


Volume
Avg volume
PT Millenium Pharmacon International Tbk bergerak di bidang distribusi produk farmasi, suplemen makanan, dan alat kesehatan dengan cakupan seluruh Indonesia. Prinsipal yang mempercayakan produknya untuk didistribusikan terdiri dari prinsipal nasional maupun multi nasional dengan sasaran distribusi apotik, rumah sakit untuk produk-produk ethical dan alat kesehatan, dan toko obat maupun pasar modern untuk produk-produk bebas (OTC/Over The Counter). Perusahaan beroperasi secara komersial pada tanggal 20 Oktober 1952.
📊 05 January 2026 - (Menurut Bloomberg Terminal)
📝 $BAJA
💵 Buy Area: 165-163
🤑 Take Profit: Kalau udah cuan tuh diambil, bukan dititipin ke bandar! 😎
🚨 Stop Loss: 160
📝 $SDPC
💵 Buy Area: 157-155
🤑 Take Profit: Kalau udah cuan tuh diambil, bukan dititipin ke bandar! 😎
🚨 Stop Loss: 152
📝 $PSDN
💵 Buy Area: 135-132
🤑 Take Profit: Kalau udah cuan tuh diambil, bukan dititipin ke bandar! 😎
🚨 Stop Loss: 128
⚠️ Disclaimer ON!
🔔 Analisa bukan ajakan!
📢 Cut Loss? Siap. Nyangkut? Nggak.
Kalau cuan, kasih like ❤️, follow 🤝 & comment ✍️ ya! Biar gak ketinggalan saham berikutnya! 🤑🤣🚀
$SDPC
FUNDAMENTAL NOT BAD ✅️
SUPPORT 150
TARGET 200-250
SL jebol support atau atur sendiri Risk rewardnya.
disini broksumnya cukup menarik ada XA & YP, cuma belum tau ini yg accum BELVINMOLOGY atau yang accum $MRAT & $GGRP dia juga pakai XA & YP. setelah TP MRAT apakah kelompok XA pindah ke sini? kita liat nanti😂
DYOR ya

$SDPC Perusahaan yang Hidup dari Janji Rumah Sakit
Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
SDPC ini bisnisnya sangat bergantung pada kepercayaan pada rumah sakit. Karena modelnya wholesaler distribusi obat dan alat kesehatan, SDPC itu hidup dari invoice, bukan dari kas kontan di meja kasir. Begitu rumah sakit telat bayar, SDPC tetap harus kirim barang, tetap harus gaji karyawan, dan yang paling kejam tetap harus bayar bunga bank tepat waktu. Jadi kualitas bisnis SDPC bukan di seberapa besar omzetnya, tapi di seberapa patuh pelanggan membayar dan seberapa murah biaya dananya. Kalau kepercayaan runtuh, piutang menumpuk, bank makin mahal, laba langsung gepeng. Dan itulah kenapa saham seperti ini bisa kelihatan murah, tapi tidak pernah benar-benar terasa aman. Investor tidak sedang membeli toko yang ramai, investor sedang membeli disiplin penagihan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Secara identitas, SDPC sudah tua dan sangat mapan sebagai entitas, berdiri 20 Oktober 1952 dan listing 7 Mei 1990. Gap 38 tahun dari berdiri sampai IPO, lalu sampai 2025 umur usahanya 73 tahun dan sudah 35 tahun jadi emiten. Maknanya, ini bukan startup, jaringan 36 kantor cabang itu hasil puluhan tahun. Karyawannya 1.180 orang dan growth 0% dibanding akhir 2024, ini biasanya berarti perusahaan sedang menjaga efisiensi, bukan sedang ekspansi agresif lewat penambahan SDM.
