


Volume
Avg volume
City Retail Developments Tbk. merupakan perseroan dengan ruang lingkup usaha meliputi bidang properti, jasa, perdagangan, perindustrian, dan investasi. Melalui Entitas Anak, Perseroan juga melaksanakan kegiatan usaha dalam bidang pembangunan, penyewaan, dan pengelolaan pusat perbelanjaan, serta pengelolaan hotel.
$NIRO on the verge of breaking out. If manage pushing the 350 level, may reach the closest ARA at 414. If failed to push beyond that level, may goes down to 292, moving further down.

KABARBURSA.COM — Kinerja pasar saham domestik kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu, 21 Januari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup melemah di level 9.010,33 atau turun 124,37 poin setara 1,36 persen.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di rentang 8.977 hingga 9.10...

www.kabarbursa.com

💎 Kualitas Sinyal di Atas Kuantitas: Hanya Akumulasi Nyata yang Penting
Banyak alat screening yang membanjiri trader dengan sinyal tak terbatas, yang sebagian besar adalah noise atau false signal. Dalam trading, yang penting bukanlah seberapa banyak sinyal yang Anda dapatkan, melainkan kualitas dari setiap sinyal. Sinyal dengan kualitas tertinggi adalah yang menunjukkan adanya akumulasi nyata dan terorganisir oleh Smart Money.
Trigger Smart Money berfokus secara eksklusif pada kualitas sinyal. Kami adalah mesin pemurni data yang dirancang untuk mengisolasi hanya sinyal akumulasi yang valid dari Dana Cerdas di pasar saham Indonesia. Kami mengubah data transaksi real-time menjadi alert berkualitas tinggi yang dapat ditindaklanjuti.
Pilar Kualitas Sinyal kami adalah kombinasi dari dua faktor. Pertama, Pendeteksian Volume Abnormal yang Jelas. Kami mencari lonjakan volume yang sangat tiba-tiba—mencapai 6x atau 7x lipat dari rata-rata intraday normal. Ini adalah ambang batas yang hampir mustahil dicapai tanpa intervensi modal besar. Kedua, Filter Money Flow yang Memastikan Dominasi Pembelian. Volume tinggi harus divalidasi dengan dominasi arus dana masuk yang substansial. Jika volume tinggi didominasi oleh arus dana keluar, sinyal itu akan dibuang. Hanya sinyal yang menggabungkan volume abnormal yang ekstrem dengan net buying yang dominan yang dianggap sebagai sinyal akumulasi valid. Dengan fokus yang ketat pada kualitas ini, Trigger Smart Money memastikan bahwa ketika Anda mendapatkan alert, itu adalah sinyal yang memiliki probabilitas tinggi untuk diikuti oleh pergerakan harga ke atas yang signifikan.
$NIRO $OMED $EAST
1/3



"Psikologi Keamanan: Mengapa Data Lebih Penting dari Opini?"
Di pasar saham, opini sangatlah murah dan bertebaran di mana-mana. Setiap orang memiliki prediksi, namun sangat sedikit yang memiliki dasar data yang kuat. Mengikuti opini orang lain tanpa verifikasi data adalah cara tercepat untuk menghancurkan portofolio Anda. Rasa takut dan ragu yang sering Anda rasakan saat trading biasanya berakar dari ketidakpastian: "Apakah saya benar?" atau "Apakah saya sedang dijebak?". Satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa takut ini adalah dengan mengganti opini dengan fakta aliran Clean Money.
Saat Anda melihat sebuah saham turun namun data Trigger Smart Money menunjukkan bahwa Smart Money tetap melakukan akumulasi dan tidak ada dana keluar (Bad Money) yang signifikan, maka rasa takut Anda akan hilang. Anda memahami bahwa penurunan tersebut hanyalah fluktuasi sementara atau manipulasi harga sesaat. Data memberikan Anda "keberanian logis" untuk tetap memegang posisi Anda. Trading menjadi aktivitas yang jauh lebih tenang dan terukur ketika Anda berhenti mendengarkan kebisingan di luar dan mulai fokus pada kejujuran data transaksi.
Membangun kepercayaan diri berbasis data adalah kunci kematangan seorang trader. Anda tidak akan lagi mudah terombang-ambing oleh berita negatif atau komentar pedas di forum saham. Anda memiliki sistem verifikasi sendiri yang mampu membedah niat asli pelaku pasar. Dengan memiliki radar deteksi dana besar, Anda telah mengambil kendali penuh atas psikologi trading Anda. Keamanan sejati di bursa saham tidak datang dari seberapa banyak orang yang setuju dengan Anda, melainkan dari seberapa besar dukungan dana nyata yang ada di balik saham yang Anda miliki.
$HGII $NIRO $BAPA
1/2


Kalau posisi $BBCA boss di 8.650 dan sekarang 8.075, minusnya sekitar 6–7%, tapi masih sangat aman karena BBCA ini termasuk saham bluechip kuat 💪
📊 **Analisa fundamental & teknikal:**
- Support kuat di area **7.950–8.000**
- Resistance terdekat di **8.300–8.400**
- Secara fundamental, BBCA tetap unggul: laba konsisten naik, NIM stabil, dan dividen rutin 💼
📈 **Strategi:**
➡️ Kalau buat **jangka menengah–panjang**, tetap **hold tenang**, karena BBCA termasuk saham defensif yang hampir selalu recover setelah koreksi.
➡️ Kalau harga turun ke bawah 8.000, justru bisa **cicil averaging kecil** buat nurunin harga modal.
➡️ Target rebound jangka pendek di 8.300–8.400, dan jangka menengah bisa kembali ke 8.800–9.000 🚀
Kesimpulan: gak perlu panik boss, BBCA termasuk saham “aman dan sabar” — koreksi seperti ini justru peluang akumulasi 📈🔥
Ayo REQUEST SAHAM di kolom komentar seperti
$EMTK $NIRO
,DM “mau” jika ingin dianalisa sahamnya
Support like agar terus update!!!
Follow untuk ikuti flowchart keputusan saham trend
Kalau postingan ini bermanfaat, boleh banget kasih tip lewat tombol bergambar 💲 di bawah ya. Terima kasih banyak 🙏
SCALPING $NASI (131)
RENCANA ENTRY & EXIT
Entry Buy (128 – 134)
Take Profit 1 (TP1) 136
Take Profit 2 (TP2) 142
Zona Stoploss (< 124)
RISK : REWARD (DETAIL)
Asumsi Entry Ideal (131)
Risiko (Risk)
Entry 131 → Stoploss 124
Risiko = 7 poin
Reward TP1
136 – 131 = 5 poin
Risk : Reward TP1 = 1 : 0.7
Reward TP2
142 – 131 = 11 poin
Risk : Reward TP2 = 1 : 1.6
Catatan Risk : Reward
- Minimal ambil TP1, jangan serakah
- TP2 hanya jika volume & momentum mendukung
- Jika TP1 tercapai, stoploss digeser ke BEP
Catatan Tambahan
- Scalping berhasil dari disiplin, bukan nekat
- Stoploss wajib dan tidak boleh digeser turun
- Tidak ada sinyal → tidak entry
- Fokus konsistensi, bukan sekali besar
Analisa saya boleh bantu, tapi keputusan tetap milik Boss.
Ayo REQUEST SAHAM di kolom komentar seperti
$EMTK $NIRO
,DM “mau” jika ingin dianalisa sahamnya
Support like agar terus update!!!
Follow untuk ikuti flowchart keputusan saham trend
Kalau postingan ini bermanfaat, boleh banget kasih tip lewat tombol bergambar 💲 di bawah ya. Terima kasih banyak 🙏
KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus level psikologis 9.000 pada perdagangan hari ini Rabu, 14 Januari 2026. IHSG ditutup menguat di level 9.032,58 atau naik 0,94 persen, mencerminkan sentimen pasar yang masih relatif positif di tengah aliran dana asing yang mencat...

www.kabarbursa.com

$MTWI $NIRO $RIGS
Risk Management high
Dyor bukan ajakan jual beli
https://bit.ly/4suFbhC informasi menarik

$NIRO Mall Play
Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Saham NIRO sudah naik sekitar 150% dalam setahun terakhir padahal laporan 9M-2025 masih rugi. Di sisi lain $PWON dan $LPKR justru nyungsep, seolah-olah pasar sedang menghukum yang punya mesin kas dan memuja yang sedang berdarah. Kenaikan NIRO juga belum segila MPRO, tapi polanya mirip, rugi jalan terus, harga saham tetap bisa melayang. Kalau ini dibaca sebagai kompetisi fundamental, hasilnya ngawur, karena kualitas kas kalah oleh cerita. Kalau dibaca sebagai kompetisi pergerakan saham, baru nyambung, likuiditas dan ekspektasi bisa mengangkat harga lebih cepat dari kinerja. Indonesia punya kebiasaan aneh, kadang saham makin rugi justru makin ramai, karena orang mengejar momentum bukan kualitas. Jadi uji paling adil bukan siapa yang paling heboh, tapi siapa yang bisa mengubah revenue jadi kas, lalu kas itu cukup untuk menahan utang. Di angka 9M-2025, NIRO, LPKR, PWON, dan MPRO memperlihatkan beda kelas antara pabrik sewa yang sehat, developer yang berat napas, dan emiten kecil yang harganya sudah lari duluan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Mulai dari identitas bisnisnya dulu biar investor tidak ketukar. NIRO itu mall heavy, sekitar 93% revenue datang dari segmen pusat perbelanjaan, jadi ini memang operator mall yang mengandalkan sewa, service charge, utilitas, parkir. PWON juga pabrik sewa, bahkan tulang punggungnya jelas, segmen mall, kantor, apartemen servis menyumbang sekitar 62% revenue, jadi mesin utamanya recurring. LPKR beda spesies, mall memang ada dan tumbuh, tapi kontribusi langsung baris pusat belanja cuma sekitar 2% dari revenue, sehingga LPKR lebih terasa sebagai developer kota mandiri yang hidup dari jual-beli unit dan putaran persediaan. MPRO lebih ekstrem lagi, tidak punya mall sebagai penyangga, revenue-nya kecil sekali dan masih bertumpu pada penjualan apartemen dan pengelolaan gedung skala mini.
Sekarang skala, karena skala itu menentukan daya tahan. Revenue 9M-2025 NIRO sekitar Rp1,11 triliun, PWON Rp5,12 triliun, LPKR Rp6,51 triliun, MPRO Rp2,52 miliar. Maknanya NIRO itu kira-kira 5 sampai 6 kali lebih kecil dari PWON dan LPKR dalam omzet, tapi masih ratusan kali lebih besar dari MPRO. Skala besar biasanya membuat biaya tetap lebih mudah ditutup, akses pendanaan lebih gampang, dan volatilitas operasional lebih bisa diserap, sedangkan skala mini seperti MPRO membuat satu komponen biaya saja bisa langsung menghabisi laba. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sejarahnya juga memberi konteks kematangan. NIRO berdiri 18 Desember 2003 dan IPO 13 September 2012, jadi per September 2025 umurnya sekitar 22 tahun dan sudah 13 tahun jadi emiten. LPKR berdiri 15 Oktober 1990 dan IPO 28 Juni 1996, jadi sekitar 35 tahun dan 29 tahun melantai. PWON lebih senior, berdiri 20 September 1982 dan IPO 9 Oktober 1989, jadi sekitar 43 tahun dan 36 tahun melantai. MPRO berdiri 5 Maret 2004 dan IPO 28 September 2018, jadi sekitar 21 tahun dan 7 tahun melantai. Maknanya PWON dan LPKR itu pemain lama dengan aset besar dan sistem operasi yang sudah teruji, sementara NIRO generasi setelahnya dengan ekspansi ke banyak kota, dan MPRO relatif baru sebagai emiten.
Masuk ke isi mall NIRO supaya jelas kenapa revenue-nya terasa nyata. Portofolio NIRO mencakup Pejaten Village dan Kalibata City Square di Jakarta, Cimanggis Square di Depok, CSB di Cirebon, lalu Citimall di berbagai kota Sumatra seperti Prabumulih, Baturaja, Lahat, ditambah Binjai Super Mall, lalu di Sulawesi ada Citimall Gorontalo dan Palu Grand Mall, serta proyek Tuban yang progresnya sekitar 67%. Operasinya tersebar sampai 42 lokasi, jadi NIRO bukan mall premium Jakarta saja, tapi jaringan mall kota-kota yang menempel pada konsumsi daerah. Komposisi pendapatan mall 9M-2025 kira-kira sewa Rp581 miliar, service charge Rp208 miliar, utilitas Rp167 miliar, parkir Rp60 miliar, lainnya Rp12 miliar, total mall Rp1,03 triliun dari total Rp1,11 triliun. Maknanya mesin NIRO benar-benar sewa harian, bukan sekadar jual tanah.
Pertumbuhan NIRO juga terlihat, pendapatan segmen mall naik sekitar 20,45% dari Rp855 miliar ke Rp1,03 triliun. Ini penting, karena di bisnis sewa, pertumbuhan seperti ini biasanya datang dari kombinasi okupansi, kenaikan sewa, perbaikan traffic, atau bertambahnya aset yang beroperasi. Jadi dari sisi top line, NIRO sedang jalan. Tapi problemnya ada di bawah, yaitu bunga. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Di laporan 9M-2025, NIRO revenue Rp1,11 triliun tumbuh, margin kotor atau GPM 49,3% juga tebal. GPM itu ukuran sederhana, dari setiap Rp1 revenue, berapa sisa setelah beban langsung, jadi 49,3% berarti sisa sekitar Rp0,49 sebelum biaya kantor dan bunga. NIRO bahkan masih punya OPM 22,6%, OPM itu laba operasi dibagi revenue, artinya mesin inti sebelum bunga masih menghasilkan sekitar Rp0,23 dari setiap Rp1 revenue. Masalahnya, NPM NIRO -10,1%, NPM itu laba bersih dibagi revenue, jadi setelah bunga dan pajak, tiap Rp1 revenue malah berubah jadi rugi sekitar Rp0,10. Penyebabnya kebaca jelas, beban keuangan NIRO sekitar Rp535 miliar, ini lebih dari 2 kali laba usaha sekitar Rp250 miliar, jadi bunga melindas laba operasional.
Bandingkan dengan PWON, ini contoh pabrik sewa yang tidak keteteran bunga. PWON punya GPM 55,4%, OPM 42,3%, NPM 41,5%. Artinya dari Rp1 revenue, laba bersihnya masih sekitar Rp0,42, sangat tebal. Beban keuangan PWON sekitar Rp269 miliar, sementara laba operasinya kalau dikira-kira dari OPM berada di kisaran Rp2,17 triliun, jadi bunga cuma sekitar 12% dari tenaga operasional, ini sehat. Di LPKR, marginnya lebih tipis, GPM 33,7%, OPM 7,1%, NPM 5,6%. Beban keuangan LPKR sekitar Rp452 miliar, sementara laba operasinya kira-kira Rp463 miliar, jadi bunga hampir setara dengan tenaga operasionalnya, napasnya pendek. Di MPRO, margin operasinya sudah negatif, jadi cerita utamanya bukan bunga doang, tapi bisnis inti yang belum bisa membiayai dirinya sendiri.
ROA dan ROE itu alat untuk menilai produktivitas aset dan modal. ROA NIRO sekitar -2,9% dan ROE sekitar -6,3%, artinya aset besar belum menghasilkan laba bersih, dan modal pemegang saham sedang tergerus rugi. Bandingkan PWON, ROA sekitar 7,85% dan ROE sekitar 10,8%, ini tanda aset dan ekuitas bekerja menghasilkan laba. LPKR ROA sekitar 1,21% dan ROE sekitar 1,63%, artinya output laba kecil sekali dibanding aset dan ekuitas yang besar. MPRO ROA -4,36% dan ROE -6,15%, artinya belum produktif dan masih bocor. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bagian yang paling sering menjebak investor adalah kas. CFO itu arus kas operasi, ini jawaban paling jujur apakah laba benar jadi uang. NIRO punya revenue Rp1,11 triliun dan kas dari pelanggan Rp1,16 triliun, ini bagus karena uangnya masuk. Tapi CFO NIRO cuma sekitar Rp162 juta, praktis nol, karena kas hasil operasi habis untuk bayar bunga sekitar Rp465 miliar. Jadi revenue memang tunai, tapi tidak tinggal jadi kas bersih. FCF NIRO negatif sekitar Rp335 miliar, FCF itu CFO dikurangi belanja modal, artinya setelah investasi pun NIRO masih defisit kas. Bandingkan PWON, kas dari operasi Rp2,06 triliun dan FCF Rp1,72 triliun, ini mesin kas nyata. Bandingkan LPKR, CFO minus Rp1,21 triliun dan FCF minus Rp1,34 triliun, artinya laba di laporan tidak ditopang kas, operasionalnya menyedot uang. Bandingkan MPRO, CFO minus Rp24 miliar dan FCF minus Rp24 miliar, sementara revenue cuma Rp2,52 miliar, jadi secara kas itu benar-benar megap-megap.
Rasio operasional seperti DSO, DI, DPO itu membantu baca siklus uang. DSO NIRO sekitar 37 hari, ini rata-rata waktu tagih piutang, makin kecil makin cepat uang masuk. DI NIRO sekitar 30 hari, ini rata-rata persediaan berputar, rendah karena persediaannya bukan land bank besar seperti developer. DPO NIRO sekitar 29 hari, ini rata-rata waktu bayar vendor, makin besar makin lama bayarnya. Bandingkan MPRO, DI-nya sampai puluhan ribu hari, itu sinyal aset nyangkut di persediaan dan tidak laku-laku, makanya revenue mini. Bandingkan PWON, DI ratusan hari itu wajar karena ada karakter properti, tapi tertutup oleh kas yang kuat dan recurring yang stabil.
Utang dan sensitivitas bunga adalah bom waktu NIRO. Utang jangka panjang NIRO sekitar Rp6,78 triliun, jauh lebih besar dari revenue tahun berjalan, jadi struktur modalnya agresif. Risiko paling tajamnya suku bunga mengambang, kenaikan bunga 1% diperkirakan menggerus laba sekitar Rp54 miliar, dan saat laba bersih sudah negatif, tambahan beban ini makin menyulitkan. LPKR juga punya utang berbunga sekitar Rp4,93 triliun dan masih berurusan dengan CFO negatif, jadi risikonya eksekusi dan likuiditas. PWON punya utang obligasi sekitar Rp5,54 triliun, tapi kasnya sekitar Rp7,01 triliun dan FCF kuat, jadi utang itu lebih terasa sebagai leverage terukur, bukan jerat. MPRO utang bank sekitar Rp250 miliar, tapi problemnya bukan sekadar nominal utang, melainkan mesin revenue dan kas yang terlalu kecil. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Valuasi membuat kontrasnya makin tajam. PBV itu harga dibanding nilai buku, makin tinggi berarti pasar memberi premi besar atas ekuitas, makin rendah berarti pasar memberi diskon. NIRO PBV sekitar 4,14 kali pada harga 336, artinya pasar menghargai 4 kali nilai bukunya padahal masih rugi dan bunga tinggi, ini definisi mahal secara fundamental kecuali ada perbaikan besar di struktur utang atau lonjakan laba. PWON PBV sekitar 0,75 kali pada harga 342, artinya diskon terhadap nilai buku padahal laba dan kas sangat kuat, jadi ini terlihat murah secara fundamental. LPKR PBV sekitar 0,20 kali pada harga 85, diskonnya ekstrem, tapi pasar sedang menghukum CFO negatif dan risiko eksekusi. MPRO PBV sekitar 95 kali, ini sudah masuk wilayah harga yang berjalan sendiri, bukan refleksi laporan keuangan.
Terakhir, karakter pergerakan saham juga dipengaruhi jumlah saham beredar dan free float. NIRO punya sekitar 22,20 miliar saham dan free float 24,75%, PWON 48,15 miliar dan free float 31,30%, LPKR 70,87 miliar dan free float 42,62%, MPRO 9,94 miliar dan free float 19,03%. Maknanya MPRO paling mudah liar karena basis saham dan porsi publiknya paling sempit, NIRO juga relatif lebih mudah digerakkan dibanding raksasa seperti LPKR dan PWON, sementara LPKR dan PWON butuh arus dana jauh lebih besar untuk mengubah tren harga secara konsisten.
Jadi PWON adalah standar emas pabrik sewa karena margin tebal dan kas masuk nyata. NIRO adalah operator mall yang revenue-nya tumbuh dan komposisinya recurring, tapi bunga dan utangnya membuat laba bersih jeblok dan kas bersih nyaris tidak tersisa. LPKR adalah raksasa ekosistem yang skala besar, tetapi kualitas kas 9M-2025 sedang jelek karena CFO negatif, jadi diskon PBV ada alasannya. MPRO adalah anomali, skala mini dan fundamental lemah, tapi harga bisa terbang karena bandar saham lebih dominan daripada mesin bisnis.
🏗️ Skala omzet. Daya tahan beda kelas
💠 LPKR Rp6,51 triliun. Raksasa ekosistem
💠 PWON Rp5,12 triliun. Raksasa sewa
💠 NIRO Rp1,11 triliun. Menengah, fokus mall
💠 MPRO Rp2,52 miliar. Mini, ruang napas tipis
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🏢 Mesin recurring income. Siapa benar-benar mall heavy
🟢 NIRO 93% dari mall. Sewa, service charge, utilitas, parkir
🧾 Sewa Rp581 miliar. Service charge Rp208 miliar. Utilitas Rp167 miliar. Parkir Rp60 miliar
📈 Revenue mall naik 20,45%
👑 PWON 62% dari mall, kantor, apartemen servis. Pabrik sewa
🟡 LPKR mall langsung cuma 2,17%. Lebih developer kota mandiri
🔴 MPRO tidak punya mall. Tidak ada penyangga recurring
💥 Laba vs bunga. Kenapa rugi bisa tetap naik
⚠️ NIRO laba usaha Rp250 miliar kalah oleh bunga Rp535 miliar. NPM -10,1%
✅ PWON margin tebal. GPM 55,4%. OPM 42,3%. NPM 41,5%
🟠 LPKR margin tipis. GPM 33,7%. OPM 7,1%. NPM 5,6%
❌ MPRO rugi dalam. OPM -1.601%. NPM -2.182%
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
💧 Kas. Ini pembeda utama
🟢 PWON CFO Rp2,06 triliun. FCF Rp1,72 triliun
🟡 NIRO kas pelanggan Rp1,16 triliun tapi CFO Rp0,16 miliar karena bunga Rp465 miliar. FCF -Rp335 miliar
🔴 LPKR CFO -Rp1,21 triliun. FCF -Rp1,34 triliun
🔥 MPRO CFO -Rp24 miliar. FCF -Rp24 miliar
🏦 Utang dan valuasi. Premium vs diskon
⚡ NIRO utang Rp6,78 triliun. PBV 4,14 kali. Mahal walau rugi
🧲 PWON PBV 0,75 kali. Diskon dengan kas kuat
🧊 LPKR PBV 0,20 kali. Diskon karena kas jelek
🚨 MPRO PBV 95,3 kali. Harga jalan sendiri
🧬 Sejarah. Kematangan operasi
📅 NIRO berdiri 2003. IPO 2012
📅 LPKR berdiri 1990. IPO 1996
📅 PWON berdiri 1982. IPO 1989
📅 MPRO berdiri 2004. IPO 2018
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10









