


Volume
Avg volume
PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) didirikan pada tahun 1995. Portofolio Perseroan terdiri dari Department Stores, Segmen Penjualan Ritel, Digital, Food & Beverage dan lain-lain. Perseroan mengelola Lebih dari 150 Merek Kelas Dunia, Lebih dari 110 Konsep Ritel, Lebih dari 20.000 Karyawan, 2.658 Gerai Ritel dan Beroperasi di 81 Kota di Indonesia.
$ACES Haruskah Average Down?
Pertanyaan member bukan External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Ada member Pintar Nyangkut yang nyangkut ACES di harga 495. Dia beli ketika euforia masih tinggi, padahal ACES ini bukan saham kecil yang gampang digerakkan naik turun sesuka hati. Sekarang harga pelan-pelan sudah turun lalu sempat jatuh cukup dalam sampai kisaran 418 setelah sebelumnya pernah dimanjakan pasar di sekitar 830 dalam setahun terakhir. Di titik ini baru muncul kegelisahan klasik apakah lebih baik average-down, pura-pura lupa sambil menunggu, atau sekalian potong luka dan pindah ke saham lain yang lebih hidup. Yang menarik, penurunan harga ini tidak terjadi karena ACES bangkrut atau kehabisan kas, justru neracanya termasuk salah satu yang paling tebal di sektor ritel. Pasar menghukum bukan karena perusahaan hampir tumbang, tetapi karena cerita pertumbuhan yang dulu dijual mahal ternyata tidak terwujud seindah narasi. Jadi posisi nyangkut di 495 ini ibarat memegang bisnis ritel besar yang sehat secara keuangan, tetapi sedang dicap malas tumbuh oleh pasar. Dalam kondisi seperti ini investor sering terjebak antara logika angka dan emosi ingin cepat balik modal. Pertanyaannya, apakah langkah paling masuk akal sekarang adalah average-down, diam saja sambil menunggu katalis, atau justru menerima kenyataan pahit dan mengalihkan modal ke emiten lain. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi fundamental, yang dipegang member tadi bukan rongsokan. Secara legal perseroan memang sudah berganti nama menjadi PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk, tetapi bagi pasar tetap dikenali sebagai ACES. Harga pasar ada di sekitar 418, sementara laba per saham untuk 9 bulan pertama 2025 sekitar 33,57. Kalau angka ini dibawa ke proyeksi setahun penuh, kurang lebih menjadi 44,76 per saham. Bandingkan dengan EPS penuh 2023 sekitar 44,63, berarti selama dua tahun terakhir laba hampir tidak bergerak, hanya naik sekitar 0,30%. Di 2024 sempat ada jeda napas ketika laba tahunan naik dari sekitar 763,50 Miliar menjadi 892,04 Miliar, kenaikan kira-kira belasan persen yang cukup membuat pasar kembali percaya diri. Sayangnya momentum itu tidak berlanjut ke 2025. Laba sembilan bulan 2025 sekitar 576,55 Miliar, kalau diannualisasi hanya mengarah kira-kira 768,73 Miliar. Itu berarti potensi penurunan laba sekitar 13,82% dibanding 2024. Buat pasar yang sebelumnya mau membayar harga 830, kombinasi EPS yang mandek dan proyeksi laba tahunan yang turun adalah alasan sangat kuat untuk menurunkan valuasi dengan keras.
Padahal jika hanya melihat neraca, ACES ini seperti brankas yang diletakkan di tengah mal. Per 30 September 2025, kas dan setara kas konsolidasian sekitar 1,82 Triliun, sedangkan total liabilitas sekitar 1,71 Triliun. Secara garis besar, kas saja sudah cukup menutup seluruh kewajiban, bahkan masih menyisakan posisi net cash positif. Utang bank praktis tidak ada, komponen utang terbesar justru liabilitas sewa sekitar 0,92 Triliun yang berasal dari kontrak sewa gerai dan properti ritel. Rasio utang terhadap ekuitas di kisaran 0,26 kali, yang artinya perusahaan tidak menggantungkan hidup pada pinjaman bank. Untuk ukuran peritel besar, ini neraca yang sangat konservatif dan nyaman untuk tidur. Kalau ada krisis ekonomi yang menekan konsumsi, perusahaan dengan struktur seperti ini jauh lebih tahan dibanding ritel yang hidup dari utang bank dan arus kas pas-pasan.