Dari sisi kepemilikan, SDPC memang milik Malaysia secara kontrol. PSP Pharmaniaga International Corporation Sdn. Bhd. pegang 73,43% dan UBO Boustead Holdings Bhd. Free float 11,63% dengan total saham 1.274.000.000 lembar. Maknanya dua. Pertama, likuiditas publik cenderung tipis dan harga bisa lebih mudah liar saat ada arus beli jual. Kedua, kontrol stabil, jadi arah strategis lebih konsisten, tapi publik harus sadar kepentingan grup bisa lebih dominan daripada kepentingan pemegang saham minoritas. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sekarang masuk ke mesin laba rugi yang bikin SDPC terlihat seperti bisnis volume. Revenue 9M-2025 3,00 triliun Rupiah tumbuh 2,67%, tapi COGS 2,75 triliun Rupiah atau 91,4% dari revenue. Artinya margin kotor kecil, khas distributor, bisnisnya bukan cari spread besar, tapi cari putaran cepat. Gross profit margin 8,56%, operating profit margin 2,66%, dan net profit margin 0,68%. Terjemahan gampangnya, dari setiap 100 Rupiah penjualan, laba bersih yang benar-benar jadi milik pemegang saham cuma 0,68 Rupiah. Ini bukan jelek untuk distributor, tapi bikin ruang salahnya sempit, salah sedikit di biaya atau bunga, laba hilang.
Itulah yang terjadi di 2025. SGA 173,25 miliar Rupiah tumbuh 3,2% dan finance costs 52,26 miliar Rupiah naik 4,4%. Revenue naik, tapi biaya jalan lebih cepat, hasilnya laba bersih pemilik entitas induk 20,39 miliar Rupiah malah turun 0,6%. Jadi SDPC sedang lari di treadmill, capek, tapi posisinya tidak maju-maju karena beban bunga dan biaya operasional menggerus kenaikan omzet.
Yang paling penting untuk memahami SDPC adalah komposisi asetnya. Piutang usaha pihak ketiga 879,79 miliar Rupiah atau 46,2% aset. Persediaan 559,11 miliar Rupiah atau 29,3% aset. Kas cuma 37,82 miliar Rupiah dan turun dari 53,4 miliar Rupiah. Aset tetap 104,75 miliar Rupiah. Sebagian besar aset SDPC adalah aset kerja yang tidak langsung bisa dipakai bayar utang hari ini. Piutang itu janji, persediaan itu barang, tapi bank maunya uang tunai. Jadi ketika kas turun dan piutang naik, itu sinyal squeeze likuiditas.
Rasio perputaran memperjelas kenapa SDPC harus pinjam bank. DSO sekitar 72 hari artinya SDPC rata-rata baru terima uang 72 hari setelah jual. DI sekitar 55 hari artinya barang rata-rata ngendap 55 hari sebelum laku. DPO sekitar 55 hari artinya SDPC bayar vendor rata-rata 55 hari. CCC sekitar 72 hari, inti maknanya SDPC bayar vendor lebih cepat daripada ditagih oleh pelanggan, jadi selalu ada gap kas yang harus dijembatani, biasanya lewat utang bank. Di sinilah kata kepercayaan pada rumah sakit menjadi literal, karena rumah sakit adalah kontributor piutang terbesar 71,7% dari piutang usaha pihak ketiga. Kalau termin makin molor, SDPC makin tergantung pada bank.
