


Volume
Avg volume
PT Rig Tenders Indonesia Tbk bergerak dalam usaha penyewaan kapal tarik (tug boats) dan kapal tongkang (barges) kepada perusahaan-perusahaan tambang batubara untuk pengangkutan batubara dan lainnya, serta dalam usaha penyewaan kapal-kapal supply vessels dan accommodation work barges kepada industri hulu minyak dan gas (migas) untuk mendukung operasi-operasi lepas pantai mereka. Layanan kapal pendukung operasi lepas pantai ini mencakup dukungan terhadap berbagai fase dari aktivitas eksplorasi, pengembangan dan produksi, yang sebagian besar terkait dengan jasa peletakan, instalasi, perawatan dan penggantian untuk pemasangan alat-a... Read More
$GTSI
⚡ TRADING PLAN: GTSI
🟢 Entry
Speculative Buy: 360 – 380 (Masuk secara bertahap selama harga tertahan di atas level support harian).
Confirmation Entry: > 410 (Tambah posisi jika harga berhasil menembus resisten minor terdekat untuk membatalkan sinyal bearish jangka pendek).
🎯 Take Profit (TP)
TP 1: 430 – 450 → jual 50% (Target resisten psikologis menengah untuk mengamankan modal).
TP 2: 480 – 500 → jual sisa (Target pengujian kembali area puncak sebelumnya jika volume beli kembali meledak).
🔴 Stop Loss (SL)
Strict SL: 340.
Daily Close < 350 → EXIT TOTAL (Wajib keluar segera karena menembus level ini menandakan rusaknya struktur tren naik jangka menengah).
⚠️ Catatan Cepat
High Volatility: GTSI memiliki karakter pergerakan harga yang sangat liar; pastikan Anda menggunakan modal yang siap menghadapi risiko tinggi.
MACD Watch: Pantau apakah garis biru mulai mendatar atau histogram memendek; jika histogram terus menebal ke bawah, hindari melakukan average down.
V-Shape Potential: Jika harga mampu kembali di atas 400 dengan volume tinggi, ada potensi pemulihan cepat ke area 450.
Jangan Lupa Follow!
Random Tag :
$PSSI $RIGS
ketika $MBSS sudah selesai meledak. Next, apakah akan tiba giliran waktu bagi $RIGS utk meledak?
test kekuatan bear RIGS
not financial advice
$ASRM
$CBRE
⚡ TRADING PLAN: CBRE
🟢 Entry
Buy on Weakness: 920 – 970 (Membeli secara bertahap saat harga menguji kembali area support terdekat).
Confirmation Entry: > 1.020 (Menambah posisi jika harga berhasil menembus dan bertahan di atas level psikologis 1.000 dengan volume yang meningkat).
🎯 Take Profit (TP)
TP 1: 1.150 – 1.250 → jual 50% (Mengamankan keuntungan di area target resisten dinamis pertama).
TP 2: 1.400 – 1.500 → jual sisa (Target jangka menengah jika tren pembalikan arah terkonfirmasi sepenuhnya oleh MACD yang menembus garis nol).
🔴 Stop Loss (SL)
SL Agresif: 890.
Daily Close < 850 → EXIT TOTAL (Wajib keluar jika harga menembus level ini, karena menandakan kelanjutan tren penurunan menuju area 600–700).
⚠️ Catatan Cepat
Early Reversal Signal: Pola Golden Cross pada MACD di area negatif sangat menarik, namun membutuhkan konfirmasi dari pergerakan harga (price action) untuk memastikan ini bukan sekadar dead cat bounce.
Resistance 1.000: Level ini merupakan hambatan psikologis berat; perhatikan antrean jual (offer) di level ini sebelum memutuskan untuk membeli lebih banyak.
Patience is Key: Fase bottoming biasanya memerlukan waktu yang cukup lama; jangan terlalu agresif dalam menaruh modal di awal fase ini.
Jangan Lupa Follow!
Random Tag :
$RIGS $SUNI
watchlist rekomendasi saham dibidang batubara dan pengangkut batubara $RIGS $CDIA $BUMI disclaimer bukan ajakan beli dan jual
KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus level psikologis 9.000 pada perdagangan hari ini Rabu, 14 Januari 2026. IHSG ditutup menguat di level 9.032,58 atau naik 0,94 persen, mencerminkan sentimen pasar yang masih relatif positif di tengah aliran dana asing yang mencat...

www.kabarbursa.com

$MTWI $NIRO $RIGS
Risk Management high
Dyor bukan ajakan jual beli
https://bit.ly/4suFbhC informasi menarik

$BSML Perusahaan Kapal Apa? Kapal Tongkang atau Kapal Selam?
