


Volume
Avg volume
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel adalah salah satu anak perusahaan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. yang bergerak di bidang penyediaan infrastruktur telekomunikasi. Mitratel mulai menapaki bisnis menara telekomunikasi sejak tahun 2008. Sampai saat ini, Mitratel telah mengelola lebih dari 28.000 menara telekomunikasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Semua operator seluler Indonesia telah menjadi tenant dengan menempatkan perangkat BTSnya di menara Mitratel.
@sennaaswin bisa bang siapin aja pasword buat cucunya nanti, bilangin ke anak cucu ini warisan kake,,, mungkin $MTEL bisa ke 20rb,,, wkwkwk
Ekspansi Perusahaan Menara Telekomunikasi, Mana yang Paling Sehat Ekspansinya
Request salah satu user Stockbit bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Tidak semua perusahaan menara di IHSG tumbuh dengan cara yang benar-benar menggambarkan kesehatan bisnisnya. Banyak investor melihat revenue growth lalu langsung menyimpulkan bisnisnya membaik, padahal yang lebih baik itu adalah melihat growth dari kombinasi laba, arus kas, capex, dan utang dalam satu tarikan napas. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Di bisnis menara, angka laba bisa kelihatan bagus karena faktor akuntansi, sementara kasnya justru biasa saja, atau kebalikannya kasnya besar karena pelepasan modal kerja, tapi bukan mesin uang yang stabil. Ada juga emiten yang revenue-nya naik, tapi rugi makin dalam karena beban bunga dan struktur utang yang belum ketutup oleh skala. Jadi kalau investor mau menilai siapa yang benar-benar bertumbuh, kuncinya bukan satu metrik, tapi apakah pertumbuhan itu menghasilkan kas bebas yang konsisten sambil menurunkan risiko utang.
Kalau dilihat dari skala 9M 2025, tiga raksasa revenue sektor menara masih jelas urutannya, PT Sarana Menara Nusantara Tbk ($TOWR) sekitar Rp9,69 triliun, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk ($MTEL) sekitar Rp6,88 triliun, lalu PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) sekitar Rp5,16 triliun. Setelah itu jurangnya lebar, PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (CENT) Rp1,88 triliun, PT Solusi Tunas Pratama Tbk SUPR (STP) Rp1,36 triliun, PT Bali Towerindo Sentra Tbk ($BALI) Rp0,92 triliun, PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) Rp0,63 triliun, dan PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk (GHON) Rp0,16 triliun. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Skala ini penting karena bisnis menara itu permainan kepadatan aset dan kontrak jangka panjang, makin besar portofolio biasanya makin stabil, tapi konsekuensinya makin berat juga struktur utang dan kebutuhan efisiensi operasionalnya. Di titik ini, investor sudah bisa melihat kenapa growth antar emiten tidak bisa dibandingkan mentah-mentah, karena basisnya beda jauh, BALI tumbuh 2 digit terlihat heboh, tapi nominal tambahannya tetap tidak sebesar gerak kecil di TOWR atau TBIG.
Masuk ke laba bersih 9M 2025, TOWR mencetak sekitar Rp2,55 triliun, MTEL Rp1,54 triliun, TBIG Rp1,15 triliun, STP Rp0,94 triliun, IBST Rp0,27 triliun, BALI Rp0,14 triliun, GHON Rp0,06 triliun, sementara CENT rugi sekitar Rp1,47 triliun. Dari sini terlihat pola yang sering bikin investor salah tafsir, STP punya net margin sekitar 68,66% dan IBST sekitar 42,31%, terlihat seperti mesin uang super, padahal di sektor infrastruktur angka margin setinggi ini sering dipengaruhi komponen non-operasional, pembalikan pencadangan, atau efek basis yang kecil.
TOWR, MTEL, dan TBIG justru memberi gambaran margin yang lebih masuk akal untuk bisnis menara yang matang, sekitar 26,36% untuk TOWR, 22,41% untuk MTEL, dan 22,25% untuk TBIG, ini biasanya lebih bisa dipakai sebagai acuan kualitas earning yang repeatable. CENT adalah contoh paling gamblang kenapa revenue growth tidak otomatis sehat, revenue naik 3,01% tapi rugi melebar, artinya struktur biaya dan beban keuangan belum ketutup oleh skala. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sekarang bagian yang paling jujur di bisnis menara, arus kas operasi atau CFO. TOWR menghasilkan CFO sekitar Rp8,58 triliun, MTEL Rp5,68 triliun, TBIG Rp4,24 triliun, CENT Rp1,54 triliun, STP Rp1,33 triliun, IBST Rp0,88 triliun, BALI Rp0,49 triliun, GHON Rp0,13 triliun. Rasio CFO terhadap revenue ini menarik karena menara itu bisnis sewa yang kasnya biasanya deras, TOWR sekitar 88,59%, MTEL 82,53%, TBIG 82,05%, CENT 81,92%, bahkan STP 97,67%. IBST terlihat ekstrem di 140,20%, ini hampir pasti ada cerita modal kerja, misalnya penagihan piutang lama, renegosiasi pembayaran, atau penerimaan kas yang tidak sebanding dengan revenue periode berjalan, jadi bagus untuk pemulihan, tapi investor jangan menganggap ini pola permanen. BALI di sisi lain CFO terhadap revenue sekitar 52,84% yang relatif lebih rendah, ini bisa konsisten dengan mix bisnis yang lebih banyak komponen layanan di luar sewa menara murni, jadi kasnya tidak setebal pemain menara yang benar-benar mature.
Tren besar industrinya kelihatan dari capex. TOWR capex sekitar Rp2,30 triliun, MTEL Rp1,30 triliun, TBIG Rp1,26 triliun, CENT Rp0,45 triliun, STP Rp0,55 triliun, BALI Rp0,30 triliun, IBST Rp0,09 triliun, GHON Rp0,07 triliun. Secara tren, hampir semua pemain besar menurunkan capex secara tajam, TOWR turun 33,18%, MTEL turun 23,76%, TBIG turun 21,45%, CENT turun 10,85%, BALI turun 40,18%, ini memberi sinyal sektor sedang masuk fase panen kas, bukan fase bangun menara besar-besaran. Pengecualian paling mencolok adalah STP, capex melonjak 758,61%, ini biasanya berarti manajemen menekan rem beberapa tahun lalu dan sekarang mulai injak gas lagi, atau ada program ekspansi dan upgrade yang tertunda. GHON juga naik capex 23,31%, ini menunjukkan emiten kecil masih di fase membangun atau memperkuat portofolio, sehingga tren kas bebasnya bisa berbeda. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari gabungan CFO dan capex, keluar metrik yang paling disukai investor jangka panjang, free cash flow atau FCF. TOWR menghasilkan FCF sekitar Rp6,28 triliun, MTEL Rp4,38 triliun, TBIG Rp2,98 triliun, CENT Rp1,09 triliun, STP Rp0,79 triliun, IBST Rp0,80 triliun, BALI Rp0,19 triliun, GHON Rp0,06 triliun. Secara efisiensi, FCF terhadap revenue TOWR sekitar 64,80% dan MTEL 63,67% itu sangat tebal, menggambarkan bisnis yang sudah mapan, kontraknya panjang, dan kebutuhan capex relatif terkendali. TBIG juga kuat di sekitar 57,71%, CENT sekitar 57,83% dan STP 57,66%, tetapi untuk CENT investor wajib melihat konteks rugi besarnya, karena kas bisa saja kuat sementara laba jeblok akibat beban keuangan dan item non-kas, akhirnya yang menentukan tetap kemampuan menurunkan utang. IBST lagi-lagi terlihat ekstrem di 126,56%, bagus untuk fase pemulihan, tapi investor harus uji ulang di periode berikutnya apakah tetap setinggi itu atau kembali normal.
Bagian yang sering jadi pembunuh diam-diam di sektor menara adalah utang berbunga, apalagi kalau revenue tumbuh tipis tapi bunga jalan terus. Skala utang 30 September 2025 menunjukkan TOWR paling besar sekitar Rp45,27 triliun, lalu TBIG Rp30,69 triliun, CENT Rp20,87 triliun, MTEL Rp20,77 triliun, kemudian BALI Rp3,40 triliun, STP Rp1,44 triliun, IBST Rp1,30 triliun, GHON Rp0,48 triliun. Kalau investor bandingkan utang terhadap revenue, CENT paling berat karena debt to revenue sekitar 11,08x, TBIG sekitar 5,95x, TOWR 4,67x, sementara MTEL 3,02x, BALI 3,69x, GHON 3,02x, IBST 2,05x, dan STP paling ringan sekitar 1,05x. Ini menjelaskan kenapa CENT sangat rentan, revenue naik 3,01% tetapi rugi makin dalam, karena beban utangnya secara skala jauh lebih menekan dibanding kemampuan revenue-nya. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Trend utang juga membuka siapa yang growth-nya rapi dan siapa yang growth-nya berisiko. TOWR menurunkan utang 13,50% sambil menaikkan CFO 9,14% dan laba 3,05%, ini contoh pertumbuhan yang terkendali, tidak cuma tumbuh tapi juga merapikan neraca. TBIG menurunkan utang 4,00% sambil menaikkan CFO 6,78%, tetapi laba turun 4,96%, jadi ceritanya lebih ke tekanan profitabilitas jangka pendek walau kas masih kuat. STP menurunkan utang 22,26% dan laba naik 26,01% walau revenue turun 0,25%, ini sangat menarik karena deleveraging-nya nyata, tetapi lonjakan capex 758,61% berarti investor harus cek apakah fase reinvestasi ini akan menekan FCF beberapa kuartal ke depan. IBST menurunkan utang 33,69% dan membalik dari rugi besar menjadi laba Rp0,27 triliun, ini sinyal pemulihan neraca yang serius, biasanya terjadi setelah restrukturisasi atau perubahan pengendali, tetapi lagi-lagi kualitasnya perlu diuji apakah laba dan kasnya repeatable setelah efek pembersihan selesai.
Kalau investor mau melihat siapa yang paling mendekati definisi growth yang tepat, maka lihat keselarasan tiga hal, revenue tidak harus 2 digit, tapi laba tidak boleh memburuk, CFO harus ikut bicara, dan utang idealnya turun atau minimal tidak makin membebani. BALI adalah contoh growth yang tampak paling selaras di permukaan, revenue naik 22,16%, laba naik 32,17%, CFO naik 41,71%, ini jarang, artinya bukan cuma angka akuntansi, kasnya juga ikut melesat. Namun BALI masih punya pekerjaan rumah di utang, karena utang naik 11,62% dan kalau dihitung kasar dari kemampuan kas bebas 9M 2025, payback utangnya bisa sekitar 13,7 tahun, jadi growth-nya kencang, tapi struktur pembiayaannya belum seringan emiten yang lebih mapan. TOWR growth-nya tidak heboh, revenue naik 2,52%, tapi mesin kasnya makin kuat dan utang turun, ini tipe growth yang disukai investor defensif karena peluang kejutan buruknya lebih kecil.
MTEL adalah profil berbeda, bukan mengejar growth agresif, tapi menjaga stabilitas dan efisiensi. Revenue turun tipis 0,16% dan CFO turun tipis 0,61%, laba masih naik 0,61%, sementara capex turun 23,76% sehingga FCF tetap tebal sekitar Rp4,38 triliun. Utangnya naik 2,35% memang perlu dicatat, tetapi kalau investor ukur kemampuan bayar utang dengan kas bebas, estimasi payback sekitar 3,6 tahun, ini masih nyaman untuk bisnis infrastruktur yang kontraknya panjang. Jadi MTEL bukan yang paling cepat, tapi salah satu yang paling bisa diprediksi, dan di sektor menara, prediktabilitas itu sering lebih mahal daripada cerita pertumbuhan.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
TBIG berada di tengah-tengah antara cerita stabil dan cerita tekanan. Revenue naik 0,70% dan CFO naik 6,78% menunjukkan operasionalnya masih menghasilkan kas dengan baik, apalagi capex turun 21,45% sehingga FCF tetap besar sekitar Rp2,98 triliun. Tantangannya ada di laba yang turun 4,96%, jadi investor perlu curiga pada beban bunga, depresiasi, atau item biaya lain yang menekan, karena kasnya kuat tapi bottom line melemah. Dengan utang sekitar Rp30,69 triliun, estimasi payback kasar berbasis FCF sekitar 7,7 tahun, artinya TBIG masih butuh disiplin menjaga biaya pendanaan dan terus mengoptimalkan tenancy untuk mencegah cerita laba makin tipis.
CENT adalah studi kasus yang paling relevan untuk kalimat tidak semua perusahaan menara growth dengan tepat. Revenue naik 3,01% terlihat seperti kabar baik, CFO juga naik 0,98% dan FCF tetap positif sekitar Rp1,09 triliun, tapi rugi bersih melebar dan utang naik 3,44% dari awal tahun. Debt to revenue sekitar 11,08x itu sangat berat, jadi meskipun ada kas masuk, porsi besar bisa habis untuk biaya pendanaan dan perbaikan struktur keuangan. Di titik seperti ini, growth yang dibutuhkan bukan sekadar top line, tapi restrukturisasi biaya utang, perpanjangan tenor, atau penurunan bunga, karena kalau tidak, kenaikan revenue akan terus kalah cepat dari beban keuangan.
STP dan IBST menarik karena sama-sama menunjukkan tanda perbaikan yang terlihat nyata, tapi dengan karakter yang berbeda. STP laba naik 26,01% dan utang turun 22,26% itu kombinasi yang sehat, hanya saja investor harus mengawasi capex yang melonjak 758,61%, karena itu bisa jadi awal ekspansi yang bagus, atau justru awal fase kas bebas menipis kalau proyeknya tidak segera menghasilkan sewa. IBST menunjukkan pemulihan dramatis, revenue turun 1,45% tapi laba berbalik positif, CFO naik 46,68% dan utang turun 33,69%, ini biasanya menggambarkan emiten yang baru dibereskan neracanya, jadi kualitasnya akan terlihat lebih jelas setelah beberapa kuartal ketika efek pembersihan sudah lewat. GHON paling kecil, revenue turun 0,79% tapi laba naik 2,08% dan CFO naik 17,92% sambil tetap investasi capex naik 23,31%, ini cenderung cerita emiten kecil yang bertahan dan memperbaiki efisiensi, bukan mengejar skala cepat.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Tren industri menara di 2025 itu bukan lagi siapa paling banyak bangun menara, tapi siapa paling pintar memanen kas sambil menurunkan risiko utang. Pemenang skala dan kekuatan kas absolut masih TOWR, diikuti MTEL dan TBIG, karena FCF mereka masing-masing sekitar Rp6,28 triliun, Rp4,38 triliun, dan Rp2,98 triliun dalam 9 bulan. Pemenang momentum growth paling kencang adalah BALI, tetapi investor yang disiplin akan langsung menaruh catatan di kenaikan utangnya dan payback kas bebas yang masih panjang. Pemenang perbaikan neraca paling tegas adalah IBST dan STP karena utangnya turun besar, tetapi investor tetap perlu memastikan bahwa lonjakan kas atau laba mereka bukan sekadar efek sekali jalan, melainkan benar-benar berasal dari kontrak sewa dan utilisasi aset yang makin padat. Pada akhirnya, growth yang tepat di sektor menara itu sederhana, kas bebas naik, capex terkendali, dan utang turun, sisanya cuma dekorasi angka.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/8








Jumlah Menara Telekomunikasi Terbesar di Indonesia
Request salah satu user Stockbit bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Tidak semua perusahaan menara di IHSG itu rilis data jumlah menara mereka di laporan keuangan, dan ini bukan detail kecil, ini bisa mengubah cara investor menilai skala dan kualitas bisnisnya. Yang paling bikin repot, sebagian emiten terlihat besar karena angka asetnya, tapi investor tidak bisa langsung tahu itu berarti berapa menara, menara jenis apa, dan tersebar di mana. Di sisi lain, ada emiten yang transparan soal unit operasional, sehingga investor bisa mengukur produktivitas asetnya dengan lebih bersih. Karena itu, klaim skala di industri menara sering seperti debat tinggi badan tanpa boleh pakai meteran, banyak asumsi, banyak bias, dan mudah kebawa narasi. Di antara yang ada, TOWR memang paling terbuka, sehingga wajar kalau TOWR sering jadi patokan industri. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Cara baca industri menara yang paling sehat itu mulai dari yang paling fisik dulu, baru naik ke akuntansi. Menara itu aset yang menghasilkan sewa, dan yang membuat mesin uangnya makin kencang bukan cuma jumlah menara, tapi kepadatan sewa per menara yang tercermin lewat total site leases dan tenancy ratio. Data seperti ini jarang muncul lengkap, padahal ini yang paling dekat dengan realitas bisnis. Kalau investor hanya pegang angka aset tetap menara tanpa angka unit, investor seperti menilai bisnis parkiran hanya dari nilai tanahnya, padahal yang menentukan uang masuk itu berapa mobil yang parkir dan berapa kali turnover per hari.
TOWR memberi contoh paling jelas bagaimana transparansi unit bisa langsung diubah jadi statistik operasional. Per September 2025, TOWR punya 36.049 lokasi menara yang siap instalasi, dan 33.739 lokasi sudah beroperasi. Di atas basis ini, TOWR mencatat 58.213 kontrak penyewaan, sehingga tenancy ratio-nya sekitar 1,725x, artinya rata-rata tiap lokasi menara diisi sekitar 1,7 penyewa. Ini metrik yang terasa banget buat membaca daya saing, karena di bisnis menara, satu menara yang sama bisa jadi mesin uang dobel kalau kolokasi berhasil, sementara menara yang sepi penyewa cuma jadi beban depresiasi. Bahkan TOWR masih punya menara dalam penyelesaian dengan akumulasi biaya Rp358,09 miliar, jadi ada pipeline fisik yang nyata, bukan sekadar rencana.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi skala nilai per unit, TOWR juga memberi bahan hitung yang rapi. Kalau pakai nilai buku neto menara operasional sekitar Rp35,02 triliun dibagi 33.739 lokasi beroperasi, rata-rata nilai buku neto per menara kira-kira Rp1,038 miliar. Kalau pakai biaya perolehan menara sekitar Rp46,19 triliun dibagi 36.049 lokasi siap instalasi, biaya perolehan per menara kira-kira Rp1,281 miliar. Jarak antara Rp1,281 miliar versus Rp1,038 miliar itu bukan sekadar angka, itu cerita usia aset, penyusutan, dan seberapa matang portofolio, karena semakin matang biasanya nilai buku neto turun sementara kemampuan menghasilkan kas bisa tetap tinggi, apalagi kalau tenancy ratio naik. Di titik ini investor bisa menilai dua hal sekaligus, efisiensi modal saat membangun, dan produktivitas saat aset sudah jadi.
Sekarang bandingkan dengan emiten lain yang tidak se-terbuka itu. CENT misalnya, tidak menampilkan total agregat jumlah menara per September 2025 secara eksplisit, tetapi jejaknya muncul lewat sejarah akuisisi. Ada 4.247 menara dari akuisisi Indosat pada 2021, ada 1.029 menara dari akuisisi XL Axiata pada 2020, lalu tambahan lain seperti 397 menara, 289 menara, dan 131 menara dari transaksi lain, sehingga secara konservatif portofolionya minimal 6.200+ menara. Masalahnya, angka seperti ini membuat investor harus menyusun puzzle sendiri, dan itu rawan salah tafsir, karena bisa jadi sudah ada perubahan portofolio setelah akuisisi, ada menara yang dilepas, ada yang digabung, atau ada menara yang statusnya belum commenced. Transparansi model begini biasanya membuat perbandingan lintas emiten jadi lebih ribet, karena satu emiten kasih angka final, emiten lain kasih potongan sejarah.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
BALI juga memberi data yang sifatnya parsial, bukan total agregat. Ada angka historis 2.621 menara yang pernah dijadikan jaminan kredit, lalu ada rincian klaster wilayah seperti Semarang 26 menara, Pemalang 30 titik, Pasuruan 24 titik, dan Gresik 7 titik. Secara rasa, ini mengisyaratkan portofolio yang lebih kecil dan lebih terkonsentrasi, tetapi investor tetap belum bisa mengunci angka total per tanggal laporan. Ini membuat penilaian skala BALI lebih banyak memakai pendekatan nilai aset dan kualitas kontrak, bukan sekadar hitung unit.
Lalu masuk kelompok yang paling sering bikin investor salah fokus, MTEL, TBIG, GHON, IBST, karena laporan interimnya tidak menampilkan jumlah unit menara total, sehingga skala dibaca lewat angka moneter. MTEL menampilkan nilai buku aset tetap yang terkait menara dan infrastrukturnya sekitar Rp45,13 triliun, TBIG menampilkan nilai revaluasi menara sekitar Rp31,27 triliun, GHON sekitar Rp1,12 triliun, dan IBST nilai buku neto sekitar Rp1,60 triliun sebelum mempertimbangkan penurunan nilai. Ini bukan berarti mereka tidak transparan sama sekali, tetapi gaya pelaporannya membuat investor hanya melihat ukuran dompet, tanpa tahu berapa banyak mesin uang di dalamnya. Dalam praktiknya, dua perusahaan bisa sama-sama punya aset menara Rp30 triliun, tetapi yang satu menaranya banyak di luar kota dengan biaya rendah, yang lain menaranya lebih sedikit tapi premium di lokasi padat dengan tenancy tinggi, angka asetnya bisa mirip, kualitas bisnisnya bisa beda.
Di sinilah muncul teknik yang sering dipakai, membuat benchmark dari TOWR untuk mengestimasi jumlah menara emiten lain. Dengan patokan nilai buku neto per menara TOWR sekitar Rp1,038 miliar, lalu aset menara emiten lain dibagi angka itu, muncullah estimasi. MTEL kira-kira 38.312 unit, TBIG kira-kira 30.130 unit, CENT kira-kira 20.517 unit, STP kira-kira 7.908 unit, BALI kira-kira 2.861 unit, IBST kira-kira 1.545 unit, dan GHON kira-kira 1.079 unit. Angka-angka ini menarik untuk melihat urutan skala secara kasar, tapi investor wajib sadar ini bukan jumlah riil, ini hasil kalkulator dengan asumsi besar bahwa nilai per menara semua emiten mirip dengan TOWR. Padahal kenyataannya bisa meleset karena perbedaan metode akuntansi, ada yang pakai model biaya, ada yang pakai revaluasi, beda usia aset, beda komposisi menara ground-based versus rooftop, beda porsi fiber dan perangkat pendukung yang ikut masuk akun, bahkan beda definisi lokasi menara.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau investor mau membuatnya lebih jujur, anggap estimasi itu sebagai rentang, bukan titik. Misalnya, kalau rata-rata nilai per menara emiten lain 20% lebih tinggi dari benchmark TOWR karena revaluasi atau menara premium, maka estimasi jumlah unit akan turun 20%. Sebaliknya, kalau nilai per menara 20% lebih rendah karena portofolionya menara biaya rendah atau aset sudah tua, estimasi jumlah unit bisa naik 20%. Artinya, ranking kasar mungkin masih berguna untuk orientasi, tapi untuk keputusan, investor tetap harus kembali ke metrik yang lebih dekat ke operasi, seperti total leases, tenancy ratio, komposisi pelanggan, dan tren FCF.
TOWR unggul karena investor bisa menghitung rantai penuh dari unit ke produktivitas, dari 33.739 menara beroperasi sampai 58.213 leases dan tenancy ratio 1,725x, lalu mengaitkan ke nilai per unit Rp1,038 miliar secara nilai buku neto atau Rp1,281 miliar secara biaya perolehan. Emiten lain banyak yang membuat investor hanya bisa menilai lewat angka aset, sehingga perbandingan skala jadi seperti menilai pabrik tanpa tahu jumlah mesinnya. Jadi kalau investor ingin membandingkan trend industri menara secara lebih adil, urutannya begini, pertama cari data unit dan kepadatan sewa kalau ada, kedua cek apakah aset menara berbasis biaya atau revaluasi, ketiga baru baca rasio kas seperti CFO dan FCF karena di bisnis menara, kas adalah hakim terakhir, sementara angka aset bisa menjadi kabut yang menipu.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$TOWR $MTEL $CENT
1/8








Perusahaan Menara Terbesar di Indonesia: $MTEL vs $TOWR vs $TBIG
Pertanyaan salah satu user Stockbit bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Perusahaan menara di IHSG itu tidak terlalu banyak. Justru karena sedikit, efeknya ke ekosistem telekomunikasi jadi besar, karena menara itu seperti jalan tol, semua operator lewat situ, dan yang pegang gerbang tol bisa mengatur ritme industri. Banyak investor terlalu fokus ke telko yang jual paket data, padahal pabrik uang yang paling kalem sering ada di layer infrastruktur, kontraknya panjang, tagihannya rutin, dan arus kasnya tebal. Masalahnya, di industri menara yang terlihat tenang ini, kompetisi tetap brutal dalam bentuk akuisisi, efisiensi capex, dan perebutan kontrak multi-tahun. Jadi kalau investor mau menilai siapa yang sedang unggul, jangan cuma lihat laba bersih, lihat juga skala aset, komposisi pelanggan, dan seberapa kencang arus kas bebasnya. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau dibawa ke peta besar, ada tiga nama yang sering jadi acuan, TOWR, MTEL, dan TBIG. Dari sisi tren industri, tiga-tiganya sedang bergerak dari fase membangun besar-besaran menuju fase memanen, terlihat dari capex yang turun tajam secara tahunan, TOWR turun 33%, MTEL turun 23,7%, dan TBIG turun 22%. Ini penting karena bisnis menara itu biasanya berat di awal, lalu jadi mesin kas ketika portofolio sudah matang, tenant bertambah, dan kontrak sewa berjalan stabil. Pada titik ini, yang menang biasanya bukan yang paling heboh membangun, tapi yang paling efisien mengubah revenue menjadi kas, lalu kas menjadi arus kas bebas.
Sekarang bandingkan skala dan ekosistemnya. MTEL punya kartu truf yang tidak dimiliki pemain lain, statusnya anak TLKM, sehingga ada jangkar demand yang sangat kuat dari Telkomsel. Di 9M 2025, Telkomsel menyumbang 55% revenue MTEL, setara Rp3,78 triliun, ini seperti punya penyewa utama yang tidak gampang kabur. Efeknya bukan cuma stabilitas revenue, tapi juga bargaining power saat MTEL mau ekspansi ke menara baru, in-building coverage, atau jaringan kabel, karena demand awal sudah ada. Namun konsekuensinya jelas, konsentrasi pelanggan jadi risiko yang harus ditelan, karena lebih dari 60% pendapatan jika digabung dengan Telkom group lain berarti nasib MTEL sensitif terhadap kebijakan belanja induknya.
Kalau investor fokus ke kualitas kas, MTEL terlihat sangat kuat. CFO MTEL 9M 2025 mencapai Rp5,68 triliun, sementara laba bersihnya Rp1,54 triliun, artinya kas operasional masuk 3,68 kali lebih besar dari laba akuntansi. Ini pola khas bisnis infrastruktur yang sehat, laba bisa terlihat moderat karena penyusutan dan akuntansi, tapi kasnya deras karena kontrak sewa berjalan dan tagihan tertagih. Setelah dikurangi capex Rp1,30 triliun, MTEL masih menyisakan FCF Rp4,38 triliun, ini yang bikin MTEL punya ruang napas untuk ekspansi organik, akuisisi selektif, atau memperkuat neraca. Bahkan secara teori, dengan FCF tahunan, MTEL bisa melunasi utang pendanaannya sekitar 3,5 tahun, angka ini memberi sinyal daya tahan yang tinggi saat bunga naik atau kompetisi makin ketat.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Namun menariknya, kalau dilihat dari rasio industri, MTEL bukan yang paling dominan di semua metrik. Di 9M 2025, Capex terhadap Revenue, MTEL 18,86% lebih hemat dibanding TOWR 23,79% dan jauh di bawah TBIG 31,40%. Artinya, TBIG sedang menekan gas investasi paling dalam, bisa berarti mengejar pertumbuhan portofolio atau upgrade aset, tapi konsekuensinya arus kas bebas relatif lebih tertekan dibanding jika capex lebih rendah. Di sisi lain, CFO terhadap Revenue, TOWR unggul di 88,59%, sementara MTEL 82,53% dan TBIG 82,05%, jadi TOWR paling jago mengubah revenue menjadi kas operasional, ini keunggulan yang sering tidak terlihat kalau investor cuma baca laba.
Kalau investor mau metrik yang paling terasa untuk pemegang saham dan daya tahan bisnis, lihat FCF terhadap Revenue. TOWR 64,80% dan MTEL 63,67% itu dua angka yang sangat tinggi, TBIG 50,65% masih bagus tetapi kalah tebal. Ini menjelaskan kenapa industri menara sering dipandang seperti mesin kas, ketika fase pembangunan melambat, setiap rupiah revenue bisa berubah jadi kas bebas dalam porsi besar. Net margin, TOWR kembali memimpin 26,36%, sementara MTEL 22,41% dan TBIG 22,25%, jadi TOWR terlihat paling rapi di level bottom line. Tetapi di sini investor perlu hati-hati, margin tinggi di industri ini bisa dipengaruhi struktur depresiasi, struktur utang, dan komposisi bisnis tambahan seperti fiber atau jasa lainnya. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Metrik yang sering bikin investor kebuka matanya adalah perbandingan Laba Bersih terhadap CFO. TOWR 29,75%, MTEL 27,15%, TBIG 27,12%, tiga-tiganya relatif mirip, dan ini memberi pesan bahwa laba bersih memang bukan representasi kas yang masuk, karena kasnya jauh lebih besar dari laba. Di sini keunggulan MTEL bukan sekadar angka rasio, tapi konteks, kas yang besar itu disokong ekosistem grup, sehingga secara siklus bisnis terasa lebih defensif. Sementara TOWR unggul karena efisiensi monetisasi aset, jadi saat capex turun, mereka bisa memeras lebih banyak kas dari basis aset yang sudah ada.
Kalau bicara tren pertumbuhan, gambarannya juga menarik. Revenue growth 9M 2025 versus 9M 2024, TOWR memimpin 2,52%, TBIG 0,70%, MTEL -0,16% yang artinya stagnan cenderung turun tipis. Net profit growth, TOWR naik 3,05%, MTEL naik 0,61%, TBIG justru turun -4,96%. Ini pola yang nyambung dengan cerita besar tadi, industri sedang panen kas, tetapi pertumbuhan revenue mulai melambat, sehingga permainan bergeser ke efisiensi, pengelolaan biaya, dan strategi inorganik seperti akuisisi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Di sinilah gaya bertarung tiap emiten terlihat beda. TOWR lebih berani bermain inorganik, beberapa tahun terakhir melakukan akuisisi seperti IKS pada Maret 2024, IBST pada Juli 2024, dan MAN pada September 2025, ini seperti strategi mempercepat skala tanpa menunggu build organik. MTEL lebih seimbang, tetap punya backlog jasa konstruksi dan manajemen proyek Rp267,67 miliar yang memberi tambahan aktivitas di luar sewa, sambil tetap menjaga efisiensi capex. TBIG terlihat masih relatif agresif di investasi fisik, tercermin dari Capex terhadap Revenue yang paling tinggi, sehingga narasinya lebih ke penguatan portofolio dan kapasitas jangka panjang, meskipun jangka pendeknya FCF relatif tidak setebal dua pesaingnya.
Soal skala aset, investor juga perlu melihat ini dengan kacamata yang benar. TOWR punya total aset Rp78,29 triliun, MTEL Rp58,05 triliun, TBIG Rp44,72 triliun. Di atas kertas TOWR paling besar, tetapi investor harus ingat aset TOWR juga memuat goodwill akuisisi yang besar, jadi skala besar tidak selalu berarti aset fisik menara paling dominan, bisa juga berarti strategi ekspansi via M&A yang mengangkat goodwill di neraca. MTEL lebih menarik dari sisi ekosistem, karena aset yang lebih kecil dari TOWR tetap bisa menghasilkan arus kas yang sangat tebal berkat anchor tenant Telkomsel. TBIG berada di posisi menengah yang bisa terlihat kurang mencolok, tetapi tetap berada di liga yang sama sebagai penyedia infrastruktur yang kontraknya panjang dan cash generative. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau masuk ke segmen, ketiganya memang sama-sama bergantung pada sewa menara sebagai kontributor di atas 90%. Tetapi perbedaannya ada di mesin pertumbuhan tambahan. TOWR punya segmen jasa lainnya yang tumbuh dari Rp902 miliar menjadi Rp1,18 triliun, naik 31%, ini sinyal diversifikasi yang sedang berhasil. TBIG punya pertumbuhan di serat optik dari Rp411 miliar menjadi Rp469 miliar, naik 14%, jadi ada dorongan dari fiber sebagai pelengkap menara. MTEL justru pendapatan jasa lainnya turun dari Rp452 miliar ke Rp391 miliar, jadi untuk MTEL, cerita utamanya tetap menara dan ekosistem telko grup, bukan jasa tambahan.
Sekarang bagian yang sering dilupakan investor, risiko neraca dan likuiditas. MTEL punya defisit modal kerja Rp5,03 triliun karena liabilitas jangka pendek besar, tetapi konteksnya biasanya tertolong oleh fasilitas pinjaman jangka panjang dan kemampuan FCF yang tebal. Ini beda dengan perusahaan yang defisit modal kerja karena kasnya kering, MTEL defisit modal kerja tetapi mesin kasnya kuat, jadi risikonya lebih ke manajemen struktur utang dan jatuh tempo, bukan ke ketidakmampuan menghasilkan uang. Risiko yang lebih strategis tetap konsentrasi pelanggan, karena ketika sebagian besar revenue datang dari keluarga sendiri, stabil, tetapi ruang negosiasi harga dan volume bisa dipengaruhi kebijakan grup.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Jadi TOWR unggul di efisiensi kas dan profitabilitas, CFO terhadap Revenue 88,59% dan net margin 26,36%, lalu ditopang strategi akuisisi yang membuat pertumbuhan tetap hidup saat industri mulai melambat. MTEL unggul di daya tahan ekosistem dan kualitas kas, FCF Rp4,38 triliun, CFO 3,68 kali laba, serta jangkar Telkomsel 55% revenue, ini membuat MTEL terasa seperti infrastruktur negara versi korporasi. TBIG unggul di intensitas investasi, Capex terhadap Revenue 31,40% menunjukkan mereka masih membangun dan menguatkan kapasitas, cocok untuk investor yang percaya fase berikutnya masih membutuhkan ekspansi aset dan fiber lebih agresif. Jadi pada fase industri menara yang sudah masuk mode panen, pemenang bukan cuma yang paling besar, tetapi yang paling disiplin mengubah pendapatan menjadi kas, dan paling cerdas memilih kapan ekspansi organik, kapan akuisisi, dan kapan menahan diri.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










$IHSG $YELO $MTEL
Edukasi 11 Januari 2026
Judul : Volume = Bensin di Balik Pergerakan Harga
Harga saham itu ibarat mobil.
Volume = bensin.
Mau mobilnya sport sekalipun, tanpa bensin ya cuma bisa dipandangin doang.
Banyak trader pemula fokus ke candle doang, lupa ngecek volume.
Padahal… harga bisa bohong, volume jarang bohong.
Penjelasan Intinya
Volume menunjukkan berapa banyak saham berpindah tangan.
Artinya:
Apakah pergerakan harga didukung banyak pelaku pasar?
Atau cuma digerakkan segelintir pihak?
Naik tanpa volume itu kayak pesta tapi tamunya cuma panitia.
📌 Poin-Poin Penting yang Perlu Diperhatikan
1. Harga Naik + Volume Naik
Ini kombinasi paling sehat.
Artinya:
Banyak yang beli
Demand nyata
Potensi lanjut naik masih ada
Biasanya tanda awal trend atau continuation.
2. Harga Naik + Volume Turun
Hati-hati.
Ini sering terjadi di:
Akhir trend naik
Fase distribusi halus
Naiknya masih jalan, tapi yang dorong makin sedikit.
Ibarat orang dorong mobil sendirian, lama-lama capek.
3. Harga Turun + Volume Besar
Ini tanda:
Panic sell
Distribusi agresif
Support bisa jebol
Biasanya jangan sok pahlawan dulu. Tunggu market tenang.
4. Volume Spike (Lonjakan Tiba-Tiba)
Lonjakan volume itu alarm.
Tinggal cek:
Apakah harga ikut naik? bisa akumulasi
Apakah harga stagnan? bisa ada transaksi besar tersembunyi
Apakah harga turun? distribusi
Volume spike tanpa berita sering lebih jujur daripada berita.
5. Bandingkan dengan Rata-Rata Volume
Jangan lihat volume hari ini doang.
Bandingkan dengan:
Average volume 20 hari
Average volume 1 bulan
Volume hari ini ≥ 2x rata-rata patut diperhatikan.
6. Volume di Area Support & Resistance
Ini penting banget:
Di support + volume naik buyer masuk
Di resistance + volume melemah buyer mulai ragu
Break resistance + volume besar breakout valid
7. Volume Mendahului Harga
Sering kejadian:
Volume naik dulu
Harga baru nyusul beberapa hari kemudian
Ini biasanya tanda smart money mulai masuk.
🎯 Kesimpulan Gampangnya
Harga itu cerita yang terlihat, volume itu dalang di balik layar.
Kalau dua-duanya sejalan, analisis makin kuat.
🔥 Mini Challenge Buat Kalian
Ambil 1 saham yang Harganya naik tapi terasa “aneh”
atau Harganya stagnan tapi volume naik. kemudian perhatikan dan analisa sendiri.
bila kalian suka edukasi semacam ini silahkan like 👍 follow 💘 dan shere 🔁 biar tambah semangat mengedukasi dan supaya kita di dunia saham ini bukan tergolong orang-orang yang beli ikan dalam kolam yang nggak tau arah dan kadarnya.
salam cuan 💸 selamat melanjutkan aktivitas
Disclaimer: https://stockbit.com/post/26240234
Knp sy yakin profit Q4 2025 $ERAA bakal MELEDAKKK? Krn sudah sy hitung, data keuntungan jualan IPhone 2 jt/unit, jauh lebih tinggi dari HP China/Korea. Data orderan IPhone 17 adalah belasan ribu unit/minggu, anggap 50 ribu unit/bulan. Mari kita berhitung Q4 2025, 50 rb x 4 bulan = 200 rb x 2 jt = 400.000.000.000, laba dari IPhone 17 saja sudah 400 M, belum dari Iphone seri lain, lalu aksesoris, jualan mobil listrik, F&B dll, bisa tembus 500-600 M $MTEL $TLKM

$MTEL yang akuu call beberapa harii lalu udah naik
dan akan ada party ke-2
u so pretty baby!!!
$PWON $DADA