Penerimaan kas dari pelanggan 2,85 triliun Rupiah, sedangkan revenue 3,00 triliun Rupiah. Selisih 150 miliar Rupiah itu pada dasarnya penjualan yang belum jadi uang dan masuk ke piutang. CFO 16,2 miliar Rupiah, hampir sejalan dengan laba 20,4 miliar Rupiah, ini bagus karena laba tidak fiktif. Namun capex 30,6 miliar Rupiah membuat FCF negatif sekitar minus 14,4 miliar Rupiah. SDPC memang mulai menghasilkan kas dari operasi, tapi masih belum cukup untuk membiayai investasi, apalagi untuk menurunkan utang bank secara natural. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Utangnya inilah yang bikin SDPC seperti hidup di bawah bayang-bayang bank. Utang bank total sekitar 848 miliar Rupiah, dan seluruhnya floating rate. Ini risiko paling kritikal, karena kenaikan bunga kecil saja bisa menyapu bersih laba bersih yang cuma 20 miliar Rupiah-an. Secara kasar, debt to profit annualized sekitar 31 tahun, artinya kalau laba tidak naik dan semua laba dipakai bayar utang, butuh puluhan tahun. Debt to FCF tidak bisa dipakai karena FCF negatif, artinya SDPC tidak bisa menutup utangnya dari kas bebas saat ini tanpa pembiayaan eksternal. Ada mitigasi berupa letter of comfort dan fasilitas kredit yang diperpanjang, jadi gagal bayar tidak otomatis, tapi tetap menunjukkan ketergantungan.
Capex juga perlu dibaca sebagai dua sisi. Capex dipakai terutama untuk construction in progress 25,7 miliar Rupiah dan peralatan kantor teknis. Lonjakan capex 30,6 miliar Rupiah dibanding 4,6 miliar Rupiah pada 2024 mengindikasikan upgrade fasilitas, gudang, atau sistem. Maknanya, manajemen sedang menyiapkan kapasitas, tetapi ini terjadi saat kas menipis dan utang bank besar, jadi ekspansi ini dibayar dengan menambah tekanan likuiditas, bukan dari surplus kas.
Di operasional, SDPC punya konsentrasi yang bisa jadi senjata atau bumerang. Segmen obat resep menyumbang 69,5% revenue, ini defensif. Tapi obat non-resep anjlok 38% YoY, dari 170 miliar Rupiah jadi 105 miliar Rupiah, dan segmen ini biasanya lebih enak marginnya. Vendor juga terkonsentrasi, PT Lapi Laboratories Indonesia sekitar 33,6% pembelian. Maknanya, SDPC kuat karena punya jalur volume besar ke segmen inti, tetapi rentan kalau kontrak vendor berubah atau segmen yang marginnya lebih tinggi melemah. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Hidden asset SDPC ada, tapi jangan dibesar-besarkan. Ada tanah di Bintara Jaya 9.436 m2 dan surplus revaluasi 4,2 miliar Rupiah. Ini kelihatan miliaran asetnya tapi tidak menyelesaikan masalah utama, yakni piutang yang membengkak, kas yang tipis, dan bunga floating yang mencekik.
Kalau dibandingkan dengan saham lain yang sudah dibahas di Pintar Nyangkut, kontrasnya jelas. $DAYA itu retailer Watsons, bermain di depan, 204 toko per 30 September 2025 naik 25 toko dari akhir 2024, bertaruh pada ekspansi gerai dan O plus O. Risiko utamanya biasanya ada di sewa mall, stok, promo, dan produktivitas toko baru. SDPC kebalikannya, tidak peduli trafik mall, tapi peduli termin kredit dan bunga bank. HERO juga beda, $HERO ritel khusus yang sempat terbantu restitusi pajak besar untuk CFO, sedangkan SDPC CFO baru pulih tipis dan langsung kalah oleh capex. Jadi, DAYA growth play toko, HERO turnaround play format, SDPC ini trust play modal kerja.
SDPC itu bukan pertaruhan omzet, tapi pertaruhan penagihan. Kalau rumah sakit bayar lebih cepat, DSO turun, bank berkurang, bunga turun, laba bisa melonjak tanpa perlu revenue meledak. Tapi kalau piutang terus naik lebih cepat dari revenue, SDPC akan tetap terlihat murah di PBV dan PER, namun murahnya adalah kompensasi risiko, bukan hadiah.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/8








$SDPC Perusahaan Malaysia yang Cari Cuan di Indonesia
Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
SDPC adalah perusahaan milik orang Malaysia. Bukan sekadar ada investor asing nyantol, tapi kontrolnya dominan dan jelas, PSP-nya Pharmaniaga International Corporation Sdn. Bhd. dari Malaysia pegang 73,43% saham. Ini bikin SDPC terasa seperti perpanjangan tangan ekosistem distribusi farmasi regional, tetapi sekaligus membuat standar akuntabilitasnya harus lebih ketat, karena keputusan besar bisa mengikuti kepentingan grup, bukan sekadar kepentingan pemegang saham publik. Di kertas, bisnisnya defensif karena obat dan alat kesehatan selalu dibutuhkan. Tapi di dunia nyata, distributor itu hidup-mati di dua kata yang tidak seksi, piutang dan bunga bank. Kalau piutang melambat, SDPC tetap harus bayar bank tepat waktu. Jadi yang diperdagangkan pasar bukan cuma omzet 3,00 triliun Rupiah, melainkan keyakinan bahwa uangnya benar-benar balik, bukan nyangkut di rumah sakit. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Model bisnis SDPC itu wholesaler, bukan retailer. SDPC menyalurkan obat resep, obat non-resep, alat kesehatan, juga kosmetik lewat 36 kantor cabang, jadi sumber skala ada di volume dan jaringan, bukan di estetika toko. Dampaknya langsung terlihat di neraca. Aset terbesar adalah piutang usaha pihak ketiga 879,7 miliar Rupiah, setara 46,2% total aset, artinya hampir setengah kekayaan SDPC adalah tagihan yang belum dibayar pelanggan. Di sisi lain, liabilitas jangka pendek 1,51 triliun Rupiah menekan, dan utang bank jangka pendek 794,9 miliar Rupiah menjadi komponen terbesar. Ini ciri distributor yang operasinya dibiayai bank, bukan dibiayai kas sendiri. Kasnya malah turun menjadi 37,8 miliar Rupiah dari 53,4 miliar Rupiah, jadi bantalan likuiditasnya tipis.
Laba rugi SDPC kelihatan jalan, tapi napasnya pendek. Revenue 9M-2025 3,00 triliun Rupiah tumbuh 2,6%, namun laba bersih pemilik entitas induk turun tipis menjadi 20,3 miliar Rupiah. Masalahnya bukan penjualan, masalahnya biaya yang tumbuh lebih cepat, beban keuangan naik 4,4% dan beban umum naik 5,7%. Yang paling menyakitkan, bunga utang bank 52,2 miliar Rupiah itu memakan sekitar 65% dari laba usaha 79,8 miliar Rupiah. Maknanya sederhana, SDPC bekerja keras, lalu bank mengambil porsi besar lebih dulu, baru pemegang saham dapat sisa.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bagian yang sering menipu investor ada di modal kerja. Piutang usaha naik 20,2% dari 731,9 miliar Rupiah ke 879,7 miliar Rupiah, padahal revenue cuma tumbuh 2,6%. Ini mismatch yang tidak sehat, karena artinya pertumbuhan bukan dibayar tunai, tapi dibayar janji. Segmen rumah sakit bahkan jadi kontributor piutang terbesar, 71,7% dari total piutang usaha pihak ketiga. Di saat penagihan melambat, SDPC mencoba menambal dengan menaikkan utang usaha ke vendor menjadi 604,1 miliar Rupiah. Ini bisa membantu sementara, tapi tidak menyelesaikan akar masalah, yakni kecepatan uang kembali.
Arus kas SDPC memang membaik, tetapi belum nyaman. CFO berbalik positif 16,2 miliar Rupiah dari posisi minus 148,6 miliar Rupiah pada 2024, ini sinyal perbaikan disiplin modal kerja. Namun uang itu langsung kalah oleh capex aset tetap 30,6 miliar Rupiah, sehingga free cash flow tetap negatif. Dengan kata lain, SDPC belum menghasilkan kas bebas yang cukup untuk secara natural menurunkan ketergantungan ke bank. Selisih revenue 3,00 triliun Rupiah dengan penerimaan kas dari pelanggan 2,85 triliun Rupiah juga menunjukkan ada sekitar 150 miliar Rupiah yang tidak masuk kas tahun ini dan mendarat sebagai tambahan piutang.
Di SDPC, risiko konsentrasi itu nyata, bukan teori. Vendor PT Lapi Laboratories Indonesia menyumbang 33,6% penjualan neto, lalu ada ketergantungan juga ke PT Global Dispomedika. Kalau kontrak distribusi berubah atau pindah, volume SDPC bisa langsung kempis. Dari sisi geografi, penjualan masih terpusat di Pulau Jawa 59,6%, jadi diversifikasinya belum sempurna. Ada juga utang pihak berelasi ke Pharmaniaga Logistics sekitar 32,1 miliar Rupiah dengan bunga mengambang, menambah sensitivitas ke suku bunga.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Risiko makro SDPC juga jelas dan mudah menghantam laba. Liabilitas moneter neto valuta asing 71,1 miliar Rupiah, mayoritas Ringgit Malaysia, jadi pelemahan Rupiah terhadap MYR berpotensi menekan laba lewat rugi kurs. Hampir semua utang bank dan utang pihak berelasi berbunga mengambang, jadi kenaikan suku bunga akan langsung memotong laba bersih. Mitigasinya ada, yakni letter of comfort dari induk dan fasilitas kredit yang diperpanjang, jadi risiko gagal bayar tidak berdiri sendirian. Tapi ini juga mengingatkan investor bahwa napas SDPC masih bergantung pada dukungan grup dan bank.
Soal valuasi, SDPC tampak murah, tapi murahnya punya alasan. Di harga 159 Rupiah, PER 7,45 kali, PBV 0,67 kali, dan P S 0,05 kali, seolah pasar bilang saham ini cuma dihargai 5% dari omzetnya. Namun struktur pendanaannya berat, debt per share 665,7 Rupiah jauh di atas harga saham 159 Rupiah, sementara cash per share 29,7 Rupiah. Itu sebabnya pasar kasih diskon, karena ekuitas publik seperti duduk di bawah beban utang jangka pendek dan beban bunga. Kalau investor mau berharap rerating, pemicunya bukan sekadar revenue naik, tetapi piutang harus melambat, bunga harus turun, dan CFO harus konsisten cukup untuk mengurangi utang bank.
Kalau dibandingkan dengan saham lain yang sudah dibahas sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram, SDPC itu kebalikan $DAYA. DAYA adalah retailer Watsons yang ketemu konsumen, punya 204 toko per 30 September 2025, tumbuh 13,97% dari 179 toko akhir 2024, dan strategi O plus O mengandalkan trafik serta eksekusi toko. SDPC tidak peduli trafik, SDPC peduli termin, kualitas piutang, dan bunga bank. Dibanding $HERO, SDPC juga beda mesin. HERO itu ritel khusus seperti IKEA dan Guardian, CFO-nya besar tetapi sempat terbantu restitusi pajak, sedangkan SDPC CFO-nya baru pulih tipis dan masih kalah oleh capex. Jadi di ekosistem kesehatan, DAYA menang di wajah depan, HERO menang di format ritel khusus, SDPC menang di pipa distribusi, tapi SDPC juga paling sensitif ke dua musuh klasik distributor, piutang dan bunga.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/8








$SDPC vs $DAYA: Bisnis Apotik
SDPC dan DAYA itu unik, karena keduanya sama-sama main di ekosistem kesehatan, tapi berdiri di dua ujung rantai uang yang beda total. DAYA itu wajah depan, ketemu konsumen, main di emosi, kebutuhan, dan impulse buying kosmetik. SDPC itu mesin belakang, ngangkut obat dan alat kesehatan, main di volume, termin kredit, dan disiplin penagihan. DAYA bisa terlihat kinclong karena toko bertambah dan brand global Watsons punya daya tarik. SDPC bisa terlihat membosankan karena kerjaannya gudang, truk, dan invoice, tapi justru di situ sumber skala. DAYA paling sensitif ke trafik mall dan biaya sewa. SDPC paling sensitif ke bunga bank dan kualitas piutang rumah sakit, apotek, supermarket. Jadi membandingkan keduanya bukan soal siapa lebih keren, tapi siapa punya risiko yang lebih masuk akal dibanding harga sahamnya. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
DAYA adalah retailer. Produk utamanya kesehatan-kecantikan, parfum, kosmetik, dijual langsung ke konsumen lewat jaringan gerai Watsons, plus strategi O+O offline plus online lewat web, aplikasi, dan marketplace. Sampai 30 September 2025, DAYA punya 204 toko, naik dari 179 di akhir 2024, berarti tambah 25 toko atau 13,97%. Banyak gerai ada di pusat perbelanjaan dengan sewa 2 sampai 5 tahun, jadi modelnya ringan aset tapi berat komitmen sewa, lalu butuh modal kerja untuk stok dan promo. Ekspansinya juga ditopang PSP AS Watson Holdings Limited, artinya ada payung grup untuk fase tumbuh, tapi konsekuensinya sederhana, toko baru harus cepat jadi kontributor penjualan, kalau tidak, biaya sewa dan stok bisa menekan arus kas.
SDPC kebalikannya, dia wholesaler. SDPC mendistribusikan obat resep, obat non-resep, alat kesehatan, juga produk lain termasuk kosmetik, lalu menyalurkan ke rumah sakit, apotek, dan ritel besar lewat 36 kantor cabang. Di 9M 2025, aset terbesar SDPC adalah piutang usaha pihak ketiga Rp879,79 miliar, ini ciri khas distributor yang hidup dari termin. Utang terbesar adalah utang bank jangka pendek Rp794,92 miliar, jadi modal kerja SDPC jelas dibiayai bank. Pendapatan terbesar datang dari obat resep Rp2,08 triliun sekitar 69% total pendapatan, artinya SDPC punya core yang jelas dan defensif, tapi margin bisnis distribusi memang tipis dan mudah habis untuk bunga.
Di sini rasio SDPC langsung bicara. CFO margin 0,54% artinya dari tiap Rp100 penjualan, kas operasi yang benar-benar tersisa cuma Rp0,54, jadi ruang salahnya sempit. FCF margin minus 0,48% artinya setelah capex, kas bebas negatif, perusahaan belum menghasilkan kas yang benar-benar bisa dipakai bebas. Capex Rp30,69 miliar lebih besar dari CFO, rasio capex terhadap CFO 1,88 kali, jadi SDPC belanja modal lebih cepat daripada kemampuan kas operasionalnya. Laba bersih 9M 2025 Rp20,38 miliar terlihat ada, tapi beban bunga Rp52,25 miliar lebih besar dari laba itu, jadi logika sederhananya SDPC seperti kerja keras untuk bank dulu baru pemegang saham. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Walau begitu, valuasi SDPC terlihat murah di permukaan. Di harga Rp159, PER 7,45 kali dan PBV 0,67 kali, bahkan P/S 0,05 kali, seolah pasar bilang ini cuma 5% dari omzetnya. Tapi investor wajib lihat sisi gelapnya, beban utang bank per saham Rp665,7 jauh di atas harga saham Rp159, sementara cash per saham Rp29,7, jadi struktur pendanaan masih berat. Utang terhadap CFO annualized 39,1 kali dan utang terhadap laba annualized 31,2 kali adalah sinyal kualitas kas yang belum cukup untuk mengurangi beban bank dengan cepat. Murahnya SDPC bukan hadiah, itu kompensasi risiko piutang dan risiko likuiditas utang jangka pendek yang besar.