Di sisi arus kas, cerita ACES bahkan lebih menarik. Penerimaan kas dari pelanggan untuk sembilan bulan 2025 sekitar 6,84 Triliun, sementara kas operasi bersih yang tersisa sekitar 959 Miliar. Artinya margin kas operasi sekitar 22,05%. Jika dibandingkan dengan laba bersih sekitar 734,08 Miliar, rasio kas operasi terhadap laba bersih kira-kira 1,31 kali untuk level grup, dan untuk proksi entitas induk sempat mencapai sekitar 2,63 kali. Bahasa kasarnya, setiap 1 Rupiah laba akuntansi diikuti lebih dari 1 Rupiah kas nyata yang benar-benar masuk ke rekening. Ini indikator kualitas laba yang sangat baik. Perusahaan tidak hidup dari laba kertas, tetapi dari uang tunai yang mengalir dari pelanggan. Dari kacamata investor konservatif, kombinasi net cash dan kualitas laba seperti ini adalah mimpi indah.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau begitu, kenapa harga bisa jatuh dari 830 ke 418 dan membuat orang nyangkut di 495 merasa seperti pegangan kursi yang tiba-tiba ditarik dari belakang. Di sini jawabannya ada di sisi persaingan dan ekspektasi. ACES bukan lagi satu-satunya toko peralatan rumah dan gaya hidup yang nyaman didatangi kelas menengah. MR DIY masuk dengan strategi harga lebih agresif, sering kali lebih murah sekitar 15 sampai 20 persen untuk produk serupa. Perkembangan tokonya pun jauh lebih agresif, jumlah gerai mendekati seribu dan ditargetkan tembus lebih dari 1.700 toko dalam beberapa tahun. Skala seperti ini memberi daya tawar luar biasa ke pemasok dan membuat biaya per unit barang lebih rendah. Sementara ACES harus mengimbangi dengan program promosi, diskon, dan perbaikan pengalaman belanja, semua itu memakan marjin. Ditambah lagi serangan e-commerce dan marketplace yang menjual produk sejenis dengan perang harga dan subsidi ongkir. Akibatnya, walaupun penjualan konsolidasian ACES pada 2024 naik dari 7,62 Triliun menjadi 8,58 Triliun, laba bersih di 2025 kembali tertekan. Pasar melihat grafik top line naik, tetapi bottom line mulai melemah, dan di situlah kepercayaan terhadap narasi growth mulai luntur.
Belum selesai di situ, ada satu bab lain yang sering luput dari perhatian investor ritel, yaitu dinamika pihak berelasi. ACES berada di bawah payung Kawan Lama Group. Pemegang saham pengendali utama adalah PT Kawan Lama Sejahtera, dengan figur Kuncoro Wibowo di kursi presiden komisaris. Banyak entitas dalam grup yang diklasifikasikan sebagai perusahaan dalam pengendalian yang sama. Praktiknya, arus bisnis dan keuangan dengan pihak berelasi ini tersebar di hampir semua lini mulai dari pembelian barang, sewa properti ritel, sampai piutang dan utang pihak berelasi. Per 30 September 2025, piutang pihak berelasi naik dari sekitar 12,17 Miliar di akhir 2024 menjadi sekitar 98,80 Miliar. Lonjakan ini berarti ada porsi kas ACES yang mengalir ke entitas lain dalam grup dan sementara diparkir dalam bentuk piutang. Selain itu liabilitas sewa kepada pihak berelasi juga besar, karena banyak gerai berada di properti milik grup yang sama. Bukan berarti otomatis merugikan, tetapi struktur seperti ini membuat pemegang saham publik harus ekstra kritis. Kelebihan kas memang ada di ACES, tetapi arah aliran kas di dalam grup bisa membuat nilai tambah tidak sepenuhnya jatuh ke pangkuan investor publik.
Sekarang kita tarik semua ini ke level valuasi. Di harga 418, dengan EPS proyeksi sekitar 44,76, PER ACES berada di kisaran 9,34 kali. Nilai buku per saham sekitar 380,39 sehingga PBV sekitar 1,10 kali. Kalau dibandingkan dengan masa ketika ACES diperlakukan sebagai saham growth, PER bisa bermain jauh di atas 15 kali, bahkan menyentuh kisaran dua puluhan ketika cerita ekspansi dan SSSG masih sangat seksi. Hari ini pasar tidak mau lagi membayar premium seperti itu. Price to Sales berada di kisaran 0,83 kali, EV to Sales sekitar 0,82 kali karena posisi net cash. Harga 418 juga berarti sekitar seperempat harga saham sebenarnya merupakan kas bersih, kas per saham sekitar 106,27 sementara total liabilitas per saham sekitar 99,86. Secara teori value investing murni, kombinasi net cash, kualitas laba tinggi, dan valuasi di bawah PER 10 kali adalah paket yang menggoda. Namun pasar tidak hanya menilai safety, tetapi juga prospek pertumbuhan. Lemahnya growth membuat saham seperti ACES mudah terjebak dalam label value trap, bisnis aman tetapi harga jalan di tempat.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Buat member yang nyangkut di 495, dilema terbesar sering bukan di angka, melainkan di kepala. Secara matematis, jika investor awalnya punya misalnya 10 lot di 495, total modal sekitar 495.000. Kalau kemudian menambah 10 lot lagi di harga 418, total saham menjadi 20 lot dengan total modal sekitar 913.000, sehingga rata-rata harga turun menjadi 456,50. Dengan satu aksi average-down, jarak ke harga sekarang menyempit cukup banyak. Kalau suatu saat harga kembali misalnya ke 540, dari posisi rata-rata 456,50 masih ada ruang cuan yang lumayan. Tetapi average-down juga artinya menambah eksposur ke saham yang sama. Kalau ternyata beberapa tahun ke depan laba betul-betul stagnan dan harga hanya berputar di kisaran 380 sampai 450, investor justru makin terjebak lebih dalam. Di sinilah average-down sering berubah dari strategi rasional menjadi pengikat psikologis yang membuat investor enggan mengakui kesalahan awal.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Cara paling waras adalah memisahkan tiga hal safety, growth, dan kebutuhan pribadi. Dari sisi safety, ACES sangat kuat. Neraca net cash, kas besar, utang bank nyaris nihil, kas operasi jauh di atas laba akuntansi, dan bisnis ritel rumah tangga cenderung bertahan walaupun ekonomi melambat. Sulit membayangkan ACES tiba-tiba kolaps. Dari sisi growth, situasinya jauh lebih rumit. Persaingan dengan MR DIY dan e-commerce membuat ACES harus rela menukarkan sebagian marjin untuk mempertahankan volume penjualan. Manajemen berusaha melawan lewat rebranding, konsep toko Next-Gen, dan penguatan lini brand seperti Azko dan Krisbow, tetapi hasil ini belum tercermin penuh di angka laba 2025. Dibutuhkan waktu beberapa tahun untuk menilai apakah strategi transformasi ini benar-benar mengangkat kembali ROE dan pertumbuhan laba. Sementara dari sisi kebutuhan pribadi, ada investor yang butuh uang tunai dalam setahun, ada yang siap memegang saham bertahun-tahun. Itu tidak bisa diseragamkan.
Bila investor bertipe pencari growth cepat, jujur saja ACES di 418 bukan kandidat ideal. Perusahaan ini lebih mirip obligasi ritel yang punya kas besar dan potensi dividen, dengan peluang rerating kalau suatu saat pasar kembali menghargai kualitas neraca. Namun untuk mengejar pergerakan harga tajam dalam waktu singkat, banyak emiten lain yang menawarkan kombinasi momentum dan berita menarik. Untuk tipe investor ini, cut loss terukur di kisaran minus belasan persen bisa dibenarkan, selama modal yang dibebaskan benar-benar dipindahkan ke saham dengan prospek pertumbuhan laba yang jelas, bukan berpindah ke gorengan siklus yang akhirnya juga membuat nyangkut lagi. Yang berbahaya adalah cut loss hanya karena emosi, tanpa rencana portofolio yang lebih baik setelah keluar.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sebaliknya, bagi investor yang nyaman dengan gaya value, ACES di level sekarang mulai masuk zona menarik. PER di bawah 10 kali, PBV sedikit di atas 1, posisi kas bersih, dan bisnis yang sudah matang tetapi masih menghasilkan NPM sekitar 11,79% di sembilan bulan 2025, itu profil yang jarang di pasar yang banyak berisi emiten kas tipis dan utang menumpuk. Untuk tipe ini, menahan posisi di 495 tidak masalah selama porsi ACES di portofolio tidak kelewatan besar. Average-down bisa dipertimbangkan, tetapi idealnya disiplin menunggu dua hal. Pertama, harga mendekati nilai buku di sekitar 380 sehingga margin of safety semakin tebal. Kedua, laporan keuangan berikutnya, terutama Q4 2025 dan sepanjang 2026, menunjukkan peningkatan laba bersih dan kas operasi yang tidak terus turun. Kalau kedua syarat ini terpenuhi, average-down bukan sekadar menurunkan angka minus, tetapi betul-betul menambah paparan di saat probabilitas pembalikan kinerja lebih tinggi.
Di tengah semua itu, ada juga cara pandang bandar atau trader yang suka memanfaatkan bandul emosi pasar. Dari sudut pandang ini, ACES di sekitar 418 dengan net cash dan valuasi murah punya lantai harga yang cukup jelas. Turun sampai jauh di bawah nilai buku akan berat selama neraca masih sekuat sekarang. Setiap kali pasar terlalu pesimis dan menggiring harga mendekati 380, itu berpotensi menjadi area akumulasi untuk skenario swing menengah. Ketika sentiment sektor ritel membaik, atau ada kabar dividen besar, atau laporan keuangan menunjukkan perbaikan marjin, harga berpeluang kembali diperdagangkan di PER 12 sampai 15 kali. Dalam skenario seperti itu, target harga teoretis berada di kisaran 537 sampai 671. Bukan cerita pasti, tetapi cukup logis untuk trader yang paham membaca siklus benci sayang pasar terhadap saham defensif.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Pada akhirnya posisi nyangkut di ACES harga 495 tidak otomatis salah, tetapi juga tidak otomatis aman. Yang keliru adalah kalau investor tidak jujur pada diri sendiri tentang alasan tetap bertahan. Kalau bertahan hanya karena gengsi tidak mau mengakui salah, itu berbahaya. Kalau bertahan karena setelah melihat angka neraca, arus kas, dan valuasi, investor menilai bahwa risiko turunnya laba sudah cukup dibayar oleh harga murah sekarang, itu jauh lebih bisa dibenarkan. Bagi saya pribadi, dengan profil ACES yang sekarang, langkah paling rasional untuk investor yang tidak butuh uang dalam waktu dekat adalah menahan posisi, mengurangi kebiasaan cek harga setiap menit, dan baru mempertimbangkan average-down bila dua kondisi terpenuhi harga turun mendekati nilai buku dan laporan keuangan mulai menunjukkan sinyal pertumbuhan laba dan kas operasi yang pulih. Sampai momen itu tiba, ACES boleh diperlakukan sebagai brankas di pojok portofolio, bukan mesin penggandaan uang kilat, sambil investor mencari peluang lain yang lebih agresif untuk memuaskan hasrat spekulatif di saham berbeda.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$MDIY $MAPI

$MAPI Klo diliat dari top 5 buyer/seller asing, outflownya mulai berkurang dari bulan juni cuman masih netsell. Inflow asing mulai meningkat itu dari bulan ags dan okt-nov asing netbuy/akumulasi.
⚡️ CPO Global & Black Friday: Dua Sisi Mata Uang Kinerja Saham Konsumsi Indonesia
Sektor konsumsi di Bursa Efek Indonesia (IHSG) sangat luas, mencakup perusahaan makanan, minuman, dan kebutuhan sehari-hari. Kinerja mereka dipengaruhi oleh dua kekuatan besar yang bergerak di waktu yang berbeda: biaya bahan baku (CPO) dan daya beli konsumen.
1. Harga CPO Global: Tekanan Biaya Produksi (Margin Tergerus) 📉
CPO adalah Raja: Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit mentah adalah bahan baku vital. Mulai dari minyak goreng, margarin, deterjen, hingga mi instan, semuanya menggunakan CPO atau turunannya.
Dampak Negatif: Ketika harga CPO global naik (karena permintaan global, biodiesel, atau masalah pasokan), harga CPO domestik ikut terkerek. Bagi perusahaan konsumsi, ini berarti biaya bahan baku melonjak mendadak.
Aksi Saham: Jika perusahaan tidak bisa menaikkan harga jual produknya (takut konsumen beralih), margin keuntungan (laba kotor) akan tergerus. Hal ini seringkali menekan harga saham-saham konsumsi dalam jangka menengah.
2. Black Friday: Sinyal Positif Daya Beli (Volume Penjualan Naik) 🛍
Apa itu? Meskipun Black Friday adalah tradisi belanja besar-besaran di AS, dampaknya menjalar ke Indonesia dalam bentuk promosi online dan offline masif menjelang akhir tahun (berdekatan dengan Hari Belanja Nasional/Harbolnas).
Dampak Positif: Aksi diskon ini mendorong peningkatan volume penjualan dan aktivitas belanja. Bagi perusahaan konsumsi (terutama ritel dan fast-moving consumer goods), ini menjadi indikator kuat bahwa daya beli masyarakat sedang membaik atau sedang tinggi.
Aksi Saham: Angka penjualan ritel yang kuat pasca-Black Friday/musim belanja akhir tahun dapat memberikan sentimen positif, karena menunjukkan potensi lonjakan pendapatan di laporan keuangan kuartal IV.
3. Kesimpulan: Mencari Titik Seimbang ⚖️
Pola Utama: Saham konsumsi sering mendapat tekanan saat CPO mahal (biaya produksi naik) dan mendapat dorongan saat periode belanja besar (pendapatan naik).
Strategi Cerdas: Investor perlu mencari perusahaan konsumsi yang memiliki kekuatan harga (mampu menaikkan harga tanpa kehilangan pelanggan) dan/atau memiliki efisiensi operasional yang baik untuk meredam dampak fluktuasi harga CPO, sambil tetap memanfaatkan momentum belanja besar.
Bukan random tag $UNVR $MAPI
PT Mitra Adiperkasa Tbk - MAPI
Laporan Keuangan
- Neraca Keuangan
- Laporan Laba Rugi
- Laporan Arus Kas
- Laporan Perubahan Ekuitas
Kunjungi dan follow kami untuk laporan lengkap fundamental emiten!
$MAPI
1/4




Ayo REQUEST SAHAM di kolom komentar seperti $SCMA $MAPI ,Nanti Kami Buatkan Flowchart Keputusan biar analisa makin gampang!
Support like agar terus update!!!
Follow untuk ikuti flowchart keputusan saham trend
Kalau postingan ini bermanfaat, boleh banget kasih tip lewat tombol bergambar 💲 di bawah ya. Terima kasih banyak 🙏

📊 27 November 2025 - $MAPI (Menurut Bloomberg Terminal)
💵 Buy Area: 1255-1230
🤑 Take Profit: Kalau udah cuan tuh diambil, bukan dititipin ke bandar! 😎
🚨 Stop Loss: 1200
⚠️ Disclaimer ON!
🔔 Analisa bukan ajakan!
📢 Cut Loss? Siap. Nyangkut? Nggak.
Kalau cuan, kasih like ❤️, follow 🤝 & comment ✍️ ya! Biar gak ketinggalan saham berikutnya! 🤑🤣🚀
$MAPI sebel itu saat lu mau jual di 1400++ eh account di sekuritas sebelah malah kena lock asem asem
[ Harga $ANTM sekarang Rp 3.000 ]
Zona Area Beli Aman : Rp 2.900 – 2.960
— Area support kuat, cocok untuk akumulasi aman karena ANTM cenderung mantul di zona ini
Zona Stoploss : < Rp 2.820
— Jika turun ke bawah level ini, struktur swing melemah dan rawan koreksi lebih dalam
Jika naik & breakout : > Rp 3.120 → ENTRY LANJUTAN (tambah posisi)
Target Profit:
• TP1 = Rp 3.180
• TP2 = Rp 3.250 – 3.320
Keterangan Tambahan:
- ANTM masih mengikuti pola swing naik jangka pendek, selama bertahan di atas 2.900 trend aman
- Breakout 3.120 membuka peluang menuju area psikologis 3.300
- Cocok untuk swing karena volatilitas nikel sedang meningkat
Analisa saya boleh bantu, tapi keputusan tetap milik Boss.
Ayo REQUEST SAHAM di kolom komentar seperti
$MAPI $MIKA
,Nanti Kami Buatkan Flowchart Keputusan biar analisa makin gampang!
Support like agar terus update!!!
Follow untuk ikuti flowchart keputusan saham trend
Kalau postingan ini bermanfaat, boleh banget kasih tip lewat tombol bergambar 💲 di bawah ya. Terima kasih banyak 🙏
$MAPI
MAPI kayanya enak nih buat jajan, lagi coba bikin Higher Low + Double Bottom di 1.270-1.295, sekarang lagi pullback sehat ke support kuat.
BB squeeze (biasanya gerakan besar sebentar lagi)
RSI & Stoch netral-oversold
Volume naik = besar, turun = kecil, seller udah capek
RSI 40-50 semua TF, netral, belum oversold
MFI 50-51, money flow seimbang
Harga di bawah MA50 & MA200 (flat), MA5 & MA10 mulai golden cross kecil
Stochastic Oversold + mulai curl naik (1H & 4H)
Support 1: 1.270 - 1.295 (support kuat ya, 3x ditolak)
Support 2: 1.240 -1.260 (kalau jebol, prob <20%)
Resist 1: 1.350 -1.360 (neckline, wajib ambil profit)
Resist 2: 1.420 - 1.450 (target W pattern)
Resist 3: 1.500 -1.520 (waw enak ini kalau IHSG ikut muncrat & BB expand)
💥 Worst case: 1.200 - 1.150 (very unlikely)
Jangan ditelen mentah2 ya, analisa lagi ya.
Sumber :
Gambar 1 : bikin sendiri
Gambar 2 : Management Presentation September 2025 (https://cutt.ly/rttrzDs5)
Gambar 3 : UobKayHian - Company Update Indonesia Friday 21 November 2025, AMRT IJ
Ada yang bertanya lewa WA ke saya :
si W : indicator apa aja yg sering om pake?
Saya : Semua, diantaranya :
1. Takdir Tuhan yang menuntun
Contoh tadi siang :
Habis shalat berjamaah di masjid tadi siang (kadang suka di rumah karena males/or diserang setan), saya mau beli tolak angin di grosir (dalam komplek rumah). Saya melihat jaman now, banyak grosir - grosir sudah masuk komplek. Alhasil kita harus beli sepack/serenceng/partai segambreng kan. Ternyata "NGAKKKK", sekarang bisa beli setengah, or kita patungan ma tetangga - tetangga. Bahkan saya tanya ma kenalan saya, sales area, pegawai sales area pun ada yang jualan live atau pasangannya ikut dagang. WOW persaingan yang menarik. Alhasil saya anlalisa beberapa saham di dunia Department store, Ritel Pakaian dan tekstil, Rite Distributor Makanan, Supermarket.
2. Analisa dari koleksi excel - excel yang saya kumpulkan (Laporan keuangan, mpe detail tranaskasi).
Saya punya data yang saya koleksi (hobi yang aneh memang) dan saya buatkan aplikasi, serta olah bisa dengan olahan txt, database dll, excel, tableu, ws dan sebagainya. Contoh saya pakai excel. Saya melihat saham - saham $LPPF, RALS, SONA, ZONE, BABY, MAPA, $MAPI , ZATA, BUAH, DMND, KMDS, PCAR, WICO, $AMRT, HERO, MIDI, MPPA, RANC, LAPD. Terus saya liat tuh indikator yang saya kumpulkan dari :
KODE SAHAM
SEKTOR
SUB INDUSTRI
PAPAN PENCATATAN
SHARIA
NOTASI
HARGA
HUTANG / UANG KAS
DER
Arus Kas OPERASI
Arus Kas INVESTASI
Arus Kas DANA
ARUS KAS TRIWULANAN
PBV
PER
EPS I
EPS II
EPS III
ANALISIS EPS (ANLZ)
EPS (FINAL)
DIVIDEN 2024
DIVIDEN 2025
KEPEMILIKAN
NILAI
VOLUME
VOLUME (HARIAN)
FREKUENSI
FREKUENSI (HARIAN)
PERFORMA 1D
PERFORMA 5D
PERFORMA 1M
PERFORMA 3M
PERFORMA 6M
PERFORMA YTD
HARGA 1D
HARGA 5D
HARGA 1M
HARGA 3M
HARGA 6M
HARGA YTD
KONDISI 3 BULAN
3. Setelah itu baca setiap analisa dari sekuritas - sekuritas (biar kita ga sombong dan selalu merasa benar). Terus analisa makro.
4. Terus ngobrol sama ai kaya hasil nya gini :
Hasil Ai untuk 1 analisa saham (bukan rekomendasi) :
Pelemahan Kinerja Kuartal 3 2025
Kinerja Kuartal 3 tahun 2025 AMRT tercatat lemah. Laba bersih turun 52,6% QoQ dan 28,7% YoY. Pelemahan ini disebabkan oleh beberapa faktor utama: margin kotor tertekan karena komposisi produk yang kurang menguntungkan (peningkatan kontribusi dari kebutuhan pokok ber-margin rendah seperti minyak goreng dan gula), serta tekanan Beban Operasional (Opex) akibat Pusat Distribusi (DC) baru yang belum mencapai tingkat utilisasi optimal (masih 55-57%). Penjualan Same Store Sales Growth (SSSG) juga melambat menjadi +1% YoY, di bawah target tahunan.
Prospek Pemulihan dan Pendorong Pertumbuhan
Kami memperkirakan kinerja AMRT akan mencapai titik terendah (bottom) pada Kuartal 3 2025, dengan pemulihan yang diperkirakan akan dimulai pada Kuartal 4 2025 dan menguat hingga tahun 2026. Pendorong utama pemulihan ini meliputi: perbaikan indikator makroekonomi (PMI dan kepercayaan konsumen), dukungan dari stimulus fiskal menjelang akhir tahun, serta normalisasi tekanan Opex seiring meningkatnya utilisasi DC lama dan lebih sedikitnya pembukaan DC baru yang agresif di tahun 2026. Proyeksi SSSG 2026 ditetapkan di kisaran menengah satu digit.
Strategi Ekspansi Jaringan Toko dan Segmen Non-Inti
AMRT terus melanjutkan strategi ekspansinya, berhasil membuka 892 toko baru hingga September 2025, dengan target 1.000 toko baru untuk tahun tersebut. Sekitar 68% toko baru berlokasi di luar Jawa, yang menunjukkan pertumbuhan penjualan yang lebih baik (+15% YoY) dibandingkan di Jawa. Strategi ini berhasil memperkuat pangsa pasar minimarket modern AMRT menjadi 42,1% (termasuk MIDI). Sementara itu, segmen Lawson masih merugi sekitar Rp150-160 miliar di tahun 2025, dan perusahaan sedang melakukan rasionalisasi jumlah toko untuk mencapai profitabilitas jangka panjang. Penjualan online juga menunjukkan momentum, menyumbang sekitar 8% dari total pendapatan dengan target mencapai 10% tahun depan.
5. Saya lewat ibadah dan doa meminta Petunjuk kepada Tuhan saham mana saja yang saya harus perhatikan. Dan tidak lupa mendoakan perusahaan - perusahaan lain untuk berkembang, karyawannya sejahtera dan bahagia, serta para investor dilimpahkan kesehatan, kebahagiaan, dan rezeki berupa iman dan harta.
Done. (analisa khusus supermarket ntar ja di telegram or next, males debat, lebih enak diskusi nyari teman yang hobi analisa bareng - bareng)
1/6






$PZZA Berdasarkan Pubex November 2025, ternyata om Boy ini sudah berganti posisi menjadi CEO menggantikan Hadian Iswara, dan Hadian berubah menjadi Komisaris. Tidak heran ketika melihat CV nya yang mentereng di P&G selama 19 tahun, bahkan terakhir adalah Senior Director untuk Asia Pacific, owner mempercayakan penuh keputusan bisnis di tangan beliau.
Salah satu yang menarik adalah bagaimana manajemen ingin mendekatkan kembali ke Gen Z, dimana mungkin generasi ini tidak terlalu kenal Pizza Hut. Mungkin Pizza Hut lebih dikenal oleh Millenial. Kunci keberlanjutan adalah dikenal oleh generasi yang paling muda.
Sentuhan tangan dari seorang pemimpin akan mempengaruhi perusahaan, klub bola, bahkan negara. Sebagaimana kita tahu sepak terjang Purbaya, dan yang terbaru dari Amran yang berhasil swasembada pangan hanya dalam 1 tahun. Kita akan lihat kinerja om Boy ke depan nya.
$FAST $MAPI
1/4