Request member bukan di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
BSML itu perusahaan apa sebenarnya? Jawaban singkatnya, ini emiten kapal dan tongkang yang lagi diuji bukan oleh teori, tapi oleh angka yang susah ditawar. Revenue 9M 2025 ambruk 68,5% jadi Rp60,37 miliar, dan kalau skala bisnisnya sampai segitu turun, investor tidak bisa lagi menilai perusahaan ini pakai kacamata normal. Yang bikin nyentil, di saat skala pendapatan runtuh, margin justru membaik, Gross Profit Margin (GPM) naik ke 29,19% dan Operating Profit Margin (OPM) naik ke 13,02%. Jadi pertanyaannya bukan cuma BSML untung atau rugi, tapi BSML ini masih bertumbuh atau sedang mengecil sambil bertahan hidup. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Secara bisnis, PT Bintang Samudera Mandiri Lines Tbk (BSML) bergerak di jasa pelayaran domestik antar pelabuhan pakai berbagai kapal, plus punya izin perdagangan bahan bakar. Perusahaan berdiri 17 November 2007, baru benar-benar jalan komersial 2017, lalu melantai 31 Desember 2021, jadi jarak berdiri ke IPO sekitar 14 tahun, dan sampai September 2025 usianya sekitar 18 tahun sebagai entitas dan 3 tahun 9 bulan sebagai emiten. Karyawannya cuma 22 orang dan stagnan 0% dibanding Desember 2024, yang bisa dibaca sebagai efisiensi, atau bisa juga dibaca sebagai tidak ada ekspansi tenaga kerja karena bisnisnya lagi tidak melebar. Dengan revenue 9M 2025 Rp60,37 miliar, berarti revenue per karyawan kira-kira Rp2,74 miliar untuk 9 bulan, atau sekitar Rp3,66 miliar kalau disetahunkan, ini terlihat produktif secara top line per kepala, tapi ujungnya tetap balik ke pertanyaan kualitas kas dan stabilitas order.
Dari sisi struktur kepemilikan, Pemegang Saham Pengendali (PSP) PT Goldfive Investment Capital turun dari 45,47% pada Desember 2024 menjadi 30,65% pada 30 September 2025, turun 14,82 poin. Free float publik 27,90% atau sekitar 516,17 juta saham dari total 1,85 miliar saham beredar. Secara likuiditas ini lumayan, tetapi penurunan porsi PSP sebesar itu biasanya membawa dua konsekuensi yang berlawanan. Satu, saham lebih tersebar dan bisa lebih aktif diperdagangkan. Dua, pasar bisa curiga ada distribusi, sehingga persepsi risiko supply overhang naik, apalagi ketika fundamental operasional sedang mengecil. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sekarang masuk ke inti masalah yang bisa diukur. Di 9M 2025, revenue Rp60,37 miliar turun 68,5% dari Rp191,48 miliar. Laba bersih Rp2,25 miliar turun 67,5% dari Rp6,93 miliar. Jadi ini bukan penurunan kecil, ini penurunan skala bisnis. Tetapi menariknya, profitabilitas berbasis margin tidak ikut runtuh. Net Profit Margin (NPM) 3,73% relatif stabil dibanding 3,61% tahun sebelumnya, GPM naik dari 17,27% ke 29,19%, OPM naik dari 9,19% ke 13,02%. Polanya begini, unit economics per kontrak atau per perjalanan membaik, tetapi volume kerja atau utilisasi kapal turun tajam. Secara sederhana, BSML seperti berhasil mengencangkan biaya, namun kehilangan banyak muatan.
Kalau investor hanya melihat margin, ini bisa kelihatan membaik. Namun skala membuat ceritanya berubah total. Dengan aset sekitar Rp202,01 miliar, revenue 9M Rp60,37 miliar berarti revenue setahun kira-kira Rp80,49 miliar bila disetahunkan, sehingga asset turnover sekitar 0,40 kali. Ini tidak jelek untuk bisnis asset heavy, tetapi tidak cukup untuk menolong Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE) yang rendah. Dengan laba disetahunkan sekitar Rp3 miliar, ROA kira-kira 1,49% dan ROE 2,29%. Artinya mesin asetnya berputar, tapi hasil akhirnya tipis. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bagian yang paling membedakan BSML dari sekadar cerita margin adalah kualitas uang kas. Laporan menunjukkan revenue Rp60,37 miliar tetapi penerimaan kas dari pelanggan Rp68,69 miliar, ini sebenarnya sinyal penagihan bagus, ada piutang lama yang masuk. Tetapi Cash Flow from Operations (CFO) justru negatif Rp11,20 miliar. Ini mismatch yang tidak bisa dianggap sepele, karena laba akuntansi positif Rp2,25 miliar tidak berubah jadi uang kas, malah uangnya keluar. Secara statistik sederhana, CFO margin BSML itu minus 18,55% dari revenue, jadi setiap Rp100 revenue, kas operasionalnya justru berkurang sekitar Rp18,55. Ini biasanya terjadi karena pembayaran besar ke pemasok, biaya operasi tertentu, atau pembayaran yang sifatnya menyapu kewajiban, sementara penerimaan kas pelanggan tidak cukup menutup arus keluar.
