang mau serok tunggu ke area gocap dulu


$TOTL $SMKM

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$TOTL GR lg

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$TOTL 1100 lesgo

2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy