550

+5

(0.92%)

Today

16.19 M

Volume

25.02 M

Avg volume

Company Background

PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel adalah salah satu anak perusahaan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. yang bergerak di bidang penyediaan infrastruktur telekomunikasi. Mitratel mulai menapaki bisnis menara telekomunikasi sejak tahun 2008. Sampai saat ini, Mitratel telah mengelola lebih dari 28.000 menara telekomunikasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Semua operator seluler Indonesia telah menjadi tenant dengan menempatkan perangkat BTSnya di menara Mitratel.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Pemain Telco Makin Sedikit, Bisnis Menara Makin Berat?

Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Perang menara telekomunikasi makin keras. Ini bukan lagi lomba siapa paling banyak menara, tapi siapa paling tahan banting ketika pelanggan makin sedikit dan makin kuat daya tawarnya. Konsolidasi operator membuat permintaan lokasi bisa dipangkas karena ada overlap, sementara penyedia menara dipaksa lebih agresif menjaga tarif dan retensi. Sekarang sisa TLKM, ISAT, EXCL yang main bisnis telco mobile Di saat yang sama, kebutuhan kualitas jaringan bisa naik, jadi tekanannya tidak satu arah, tetapi tetap membuat negosiasi makin tajam. Pada fase seperti ini, investor harus melihat perang menara ini dengan dua perspektif yakni stabilitas kontrak lama dan kemampuan menciptakan pendapatan baru. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Peta persaingan menara telekomunikasi saat ini dikuasai oleh tiga raksasa yang mendominasi dari sisi aset.
1. $TOWR memiliki aset Rp78,29 triliun
2. $MTEL Rp58,04 triliun
3. $TBIG Rp44,71 triliun.

Dari data itu jelas, TOWR yang paling besar neracanya dan itu memberi ruang manuver, baik untuk bertahan di perang harga maupun melakukan ekspansi. Skala aset juga biasanya berhubungan dengan skala operasional dan kemampuan akses pendanaan. Namun skala aset gede sendiri bukan jaminan, karena perang industri sering dimenangkan oleh efisiensi dan kekuatan kontrak.

Tekanan terbesar justru datang dari sisi pelanggan. Indosat dan Hutchison 3 Indonesia bergabung menjadi IOH. Lalu XL Axiata, Smartfren, serta Smart Telecom melebur menjadi XLSMART efektif April 2025. Ketika operator berkurang jumlahnya, daya tawar operator yang tersisa naik. Ini berpotensi memicu renegosiasi harga sewa, konsolidasi lokasi, dan permintaan paket layanan yang lebih kompetitif. Artinya, penyedia menara harus lebih kreatif agar tidak cuma jadi price taker. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Dalam situasi seperti itu, strategi TOWR terlihat mencoba keluar dari perang harga menara dengan membangun mesin pendapatan tambahan. Mereka mendorong Jasa Lainnya melalui iForte, termasuk wireline, serat optik, VSAT, dan konektivitas broadband. Ini adalah cara mengubah hubungan dengan operator dari sekadar sewa titik menara menjadi penyedia infrastruktur yang lebih menyeluruh. Jika operator sudah memakai jaringan fiber yang terintegrasi, biaya pindah vendor jadi lebih mahal. Itu bisa menjadi bentuk perlindungan bisnis ketika sewa menara tertekan.

Bukti paling konkret dari diversifikasi TOWR ini ada pada komposisi pendapatan Revenue di LKK. Total pendapatan TOWR mencapai Rp9,68 triliun, dan bisnis Jasa Lainnya menyumbang Rp3,31 triliun atau 34% dari total revenue. Ini angka yang besar untuk ukuran bisnis menara, karena menunjukkan pendapatan non-menara sudah jadi pilar kedua. Sisi baiknya, ketergantungan terhadap sewa menara berkurang. Sisi kurang enaknya, porsi 66% masih berasal dari selain Jasa Lainnya, jadi TOWR belum bisa sepenuhnya lepas dari nasib industri menara yang sedang ketat.

Di level operasional menara, TOWR juga masih memegang skala yang impresif. Total site leases mencapai 58.213 penyewa dengan 33.739 lokasi menara yang sudah beroperasi. Ini penting karena skala seperti ini biasanya meningkatkan efisiensi pemeliharaan dan membuka peluang kolokasi. Skala operasional juga bisa memperkuat posisi negosiasi dengan vendor dan pelanggan. Namun skala ini juga berarti tantangan retensi lebih kompleks saat operator melakukan rasionalisasi lokasi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

TOWR juga memilih jalur pertumbuhan inorganik untuk menjaga dominasi dan memperluas layanan. Mereka menyelesaikan akuisisi 99,98% saham IBST pada Oktober 2024, lalu mengakuisisi 51% saham Media Antar Nusa pada September 2025. Akuisisi ini bisa mempercepat perluasan jaringan dan basis pelanggan tanpa menunggu pertumbuhan organik. Tapi masalahnya adalah integrasi bisa makan waktu, dan sinergi yang dijanjikan tidak selalu mudah terealisasi, apalagi di industri yang sedang menekan harga.

Di aset TOWR ada aset di atas kertas yang disebut dengan goodwill sebesar Rp15,77 triliun. Goodwill sebesar ini adalah harga harapan atas sinergi masa depan dari akuisisi-akuisi tersebut. Ini bagus kalau sinergi benar-benar berubah jadi arus kas yang stabil dan berulang. Ini bisa buruk kalau pertumbuhan industri melambat, kontrak melemah, atau biaya integrasi membengkak, karena goodwill bisa berujung impairment yang menghantam laba. Jadi, goodwill membuat cerita TOWR jadi lebih cerita harapan ke eksekusi manajemen. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kabar baiknya, arus kas operasional terlihat kuat dan memberi ruang napas. TOWR mencatat CFO bersih Rp8,58 triliun, sementara beban bunga Rp2,13 triliun. Secara kasar, CFO sekitar 4 kali beban bunga, ini bantalan yang menenangkan karena perusahaan mampu membayar kewajiban finansial dari kas operasi. Ini juga berarti TOWR tidak sepenuhnya tergantung pada utang baru untuk menjalankan bisnis. Namun beban bunga tetap besar, sehingga ketika suku bunga tinggi bertahan lama, fleksibilitas investasi bisa terasa lebih sempit.

Ada juga sisi manajemen talenta dan insentif yang ikut mempengaruhi kemampuan eksekusi. TOWR menjalankan program MESOP dengan harga pelaksanaan opsi saham Rp285 per saham pada skema perpanjangan MESOP I. Dari sisi positif, ini mendorong retensi manajemen kunci saat industri sedang memasuki fase sulit. Dari sisi negatif, ini adalah bentuk biaya insentif yang harus dibayar oleh pemegang saham lewat dilusi atau kompensasi, dan manfaatnya hanya nyata jika eksekusi bisnis benar-benar menghasilkan. Apalagi manajemen bisa Guyur market karena harga beli mereka di 285 rupiah.

Strategi TOWR terlihat rasional untuk menghadapi konsolidasi operator. Mereka memperbesar switching cost lewat fiberisasi dan layanan terkelola, menjaga skala menara, dan memperluas portofolio lewat akuisisi. Namun ini juga membuat kompleksitas meningkat, karena bisnis non-menara punya dinamika kompetisi sendiri, dan akuisisi membawa risiko integrasi. Jadi, kualitas implementasi lebih menentukan daripada sekadar rencana.

Syarat agar ini benar-benar menjadi cerita baik ada beberapa, dan sebagian baru terlihat separuh. Pertama, diversifikasi harus menghasilkan pendapatan berulang yang stabil tanpa mengorbankan margin, bukti yang sudah ada baru porsi revenue Jasa Lainnya 34%, belum ada data margin segmen di potongan ini. Kedua, sinergi akuisisi harus terbukti agar goodwill Rp15,77 triliun tetap aman, bukti yang ada baru skala dan struktur transaksi, belum ada data performa pasca integrasi per entitas. Ketiga, arus kas harus terus cukup untuk capex dan servis utang, bukti awalnya ada karena CFO Rp8,58 triliun jauh di atas beban bunga Rp2,13 triliun, tetapi disiplin investasi dan disiplin kontrak tetap jadi kunci ketika perang menara makin keras. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

āš”ļø Perang Menara
šŸ—ļø Big 3 aset
šŸ‘‘ TOWR Rp78,29 triliun
🄈 MTEL Rp58,04 triliun
šŸ„‰ TBIG Rp44,71 triliun

šŸ”— Pelanggan makin kuat
🧩 IOH hasil merger Indosat dan Hutchison 3
šŸ“Œ XLSMART merger XL Smartfren Smart Telecom efektif April 2025
āš ļø Risiko renegosiasi tarif dan pangkas site overlap

🧭 Jurus TOWR
🧵 Jasa Lainnya via iForte
šŸ“Š 9M 2025 pendapatan Rp9,68 triliun
🟢 Jasa Lainnya Rp3,31 triliun 34%
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

šŸ—¼ Skala operasi
šŸ“ Menara aktif 33.739
šŸ“Ž Site leases 58.213

šŸ¤ M&A
🧷 IBST 99,98% Oktober 2024
šŸ›°ļø MAN 51% September 2025

šŸ’§ Daya tahan kas
šŸ’µ CFO Rp8,58 triliun
šŸ’ø Bunga Rp2,13 triliun sekitar 4x

🧨 Risiko neraca
šŸ“Œ Goodwill Rp15,77 triliun

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/10

testestestestestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

ANALISA SAHAM $LIVE

Harga Sekarang: Rp 244

Zona Area Beli Aman:
Rp 230 – 238
• Area support kuat, cocok untuk entry aman jika harga pullback ke zona ini, Boss

Zona Stoploss:
< Rp 220
• Jika turun di bawah level ini, struktur swing melemah dan rawan koreksi lebih dalam, Boss

Jika naik & breakout:
> Rp 255 → ENTRY LANJUTAN (tambah posisi)
• Breakout 255 berpotensi memicu momentum bullish lanjutan, Boss

Target Profit:
• TP1 = Rp 275
• TP2 = Rp 300 – 320

Keterangan Tambahan:
• Selama harga bertahan di atas 230, peluang swing bullish tetap terjaga, Boss
• Saham small cap, volatilitas tinggi dan sangat sensitif terhadap volume
• Breakout valid jika disertai volume meningkat

Analisa saya boleh bantu, tapi keputusan tetap milik Boss.

Ayo REQUEST SAHAM di kolom komentar seperti

$MTEL $DART
,DM ā€œmauā€ jika ingin dianalisa sahamnya

Support like agar terus update!!!

Follow untuk ikuti flowchart keputusan saham trend

Kalau postingan ini bermanfaat, boleh banget kasih tip lewat tombol bergambar šŸ’² di bawah ya. Terima kasih banyak šŸ™

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$MTEL

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$MTEL, sepertinya si dia belum tergiur sama offer yg belum sexy. bukan untuk bsjp, bpjs ini.
target 630an šŸ˜€

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

⭐ Pengendali sebenarnya peduli sama $TOWR šŸ—¼

Kalau kalian perhatiin SQ sebagai pengendali yang lagi proses buyback, SQ dari kemarin-kemarin selalu menahan harga biar gak kena mark-down atau mark-up.

Contoh hari ini bisa dicek broker flow. MG ngehaka TOWR dan SQ langsung bereaksi buat jual lagi sahamnya untuk nahan laju harga. Kalau kita cek juga kemarin, SQ langsung bereaksi pasang bid buat jagain harga dari rentetan offer dari AK dan OD.

Apa artinya? ini berarti SQ berkemungkinan besar ingin proses buyback di harga sekarang dan masih belum mau harganya naik ataupun turun. Kalau harga naik, maka avg SQ bakal naik yang berarti floating profiit berkurang.

Namun kenapa gak dibiarin aja harganya turun ke bawah? Padahal kan enak bisa serok lagi di harga bawah. Soal ini hanya pengendali (SQ) yang tahu kenapa. Tapi menurut saya pengendali gak biarin saham terjun terus serok bawah buat buyback karena kalau sahamnya turun, akan terjadii:
- Market panik
- Retail cut loss
- Bisa dianggap ada masalah fundamental sama investor
- Isu negatif bisa aja muncul (gosip)

āš ļø Kalau harga turun terlalu dalam:
- Support penting bisa jebol
- Stop loss besar-besaran terpancing
- Algoritma trading ikut jual (biasanya dari sisi broker foreign)

Jadi apa yang perlu kalian lakukan kalau situasi stagnan seperti ini? SABAR. Yap, based on fundamental ini saham sehat banget sih dan mereka juga punya beberapa proyek:
šŸ“… 2025
- Ekspansi menara & jaringan fiber (FTTT, FTTH)
- Rights issue ± Rp5,5 triliun untuk perkuat struktur modal
- Potensi peningkatan kepemilikan di Protelindo
- Masuk bisnis energi terbarukan (PLTS)
- Penguatan layanan digital & enterprise
šŸ“… 2026
- Eksekusi dana hasil rights issue
- Fokus stabilitas keuangan & efisiensi
- Optimalkan tenancy ratio menara
- Lanjutkan ekspansi fiber & infrastruktur digital

Jadi buat holder TOWR (termasuk saya), kita cuman bisa duduk tenang sampai proses buyback kelar. kalau pun turun jauh tinggal avg down lagi ke bawah. TOWR berencana buyback hingga 1 Mei 2026 dengan dana 300 Milyar. Bahkan mereka belum sepertiganya mengeluarkan dana untuk buyback pada hari ini.

$MTEL $IHSG

Read more...

1/2

testes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$MTEL

wew 811k lot. penasaran siapa dia šŸ‘

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$MTEL gimana kawan2? Ada yang sudah bosan disini?

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$MTEL positif ARA ā˜†ā˜†ā˜†ā˜†ā˜†

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$MTEL bukan buyback ini mah..tp comeback mulu..

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

SAHAM : $WIIM
HARGA SAAT INI : 2030

1ļøāƒ£ TREN & STRUKTUR HARGA (Swing View)
- Tren Utama : Sideways cenderung rebound
- Timeframe Acuan : Daily (Swing Trader)
- Catatan : Harga bergerak konsolidasi setelah koreksi dari area atas. Struktur masih fase base dan belum konfirmasi uptrend baru, namun peluang swing rebound terbuka selama support kunci bertahan.

2ļøāƒ£ SUPPORT & RESISTANCE
- Support Minor : 1970
- Support Kunci : 1880
- Resistance 1 : 2120
- Resistance 2 : 2250

3ļøāƒ£ KONDISI VOLUME & BANDAR
- Analisa volume : Relatif stabil
- Indikasi : Akumulasi bertahap
- Selama harga di atas 1880 → masih dijaga

4ļøāƒ£ RISK / REWARD (WAJIB)
- Entry Acuan : 2030
- Stop Loss : 1820
- Target Swing : 2200
- Risk : Reward : ±1 : 0,8 (CUKUP)

5ļøāƒ£ FUNDAMENTAL SINGKAT
- Emiten rokok, sensitif terhadap regulasi cukai dan daya beli
- Cocok untuk swing / rebound hingga mid-term dengan pendekatan konservatif

šŸ“Œ KESIMPULAN SWING TRADER
- WIIM layak untuk swing rebound selama bertahan di atas support kunci 1880
- Target area 2120–2250, risiko meningkat jika breakdown 1880

Analisa ini panduan ya Boss, eksekusi tetap kembali ke gaya trading Boss.

Ayo REQUEST SAHAM di kolom komentar seperti
$BBCA $MTEL
,DM ā€œmauā€ jika ingin dianalisa sahamnya

Support like agar terus update!!!

Follow untuk ikuti flowchart keputusan saham trend

Kalau postingan ini bermanfaat, boleh banget kasih tip lewat tombol bergambar šŸ’² di bawah ya. Terima kasih banyak šŸ™

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Semoga dikasih jalan $MTEL

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

FIXED CLOSING
-----------------------------
[WATCHLIST ONLY : 141 EMITEN]

Rabu, 11 February 2026 15:59
Saham potensial gap-up/down di CLOSING market, diurut berdasarkan nilai persentase:
(cukup pantau baris paling atas dan paling bawah untuk cek gap terbesar):

GAP UP:
šŸ”¼ $BLUE gap up ke 6900 (+200 / +2.99%) dari 6700
šŸ”¼ $MTEL gap up ke 545 (+10 / +1.87%) dari 535
šŸ”¼ PBSA gap up ke 1490 (+25 / +1.71%) dari 1465
šŸ”¼ ASDM gap up ke 655 (+10 / +1.55%) dari 645
šŸ”¼ TLKM gap up ke 3530 (+40 / +1.15%) dari 3490
šŸ”¼ EMTK gap up ke 925 (+10 / +1.09%) dari 915
šŸ”¼ UNTR gap up ke 28450 (+200 / +0.71%) dari 28250
šŸ”¼ ULTJ gap up ke 1550 (+10 / +0.65%) dari 1540
šŸ”¼ ASGR gap up ke 1785 (+10 / +0.56%) dari 1775
šŸ”¼ GGRM gap up ke 16300 (+75 / +0.46%) dari 16225
šŸ”¼ ITMG gap up ke 22250 (+50 / +0.23%) dari 22200

GAP DOWN:
šŸ”½ BBNI gap down ke 4480 (-20 / -0.44%) dari 4500
šŸ”½ MCOL gap down ke 3470 (-20 / -0.57%) dari 3490
šŸ”½ MDKA gap down ke 3160 (-20 / -0.63%) dari 3180
šŸ”½ NISP gap down ke 1540 (-10 / -0.65%) dari 1550
šŸ”½ INDF gap down ke 6700 (-50 / -0.74%) dari 6750
šŸ”½ $PNGO gap down ke 3110 (-70 / -2.2%) dari 3180

Cek ulang semuanya dan IEP bisa berubah smp menit terakhir. Salam Cuan.

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

IHSG hijau, dia merah. IHSG merah, dia merah juga. Tel Metel $MTEL

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$MTEL terlihat sangat menarik. Posisi harga sudah di bawah.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$MTEL ini kok lesuu wkwk

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

grafik $MTEL kalau dilempari balon pecah itu balon, tajem banget

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Saham Menara yang Nyangkut di Saham Buyback Sendiri

Banyak perusahaan menara yang saat ini nyangkut dari sisi buyback dan MESOP. Bahkan mereka sendiri pun nyangkut di saham sendiri, seperti investor ritel selot-selot macam kita. Masalahnya bukan cuma harga turun, tetapi narasi korporasinya jadi terlihat tidak sinkron. Saat manajemen bilang undervalued lalu buyback di harga tinggi, tetapi harga pasar tetap lebih rendah, pasar membaca satu hal, keyakinan manajemen belum cukup kuat untuk mengalahkan sentimen. Saat MESOP dipasang di harga yang tidak realistis, insentif karyawan mandek, sementara investor merasa ada desain kompensasi yang tidak nyambung dengan realitas market. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Secara substansi, buyback itu hanyalah sinyal dan alat, bukan jaminan. Sinyal karena manajemen menunjukkan keberanian memakai kas untuk membeli saham sendiri. Alat karena bisa menyerap tekanan jual, mengurangi jumlah saham beredar, dan memberi ruang untuk kebutuhan ekuitas seperti program kompensasi. Tetapi makna nyangkut muncul saat harga rata-rata beli atau plafon buyback lebih tinggi dari harga pasar sekarang, sehingga treasuri terlihat underwater dan pasar bertanya, apakah manajemen membaca siklus dengan tepat, atau sekadar memaksakan optimisme. Di sisi lain, Management and Employee Stock Option Program (MESOP) itu pedang bermata dua, kalau strike di atas harga pasar, opsi mati suri dan tidak ada dilusi, tapi juga tidak ada dorongan kinerja, kalau strike jauh di bawah harga pasar, opsi hidup dan memotivasi, tetapi investor bisa merasa ada transfer nilai melalui dilusi.

Kasus $TOWR paling jelas karena ada tiga lapis harga MESOP dan satu lapis buyback yang seolah berbicara dengan nada berbeda. Harga pasar saat ini Rp525, sementara plafon buyback mengimplikasikan harga maksimal sekitar Rp675, sekitar 28,57% di atas harga pasar. MESOP I asli di Rp1.000, sehingga harga pasar masih 47,50% di bawah strike, atau strike-nya 90,48% lebih tinggi dari harga pasar, ini jelas out of the money dan tidak menggigit. Sebaliknya MESOP II di Rp392 dan perpanjangan MESOP I di Rp285 itu justru in the money, masing-masing strike sekitar 25,33% dan 45,71% di bawah harga pasar. Jadi jelas, TOWR sedang membenahi desain insentif agar kembali relevan, sekaligus mencoba membangun lantai harga melalui buyback, tetapi konsekuensinya treasuri bisa cepat terpakai untuk eksekusi MESOP sehingga efek buyback ke jumlah saham beredar terasa lebih tipis.

$MTEL terlihat paling klasik dan justru paling nyangkut secara psikologis, karena semua instrumen utamanya berada di atas harga pasar. Harga pasar MTEL saat ini Rp540, sementara harga rata-rata treasuri dari program buyback sekitar Rp698, sekitar 29,26% di atas harga pasar. Harga MESOP tahap I Rp720, tahap II Rp636, tahap III Rp582, bahkan strike terendah Rp582 masih 7,78% di atas harga pasar, jadi masih out of the money tipis. Esensinya, MTEL punya stok treasuri besar yang dibeli mahal di siklus sebelumnya, dan sekarang pasar belum memberi ruang untuk pulang ke area itu. Kelebihannya, karena opsi masih out of the money, risiko dilusi dari MESOP saat ini relatif rendah, kelemahannya, insentif berbasis saham jadi kurang menggigit sampai harga pulih, dan posisi treasuri tetap menjadi pengingat bahwa stabilisasi harga pernah dilakukan di level yang lebih tinggi. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

$TBIG adalah contoh buyback yang agresif, lalu ditutup dengan langkah resell yang membuat cerita modalnya jadi unik. Harga pasar saat ini Rp1.710, sementara rata-rata buyback Mei 2024 sampai Juni 2025 sekitar Rp1.935, itu 13,16% di atas harga pasar. Rata-rata buyback 9M 2025 sekitar Rp2.097, itu 22,63% di atas harga pasar. Lalu ada resell treasuri ke pengendali di Rp2.138, itu 25,03% di atas harga pasar saat ini. Interpretasinya, TBIG menilai nilai wajarnya lebih tinggi dari harga sekarang, tetapi mereka juga pragmatis, treasuri bisa dijadikan instrumen manajemen permodalan, bukan sekadar parkir saham. Kelebihan TBIG ada pada fleksibilitas, mereka bisa menyerap saham saat harga rendah relatif terhadap keyakinan internal, lalu mengelola kembali struktur modal melalui penjualan, kelemahannya, investor bisa mempertanyakan apakah buyback itu murni untuk semua pemegang saham, atau juga bagian dari rekayasa arsitektur kepemilikan dan agio.

Kalau ditarik ke trend dividen, terlihat dua dunia yang berbeda antara emiten yang matang dan emiten yang sedang mengatur napas kas. Dividend Per Share (DPS) 2025 untuk BALI Rp50 naik 150,00%, GHON Rp180 naik 9,09%, MTEL Rp25,33 naik 40,64%. Di sisi lain TBIG Rp48,73 turun 11,72% dan TOWR Rp15,90 turun 34,02%, sementara CENT tetap nol. Substansinya, buyback dan MESOP biasanya muncul kuat saat manajemen ingin mengatur ekuitas, tetapi dividen menunjukkan preferensi distribusi kas. MTEL dan GHON terlihat condong ke pola pengembalian yang konsisten, sementara TOWR lebih memilih menahan dan mengalihkan sumber daya, entah untuk akuisisi, ekspansi, atau menjaga rasio utang, sehingga dividen turun. BALI jadi anomali karena tidak main buyback dan MESOP, tetapi justru berani membayar lebih besar, artinya mereka percaya pada arus kas dan ingin menjaga loyalitas pemegang saham.

Skala aset memperjelas siapa gajah dan siapa pemain spesialis, sekaligus memperlihatkan potensi salah-baca market. Aset per 30 September 2025, TOWR Rp78,29 T, MTEL Rp58,05 T, TBIG Rp44,72 T, CENT Rp27,37 T, SUPR Rp10,04 T, BALI Rp6,33 T, IBST Rp4,24 T, GHON Rp1,39 T, GOLD Rp0,46 T. Dari total aset gabungan sekitar Rp230,88 T, porsi TOWR sekitar 33,91%, MTEL 25,14%, TBIG 19,37%, jadi tiga raksasa ini menguasai sekitar 78,42% skala aset. Growth asetnya juga bicara, BALI tumbuh 7,50% paling tinggi, TBIG 2,85%, SUPR 2,42%, GOLD 4,51%, sementara MTEL -0,16%, CENT -1,92%, IBST -4,09%, GHON -2,91%, TOWR hanya 0,60%. Tafsirnya, yang besar tidak selalu tumbuh cepat, dan yang kecil bisa tumbuh agresif, tetapi pasar menilai bukan cuma growth, melainkan kualitas kontrak, pembiayaan, serta kejernihan strategi ekuitas seperti buyback dan MESOP. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Fenomena nyangkut buyback dan MESOP itu pada dasarnya konflik antara tiga harga, harga pasar, harga keyakinan manajemen, dan harga insentif internal. TOWR terlihat paling adaptif karena berani menurunkan strike MESOP sampai masuk akal, tetapi buyback mereka harus dilihat apakah benar efektif menahan tekanan harga atau hanya jadi pembelian simbolik. MTEL terlihat paling defensif, treasuri besar di harga lebih tinggi memberi beban persepsi, dan MESOP yang masih out of the money membuat pemulihan motivasi berbasis saham menunggu harga bergerak. TBIG terlihat paling taktis dalam mengelola treasuri, tetapi narasinya menuntut kejelasan bahwa manuver itu membangun nilai untuk semua pemegang saham, bukan hanya menyusun ulang modal. Potensi jangka menengah akan paling besar jika ada kombinasi pemulihan sentimen sektor, stabilisasi suku bunga, dan bukti bahwa eksekusi korporasi tidak sekadar ramai di atas kertas.

šŸ“Œ harga pasar vs harga buyback
• 🟦 TOWR Rp525 vs plafon buyback Rp675 sekitar 28,57% lebih tinggi
• 🟧 MTEL Rp540 vs rata-rata treasuri Rp698 sekitar 29,26% lebih tinggi
• 🟄 TBIG Rp1.710 vs buyback Rp1.935 sekitar 13,16% lebih tinggi
ā—¦ šŸ”ŗ vs buyback Rp2.097 sekitar 22,63% lebih tinggi
ā—¦ 🧾 vs resell Rp2.138 sekitar 25,03% lebih tinggi
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

šŸŽÆ Harga MESOP vs harga pasar
• 🧩 TOWR
ā—¦ šŸ’¤ Rp1.000 out of the money, harga pasar 47,50% di bawah strike
ā—¦ ⚔ Rp392 in the money, strike 25,33% di bawah harga pasar
ā—¦ šŸ Rp285 in the money, strike 45,71% di bawah harga pasar
• šŸ›ļø MTEL
ā—¦ 🧊 Rp582 out of the money sekitar 7,78% di atas harga pasar

šŸ’ø Trend DPS 2025
• šŸļø BALI Rp50 naik 150,00%
• 🧱 GHON Rp180 naik 9,09%
• 🟨 MTEL Rp25,33 naik 40,64%
• 🟄 TBIG Rp48,73 turun 11,72%
• 🟦 TOWR Rp15,90 turun 34,02%
• ⚫ CENT Rp0 stagnan
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

šŸ—ļø Aset dan growth 9M 2025
• 🐘 TOWR Rp78,29 T growth 0,60%
• šŸ›ļø MTEL Rp58,05 T growth -0,16%
• šŸ—ļø TBIG Rp44,72 T growth 2,85%
• šŸŒ CENT Rp27,37 T growth -1,92%
• šŸļø BALI Rp6,33 T growth 7,50%

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/2

testes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$MTEL

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Kabupaten Badung: Tempat Perang Menara Terbesar di IHSG

Di bisnis menara telekomunikasi, saham $BALI dan Kabupaten Badung itu seperti sedang melawan dunia. Entah apa istimewanya Kabupaten Badung hingga diperebutkan oleh berbagai perusahaan menara di Indonesia. Dunia versi menara itu sederhana, lokasi premium selalu jadi medan perebutan karena trafik tinggi berarti kebutuhan kapasitas tinggi, dan kapasitas butuh titik jaringan. Badung juga bukan sekadar kabupaten, ini etalase pariwisata global, jadi estetika, tata-ruang, dan kontrol infrastruktur biasanya jauh lebih ketat dibanding daerah biasa. Saat kontrol ketat ketemu bisnis yang butuh kepastian izin, lahirlah satu hal yang paling bikin emiten besar kepanasan, akses pasar yang dikunci lewat pintu regulasi. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Kuncinya ada di kontrak eksklusif yang sudah hidup sejak 2007. BALI menang lelang infrastruktur menara terpadu berdasarkan Keputusan Bupati Badung Nomor 652/02/HK/2007, lalu dikunci lagi oleh perjanjian kerja sama 20 tahun yang efektif 7 Mei 2007 sampai 7 Mei 2027. Artinya, pada titik laporan 30 September 2025, perjanjian itu sudah berjalan 18 tahun 4 bulan 23 hari, dan masih menyisakan 1 tahun 7 bulan 7 hari. Ini bukan sekadar kerja sama, ini model konsesi, satu pihak jadi gerbang. Dalam model seperti ini, siapa pun yang mau main di area tersebut biasanya harus menyesuaikan diri pada desain Pemkab dan kanal yang sudah ditetapkan, dan itu yang membuat wilayahnya seperti benteng. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Lalu masuk gelombang gugatan 2023. Ada tiga blok besar yang mencoba mendobrak benteng lewat PTUN Denpasar, $MTEL lewat Perkara No. 9/G/2023/PTUN.DPS, geng TOWR lewat Protelindo Perkara No. 18/G/2023/PTUN.DPS dan iForte Perkara No. 19/G/2023/PTUN.DPS, lalu geng CENT lewat CMI dan EMA Perkara No. 28/G/2023/PTUN.DPS. Polanya juga konsisten, Pemkab Badung jadi Tergugat I, BALI muncul sebagai Tergugat II Intervensi untuk membela posisi konsesi. Secara bisnis, ini bukan sekadar debat izin, ini perebutan hak untuk menempatkan infrastruktur di lokasi yang dianggap paling bernilai, dan perebutannya terjadi saat kontrak eksklusif masih berlaku.

Yang menarik adalah arah putusan pada akhirnya memberi sinyal besar soal siapa yang punya posisi paling kuat. MTEL sempat menang di tingkat bawah, tetapi Mahkamah Agung (MA) membatalkan putusan yang menguntungkan MTEL, lalu MTEL mencabut Peninjauan Kembali (PK) pada Februari 2025, itu semacam pengakuan bahwa jalurnya mentok. Gugatan CENT bahkan tidak diterima sejak awal, dan kasasinya ditolak MA pada 9 Desember 2024, lalu tidak ada catatan PK lanjutan. Di kubu TOWR, Protelindo sempat berada di fase yang tidak menguntungkan BALI, tetapi pada 12 Agustus 2025 MA menerima permohonan PK dari BALI atau Pemkab Badung terkait perkara Protelindo, ini titik balik yang mempertegas pertahanan konsesi. Yang masih menggantung adalah iForte, karena masih dalam proses mengajukan PK, jadi ini satu-satunya pintu yang masih terbuka dari blok penggugat besar.

Kalau dibaca dari kacamata strategi, masing-masing geng itu sebenarnya sedang mencoba hal yang berbeda. BALI bermain sebagai pemegang konsesi, jadi kekuatannya bukan cuma tower, tapi posisi sebagai penghubung antara aturan daerah dan kebutuhan operator. MTEL datang sebagai raksasa dengan skala fisik nasional dan kemampuan sewa silang, jadi targetnya wajar kalau ingin akses langsung tanpa perantara. TOWR lewat Protelindo dan iForte punya motif yang sangat masuk akal, mereka punya mesin konsolidasi dan jaringan produk, sehingga wilayah premium seperti Badung terasa terlalu mahal jika harus lewat kanal eksklusif. CENT punya masalah yang lebih sensitif, saat finansial tertekan, akses lokasi premium jadi makin penting, tetapi biaya dan struktur pendanaan membuat ruang manuvernya lebih sempit. TBIG, GOLD, GHON tidak tercatat menggugat pada periode ini, dan itu sendiri bisa dibaca sebagai pilihan fokus, entah karena portofolionya sudah cukup lewat jalur lain, atau karena mereka memilih bertarung di medan yang tidak setegang Badung. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Trend besarnya bukan cuma soal siapa menang perkara, tapi perubahan bentuk persaingan. Dulu perang menara itu banyak terjadi di lapangan, siapa cepat bangun, siapa cepat dapat tenant. Di Badung, perang berubah jadi perang gerbang, siapa pegang kunci izin dan arsitektur jaringan. Skala wilayahnya mungkin tidak sebesar provinsi lain, tapi skala nilainya bisa besar karena densitas trafik, kebutuhan kualitas layanan, dan tuntutan estetika wilayah wisata. Dunia telekomunikasi global juga lagi bergerak ke arah densifikasi, lebih banyak titik jaringan, lebih banyak kolokasi, lebih banyak integrasi fiber dan small cell, dan semua itu membuat daerah seperti Badung makin strategis. Jadi wajar kalau banyak pihak merasa Badung itu seperti hadiah, tetapi karena hadiah itu dijaga kontrak, satu-satunya cara merobohkan pagar adalah lewat pengadilan.

Buat investor, ini berubah jadi peta risiko dan peta peluang yang sangat konkret. Untuk BALI, konsesi sampai 7 Mei 2027 adalah moat berbasis regulasi, tetapi moat seperti ini punya dua sisi, perlindungan, sekaligus ketergantungan pada kelanjutan kebijakan dan reputasi kemitraan. Untuk MTEL dan geng TOWR, kekalahan beruntun di MA memberi sinyal bahwa akses langsung akan sulit sampai ada perubahan desain kebijakan, sehingga opsi realistisnya adalah beroperasi lewat skema yang kompatibel dengan aturan daerah, atau menunggu momentum pasca-2027. Untuk CENT, kekalahan cepat dan tidak ada lanjutan membuat narasinya makin sempit, harus menang di tempat lain, atau memperbaiki struktur bisnis, bukan berharap Badung jadi penyelamat. Untuk industri, kasus Badung ini jadi contoh nyata bahwa menara bukan hanya bisnis aset, ini bisnis izin, kontrak, dan kestabilan relasi, dan investor yang mengabaikan faktor itu biasanya baru sadar saat sengketa sudah memakan waktu bertahun-tahun.

• šŸŒ Badung itu lokasi premium, premium selalu diperebutkan
ā—¦ šŸ“¶ Trafik tinggi butuh densifikasi jaringan
ā—¦ šŸŽ­ Wilayah wisata butuh kontrol estetika dan izin ketat

• šŸ° Modelnya konsesi, bukan kompetisi bebas
ā—¦ 🧾 Kontrak 20 tahun 7 Mei 2007 sampai 7 Mei 2027
ā—¦ ā³ Sisa per 30 September 2025 sekitar 1 tahun 7 bulan 7 hari
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

āš–ļø Perkara 2023 sampai 2025
• šŸ›ļø MTEL vs Pemkab Badung
ā—¦ šŸ“„ Perkara 9/G/2023/PTUN.DPS
ā—¦ 🧨 Menang di bawah, kalah di MA
ā—¦ 🧷 PK dicabut Februari 2025

• šŸ—ļø Protelindo TOWR vs Pemkab Badung
ā—¦ šŸ“„ Perkara 18/G/2023/PTUN.DPS
ā—¦ šŸ” PK BALI atau Pemkab diterima MA 12 Agustus 2025

• 🧩 iForte TOWR vs Pemkab Badung
ā—¦ šŸ“„ Perkara 19/G/2023/PTUN.DPS
ā—¦ šŸ•³ļø Status masih proses PK

• šŸŒ Centratama CMI dan EMA vs Pemkab Badung
ā—¦ šŸ“„ Perkara 28/G/2023/PTUN.DPS
ā—¦ 🧯 Tidak diterima di PTUN
ā—¦ 🧱 Kasasi ditolak MA 9 Desember 2024

šŸ›”ļø Peran BALI di semua gugatan
• šŸ§‘ā€āš–ļø Tergugat II Intervensi
ā—¦ 🧷 Membela Pemkab Badung
ā—¦ šŸ”’ Membela konsesi eksklusif

šŸ“ Statistik yang paling berbicara
• 🧮 4 blok perkara besar tercatat
ā—¦ 🦣 3 raksasa penggugat utama MTEL, TOWR, CENT
ā—¦ šŸ›ļø 1 pola putusan menguatkan Pemkab Badung dan BALI
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

🧩 Keunggulan vs kelemahan tiap pihak
• šŸļø BALI
ā—¦ āœ… Moat regulasi sampai 7 Mei 2027
ā—¦ āš ļø Risiko kelanjutan pasca-2027 dan biaya sengketa

• šŸ›ļø Pemkab Badung
ā—¦ āœ… Kontrol tata-ruang dan desain jaringan
ā—¦ āš ļø Tekanan industri untuk membuka kompetisi

• šŸ“” MTEL
ā—¦ āœ… Skala nasional dan kemampuan sewa silang
ā—¦ āš ļø Jalur litigasi mentok, harus adaptif terhadap gerbang lokal

• šŸ—ļø TOWR lewat Protelindo dan iForte
ā—¦ āœ… Mesin eksekusi dan produk jaringan kuat
ā—¦ āš ļø Akses Badung belum tembus, iForte masih menggantung

• šŸŒ CENT
ā—¦ āœ… Potensi dukungan grup global
ā—¦ āš ļø Ruang gerak hukum sempit, fokus harus pindah ke perbaikan inti bisnis
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

šŸ”­ Potensi skenario sampai 7 Mei 2027
• 🧱 Status quo bertahan
ā—¦ šŸļø BALI tetap jadi gerbang dominan

• 🪟 Celah terbuka jika PK iForte berbalik
ā—¦ 🧭 Risiko desain izin berubah
ā—¦ šŸ“‰ Moat BALI bisa tergerus lebih cepat

• šŸ”„ Fase pasca-2027 jadi titik klimaks
ā—¦ šŸ—³ļø Negosiasi ulang, perpanjangan, atau desain baru
ā—¦ šŸŽÆ Ini momen yang paling relevan untuk re-rating persepsi risiko

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/3

testestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Geng Menara Telekomunikasi IHSG

Perusahaan menara telekomunikasi di IHSG itu sudah ada geng-nya masing-masing. Investor yang cuma lihat ticker sering mengira mereka ini bisnisnya sama, padahal struktur grup itu sudah seperti peta kekuasaan yang mengatur cara mereka tumbuh, cara mereka ngutang, sampai cara mereka perang harga. Di sektor menara, menang itu bukan cuma soal punya tower paling banyak, tapi soal siapa yang punya akses modal paling murah, kontrak paling lengket, dan kemampuan nyerap pemain lain tanpa bikin margin bocor. Makanya valuasi bisa terlihat aneh, ada yang asetnya segunung tapi dihargai diskon, ada yang asetnya kecil tapi diperlakukan seperti barang langka. Kalau investor baca data per 30 September 2025 dengan kacamata geng, banyak hal yang tadinya terasa kontradiktif jadi masuk akal. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Dari sisi pengendali, peta besarnya kebagi jadi dua raksasa swasta dan satu raksasa BUMN, lalu sisanya pemain mandiri yang hidup dengan cara berbeda. PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) jadi inti geng TOWR, dengan anak rantai yang makin rapat lewat PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) yang efektif dikuasai 99,96% dan PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) yang efektif dikuasai 99,98% melalui jalur Protelindo dan iForte. PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) jadi inti geng TBIG, lalu ada PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk (GHON) 50,43% dan PT Visi Telekomunikasi Infrastruktur Tbk (GOLD) 51,09% yang nempel sebagai satelit. Di luar itu ada PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) yang berada di orbit Telkom Group dan Pemerintah RI, lalu PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (CENT) yang dikuasai Edgepoint 92,17%, dan PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI) yang lebih lokal dengan pengendali PT Kharisma Cipta Towerindo. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Trend paling kelihatan itu konsolidasi dan sentralisasi risiko ke level grup. Geng TOWR itu contoh paling jelas, karena akuisisi SUPR dan IBST bukan sekadar nambah menara, tapi nambah kontrol atas kontrak, jaringan produk, dan posisi tawar, sekaligus membuat urusan pembiayaan jadi satu napas lewat corporate guarantee dan tanggung renteng atas fasilitas pinjaman grup. Geng TBIG lebih rapi secara struktur holding dan transaksi afiliasi, bahkan ada pola dukungan jasa manajemen dari entitas induk untuk urusan risiko dan merger-akuisisi, jadi geraknya terasa lebih korporat dan terukur. Di sisi lain, MTEL bergerak dengan gaya BUMN yang kuat di skala fisik dan backbone pelanggan, tapi tetap ikut permainan industri seperti sewa-menyewa silang, bahkan punya perjanjian payung untuk menyewa menara kompetitor lalu disewakan lagi ke operator. Lalu pemain mandiri seperti CENT dan BALI kelihatan lebih sering hidup di medan spesifik, termasuk medan sengketa perizinan dan lahan, yang membuat risiko mereka bukan cuma finansial tapi juga operasional dan legal.

Kalau investor bandingkan skala, angka market cap versus aset itu membuka kunci besar soal bagaimana pasar memberi harga pada tiap geng. TOWR punya aset Rp78,29 T tapi market cap Rp31,02 T, rasio market cap terhadap aset 0,39x, ini diskon tebal di level aset. MTEL market cap Rp45,12 T dan aset Rp58,04 T, rasionya 0,77x, lebih wajar dan lebih mahal dari TOWR jika diukur per Rupiah aset. TBIG market cap Rp38,74 T dan aset Rp44,71 T, rasionya 0,86x, paling mahal di antara tiga raksasa jika pakai ukuran ini. Yang paling anomali itu SUPR, market cap Rp49,88 T dengan aset Rp10,03 T, rasionya 4,97x, ini bukan premium biasa, ini perlakuan pasar yang ekstrem. Secara statistik sederhana, TBIG dihargai sekitar 2,21 kali lebih mahal dari TOWR dalam basis market cap per aset, MTEL sekitar 1,97 kali lebih mahal, sedangkan SUPR sampai sekitar 12,74 kali, jadi wajar kalau kesan yang muncul seperti pasar sedang bicara kelangkaan dan likuiditas, bukan sekadar aset. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Dari sisi valuasi laba, TOWR punya PE 9,11x, paling rendah, jadi secara harga laba terlihat paling murah untuk skala besar, apalagi laba masih tumbuh 4,41%. GOLD jadi kasus menarik karena PBV 0,98x, satu-satunya yang di bawah nilai buku, lalu liabilitas cuma 10% dari aset, jadi profil leverage-nya terasa santai, meski tetap perlu dicek seberapa besar skala dan daya tawarnya di kontrak. IBST tampil sebagai rising star pasca-masuk geng TOWR, laba neto tumbuh 113,49% dan Operating Profit Margin (OPM) 72,63%, ini kombinasi yang bikin investor gampang tergoda, karena cerita efisiensi pasca-akuisisi biasanya disukai pasar. Di sisi premium, SUPR PBV 6,53x dan PE 39,95x, tetapi OPM 69,69% sangat tinggi, jadi pasar seolah membayar mahal untuk mesin margin, ditambah faktor likuiditas dan kondisi perdagangan yang tidak normal. TBIG sendiri PBV 3,86x dan PE 26,22x sementara pertumbuhan laba -5,06%, jadi investor yang membayar premium di TBIG pada dasarnya sedang percaya pada kualitas kontrak, model akuntansi aset, dan kemampuan manajemen menavigasi siklus, bukan sedang membeli momentum laba. CENT adalah lampu merah, PE -1,95x karena rugi Rp1,47 T dan ROE -82,34%, ini bukan sekadar undervalued, ini masalah struktur beban bunga dan arsitektur pendanaan yang menggerus ekuitas.

Masuk ke arus kas dan utang, di sini terlihat siapa yang kuat napas dan siapa yang hidup dari oksigen kredit. Net debt terbesar ada di TOWR Rp44,53 T dan TBIG Rp29,85 T, TOWR sekitar 1,49 kali lebih tinggi dari TBIG, jadi sensitivitas TOWR ke suku bunga dan refinancing jelas lebih besar. Tetapi dua-duanya punya OPM di atas 50%, artinya mesin operasionalnya masih tebal untuk bayar bunga, jadi isu utamanya bukan bisa atau tidak bayar, melainkan seberapa fleksibel mereka saat kontrak ditawar ulang atau saat pertumbuhan tenancy melambat. MTEL terlihat paling sehat dari sisi kas karena Free Cash Flow (FCF) TTM Rp4,02 T, ini penting karena FCF adalah uang nyata yang bisa dipakai untuk capex tanpa harus menambah utang agresif. GOLD juga menarik karena liabilitas rendah, jadi ruang geraknya lebih luas jika mau ekspansi, tetapi tantangannya biasanya di skala dan bargaining power. CENT kebalikannya, beban bunga dari pinjaman pemegang saham jadi akar masalah, sehingga investor yang masuk tanpa tesis restrukturisasi pendanaan itu seperti berenang melawan arus. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Sektor menara itu bukan cuma cerita pertumbuhan data dan 5G, tapi cerita oligopoli kontrak jangka panjang dengan perang kecil di pricing, izin, dan akuisisi. Potensi terbesar biasanya muncul saat ada katalis industri, misalnya konsolidasi operator yang memaksa efisiensi jaringan, atau kebijakan capex yang mengubah pola sewa, atau akselerasi kebutuhan kolokasi, dan setiap geng akan merespons berbeda. Geng TOWR tampak seperti mesin konsolidasi yang memilih menang lewat skala dan integrasi, jadi upside-nya di re-rating valuasi jika pasar yakin utang terkendali dan sinergi benar-benar mengunci margin. Geng TBIG tampak seperti mesin eksekusi yang dijual premium, jadi upside-nya butuh bukti laba kembali tumbuh dan premium itu layak, sementara downside-nya terasa kalau pertumbuhan tetap negatif tapi valuasi tidak turun. MTEL tampak seperti opsi defensif yang hidup dari stabilitas kas, tapi upside-nya biasanya lebih lambat karena pertumbuhan laba stagnan 0,61% dan investor harus rela dibayar dengan ketenangan, bukan adrenalin. Pemain seperti GOLD dan IBST adalah ruang spekulasi yang lebih fokus, satu karena diskon PBV, satu karena lonjakan laba, sedangkan SUPR dan CENT adalah dua ujung ekstrem, SUPR ekstrem premium yang rawan normalisasi, CENT ekstrem rugi yang butuh perbaikan struktur.

āœ… Geng Menara
🧩 TOWR, SUPR, IBST satu napas pembiayaan, corporate guarantee dan tanggung renteng bikin risiko utang terkonsentrasi di grup, tetapi juga bikin akses modal dan sinergi lebih gampang
šŸ¢ TBIG, GHON, GOLD model holding yang rapi, transaksi afiliasi dan dukungan manajemen grup bikin eksekusi lebih terstruktur
šŸ›ļø MTEL gaya BUMN, besar secara fisik, kuat di posisi ekosistem Telkom Group, tapi tetap main sewa silang untuk optimasi
šŸŒ CENT didukung modal global, tetapi kinerja rugi dan beban bunga membuat cerita sahamnya lebih mirip cerita restrukturisasi
šŸļø BALI lebih lokal dan sering ketemu medan izin dan sengketa, jadi profil risikonya beda dari yang fokus finansial murni
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

šŸ“ Valuasi Aset
šŸŖ™ TOWR rasio market cap terhadap aset 0,39x, pasar memberi diskon besar terhadap aset Rp78,29 T
🧮 MTEL rasio 0,77x, hampir 2 kali lebih mahal dari TOWR dalam basis yang sama, wajar karena profil kas lebih tenang
šŸ“Œ TBIG rasio 0,86x, sekitar 2,21 kali lebih mahal dari TOWR, berarti investor membayar premium atas kualitas dan konsistensi yang diyakini
šŸŽ¢ SUPR rasio 4,97x, ini zona anomali, lebih banyak bicara kelangkaan saham dan kondisi perdagangan daripada efisiensi aset

šŸ’° Valuasi Laba
🧲 TOWR PE 9,11x dengan laba tumbuh 4,41%, secara angka ini paket value paling jelas di kelompok raksasa
šŸ·ļø GOLD PBV 0,98x dan liabilitas 10% dari aset, diskon buku ditambah leverage rendah, tetapi tetap perlu disiplin cek skala dan kontrak
šŸš€ IBST laba tumbuh 113,49% dan OPM 72,63%, ini cerita momentum dan sinergi pasca-akuisisi
šŸ‘‘ SUPR PBV 6,53x dan PE 39,95x dengan OPM 69,69%, premium setinggi ini sensitif terhadap normalisasi likuiditas dan ekspektasi
šŸŽÆ TBIG PBV 3,86x dan PE 26,22x saat laba turun -5,06%, investor yang masuk di sini sedang membeli keyakinan, bukan bukti pertumbuhan jangka pendek
🚨 CENT PE -1,95x, rugi Rp1,47 T, ROE -82,34%, tanpa tesis perbaikan struktur bunga, risk-reward-nya timpang
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

šŸ¦ Utang dan napas kas
āš™ļø TOWR net debt Rp44,53 T, mesin margin tebal membantu, tetapi sensitivitas bunga dan refinancing tetap jadi bayangan utama
šŸ”© TBIG net debt Rp29,85 T, lebih ringan dari TOWR, tetapi premium valuasi menuntut pemulihan pertumbuhan laba
šŸ›”ļø MTEL FCF TTM Rp4,02 T, ini amunisi nyata untuk capex dan ketahanan saat siklus industri berubah
🧯 GOLD leverage rendah memberi opsi fleksibilitas, tetapi katalis biasanya harus datang dari ekspansi atau perbaikan persepsi pasar
🧨 CENT beban bunga jadi pusat masalah, jadi fokus investor mestinya di skema pendanaan ulang, bukan di mimpi margin

🌱 Potensi yang paling masuk akal per tipe investor
🧱 Untuk investor konservatif, TOWR dan MTEL lebih mudah dipertanggungjawabkan, satu karena valuasi PE rendah, satu karena FCF kuat
šŸŖ Untuk investor value hunting, GOLD menarik karena PBV 0,98x dan liabilitas rendah, tetapi jangan lupa cek likuiditas dan kualitas kontrak
šŸš€ Untuk investor growth, IBST paling jelas momentumnya, tetapi waspadai efek base rendah dan potensi normalisasi setelah lonjakan
šŸŽ² Untuk investor yang suka event-driven, CENT itu murni taruhan restrukturisasi, bukan taruhan bisnis menara yang normal
🧿 Untuk investor yang tergoda premium, SUPR itu high expectation, high consequence, satu perubahan sentimen bisa bikin valuasi kembali ke bumi

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$TOWR $MTEL $CENT

Read more...

1/4

testestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

FIXED CLOSING
------------------------------------
[WATCHLIST ONLY : 141 EMITEN]

Selasa, 10 February 2026 15:59
Saham potensial gap-up/down di CLOSING market, diurut berdasarkan nilai persentase:
(cukup pantau baris paling atas dan paling bawah untuk cek gap terbesar):

GAP UP:
šŸ”¼ $CLPI gap up ke 1530 (+30 / +2%) dari 1500
šŸ”¼ $MTEL gap up ke 540 (+10 / +1.89%) dari 530
šŸ”¼ $SOCI gap up ke 565 (+10 / +1.8%) dari 555
šŸ”¼ PBSA gap up ke 1425 (+15 / +1.06%) dari 1410
šŸ”¼ TBIG gap up ke 1710 (+15 / +0.88%) dari 1695
šŸ”¼ ASII gap up ke 6850 (+50 / +0.74%) dari 6800
šŸ”¼ BLUE gap up ke 6850 (+50 / +0.74%) dari 6800
šŸ”¼ TKIM gap up ke 7175 (+50 / +0.7%) dari 7125
šŸ”¼ ARTO gap up ke 1685 (+10 / +0.6%) dari 1675
šŸ”¼ SRTG gap up ke 1695 (+10 / +0.59%) dari 1685
šŸ”¼ TLKM gap up ke 3400 (+20 / +0.59%) dari 3380
šŸ”¼ ITMG gap up ke 22100 (+100 / +0.45%) dari 22000

GAP DOWN:
šŸ”½ INKP gap down ke 9100 (-50 / -0.55%) dari 9150
šŸ”½ MAPI gap down ke 1200 (-10 / -0.83%) dari 1210
šŸ”½ CPIN gap down ke 4450 (-50 / -1.11%) dari 4500
šŸ”½ INCO gap down ke 6350 (-75 / -1.17%) dari 6425
šŸ”½ INDY gap down ke 3670 (-50 / -1.34%) dari 3720

Cek ulang semuanya dan IEP bisa berubah smp menit terakhir. Salam Cuan.

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Maret bakal manggung nih $MTEL

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$TBIG vs $TOWR vs $MTEL Mana Perusahaan Menara Terbaik di IHSG?

TBIG dan MTEL adalah perusahaan menara yang unik. Di atas kertas, bisnis menara itu kelihatan seperti mesin sewa yang tenang, kontraknya panjang, penyewa cenderung nempel, lalu laba mengalir. Tapi justru karena terlihat tenang, pasar sering lengah, penentu nilai sebenarnya ada di tiga hal yang kadang tidak terlihat dari headline, seberapa produktif asetnya, seberapa berat beban pendanaannya, dan seberapa kuat penyewa utamanya. Angka interim per 30 September 2025 bikin peta industrinya kebuka lebar, siapa yang paling besar infrastrukturnya, siapa yang paling tajam menghasilkan laba, dan siapa yang masih kebakar biaya. Kalau investor membacanya pakai kacamata arus kas masa depan, kesimpulannya bisa beda jauh dibanding sekadar menilai pergerakan harga harian. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Dari sisi ukuran infrastruktur, panggungnya jelas dikuasai tiga nama. TOWR paling besar dengan total aset Rp78,29 triliun, lalu MTEL Rp58,05 triliun, lalu TBIG Rp44,72 triliun. Setelah itu ada CENT Rp27,37 triliun, lalu SUPR Rp10,04 triliun, BALI Rp6,33 triliun, IBST Rp4,24 triliun, dan GHON Rp1,39 triliun. Ini penting karena di bisnis menara, aset bukan sekadar angka neraca, ini mencerminkan kapasitas jaringan, jangkauan lokasi, dan ruang untuk menambah tenancy di menara yang sama. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau ukuran digeser ke produktivitas aset, gambarnya jadi lebih menarik. Rasio pendapatan terhadap aset untuk 9 bulan 2025 menunjukkan siapa yang paling cepat memutar infrastrukturnya jadi uang. Yang tinggi ada IBST 14,89%, BALI 14,56%, SUPR 13,59%. Di sisi raksasa, TOWR 12,37%, MTEL 11,85%, TBIG 11,55%, GHON 11,53%. Yang paling rendah jauh adalah CENT 6,89%, ini sinyal sederhana bahwa kapasitas asetnya besar tapi monetisasinya belum sepadan, entah karena utilisasi belum optimal, struktur kontrak, atau beban yang menggerus.

Lalu masuk ke kualitas laba bersih, di sinilah beda karakter tiap emiten kelihatan telanjang tanpa perlu asumsi macam-macam. SUPR mencetak margin laba bersih 68,65%, itu luar biasa tinggi untuk ukuran bisnis infrastruktur dan biasanya berarti utilisasi kuat dan struktur biaya relatif rapi. IBST 42,31% dan GHON 36,90% juga tinggi, TOWR 26,36%, MTEL 22,41%, TBIG 22,25% menunjukkan raksasa tetap sehat tapi marginnya lebih moderat karena kompleksitas grup dan struktur pendanaan. BALI 15,05% masih positif namun lebih tipis. CENT yang paling mengkhawatirkan karena marginnya -78,14%, artinya dari pendapatan Rp1,88 triliun justru keluar rugi Rp1,47 triliun, masalahnya bukan di omzet, tapi di beban yang menelan semuanya.

Kalau dibandingkan 2024 ke 2025, arah pergerakan industrinya mayoritas datar, tapi ada beberapa yang mencolok. Dari sisi pendapatan, yang paling ngebut BALI naik 22,16% dari Rp0,75 triliun ke Rp0,92 triliun, sementara raksasa relatif stabil, TOWR naik 2,52% ke Rp9,69 triliun, TBIG naik 0,70% ke Rp5,16 triliun, MTEL turun tipis -0,16% ke Rp6,88 triliun. SUPR turun tipis -0,25%, IBST turun -1,45%, GHON turun -0,79%, CENT naik 3,01% ke Rp1,88 triliun. Dari sisi aset, yang tumbuh paling tebal BALI naik 7,50% ke Rp6,33 triliun, TBIG naik 2,85% ke Rp44,72 triliun, TOWR naik 0,60% ke Rp78,29 triliun, sementara MTEL turun tipis -0,16%, IBST turun -4,09%, GHON turun -2,91%. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Bagian laba bersih memberi cerita yang lebih tegas tentang keunggulan, kelemahan, dan potensi. BALI laba naik 32,17% menjadi Rp0,14 triliun, SUPR naik 26,01% menjadi Rp0,94 triliun, TOWR naik 3,05% menjadi Rp2,55 triliun, MTEL naik 0,61% menjadi Rp1,54 triliun, GHON naik 2,08% menjadi Rp0,06 triliun. TBIG justru turun -4,96% menjadi Rp1,15 triliun walau pendapatan naik tipis, jadi ada tekanan biaya, struktur bunga, atau faktor non-operasional yang perlu dicek lebih detail. CENT rugi membesar 88,23% menjadi -Rp1,47 triliun, ini bukan sekadar jelek, tapi sinyal bahwa pembenahan wajib terjadi di sisi pendanaan dan efisiensi. IBST yang paling dramatis, dari rugi -Rp1,98 triliun di 9 bulan 2024 menjadi laba Rp0,27 triliun di 9 bulan 2025, perubahan bersihnya sekitar Rp2,25 triliun, ini definisi turnaround.

Kenapa TBIG dan MTEL disebut unik, karena keduanya berada di kelas raksasa tapi gaya mainnya beda. MTEL terlihat sangat stabil, aset dan pendapatan hampir tidak bergerak, tapi tetap menjaga laba naik tipis, ini tipikal bisnis yang sudah matang dengan penyewa inti yang kuat dan ritme ekspansi yang terukur. TBIG lebih agresif di sisi aset yang naik 2,85%, pendapatan ikut naik, tapi laba turun 4,96%, jadi pasar perlu melihat apa yang sedang dibayar untuk ekspansi itu, apakah beban bunga, biaya integrasi, atau struktur kontrak baru yang marginnya lebih tipis di fase awal. Di atas keduanya, TOWR memimpin ukuran dan laba, produktivitas aset juga solid, sehingga posisinya lebih seperti payung industri, selama manajemen bisa menjaga disiplin pendanaan.

🟢 Aset Menara
🟢 TOWR Rp78,29 triliun
🟢 MTEL Rp58,05 triliun
🟢 TBIG Rp44,72 triliun
🟔 CENT Rp27,37 triliun
🟔 SUPR Rp10,04 triliun
🟔 BALI Rp6,33 triliun
🟔 IBST Rp4,24 triliun
🟔 GHON Rp1,39 triliun
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

🟢 Revenue LK Q3 2025
🟢 TOWR Rp9,69 triliun
🟢 MTEL Rp6,88 triliun
🟢 TBIG Rp5,16 triliun
🟔 CENT Rp1,88 triliun
🟔 SUPR Rp1,36 triliun
🟔 BALI Rp0,92 triliun
🟔 IBST Rp0,63 triliun
🟔 GHON Rp0,16 triliun

🟢 Laba Q3 2025
🟢 TOWR Rp2,55 triliun
🟢 MTEL Rp1,54 triliun
🟢 TBIG Rp1,15 triliun
🟢 SUPR Rp0,94 triliun
🟢 IBST Rp0,27 triliun
🟢 BALI Rp0,14 triliun
🟢 GHON Rp0,06 triliun
šŸ”“ CENT -Rp1,47 triliun
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

🟢 Yang paling efisien di margin laba bersih LK Q3 2025
🟢 SUPR 68,65%
🟢 IBST 42,31%
🟢 GHON 36,90%
🟢 TOWR 26,36%
🟔 MTEL 22,41%
🟔 TBIG 22,25%
🟔 BALI 15,05%
šŸ”“ CENT -78,14%

🟢 Yang paling mencolok pergerakan 2024 ke 2025
🟢 BALI pendapatan naik 22,16%, laba naik 32,17%
🟢 SUPR laba naik 26,01% walau pendapatan turun tipis -0,25%
🟢 IBST turnaround dari rugi -Rp1,98 triliun jadi laba Rp0,27 triliun
🟔 TBIG aset naik 2,85% tapi laba turun -4,96%
šŸ”“ CENT pendapatan naik 3,01% tapi rugi membesar 88,23%
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/7

testestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$MTEL Kenyangkutan Itu Apakah Abadi?

MTEL adalah saham yang kelihatan adem ayem karena harga sahamnya tidak gerak sama sekali. Justru itu menarik, karena biasanya saham yang tidak heboh menyembunyikan cerita yang lebih teknis, yaitu stabilitas bisnis, stabilitas kontrak, dan stabilitas ekspektasi pasar. Di 9M 2025, pendapatan Rp6,88 triliun praktis datar dibanding 9M 2024 Rp6,89 triliun, turun tipis sekitar 0,15%. Tapi laba usaha naik tipis menjadi Rp3,09 triliun dari Rp3,08 triliun, karena beban usaha turun dari Rp454,5 miliar ke Rp430,8 miliar. Jadi MTEL bukan sedang ngegas dari sisi top line, tapi sedang merapikan mesin supaya margin tetap tebal. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Kalau dibandingkan secara rasa bisnis, MTEL mirip infrastruktur utilitas, bukan mesin pertumbuhan agresif. Dari sisi efisiensi, beban usaha yang turun sekitar 5,21% itu kelihatan kecil, tapi dampaknya nyata ke profitabilitas karena model bisnis menara memang margin-nya tinggi. Dengan pendapatan Rp6,88 triliun dan laba usaha Rp3,09 triliun, operating margin sekitar 44,91%, lalu laba bersih Rp1,54 triliun memberi net margin sekitar 22,38%, ini sudah level yang membuat saham terlihat tenang karena error margin operasionalnya besar.

Pendorong MTEL yang utama ada dua. Pertama, segmen menara menghasilkan pendapatan Rp6,48 triliun dan laba bruto segmen Rp3,48 triliun, gross margin segmen sekitar 53,70% dan kontribusi pendapatan segmen sekitar 94,19% dari total, jadi mesin uangnya sangat terkonsentrasi tapi juga sangat jelas. Kedua, perubahan estimasi umur manfaat menara dari 30 menjadi 40 tahun secara logika straight-line menurunkan beban penyusutan tahunan sekitar 25%, jadi laba bisa terlihat lebih tebal tanpa perlu ada lonjakan kas, ini bagus untuk stabilitas laba, tapi investor wajib sadar ini lebih banyak bermain di akuntansi daripada kualitas kas. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Bagian yang bikin investor perlu menoleh bukan di laba, tapi di kas dan struktur komitmen. Kas per akhir September 2025 tinggal Rp632,2 miliar, padahal akhir Juni 2025 sempat Rp2,76 triliun, turun sekitar 77,09% atau turun Rp2,13 triliun, dan penyebab besarnya masuk akal karena ada pembayaran dividen Rp2,06 triliun. Ini bisa dibaca dua sisi. Sisi baik, perusahaan berani bagi dividen besar karena merasa bisnisnya matang dan arus pendapatan sewa menara relatif bisa diprediksi. Sisi rawan, payout yang besar membuat bantalan likuiditas menipis, padahal MTEL tetap butuh capex, perawatan, dan ruang napas kalau ada renegosiasi kontrak atau tekanan dari tenant.

Di saat yang sama, ada sinyal visibilitas pendapatan ke depan lewat liabilitas kontrak dari pihak berelasi yang melonjak ke Rp1,11 triliun dari Rp115,2 miliar, naik sekitar 9,64 kali, ini umumnya berarti ada penerimaan di muka yang nanti akan diakui sebagai pendapatan, bagus untuk kepastian, tapi risikonya tetap satu, konsentrasi. Telkomsel menyumbang 55% pendapatan, Indosat 20%, XLSMART Telecom Sejahtera Tbk 15%, total 90% dari tiga nama, jadi kekuatan MTEL adalah kontrak jangka panjang, kelemahannya adalah daya tawar tenant besar. Terakhir, utang jangka panjang Rp17,41 triliun itu besar secara nominal, namun ada poin positif karena obligasi jatuh tempo Juli 2025 sudah dilunasi sehingga posisi obligasi menjadi nihil, ditambah aset tetap diasuransikan Rp31,86 triliun yang mengurangi risiko kejadian besar. Potensi upside baru akan terasa kalau ada dua hal yang jalan bareng, liabilitas kontrak benar-benar berubah jadi pendapatan dan kas operasional cukup untuk menutup capex tanpa mengandalkan utang baru, jadi MTEL tetap tenang bukan karena tidak ada cerita, tapi karena ceritanya memang lebih mirip cash machine yang harus dijaga disiplin. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

🟢 Revenue LK Q3 2025 Rp6,88 triliun vs LK Q3 2024 Rp6,89 triliun, turun tipis sekitar 0,15%
🟢 Efisiensi beban usaha Rp430,8 miliar vs Rp454,5 miliar, turun sekitar 5,21%
🟢 Profitabilitas laba usaha Rp3,09 triliun, operating margin sekitar 44,91%
🟢 Profitabilitas laba bersih Rp1,54 triliun, net margin sekitar 22,38%
🟢 Mesin uang utama segmen menara pendapatan Rp6,48 triliun, laba bruto Rp3,48 triliun, gross margin segmen sekitar 53,70%, kontribusi sekitar 94,19% dari total
🟔 Konsentrasi pelanggan Telkomsel $TLKM 55%, Indosat $ISAT 20%, XLSMART Telecom Sejahtera Tbk 15%, total 90%
🟔 Kas turun dari Rp2,76 triliun akhir Juni 2025 ke Rp632,2 miliar akhir September 2025, turun sekitar 77,09% karena dividen Rp2,06 triliun
🟢 Visibilitas pendapatan liabilitas kontrak pihak berelasi Rp1,11 triliun vs Rp115,2 miliar, naik sekitar 9,64 kali
🟔 Efek akuntansi umur manfaat menara 30 ke 40 tahun, secara logika bisa menurunkan beban penyusutan tahunan sekitar 25% sehingga laba terlihat lebih tebal, tapi kualitas kas tetap harus diuji
🟔 Struktur liabilitas pinjaman jangka panjang Rp17,41 triliun, butuh disiplin refinancing dan kontrol capex
🟢 Risiko aset lebih terkendali karena nilai pertanggungan asuransi aset tetap Rp31,86 triliun dan obligasi jatuh tempo Juli 2025 sudah lunas sehingga posisi obligasi menjadi nihil
šŸ”“ Titik rawan utama bukan di laba, tapi di kombinasi payout besar, bantalan kas menipis, dan konsentrasi tenant besar
🟢 Titik potensi terbaik terjadi kalau penerimaan di muka benar-benar mengalir jadi pendapatan, sewa stabil, eskalasi kontrak jalan, dan kas operasional konsisten menutup capex tanpa nambah utang besar

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/4

testestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$MTEL nunggu 525

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$MTEL

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$MTEL nitip sandal dulu

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$MTEL makin turun makin gw beli 😌

saham favorit saya yang brutally undervalue $MTEL $BUMI $INET

2013-2026 Stockbit Ā·AboutĀ·ContactHelpĀ·House RulesĀ·TermsĀ·Privacy