Yang bikin makin menarik, dari sisi working capital, metriknya terlihat sehat. Days Sales Outstanding (DSO) 66,8 hari, Days Inventory (DI) 20,7 hari, Days Payable Outstanding (DPO) 87,1 hari, sehingga Cash Conversion Cycle (CCC) cuma 0,4 hari, hampir nol. Secara teori, ini berarti operasional harian tidak butuh banyak modal kerja eksternal karena tempo bayar ke vendor lebih panjang daripada tempo tagih ke pelanggan. Tetapi fakta CFO negatif menunjukkan ada kebocoran lain di luar siklus kas normal. Jadi keunikan BSML bukan di CCC yang bagus saja, melainkan di kontradiksi antara CCC yang rapi versus kas operasional yang tetap negatif. Ini biasanya sinyal ada pembayaran besar yang tidak terlihat jika investor hanya menatap CCC. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sekarang bagian skala risiko yang paling mengganggu, likuiditas. Kas tersisa sekitar Rp171 juta, sementara utang bank jatuh tempo dalam 1 tahun Rp18,27 miliar. Kas cuma menutup sekitar 0,94% dari kebutuhan jatuh tempo tersebut, ada gap sekitar Rp18,10 miliar yang harus ditutup dari refinancing, penagihan, penjualan aset, atau suntikan pihak terkait. Dan dari total utang bank Rp29,85 miliar, porsi yang jatuh tempo 1 tahun itu sekitar 61,21%, jadi konsentrasi maturitasnya tinggi. Ini penting, karena meskipun total utang bank sudah turun jauh, temboknya ada di jangka pendek, bukan di total.
Di sisi struktur neraca, utang bank Rp29,85 miliar itu sekitar 14,78% dari total aset Rp202,01 miliar, dan sekitar 22,78% dari ekuitas Rp131 miliar. Angka ini sebenarnya tidak ekstrem kalau bisnisnya stabil, tapi bisnisnya sedang menyusut, CFO negatif, dan kas hampir nol, sehingga rasio utang yang terlihat biasa berubah jadi tekanan nyata. Apalagi perusahaan sudah berada di mode deleveraging, terlihat dari penjualan kapal. BSML menjual 1 tugboat dan 1 barge senilai Rp39 miliar untuk membayar utang, dan utang bank disebut turun dari sekitar Rp82 miliar menjadi Rp29 miliar dalam 9 bulan, turun sekitar Rp53 miliar atau kira-kira 64,6%. Ini memperbaiki neraca, tetapi sekaligus mengurangi kapasitas menghasilkan revenue di masa depan, karena kapal yang dijual itu biasanya juga bagian dari mesin pendapatan.
Sekarang pembandingnya, supaya jelas BSML ini unik atau tidak, investor perlu lihat dua emiten yang model bisnisnya mirip, PT Rig Tenders Indonesia Tbk ($RIGS) dan PT Batulicin Nusantara Maritim Tbk (BESS). Dari sisi skala revenue 9M 2025, BSML Rp60,37 miliar, RIGS Rp77,68 miliar, $BESS Rp261,69 miliar. Artinya BSML sekitar 77,7% skala RIGS, tetapi cuma 23,1% skala BESS. Dari sisi aset, BSML Rp202,01 miliar, RIGS Rp886,99 miliar, BESS Rp714,01 miliar. Jadi aset BSML sekitar 22,8% dari RIGS dan 28,3% dari BESS, kecil. Kalau mau jujur, BSML itu pemain skala kecil di kelompok tongkang, dan skala kecil itu membuat fluktuasi kontrak langsung memukul laporan. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Perbedaan paling tajam bukan di revenue, tapi di kualitas kas. CFO BSML negatif Rp11,20 miliar, sedangkan CFO RIGS positif Rp59,73 miliar dan CFO BESS positif Rp93,15 miliar. Kalau dibuat CFO margin, BSML minus 18,55%, RIGS sekitar 76,90%, BESS sekitar 35,59%. Ini jaraknya jauh. Laba bersih juga memperlihatkan gap kualitas. NPM BSML 3,73%, sementara NPM RIGS sekitar 19,93% dan NPM BESS sekitar 23,66%. Jadi secara statistik, BSML jauh lebih tipis margin dan lebih lemah kas dibanding dua pembanding yang paling mirip.