DAYA menang di brand dan kedekatan ke konsumen, serta ekspansi toko yang nyata 204 gerai. Tapi karena banyak toko di mall, investor harus curiga pada tiga hal yang biasanya diam-diam membebani retailer, yakni biaya sewa yang terus jalan, kebutuhan stok yang membesar, dan perang promo yang bisa menggerus margin. Keunggulan DAYA ada di eksekusi O+O, karena kalau online dan offline saling menguatkan, toko bisa jadi titik layanan dan titik akuisisi pelanggan, bukan cuma tempat bayar sewa.
SDPC itu value play yang kelihatan murah tapi rentan karena piutang besar dan utang bank besar membuat bunga jadi musuh utama. DAYA itu growth play berbasis ekspansi gerai yang kelihatan hidup, tapi harus dibuktikan lewat produktivitas toko baru dan disiplin biaya sewa. Kalau investor suka bisnis yang terasa nyata setiap hari, DAYA biasanya lebih mudah dipahami. Kalau investor suka bisnis yang membosankan tapi bisa besar karena volume, SDPC menarik, tapi hanya masuk akal kalau manajemen bisa menipiskan utang bank, menahan piutang, dan menjaga kas operasional tetap positif tanpa makin mengorbankan neraca.
🧬 Dua dunia beda mesin
🛍️ DAYA retailer Watsons, jual langsung ke konsumen
🚚 SDPC wholesaler, distribusi obat dan alkes ke RS, apotek, ritel besar
🛍️ DAYA kuat di gerai dan brand
🏪 Gerai 204 per 30 Sep 2025 naik dari 179 akhir 2024
📈 Tambah 25 gerai setara 13,97%
🏬 Lokasi dominan mall, sewa 2 sampai 5 tahun
🌐 Strategi O+O offline plus online via web, aplikasi, marketplace
🛡️ PSP AS Watson Holdings Limited, ada payung grup
⚠️ Risiko utama sewa, stok, promo, modal kerja naik saat ekspansi
🚚 SDPC kuat di jaringan distribusi tapi berat modal kerja
🏢 36 kantor cabang se Indonesia
🧾 Aset terbesar piutang usaha Rp879,79 miliar, hidup dari termin
🏦 Utang terbesar utang bank jangka pendek Rp794,92 miliar
💊 Revenue core obat resep Rp2,08 triliun setara 69% total
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
💸 Kualitas kas SDPC
🧪 CFO margin 0,54% tipis
🧯 FCF margin minus 0,48% kas bebas negatif
🏗️ Capex Rp30,69 miliar, capex terhadap CFO 1,88 kali
💣 Beban bunga Rp52,25 miliar lebih besar dari laba bersih Rp20,38 miliar
🏷️ Valuasi SDPC vs risikonya
💰 Harga Rp159, PER 7,45 kali, PBV 0,67 kali, P S 0,05 kali
🧱 Cash per saham Rp29,7 vs debt per saham Rp665,7
⏳ Utang terhadap CFO annualized 39,1 kali, terhadap laba 31,2 kali
✨ DAYA growth story, harus dibuktikan produktivitas toko baru
🧊 SDPC value story, murah karena risiko piutang dan bunga bank
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










$SDPC Barang Ghoib Bahana
XA dan YP akumulasi sudah setahunan lebih di 2025
Dengan barang setidak likuid ini. Apa yang harus mereka buat agar likuid. Harga sekarang sudah mendekati harga rata2 XA dan YP
Coba predict untuk 6 bulan kedepan
$SDPC naik dulu bikin shooting star hitungan 5-8 detik utk memfreeze trader harian dan kaum fomo , kemudian lanjut anjlok, bisa ke 128-129.
$SDPC Cutloss aja bandar SDPC sok sok an pegang barang banyak lu.
1. Miskin
2. Tidak berpengalaman
3. Keterbelakangan mental