Dari sisi belanja modal, ini juga mengungkap fase siklus bisnis yang berbeda. Capex BSML hanya sekitar Rp47,9 juta, secara persentase cuma sekitar 0,08% dari revenue, nyaris nol. RIGS capex Rp12,48 miliar atau sekitar 16,06% dari revenue, artinya masih ada investasi. BESS capex Rp1,06 miliar atau sekitar 0,41% dari revenue, ini tipe harvesting, tidak agresif belanja, tapi tetap CFO kuat. Jadi BSML terlihat bukan sedang ekspansi, melainkan menahan napas, menunda investasi, dan fokus merapikan utang. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Struktur utang juga membuat BSML kelihatan paling rentan dibanding dua pembanding ini. Utang bank BSML Rp29,85 miliar, BESS Rp15,62 miliar, RIGS hampir nihil sekitar Rp0,5 miliar. Kalau dibuat utang terhadap aset, BSML sekitar 14,78%, BESS sekitar 2,19%, RIGS sekitar 0,06%. Dan kalau investor mencoba mengukur kemampuan bayar, BESS secara teori bisa menutup utang banknya dari CFO dalam sekitar 0,17 tahun, kira-kira 2 bulan, sedangkan RIGS bahkan lebih cepat karena utangnya kecil sekali. BSML tidak bisa dihitung payback dari CFO karena CFO negatif, dan dari laba disetahunkan Rp3 miliar, butuh sekitar 9,95 tahun untuk melunasi utang bank Rp29,85 miliar, itu pun asumsi laba stabil, padahal revenue sedang turun tajam.
Jadi BSML tidak unik dari sisi model bisnis, karena inti bisnisnya tetap jasa kapal dan tongkang, mirip perusahaan kapal tongkang lainnya. Yang unik adalah kombinasi tiga hal yang jarang nyaman dilihat bersamaan. Skala bisnis turun 68,5% secara tahunan, kas hampir nol sementara utang jatuh tempo 1 tahun Rp18,27 miliar, dan CFO negatif walau penagihan pelanggan terlihat bagus serta CCC hampir nol. Ditambah lagi, deleveraging dilakukan lewat jual aset kapal Rp39 miliar, ini memperbaiki neraca tapi berisiko mengecilkan mesin pendapatan.
Kalau investor mau menilai BSML dengan jujur dan terukur, fokusnya bukan ke NPM 3,73% yang kelihatan stabil, tetapi ke dua pertanyaan besar. Pertama, BSML bisa balikkan CFO ke positif atau tidak, karena tanpa CFO positif, laba cuma angka. Kedua, BSML bisa melewati tembok likuiditas Rp18,27 miliar jatuh tempo 1 tahun dengan kas Rp171 juta atau tidak, karena ini bukan masalah kosmetik, ini masalah kelangsungan napas operasional. Kalau dua ini beres, barulah docking asset dalam pembangunan Rp22,5 miliar bisa dianggap katalis kapasitas, bukan sekadar catatan. Kalau dua ini tidak beres, maka BSML bukan cerita unik yang menarik, tetapi cerita kecil yang gampang terseret ombak besar industri. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🚢 Identitas BSML
⚓ Pelayaran domestik kapal-tongkang
🛢️ Izin perdagangan BBM
👥 22 karyawan
📉 Skala 9M 2025
⬇️ Revenue Rp60,37 M minus 68,5%
⬇️ Laba Rp2,25 M minus 67,5%
🟩 NPM 3,73% stabil
🟢 GPM 29,19% naik
🟢 OPM 13,02% naik
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
💧 Kas vs napas
💸 CFO minus Rp11,20 M
🏦 Kas Rp171 Jt
⏳ Utang jatuh tempo 1 tahun Rp18,27 M
🧩 Kontradiksi unik
🧮 CCC 0,4 hari tapi CFO negatif
📦 Jual 1 tugboat + 1 barge Rp39 M untuk bayar utang
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🆚 Pembanding
📌 CFO margin
🔴 BSML minus 18,55%
🟢 RIGS 76,90%
🟢 BESS 35,59%
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/3



ternyata cuma main batu bara aja si $RIGS ini yak
gak ada oil oil nya 🛢️🛢️
pdhl story oil menarik, knp manajemen gak niat ke oil yaak dari tahun lalu
$RIGS
- Merubah saldo laba/rugi ditahan dari di tahun 2021 -$28,36 juta sekitar -400 Milyar menjadi -121 Milyar Q1 2025 ,artinya setiap Tahun saldo laba/rugi di tahan menurun sebesar Hampir 70 Milyar setiap Tahun, semoga buku di tahun 2026 sudah mulai surplus dan bs membagikan dividen di masa depan.
Rigs opportunity or risk ?
Disc On

Saham Perkapalan... Part 2 - Bulk logistics & tug-barge/transshipment (coal/nickel/smelter)
Bulk logistics & tug–barge/transshipment (batubara/nikel/smelter) sebagai “kapal curah kering” yang model bisnisnya dominan angkut tambang → jetty/river → transshipment/mother vessel, dengan aset utama tugboat–barge set, kadang ditambah floating crane / floating loading facility (FLF), dan/atau mother vessel. Berikut urutan emiten yang terbaik sampai terburuk menurut saya.. Jujur saya tidak punya emiten di sini untuk hold jangka panjang atau menengah.. Kalau untuk sekedar "Nyopet" buat gain receh sekitar 25-30 persen di akhir bulan ini, PSSI dan MBSS bisa dipertimbangkan..
1) $PSSI — PT Pelita Samudera Shipping Tbk
• Jenis usaha: dry-bulk & transshipment; operator logistik batubara/mineral dengan kombinasi kapal curah + fasilitas muat terapung.
• Jumlah kapal (armada): 37 tugboat, 36 barge, 5 bulk cargo vessel, serta 5 floating loading facilities/floating cranes.
• Rencana ekspansi/penambahan kapal: menambah kapasitas transshipment/handling dan/atau kapal curah sesuai kontrak; rencana spesifik 2026 mengikuti kepastian kontrak & capex.
• Pengembangan usaha: penguatan layanan “end-to-end” (angkut–handling–loading), karena margin di transshipment/handling sering lebih stabil daripada pure spot freight.
• Rencana CA 2026: -.
• Afiliasi dengan emiten lain:-.
2) $MBSS — PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk
• Jenis usaha: angkutan batubara dengan tug–barge (coal hauling) berbasis kontrak/COA & charter.
• Jumlah kapal (armada): turun dari 49 (2023) menjadi 44 tugboat & barge (akhir 2024).
• Rencana ekspansi/penambahan kapal: Capex untuk tambahan ~4 set tug–barge di 2025
• Pengembangan usaha: Peremajaan armada, efisiensi BBM/operasi, dan penguatan kontrak.
• Rencana CA 2026: -.
• Afiliasi dengan emiten lain: -.
3) $RIGS — PT Rig Tenders Indonesia Tbk
• Jenis usaha: Tug-barge bulk logistics untuk batubara/tambang (dan disebut juga mengincar area muatan lain seperti nikel). Yang paling krusial: materi PUBEX menyatakan pendapatan 100% berasal dari pengangkutan material batubara/tambang dan segmen lepas pantai/jasa lainnya tidak ada pendapatan sejak FY2023.
• Jumlah kapal: Tugboat 36 unit, Discharging barges 7 unit, Barges 19 unit (total unit armada inti tug-barge 62).
• Rencana ekspansi/penambahan kapal: pengadaan aset tug boat “PEC 2416” melalui entitas anak PT Batuah Abadi Lines (PTBAL).
• Pengembangan usaha: Dari materi PUBEX: (i) perluasan area layanan termasuk komoditas lain (nikel), (ii) penambahan KBLI aktivitas penunjang pertambangan (KBLI 09900) sebagai licensing/adjacency move, (iii) mempertahankan loyalitas pelanggan, cari pelanggan baru di industri batubara, dan menjajaki aliansi strategis.
• Rencana corporate action (CA) di 2026: -.
• Afiliasi dengan emiten lainnya:-.
4) TCPI — PT Transcoal Pacific Tbk
• Jenis usaha: logistik batubara (river/jetty → transshipment/mother vessel) dengan skala armada besar.
• Jumlah kapal (armada): Situs perusahaan menampilkan kapasitas ±90 set tug & barge.
• Rencana ekspansi/penambahan kapal: Rencana menambah ±12 armada sampai akhir 2025.
• Pengembangan usaha: penguatan integrasi layanan (towing–barging–transshipment) dan perluasan basis klien; pada siklus komoditas, pemain skala besar biasanya menang di utilisasi & bargaining.
• Rencana CA 2026: -.
• Afiliasi dengan emiten lain: -.
5) TPMA — PT Trans Power Marine Tbk
• Jenis usaha: tug–barge coal logistics + layanan pendukung (beberapa perusahaan di segmen ini juga punya floating crane untuk loading).
• Jumlah kapal (armada): per update perusahaan, per 1H 2024 tercatat 41 tugboat, 35 barge, dan 3 floating crane.
• Rencana ekspansi/penambahan kapal: target tambahan di 2H 2024 adalah 2 tugboat, 6 barge, dan 1 floating crane.
• Pengembangan usaha: memperbesar kapasitas dan menaikkan porsi pendapatan yang “contracted” agar cashflow lebih predictable.
• Rencana CA 2026: -.
• Afiliasi dengan emiten lain: -.
6) HAIS — PT Hasnur Internasional Shipping Tbk
• Jenis usaha: logistik laut terutama batubara dengan basis tug–barge; tipikalnya kuat di relasi grup/kontrak.
• Jumlah kapal (armada): 19 tugboat dan 19 barge.
• Rencana ekspansi/penambahan kapal: -
• Pengembangan usaha: peningkatan produktivitas armada (turnaround time), HSSE, serta penambahan kontrak jangka menengah.
• Rencana CA 2026: -.
• Afiliasi dengan emiten lain: berafiliasi dengan Hasnur Group
7) NELY — PT Pelayaran Nelly Dwi Putri Tbk
• Jenis usaha: tugboat–barge, plus kegiatan lain (termasuk shipyard; perusahaan juga menampilkan lini “container ship” di situsnya).
• Jumlah kapal (armada): angka agregat armada 2024 tidak berhasil saya tarik secara aman dari tautan dokumen yang terbuka di sesi ini (halaman IR hanya mengarah ke viewer eksternal). Yang bisa saya pastikan: NELY memang mengoperasikan lini Tug Boat dan Barge serta Shipyard.
• Rencana ekspansi/penambahan kapal: -.
• Pengembangan usaha: nilai tambah NELY adalah kombinasi operator + shipyard.
• Rencana CA 2026: -.
• Afiliasi dengan emiten lain: -.
8) CANI — PT Capitol Nusantara Indonesia Tbk
• Jenis usaha: perusahaan pelayaran/transportasi laut dengan armada multi-tipe; dalam konteks segmen ini relevan karena porsi tugboat & barge cukup besar.
• Jumlah kapal (armada): 42 unit armada mencakup 21 tugboat, 11 barge, 1 crane barge, dan kapal pendukung lain.
• Rencana ekspansi/penambahan kapal: rencana tambahan 5 tugboat dan 4 barge untuk menuju 50 armada.
• Pengembangan usaha: diversifikasi tipe kapal.
• Rencana CA 2026: -.
• Afiliasi dengan emiten lain: -.
9) BESS — PT Batulicin Nusantara Maritim Tbk
• Jenis usaha: jasa pengangkutan batubara dan layanan terkait (tug–barge).
• Jumlah kapal (armada): perusahaan menyampaikan total 18 unit terdiri dari 13 tugboat dan 5 barge.
• Rencana ekspansi/penambahan kapal: disebut menambah 2 kapal pada 2025.
• Pengembangan usaha: memperbesar kapasitas dan menjaga utilisasi.
• Rencana CA 2026: -.
• Afiliasi dengan emiten lain: -.
10) CBRE — PT Cakra Buana Resources Energi Tbk
• Jenis usaha: pelayaran tug–barge dan aset terkait.
• Jumlah kapal (armada): 2 tugboat, 4 barge, dan 1 mother vessel.
• Rencana ekspansi/penambahan kapal: rencana pembelian 1 tugboat di 2025.
• Pengembangan usaha: -.
• Rencana CA 2026: -.
• Afiliasi dengan emiten lain: -
11) BSML — PT Bintang Samudera Mandiri Lines Tbk
• Jenis usaha: pelayaran tug–barge (kargo curah).
• Jumlah kapal (armada): 2 tugboat dan 2 barge (basis awal armada).
• Rencana ekspansi/penambahan kapal: Rencana penjualan 5 kapal milik entitas anak
• Pengembangan usaha: -.
• Rencana CA 2026: -.
• Afiliasi dengan emiten lain: -.
Disc On
DYOR
Saya TIDAK MENYARANKAN dan saya MELARANG DENGAN KERAS teman teman YANG menjual, hold, atau beli KARENA POSTINGAN SAYA.
Jika ingin beli, hold atau jual suatu emiten, lakukan riset mendalam dan analisis mandiri terlebih dahulu.
1/4




$RIGS Namanya Aja yang Aroma Rigs Oil, Realitasnya Cuma Bisnis Coal
Request member External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
RIGS ini di profil perusahaan mengaku sebagai saham angkutan coal dan migas tapi realitasnya saat ini mereka tidak lagi punya bisnis rig oil. Ini bukan sekadar beda narasi, ini beda mesin uang. Kalau investor masih membayangkan RIGS hidup dari offshore migas yang kontraknya biasanya lebih premium, angka per 30 September 2025 justru bilang hal sebaliknya. Segmen yang benar-benar jalan sekarang hanya batubara 100%, sementara segmen lepas-pantai yang dulu jadi identitas utama lagi tidak berkontribusi. Pasar biasanya menghukum kondisi seperti ini dengan diskon, karena investor tidak mau bayar mahal untuk cerita yang belum kembali jadi pendapatan. Tapi berhubung namanya masih ada bau-bau rig nya, harga sahamnya tetap meroket karena sentimen oil. 😌 Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
RIGS berdiri 22 Januari 1974 dan sudah IPO 5 Maret 1990. Artinya perusahaan ini tua dan veteran, sekitar 51 tahun berjalan sampai September 2025, dan sekitar 35 tahun jadi emiten. Dibanding beberapa nama kapal lain, RIGS jauh lebih senior daripada $HUMI yang baru berdiri 2016, tapi masih lebih muda dari raksasa seperti SMDR yang berdiri 1964. Dari sisi skala orang, RIGS punya 446 karyawan per 30 September 2025, dan yang mencolok, 402 di antaranya kontrak. Buat investor, porsi kontrak yang besar biasanya berarti biaya tenaga kerja lebih fleksibel mengikuti kontrak kapal, tapi sekaligus sinyal bahwa operasi bisa sangat tergantung proyek dan utilisasi.
Struktur kepemilikan juga membentuk perilaku sahamnya. Pengendali PT Surya Indah Muara Pantai memegang 80,5% dan publik 19,5%. Free float 19,5% berarti porsi saham yang benar-benar beredar di publik tidak besar, jadi likuiditas bisa terbatas dan pergerakan sering tidak seramai emiten yang free float-nya besar. Jumlah saham beredar 609.130.000 lembar, publik memegang 118.532.970 lembar. Ini penting dipahami karena saham seperti ini biasanya lebih cocok untuk investor yang sabar menunggu katalis, bukan buat gaya kejar cepat.
Revenue RIGS di LK Q3 2025 hanya Rp77,68 miliar turun 11,5% dari Rp87,82 miliar. COGS Rp58,27 miliar turun 8,8%. COGS itu beban pokok, biaya langsung untuk menghasilkan pendapatan, misalnya biaya operasional kapal yang langsung terkait perjalanan. Saat revenue turun lebih dalam dari COGS, margin kotor biasanya tertekan, dan itu kejadian di RIGS. Lalu SGA Rp5,99 miliar naik 15,2% ketika revenue turun. SGA itu beban umum dan administrasi, biaya kantor, manajemen, dan overhead. Investor biasanya tidak suka pola seperti ini karena memberi sinyal efisiensi internal memburuk, biaya tetap naik saat bisnis melemah. Akhirnya laba bersih Rp15,48 miliar turun 24,7% dari Rp20,57 miliar. Ini pesan yang jelas, profit turun lebih tajam daripada revenue, jadi leverage operasionalnya bekerja ke arah yang tidak enak. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Agar kebayang, margin itu cara paling cepat membaca seberapa banyak sisa uang di tiap lapis. GPM 25,0% berarti dari setiap Rp100 pendapatan, kira-kira Rp25 tersisa setelah menutup COGS. OPM 17,8% berarti setelah beban operasional termasuk SGA, kira-kira Rp17,8 yang tersisa per Rp100 pendapatan. NPM 19,9% berarti setelah semua biaya termasuk pajak, kira-kira Rp19,9 jadi laba bersih per Rp100 pendapatan. Angkanya masih bagus secara level, tapi trennya turun dari tahun lalu. Itu artinya bukan bisnisnya rugi, tapi efisiensinya sedikit tertekan.
ROA dan ROE yang disetahunkan memberi gambaran kualitas menghasilkan laba dibanding ukuran perusahaan. ROA annualized sekitar 7,0% artinya kalau pola laba saat ini dianggap berulang setahun penuh, maka aset Rp887 miliar berpotensi menghasilkan laba sekitar 7,0% per tahun. ROE annualized sekitar 7,1% artinya ekuitas Rp869,4 miliar berpotensi menghasilkan laba sekitar 7,1% per tahun. Kenapa ROA dan ROE hampir sama? Karena utangnya kecil sekali, aset hampir seluruhnya dibiayai modal sendiri. Ini juga terlihat dari DER di bawah 0,02 kali. DER itu perbandingan liabilitas terhadap ekuitas. Di sini artinya utang sangat kecil dibanding modal sendiri, jadi risiko gagal bayar rendah, tapi di sisi lain, perusahaan tidak memakai leverage untuk mempercepat pertumbuhan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bagian yang paling membuat RIGS terlihat seperti brankas berjalan ada di arus kas dan aset likuid. CFO Rp59,7 miliar jauh lebih besar daripada laba Rp15,5 miliar. CFO itu arus kas operasi, uang tunai yang benar-benar masuk dari aktivitas bisnis inti. Kalau CFO jauh lebih besar dari laba, biasanya berarti laba tidak sekadar angka akuntansi, malah ditopang kas nyata, plus ada beban non-kas seperti depresiasi yang menekan laba tapi tidak menguras kas. Ini sebab investor sering bilang kualitas laba RIGS tinggi. Lalu capex Rp12,5 miliar. Capex itu belanja aset tetap, misalnya perbaikan kapal agar layak operasi. Saat CFO bisa menutup capex dengan nyaman, perusahaan tidak perlu utang untuk bertahan. FCF sekitar Rp47,2 miliar. FCF itu uang tunai sisa setelah CFO dikurangi capex, yang secara konsep bisa dipakai untuk dividen, buyback, tambah kapal, atau sekadar menumpuk kas.
Modal kerja RIGS menarik karena secara teori kurang bagus, tapi secara praktik justru aman karena cadangan kasnya sanf2besar. DSO sekitar 85 hari. DSO itu rata-rata waktu menagih piutang, makin tinggi berarti makin lama uang baru masuk. DI sekitar 13 hari. DI itu rata-rata umur persediaan, di RIGS cepat karena persediaannya biasanya bahan bakar dan suku cadang. DPO sekitar 7 hari. DPO itu rata-rata waktu membayar vendor, makin kecil berarti perusahaan membayar cepat. CCC sekitar 91 hari. CCC itu siklus kas, kira-kira DSO plus DI dikurangi DPO. Artinya uang keluar ke vendor cepat, tapi uang masuk dari pelanggan lebih lambat, sehingga kas nyangkut di piutang. Ini biasanya jelek untuk perusahaan yang kasnya tipis. Tapi RIGS justru punya kas Rp245,2 miliar dan naik 24% sejak Juni 2025, jadi risiko likuiditasnya rendah. Bahkan penerimaan kas dari pelanggan Rp94,1 miliar lebih besar dari revenue Rp77,7 miliar. Ini sinyal penagihan piutang lama sukses, jadi meskipun DSO terlihat panjang, perusahaan mampu mengonversi tagihan menjadi kas. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi konsentrasi, ini titik rawan paling nyata. Segmen batubara 100% membuat RIGS sangat tergantung pada kesehatan bisnis batubara dan kontrak pengangkutan. Lalu pelanggan utama hanya tiga, dan PT Arutmin Indonesia $BUMI sendiri 38,4% dari pendapatan. Konsentrasi pelanggan itu seperti berdiri di tiga tiang, satu tiang retak saja, rumahnya goyang. Ditambah ada sengketa pajak, banding restitusi pajak tahun 2015 sebesar Rp4,97 miliar yang kalah pada Oktober 2024, dan ini menekan beban pajak 2025. Risiko lain adalah harga bahan bakar, tapi perusahaan mengklaim mitigasi dengan sistem pass-through, artinya biaya bahan bakar dibebankan kembali ke pelanggan, sehingga margin lebih terlindungi.
Bagian valuasi menjelaskan kenapa investor sering menyebut RIGS hidden gem. Dengan harga saham Rp835, market cap sekitar Rp508,6 miliar. Book value atau ekuitas Rp869,4 miliar. PBV 0,58 kali. PBV itu perbandingan harga pasar perusahaan terhadap nilai bukunya. Kalau PBV di bawah 1, pasar menilai perusahaan lebih murah daripada nilai ekuitasnya. Investor yang suka margin of safety biasanya tertarik, tapi tetap harus cek apakah ekuitas itu produktif atau cuma numpuk aset pasif. Di RIGS, kas Rp245,2 miliar dan obligasi pemerintah Rp174,1 miliar, total Rp419,3 miliar. Ini sekitar 82% dari market cap. Artinya investor membeli perusahaan ini, dan sebagian besar harga itu seperti dibayar balik oleh brankas kas dan obligasi, sementara aset tetap kapal Rp386,7 miliar seolah dihargai murah oleh pasar. Ini alasan kenapa RIGS terasa seperti kapal tua yang bawa brankas emas.
Coba bandingkan dengan SMDR yang merupakan contoh raksasa operasional, karyawan 4.989 orang dan bisnis logistik terintegrasi, jadi cerita besarnya datang dari skala dan diversifikasi. HUMI contoh migas yang lebih lurus, karyawan 2.440 orang dan fokus LNG, minyak, BBM, kimia, jadi identitas migasnya sinkron dengan operasi. TCPI dan PTIS itu contoh mixed yang memang dari awal terlihat main di dua dunia, minyak dan batubara, atau migas dan logistik tambang. RIGS beda, secara sejarah dan profil masih membawa aura offshore migas, tapi arus pendapatannya sekarang bertumpu pada batubara 100%. Jadi diskonnya masuk akal, pasar sedang bilang tunjukkan dulu offshore comeback atau tunjukkan mesin growth baru, baru diskon itu layak menyempit. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Jadi RIGS ini perusahaan yang neracanya super kuat dan kasnya tebal, tapi bisnis intinya sedang menyempit dan terlalu bergantung pada batubara dan tiga pelanggan. Investor yang optimis akan melihat PBV 0,58 kali dan kas plus obligasi yang hampir menyamai market cap sebagai bantalan risiko yang jarang. Investor yang skeptis akan menyorot revenue turun 11,5%, laba turun 24,7%, margin turun, dan SGA naik saat bisnis melemah, lalu bertanya kapan mesin offshore atau mesin kontrak baru benar-benar hidup lagi.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










@FachrulRozi3 ngaku nya sih $RIGS main migas. 😌
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

$RIGS salah satu emiten perkapalan yang belom jalan masih murah book valuenya 1400 harga baru 800an dia punya cash lumayan besar $BULL $TAMU dyor
IDXChannel – Saham emiten perkapalan atau jasa angkutan laut melonjak pada hari perdagangan pertama 2026, Jumat (2/1/2026), melanjutkan momentum positif sejak akhir tahun lalu di tengah sejumlah katalis baik dari dalam maupun luar negeri.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.58 WIB, s...

www.idxchannel.com
